Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 20


__ADS_3

"Pelajaran Pak Adi udah beres. Itu buku-buku paketnya siapa yang mau bawain?" Suara seorang laki-laki bername tag Andre, menyahut ketika dirinya berada di meja guru.


"Elo lah! Lo kan ketua kelas!" Seruan dari beberapa anak-anak lain di kelasnya, membuat cowok itu spontan mendengus.


"Masalahnya hari ini gue harus rapat OSIS. Lo sendiri kan, tahu. Pemilihan OSIS baru tinggal beberapa minggu lagi. Gue sebagai wakil harus ikut rapat." Ujarnya, membuat satu kelas mendadak hening sambil saling lirik ke arah anak-anak yang lain.


"Noh, suruh si Bianca! Dari tadi diem aja gak ngapa-ngapain." Ucap seseorang yang menyebutkan nama Bianca.


Bianca yang tidak bisa menolak apalagi berdebat, hanya mengiyakan saja.


"Ya udah. Gue aja sini,"


Andre melihat gerak-gerik Bianca yang mulai berjalan ke arah meja guru, di mana tumpukkan buku paket itu berada.


"Lo gak pa-pa? Muka lo pucet gitu. Yang lain ajalah, jangan lo!" Ujar Andre, yang dibalas gelengan kecil oleh gadis itu.


"Gak usah. Gue gak pa-pa, kok. Cuma kurang tidur aja," Bianca mulai mengambil tumpukan buku tersebut, kemudian melenggang keluar dari dalam kelas.


Di sepanjang langkahnya, Bianca tak henti-hentinya terus memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak ia pikirkan.


"Gue udah melakukan itu. Gimana kalau gue sampe ha— Enggak! Itu gak akan pernah mungkin terjadi. Gak mungkin cuman sekali langsung... Iya, kan?" Bianca terus meracau sambil terus bertanya pada dirinya sendiri.


Selama beberapa hari setelah malam di mana ia dan Haykal melakukan hubungan, Bianca terus memikirkan soal ini. Bianca takut jika dirinya nanti akan—


Sudahlah! Lebih baik ia berdoa supaya tidak ada yang terjadi apa pun padanya.


"Bianca!" Langkah kaki gadis itu tiba-tiba berhenti, ketika seseorang berdiri di hadapannya dan memanggil namanya.


Sontak saja gadis itu langsung membeku di tempat. Tumpukan buku yang berada di tangannya,  semuanya langsung jatuh ke lantai.


"Lo gak pa-pa, kan?" Suara itu kembali menyahutnya. Membuat Bianca langsung tersadar dari lamunannya.


Haykal yang sedari beberapa menit yang lalu menunggu Bianca, kini akhirnya cowok itu bisa berhadapan langsung dengan gadis itu.


Bianca berdeham seraya mengalihkan tatapan matanya. "Emang gue bisa kenapa, sampe lo datang jauh-jauh dari kelas lo ke sini."


Haykal menelan ludahnya susah payah. Cowok itu dengan berani mulai berjalan sedikit lebih dekat ke hadapan Bianca.


"Kalau lo kenapa-kenapa, lo bilang sama gue. Gue janji, gue gak akan lepas tanggung jawab." Mendengar perkataan Haykal, membuat Bianca spontan menatap cowok itu dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.


Gadis itu kemudian menangis seraya memukul-mukuli dada bidang laki-laki di hadapannya.


"Jahat! Lo jahat! Lo kalau dendam sama gue jangan gini, Kal! Lo jahat!" Gadis itu meracau sambil terus memukuli dada bidang Haykal.


Haykal tidak bereaksi, atau bahkan menghentikan gadis itu yang memukulinya. Ia bahkan merasa dirinya sangat pantas dipukuli seperti ini. Bahkan, seperti ini saja rasanya kurang.


"Bisa ikut gue ke atap sebentar? Ada hal yang harus gue omongin, dan gak cocok buat kita bahas di sini." Ucapan Haykal, membuat Bianca menghentikan tangannya yang memukuli dada cowok itu.


