
“Apa lo? Berani lo sama gue? Heh, denger, ya. Gue anak sekolah SMA Naruna. SMA paling elite dari jajaran SMA yang lain. Dan lo masih berani sama gue? Lihat gimana gue habisin lo kali-“
“Maksud kamu apa bikin rusuh kayak gini di lingkungan masyarakat, hah? Pakai sebut-sebut SMA Naruna, lagi. Dengar-dengar, kamu pindahan dari SMA Nusantara? Tujuan kamu seperti ini untuk apa? Mau memprovokasi?”
Sesampainya di ruang BK, Vando langsung dihadapkan pada sebuah video yang memperlihatkan dirinya beserta anak-anak geng motornya berbuat onar di lingkungan masyarakat. Video tersebut diputar melalui laptop berukuran 14 inch oleh sang guru BK, sehingga semua gerak-geriknya dapat terlihat dengan sangat jelas di sana.
Pak Ajas, alias guru BK tanpa aba-aba langsung melayangkan berbagai pertanyaan pada siswa barunya. Tak peduli bahwa siswanya itu baru saja tiba di ruangannya belum ada sekitar tiga menit.
Vando terdiam saat sepasang bola mata milik Pak Ajas belum juga beralih darinya. Tak berapa lama kemudian, cowok itu tertawa padahal sedikit pun tak ada hal lucu yang terjadi di sana.
“Gue kira ada hal apaan.” Gerutu Vando, sedikik membuat Pak Ajas dibuat terheran akan gumamannya yang terdengar cukup menjengkelkan.
“Hei! Saya lagi bicara sama kamu. Kamu-“
“Tinggal DO aja, ‘kan? Ribet banget gitu doang.”
Pak Ajas semakin dibuat terheran-heran apalagi ketika mendengar penuturan Vando yang sedikit pun tak ada sopan-sopannya saat berbicara dengan guru. “Kamu bilang apa barusan?” Tanyanya, yang dibalaas decak sebal oleh Vando.
“Tuli? Gue bilang, DO! Keluarin gue dari sekolah ini. Itu ‘kan yang lo mau?” Tekan Vando, tanpa sadar mulai memancing amarah Pak Ajas.
“Kamu!” Pak Ajas mulai mengeratkan kedua rahangnya mencoba untuk menahan bebagai amarah agar tidak meledak saat itu juga. Perlahan, beliau mulai menarik napasnya dalam-dalam, berharap emosinya dapat sedikit mereda.
“Panggil kedua orangtua kamu!”
“Gak usah repot-repot, Pak! Saya bisa langsung dikeluarin juga gak pa-pa. Makasih buat selama ini.” Balas Vando, mulai mengubah cara bicaranya. Namun entah mengapa, walaupun perkataannya kali ini tidak sefrontal barusan, kenapa rasa-rasanya Vando ini seperti tengah mengejeknya?
“Euh… Udah gak ada yang lain lagi, ‘kan? Kalau gitu, bye!” Pungkasnya, kemudian melenggang dari dalam ruan BK, meninggalkan Pak Ajas yang telah kehilangan kata-kata.
...****...
“Alex!” Panggil Kanza, sesaat ketika gadis itu telah menemukan keberadaan Alex yang tengah berada di pinggir lapangan sekolah.
Alex yang tengah beristirahat selepas bermain basket bersama teman-temannya yang lain langsung menoleh kala mendengar suara seseorang yang baru saja memanggilnya.
“Kanza?” Cowok itu refleks bangkit dari posisinya dan dengan terburu-buru berjalan menghampiri Kanza yang juga tengah berjalan ke arahnya.
“Kamu di sini? Kenapa? Si Vando gangguin kamu lagi?” Kanza refleks menggeleng pelan sebagai jawaban atas rentetan pertanyaan yang dilayangkan oleh cowok itu.
“A-aku di sini mau nyariin kamu. Kata anak-anak lain, kamu lagi main basket di lapangan terbuka, makanya aku ke sini.” Ujar Kanza. Membuat Alex tanpa sadar menghela napas lega.
“Oh, ya. Kamu udah tahu soal …” Alex sengaja menggantungkan ucapannya, membuat Kanza tanpa sadar mengernyitkan dahi.
“Soal apa?”
“Soal-”
“Wah… Gak nyangka ternyata lo masih ada sedikit kepedulian juga sama gue. Lo lagi nungguin gue, Za?” Suara sahutan dari arah belakang mereka sanggup menghentikan ucapan Alex serta mengalihkan atensi keduanya.
