Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 53


__ADS_3

"Gak mungkin lo gak kenal sama gue. Secara, gue adalah cinta pertama lo. Vando!"


Kanza semakin dibuat membeku tak dapat berkutik, sesaat cowok itu kembali mengutarakan ucapannya. Dan yang lebih membuat Kanza sangat syok adalah, cowok itu adalah Vando. Seseorang dari masa lalunya yang membuat Kanza merasakan sakit dan trauma yang teramat mendalam.


Tadinya gadis itu pikir ia salah lihat, atau mungkin ada seseorang yang mirip dengannya. Sayangnya, apa yang ia pikirkan tak sesuai dengan kenyataan. Cowok yang hanya ia kira sekadar mirip orang yang paling ia takuti, nyatanya adalah dia.


Vando. Seseorang yang menorehkan luka serta trauma yang sampai detik ini belum dapat pulih sepenuhnya.


Tersadar akan dirinya yang masih mematung di tempat, Kanza perlahan mulai kembali menyadarkan dirinya. Mulutnya terkekeh miris dengan kedua bola mata yang sedikit berkaca-kaca. Membuat Alma serta Kayla yang melihatnya sontak bertanya-tanya.


"Za, lo—" Alma menggantung ucapannya tatkala Kanza mulai membalikkan tubuhnya untuk menghadap cowok yang mengaku bernama Vando.


Raut wajah gadis itu terlihat kacau, namun seberusaha mungkin ia harus terlihat tenang.


Lagi-lagi Kanza terkekeh. Melihat reaksi Kanza yang ternyata masih ketakutan karena kehadirannya, seulas senyum mengerikan lantas terbit dari wajah Vando.


"Cinta pertama gue?" Sahut Kanza. Sebisa mungkin ia menatap sepasang bola mata milik Vando yang juga tengah balik menatapnya.


Tanpa menjawab secara lisan, cowok itu mengangguk sembari tersenyum manis. Ya, manis. Manis di mata orang-orang yang tidak mengetahui kenyataan lain soal dirinya. Namun di mata Kanza, senyuman Vando teramat sangat mengerikan.


"Sorry! Lo semakin salah orang. Cinta pertama gue bukan lo, melainkan cowok yang saat ini jadi pacar gue. Dia adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhir gue. Permisi." Tandas Kanza, dengan menekan beberapa kata dalam kalimatnya.


Setelahnya, gadis itu melenggang dari hadapan Vando. Tak lupa ia juga menarik kedua tangan sahabatnya untuk segera menjauh dari area kantin. Tidak memedulikan perutnya yang memberontak minta diisi.


Pikirnya, menjauh dari cowok berbahaya itu lebih penting ketimbang meladeni rasa laparnya. Dan lagi, rasa lapar yang sempat singgah tadi telah lebih dulu pergi. Dan semuanya karena Vando. Kedatangannya yang tak terduga, bagaikan sebuah malapetaka bagi Kanza.


...****...


Alma dan Kayla saling menatap setelah hampir cukup lama keduanya terdiam dengan fokus yang sesekali akan melirik pada Kanza. Kedua gadis itu benar-benar dilanda bingung sekaligus canggung.


Pikir mereka, apa yang terjadi pada Kanza? Apakah ada sesuatu di antara gadis itu dan juga cowok tadi?


Banyak yang ingin mereka tanyakan. Sayangnya, yang dapat mereka lakukan hanyalah diam dengan sesekali saling menatap.


"Ekhem." Alma berdeham cukup kuat mencoba untuk menghilangkan kecanggungan yang melanda. Ketika gadis itu hendak bersuara, Kanza yang sedari tadi termenung di kursinya langsung bangkit. Membuat perhatian Alma dan juga Kayla lantas beralih pada gadis itu.


"Gue mau ke toilet bentar," ucap Kanza, tanpa menoleh sedikit pun kepada kedua sahabatnya.


Saat Alma dan Kayla hendak menyahut, gadis itu telah lebih dulu melenggang meninggalkan kelas. Meninggalkan sedikit rasa kekecewaan di hati Alma dan juga Kayla.


...****...


Azka menghela napas gusar entah untuk yang keberapa kalinya. Raut wajah cowok itu pun terlihat begitu kacau dan frustasi tidak seperti biasa. Membuat teman-temannya yang berada tak jauh dari posisi cowok itu lantas menoleh dengan pandangan penuh tanya.


"Ka! Lo kenapa? Perasaan tadi gue perhatiin muka lo kek asem-asem aja. Gak kek biasanya," Juna menepuk pelan bahu Azka, sehingga membuat cowok itu dengan refleks langsung menoleh padanya.


