Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 39


__ADS_3

Ting! Tong! Ting! Tong!


Bel tanda pergantian pelajaran berbunyi di jam ketiga. Seluruh siswa maupun siswi yang berada di dalam kelas sekaligus yang tengah dihukum berdiri di tengah lapangan refleks saling menarik napas lega. Walaupun setelahnya masih ada jam pelajaran lain, mereka tetap bersyukur. Apalagi di jam saat ini di beberapa kelas lain adalah saatnya jam pelajaran olahraga.


Perasaan dongkol dan sesak menjadi sebaliknya karena pelajaran olahraga adalah pelajaran paling disukai semua siswa.


Selain karena pelajaran olahraga itu menyenangkan, dan hobinya para cowok, guru yang mengajar di pelajaran tersebut pun juga terbilang masih muda dan cukup tampan. Membuat para siswi tak bisa mengalihkan perhatiannya dari beliau.


Oh, ya. Guru olahraga yang lama baru saja diganti karena alasan pensiun. Dan siapa sangka pengganti guru olahraga Di SMA Naruna bisa semuda dan setampan itu?


Sebut saja namanya Pak Reza. Usia 25 tahun, tinggi semampai kira-kira 180 cm. Memiliki paras dan badan bak aktor film luar negeri.


Oke. Kembali ke alur.


Di tengah-tengah lapangan, Alex menolehkan kepalanya menatap Kanza yang tampak mulai lemas. Raut wajahnya terlihat memerah dengan keringat dan peluh yang mengucur dari dahinya. Bibirnya pun terlihat sedikit pucat. Mungkin karena gadis itu terlalu lama berjemur di bawah terik matahari.


Sebenarnya, Alex pun sama. Bedanya, ia masih bisa tahan karena ia adalah laki-laki. Fisiknya pun terbilang kuat karena ia sering olahraga dan nge-gym bersama Kenzo dan teman-temannya yang lain.


"Lo haus gak?" Alex bertanya cukup perhatian pada gadis itu.


Kanza tidak langsung menjawabnya. Kepalanya pun masih sedikit menunduk karena masih lesu. Gadis itu hanya menjawab pertanyaan Alex dengan anggukan kepala.


"Ya udah, lo cari tempat duduk dulu. Gue mau beli minum." Ujar Alex. Ketika ia hendak melenggang, Kanza refleks menarik salah satu tangan Alex. Membuat laki-laki itu langsung menghentikan langkah kakinya seraya menoleh ke belakang.


"Gue ikut! Habis ini gak ada lagi, kan? Soalnya gue pengen buru-buru ngadem di kelas." Ucap Kanza, disertai dengan tatapan matanya yang sayu menatap pada sepasang bola mata Alex.


"Lo gak pa-pa?" Alex kembali menatap khawatir Kanza seraya menyentuh dahi gadis itu.


"Gue gak pa-pa. Cuman dehidrasi ringan aja, kok. Dikasih minum juga entar baikan." Kanza menjauhkan tangan Alex yang berada di dahinya. Gadis itu lantas tersenyum simpul berharap laki-laki di hadapannya tidak terlalu mencemaskannya.


Sayangnya, Kanza terlambat. Alex sudah terlanjur mencemaskan gadis itu.


"Lex! Kok, lo diem aja, sih? Katanya mau beli minum?" Kanza mengibaskan sebelah tangannya di depan wajah Alex. Membuat laki-laki itu yang awalnya hanya menatap Kanza datar langsung mengerjap beberapa saat.


"Lo... benar-benar gak pa-pa?" Alex melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kanza untuk kembali memastikan keadaan gadis itu.


Kanza mendengus, kemudian memeriksa dahinya, apakah panas atau tidak. "Gue gak pa-pa, tuh! Makanya biar gue gak kayak gini, mending kita beli minum?! Ayook!"


...****...


Seorang pria setengah baya dengan setelan jas kantor keluar dari dalam ruang guru di sekolah SMA Naruna dengan keadaan marah sekaligus kesal.


