
Kanza menyeka air mata yang tiba-tiba lolos begitu saja dari salah satu pelupuk matanya. Saat ini, ia benar-benar takut. Tidak, ia bahkan sangat takut jika seluruh dunia akan tahu bahwa dirinya memiliki trauma yang bahkan hampir membuat mentalnya hancur.
Tidak, mentalnya memang sudah pernah hancur. Bahkan ia selalu mengklaim bahwa dirinya sudah gila.
Sebelum gadis itu benar-benar memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya seperti biasa, Kanza sering menangis tanpa sebab, kecemasan serta ketakutan yang berlebihan sering ia rasakan.
Dan semuanya terjadi karena masa kecilnya yang jauh dari kata bahagia. Coba kalian bayangkan, sejak bangku sekolah dasar Kanza sudah merasakan kejamnya perundungan oleh teman-teman sebaya maupun seniornya. Mereka sering membentak, memaksa, bahkan menyakiti Kanza.
Namun, semua itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan saat masa-masa SMP. Di mana Kanza merasakan getaran ketakutan yang ditimbulkan oleh seorang laki-laki yang dulunya sempat ia anggap baik.
Kanza terkekeh miris saat memori lama itu kembali melayang di otaknya. Salah satu tangannya terangkat untuk memukuli kepalanya, berharap ingatan mengerikan itu segera menghilang dari sana.
Tak berapa lama sesaat ia tengah memukuli kepalanya, seseorang mencengkram tangan Kanza sehingga aktivitasnya pun refleks terhenti.
"Za!" Panggilan lembut yang sangat Kanza kenali membuat gadis itu seketika membulatkan kedua bola matanya. Napasnya pun mulai tercekat, dan Kanza mulai tidak berani mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang tengah mencengkram tangannya.
Perlahan namun pasti, cengkraman di tangan Kanza mulai melonggar sampai pada akhirnya terlepas sepenuhnya. Dengan penuh keraguan, Kanza mulai mendongakkan wajahnya menatap siapa yang sempat mencengkram tangannya.
Ditatapnya dua orang gadis yang tak lain adalah Alma dan Kayla tengah tersenyum canggung ke arah Kanza. Kedua gadis itu bahkan sempat saling pandang beberapa saat, sebelum pada akhirnya perhatian mereka kembali pada Kanza.
Kanza menenggak ludahnya susah payah. Kedua telapak tangannya tiba-tiba terasa dingin dan berkeringat. Jantungnya pun ikut berdegup kencang tidak karuan.
Takut. Lagi-lagi Kanza merasakan ketakutan akan kedua sahabatnya yang mungkin akan bertanya pada Kanza soal sikap anehnya tadi. Karena sungguh demi apa pun, Kanza belum siap mengatakan segalanya pada mereka jika Alma dan Kayla benar-benar bertanya perihal dirinya.
Lantas, apa yang harus Kanza katakan nanti?
"Gue—"
"Za! Ki-kita izin pulang duluan, ya? Orangtua kita udah pada nungguin soalnya," Kayla menyela, refleks membuat Kanza langsung membungkam mulutnya dengan sepasang bola mata yang sedikit melebar.
"I-iya, Za! Ki-kita duluan, ya? Besok kita ke sini lagi, kok," Alma ikut menimpal. Ucapan gadis itu terdengar sedikit tergagap dikarenakan ia yang bingung harus berkata apa, padahal dalam hatinya yang terdalam, ia sangat ingin bertanya pada Kanza soal sikap gadis itu beberapa waktu yang lalu.
Namun, Alma lebih memilih menahannya. Pikirnya, ini bukanlah waktu yang tepat baginya untuk bertanya. Biarkan Kanza menenangkan diri terlebih dahulu atas apa yang telah terjadi hari ini.
Kanza lagi-lagi hanya dapat menelan ludahnya susah payah. Tak berapa lama kemudian, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk seulas senyuman kaku yang ia perlihatkan pada Alma dan juga Kayla.
"Ya-ya udah. Hati-hati di jalan, ya,"
Alma dan Kayla balas tersenyum seramah mungkin walau dalam hati mereka juga teramat canggung. "Makasih, Za. Kita duluan, ya, byee..."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Alma dan juga Kayla mulai melenggang dengan terburu-buru dari hadapan Kanza. Meninggalkan Kanza yang kembali murung dengan kepalanya yang menunduk dalam.
...****...
