Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 47


__ADS_3

Kenzo menghentikan motornya tepat di depan sebuah basecamp anak-anak geng motor yang menjadi tujuannya selepas dari acara pernikahan Haykal dan juga Bianca.


Jika kalian berpikir bahwa Kenzo juga termasuk ke dalam anggota geng motor tersebut, maka kalian salah besar. Kenzo mendatangi basecamp mereka karena salah satu dari anak-anak berandalan itu ada yang telah menghubunginya.


Ralat. Lebih tepatnya mengancam.


Beberapa buah sepeda motor berbagai merek dan bentuk terparkir di area samping kiri basecamp tersebut. Sedangkan para pemiliknya tampak saling bersenda gurau di atas bangku dengan sesekali menyesap ujung batang rokok maupun menikmati secangkir kopi.


Kenzo mengembuskan napas kasar kala sosok yang ia cari dengan sepasang netranya tak juga ditemukan. Pada akhirnya, Kenzo memilih turun dari atas motornya dengan sepasang kaki yang mulai melangkah ke arah sekumpulan anak-anak geng motor itu.


"Heh! Mana Si Vando!" Kenzo menggebrak meja yang digunakan untuk bermain permainan kartu oleh anak-anak geng itu, ketika setibanya Kenzo di sana.


Suara tawa maupun suara selorohan dari mereka lantas berhenti. Raut wajah kocak penuh canda langsung digantikan dengan raut wajah serius tatkala perhatian mereka beralih pada Kenzo. Tatapan yang mereka layangkan pada Kenzo jelas adalah tatapan penuh amarah sekaligus kebencian. Emosi mereka pun mulai mencuat, namun seberusaha mungkin mereka memilih untuk tetap menahannya.


Sayangnya, salah satu dari mereka sudah tidak dapat lagi menahan emosi yang dipendam. Dengan penuh kekesalan, seorang cowok berkaos hitam bangkit dari posisinya, kemudian menarik kerah kemeja yang dipakai oleh Kenzo. Tatapan matanya tampak memicing tajam dengan deru napasnya mulai terengah.


"Ngapain lo ke sini? Cari mati lo, hah!?" Adit, salah satu anggota geng berandalan itu menggertak Kenzo, namun sedikit pun tak membuat Kenzo merasa terintimidasi.


Justru dengan sangat tenang, Kenzo menepis kedua tangan Adit dari kerah kemejanya.


"Wah, Calon Adek Ipar! Cepet juga lo datangnya?!" Suara sahutan yang lebih mirip suara ejekan sontak mengalihkan seluruh perhatian anak-anak geng motor, termasuk juga Kenzo yang disahut.


Melihat sosok yang sedari tadi ia cari kini menampakkan wajahnya, Kenzo lantas menghampiri orang itu sampai ketika ia telah benar-benar berhadapan dengannya, satu bogeman Kenzo layangkan tepat di salah satu rahang cowok itu.


Pekikan histeris dari beberapa gadis yang juga adalah anggota geng tersebut terdengar begitu memekakan telinga. Sedangkan para anak-anak cowok yang hendak maju dan membalas apa yang telah dilakukan oleh Kenzo pada ketua geng mereka hanya bisa diam kala sang ketua memberi instruksi untuk tetap diam di tempat.


Cowok yang tak lain adalah Vando, ketua Gang Black Hunter yang sering meresahkan para warga maupun kepolisian akibat ulah kegilaan geng motornya, tertawa sarkas saat rahangnya mulai terasa ngilu akibat bogeman yang ditinggalkan oleh Kenzo.


"Pertemuan pertama setelah sekian lama gak ketemu kan, harusnya saling melempar senyum? Kok lo malah nonjokin gue sih, Zo?" Vando melangkahkan kakinya sedikit ke hadapan Kenzo. Tatapan matanya tampak damai seolah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka.


"Bacot lo anj*ng! Mati lo!" Gertak Kenzo. Ia sudah tidak dapat lagi menahan amarah yang sedari tadi terus ia pendam sendirian.


"Lo—" Niko, salah satu anggota Gang Black Hunter hendak maju dan menyerang Kenzo. Namun langkahnya langsung tertahan oleh Adit dan juga anak-anak lain yang mencegat pergerakannya.