Pria itu baru saja mendapat telepon mendesak dari wali kelas yang mengajar putrinya, dan menyuruhnya untuk segera ke sekolah.


Tidak. Bukan hanya ia yang ditelepon paksa oleh sang guru wali kelas. Ada satu orang lagi pria seusianya yang dipanggil atas kelakuan putranya yang dinilai sering berpacaran di area sekolah.


Ya. Siapa lagi kalau bukan Kenan, papinya Kanza Kenzo, dan Geo, papanya Alex. Mereka berdua dipanggil karena katanya Alex dan Kanza sering berpacaran di sekolah.


Dan katanya lagi, saat ini mereka berdua tengah dihukum berdiri di tengah-tengah lapangan dengan kondisi cuaca yang seperti ini.


Geo tertawa kecil sepeninggalan ia dari dalam ruang guru tersebut. Tatapan matanya mengarah pada Kenan yang terlihat begitu menahan emosinya.


"Akhirnya, anak kita pacaran juga, ya, Ken?" Geo menghela napasnya seraya tersenyum merekah.


Tak pernah ia bayangkan jika putranya yang sangat ingin ia jodohkan dengan anaknya Kenan, kini mereka berdua malah tengah berpacaran. Siapa yang tahu takdir ke mana akan berpijak?


"Gak usah sok-sok an formal, deh. Kita berdua gak sedekat itu." Balasan ketus dari Kenan, lagi-lagi membuat Geo tertawa.


"Kenapa, sih? Waktu acara formal party bulan kemarin aja, lo gak kayak gini, Ken? Udahlah, restuin aja, ya? Anak gue pinter, Ken. Juara umum satu sekolah!" Geo menepuk pelan bahu Kenan, namun langsung ditepis kasar olehnya.


"Gue gak akan dengan mudah merestui gitu aja! Enak aja anak gue pacaran sama anak lo?" Kenan melangkahkan kakinya menjauh dari Geo. Namun siapa sangka, di perjalanan ia malah bertemu dengan putrinya tengah saling bercanda tawa bersama anaknya Si Geo, Alex.


"Anak gue kurang apa lagi, Ken?" Geo merangkul bahu Kenan tanpa menyadari bahwa di depan sana sudah ada putranya tengah berdiri seraya menatapnya dengan penuh tanya.


"Papa?"


"Papi?"


Alex dan Kanza refleks saling memanggil orang tua mereka. Kenan tidak bereaksi apa pun. Tatapan matanya hanya menatap datar putrinya yang juga tengah menatapnya.


Berbeda halnya dengan Geo yang cukup terkejut. Perhatian pria itu pun langsung beralih menatap Alex, lalu kemudian beralih menatap Kanza.


Tak selang berapa lama, Geo tertawa seraya melepaskan rangkulannya di bahu Kenan.


"Wah... Kamu bawain Papa calon menantu, Lex?" Geo terkikik geli saat melihat reaksi lucu yang ditampilkan oleh Alex dan juga Kanza. Sepasang remaja itu terlihat saling pandang kebingungan dengan raut wajah yang memerah.


"Kamu gak beneran pacaran, kan, sama Anaknya Si Geo?" Berbeda halnya dengan Geo, Kenan malah menatap garang putrinya. Bertanya dengan pertanyaan menuntut, membuat Kanza seketika dibuat gelagapan.


"A-akuu..."


"Halo, Om. Saya Alex, pacarnya Kanza." Alex menyela ucapan Kanza dan langsung memperkenalkan diri di hadapan Kenan.


Melihat sikap putranya yang selalu siaga, Geo menatap penuh haru apa yang telah dilakukan oleh Alex. Pikirnya, tidak sia-sia ia membesarkan putra sekeren dan secerdas Alex. Dia benar-benar mirip dengan Geo sewaktu muda.