Tiga hari semenjak kejadian di mana Kenzo dirawat di rumah sakit pun telah berlalu. Di mana di saat-saat sebelumnya, Kanza lebih sering menghindar dan selalu tertutup pada semua orang termasuk pada Alex.
Gadis itu selalu bisa menjauh ke mana pun sampai Alex sendiri sulit untuk menemukan keberadaannya, padahal mereka tinggal di satu kelas yang sama.
Dan saat ini, hari di mana olimpiade matematika atau OSN yang telah lama digadang-gadang akan segera dilaksanakan. Tepatnya di SMA Nusantara. Saingannya SMA Naruna.
Alex masih menatap penuh harap layar ponselnya yang menyala. Helaan napas masih setia ia keluarkan kala tak ada notifikasi apa pun dari sana.
Pikirnya, Kenapa gadis itu masih belum juga menghubunginya? Apa ia lupa soal hari ini?
Kanza selalu menjauh, padahal banyak sekali yang harus Alex katakan serta ungkapkan pada gadis itu. Termasuk apa yang sempat diutarakan oleh Kenzo tiga hari yang lalu padanya.
Flashback....
Di dalam ruangan berbau khas karbol ini hanya tinggal Alex dan Kenzo, setelah sebelumnya teman-teman mereka yang lain telah meninggalkan ruangan tersebut demi memberikan sedikit ruang bagi Alex dan juga Kenzo untuk saling berbicara.
Kedua remaja itu tampak saling terdiam beberapa saat sebelum pada akhirnya salah satu dari mereka ada yang berdeham untuk mencoba mencairkan suasana. Dan orang tersebut adalah Kenzo.
"Jadi?" Perkataan Alex yang kelewat datar dan singkat sedikit membuat Kenzo termangu sejenak.
Dengan polos, Kenzo pun bertanya; "Maksudnya?"
Alex memutar kedua bola matanya seraya menghela napas. "Lo lupa? Gue kan tadi bilang, gue pengin tahu segalanya tentang Kanza, alias kembaran lo! Otak lo gak ikutan rusak gara-gara pukulan anak buahnya musuh lo itu, kan?" Alex menatap penuh selidik Kenzo dengan salah satu alisnya yang terangkat.
Sedangkan Kenzo, cowok itu seketika dibuat terdiam membatu dengan salah satu tangannya yang menyentuh dada. Ucapan Alex ini benar-benar menusuk sampai ke sudut hatinya yang paling dalam. Laknat emang, tapi ya itulah Alex. Pemilik muka datar yang kalau sekalinya kesal, mulutnya kek minta dikasih cabe.
"Ck. Ya udah, ya udah. Lo mau tahu di bagian mana aja?" Tanya Kenzo, sudah mulai pasrah.
"Semuanya. Dari awal sampai akhir,"
Kenzo menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, merasa permintaan Alex agak sedikit sulit untuk dijabarkan jika memang harus menceritakannya dari awal. Bisa enggak ada habisnya, batinnya menggerutu.
"Gimana? Bisa, kan?" Tuntut Alex. Refleks membuat Kenzo menghela napas.
"Emm... Gini aja, deh. Gimana kalo bahasnya dari yang paling pentingnya aja? Musuh lama gue yang menyebabkan gue kayak gini ada hubungannya sama Kanza. Gimana?"
Alex terdiam sejenak berusaha untuk mencerna setiap perkataan dari Kenzo. Tak berapa lama, cowok itu pun mengangguk setuju. "Oke. Kita bahas dari sana," ujarnya, dan Kenzo pun balas mengangguk.
"Jadi, kejadian ini berawal dari waktu gue sama Kanza baru aja kelas 2 SMP. Sekolah kita sengaja beda demi gak membuat orang-orang tahu kalo sebenarnya gue sama dia adalah saudara kembar. Alasannya, lo tahu sendiri lah. Dan juga, sekalipun mereka tahu gue sama Kanza kembaran, mereka gak akan pernah percaya karena muka kita jelas gak ada mirip-miripnya,"
Alex mencoba menyamankan posisi duduknya di kursi besuk yang bersebelahan dengan Kenzo yang berada di atas blankar rumah sakit. Sesekali, cowok itu akan mengangguk-angukkan kepalanya seraya terus menyimak.
"Waktu itu, gue gak sengaja kenal sama seorang senior di sekolah gue yang namanya Vando—"
"Vando?" Alex menyela dengan dahinya yang sedikit mengernyit.
Kenzo mengangguk, "Iya! Temen deket gue yang sekarang menjadi musuh bebuyutan gue!"