"Lo ada masalah, Ka? Curhatlah, mumpung lagi pada kumpul, nih," Rio menyela yang langsung diangguki oleh Alex, Haykal, dan Juna.


Lagi-lagi Azka menghela napas gusar dengan kepalanya yang tertunduk dalam. "Gue ... gue gak tahu harus ngomong dari mana," ujarnya pelan.


Teman-temannya tampak berpikir sejenak. "Masalah keluarga?" Tebak Alex, membuat Azka seketika langsung membulatkan kedua bola matanya dengan perhatian yang beralih pada cowok itu.


"Lo tahu dari mana, Lex?" Kaget Azka, yang langsung ditanggapi kekehan kecil oleh Haykal. "Kek gak kenal dia aja lo, Ka! Si Alex, 'kan, makhluk paling peka di antara kita-kita ini,"


Mendengar hal itu, Azka langsung tersadar. Benar kata Haykal. Alex adalah makhluk yang paling mudah peka. Tak jarang bahkan cowok itu pun sering menjadi pendengar yang baik bagi teman-temannya.


Azka kembali menghela napas gusar seraya mengangguk beberapa kali. Kedua bola matanya yang semula masih baik-baik saja perlahan mulai sedikit berkaca-kaca.


"Gue baru aja nemuin Nyokap gue,"


"Hah?! Nyokap lo masih hidup, Ka?!" Alex, Haykal, Juna, dan Rio berucap berbarengan dengan sepasang bola mata mereka yang refleks melebar. Ucapan Azka barusan sukses membuat keempatnya terkejut setengah mati.


Azka tidak langsung membalas pertanyaan spontan dari teman-temannya. Kepalanya bahkan masih menunduk dengan sesekali terkekeh miris. "Orangtua yang selama ini gue kira gak pernah ada, nyatanya dia masih ada. Tapi sekalipun dia gak pernah coba nemuin gue. Apa gue seberdosa itu sampai-sampai mereka gak mau nemuin gue?"


Bingung. Itulah hal yang dirasakan oleh Alex beserta yang lain. Ucapan Azka terlalu sulit untuk dimengerti.


Tadi apa katanya? Cowok itu menemui mamanya? Bukannya Azka yatim piatu?


"Ka! Lo ada sesuatu yang disembunyiin sama kita, 'kan? Jujur, gue gak ngerti sama ucapan lo. Bukannya orangtua lo udah meninggal? Terus yang lo temuin baru-baru ini siapa?" Otak Alex yang kelewat encer mulai melayangkan rasa kebingungannya. Cowok itu bahkan bertanya merentet membuat teman-temannya yang lain hanya bisa menyimak.


Azka mendesah pelan. Seulas senyuman getir lantas terbit dari wajahnya. "Orangtua gue belum meninggal, Lex! Itu cuma alasan Eyang gue biar gue gak bisa nemuin mereka. Gue bahkan tahu Nyokap gue ada di kota yang sama dengan gue aja dari Om Kelvin. Dan pertemuan gue waktu itu sama dia, awalnya gue cuma mau melepas rindu. Tapi gak tahu kenapa rasa kesel, marah dan benci itu justru hadir saat air mata dia jatuh tepat di hadapan gue. Gue bahkan sempet gak percaya bahwa wanita yang berdiri di hadapan gue waktu itu adalah ibu kandung gue,"


Semuanya langsung terdiam. Ucapan menyedihkan Azka diiringi air mata yang berjatuhan tanpa ia sadari membuat teman-temannya tidak dapat berkata-kata.


"Oh! Ada satu hal lagi. Gue baru tahu kalau Bokap gue yang gue gak pernah tahu rupa dia kayak gimana, nyatanya adalah orang paling brengsek di dunia ini. Dia udah ngehancurin hubungan antara Nyokap gue sama Eyang, dan dia juga yang ninggalin Nyokap gue karena gak bisa menghidupi kita berdua,"


Teman-temannya semakin terdiam tatkala Azka kembali mengutarakan perkataannya. Mereka terlalu syok mendengar cerita hidup keluarga Azka yang jauh dari apa yang digosipkan. Semenyedihkan inikah hidupnya?


"Lo tahu cerita ini dari—" Juna menjeda ucapannya saat tangan Haykal menyentuh kuat lengannya. Mencoba mengode cowok itu untuk tidak melayangkan pertanyaan itu sekarang.


"Intinya ... Eyang lo udah bohong sama lo, kalau orangtua lo sebenarnya belum meninggal, gitu? Dan, Om Kelvin mengatakan segalanya sama lo, makanya lo pun nemuin Nyokap lo. Soal Bokap lo yang katanya brengsek itu kita skip dulu. Tapi pertanyaan gue di sini adalah, lo sayang gak sama Nyokap lo?" Tanya Rio, setelah hampir cukup lama cowok itu memilih diam dan menyimak bersama yang lain.