Gadis itu mulai menghapus jejak air matanya, lalu mengangguk pelan sebagai bentuk jawaban 'ya' dari ucapan Haykal.


...****...


Setibanya Haykal dan Bianca di atap gedung sekolah, keduanya masih tampak saling diam dan belum ada yang berbicara. Apalagi Bianca yang sedari tadi air matanya terus keluar tiada henti, sampai dirinya harus sering menyeka air matanya.


"Lo masih ingat sama kata-kata gue waktu di lorong kelas tadi, kan?" Bianca seketika mendongakkan kepalanya ketika Haykal mulai buka suara.


"Kalau lo kenapa-kenapa, lo bilang sama gue. Gue janji, gue gak akan lepas tanggung jawab," ujar Haykal, mengulangi perkataannya.


"Tapi pertama-tama, gue mau minta maaf. Gue tahu, semua yang gue lakuin ke elo itu gak cukup hanya dengan kata maaf. Tapi gue gak punya pilihan lain. Tolong maafin gue. Lo boleh lakuin apa pun ke gue. Pukul gue, atau lo mau laporin gue ke polisi? Lakuin! Gue akan lebih lega, asalkan lo bisa maafin gue." Perkataan Haykal terdengar sangat serius.


Bahkan, raut wajahnya terlihat begitu putus asa. Kantung mata yang menghitam menjadi bukti bahwa selama beberapa hari ini, Haykal tidak bisa melupakan begitu saja malam di mana ia merusak Bianca.


Bianca hanya bisa menunduk seraya menangis. Gadis itu tidak tahu harus berkata apa. Jika ia memaafkan Haykal, itu artinya dia melupakan begitu saja apa yang telah laki-laki itu perbuat padanya.


Namun, jika ia masih menaruh dendam, Bianca takut menyesalinya.


"Gue—" Haykal menggantungkan ucapannya ketika Bianca tiba-tiba saja memeluk tubuhnya.


Tangis gadis itu semakin pecah, dan Haykal dapat dengan jelas mendengarnya. Tubuhnya pun bergetar cukup hebat, dan Haykal hanya bisa terdiam tidak melakukan apa-apa.


"Jangan tinggalin gue! Gue takut! Tadinya gue belum bisa maafin lo, tapi gue gak boleh egois. Gue gak mau sewaktu-waktu menyesali apa yang gue ucapkan. Gue cuma minta satu dari lo, Kal. Jangan tinggalin gue!"


Haykal mulai merasakan sedikit rasa tenang di hatinya. Kedua bola matanya juga mulai berkaca-kaca.


Tak lama kemudian, Haykal mulai membalas pelukan Bianca. Cowok itu mengusap, bahkan menciumi kepala gadisnya dengan penuh kasih sayang.


"Gue janji, gue gak akan ninggalin lo."


...****...


Dua minggu telah berlalu semenjak permintaan maaf Haykal diterima oleh Bianca. Dan semenjak saat itu, keduanya terlihat sering berdua di sekolah.


Haykal yang selalu hati-hati dan perhatian kepada Bianca, sedangkan gadis itu yang akan selalu menurut seperti yang dikatakan oleh Haykal.


Dan saat ini, tibalah saat di mana SMA Naruna mulai memilih anggota OSIS yang baru yang akan menggantikan OSIS-OSIS yang lama.


Satu sekolah kini tengah berdiri seraya berbaris rapi di tengah-tengah lapangan. Sedangkan di depan sana sudah ada enam anggota Calon Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS, bersama beberapa anggota OSIS lama berdiri di atas panggung yang akan menjadi tempat mereka berpidato untuk menyuarakan kampanye mereka jika suatu saat terpilih menjadi Ketua OSIS.


Di atas panggung sana sudah ada Alex dari Kelas XI IPS 4 yang mencalonkan diri menjadi Ketua OSIS.


Ada Edo dari Kelas XI IPA 1, dan Riana dari Kelas XI Bahasa 1. Oh, ya. Mereka terpilih dari masing-masing kejurusan yang paling terbaik.