Alex lagi-lagi mengangguk dan memutuskan untuk kembali menyimak lebih lanjut.
"Waktu itu gue kenal sama dia gara-gara gue pernah berantem sama anak kelas sebelah. Waktu itu gue hampir aja habis sama tuh anak kelas sebelah, kalo si Vando gak nolongin gue tepat waktu. Dan sejak saat itu, gue mulai temenan sama dia. Sampai pada akhirnya, si Vando sama temen-temennya dateng ke rumah gue tanpa ngasih tahu, dan parahnya gue gak lagi ada di rumah." Kenzo menjeda sejenak perkataannya dengan pikiran yang kembali melayang pada memori beberapa tahun silam.
"Setelah hari itu, gue gak terlalu tahu apalagi yang terjadi, tapi yang pasti, si Vando mulai sering main ke rumah gue. Dan yang bikin gue heran adalah, Kanza juga menyambut hangat kedatangan dia." Ujar Kenzo, kemudian menarik napasnya dalam-dalam sebelum kembali melanjutkan perkataanya.
"Sampai suatu hari, gue ngelihat Kanza ketakutan di depan gerbang sekolahnya saat didatangi Vando. Waktu kejadian itu, gue baru aja turun dari mobil yang dibawa sama sopir pribadi gue buat ngejemput Kanza." Kenzo mulai menautkan kedua alisnya dengan kembali menarik napas dalam-dalam.
"Awal-awal gue lihat, kek gak ada sesuatu yang mencurigakan. Tapi sampai pada saat gue ngelihat si Vando mulai berani membentak Kanza sambil narik-narik tangannya, gue langsung sadar bahwa dia bukan cowok baik-baik. Dia bahkan teriak kek orang gila di depan Kanza sampai membuat dia menggigil ketakutan." Mendengar penuturan itu, emosi Alex yang sebelumnya tenang-tenang saja langsung tersulut. Kedua tangannya pun mulai terkepal kuat.
"Akhirnya, gue yang sebelumnya cuman merhatiin mereka, gue pun lari ke arah Kanza buat ngelindungin dia sampai berujung baku hantam. Karena pada waktu itu ilmu bela diri gue belum seberapa, gue kalah gitu aja dan Kanza berhasil dibawa paksa sama dia. Dan, lo tahu Kanza dibawa ke mana?" Kenzo menggantungkan ucapannya dengan sepasang bola mata yang menatap Alex dengan tatapan yang cukup serius.
Dahi Alex kembali mengerut dengan pikirannya yang mulai menerka-nerka. Sayangnya, otaknya buntu untuk memikirkan suatu kemungkinan. Sampai pada akhirnya, Alex menggelengkan kepalanya, membuat Kenzo lantas mendengus sembari tersenyum sinis.
__ADS_1
"Si Vando bawa Kanza ke sebuah rumah kosong buat disekap sambil terus maksa supaya Kanza mau jadi pacar dia!"
"Apa?" Alex bangkit dari posisi duduknya dengan sepasang bola matanya yang hampir membulat sempurna. Jantungnya tiba-tiba berpacu dengan deru napas yang mulai tidak beraturan. Penuturan lain dari Kenzo benar-benar mengagetkannya.
Kenzo tidak langsung menjawab. Cowok itu hanya mengangguk beberapa kali dengan sesekali berusaha menelan ludahnya susah payah.
"Beruntung Kanza waktu itu pake jam tangan yang ada GPS-nya. Jadi gue sama Papi gak terlalu sulit buat nyari di mana keberadaan dia,"
Semakin tersulut emosi, Alex kemudian kembali mendudukkan dirinya di tempat semula. Tatapan matanya semakin menusuk tatkala bersitatap dengan Kenzo.
"Bokap lo gak lapor polisi? Si Vando yang lo bilang itu kena penyakit mental! Gak mungkin Bokap lo biarin dia gitu aja setelah nyakitin anaknya. Iya, kan?"
Kenzo menggeleng-gelengkan kepalanya seraya sedikit menundukkan wajahnya. "Lebih dari itu. Kita malah udah ngepung tuh anak pake anggota kepolisian, tapi tetep aja dia gak bisa dipenjara."
"Kenapa?"
"Ya lo pikir aja! Remaja umur lima belas tahun masuk penjara!? Lagian, gak ada bukti fisik yang memperlihatkan bahwa Kanza terluka—"
"Tapi mentalnya yang terluka, kan?" Lagi dan lagi, Alex berhasil menyela Kenzo. Emosinya sudah benar-benar mencuat sampai ke ubun-ubun.