Vando kembali terkekeh sinis. Cowok yang usianya satu tahun lebih tua dari Kenzo itu berjalan ke arah sebuah kursi kayu, kemudian mendudukinya. Salah satu tangannya meraba-raba saku jaket yang ia kenakan. Sebungkus rokok serta pemantik ia keluarkan dari sana.


"Mau?" Vando mengangkat bungkusan rokok tersebut ke arah Kenzo yang langsung dibalas decihan malas olehnya.


"Gak usah kebanyakan basa-basi deh, lo! Maksud lo ngirim pesan kayak gini tuh apaan!?" Kenzo mengeluarkan ponselnya, kemudian melemparnya pada Vando. Dengan cekatan, cowok itu menangkap benda pipih persegi panjang tersebut yang dilempar oleh Kenzo.


"Yang ini?" Tunjuk Vando pada layar ponsel yang tengah menyala itu. Tak lama setelahnya, fokusnya kembali pada Kenzo.


"Bukannya udah jelas, ya? Gue bilang; gue mau kembaran lo!" Ucap Vando, seketika membuat Kenzo naik pitam.


"Vando!" Kenzo memanggil nama cowok itu dengan mengeratkan kedua rahangnya. Dahinya sudah berkerut dan kedua tangannya terkepal kuat.


"Hm,"


"Berapa kali gue bilang sama lo, jangan pernah lo berani macem-macem sama saudari gue! Kalau lo masih berani gitu-gitu aja, gue gak akan jamin lo masih bisa bernapas di dunia ini!" Ancaman dari Kenzo terdengar tidak main-main. Namun anehnya, Vando malah tertawa keras, padahal sedikit pun tidak ada nada bercanda dari apa yang baru saja diucapkan oleh Kenzo. Semakin membuat kesabarannya kian menipis.


Vando lantas menghentikan tawanya. Raut wajahnya yang semula konyol, perlahan mulai berangsur menghilang. Tatapan matanya berubah dingin. Seulas senyum di wajahnya pun telah memudar. Ia yang posisi sebelumnya berada di atas kursi kayu, langsung bangkit dengan melangkahkan kakinya ke hadapan Kenzo perlahan demi perlahan.


"Kayaknya lo lupa sama apa yang pernah gue bilangin ke elo,"


"Maksud lo?"


Vando menaruh salah satu tangannya di atas bahu Kenzo. Dengan cepat cowok itu langsung menepisnya. Perlahan namun pasti, Vando semakin mendekatkan diri ke hadapan Kenzo. Salah satu sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah lengkungan yang teramat menyebalkan.


"Kembaran lo cuma punya gue dan akan tetap menjadi milik gue. Camkan itu!" Bisiknya. Seketika itu juga, emosi Kenzo sudah tidak dapat lagi ia bendung.


Kepalan tangannya lagi-lagi melayang untuk kembali memukuli Vando seperti yang sempat ia lakukan sebelumnya. Sayangnya, kali ini cowok itu telah membaca pergerakan Kenzo, sehingga dengan mudah Vando langsung mengelak dan membalikkan serangan tersebut sampai pada akhirnya mengenai salah satu rahang Kenzo.


Tubuh Kenzo jelas langsung terhuyung, namun tidak sampai terjerembab ke tanah. Cowok itu masih dapat menyeimbangkan posisi tubuhnya. Darah segar kemudian mengalir dari salah satu sudut bibirnya.


"Psikopat lo! Kanza gak akan pernah mau sama orang gila kayak lo! Dan lagi, selain gue, Kanza udah punya orang lain yang akan melindungi dia dari apa pun, termasuk lo!" Kenzo berteriak sembari menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


Vando tidak bereaksi apa pun. Raut wajahnya tampak tenang, namun hatinya berkata lain. Ucapan dari Kenzo benar-benar sudah menyulut api yang bersemayam di hatinya.


Tatapan mata Vando lantas beralih pada anak-anak gengnya. Seolah paham maksud dari tatapan yang diberikan oleh sang ketua, mereka semua langsung maju hendak menyerbu Kenzo yang hanya seorang diri.


Melihat anak-anak berandalan itu yang mulai melangkah ke arahnya diiringi tatapan kebencian, Kenzo jelas panik. Cowok itu hanya sendiri, sedangkan anak buah Vando tak terhitung jumlahnya. Sekitar lebih dari sepuluh orang.