Kenan tidak menanggapi Alex. Ia malah berdecih pelan, seraya mengalihkan perhatiannya pada Kanza yang terlihat menciut.


"Kenapa? Kamu takut sama Papi?" Kenan bertanya sedikit menyeramkan pada putrinya yang langsung dibalas gelengan kepala.


"Sini, ikut Papi!" Kenan menarik pergelangan tangan putrinya untuk sedikit menjauh dari Geo dan juga Alex.


Melihat Kanza yang ditarik paksa oleh papinya, membuat jiwa-jiwa gantle Alex keluar. Ia hendak mengejar Kanza, namun Geo langsung mencegah langkah kakinya.


"Udah, udah. Jangan urusin lagi masalah mereka. Kamu udah pacaran sama anaknya Si Kenan aja, Papa udah bangga." Geo menyentuh bahu putranya kemudian menepuknya perlahan.


"Kayaknya, Om Kenan gak suka deh, sama Aku, Pah?" Alex menolehkan kepalanya menatap Geo. Sedangkan pria itu hanya menghela napas seraya mengendikan bahunya ketika ditatap oleh putranya.


"Makanya, kamu harus berjuang buat dapetin hatinya Om Kenan. Dia emang gitu orangnya." Geo tersenyum kecil pada Alex.


Kalau boleh Alex jujur, pertama kalinya papanya yang begitu dingin ini tersenyum padanya. Apakah ia sebahagia itu?


"Ya, udah. Papa mau balik lagi ke kantor. Belajar yang rajin, ya." Geo lantas membalikan tubuhnya hendak pergi dari hadapan putranya.


Namun, langkah kakinya langsung terjeda ketika salah satu lengannya dicengram dari belakang. Ketika menoleh, putranya, Alex yang melakukan hal tersebut.


"Kenapa lagi?"


"Papa sama Om Kenan udah kenal dari lama?" Pertanyaan dari Alex, membuat Geo sontak mengerutkan keningnya.


"Emm... Udah dari lama banget. Jaman kuliah. Kenapa emangnya?"


Alex tersenyum kecil nan misterius, kemudian menggelengkan kepalanya seraya melepas cengkramannya di lengan sang papa.


"Enggak, kok. Nanya doang." Ucapnya, dibalas kekehan kecil oleh Geo. "Ya, udah. Papa duluan, ya." Setelah dirasa tak ada lagi hal yang harus dibahas, Geo pun melenggang meninggalkan putranya.


...****...

__ADS_1


"Alhamdulillah, gaes! Hari ini sampe seterusnya, kelas kita gak akan kedatangan guru!" Juna yang habis dari toilet, langsung berteriak ketika setibanya cowok itu di ambang pintu masuk kelas.


Siswa dan siswi kelas tersebut yang tengah mengerjakan beberapa tugas pemberian guru, langsung menghentikan aktivitas mereka seraya beralih menatap Juna.


"Serius lo, Jun?" Tanpa adanya unsur kesengajaan, Alma dan Rio bertanya secara bersamaan. Refleks satu kelas langsung mengolok-olok mereka berdua.


"Weyaaah... Witwiuw! Cieee... pacaran, cieee..." Azka dengan usil menggoda Rio dan Alma yang tampak salah tingkah. Sedangkan yang lain, mereka hanya tertawa.


"Ekhem. Suttt! Diam dulu sodara-sodara! Btw, Jun! Tahu dari mana lo kelas kita gak akan kedatangan guru lagi?" Kenzo mencoba menengahi, sampai membuat suasana yang tadinya riuh menjadi sedikit agak tenang.


"Ya, elah! Barusan gue kagak sengaja nguping pembicaraan mereka di ruang guru! Katanya semua kelas sebelas bakal dikosongkan dulu sampai jam pulang nanti. Biasa, ngurusin kelas dua belas yang bentar lagi mau ujian. Ditambah lagi, katanya mau adain rapat penting antar guru. Gak tahu juga, dah!" Penjelasan panjang lebar dari Juna, spontan mendapat sambutan meriah dari satu kelas.