"Iya, gue tahu! Tapi tetep aja gak bisa! Orangtua si Vando bukan orang biasa. Gak bisa semudah itu buat masukin dia ke penjara!" Ucap Kenzo, semakin membuat Alex emosi.
"Dan pertemuan gue tadi siang sama dia juga karena gue terpaksa. Gue diancam sama dia. Kalau gue gak dateng, si Vando bakalan mengusik Kanza. Dan ancaman dia gak pernah main-main,"
"Alex!" Suara sahutan dari dunia nyata membangunkan Alex dari apa yang tengah ia lamunkan. Kepalanya yang semula masih setia menunduk menatap layar ponselnya langsung mendongak kemudian menoleh ke belakang.
Diliriknya, Pak Ucup dengan tampang yang jauh berbeda dari biasanya berdiri di belakang Alex dengan sesekali berdeham pelan.
"Ada apa, Pak?" Tanya Alex sopan, seraya berusaha bangkit dari posisi duduknya. Sedangkan Pak Ucup, beliau malah tersenyum tak biasa.
"Itu. Saya cuma mau mengingatkan, lima belas menit lagi kita berangkat, ya. Ingat! Nanti di sana kamu jangan lupa berdoa. Isi dulu soal-soal yang menurut kamu mudah terlebih dahulu. Jangan terburu-buru ketika membaca soal. Pelan-pelan saja. Oke?"
Alex terkekeh pelan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak lama kemudian, cowok itu mulai menegakkan posisi berdirinya dengan salah satu tangan yang terangkat membentuk sebuah penghormatan. "Siap, Pak!" Ujarnya, membuat Pak Ucup lantas mengangguk-angukkan kepalanya.
"Ya sudah. Lebih baik sekarang kamu siap-siap. Oh, ya. Pokoknya Bapak gak mau tahu, nanti kamu harus menang! Jangan kecewakan Bapak! Soalnya Bapak sudah memamerkan kamu ke guru-guru yang lain. Kalau kamu gak menang, nanti mereka mengolok-olok saya lagi. Kamu mau, wali kelas kesayangan kamu ini diolok-olok?"
Alex lagi-lagi terkekeh, namun tak berlangsung lama, cowok itu mulai menstabilkan dirinya ke mode kalem yang biasanya. "Ekhem. Ya udah, saya mau beres-beres dulu, Pak," ujar Alex, yang langsung dipersilakan oleh Pak Ucup.
Setelahnya, guru berperawakan tidak terlalu tinggi, sedikit gemuk dan memiliki kepala botak dan berkumis tebal itu tak lagi berada di sekitar Alex. Sepeninggalan beliau, Alex tak henti-hentinya terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ketika Alex telah benar-benar menyelesaikan aktivitas beres-beresnya, cowok itu sudah hendak melanjutkan langkah kakinya namun langkah tersebut diharuskan tertahan, kala seseorang yang selama beberapa hari ini terus menghindari Alex tertangkap oleh indera penglihatannya.
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Alex lantas membuang tas punggung yang semula ia sampirkan di bahu kirinya. Kedua kakinya langsung bergegas untuk menghampiri seorang gadis yang tak lain adalah Kanza tengah berada di luar gedung perpustakaan.
Ya, sedari awal Alex memang tengah berada di perpustakaan. Cowok itu berada di sana bukan tanpa alasan, melainkan untuk kembali mengulang materi sebelum pada akhirnya ia akan benar-benar pergi ke tempat perlombaan diselenggarakan.
Alex semakin mempercepat langkah kakinya ketika Kanza berjalan semakin menjauh dari area perpustakaan. Tak ingin tertinggal lebih jauh, cowok itu memutuskan untuk berlari sekuat tenaga sampai pada akhirnya, salah satu tangan Alex berhasil menarik pergelangan tangan Kanza sampai membuatnya refleks berjengit kemudian menoleh.
Tersadar akan apa yang baru saja terjadi, Kanza lantas membuang pandangan serta menepis tangan Alex yang masih berada di salah satu pergelangan tangannya. Kepalanya pun tampak sedikit menunduk dengan sesekali gadis itu akan menelan ludahnya susah payah.
Alex menatap dalam setiap gerak-gerik Kanza. Cowok itu masih terdiam seraya menstabilkan deru napas serta degup jantungnya yang berdebar akibat ia yang baru saja berlari mengejar Kanza.