Namun, jika ia kabur begitu saja, Kenzo akan tertangkap. Sampai pada akhirnya, cowok itu pun memilih ikut maju dengan kedua kepalan tangannya yang telah bersiap.


Ya. Bersiap untuk saling baku hantam.


Pada akhirnya, baku hantam pun benar-benar terjadi. Beberapa anak buah Vando yang belum cukup mahir dalam perkelahian sempat digugurkan oleh Kenzo. Sayangnya, anak buah Vando yang lain masih dapat menyerang dan melakukan perlawanan. Mereka menyerang secara brutal dan bersamaan sampai membuat Kenzo kewalahan dibuatnya.


Bugh!


Satu pukulan telak dari sebuah balok kayu mendarat di atas salah satu pelipis Kenzo. Gerakan cowok itu langsung terhenti. Kepalanya terasa pening yang disertai dengan rasa sakit. Pandangannya pun mulai memburam. Perlahan, Kenzo mulai tumbang dengan tetesan darah yang mulai mengalir dari sana.


Tawa puas mulai pecah tatkala melihat Kenzo benar-benar tidak berkutik. Setelahnya, mereka kembali memukuli Kenzo yang telah tidak berdaya sampai membuatnya dibuat babak belur hampir sekarat.


"Dah, dah, dah! Setop! Muka soknya udah ancur, jangan diancurin lagi." Vando menyahut santai menghentikan aksi menggila anak buahnya.


Mendengar instruksi dari Vando sang ketua geng, mereka benar-benar langsung berhenti. Dan ketika Vando mulai melangkahkan kakinya ke hadapan mereka atau lebih tepatnya ke hadapan Kenzo yang terkulai tak berdaya, mereka langsung mundur beberapa langkah agar posisi mereka tidak menghalangi Vando.


Vando menatap puas raut wajah Kenzo yang mengerang kesakitan. Salah satu tangannya mencengkram kuat wajah Kenzo sampai membuatnya semakin mengerang disertai dengan umpatan yang ditujukan padanya.


"Makanya, lo tuh harus nurut apa kata gue. Kalo gue bilang; gue pengin kembaran lo, berarti lo harus kasih dia ke gue! Kita kan dulu pernah temenan deket," lagi dan lagi, Vando menarik salah satu sudut bibirnya. Mendengar hal itu, Kenzo refleks meludah sampai air liurnya mengenai wajah Vando.


Jelas Vando yang diludahi begitu saja langsung tersulut emosi. Dengan brutal, cowok itu menginjak luka memar di beberapa tubuh Kenzo sampai membuatnya lantas kembali mengerang kesakitan.


"Lo udah sekarat aja masih bisa belagu, hah? Tunggu aja. Gue akan mengambil apa yang gue pengin tanpa minta bantuan apa pun sama lo!" Vando menghentikan aksinya. Cowok itu dengan sangar mengomando para anak buahnya untuk pergi meninggalkan area basecamp.


Namun, sebelum cowok itu benar-benar pergi dari sana, ia melempar ponsel milik Kenzo yang sebelumnya sempat berada di tangannya.


"Nih! Hape butut lo gue balikin!" Setelah mengucapkan itu, Vando benar-benar langsung pergi bersama seluruh anak-anak Gang Black Hunter. Meninggalkan Kenzo yang perlahan mulai kehilangan kesadarannya.


...****...


Kanza memejam kuat kedua bola matanya dengan posisi badan berdiri tegap tepat di belakang punggung sang mami. Sedangkan Alex, cowok itu tengah diinterogasi oleh Kenan di ruang tengah. Posisinya tampak berdiri ciut ketika tatapan mematikan Kenan tak henti-hentinya terus menatap ke arahnya.


"Habis ngapain aja?" Pertanyaan Kenan yang to the point sontak mendapat tatapan syok dari Alex. Sedangkan Kanza, gadis itu malah semakin menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh sang mami yang juga tengah menyaksikan adegan di mana suaminya tengah menginterogasi calon menantunya.


Alex berdeham cukup kuat kala ia benar-benar tidak dapat menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh Kenan. Pikirnya, jika ia berbohong, maka dirinya akan langsung ketahuan! Tetapi, kalau ia jujur, bisa habis Alex diserbu oleh papinya Kanza.