"Eits! Tapi bo'ong! Haiyuu!" Ucapnya lagi, membuat satu kelas langsung melemparinya dengan hujatan dan makian.


"Eh, anjay! Gue pikir beneran." Azka mengelus dadanya seraya menghela napas.


"Sialan emang Si Juna! Belum ngerasain tinjuan gue dia!" Kenzo menatap garang Juna yang kini telah mendudukkan dirinya di samping Kenzo.


"Apaan, dah! Minggir, lo!" Kenzo menyentak Juna seraya menendang kecil salah satu kakinya.


Diperlakukan seperti itu oleh sahabatnya, bukan tidak mungkin Juna tidak ikut kesal. "Apaan, sih? Gue kan, cuma bercanda! Biar gak tegang! Baperan!" Ucap Juna, sontak Kenzo langsung berdesis seraya menatapnya tajam.


"Ya, lo tahulah, Jun! Si Kenzo ini, kan, paling hobi pulang cepet. Makanya pas sekali lo bilang begitu, dia langsung percaya-percaya aja. Eeh, tahu-tahunya dikibulin." Rio terkikik geli disela aktivitasnya menyalin tugas.


"Ck. Bukan cuma elo, Zo, yang pengen pulang cepet! Gue juga! Makanya barusan gue ngehalu, hahaa." Juna tertawa seraya menyengir tanpa dosa yang dibalas delikan kesal oleh Kenzo.


Tak lama setelahnya, suasana dalam kelas pun kembali hening seperti semula. Seorang guru yang tak lain akan mengajar selanjutnya di kelas XI IPS 4 tampak mulai memasuki ruang kelas. Kemudian disusul oleh Alex yang memasuki ruang kelas setelah sebelumnya ia mengucapkan permisi.


Melihat kedatangan guru yang akan mengajar hari ini dan juga Alex yang datang ke kelas hampir bersamaan, membuat perhatian anak-anak satu kelas terbagi menjadi dua kubu.


"Eh, Lex! Si Kanza mana?" Kenzo menoel bahu Alex yang baru saja tiba dan mendudukkan dirinya di atas kursi yang berada tepat di hadapan meja Kenzo dan Juna.


Dipanggil oleh Kenzo, refleks Alex langsung menoleh. "Dia belum balik? Tadi dia ditarik sama Om Kenan, Papi lo!"


"Hah? Papi gue? Dia ke sekolah? Ngapain?" Raut wajah Kenzo langsung berubah kaget ketika mendengar nama sang papi disebut-sebut.


Melihat reaksi Alex yang biasa-biasa saja, tidak seperti dirinya yang dilanda tanda tanya, membuat Kenzo sedikit gemas. Pasalnya, raut wajah Alex terlihat datar-datar saja. Padahal Kenzo tengah bertanya empat mata padanya.


"Mana gue tahu. Tadi pas gue mau ke sini, gue lihat dia lagi ngobrol sama Bokap gue."


"Ekhem. Sudah dulu, ya, ngobrolnya. Sekarang kita kembali fokus pada pelajaran." Suara Bu Ani, guru yang akan mengajar hari ini, sontak membuat Kenzo dan juga Alex langsung menegakkan posisi duduk mereka seraya berpura-pura fokus.


Ketika Bu Ani hendak melanjutkan ucapannya, seorang siswi yang tak lain adalah Kanza, memasuki ruang kelas dengan terburu-buru. Tak lupa ia mengucapkan permisi terlebih dahulu.


Melihat pemandangan tersebut, mood Bu Ani langsung hancur. Pikirnya, kenapa murid-murid di kelas ini seperti tidak ada yang menghargainya? Sudah tahu masih jam masuk kelas, kenapa malah berkeliaran?


"Kamu habis dari mana?" Bu Ani bertanya garang ditujukan pada Kanza.


"Eh? Sa-saya habis dari lapangan, Bu!" Kanza menjawab sedikit gelagapan.