"Kenapa?" Suara Alex yang terdengar pelan sekaligus datar mengundang perhatian Kanza sehingga perhatian gadis itu langsung beralih menatapnya.
Mendengar pertanyaan polos dari gadis itu, emosi Alex pun kembali mencuat. Dengan menahan berbagai kekesalan, Alex kembali menarik salah satu pergelangan tangan Kanza dan membawa gadis itu ke belakang gedung perpustakaan.
Langkahnya yang lebar sedikit membuat Kanza kesulitan sehingga sesekali langkah kaki gadis itu akan terseok-seok sambil terus berusaha menarik kembali tangannya dari cengkraman Alex.
Alex menghempas pergelangan tangan Kanza ketika mereka telah benar-benar tiba di belakang gedung perpustakaan. Raut wajah cowok itu terlihat begitu dingin dengan tarikan napasnya yang tak beraturan. Sedangkan Kanza, gadis itu semakin menundukkan wajahnya dengan salah satu tangan yang terus mencengkram pergelangan tangannya yang sempat ditarik sana-sini oleh Alex.
"Lo kenapa menghindar terus dari gue? Lo masih inget, kan, kalo kita masih pacaran?" Alex mendekatkan posisinya ke hadapan Kanza, membuat gadis itu dengan refleks langsung memundurkan langkah kakinya sampai punggungnya membentur dinding.
Lagi-lagi Kanza mencoba menelan ludahnya susah payah. Perhatiannya yang semula menatap cowok itu pun langsung berpaling ke arah lain dengan sepasang bola matanya yang sedikit memerah.
"Ya udah. Kalo gitu kita putus," ucapan Kanza lebih terdengar seperti sebuah gerutuan kecil, namun masih terdengar jelas di telinga Alex.
Alex lantas mengepal kuat kepalan tangannya. Kedua alisnya sampai mengerut dalam dengan kedua rahangnya yang mengeras. Tatapan dingin yang begitu mendominasi terus dilayangkan pada gadis di hadapannya. Perkataan Kanza sukses membuat emosinya langsung terpancing.
"Ulangi apa yang lo bilang barusan!" Alex menarik dagu Kanza sehingga tatapan keduanya kembali bertemu.
Kanza melebarkan kedua bola matanya dengan sesekali mengerjap-ngerjap. Degup jantungnya mulai berpacu dengan keringat dingin yang mulai membanjiri dahi hingga tengkuknya. Tatapan yang dilayangkan oleh Alex benar-benar sanggup mengintimidasi Kanza.
"Gue bilang—" Kanza menjeda ucapannya dengan sepasang bola mata yang kian melebar. Gadis itu dibuat tak dapat berkata-kata ketika Alex malah menyela dengan menciumnya tiba-tiba.
Ciumannya tidak selembut saat beberapa waktu lalu cowok itu juga pernah menciumnya. Ciumannya kali ini lebih terkesan buru-buru dan tidak sabaran. Cukup membuat Kanza kehabisan napas sampai membuatnya sulit untuk memberontak.
Cukup lama bibir keduanya saling bertaut, pada akhirnya Alex mulai melepaskan pagutan mereka. Napasnya semakin memburu dengan perhatiannya yang belum juga beralih dari Kanza yang tampak mengambil oksigen sebanyak-banyaknya akibat ciuman brutal yang dilakukan oleh Alex.
Setetes air matanya turun tanpa diduga-duga. Namun mulut gadis itu masih saja tertutup rapat seperti sebelumnya.
"Atas dasar apa kita harus putus? Kita gak pernah berantem, Za. Lo mau putus gitu aja? Gue gak terima!"
Tangis yang telah begitu lama Kanza pendam, pada akhirnya ia luapkan tepat di hadapan Alex. Air mata dengan derasnya mulai menuruni wajah cantiknya.
Kanza yang selama ini bersikap bawel dan humoris, nyatanya semua itu hanyalah sebuah topeng untuk menutupi jati dirinya yang begitu rapuh. Semua yang ia lakukan selama ini demi tidak membuat orang lain tahu bahwa hidupnya sedang tidak baik-baik saja.
"Lo gak usah pura-pura baik sama gue! Lo udah tahu, kan, kalo gue punya penyakit mental!? Lo dateng capek-capek nyariin gue cuman mau ngetawain gue doang. Iya, kan? Gue tahu. Lo pasti ilfeel setelah tahu keadaan gue yang sebenarnya! Gue pernah gila asal lo tahu!" Gadis itu berteriak dan tangisnya semakin pecah.