__ADS_1


Jadi, Alex harus gimana?


"Kenapa diem? Kamu enggak habis apa-apain anak saya, kan?" Tuntut Kenan lagi, benar-benar membuat Alex kehilangan kata-kata.


Kalau dibilang enggak ngapa-ngapain, keknya salah deh. Toh, Alex baru saja mencium Kanza. Tapi, kalau dibilang ngapa-ngapain, entar dikirinya yang aneh-aneh lagi. Kan, cuma nempelin bibir doang, gak diapa-apain lagi. Iya, kan?


"Sa—"


"Udah dong Pih, jangan negative thinking mulu! Bisa aja kan mereka cuma lihat-lihat doang di dalem? Kek gak pernah muda aja," Chelsea memotong pembicaraan suaminya dan juga Alex. Demi apa pun, wanita itu sudah muak melihat sikap over protektive Kenan yang bisa saja membuat Alex tiba-tiba menjauhi Kanza.


Kan kasihan Kanza! Putrinya ini untuk pertama kalinya menerima orang baru setelah insiden mengerikan yang membuatnya mengalami sedikit trauma yang pernah terjadi padanya beberapa tahun silam.


Kenan berdecak kemudian mendengus. Sedangkan Kanza, gadis itu refleks mengembuskan napas lega kala sang mami sepertinya tengah membela Alex dari sang papi.


"Tuh! Mami aja positive thinking, masa Papi negative thinking mulu sih otaknya? Udah, ya, Pih! Please ... Kita enggak ngapa-ngapain kok, serius!" Kanza memberanikan diri berjalan ke arah sang papi seraya terus memohon-mohon.


Dalam hatinya yang terdalam, Kanza merutuki dirinya sendiri yang berbohong pada sang papi. Enggak ngapa-ngapain? Hei! Sekarang bibirnya sudah tidak suci lagi dan itu semua karena ulah Alex!


Bukannya Kanza marah, ini malah baper! Kan sialaannnn!


"Yakin, enggak ngapa-ngapain?" Perhatian Kenan yang semula beralih pada putrinya, langsung kembali pada Alex. Kedua bola matanya tampak memicing membuat Alex sedikit dibuat gelagapan olehnya.


Perlahan namun pasti, perhatian Alex beralih pada Kanza dengan tatapan meminta penjelasan. Kedua alis cowok itu tampak bergerak ke atas dan ke bawah seperti memberikan sebuah kode; gimana jawabnya?


Cukup peka, Kanza pun membalas tatapan Alex dengan menegaskan kedua alisnya dengan sepasang bola matanya yang membulat. Seolah dari gerak-geriknya mengatakan; udah, nurut sama apa yang gue bilang!


"Ekhem!" Kenan berdeham cukup keras yang langsung membuat Kanza dan juga Alex memutuskan kontak mata mereka. Sesekali, kedua remaja itu juga ikut berdeham namun tidak sekeras dehaman Kenan.


"Kenapa gak jawab? Diskusi dulu?" Celetuk Kenan, membuat Chelsea yang masih setia mendengar obrolan mereka gemas ingin menghujat.


Dengan langkah gontai, Chelsea berjalan ke arah suaminya. Tak lama kemudian, wanita itu mencubit salah satu lengan sang suami sampai membuatnya berdesis pelan, sehingga tatapan matanya pun seketika langsung beralih padanya.


"Sakit, Sayang! Kamu kok main cubit-cubit aku, sih?"


Kini giliran Chelsea yang berdesis. Dengan kesal, wanita itu lantas beralih menarik lengan Kenan dan segera membawanya untuk menjauh dari Kanza dan juga Alex.


"Kamu tuh bawel! Gak bisa apa lihat anaknya bahagia dikit aja? Kek gak pernah aja pacaran waktu SMA! Aku tebak, mantan sewaktu SMA kamu banyak, kan? Ngaku!"


"Loh? Kok jadi bawa-bawa masa lalu, sih?" Kenan sewot, disela langkah kakinya yang terus ditarik sana-sini oleh sang istri.