"Ngapain?" Bu Ani melangkahkan kakinya mendekati Kanza.


Kanza pun semakin dibuat gelagapan, apalagi tatapan menusuk milik Bu Ani yang mendominasi membuatnya semakin tidak dapat berkutik.


"Sa-saya habis dihukum sama Pak Ucup!"


"Dihukum sama Pak Ucup? Hormat di tengah lapangan, maksudnya?" Tanya Bu Ani lagi, yang langsung diangguki anggukan pasti oleh Kanza.


"I-iya, Bu."


...****...


Wanda menghela napasnya entah untuk yang keberapa puluh kali. Gadis itu sedari tadi tak henti-hentinya memikirkan seseorang sampai membuatnya terus kepikiran.


Saat ini, ia tengah berada di area kampus. Sebentar lagi kuliah akan segera dimulai, namun langkah kaki Wanda masih saja terlihat santai. Padahal, pada kuliah kali ini mungkin ia akan berebut kursi dengan mahasiswa dan mahasiswi lain.


Lagi dan lagi, Wanda kembali menghela napasnya sesampainya ia di ruang kampus yang menjadi tujuannya. Benar saja, kursi di dalam apalagi di bagian depan sudah hampir penuh terisi oleh para mahasiswa.


Tatapan Wanda berubah sedikit kecewa. Ia lupa kalau ini adalah kuliah dari Professor Brian. Professor muda yang menjadi incaran para mahasiswi.


Sayangnya, itu tidak berlaku bagi Wanda.


Karena kursi di depan sudah sangat penuh, Wanda memilih untuk mencari kursi lain di belakang. Dan, untunglah masih ada beberapa di ujung sana. Dengan cepat Wanda melangkahkan kakinya ke sana dan dengan segera menempatinya.


Suasana ruangan kampus yang sedikit ricuh langsung hening ketika sang professor yang mengajar kuliah hari ini tiba dan kemudian menyapa.


"Selamat pagi!" Sapanya disertai senyuman hangat dari bibirnya.


Para mahasiswa yang didominasi oleh perempuan, langsung membalas sapaan tersebut tak kalah hangat dan penuh semangat. Satu ruang kampus yang sempat hening kembali ricuh. Dan Wanda adalah orang pertama yang membenci suasana itu.


Waktu terus berjalan, sampai pada akhirnya kuliah pun tak terasa telah usai. Wanda adalah orang pertama yang keluar dari ruang tersebut dengan perasaan sedikit murung.


Pikirannya mengarah pada seseorang, namun ia selalu enggan untuk terus memikirkannya. Namun siapa sangka, orang tersebut selalu hadir di pikirannya sampai membuat gadis itu kesulitan mengontrol diri.


Kenzo. Laki-laki itu terus terngiang-ngiang di otaknya. Raut wajahnya ketika tersenyum bahkan tertawa, tercetak jelas di pikiran Wanda.


Suara laki-laki itu ketika mengatakan bahwa dia menyukai Wanda dan ingin menjadikan ia miliknya, membuat Wanda semakin tidak dapat mengenyahkan bayangan tersebut.


Sebenarnya, Wanda juga menyukai Kenzo. Sayangnya, otak kecilnya terus berpikir, apakah itu terlihat normal? Ia bahkan tidak percaya diri memacari laki-laki yang jauh lebih muda darinya.


Tetapi, setelah menolak Kenzo, rasanya Wanda sedikit menyesal. Akhir-akhir ini ia terus kepikiran, apalagi memori kemarin ketika laki-laki itu memberikan sekantung penuh makanan dan camilan untuknya.


Jika saja Wanda seumuran dengan Kenzo, mungkin dari awal ia sudah menerima perasaan laki-laki itu.