Kini giliran Azka yang terdiam. Otak cowok itu tiba-tiba serasa berputar seolah mencari jawaban atas pertanyaan dari Rio yang dilayangkan padanya.


"Gue ... gue gak tahu. Gue bahkan ketemu sama dia aja baru sekali. Gimana gue—"


"Nih, ya, Ka! Pas awal-awal lo belum tahu kenyataan itu bahwa orangtua lo masih hidup, apa yang lo rasain?"


Azka berdecih pelan dengan salah satu sudut bibirnya yang terangkat. "Frustasi. Gue bahkan sempat sirik sama lo semua yang masih punya orangtua, apalagi sama si Kenzo. Punya orangtua akur, baik, perhatian sama anaknya, siapa yang gak bakal iri?"


Rio mengangguk paham. "Terus pas lo tahu kebenaran itu, apa yang lo rasain?" Tanyanya lagi, sedikit membuat Azka bertanya-tanya, termasuk juga Alex, Juna, dan Haykal.


"Kenapa lo nanya gitu?" Tanya Azka. Namun bukannya menjawab, Rio malah menggendikkan bahunya. Dan mau tidak mau, Azka pun harus menjawabnya.


Azka menarik napasnya dalam-dalam. "Gue ... awalnya gue syok denger berita itu. Tapi lama-kelamaan, gue jadi penasaran mereka ada di mana. Gue bahkan sempat seneng saat tahu bahwa Nyokap gue ada di suatu tempat yang gak jauh dari tempat gue. Tapi—"


"Tapi?!"


Azka mengembuskan napasnya sebelum cowok itu benar-benar akan melanjutkan ucapannya. "Rasa bahagia itu langsung lenyap saat gue berpapasan sama dia. Niat awal gue adalah; gue pengin ketemu dan meluk dia sambil bilang kalau gue kangen sama dia. Gue pengin kayak kalian yang punya orangtua lengkap. Ralat. Seenggaknya, satu aja sosok orangtua buat gue. Nyatanya enggak ada,"


Alex, Rio, Juna, dan Haykal, kompak mengembuskan napas panjang selepas Azka menyelesaikan ucapannya. Mereka berempat bingung harus mengatakan apa?! Mereka belum pernah berada di posisi Azka.


"By the way, setelah gue cerita, rasanya gue ada sedikit pencerahan. Seenggaknya gue gak terlalu kepikiran buat sekarang. Thank's, ya. Cuma kalian yang gue punya," Azka tiba-tiba bangkit dari posisi duduknya membuat teman-temannya yang lain sontak memusatkan perhatiannya pada cowok itu.


Melihat gerak-gerik Azka, bukan tidak mungkin mereka tidak bertanya-tanya.

__ADS_1


"Lo mau ke mana, Ka?" Tanya Haykal, sudah hampir ikut bangkit dari posisinya.


"Noh, ke sana! Gue mau ngerokok. Stres gue," ujarnya seraya terkekeh pelan.


Itulah Azka. Memiliki masalah maupun beban pikiran dalam hidupnya, ia tidak pernah menampakkannya. Sekalipun ketika dirinya harus bercerita, Azka akan tetap tenang seolah bukan dirinyalah yang berada dalam cerita yang ia jelaskan. Dan kalaupun Azka harus meluapkan emosi, ia tidak akan meluapkan semuanya. Cukup sedikit, kemudian ia akan kembali terlihat seperti semula.


Cukup sulit memang untuk memahami isi hati cowok itu. Bahkan teman-temannya sekalipun tidak dapat menebak seperti apa suasana hatinya. Azka terlalu lihai menyembunyikan perasaannya.


...****...


Setibanya di salah satu toilet sekolah, tepatnya bilik toilet kelas sebelas, Kanza langsung mengurung diri di dalam sana dengan mengunci rapat-rapat pintu toilet tersebut. Air mata yang semula ia tahan beberapa saat, pada akhirnya mulai menampakkan dirinya, sehingga mulai membasahi wajah cantiknya.


Perlahan, tangisnya mulai terdengar. Tubuhnya pun ikut bergetar. Tanpa ia sadari, kedua tangannya mulai memeluk tubuhnya sendiri.


Takut. Satu hal itu seakan terus menghantuinya tanpa kecuali, semanjak kejadian beberapa saat yang lalu ketika Kanza kembali bertemu dengan sosok Vando. Sosok yang membuatnya hampir gila untuk sesaat.