"Kenapa emangnya? Sama-sama masa SMA, kan? Daripada kamu menginterogasi mereka, mendingan kamu jujur deh sama aku! Siapa aja sebenernya mantan kamu waktu di SMA sampai sebelum akhirnya ketemu sama aku?!" Chelsea semakin mempercepat langkah kakinya. Disela ia terus menceramahi Kenan, sesekali wanita itu akan menolehkan kepalanya ke belakang dan memberikan beberapa kode pada sang putri untuk cepat-cepat menjauh.


Ke mana pun, asal jangan berada di hadapan Kenan. Bisa habis mereka diinterogasi layaknya seorang tersangka kejahatan.


Melihat maminya yang benar-benar mendukung hubungannya dengan Alex, seulas senyum tipis terbit di wajah Kanza. Salah satu tangannya pun terangkat membentuk huruf O yang ditujukan pada sang mami.


Selepas kepergian sang mami dan juga papi, Kanza dan Alex langsung dapat bernapas lega. Ketika menyadari keduanya saling menghela napas secara bersamaan, mereka pun lantas menoleh. Sehingga tatapan keduanya pun mulai kembali bertemu.


Cukup lama keduanya terdiam saling pandang, pada akhirnya mereka berdua langsung memutus kontak mata dengan sesekali berdeham pelan. Wajah keduanya mulai sedikit bersemu dengan debaran jantung yang kembali berdentum cukup keras. Bayangan beberapa saat yang lalu ketika keduanya berada di dalam kamar Kanza membuat mereka salting sendiri.


Embusan napas yang hangat, ujung hidung yang saling bertubrukan dengan kedua bibir yang saling menempel, terus terngiang-ngiang di otak mereka. Bahkan, keduanya masih mengingat aroma napas masing-masing yang menerpa wajah mereka.


"Ekhem." Alex mencoba berdeham cukup keras untuk menghilangkan sedikit kecanggungan.


Namun siapa sangka, suara dehamannya itu sontak membuat Kanza yang masih berada dalam lamunannya langsung tersentak, sehingga gadis itu pun langsung menoleh padanya.


"Hah!?" Kanza refleks menampar pelan dirinya sendiri kala mulutnya keceplosan salah menjawab.


Kenapa harus 'hah', sih? Entar kan, dikiranya gue gak rela kalo dia sampai pulaanggg, adooh! Batin gadis itu menjerit.


Dengan menaikkan kedua sudut bibirnya walaupun sedikit kaku, Kanza pun mengangguk pelan. Dengan hati-hati, gadis itu pun berkata, "Mau gu— eh maksudnya, mau aku anterin sampai depan?"


Alex terdiam sejenak mencoba mencerna perkataan dari Kanza. Tak lama setelahnya, cowok itu pun mengangguk dengan diiringi tersenyum tipis.


Pada akhirnya, keduanya berjalan beriringan keluar dari dalam rumah. Langkah kaki kedua remaja itu langsung berhenti ketika mereka telah berada di halaman luas kediaman rumah Keluarga Kecil Kenan.


Di sana, tanpa aba-aba lagi Alex langsung membuka pintu mobilnya. Sebelum cowok itu benar-benar masuk ke dalam, ia membalikkan tubuhnya ke hadapan Kanza sampai pada akhirnya, tatapan keduanya kembali bertemu.


"Za!" Panggil cowok itu pelan. Raut wajahnya berubah serius. Cukup membuat Kanza menerka-nerka, apa yang akan disampaikan oleh cowok itu?!


"Hm?"


"Aku minta maaf!" Ucap Alex. Membuat seulas senyum tipis di wajah Kanza langsung luntur saat itu juga.


"Minta maaf? Buat apa?"


Sebelum benar-benar kembali berucap, Alex menyempatkan diri untuk menelan ludahnya susah payah dengan tatapan matanya yang belum juga beralih dari Kanza.


Perlahan, salah satu tangan cowok itu terangkat ke hadapan Kanza. Dengan sangat lembut, Alex mengusap permukaan bibir gadis itu menggunakan ibu jarinya, membuat Kanza lagi-lagi dibuat terkejut sekaligus salah tingkah oleh cowok bernama Alex.


"Maaf! Aku pasti bikin kamu takut, ya? Lain kali aku gak akan gitu lagi. Maaf, ya!" Ucap Alex, terdengar begitu tulus sampai-sampai Kanza yang mendengarnya tidak kuat mendapati serangan manis bertubi-tubi yang cowok itu berikan padanya.