Wanda tahu, Kenzo itu sedikit agak genit pada perempuan. Tetapi, itu hanya main-main. Sedangkan yang Kenzo lakukan padanya bukanlah hal yang bisa dianggap main-main. Laki-laki itu bahkan sempat ingin menciumnya, namun terhalang oleh tangan Wanda yang tiba-tiba saja membekap mulutnya.


Wanda kembali menghela napasnya ketika jam di pergelangan tangan kiri hampir menunjukkan tengah hari. Mata kuliah hari ini sudah berakhir, dan ia akan bergegas untuk pulang dan menenangkan diri di rumah.


Di perjalanan pulang, netranya tidak sengaja menatap sepasang sejoli yang tampak saling bergandengan tangan.


Lagi-lagi Wanda menghela napasnya. Kalau boleh jujur, selama dua puluh tahun hidupnya, Wanda tidak pernah bergandengan tangan seperti itu ketika berpacaran. Ketika diajak pun, Wanda selalu mengelak sehingga setiap hubungannya pun selalu berakhir di tengah jalan.


Menyedihkan.


Tiba-tiba saja, Wanda menghentikan langkah kakinya ketika sepasang netranya menangkap sosok yang sedari tadi bayangannya selalu berada di pikirannya.


Kedua bola mata gadis itu bahkan sampai melebar tidak percaya dengan apa yang tengah ia lihat. Diliriknya pada jam tangannya, ini masih tengah hari. Lalu, kenapa cowok itu berada di sini?


"Hai!" Kenzo menyahuti Wanda seraya menaikan salah satu tangannya ke atas. Raut wajahnya terlihat begitu ceria saat menyadari posisi Wanda berada tak jauh dari tempat ia berdiri dan memarkirkan mobilnya.


Wanda benar-benar tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi hari ini. Kok, bisa-bisanya Kenzo berada di depan kampusnya, padahal jam pulang SMA masih lama?


Dengan langkah tergesa-gesa, Wanda langsung menghampiri Kenzo. "Lo ngapain ke sini?" Tanyanya, setibanya gadis itu di hadapan Kenzo.


"Mau ketemu sama lo!" Jawab Kenzo santai. Tak lupa ia kembali mengembangkan senyumannya.

__ADS_1


"Tapi, kan, jam segini SMA masih pada sekolah! Lo bolos, ya?"


Senyum di wajah Kenzo langsung luntur seketika mendengar tuduhan yang dilayangkan oleh Wanda. "Enak aja! Gue izin!"


"Izin apa?" Tanya Wanda penuh selidik.


"Izin bolos! Hahaa." Kenzo tertawa garing, sama sekali tidak lucu di mata Wanda. Yang ada, raut wajah gadis itu berubah datar tanpa ekspresi.


"Balik, gak?"


"Hah?"


...****...


Seluruh murid SMA Naruna refleks menghela napas lega kala bel pulang sekolah yang selama berjam-jam ini mereka nanti-nantikan akhirnya berbunyi juga.


Dengan tergesa-gesa, mereka mulai memasukkan buku dan alat tulis yang sebelumnya digunakan ke dalam tas mereka masing-masing.


Setelahnya, mereka berlari seraya berdesak-desakan hanya agar bisa segera pulang ke rumah.


"Za! Gue mau balik duluan, ya? Soalnya hari ini gue mau ngedate sama Rio." Alma berucap malu-malu di hadapan Kanza yang masih membereskan buku-bukunya.


Kanza mendengus seraya menggebrak meja, membuat beberapa siswa dan siswi yang masih berada di dalam kelas refleks menoleh ke arahnya.


"Iya, iya, pergi lo! Gak usah tungguin gue, orang gue juga mau ngedate kok, sama Alex. Mau dijajanin juga. Iya, kan, Lex?" Raut wajah garang Kanza langsung berubah manis ketika beralih menatap Alex.


Sedangkan cowok itu yang dipanggil-panggil oleh Kanza, ia hanya mengerjap beberapa saat sembari menatap horor gadis itu yang tengah menatapnya disertai senyuman manis.


