
Seulas senyum getir diiringi isakkan kecil mewarnai wajah Chelsea disela aktivitasnya menyuapi sang putri, Kanza. Saat mengetahui bahwa putrinya telah benar-benar siuman, wanita itu dengan semangat lantas berlari memasuki ruangan sang putri untuk melihat lebih detail tentang keadaannya.
Namun, ucapan dari Kenzo sebelum dirinya benar-benar akan melenggang lantas membuatnya
terdiam membeku. Kenyataan lain bahwa putrinya mungkin akan bersikap seperti dulu membuat Chelsea tak dapat menahan air matanya.
Walaupun begitu, Kanza tetaplah Kanza. Jika memang gadis itu tak ingin berbicara lagi pun tak apa. Asalkan ia baik-baik saja dan itu dapat membuatnya merasa aman, maka Chelsea selaku orangtua hanya dapat mendukung dan memberi semangat.
“Aaa… Satu suapan lagi, ya, biar kamu cepet sembuh.” Ujar Chelsea penuh perhatian, walau alam hati ia ingin menangis melihat raut wajah putrinya yang jauh berbeda dibandingkan dari sebelumnya.
Dengan patuh tanpa komplain sedikitpun, gadis itu membuka lebar-lebar mulutnya yang terkatup. Suapan terakhir dari sang mami telah sepenuhnya berada di mulutnya. Seulas senyuman getir kemudian terbit di wajahnya.
“Gimana? Enak? Ini Mami yang buat, loh! Khusus buat Kanza.” Ucap Chelsea, yang kemudian dibalas anggukan kecil oleh Kanza.
“Em… Oh, ya! Gimana kalau habis ini kita jalan-jalan ke taman rumah sakit? Tempatnya lumayan, loh!Gimana?” Chelsea terus-menerus berbicara panjang lebar pada sang putri, berharap sewaktu-waktu ia akan menjawab pertanyaannya.
Sayang. Realita kadang tak sesuai dengan kenyataan. Kanza memang menjawab pertanyaan dari sang mami, namun bukan dengan lisan. Melainkan dengan anggukan kecil yang disertai senyuman tipis yang hampir tak terlihat.
Helaan napas berat lantas keluar dari mulut Chelsea. Tak berapa lama setelahnya, wanita itu balas tersenyum sembari mengangguk.
“Ya udah. Mami ambilin kursi rodanya-” ucapan Chelsea langsung terhenti oleh Kanza yang tiba-tiba menarik pelan ujung pakaiannya sembari menggeleng-gelengkan kepala. Detik selanjutnya, Kanza mulai memberanikan diri turun dari ranjang pasien yang kemudian dibantu oleh Chelsea.
“Kanza … bisa?” Tanya Chelsea memastikan. Dengan pasti, Kanza kembali mengangguk seraya menarik pelan tangan sang mami agar segera membawanya keluar dari ruangan tertutup itu.
...****...
Jam sekolah telah sepenuhnya berakhir, namun Alex maupun Kenzo masih setia berada di ruang ujian, mengisi lembar ujian hari kemarin yang sempat tertunda akibat kejadian tak terduga yang menimpa Kanza.
Masing-masing dari kedua cowok itu sama-sama berlarut dalam pikiran, mencoba untuk tetap fokus mengerjakan soal ujian namun malah berakhir menghela napas panjang saat bayangan Kanza lagi-lagi terputar di kepala.
“Zo!” Alex yang duduk di meja paling depan pun menoleh ke belakang. Kenzo yang baru saja dipanggil pun lantas menoleh dengan raut wajah dongkol.
“Apaan?”
“Lo udah selesai?” tanya Alex, yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Kenzo.
“Nomor berapa aja yang belom?” Sahutnya lagi. Spontan Kenzo mengalihkan perhatiannya pada lembar jawaban yang belum sepenuhnya diisi.
“Nomor 8, 11, 24, 31-35, terus sama yang terakhir 50. Kenapa emang?” Ujar Kenzo. Perhatiannya kemudian kembali pada lembar demi lembar soal dan jawaban yang tergeletak tak beraturan di mejanya.
“No 8 A, 11 C, 24 D, 31-35 AADCE.” Ucap Alex tiba-tiba. Sontak membuat Kenzo sedikit tersentak dengan perkataan dari cowok itu.