"Aku ... enggak takut kok!" Ucap Kanza. Spontan gadis itu langsung membekap mulutnya setelah menyadari kalimat apa yang baru saja ia ucapkan.


Sial, sial, siaalll! Lo jadi mulut bisa gak sih, jangan jujur-jujur amat? Kalo kayak gini terus, bisa hilang harga diri gue astagaaa! Kanza mendumel seraya kembali merutuki dirinya sendiri.


Sedangkan Alex, cowok itu sempat sedikit terkejut mendengar kalimat kejujuran yang dilontarkan oleh Kanza. Namun persekian detik kemudian, cowok itu langsung tersenyum manis. Sebuah ide untuk menjahili Kanza mulai terbesit di otaknya.


"Jadi ... ceritanya suka, nih?"


"Hah? A-apaan sih! Enggak!"


"Barusan katanya enggak takut. Berarti secara gak langsung kamu suka dong?!" Alex tersenyum jahil. Rona merah muda semakin terlihat jelas di kedua pipi gadis itu.


"Ka-kata siapa?! Jangan asal menyimpulkan gitu dong! Siapa juga yang suka? No and never!" Kukuh Kanza dengan wajahnya yang sengaja ditolehkan ke samping. Mencoba untuk menutupi rona merah akibat dirinya yang kelewat malu.


"Ooh, gitu. Karena kamu suka, yah, ya udah! Janji yang barusan terpaksa harus dibatalin." Alex menaikturunkan kedua alisnya seraya terus tersenyum jahil.


Kanza yang melihatnya jelas kesal. Ia benar-benar telah diledek habis-habisan oleh cowok itu.


Melihat raut wajah Kanza yang dongkol dengan masih menyisakan sedikit rona merah, lagi dan lagi Alex semakin mengembangkan senyum manisnya. Salah satu tangannya terangkat untuk mengucek pelan kepala gadis itu sampai membuatnya sedikit mengerang.


"Aku pulang, ya. Jangan kangen," ucap Alex terkikik sendiri.


Sedangkan Kanza, gadis itu sudah hendak tersenyum namun ia tahan. Demi apa pun ia baper huwaa! Alex ganteng-ganteng nyebelin!


"Ekhem. Pulang mah pulang aja! Siapa juga yang bakal kangen," ucap Kanza sok cuek, padahal dalam hati ia sudah dibuat dag dig dug ser oleh perkataan dari cowok itu yang kian berani menggodanya.

__ADS_1


Alex terkekeh pelan seraya mencoba menyejajarkan posisi tubuhnya dengan Kanza. Tatapan matanya pun terlihat begitu lembut ketika bersitatap dengan sepasang netra milik gadis itu. Lagi dan lagi, Kanza dibuat salting setengah mati oleh Alex.


"Gak ada ciuman perpisahan dulu, gitu?"


"Apaan, sih! Enggak ada! Pulang sana!" Kanza mendorong pelan tubuh Alex sampai membuatnya sedikit memundurkan langkahnya.


Alex kembali terkikik geli. Entah kenapa menjahili Kanza begitu menyenangkan apalagi gadis itu yang sering sekali dibuat salah tingkah akibat ulahnya.


"Ya, udah. Aku pulang, ya." Pamitnya lagi, yang dibalas dehaman malas serta anggukan kecil dari Kanza.


Setelahnya, cowok itu benar-benar memasuki mobilnya. Sebelum benar-benar menghidupkan mesin, Alex menyempatkan diri untuk menoleh pada Kanza. Seulas senyum lagi-lagi terbit di wajah tampannya.


"Pulang dulu, ya," ucapnya lagi, membuat Kanza tanpa sadar berdecak.


"Iya! Pulang sana!" Sinis gadis itu seraya terus mengulum senyumnya.


Bukannya marah atau apa, Alex malah terkekeh. Setelahnya, cowok itu benar-benar melesatkan mobilnya keluar dari area halaman luas rumah Kanza. Meninggalkan gadis itu yang perlahan mulai mengembuskan napas lega.


...****...


Sedari beberapa menit yang lalu, Wanda tak henti-hentinya terus berjalan bolak-balik ke sana ke mari dengan perasaan cemas sekaligus takut.