"Kenapa?" Gumam Kanza menjeda ucapannya, kemudian menyeka air mata yang tanpa permisi kembali lolos begitu saja menuruni wajahnya.


"Kenapa lo harus muncul di hidup gue lagi? Kenapa lo gak ngilang aja? Kenapa harus gue yang jadi target lo? Gue punya salah apa sama lo?" Kanza menarik napasnya dalam-dalam seraya terus memeluk tubuhnya erat-erat.


Bingung. Kanza tidak tahu harus mengadu pada siapa? Pada Kenzo? Tidak! Cowok itu bahkan belum benar-benar pulih dari lukanya. Ia tidak ingin membuat Kenzo yang masih dirawat khawatir hanya karena orang yang paling dirinya takuti kini kembali.


Lalu, bagaimana dengan Alex? Bisakah ia mengadu pada cowok itu? Tapi pertanyaannya adalah, apakah dia bersedia menjadi sandaran Kanza dikala dirinya sendiri tidak bisa percaya pada orang lain?!


Kanza semakin tidak dapat menyembunyikan ketakutannya. Air mata yang dibiarkan itu malah semakin menjadi sehingga kedua bola matanya pun telah sembab hingga memerah. Beruntunglah, tangisnya hampir mereda.


Ting... Tong...


Ting... Tong...


Suara bel tanda berakhirnya jam istirahat telah berbunyi. Mampu menyadarkan Kanza dari lamunan suramnya sehingga dengan tergesa-gesa, Kanza bangkit dari posisinya seraya menyeka sisa air mata yang masih menempel di wajahnya.


Setelah dirasa cukup, salah satu tangan gadis itu terulur untuk membuka kunci serta menarik knop pintu toilet, sampai pada akhirnya pintu tersebut mulai terbuka.


Namun, ketika Kanza baru saja selangkah keluar dari dalam bilik toilet, kedua bola matanya refleks membulat saat punggung tegap milik seseorang yang teramat ia kenali berdiri setengah membungkuk di hadapannya.


"A-alex?!" Sahut Kanza, mencoba menerka-nerka.


Dan benar saja. Cowok yang tadinya tengah mencuci tangan di salah satu wastafel itu langsung menoleh dengan kedua alis yang tampak berkerut dalam.


"Za? Kok, lo bisa di sini?" Alex mulai menutup keran wastafel setelah dirasa cukup ia mencuci tangan. Setelahnya, cowok itu meraih beberapa lembar kertas tisu yang berada tak jauh dari posisi keran untuk mengeringkan kedua tangannya, kemudian berjalan menghampiri Kanza yang terlihat gugup dengan sesekali mengembangkan senyuman terpaksa.


"Bukannya ... gue yang harus nanya, ya? Lo kenapa ada di sini?" Tanya Kanza. Sontak membuat Alex terkekeh pelan dengan seulas senyum manis yang terbit di wajah tampannya.


"Ini toilet cowok, Za! Lo mau ngapain ke toilet cowok, hm?" ujar Alex. Refleks membuat Kanza lantas membulatkan kedua bola matanya dengan mulutnya yang sedikit melebar.


"Hah?! To-toilet cowok?" Pekiknya. Dengan sangat polos, Alex pun mengangguk. Sedangkan Kanza, gadis itu langsung menepuk dahinya cukup keras kemudian menyembunyikan kedua bola matanya.


Malu. Itulah yang ia rasakan. Kenapa juga di saat-saat seperti ini Kanza malah salah masuk toilet? Untung saja yang menergokinya adalah Alex. Gimana kalau orang lain? Bisa malu sampai pengin gali lobang sendiri ini mah, fix!


"I-ini ... toilet cowok, ya? Sorry, gue buru-buru tadi. Gak seng—"


"Lo kenapa? Lo habis nangis?" Alex menyela ucapan Kanza dengan salah satu tangannya yang terulur mengangkat pelan dagu gadis itu. Sampai membuat perhatiannya yang semula menunduk lantas beralih pada Alex.


Kanza terdiam beberapa saat dengan sepasang bola mata yang berkedip beberapa kali. Tenggorokannya pun mendadak terasa begitu kering sampai-sampai dirinya terus berusaha menelan ludahnya susah payah.


Ucapan Alex selanjutnya mampu membuat Kanza langsung tersadar. Dengan tergesa-gesa, gadis itu lantas mendorong pelan tangan Alex seraya memundurkan sedikit langkah kakinya.


"Ha-hah?! Si-siapa yang nangis? Gue gak nangis, kok! Gu-gue cuma kelilipan doang. Ba-barusan gue habis marathon drama sad ending sama Alma Kayla, makanya mata gue—" ucapan Kanza langsung terhenti saat telapak tangan Alex menyentuh lembut telapak tangannya.