Ada juga yang mencalonkan diri sebagai wakil Ketua OSIS, mereka juga dipilih dari masing-masing kejurusan yang paling terbaik.


Ada Dayana dari Kelas XI IPS 1, teman satu gengnya Monika. Ada Maria dari Kelas XI IPA 2, dan Toni dari Kelas XI Bahasa 3.


"Halo, teman-teman semua! Pada kepanasan gak, nih?" Seorang lelaki yang tak lain Ketua OSIS yang sebentar lagi lepas jabatan, menjadi MC sekaligus pemimpin pelepasan jabatannya.

__ADS_1


Seluruh murid-murid SMA Naruna kompak menjawab 'panas' dengan suara yang cukup nyaring, khususnya dari para kaum hawa.


Bukan apa-apa. Hanya saja, laki-laki yang sebentar lagi lepas jabatan Ketua OSIS itu parasnya sangat tampan. Apalagi ketika dia mengenakan kacamata yang begitu cocok dikenakannya.


Namanya Gibran Keanu Januar. Kelas XII Bahasa 1.


Ditemani wakil Ketua OSIS yang sebentar lagi juga melepas jabatannya, Rania dari Kelas XII IPA 5.


"Wuihhh... Rania emang gak ada tandingannya. Ye, gak?" Anak-anak laki-laki khususnya di kelas XI IPS 4, kelasnya Kenzo dkk, mulai berisik seperti biasa.


"Tuh kakel paling susah dideketin. Setia banget sama si Gibran, padahal si Gibran-nya kagak mau ama dia. Jiaaahhhh..." Kenzo dengan mulut embernya mulai bergosip bersama teman-temannya.


Kanza yang berada di barisan belakang, menoel Alma yang berbaris di hadapannya.


"Kenapa, Za?" Alma membalikkan tubuhnya menghadap Kanza.


"Itu yang jadi Ketua OSIS namanya siapa?" Tanya Kanza hati-hati.


"Kenapa? Naksir lo?" Kenzo tiba-tiba menyela, membuat Kanza spontan berdecak seraya menatap cowok itu kesal.


"Naksir, naksir! Gak mungkin lah! Lo pikir gue cewek apaan baru lihat langsung naksir?"


"Gak ada yang gak mungkin di dunia ini," balas Kenzo. Membuat Kanza spontan berdecih.


"Ah, bodo! Siapa namanya, Ma?" Memilih tak menanggapi Kenzo lebih lanjut, Kanza kembali menanyakan hal yang belum sempat dijawab oleh Alma.


"Na—" perkataan Alma terhenti ketika Kenzo kembali menyela ucapannya.


"Gibran. Gak denger barusan gue ngebutin nama tuh orang?" Ucapnya sewot.


Kanza benar-benar gemas ingin membanting Kenzo saat ini. "Lo kenapa, sih? Gak jelas banget jadi orang!"


Alma mengangguk setuju. "Sewot aja dari tadi,"


"Heh, lo! Mending lo mojok aja sana sama si Rio, daripada lo dekat-dekat sama si Kanza." Ujarnya ngasal, membuat Rio yang merasa terpanggil pun sontak melirik ke arah Kenzo.


"Mulut lo dijaga, ya!" Tekan Alma.


"Lo manggil gue, Zo?" Sahut Rio.


Satu barisan Kelas XI IPS 4 refleks saling berdeham menggoda ketika Rio dan Alma berucap hampir berbarengan.


Rio sontak menatap ke arah Alma, begitupun dengan gadis itu yang juga tampak mulai menatapnya. Raut wajah Alma tiba-tiba saja memerah, membuat satu barisan saling bersorak, sampai membuat beberapa guru yang berdiri di samping barisan para siswa menyahut garang.


"Kenzo! Itu pasti kamu lagi, kan, yang membuat satu barisan jadi ikut-ikutan berisik? Sini kamu!" Sahutan garang itu tak lain dari Pak Ucup, wali kelasnya sendiri.


"Bapak kok, semakin hari semakin suudzon sama saya? Dulu mah iya saya, tapi sekarang bukan, Pak! Serius! Duarius kalo bisa!" Ujar Kenzo, membuat Pak Ucup langsung terdiam.