Kenzo. Ia masih tidak percaya dengan ucapan dari seseorang yang mengaku sebagai salah seorang warga yang mengatakan bahwa dirinya menemukan Kenzo tengah terbaring tak berdaya dengan beberapa bagian tubuhnya yang babak belur.


Mendengar berita tak mengenakan tersebut, jelas Wanda panik. Gadis itu yang tadinya tengah menyelesaikan skripsi di rumah langsung berlari tidak tentu arah untuk menyusul Kenzo yang katanya telah dilarikan ke rumah sakit.


Ya. Saat ini, Wanda tengah menunggu kepastian dari dokter dan juga perawat yang tengah memeriksa keadaan Kenzo di dalam IGD sana.


Helaan napas gusar tak henti-hentinya terus ia embuskan. Ia benar-benar takut akan terjadi suatu hal yang buruk pada Kenzo.


"Permisi, Mbak." Seorang pria tak dikenal bersetelan kaos oblong dan celana selutut, menepuk pelan bahu Wanda sehingga membuatnya refleks menoleh ke belakang.


"I-iya, Pak?"


Pria paru baya itu tampak mengorek isi di saku celananya. Ketika mendapatkan apa yang ia cari, pria itu lantas menyerahkannya pada Wanda.


"Ini punya Mas yang di dalam. Mbak pacarnya, ya? Tadi saya ke toilet sebentar jadinya tidak sempat dikasih."


Wanda terdiam setelah mengambil benda yang disodorkan oleh pria paru baya itu. Hapenya Kenzo. Barangnya baik-baik saja, tapi pemiliknya sudah tidak sadarkan diri.


Perlahan, air mata mulai menerobos menuruni wajah cantiknya. Wanda benar-benar tidak habis pikir bagaimana cowok itu bisa mendapat luka sampai tidak sadarkan diri seperti itu!? Apa yang tidak ia ketahui?


"Makasih, ya, Pak. Sekali lagi terima kasih karena Bapak sudah membawa Pacar Saya ke rumah sakit. Saya gak tahu harus mengucapkan apa lagi selain kata terima kasih." Ucap Wanda tulus. Pria paru baya itu hanya tersenyum sembari mengangguk. Setelahnya, ia langsung pamit pada Wanda.


...****...


Chelsea berlari terburu-buru memasuki rumah sakit diikuti oleh sang suami Kenan, dan juga putrinya Kanza. Wanita itu benar-benar syok sesaat mendengar kabar kurang mengenakan yang mengatakan bahwa putranya, Kenzo, tengah terbaring lemah di rumah sakit.


Panggilan telepon dari nomor Kenzo, namun suara yang meneleponnya terdengar seperti seorang perempuan, lantas membuat Chelsea sedikit mengernyit bingung tadi.


Apalagi perkataan dari seberang telepon sana yang terdengar begitu kaku seperti telah terjadi suatu hal buruk pada pemilik ponselnya membuat Chelsea terus menerka-nerka.


Dan benar saja. Perempuan yang mengaku bernama Wanda yang berbicara di telepon dengannya mengatakan dengan ambigu bahwa Kenzo saat ini tengah di rawat di rumah sakit.


Pertama kali mendengar hal itu Chelsea tidak langsung percaya. Namun persekian detiknya ketika perempuan di seberang telepon itu kembali menjelaskan sedikit demi sedikit kronologisnya, Chelsea langsung membatu. Dengan syok sekaligus panik, wanita itu menyeret suaminya untuk mengantarnya ke sebuah rumah sakit yang menjadi tempat dirawatnya sang putra.


Di sela ia melangkahkan kaki, Chelsea tak henti-hentinya terus memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa. Berharap tidak akan ada hal lebih buruk yang akan trrjadi pada Kenzo.


Setelah cukup lama Chelsea berlari ke sana ke mari, akhirnya wanita itu sampai juga di depan pintu ruang IGD, tempat di mana putranya Kenzo yang tidak sadarkan diri tengah ditangani oleh dokter.


"Kenzo!" Chelsea sudah hendak berlari memasuki ruangan tersebut. Sayangnya, seorang perempuan muda yang baru ia sadari juga berada di tempat yang sama dengannya langsung mencegah pergerakannya.