“Lha, lha, gimana barusan? Lo kalau mau ngasih jawaban jangan tiba-tiba kek gitulah! Ulang, ulang!” Sewot Kenzo, seraya mempersiakan dirinya agar tidak kecolongan seperti barusan.
Di mejanya, Alex menghela napas panjang sembari melirik ke sana ke mari, memeriksa keadaan sekitar berharap tidak ada seorang pun yang akan mendengarkan ucapannya. Beruntung saat ini di dalam ruang ujian hanya ada mereka berdua saja. Sayangnya, mereka lupa akan satu hal bahwa di ruangan tersebut masih terdapat CCTV.
“Gue ulangi sekali lagi. Inget! Pake telinga lo, oke? Kita bisa ketahuan kalau lo terus nanya-nanya.”
“Elah! Siapa suruh lo barusan ngasih tahu gue tiba-tiba. ‘Kan gue jadi kepo,” ujar Kenzo. Raut wajahnya berubah dongkol dengan salah satu tangannya menopang dagu.
Alex lagi-lagi menghela napasnya. Tak berapa lama kemudian, cowok itu mulai menyebutkan satu-persatu kunci jawaban yang diinginkan Kenzo. Tak butuh waktu lama, keduanya telah selesai mengisi lembar jawaban maupun memberikan kunci jawaban.
Bertepatan dengan itu, Pak Ucup selaku wali kelas sekaligus pengawas ujian memasuki ruangan tersebut. Raut wajahnya tampak kusut dengan sesekali menghela napas.
Melihat hal itu, bukan tidak mungkin Alex dan Kenzo tidak bertanya-tanya dalam hati. Namun, keduanya memilih diam dan memberikan soal serta lembar jawaban ke atas meja guru.
“Karena udah beres, kita mau langsung-”
“Kenzo!” Sahutan Pak Ucup memotong perkataan Kenzo. Refleks perhatian cowok itu langsung beralih menatap sang guru dengan raut penuh tanya.
“Iya, Pak?”
“Barusan Bapak dengar dari papa kamu, katanya sekarang kembaran kamu sedang dirawat di rumah sakit. Kok, bisa? Kanza sakit apa?” Tanya Pak Ucup. Raut wajah serta nada suaranya berubah halus tidak seperti biasanya.
“Sebenarnya, Kanza gak sakit apa-apa, Pak. Kanza cuman syok karena semalem, Kanza baru aja diculik.”
“Hah? Diculik kamu bilang? Ini … beneran?”
“Ekhem. Jadi … ceritanya gini, Pak.” Alex ikut buka suara, membuat perhatian Pak Ucup lantas beralih pada cowok itu.
...****...
“Jadi … gitu Pak, ceritanya.” Jelas Alex yang dibalas anggukkan lemah oleh Kenzo.
Pak Ucup terdiam dengan sesekali mengangguk paham. “Semoga Kanza bisa cepat sembuh, ya. Bapak bener-bener kaget mendengar cerita dari kalian.”
“Aamiin. Makasih buat do’anya, Pak. Kalau gitu, kami mau langsung pulang, Pak. Sekalian mau jengukin Kanza lagi.” Ujar Kenzo. Lagi-lagi Pak Ucup hanya dapat mengangguk sebagai respon.
“Ya sudah. Nanti kalau Bapak senggang, Bapak sama guru-guru yang lain juga mau jengukin Kanza. Sekarang kalian pulang dulu, dan hati-hati di jalan.” Pungkas Pak Ucup. Setelahnya, beliau pun melenggang dari ruang ujian dengan membawa lembar demi lembar kertas soal dan jawaban milik Alex dan Kenzo.
“Habis ini lo mau ke-”
“Gue cabut duluan, ya, Zo! Lo duluan aja, entar gue nyusul.” Ucap Alex, memotong perkataan Kenzo yang belum sepenuhnya diucapkan.
Dengan ragu, Kenzo pun mengangguk kemudian menghela napas. “Kalau gitu gue duluan, ya.” Pungkas Kenzo. Setelah mengucapkan kalimatnya, cowok itu lantas melenggang meninggalkan Alex yang diam-diam tengah memikirkan sebuah rencana.
...****...