"Ya sudah kalau bukan kamu. Kenapa harus ngegas?" Ujarnya, membuat Kenzo tidak bisa menahan kekesalannya.


Selalu saja Kenzo lagi yang disalahkan. Apa anak nakal modelan Kenzo ini selalu salah di mata para guru, walaupun sedang tidak melakukan kenakalan sekalipun?


"Tenang, Zo! Kalo lo meledak sekarang, bisa-bisa hari ini turun hujan geledek kan gak lucu!" Ujar Juna sok serius. Satu sekolah mendadak tertawa ngakak mendengar perkataan Juna.


Padahal, saat ini Ketua OSIS masih menjalankan tugasnya memperkenalkan satu-persatu calon ketua dan wakil ketua OSIS yang akan menggantikan anggota OSIS lama.


"Yang di belakang harap diam dulu, ya." Ucap Gibran lewat mikropon. Suasana pun kembali hening seperti semula.


Setelah cukup lama mengisi acara, para calon ketua OSIS mulai membacakan naskah pidato mereka. Sekitar setengah jam berlalu, akhirnya sesi paling menyebalkan ini berakhir dengan Gibran yang membubarkan barisan.


Kini murid-murid SMA Naruna diperbolehkan kembali ke kelasnya masing-masing, dan menunggu giliran kelas mereka yang akan terpanggil untuk memilih calon ketua dan wakil ketua OSIS.


...****...


"Gilaa... panas banget. Kepala gue sampe pusing kelamaan di bawah sinar matahari," keluhan Alma yang baru saja menduduki kursinya, seakan tengah mengode Rio yang saja memasuki ruang kelas.


Kebetulan sekali Rio tadi sebelum kembali ke kelas ia menyempatkan diri membeli minuman dingin di kantin sekolah.


Apakah ini maksud dari firasatnya itu? Apa Tuhan juga sedang membantunya?


"Iya, nih. Gila, panas bangeeettt!" Balas Kanza yang diangguki Kayla.


"Nih! Entar lo pingsan lagi!" Kenzo yang baru memasuki ruang kelas, langsung melemparkan sebotol minuman dingin kepada Kanza.


"Wuihh... Perhatian juga lo! Thank's, ya!"


Melihat Kenzo memberikan sebotol minuman dingin kepada Kanza membuat satu kelas mendadak kaget sekaligus hening.


Semua orang berpikir kalau Kanza dekat dengan Alex, tapi apa yang sedang terjadi saat ini benar-benar di luar dugaan mereka.


Apakah Kanza benar-benar berpacaran dengan Kenzo seperti yang dikatakan oleh Monika? Begitulah pikir orang-orang.


Tidak dengan Alma dan Kayla yang sudah mengetahui semuanya. Keduanya hanya merasa iri pada Kanza yang memiliki saudara kembar seperhatian Kenzo.


Yah, walaupun sedikit menyebalkan.


"Nih!" Rio mendadak menaruh sebotol minuman dingin di atas meja Alma.


Gadis itu seketika mendongak dan menatap Rio dengan tatapan terkejut. "Buat gue?" Alma bertanya pelan, membuat satu kelas spontan menggoda keduanya.


"Cieee... Rio, cieee..."


"Kiw! Kiw!"


"Ahem! Beraksi lagi, Yo?"


Dan masih banyak lagi godaan-godaan lain dari teman satu kelasnya.

__ADS_1


Rio tidak menanggapi lebih. Cowok itu dengan tampang datarnya melenggang keluar dari dalam kelas.


"Wuidih! Jangan lupa dihabisin, Ma, minumannya. Kesian si Rio. Itu tadi minumannya buat dia. Eh, karena lo-nya tiba-tiba ngode, jadinya dikasih ke elo, deh." Kenzo berujar pada Alma dengan tampang selengean yang begitu khas.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Kenzo pun ikut keluar dari dalam kelas dan memutuskan untuk mengejar Rio.