"Jangan Tante! Di dalam masih—"


"Apaan, sih? Saya mau ketemu sama anak saya!" Chelsea memekik histeris saat tangannya ditarik-tarik oleh perempuan yang tak lain adalah Wanda.


"Tapi—"


"Mih!" Kenan menyela seraya menarik lengan istrinya setibanya ia di sana. Napasnya tampak memburu dikarenakan ia yang juga ikut berlari mengejar Chelsea.


Chelsea lantas menangis di pelukan Kenan. Air matanya menorobos begitu saja ketika berbagai pikiran negatif terus bersarang di otaknya.


"Kenzo, Pih!" Chelsea bergumam lirih disela pelukannya bersama sang suami.


"Shhttt... Kenzo anaknya jagoan. Dia gak akan kenapa-kenapa. Kamu harus percaya sama dia," ucap Kenan dengan sesekali mengusap pelan punggung sang istri.


"Anak kita di dalam lagi gak sadarkan diri! Aku mau lihat keadaannya Kenzo! Biarin aku masuk!" Tangis Chelsea semakin menjadi.


Tak selang berapa lama, Kanza tiba di antara mereka. Raut wajahnya tampak tegang dengan deru napas yang memburu. Sepasang bola matanya sudah memerah dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Zo!" Panggil Kanza pelan. Salah satu tangannya terangkat menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Tangisnya tiba-tiba pecah. Tubuhnya telah lunglai dan Kanza sudah tidak sanggup menopangnya. Sehingga pada akhirnya, gadis itu terduduk lemah di atas lantai rumah sakit yang dingin.


Dalam hatinya yang terdalam, ia harap, Kenzo akan baik-baik saja. Walaupun Kenzo adalah sosok kembaran yang begitu menyebalkan, tapi cowok itu adalah satu-satunya orang yang mengetahui segala luka dan sakit yang dimiliki oleh Kanza. Bahkan kedua orangtuanya pun tidak mengetahui segalanya.


Perlahan, Wanda mengembuskan napasnya ketika pemandangan penuh air mata yang diperlihatkan oleh anggota keluarga Kenzo tertangkap oleh indera penglihatannya.


Jika dipikir-pikir, hidup Kenzo sudah sempurna. Memiliki orangtua yang begitu menyayanginya sekaligus saudari yang juga peduli padanya. Sedangkan Wanda tidak memiliki apa-apa. Kedua orangtua yang telah lama bercerai dan hidup di kalangan biasa-biasa saja membuatnya sedikit minder.


Batinnya bergumam, Kenzo akan tetap baik-baik saja tanpa ada dirinya sekalipun.


Tak ingin mengganggu suasana, gadis itu lantas memundurkan langkah kakinya selangkah demi selangkah. Sampai ketika pemandangan kalut itu tak lagi terlihat, Wanda langsung berlari dengan setetes air mata yang diam-diam menuruni wajah cantiknya.


Teruntuk Kenzo.


Gue harap lo baik-baik aja.


^^^To be continue....^^^


Sudah update!!! Telat lagi, ya? Maaf, aku baru aja sembuh. Biasa, sakit:') aku emang sering sakit. Fisiknya udah gak sebagus dulu. Emm... mungkin karena jarang olahraga kali ya, hahaa. Tapi sekarang udah sembuh. Udah fit lagi! >~<


Kira-kira ada yang bisa nebak endingnya gimana?


"Hah!? Emang bentar lagi ending?" Iya, nih. Perkiraan 8-10 eps lagi bklan end. Tpi enggak tahu juga sih. Pokoknya untuk alur ke depannya udah hafal di luar kepala. Endingnya pun keknya bakalan ada sepasang pasangan di antara Alex Kanza, Kenzo Wanda, Haykal Bianca, Juna Kayla, sama Rio Alma yang bakalan gugur gitu lho:) Siapin mental kalian kalau semisalkan salah satu couple favorit kalian akan ada yang gugur dalam kisah cinta mereka, asek!


Dahlah. Segitu dulu, ya. Sudah 4000+ kata. Mohon izin pamit, bye:*


*Edit: ada yg typo astagaaa😭 msih untung typonya cma slh penulisan huruf, lha ini slh masukin kata🤣 baru engeh aku makkk😭🙏

__ADS_1


__ADS_2