“Kanza!” Sahutan yang terdengar cukup nyaring itu lantas membuyarkan sepasang perempuan yang tengah bersantai di sebuah bangku taman rumah sakit yang tak lain ialah Chelsea dan juga sang pemilik nama yang baru saja dipanggil, Kanza.
“Lho? Kenzo, kok, baru pulang? Ini udah sore, lho! Kamu udah makan?” Chelsea buru-buru bangkit dari posisinya tatkala menyadari bahwa orang yang baru saja bersahut tersebut tak lain adalah putranya, Kenzo. Seulas senyuman hangat lantas terbit di wajah cantiknya.
“Iya, Mih. Soalnya, Kenzo ngerjain dulu soal ujian yang kemarin. Kemarin, ‘kan, Kenzo gak ikut ujian.” Ujar Kenzo mencoba menjelaskan. Kanza yang juga tengah berada di sana tanpa sadar menundukkan kepala, menyalahkan dirinya sendiri dalam hati.
Kenzo yang menyadari perubahan suasana pada Kanza pun lantas berjalan ke arah gadis itu, kemudian berjongkok di hadapannya. Tak berapa lama kemudian, salah satu tangannya terangkat mengelus puncak kepala Kanza, sehingga membuatnya dengan refleks mengangkat kepalanya. Pandangan pertamanya pun jatuh pada cowok itu.
“Bukan salah lo, kok. Salah gue yang gak becus buat jagain lo. Gak perlu nyalahin diri lo sendiri.” Ucap Kenzo lembut, dengan seulas senyumannyang terbit di wajah tampannya.
Kanza tak berniat menjawab perkataan dari sang kembaran. Gadis itu hanya terdiam dengan sepasang bola matanya yang tiba-tiba terasa berair. Tak berapa lama kemudian, air matanya luruh tanpa diminta.
“Kok, malah nangis, sih? Jangan nangis dong. Entar cantiknya hilang,” ujar Kenzo. Tanpa sadar telah membuat Kanza menarik kedua sudut bibirnya. Walaupun sedikit, setidaknya Kenzo berhasil membuat kembarannya kembali tersenyum tanpa harus merasa tidak aman.
“Udah sore, kita masuk, yuk!” Kenzo hendak menarik tangan Kanza, namun siapa sangka gadis itu malah lebih dulu menariknya. Melihat hal itu, refleks Kenzo mengerutkan keningnya.
“Oh! Kanza mau nungguin dulu Alex. Iya, ‘kan, Za?” Itu suara sang mami. Spontan perhatian Kenzo beralih menatapnya.
“Ooh. Mau nungguin Alex?” Tanya Kenzo dengan perhatian yang kembali pada Kanza.
__ADS_1
Perlahan gadis itu mengangguk dengan kedua pipinya yang sedikit bersemu.
“Ya udah, gue temenin. Mami kalau mau ke dalem duluan aja. Kanza biar Kenzo yang temenin.” Kenzo kemudian mendudukkan dirinya di samping Kanza yang tadinya bangku itu sempat dipakai oleh sang mami.
“Kalau gitu Mami duluan, ya. Inget, Kanza-nya jagain yang bener!” Peringat Chelsea, sebelum wanita itu benar-benar melenggang meninggalkan Kanza dan juga Kenzo.
Sepeninggalan sang mami, suasana di antara Kanza dan Kenzo mendadak hening. Rasanya begitu canggung dan aneh sampai Kenzo tak henti-hentinya terus berhedam pelan dengan fokus ke mana-mana.
“Ekhem. Dingin, gak? Kalau dingin, gue bawain jaket ke dalam buat lo,” Kenzo mencoba sebisa mungkin untuk menghilangkan kecanggungan di antara keduanya, walau ia tahu jika pada akhirnya gadis itu tidak akan pernah menjawab perkataannya.
Kanza yang tadinya sibuk menatap ke depan lantas menolehkan kepalanya pada Kenzo. Tak berapa lama kemudian, gadis itu menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Kenzo barusan.
Dalam hatinya yang terdalam, Kanza ingin sekali berbicara keluh kesahnya pada Kenzo, atau pada siapa pun yang akan selalu mendengarkan ceritanya.
Nyatanya, bayangan mengerikan itu terus melayang di pikirannya sehingga membuat Kanza sedikit takut untuk sekadar membuka mulut saja.