Alex terdiam mencoba meresapi setiap kata yang dilontarkan oleh Kanza. Detik selanjutnya, kedua tangannya mulai merengkuh tubuh Kanza dan memeluknya dengan cukup erat.
"Gue bukan mau ngetawain lo! Dan lagi, kenapa gue harus ilfeel? Gue pernah bilang kan, kalo gue cinta dan sayang sama lo! Dan satu hal lagi, gue gak peduli lo sakit apa, perasaan gue ke lo gak akan pernah berubah!" Ucap Alex. Perlahan, tangisan pilu gadis itu mulai sedikit mereda. Kanza yang sempat memberontak dalam pelukan Alex pun perlahan mulai berangsur melemah.
Perlahan namun pasti, Alex mulai melonggarkan pelukannya. Tatapan matanya lagi-lagi jatuh pada sepasang netra milik Kanza yang masih setia menunduk dalam diam. Sesekali gadis itu akan terisak pelan dengan air mata yang masih menetes.
"Gak peduli lo seperti apa, perasaan gue akan tetep sama. Karena pada dasarnya, gue cinta sama lo bukan karena lo cantik atau apa. Tapi karena itu adalah lo! Lo yang apa adanya, bukan lo yang ada apanya."
...****...
Kenzo menggenggam kuat ponselnya kala panggilan suara yang ia lakukan masih belum juga direspon oleh seseorang di seberang sana. Semenjak kejadian tiga hari yang lalu di mana ia yang masuk rumah sakit, dia entah itu disengaja atau tidak terus-menerus menghindari panggilan teleponnya.
Dan, siapa lagi kalau bukan Wanda? Entah ada badai apa sampai-sampai gadis itu sulit untuk dihubungi, padahal di hari ketika Kenzo belum sadarkan diri, gadis itu masih sempat-sempatnya datang untuk menunggunya.
Namun siapa sangka, belum juga saling bertatap muka, gadis itu malah menghilang bagai ditelan bumi.
Ya. Kenzo tahu Wanda sempat datang ke rumah sakit demi dirinya. Ia mengetahui hal itu dari seorang perawat yang datang memeriksa kondisinya beberapa hari yang lalu seraya memberikan ponsel miliknya. Katanya, seorang perempuan muda menitipkan benda tersebut padanya dan mengatakan bahwa itu adalah milik pasien yang bernama Kenzo.
__ADS_1
Ketika Kenzo bertanya lebih spesifik tentang seperti apa wujud gadis itu, perawat itu langsung mengatakan bahwa; gadis yang mengantarkan ponselnya adalah gadis yang fotonya dijadikan wallpaper lock screen di ponselnya.
Dan ketika Kenzo kembali bertanya; mengapa gadis itu memilih pergi, perawat itu hanya mengatakan tidak tahu seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Saat itu juga, perasaan Kenzo sudah mulai tidak enak. Dengan tergesa-gesa cowok itu mulai menghubungi Wanda, namun panggilan suaranya tidak direspon dan hal itu berlangsung hingga saat ini.
Pikir Kenzo, apa yang salah dengan Wanda? Apa ia melakukan suatu kesalahan sehingga membuat gadis itu marah sampai enggan untuk mengangkat panggilan teleponnya?
Jika saja Kenzo tidak sedang dalam keadaan yang begitu menyusahkan seperti hari ini, mungkin sudah dari sejak awal cowok itu akan langsung berlari menghampiri Wanda dan meminta penjelasan atas sikapnya selama beberapa hari ini.
Tok tok tok!
Suara ketokan di balik pintu diiringi pintu tersebut yang terbuka seketika langsung mengenyahkan seluruh lamunan Kenzo. Dengan refleks cowok itu mengalihkan perhatiannya pada pintu yang terbuka. Seulas senyum tulus terbit di wajah tampannya kala sang mami dengan langkah santai berjalan memasuki bangsal dengan membawa satu tas berukuran cukup besar yang Kenzo tebak isinya adalah makan siang untuknya.
"Mau dibantuin, gak?" Kenzo menegakkan posisi duduknya dengan masih tersenyum manis pada sang mami. Sedangkan maminya sendiri, wanita itu malah berdecak sebal dengan raut wajahnya yang tampak judes.