Sedangkan Azka, Juna, dan Haykal yang baru saja menginjakkan kaki di depan kelas, langsung menatap kebergian kedua temannya yang pergi tidak bilang-bilang.


"Woi! Mau ke mana lo berdua!" Azka menyahuti Kenzo dan juga Rio.


"Ada! Mau ikut kagak?" Balas Kenzo ikut menyahut, namun tidak sedikitpun ia menoleh ke belakang.


...****...


Hampir satu setengah jam lamanya menunggu giliran untuk ikut memilih calon ketua dan wakil ketua OSIS, akhirnya kini bagiannya kelas XI IPS 4, kelasnya Kenzo dkk.


Seperti biasa, semuanya masuk ke aula sekolah dengan berbaris rapi. Ada 2-3 orang siswa yang menjaga meja depan untuk mengabsen nama-nama sekaligus memberikan sebuah kertas yang dilipat yang berisi foto serta nama calon ketua dan wakil ketua OSIS.


"Za! Lo mau pilih siapa?" Kayla yang berbaris tepat di belakang Kanza pun berbisik.


"Emm... kayaknya Alex aja, deh! Kan dia perwakilan dari kelas kita." Ujar Kanza. Kayla pun mengangguk.


"Eh, kalau wakilnya?" Alma menyahut. Gadis itu berbaris tepat di depan Kanza.


"Emm... gak tahu. Gue pada gak kenal, gimana dong?" Balas Kanza. Membuat Kayla spontan menghela napas. "Ada tuh, yang lo kenal! Si Dayana! Cewek yang satu geng sama si Monika!" Perkataan Kayla, sontak membuat Alma dan Kanza mengalihkan perhatian mereka ke depan sana.


"Dih! Sok-sok an banget tuh cewek!? Gue tebak, dia ikut nyalonin jadi wakil ketua OSIS pasti cuman pengen dekat-dekat sama si Alex!" Penuturan Alma, membuat Kanza spontan mengalihkan fokusnya kepada gadis itu.


"Si Dayana suka sama Alex?"


Alma dan Kayla sontak melirik Kanza. Kedua gadis itu menatap Kanza dengan tatapan penuh selidik, namun yang ditatap seperti itu hanya memedulikan jawaban apa yang akan mereka berikan.


"Kenapa? Cemburu?" Tanya Alma, membuat Kanza langsung menyadarkan dirinya dari apa yang baru saja ia pikirkan.


"Enggak! Biasa aja," balasnya. Terlihat sekali bahwa Kanza tengah cemburu. Namun, Alma memilih untuk diam dan pura-pura tidak tahu.


"Tenang aja, Za! Gue jamin, si Alex cintanya cuman sama lo doang, kok. Ya, kan, Ma?" Kayla beralih meminta persetujuan Alma, dan gadis itu pun mengangguk pelan.


Melihat kedua sahabatnya yang terus mengejeknya, Kanza jadi salting sekaligus kesal sendiri.


"Iiihh... lo berdua apaan, sih! Enggak, kok. Siapa juga yang cemburu!" Ujarnya. Membuat raut wajahnya berubah menjadi ditekuk kesal.


^^^To be continue....^^^


Cuplikan episode selanjutnya>>>>


"Za! Lo bakal pilih gue, kan?" Alex berbisik di samping Kanza yang terlihat sedang memilih calon ketua OSIS yang baru.


"Suttt... diem! Ini rahasia! Lo gak boleh tahu!" Perkataan Kanza, membuat Alex spontan mengulum senyumnya.


"Udah, pilih gue aja. Lo gak akan rugi kalau milih gue." Ujar Alex, seketika membuat tawa Kanza pecah.


Beberapa siswa yang menyaksikan adegan manis yang dilakoni oleh Alex dan Kanza mendadak syirik sekaligus kesal. Termasuk Dayana yang mulai menanamkan rasa kebencian yang teramat kepada Kanza.


...Kenzo...



...Kanza...



...Alex...



...Haykal...



...Azka...



...Juna...



...Rio...



...Alma...



...Kayla...



...Bianca...



...Gibran...


__ADS_1


...Rania...



__ADS_2