Hening kembali menguasai keduanya. Perlahan namun pasti, Kenzo melirik jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul 16.54 sore tertera jelas di sana. Tak berapa lama kemudian, kepalanya celingukan ke sana ke mari, mencoba mencari keberadaan seseorang yang sampai detik ini pun masih belum terlihat batang hidungnya.
“Lo yakin mau nungguin si Alex, Za? Kenapa sampai sekarang dia masih belum ke sini?” Kenzo mendesah pelan seraya membenarkan posisi duduknya. Perhatiannya lagi-lagi jatuh pada raut wajah Kanza yang berada tepat di sampingnya.
Wajahnya begitu pucat dengan tatapan matanya yang sayu. Mungkin karena efek tak memakai riasan apa pun, sehingga wajahnya terlihat seperti itu. Terlalu larut memerhatikan wajah sang kembaran membuat Kenzo tanpa sadar dibuat termenung sejenak karenanya.
Bayangan ketika keduanya masih sangat kecil yang selalu terlihat begitu bersenang-senang, sedikit membuat Kenzo rindu akan masa-masa itu. Masa di mana pertengkaran kecil yang terjadi di antara keduanya selalu berakhir menjadi pertengkaran hebat dan berakhir dengan Kanza yang selalu menangis dan mengadu.
Tapi setelahnya, keduanya dapat kembali akur, dengan syarat, Kenzo yang harus minta maaf lebih dulu.
Lucu bukan?
Bahkan sampai detik ini pun, keduanya masih terus seperti itu. Sering bertengkar, saling ejek, saling merasa kesal, namun dalam hati saling peduli.
Kapan masa itu akan kembali?
Suara langkah cepat dari arah lain sontak mengenyahkan lamunan Kenzo. Diliriknya ke sumber suara, seorang cowok dengan seragam sekolah yang terbilang cukup acak-acakan berjalan setengah berlari menghampiri bangku taman yang mereka duduki.
Atau lebih tepatnya menghampiri Kanza.
“Gue duluan, ya, Za! Pujaan hati lo udah dateng tuh,” goda Kenzo, tepat ketika cowok yang tak lain ialah Alex tersebut telah sepenuhnya tiba di hadapan mereka.
“Lex, gue duluan, ya! Jagain kembaran gue.” Ucap Kenzo. Setelahnya tanpa lebih dulu membiarkan lawan bicaranya membalas, cowok itu langsung melenggang begitu saja.
...****...
“Maaf! Kamu nunggu lama, ya,” Alex bertanya lembut dengan kepalanya yang sedikit menunduk. Helaan napas tanpa sadar keluar lewat mulutnya.
“Oh, ya, Za! Kamu gak penasaran kenapa aku dateng ke sininya telat?” Ucapan Alex selanjutnya mampu membuat Kanza lantas menoleh dengan kedua alisnya yang mengerut dalam.
“Aku habis nyamperin si Vando di penjara.”
Sepasang bola mata gadis itu langsung membulat dengan mulutnya yang tiba-tiba menganga. Perkataan Alex barusan benar-benar sanggup membuatnya terkejut setengah mati.
Melihat perubahan raut wajah Kanza yang begitu drastis tanpa sadar membuat Alex menaikkan kedua sudut bibirnya. “Kamu tenang aja. Dia udah dipenjara dan gak akan semudah itu keluar dari sana. 15 tahun sudah cukup membuat dia sadar dan gak akan pernah gangguin kamu lagi.”
Kanza refleks menghela napasnya dengan kepalanya yang tak lagi menoleh pada Alex. Pikiran gadis itu ke mana-mana. Ia begitu syok mendengar perkataan Alex yang katanya habis menemui Vando.
Hati kecilnya tiba-tiba merasa cemas dan takut. Gadis itu takut jika Alex melakukan hal yang mungkin saja akan kembali menyinggung Vando saat menemui cowok itu tadi.
Ingin ia bertanya, namun ia masih belum siap untuk kembali membuka mulutnya seperti dulu.
Kanza sempat terdiam sejenak memandangi uluran tangan itu. Namun tak lama setelahnya, gadis itu pun mulai menerima tangan Alex, dan bangkit dari posisinya.
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Alex lantas menarik tangan Kanza dan membawanya meninggalkan tempat tersebut.