"Kok, perasaan gue gak enak, ya?" Alex bergumam sendiri. Namun selang beberapa saat, ia balik tersenyum pasrah pada Kanza yang masih saja menatapnya.


Melihat Alex sudah balas tersenyum padanya, perhatian Kanza lantas kembali pada Alma yang terlihat tengah mengernyit ngeri.


"Lo mau ngajakin dia jalan, apa mau morotin duitnya?" Alma berucap setengah berbisik. Sontak membuat Kanza langsung tertawa, namun tidak berlangsung lama. Setelahnya, gadis itu langsung mendekatkan diri pada Alma seraya balas membisikan sesuatu.


"Intinya, gue mau balas dendam! Soal morotin duit orang, gue gak jago. Tapi kalo morotin waktu orang, gue jagonya."


Alma refleks membekap mulutnya yang menganga. Sedangkan Kayla yang juga berada di satu tempat yang sama dengan kedua gadis itu, merasa dikucilkan karena sedari tadi ia tidak diajak mengobrol sama sekali.


Dan kalaupun ia nimbrung, Kayla harus nimbrung apaan? Mereka pembahasannya pacar, sedangkan Kayla saja jomlo! Kan, tragis. Hiks.


"Ck. Nyebelin! Gue mau pulang! Gue udah gak punya sahabat lagi, bye!" Kayla berucap spontan, seraya melenggang meninggalkan kelas. Refleks Alma yang heboh langsung berlari mengejar gadis itu. Tidak dengan Kanza yang hanya menghela napas selepas kepergian kedua gadis itu.


Padahal masih ada yang pengen gue omongin sama Si Kayla, tapi... Ya, udahlah. Batin Kanza, kemudian mendengus.


"Beres-beresnya udah?" Alex menyahuti Kanza, setelah hampir cukup lama ia terdiam.


"Eh? Udah, kok." Ucap Kanza, seraya memakai tasnya.


Ketika gadis itu hendak berjalan keluar kelas bersama Alex, langkah kakinya langsung terhenti sesaat ia teringat akan seseorang yang hampir selama beberapa jam ini tidak ia lihat batang hidungnya.


"Lo lihat Si Kenzo?" Kanza melirik Alex dari samping, setelah sebelumnya ia menolehkan sebentar kepalanya ke belakang.


"Hm... Dia..." Alex tampak sedikit gelagapan, membuat Kanza langsung memicingkan kedua bola matanya menatap Alex dengan penuh kecurigaan.


"Ke mana?" Tanya Kanza. Refleks Alex langsung mengembuskan napasnya pasrah. "Dia gue izinin." Ucap Alex, lalu setelahnya ia melenggang mendahului Kanza.


"Kenapa? Emang dia izin mau ke mana?" Kanza kembali bertanya pada Alex seraya berlari mengejar langkah laki-laki itu.


"Mana gue tahu." Balas Alex. Seketika Kanza langsung membulatkan kedua matanya.


"MAKSUD LO SI KENZO BOLOS?" Pekik Kanza, sontak membuat Alex langsung memejamkan kedua matanya seraya mendesis pelan.


Mampus!


"Dah, jangan dipikirin! Katanya lo mau gue jajajin di mall. Ya, kan? Mending sekarang kita ke bawah, markirin dulu mobil gue, habis itu kita ke mall." Tak ingin terus berlanjut membahas Kenzo, Alex menarik tangan Kanza tanpa sedikitpun memberi kesempatan bagi gadis itu untuk berkomentar lagi.


Takutnya jika mereka masih juga membahas Kenzo, bisa-bisa Alex keceplosan akan sesuatu. Barusan saja ia keceplosan mengatakan soal ia yang mengizinkan Kenzo.


Semoga Si Kenzo gak marah.


...****...


Sesampainya Alex dan Kanza di sebuah pusat perbelanjaan, atau yang lebih akrab disebut mall, keduanya mulai memasuki mall tersebut dengan Kanza yang menarik paksa Alex.