"Za! Lo gak bisa bohongin gue. Please, jujur! Siapa yang buat lo nangis? Lo gak usah takut. Ada gue, hm?"


Senyuman palsu di wajah Kanza langsung memudar tatkala ucapan kelewat halus dari mulut Alex terdengar oleh indera pendengarannya. Detik itu juga, air mata Kanza lagi-lagi lolos keluar dari tempatnya. Bahunya bergetar dan tangisnya kembali. Dengan penuh keyakinan, Kanza berlari memeluk tubuh Alex. Mencoba untuk mencari sedikit perlindungan dari cowok itu.


Mendapati gadisnya yang tiba-tiba menangis dan memeluk tubuhnya, jelas Alex terkejut. Namun tak berlangsung lama, cowok itu membalas pelukan Kanza begitu erat, mencoba menenangkan gadis itu yang tangisnya kian menjadi.


"Gue takut, Lex ..." gumam Kanza, dengan suaranya yang sedikit bergetar.


Dengan penuh perhatian, Alex mengusap lembut punggung Kanza mencoba terus menenangkan gadis itu. "Ada gue, lo gak perlu takut. Coba lo cerita pelan-pelan. Lo kenapa, hm? Siapa yang bikin lo kayak gini?"


Perlahan namun pasti, Kanza mulai melepaskan diri dari Alex. Tangisnya pun perlahan mulai sedikit mereda. Melihat hal itu, dengan penuh perhatian, Alex menyeka sisa air mata yang masih menempel di wajah Kanza. Sepasang bola matanya pun belum juga beralih dari raut wajah Kanza yang masih menunduk belum mau mengatakan kalimatnya.


"Za?" Panggil Alex, dirasa Kanza sudah hampir terlalu lama terdiam belum mengatakan apa-apa.


Kanza mencoba untuk sedikit menenangkan dirinya dengan sesekali menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya. Ketika perasaannya mulai sedikit tenang, Kanza berusaha memberanikan diri untuk mulai membuka mulutnya walaupun dirasa masih bergetar.


"Di-dia—" Kanza kembali menjeda sejenak ucapannya dengan kembali menarik napas dalam-dalam. Demi apa pun, jujur pada seseorang soal ketakutan yang dimiliki itu tidaklah mudah. Butuh keberanian serta kekuatan untuk mengatasi rasa takutnya.


"Siapa?"


Kanza mencoba menelan ludahnya susah payah, sebelum ia pada akhirnya mencoba untuk memberanikan diri mengatakan hal itu pada Alex.


"Va-vando. Dia balik lagi. Dan— dia ada di sekolah ini," ucap Kanza, pada akhirnya. Sanggup membuat Alex langsung membelalakkan kedua bola matanya dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Apa?!"


...****...


Siang hampir berganti sore, dan sekolah pun telah dibubarkan sekitar beberapa detik yang lalu. Seluruh siswa maupun siswi mulai berhamburan meninggalkan ruang kelas, tak terkecuali untuk kelas XI IPS 4. Kelasnya si kembar Kanza dan Kenzo, juga yang lain.


Kenzo yang masih belum bisa sekolah menjadikan ruangan kelas yang biasanya sering gaduh dan berisik, mendadak hening dan patuh selayaknya kelas XI IPA 1 yang dikenal tempatnya para anak-anak rajin.


Alex menghela napas gusar sembari bangkit dari kursinya dengan salah satu tangan menenteng tas. Sepasang kaki jenjangnya dengan santai berjalan ke arah meja seseorang yang terlihat masih menyibukkan diri merapikan buku beserta alat tulis.


"Za! Lo pulang bareng siapa?" Itu bukan suara Alex. Melainkan Alma yang baru saja berdiri dari kursinya sembari menggendong tas punggung berukuran sedang berwarna cokelat muda dan krem. Seulas senyuman polos terbit di wajah cantiknya, seolah tak peduli dengan sikap Kanza yang kembali seperti semula akibat pertemuannya dengan seorang laki-laki tak dikenal beberapa jam yang lalu.


Kanza yang tengah melamun sembari mencoba menggendong tasnya pun lantas menoleh. "Eh? Gue pulangnya—"


"Kanza pulang sama gue." Alex memotong pembicaraan kedua gadis itu dengan muncul di tengah-tengah mereka. Tampang wajahnya yang datar dan tatapannya yang dingin sanggup mengintimidasi Alma.