...****...
Hari demi hari seolah terus berjalan seperti semestinya. Ujian yang digadang-gadang akan dilaksanakan selama kurang lebih lima hari, akhirnya telah usai sehingga para siswa maupun siswi sekolah menengah atas dapat menghela napas lega.
Sayang seribu sayang, Kanza tidak dapat mengikuti ujian sekolah seperti semestinya. Gadis itu hanya dapat melaksanakan ujian di rumah, bersama sang mami yang senantiasa menemaninya.
Dan saat ini, Kanza baru saja menyelesaikan ujiannya. Seorang pengawas ujian yang sengaja dikirimkan ke rumahnya langsung mengambil alih kertas soal dan jawaban yang baru saja diserahkan oleh gadis itu.
“Sudah semua?” Tanya pengawas ujian tersebut ramah yang dibalas senyuman serta anggukkan kepala oleh Kanza.
“Berarti dua pelajaran lagi, ya? Hari senin akan ada yang dateng lagi ke sini buat ngasih kamu soal ujian. Jadi, kamu cepat sembuh, ya. Biar bisa ketemu sama temen lagi di sekolah. Kalau begitu, Ibu permisi.” Ujarnya, yang lagi-lagi ditanggapi anggukkan pelan oleh Kanza.
“Ayo, Bu, saya antar ke bawah!” Sela Chelsea, yang dibalas anggukkan formal olehnya.
Tak berapa lama setelah kepergian pengawas ujian serta maminya dari dalam kamar, gadis itu lantas menghela napas lega dengan tubuhnya yang mulai dibaringkan di atas tempat tidur.
Pikirannya tanpa sadar melayang pada ingatan di mana ia dan juga kedua sahabat baiknya bercanda tawa di dalam kelas maupun ketika berada di luar kelas.
Omong-omong soal mereka, Kanza jadi sedikit rindu dengan masa-masa itu. Kira-kira, Alma dan Kayla sekarang sedang apa, ya? Dan juga, apakah kedua gadis itu mengetahui kalau dirinya sempat mengalami musibah, sehingga menyebabkannya tidak dapat bersekolah?
Sudah sangat lama semenjak kejadian hari itu, namun sedikitpun kedua sahabatnya tidak pernah datang menjenguknya.
Namun di samping itu, Kanza sedikit merasa lega saat sahabatnya tidak datang untuk menjenguknya. Karena bagaimanapun, gadis itu masih belum siap untuk bertemu orang-orang selain keluarga dan juga pacarnya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketokan pintu dari arah luar kamarnya sontak mengenyahkan lamunan Kanza. Refleks gadis itu bangkit dari atas tempat tidurnya seraya memasang raut wajah penuh tanya.
“Non! Ini, Bibi! Ini ada temennya Non Kanza katanya mau jengukin Non.” Sahut seseorang dari luar yang tak lain adalah Bi Asih, salah satu pembantu di rumahnya.
Kanza refleks mengernyitkan dahinya merasa bingung sekaligus kaget mendengar penuturan dari Bi Asih. Teman?
Tak ingin terus terdiam dan bertanya-tanya sendirian, Kanza lantas memilih bangkit dari posisinya, berjalan ke arah pintu kamar, berniat untuk membukakannya.
Dan ketika pintu kamarnya itu telah benar-benar terbuka, sepasang bola mata gadis itu sontak membulat dengan salah satu tangannya menyentuh dada. Teman yang dimaksud Bi Asih barusan, ternyata tak lain ialah Alma dan Kayla. Kedua gadis itu terlihat memaksakan senyumnnya dengan pakaian seragam sekolah yang masih melekat di tubuh mereka.
“Hai, Za! Gimana kabar lo?”
“Lo … udah sembuh?”
Suasana mendadak terasa akward dengan kedua gadis itu yang berusaha terlihat natural di hadapan Kanza. Sayangnya, raut wajah mereka menampilkan segalanya.
Kanza mencoba menarik napasnya dalam-dalam, kemudian membuangnya perlahan. Dengan penuh keberanian, ia balas tersenyum canggung kepada kedua sahabatnya seraya menunduk. Bi Asih yang paham maksud dari gerak-gerik Kanza pun lantas mendorong pelan punggung Alma dan Kayla.