Ketika menyadari bahwa orang tersebut tak lain adalah Vando, Kanza refleks bersembunyi di balik tubuh Alex dengan kedua tangannya yang mencengkram kuat lengan cowok itu. Sementara Alex, raut wajah cowok itu langsung berubah dingin dengan kedua alisnya yang mengerut dalam.
“Ngapain lo ke sini?” Itu suara Alex. Nada bicara yang ia keluarkan pun terdengar begitu datar. Sesekali ia akan mencoba menahan emosinya dengan mengepal kuat kepalan tangannya.
“Sensi banget sih, lo. Gue cuma mau nyamperin cewek gue doang. Masalah buat lo?”
“Jelas masalah! Karena sampai kapan pun, Kanza adalah cewek gue. Bukan cewek lo!” Tekan Alex, membuat Vando tanpa sadar berdecih pelan dengan perhatian yang belum juga beralih dari Kanza.
“Za? Lo yakin mau sama dia? Dia anaknya tukang ngadu, loh. Mending sama gue aja. Kebetulan gue bukan tukang ngadu kek dia, gimana?” Vando melayangkan pertanyaannya pada Kanza yang membuat gadis itu semakin berusaha menyembunyikan dirinya di balik tubuh Alex.
Melihat reaksi Kanza yang demikian, Alex lantas menyunggingkan senyum miringnya ke arah Vando. Tatapan dinginnya pun mulai berubah sinis yang membuat cowok itu seketika langsung mengepalkan kedua tangannya.
“Udah jelas, ‘kan? Kanza gak mau sama cowok gak waras kayak lo! Dia lebih milih gue dibandingkan lo! Mending lo pergi jauh-jauh, deh. Gak usah lo gangguin hidup pacar gue lagi.” Tekan Alex. Semakin membuat cowok itu tidak dapat menahan emosinya.
Ketika Vando hendak maju dan menghajar Alex, Kenzo entah datang dari mana langsung berdiri di tengah-tengah mereka. Tatapan dingin disertai tarikan napasnya yang menggebu membuat langkah cowok itu lagi-lagi terhenti.
Melihat hal itu, refleks Vando terkekeh sinis. “Datang satu lagi,” gumamnya. Dibalas kekehan sinis oleh Kenzo.
“Kenapa? Takut juga lo sama gue?” Kenzo menatap Vando dari atas sampai bawah, kemudian tertawa sinis tatkala melihat penampilan cowok itu yang tidak seperti biasanya.
“Di-DO juga akhirnya lo! Berarti gue gak akan lihat muka sok lo lagi dong, ya?”
Perhatian Vando yang tadinya masih mencuri pandang pada Kanza diharuskan beralih menatap Kenzo yang posisinya berada tepat di hadapannya. “Kenapa emangnya kalau gue di-DO? Denger ini baik-baik. Sampai kapan pun, mau gue satu sekolah sama Kanza atau enggak, itu gak akan membuat gue menyerah buat jadiin dia sebagai milik gue. Cewek yang gue mau selamanya hanya Kanza. Ya, ‘kan, Za?”
Tak ada satu pun yang berniat menjawab celotehan cowok itu. Alex bahkan Kenzo hanya terdiam dengan menahan berbagai emosi mereka. Sementara Kanza, tubuh gadis itu perlahan mulai kembali bergetar apalagi ketika mendengar kata-kata Vando yang mengatakan bahwa, cowok itu tidak akan menyerah sampai kapan pun.
Jika dia sudah berkata begitu, maka artinya memang akan seperti itu. Membayangkannya saja sudah membuat Kanza ketakutan, apalagi jika semua itu benar-benar akan terjadi. Entah akan seperti apa Kanza nanti. Mungkinkah ia akan terus hidup di tengah ketakutan yang tiada habisnya?
“Pergi dari sini sebelum gue manggil satu sekolah buat ngusir lo! Lo lupa apa yang udah lo lakuin sama sekolah kita? Semua tingkah berengsek lo udah diketahui sama semua siswa di sini. Kalau gue sekarang manggil mereka buat gebukin lo pun, mereka akan dengan senang hati mukulin lo.” Alex berucap datar disertai nada mengancam di dalamnya.
Sementara Vando, cowok itu sudah hampir kehilangan kesabarannya akibat sedari tadi dirinya terus-menerus diprovikasi oleh Alex dan Kenzo. Namun, ketika ia hendak kembali maju ke hadapan mereka, netranya tanpa sengaja melirik beberapa siswa maupun siswi yang berdiri tepat di belakang Alex, Kanza, dan Kenzo, yang terlihat tengah menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit dijabarkan.