"O-oh! Gi-gitu, ya? Gue pikir Kanza pulang sendiri, soalnya gue pulangnya bawa motor, cuman gak mau sendiri. Em ... Ya, udah, kalau pulangnya sama lo! Kalau gitu gue duluan, ya," ujar Alma yang diakhiri dengan senyuman terpaksa. Setelahnya, gadis itu melenggang keluar dari dalam kelas tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Sedangkan Kayla, gadis itu sudah lebih dulu pulang dari semenjak guru pelajaran terakhir pamit undur diri. Katanya, sih, lagi buru-buru mau ke suatu tempat. Gak bilang suatu tempatnya di mana.


Melihat Alma yang buru-buru keluar, Rio yang awalnya tengah sibuk memeriksa ponselnya lantas tersadar. Dengan tergesa-gesa, cowok itu berlari mengejar pacarnya dengan sesekali akan menyahuti gadis itu.

__ADS_1


Tidak berbeda jauh dengan Rio, Juna pun ikut berlari mengejar Alma untuk mengajukan beberapa pertanyaan penting yang dirasa benar-benar harus segera ditanyakan.


"Buset, tungguin!" Pekik Azka, sesaat ketika Juna telah lebih dulu tenggelam di balik pintu.


"Bareng sama gua ajalah. Tuh, anak paling mau nanyain soal si Kayla, makanya dia ngejar-ngejar si Alma." Haykal merangkul pundak Azka, membuatnya spontan menoleh pada cowok itu.


"Emang cuma lo doang yang paling solid! Ya, udahlah. Skuy, balik! Lex, kita duluan, ya!" ucap Azka, perhatiannya kemudian beralih pada Alex yang masih setia memasang tampang datar dengan perhatian yang belum juga beralih dari Kanza.


"Hm." Balas Alex, singkat. Tanpa berniat menoleh sedikit pun.


Melihat sikap Alex yang tidak seperti biasa, Haykal dan Azka lantas saling pandang dengan tatapan penuh tanya. Memilih untuk tidak ambil pusing, keduanya lantas berdeham pelan, kemudian melenggang keluar dari dalam kelas beserta teman-teman sekelas mereka yang lain.


"Si Alex kenapa? Kesambet?" Bisik Azka, di sela langkah kakinya.


"Mana gue tahu. Lo pikir gue emaknye?"


...****...


"Lex? Kok, lo dari tadi diem aja, sih? Gu-gue ada salah, ya, sama lo?" Kanza bertanya hati-hati, dirasa cowok itu masih saja terdiam dengan posisi berjalan di samping Kanza.


Alex tidak langsung menjawabnya. Cowok itu malah menghela napas panjang dengan salah satu tangannya yang semakin menggenggam erat tangan Kanza.


Kanza menundukkan wajahnya dengan ekspresi murung. Gadis itu sudah cukup tahu jawabannya dari tampang Alex serta pertanyaannya yang tak kunjung dijawab.


Alex menghentikan langkah kakinya tiba-tiba, membuat Kanza juga ikut menghentikan langkah kakinya. Ketika gadis itu menoleh pada punggung tegap Alex, cowok itu bukannya balas menoleh, dia malah berjalan meninggalkan Kanza dan memilih menghampiri mobilnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Semakin membuat Kanza terus menyudutkan dirinya sendiri, bahwa dirinyalah penyebab sikap Alex yang menjadi seperti ini.


"Lo tunggu gue di mobil. Gue mau ketemu orang bentar," suara pintu mobil yang terbuka diiringi sahutan datar dari Alex, sontak membuat Kanza lantas mengangkat kepalanya dengan sepasang bola mata yang tampak melebar.


Merasa ada yang janggal, Kanza memberanikan diri berjalan menghampiri Alex yang masih berdiri di samping salah satu pintu mobilnya yang terbuka lebar.


"Lo mau ketemu sama siapa?" Bukannya menjawab, Alex malah mendorong pelan tubuh Kanza, membawanya untuk segera memasuki mobil.


"Lo tunggu di sini, ya. Gue gak lama, kok," ujarnya terdengar lembut, ketika Kanza telah benar-benar berada di dalam mobilnya yang pintunya telah ia tutup.


"Tapi—" belum sempat Kanza menyelesaikan ucapannya, cowok itu sudah lebih dulu melenggang meninggalkan parkiran sekolah. Raut wajahnya semakin terlihat dingin dengan rahang yang hampir mengeras.


...****...


"Lo anak kelas dua belas, 'kan? Lo tahu orang yang namanya Vando, gak? Kira-kira dia murid pindahan kelas dua belas. Tapi gue gak tahu dia di kelas mana."