“Ayo, Neng, masuk aja ke dalem. Gak pa-pa, ‘kan, Non?” Ucap Bi Asih, yang dengan cepat dibalas anggukkan kepala oleh Kanza.
__ADS_1
Melihat Kanza yang sepertinya menerima kedatangan mereka, Alma dan Kayla tanpa sadar mulai menghela napas lega. Kedua gadis itu dengan harap-harap cemas mulai masuk ke dalam kamar Kanza setelah sang pemilik kamar semakin membuka lebar pintu kamarnya.
Sebelum Alma dan Kayla benar-benar masuk, mereka menyempatkan diri berbalik menatap Bi Asih yang masih senantiasa berdiri di tempat semula.
“Makasih, ya, Bi!” Ucap Alma, yang dibalas anggukkan oleh Kayla.
“Sama-sama. Kalau gitu, Bibi mau lanjut kerja lagi, ya. Bibi tinggal dulu.” Balas Bi Asih, kemudian melenggang dari sana, bertepatan dengan pintu kamar Kanza yang mulai ditutup rapat.
...****...
“Za! Kita udah tahu soal musibah yang terjadi sama lo! Dan kita bener-bener gak percaya kalau lo mengalami itu semua, Za. Tapi di samping itu, kita mau minta maaf karena gak langsung nengokin lo. Waktu itu kita-”
“Waktu itu kita udah mau jengukin lo! Tapi pas baru sampe di depan pintu ruang rawat lo, kita ditahan sama Kenzo. Dia bilang sama kita untuk gak dateng nemuin lo dulu beberapa hari. Katanya, biarin lo tenang dulu. Karena kalo waktu itu kita beneran dateng dan jengukin lo, mungkin lo akan merasa gak aman. Makanya kita baru jengukin lo sekarang. Lo gak marah, ‘kan, Za, sama kita?”
Alma dan Kayla mencoba memberanikan diri unjuk bicara, setelah hampir kurang lebih sepuluh menit lamanya mereka terus terdiam tak mengatakan apa-apa.
Dan, ya. Kedua gadis itu memulai pembicaraan dengan menjelaskan sesuatu yang mungkin saja telah menyakiti hati Kanza tanpa sadar. Tentang mereka yang hampir seminggu ini tidak pernah sedikitpun terlihat menjenguk Kanza.
Ya. Alasan mengapa mereka tidak menjenguk Kanza ialah karena setiap kali mereka hendak menjenguk Kanza, Kenzo selalu mencegat mereka. Bahkan, cowok itu mengatakan bahwa mungkin Kanza tidak akan mau berbicara dengan siapa pun lagi setelah insiden penculikan yang ia alami.
Sudah kedua kalinya gadis itu merasakan penyekapan seperti itu dan oleh orang yang sama. Trauma yang sebelumnya telah ia lupakan, pada akhirnya kembali sehingga batinnya kembali tersiksa.
Tentu saja Alma dan Kayla yang mendengar cerita dari Kenzo lantas berpikir dua kali untuk menjenguk Kanza. Bagaimana jika Kanza yang masih belum siap bertemu orang-orang, bahkan sahabat baiknya, lantas semakin tersiksa?
Alma dan Kayla tidak mau itu terjadi, sehingga jalan aman yang mereka pilih adalah, menunggu hinga Kanza telah benar-benar tenang dan siap untuk bertemu dengan orang lagi. Dan, inilah saatnya.
Mereka berdua mendengar berita dari Kenzo jika Kanza sudah sedikit merasa lebih baik. Gadis itu bahkan telah membiarkan seorang pengawas ujian masuk ke kamarnya, padahal sebelum-sebelumnya mereka tidak pernah diizinkan untuk masuk.
Penjelasan panjang lebar dan diutarakan oleh Alma dan Kayla tak dibalas apa-apa oleh Kanza. Gadis itu hanya terdiam dengan kepalanya yang sedikit menunduk.
Jadi, pada akhirnya semua yang Kanza pikirkan hanyalah salah paham. Kanza terlalu berpikir banyak tentang Alma dan Kayla yang tak menjenguknya, padahal dirinya sendiri memang sedang tak ingin dijenguk oleh siapa pun pada waktu itu.
Selang beberapa waktu, gadis itu tersenyum dengan sesekali mengangguk paham.