Melihat pemandangan itu refleks membuat Vando terkekeh sinis dengan sebelah alisnya yang sedikit terangkat. “Fine! Gue pergi sekarang!”
...****...
“Oke, anak-anak! Berhubung sebentar lagi kita ujian tengah semester, jadi untuk hari ini kita pulang lebih awal dari biasanya, ya.” Pengumuman lantang dari seorang guru yang tengah mengajar di dalam kelas XI IPS 4 seketika langsung membangkitkan semangat murid-murid kelasnya yang semula tampak loyo.
Bu Ratna, guru sejarah kelas sebelas, lantas menggeleng-gelengkan kepalanya melihat reaksi heboh nan berlebihan dari murid-muridnya. Ada yang berseloroh panjang, ada yang bersorak ria, dan ada pula yang membunyikan meja sekeras-kerasnya. Benar-benar ciri khasnya murid-murid jurusan IPS. Sangat berbeda jauh dengan murid-murid jurusan IPA yang lebih ke kalem dan aktif dalam pelajaran.
“Hei! Sudah, sudah! Sekarang kalian berdoa, habis itu pulang yang teratur. Ingat! Harus langsung pulang dan jangan ada yang keluyuran di luar pakai seragam sekolah! Paham?” Ucap Bu Ratna, seketika langsung membuat satu kelas hening dengan perhatian yang kembali pada sang guru.
“Paham, Bu!”
“Oke. Pimpin doanya oleh ketua kelas.”
...****...
“Za! Hari ini lo pulang sama gue, ya? Gue masih gak tenang soal-”
“Lo tenang aja, Zo! Gue yang akan anterin Kanza pulang. Lo duluan aja.” Alex menyela cepat percakapan yang terjadi di antara Kenzo dan juga Kanza. Seketika membuat sepasang saudara kembar itu langsung menoleh dan menghentikan ucapannya.
Kenzo menghela napasnya cukup panjang dengan sepasang bola matanya yang terpejam. “Tapi, Lex! Gue kayak gini bukan berarti gue gak percaya sama lo. Gue cuma-” Kalimat yang hendak diucapkan oleh Kenzo langsung tertahan di kerongkongan, dengan perhatian yang tertuju pada raut wajah Kanza.
Demi apa pun, Kenzo merasa kehadirannya kini di dunia sudah tidak berarti lagi, apalagi ketika sepasang netranya dengan sangat jelas menyaksikan bagaimana saudara kembarnya terus-menerus ditindas oleh orang yang sama. Dan sialnya, yang ia lakukan bukannya melindungi, malah diam dan tidak melakukan apa-apa.
Pengecut! Sejak kapan ia menjadi seperti ini?
Tak berapa lama kemudian, Kenzo menarik tubuh kembarannya untuk ia peluk. Selang berapa lama, laki-laki itu terisak dengan tangannya yang kian memeluk erat tubuh Kanza.
“Maafin gue, Za! Karena gue, lo harus ngalamin kejadian ini lagi. Gak seharusnya gue ninggalin lo demi urusan pribadi gue. Gue-”
“Zo, lo nangis?” Kanza menyahut pelan dengan salah satu tangannya yang menepuk pelan punggung Kenzo.
Tersadar akan sesuatu, Kenzo buru-buru melepaskan diri dari Kanza dengan sesekali berdeham pelan. Tak lupa ia pun mulai mengelap ingus serta air matanya yang tanpa permisi keluar begitu saja.
“Nangis? Si-siapa juga yang nangis? Heh, gue gini juga khawair, ya, sama lo! Gue gak mau kejadian di mana lo gak mau keluar rumah dan gak mau ketemu orang-orang terulang lagi. Lo kembaran gue, dan gue gak mau kehilangan lo.”
Kanza terdiam dengan raut wajahnya yang berubah datar. Namun tak berapa lama kemudian, gadis itu tersenyum sendu dengan sedikit menundukkan wajahnya. Tanpa ia sadari, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.
“Gue janji sama lo, kalau kejadian itu gak akan pernah terjadi lagi. Kalaupun beneran terjadi, bukannya gue masih punya lo, ya? Alex juga. Gue punya lo berdua yang bakal jagain gue. Iya, ‘kan?” Kanza membagi perhatiannya pada Alex kemudian kembali kepada Kenzo. Seulas senyum getir masih belum juga luntur dari wajahnya.