"Oh! Anak baru yang katanya lagi digilai para cewek sekolah kita itu, ya? Ck. Ya, kali, gue gak kenal. Dia masuk di kelas gua dan udah ngerebut perhatian gebetan gua. Mentang-mentang punya muka ganteng dikit,"


"Serius? Kalau gitu, lo bisa sampein sesuatu ke dia, gak? Tolong bilangin; pulang sekolah, gue tunggu di gor basket. Ada yang mau gue selesain. Bilang aja dari cowoknya orang yang udah dia sakitin."


"Ada apa, nih? Lo ada dendam sama dia?"


"Sampein aja, thank's."


Alex meremas kepalan tangannya di sela langkah kakinya menuju sebuah tempat yang tak lain adalah gor basket. Obrolan singkatnya beberapa jam yang lalu bersama salah satu seniornya terus terngiang-ngiang di kepala.


Seolah sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran, Alex bahkan sudah mempersiapkan hukuman apa saja yang harus orang itu terima nanti, karena dirinya telah begitu berani kembali mengusik hidup Kanza.


Ketika Alex telah sampai di dalam gor basket, seseorang yang ia tebak adalah Vando, telah berdiri memunggunginya seraya bersiul ria dengan sesekali menatap kagum setiap sudut ruangan gor tersebut.


"Udah puas lihatinnya? Belum pernah lihat ada gor basket yang lebih bagus dari sekolah lama lo? Atau, di sekolah lama lo kekurangan modal, jadinya lo baru lihat pertama kali di sini? Cih, kampungan." Sahutan Alex yang terlampau sarkas cukup menggema di ruangan tersebut. Vando yang awalnya masih betah berada dalam lamunan, lantas membalikkan tubuhnya dengan ekspresi syok yang berlebihan.


"Wuih! Wajah baru. Lo kenal sama gue? Ada masalah apa lo minta gue dateng? Perasaan, kita baru pertama kali ketemu. Iya, gak?" Vando bertebuk tangan beberapa saat dengan seulas senyum miring yang terpatri di wajahnya.


Sedangkan Alex, cowok itu dengan malas membuang tas sekolahnya sembarangan, kemudian meregangkan otot-otot tangannya hingga mengeluarkan suara. Kedua kakinya pun ikut melangkah mendekat menghampiri Vando. Melihat hal itu, refleks Vando menyeru heboh sok merasa takut.


"Lo mau mukulin gue? Kenalan dululah. Kita baru ketemu ini. Lo yakin gak mau—"


Bugh!


Satu pukulan telak mendarat di salah satu rahang Vando sampai membuat tubuh cowok itu lantas tersungkur. Senyuman sinis di wajahnya pun langsung luntur dan berganti dengan raut datar menahan ngilu.


"Jauhin Kanza!" Hardik Alex. Napasnya tampak memburu dengan tatapan tajam yang ia layangkan pada Vando. Sedangkan Vando, cowok itu tengah mencoba berusaha untuk bangkit dari posisinya akibat bogeman keras dari Alex.


Vando mulai melayangkan tatapan dinginnya pada Alex. Tak lama kemudian, dia terkekeh sarkas. "Atas dasar apa? Dari dulu, Kanza udah gue klaim jadi milik gue. Mungkin lo gak tahu, tapi sebenarnya, gue adalah cinta pertamanya dia. Lo pasti tahulah, cinta pertama itu sulit dilupain. Dan gue yakin, Kanza masih punya perasaan cinta buat gue."


Alex semakin tidak dapat menahan emosinya. Perkataan dari cowok gila di hadapannya ini sukses membuatnya hampir kehilangan kesabaran, jika saja dirinya tidak segera mengontrolnya.


Alex melangkahkan kakinya tepat ke hadapan Vando sampai jarak di antara keduanya tinggal beberapa sentimeter saja. Dengan kasar, Alex menarik kerah seragam Vando sehingga membuat tubuh serta wajah cowok itu semakin mendekat ke arahnya.


"Gue peringatin lo untuk yang terakhir kalinya. Jauhin Kanza, atau lo akan tahu akibatnya karena lo udah berani mengusik cewek gue! Inget itu!" Tekan Alex, kemudian menghempas cengkramannya dan di kerah seragam Vando, sampai membuat tubuh cowok itu langsung memundurkan posisinya.


Vando kembali terkekeh. Ancaman yang dilontarkan oleh Alex tak membuatnya lantas takut. "Gue jadi penasaran, apa yang bakal lo lakuin kalau semisalkan gue ngusik Kanza?" ujarnya, sanggup membuat Alex seketika kehilangan kesabarannya dengan kepalan tangan yang sudah hampir siap kembali ia layangkan.


Namun, belum sempat Alex melayangkan bogeman, Vando dengan cekatan langsung menahan serangan Alex dengan satu tangan. Seulas senyum sinis lagi-lagi terbit di wajah tampannya.