Alex tidak dapat berkutik, karena memang ia sudah berjanji. Biarlah gadis itu membawanya ke mana pun, asalkan ia mau memaafkannya.


"Kita ke sana dulu, yuk!" Kanza menunjuk sebuah toko baju yang kebanyakan pengunjungnya dimulai dari para gadis muda sampai emak-emak arisan.


Alex belum sempat menjawab perkataan Kanza, gadis itu malah sudah lebih dulu menarik tangannya. Dengan sangat pasrah, Alex pun ikut ke mana pun gadis itu akan membawanya.


Sesampainya keduanya di sana, Kanza langsung melepaskan genggaman tangan Alex, dan berlari entah ke mana. Melihat hal itu, Alex langsung mengembuskan napas. Dengan langkah malas, ia mulai mengejar langkah kaki gadis itu.


Padahal, ini baru saja permulaan. Tapi Alex sudah dibuat muak berada di sini. Alex harap, semua hal yang saat ini terjadi akan segera berakhir.


Demi apa pun, di sini tuh berisik! Mana banyak beberapa pasang mata yang melirik ke arahnya, lagi. Emangnya Alex ini artis? Kan, risi.


"Kanza!" Alex memanggil nama gadis itu yang terlihat tengah memilih beberapa pakaian ditemani seorang penjaga toko.


Sesampainya Alex di samping Kanza, laki-laki itu langsung memerhatikan gerak-gerik gadis itu yang tengah mencocokan beberapa pakaian di tubuhnya.


"Belanjanya udah?" Pertanyaan Alex, langsung disambut tatapan kebingungan oleh Kanza. "Baru juga masuk. Belum, lah."


"Bagaimana, Kak? Apa ada yang Kakak suka?" Penjaga toko tersebut bertanya ramah pada Kanza.


Kanza mendengus seraya menggelengkan kepalanya. Kedua tangannya pun kembali menaruh sepasang pakaian yang ia ambil tadi dan menaruhnya kembali di tempat semula.


"Saya mau lihat yang lain, boleh?"


"Boleh, Kak. Silakan." Perkataan sang penjaga toko tersebut langsung disambut senyuman hangat oleh Kanza.


Dengan secepat kilat, gadis itu kembali menarik tangan Alex dan membawanya ke tempat lain. Lagi dan lagi, Alex hanya bisa menghela napas dengan lesu. Bisa-bisanya ia menyetujui untuk membawa gadis itu ke mall? Siapa sangka ternyata yang dilakukan Kanza adalah berjalan ke sana ke mari, namun sedikitpun belum mengambil satu barang pun untuk ia beli?


Dalam benak Alex sebelumnya, Kanza hanya akan membeli barang-barang mewah, lalu setelahnya ia langsung meminta diantar pulang ke rumah. Makanya Alex bilang kecil.


Tapi, kok...?


Semuanya benar-benar tidak sesuai dengan ekspektasinya.


"Udah belum?" Tanya Alex, sudah mulai muak dengan keadaan. Sedangkan Kanza yang tengah memilih barang entah apa di belakang sana hanya menjawab, "Sebentar lagi!"


Aaaghhh!!! Alex pengen pulaaang!!! Harusnya tadi dia ikut saja saat Kenzo, Juna dan Azka mengajaknya untuk bolos. Memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang.


Menyesal hanya akan datang diakhir.


^^^To be continue....^^^

__ADS_1


Ups! Gak muat gaes! Tadinya yg spolier di eps sblmnya bkl aku tampilin di sini, tpi ternyata gk cukup! Aku slh perhitungan, karena yg scene papinya Kanza & Kenzo alias Kenan sama papanya Alex, Geo. Sebelumnya dari jauh² hari udh dipikirin, tpi tiba² lupa. Dan... yg spoiler kmaren tuh harusnya yg Kenan sama Geo lgi pada debat gitu loh🙂😆 eeh malah lupa:v


__ADS_2