"Gak usah sok akrab, deh. Mami masih kesel sama kamu! Bisa-bisanya kamu bikin Mami hampir aja jantungan! Bisa gak sih, sehariii aja kamu jangan bikin Mami khawatir? Kamu kenapa bisa kayak gini sih, hah!? Siapa yang berani mukulin kamu? Biar Mami datengin rumahnya terus kita bakar rame-rame!" Sang mami, alias Chelsea mulai kembali menggebu-gebu. Dan semua gerak-geriknya tak luput dari perhatian Kenzo.
"Wuidihhh ... Mantep, Mih! Sekalian tambahin organ tunggal! Keknya seru tuh," kelakar Kenzo, membuat maminya kembali berdecak.
"Udah, ah. Bercandanya kita pending dulu. Sekarang kamu makan, habis itu minum obat. Mami bawain bubur sama nasi plus lauk. Kamu tinggal pilih, mau makan sama nasi, apa bubur?" Chelsea mulai mengeluarkan satu-persatu kotak bekal yang ia ambil dari dalam tas tadi, kemudian menaruhnya di atas meja di samping blankar.
"Mau Mami suapin atau makan sendiri?"
Kenzo tampak berpikir sejenak. "Kalau minta disuapin, boleh?" Tanya Kenzo. Ketika sang mami hendak menjawab, suara seseorang diirigi dengan pintu ruangan yang terbuka sontak mengalihkan perhatian keduanya.
"Gak boleh! Makan sendiri!" Dan ya, suara tersebut berasal dari Kenan. Raut wajahnya tampak dingin dengan sepasang bola matanya yang memicing menatap tajam putrannya.
Kenzo mengerjap beberapa saat dengan mulutnya yang terkatup rapat. Ucapan dari sang papi sanggup membuatnya terdiam tak dapat bersuara.
"Oke," balas Kenzo pasrah, seraya menghela napas.
...****...
Hari masih terbilang pagi, namun Azka memilih meninggalkan sekolah padahal sebentar lagi jam *** akan segera dilangsungkan.
Azka memilih membolos sebab jika dirinya terus berada di sekolah, otaknya tetap tidak dapat diajak bekerja sama. Pikirannya terus melayang pada sepenggal ucapan Kelvin beberapa hari yang lalu yang mengatakan; bahwa selama ini ia masih memiliiki ibu.
Kaget? Tentu saja! Rasa penasaran yang juga diselimuti oleh rasa bahagia terus menghinggapi Azka. Sayangnya ketika Azka bertanya lebih lanjut, perkataan Kelvin selanjutnya membuat perasaan berbunga dalam diri Azka langsung lenyap dan digantikan dengan raut penuh kecewa.
Dan saat ini, untuk pertama kalinya dikala ia membolos, Azka mendatangi sebuah bangunan tempat di mana anak-anak yang tak memiliki orangtua maupun yang ditinggal oleh keluarganya berkumpul di sana.
Bangunan itu terlihat biasa saja dan terkesan sederhana. Namun entah mengapa walaupun hanya dengan melihatnya sekilas, Azka merasakan hawa yang begitu hangat dari sana, apalagi melihat banyaknya anak-anak yang bermain maupun yang hanya sekadar berkeliaran di halaman.
Azka menarik napasnya dalam-dalam sebelum pada akhirnya cowok itu mulai melangkah lebih jauh memasuki area panti asuhan.
Jantungnya tiba-tiba saja berdegup tidak karuan. Tarikan napasnya pun terasa begitu berat dengan perasaan gugup sekaligus takut seolah membaur menjadi satu.
Lagi dan lagi Azka menarik napasnya dalam-dalam. Perasaannya untuk melangkah lebih jauh kembali terhalang oleh keraguan. Sedangkan hatinya berkata lain.
Memilih untuk segera mengenyahkan keraguan yang membuat tekadnya terhalang, Azka lantas melangkahkan kakinya memasuki area panti asuhan tersebut dengan bermodalkan keberanian.
Belum ada sepuluh langkah ia berjalan, langkah tersebut diharuskan berhenti di tegah jalan kala sepasang netranya tanpa disengaja bersitatap dengan seseorang yang membuat sudut hatinya tiba-tiba menghangat.
Seorang wanita dengan busana sederhana berjalan melewati Azka seraya tersenyum ramah padanya.
Azka hampir tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari wanita itu jika saja ia tidak segera menyadarkan dirinya sendiri. Tak ingin membuang-buang waktu, Azka lantas berlari mengejar wanita tadi. Salah satu tangannya dengan refleks menarik salah satu pergelangan tangan wanita itu sehingga membuatnya sedikit terperanjat dengan sepasang bola mata yang cukup melebar.
Tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, Azka lantas melepaskan cengkraman tangannya seraya menunduk meminta maaf.
"Siapa, ya?" Tanya wanita itu dengan kedua alisnya yang hampir bertaut.
"Ekhem. Sebelumnya saya minta maaf karena barusan saya sudah lancang, dan-" ucapan yang hendak dilontarkan Azka tiba-tiba terteja. Sepasang netranya lagi-lagi tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari raut wajah penuh tanya milik wanita itu.
"Dan?" Tanyanya, seketika menyadarkan Azka dari apa yang tengah ia lamunkan.
Azka berdeham mencoba menghilangkan kegugupannya. "Itu, saya ... mau tanya. Ini benar alamatnya Panti Asuhan Kasih Bunda?"
Wanita itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. "Iya benar, ini alamatnya. Adek mau cari siapa, ya?" Tanyanya lagi, membuat Azka tanpa sadar tersenyum tipis mendengar panggilan yang diberikan oleh wanita itu padanya.
"Ekhem. Saya mau ketemu sama seseorang yang kira-kira umurnya seumuran sama Ibu. Katanya dia kerja di sini," ujar Azka.
"Kalau boleh tahu, namanya siapa, ya?"
"Oh. Namanya Paula Kinanti,"
Seulas senyum di wajah wanita itu langsung luntur dan digantikan oleh raut wajah datar. Tak selang berapa lama, wanita itu lantas terkekeh pelan.
"Kebetulan itu dengan saya sendiri. Adek ada perlu apa, ya?" Tanyanya lagi tak kalah ramah. Namun bukannya senang karena orang yang tengah Azka cari ternyata berada di hadapannya, cowok itu justru malah terdiam kaku dengan sepasang bola matanya yang sedikit melebar.
"Ibu dengan Ibu Paula Kinanti?" Ulang Azka. Napasnya serasa tercekat. Kepalan di kedua tangannya pun mulai terasa lebih kuat dan kerongkongannya terasa begitu kering sehingga sesekali, Azka akan menelan ludahnya susah payah.
Lagi dan lagi wanita itu tersenyum ramah ke arah Azka seraya mengangguk. Sedikitpun wanita itu tidak merasakan keanehan, padahal gerak-gerik Azka sudah cukup terlihat jelas.
Cukup lama Azka terdiam dalam keheningan menatap raut wajah wanita itu, ia sampai tidak menyadari bahwa setetes air mata yang selama ini ia tahan, pada akhirnya lolos juga di hadapan seorang wanita setengah baya yang baru pertama kali ia temui.
Melihat anak muda di hadapannya yang tiba-tiba menitikkan air mata, jelas wanita itu langsung terkejut. Ketika ia hendak berjalan mendekat, Azka dengan refleks langsung mundur satu langkah. Membuat wanita dengan pemilik nama Paula itu semakin terkejut sekaligus kebigungan.
"Kamu gak pa-"
Azka terkekeh sarkas. Raut wajah kebingungan semakin terpancar di wajah wanita itu.
"Bu Paula!" Panggil Azka. Sepasang netranya tampak sedikit menunduk, dengan seulas senyum miris yang terpatri di wajahnya.
Selang berala lama, kepalanya yang sedikit tertunduk mulai terangkat. Tatapan sendu penuh luka ia pancarkan pada wanita yang masih setia berdiri di hadapannya.
"Ini saya, Azka! Anak yang dulu pernah Anda buang belasan tahun yang lalu,"
^^^To be continue....^^^
Akhirnya aku bisa update gaess huhuu!!! Alhamdulillah skrng aku udh baik-baik aja, tinggal pileknya aja nih yg bandel duhh...
Dan buat kalian yg udh mensupport sma mendoakn aku spya cpt smbuh, aku bener-bener terima kasih sekaligus minta maaf karena aku gk sempat balas komenan kalian🙏 tapi semuanya sdh aku baca kok dalem hati dan itu tuh bkin aku jdi semangat lgi buat nulis.
Dan untk di eps selanjutnya aku gk tahu bkl update kapan, tpi aku akan ttp berusaha buat update sekalipun aku disibukkan sama tugas sekolah. Dan ya, aku msih SMK kelas 11. Kalian bisa tebak umur aku berapa, tapi yang pasti aku udah punya KTP, cuman masih diproses dan gk tahu kapan bisa dibawa pdhl aku bikinnya bulan mei hem🙂 yauadahlah segitu aja dulu. Lain kali kita curhat lagi eaakkk🤣
__ADS_1