“Makasih udah mau jelasin sama gue. Gue pikir, kalian gak mau lagi temenan sama gue makanya-”
“Tunggu! Za, lo bisa …?” Kayla refkeks menyela, dengan mulutnya yang menganga. Begitupula dengan Alma yang terkejut mendengar Kanza berbicara, padahal Kenzo dan Alex sudah menjelaskan bahwa kemungkinan Kanza tidak akan mau berbicara lagi.
Tapi ini?
“Katanya lo … masih belum mau bicara lagi? Tapi, kok…?”
Senyum di wajah Kanza refleks memudar dengan kedua alisnya yang sedikit bertaut. “Kenzo … belum bilang sesuatu, ya? Sebenarnya, gue mencoba melawan ketakutan diri gue sendiri dan mencoba untuk tidak membuat orang-orang terdekat gue merasa khawatir hanya karena gue yang gak sempurna ini.
Iya, gue sempet gak mau bicara sama siapa pun. Tapi … kalau gue bicara sama orang-orang terdekat gue, mungkin gue gak akan kenapa-kenapa. Mereka aja selalu mensupport gue untuk terus maju, jangan cepat menyerah. Masa gue masih gini-gini aja? Seenggaknya, gue berusaha berhenti membuat mereka khawatir.” Jelas Kanza panjang lebar.
Tanpa dirinya sadari, ucapannya telah membuat Alma maupun Kayla sama-sama ikut terluka. Kedua gadis itu bahkan telah saling meneteskan air mata, sampai membuat Kanza yang melihatnya dibuat terkejut sekaligus bingung.
“Kalian-” belum sempat gadis itu menyelesaikan kata-katanya, Alma dan Kayla sudah lebih dulu berhamburan memeluk Kanza.
“Za! Gue bener-bener takut lo gak akan mau bicara lagi sama kita! Kita bahkan bukan sahabat yang baik, yang gak bisa selalu ada buat lo! Tapi lo malah dengan percaya sama kita dan bilang kalau bicara sama orang-orang terdekat lo, lo gak akan kenapa-kenapa. Kenapa lo semudah itu, sih, percaya sama orang? Omongan lo barusan udah buat kita terhanyut tahu, gak!” Gerutu Alma, masih setia meneteskan air matanya.
“Makasih, Za, lo udah mau bicara sama kita. Itu artinya, kita masih sahabatan, ‘kan, Za? Kita masih bestie ‘kan, Za?” Timpal Kayla, seraya berusaha melepaskan pelukan mereka.
“Iyalah! Kalau bukan karena kalian, gue gak akan pernah punya sahabat di dunia ini. Makasih udah mau sahabatan sama gue, padahal kalian sendiri tahu kalau gue punya banyak rahasia dan masa lalu yang mengerikan. Gue bener-bener berterimakasih sama kalian.” Timpal Kanza. Semakin menambah suasana haru.
“Ekhem. Oh, ya, Za! Barusan kita dapet gosip di sekolah, dan lo tahu gosipnya apa?” Kayla mulai mengubah topik, dengan sesekali menghapus kasar sisa air matanya yang masih menempel di wajahnnya.
Mendengar penuturan Kayla yang sudah mulai membahas ke hal-hal yang melengceng dari yang sebelumnya, refleks Alma berdesis pelan dengan salah satu tangannya yang memukul keras bahu Kayla sampai membuatnya dibuat mengaduh.
“Lo, ya! Kanza tuh baru sembuh, dan lo udah ngajakin dia ngegosip? Lo bego atau gimana?” Sentak Alma. Tak lama kemudian, perhatiannya beralih menatap Kanza dengan sebuah cengiran kecil. Namun di detik selanjutnya, perhatiannya kembali pada Kayla dengan raut wajah yang jauh berbeda ketika bersitatap dengan Kanza.
Kayla berdecih dengan tatapan dingin yang ia berikan pada Alma. “Terus kenapa emangnya kalau Kanza, gue ajak ngegosip? Lo kalu gak suka, gak usah denger! Pokoknya, Kanza wajid tahu soal ini!”
“Oh, ya? Masa-”
“Udah, udah! Kok, malah jadi berantem gini, sih?” Kanza menyela obrolan kedua sahabatnya. Gadis itu bahkan refleks menghela napas panjang saat Alma dan Kayla terlihat saling diam dan membelakangi.