"Ups! Gue gak akan lagi biarin lo sentuh wajah gue kayak tadi,"


...****...


Waktu sudah berjalan hampir lima belas menit, namun Alex masih belum juga kembali menemui Kanza di parkiran sekolah. Sedari kepergian Alex yang katanya akan menemui seseorang, perasaan Kanza sudah tidak enak. Apalagi sampai di detik ini pun cowok itu masih belum juga memunculkan batang hidungnya.


"Duh, kok telepon gue gak diangkat, sih? Alex gak lagi ngelakuin hal yang aneh-aneh, 'kan?" Dumel Kanza, seraya terus berjalan bolak-balik ke sana ke mari, mencoba menghubungi Alex.


Maaf! Nomor yang Anda panggil tidak menjawab, silakan tinggalkan pesan suara...


"Ck! Masih gak dijawab juga lagi!" Decak kecewa keluar dari mulut Kanza. Ketika gadis itu hendak kembali berusaha menghubungi Alex, kedua bola mata gadis itu langsung terbelalak saat seseorang dari kejauhan sana yang tak lain dan tak bukan ialah Alex, berjalan gontai dengan sesekali akan menyeka darah yang menetes di beberapa sudut wajahnya.


"ALEX!" Pekik Kanza, kemudian berlari menghampiri cowok itu, sampai tak sadar membuatnya menjatuhkan ponselnya ke tanah.


"Muka lo—" saat kedua tangan Kanza hendak terangkat untuk mengecek luka di wajahnya, cowok itu malah menarik tubuh Kanza ke dalam dekapannya. Sanggup membuat kalimat yang hendak dilontarkan oleh gadis itu langsung terhenti di tengah jalan.


Hening. Tak ada yang bersuara di antara keduanya, kecuali suara tarikan napas dalam dari Alex serta bunyi detak jantung milik mereka yang sama-sama berpacu.


"Lex?" Sahut Kanza, pelan. Bukannya balik menyahut, Alex malah semakin mempererat dekapannya sampai membuat Kanza sedikit kewalahan.


"Mulai detik ini, gue gak akan biarin lo terluka lagi. Gue akan selalu ada buat lo, berdiri di depan lo buat ngelindungin lo, gak peduli walau sekalipun gue harus terluka."


^^^To be continue....^^^


Ya ampun! Ya ampun! Ya ampunnnn! Ini aku update kok hampir mau 2 minggu, ya?🥲 Beuh gila! Ini semua gara² akhir² ini aku sering kek ngelamun gk jelas gitu loh. Kek ada beban pikiran apa gitu yang nyangkut di otak, smpe² mau ngetik pun jdi gk fokus. Bkn cuma ngetik, tpi ngerjain tugas skolah sama tugas rumah aja kdang aku gk fokus. Di skolah jga akhir² ini sering ngelamun gk tahu knpa. Tpi, emang ini udh biasa sih di hidup aku. Biasanya yg kek begituan tuh suka dtg seminggu sekali. Kadang sedih sndirilah, mikirin yg gk seharusnya dipikirinlah, bahkan mikirin sesuatu yg bahkan aku sndiri aja gk tau aku lgi mikirin apa😭 astagaaa! Keknya ini mkin parah deh, smpe² seminggu belum juga hilang, dan ini aku terus maksain walau kadang suka ketiduranlah, kecapekanlah, banyak tugaslah. Oh, ya, btw, kmren juga smpet ulangan sma bkin video buat tugas. Tdi pagi juga ujian praktek. Beuh lelah sudah otak ini gengs🥲😭 so, intinya di sini aku gk tahu harus bilang apa lagi selain kata maaf🙏 aku bner² gk bisa fokus selama seminggu bahkan hampir dua minggu ini. Aku gk tahu beban apa yg lgi aku pikirin, tpi semuanya terasa berat bgt rasanya buat jalanin hari. Dan intinya, kedepannya aku akan berusaha untuk nggk telat seperti update eps yg ini ya! Aku harap, kedepannya akan lncar dn gk ada yg namanya drama gk bisa fokus kek yg ini nih! Nyusahin aja, serius😤 Btw, mungkin sgini dulu untuk eps kli ini. Aku akan selalu minta maaf sebesar²nya sama kalian karena aku selalu mengecewakan kalian🙏

__ADS_1


*Btw, di sini ada yg punya akun tiktok kah? Bantu like sama salin link videoku yuk! Ini video tugas, sih, yang aku edit sendiri. Kalo kalian punya, coba dong lirik akunku. Gk usah difollow, ckup kasih love aja juga ckup🤭 makasihh🤗



__ADS_2