“La! Gosip apaan emang, sampe gue harus tahu banget?” Tanya Kanza, pada akhirnya. Dengan semangat, Kayla langsung mendekatkan posisi duduknya agar semakin berhadapan dengan Kanza. Sementara Alma, gadis itu memilih mengalah dan ikut mendengarkan apa yang akan diucapkan oleh Kayla.
“Lo tahu Agnes?”
“Agnes? Tahu! Dia yang udah mempermaluin Bianca sampai dia sama si Haykal harus dikeluarin dari sekolah!” Ujar Kanza, dan Kayla mengangguk pasti.
“Dia hamil!” Celetuk Kayla. Sontak membuat Kanza dan Alma dibuat terpekik kaget mendengar pernyataan dari gadis itu.
“Heh, lo jangan asal nyebar gosip sembarangan! Lo denger dari mana kalau tuh kakel cabe hamil?” Alma lagi-lagi memukul bahu Kayla, namun kali ini gadis itu berhasil mengelak, sehingga pukulannya tidak terasa semenyakitkan tadi.
“Ya, lo-nya aja kebanyakan mojok sama si Rio, makanya gosip se-booming ini lo gak tahu! Nih, ya, kalau gue gak salah denger, bapak dari anak yang lagi dia kandung lebih dari satu!”
“Gila! Masudnya dia tidur sama banyak cowok gitu?”
“Lebih tepatnya sih, dia udah tidur sama cowok yang beda-beda, makanya dia sendiri gak tahu anak yang ada di perutnya itu punya cowok A, apa cowok B.” Terang Kayla. Kanza yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan lantas menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Karma emang gak pernah salah alamat, ya.” Gumam Kanza, yang sedikit didengar oleh Alma dan juga Kayla.
“Maksudnya?” Tanya kedua gadis itu berbarengan.
Kanza menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Tak berapa lama kemudian, gadis itu tersenyum pada kedua sahabatnya yang jelas sekali terlihat kebingungan.
“Kenapa, sih, Za? Jangan bikin kita penasaran, iiih!” Alma berdecak di akhir kalimat yang ia lontarkan. Sementara Kayla, gadis itu hanya mengangguk mengiyakan ucapan Alma.
“Enggak. Bukan apa-apa, kok. Udahlah, gak usah ngegosipin orang lagi. Toh, gak ada faedahnya kita ngegosipin orang. Apalagi ngomongin aibnya.” Ujar Kanza. Alma dan Kayla yang tadinya sudah sangat kepo, mendadak sadar dengan apa yang tengah mereka lakukan saat ini. Sehingga pada akhirnya, kedua gadis itu malah tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepala atas kelakuan mereka yang tak ada bedanya dengan orang yang digosipkan
“Harusnya gue dengerin lo barusan! Maaf, salah gue yang ngajak lo berdua ngegosip.” Ucap Kayla. Alma yang mendengar itu pun lantas menggelengkan kepalanya.
“Enggak, enggak! Gue juga salah! Padahal gue sendiri yang bilang jangan ngegosip, tapi ujung-ujungnya malah ikut-ikutan. Sorry, ya, La, Za!” Ucap Alma penuh penyesalan. Refleks Kanza terkekeh pelan.
“Iya, dimaafin. Gue juga salah karena nanya ‘ada gosip apaan’ tadi. So, gue juga minta maaf, ya.” Ujar Kanza.
Setelah sesi maaf-maafan telah usai, ketiga gadis itu lantas saling berpelukan erat dengan sesekali menepuk pelan punggung masing-masing.
Rasanya begitu … hangat, dan Kanza, Alma maupun Kayla, merasa enggan untuk mulai melepaskan diri. Namun, ada kalanya acara saling memeluk ini harus segera berakhir, disaat hati telah sepenuhnya merasa puas diri.
“Oh, ya. Ada satu hal yang harus gue omongin sama kalian berdua, dan ini mungkin akan sedikit membuat kalian kecewa.” Kanza menatap satu-persatu kedua sahabatnya yang terlihat begitu antusias saat mendengarkan penuturannya.
“Gue … akan berhenti sekolah.”
__ADS_1
“Hah?!”
^^^To be continue….^^^