“Maafin gue ya, Zo! Dari dulu sampai sekarang gue selalu ngerepotin lo. Gue gak pernah membuat lo sekali aja bebas hanya karena masalah gue. Dan buat kamu, Lex,” Kanza mengalihkan perhatiannya pada Alex yang sedari tadi hanya sibuk diam tanpa berniat menengahi.
Mendengar kini Kanza mulai memanggil namanya, perhatian cowok itu pun lantas beralih menatap Kanza dengan sorot matanya yang lembut.
“Aku mau minta maaf juga sama kamu, karena dengan hadirnya aku malah membuat hidup kamu jadi kayak gini. Aku malah jadi sering ngerepotin kamu juga, harusnya aku-” ucapan Kanza refleks terpotong sesaat ketika mendengar suara kekehan seseorang yang tak lain adalah Kenzo. Refleks gadis itu menoleh dengan raut penuh tanya.
“Kok, lo gitu sih, Za? Giliran sama si Alex aja ngomongnya ‘aku-kamu’. Kok, sama gue kagak?”
__ADS_1
Kini giliran Alex yang terkekeh dengan perhatiannya yang beralih menatap Kenzo. “Jadi ceritanya lo cemburu, nih?”
“Cemburu? Ya kali! Gue cuma gak seneng aja dengernya,” ucap Kenzo, kemudian melipat kedua lengannya di depan dada.
“Udah, udah. Kok, malah jadi berantem gitu, sih? Kek, anak kecil aja tahu, enggak! Gimana, katanya mau pulang? Jadi, gak, nih?” Sela Kanza. Seketika membuat kedua cowok itu tersadar akan suatu hal.
“Jadilah! Sama gue, ya!” Ucap Kenzo. Dengan terburu-buru cowok itu langsung menarik lengan Kanza untuk segera ia ajak ke mobilnya.
“Enggak! Kanza pulangnya sama gue.” Alex spontan ikut menarik lengan Kanza yang satunya, sehingga menyebabkan langkah Kenzo maupun gadis itu langsung terhenti.
“Apaan, sih, lo! Lo gak ada kewajiban di sini. Mending lo pulang duluan, deh. Entar Bokap lo nyariin,” Kenzo lagi-lagi berusaha menarik lengan kembarannya, namun malah kembali ditahan oleh Alex.
“Sembarangan ngatain gue gak ada kewajiban! Heh, denger, ya. Gue calon suaminya. Mending lo aja yang duluan sana! Lo bilang mau nyamperin pacar lo!” Seolah tak mau kalah, Alex membalas ucapan Kenzo sekaligus ikut menarik lengan Kanza.
Sementara Kanza, orang yang ditarik sana-sini oleh kembaran serta pacarnya, hanya mampu diam dan menghela napas panjang. Kapan ini berakhir?
“Lo cuma ‘calon’! CALOOONNN! Bukan berarti bakal jadi juga. Sedangkan gue? Gue kembarannya. Orang yang paling deket sama dia! Kita bahkan lahir di satu rahim yang sama. Ya, ‘kan, Za?” Balas Kenzo, sembari menekankan posisi serta hubungannya dengan Kanza.
Mulai tak tahan, Kanza pun berinisiatif untuk terlepas dari cengkraman kedua cowok itu. Ketika gadis itu telah sepenuhnya terlepas, Alex dan Kenzo sontak langsung terdiam dengan fokus yang tertuju pada Kanza.
“Za-”
“Setop!” Pekik Kanza, sesaat ketika kedua cowok itu hendak kembali menarik lengannya.
Kanza menarik napasnya dalam-dalam dengan kedua bola matanya yang terpejam. Tak berapa lama kemudian, ia mulai mengembuskan napasnya dengan perhatian yang sesekali menatap ke arah Kenzo, kemudian beralih pada Alex.
“Udah, ya. Udah, cukup! Kalo kalian masih pada rebutan kek gini, lama-lama gue yang pulang sendiri.” Ucap Kanza. Seketika membuat kedua cowok itu memilih mengatupkan masing-masing mulutnya.
“Soal pulang bareng siapa doang, ‘kan?” tanya Kanza. Yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Alex dan Kenzo.
“Oke. Gue pilih pulang bareng …”
...****...
“Gue masih gak paham, deh. Kenapa si Alex cuma nyuruh kita share satu video doang? ‘Kan kemaren dia nemu dua, tuh. Kenapa yang disebar cuma yang pas si Vando sama gengnya bikin rusuh? Kenapa gak sekalian aja gitu pas si Vando-nya lagi mabok di bar ditemenin sama jal*ng?”
Sedari ketika menuruni puluhan tangga kelas, Azka tak henti-hentinya bertanya merentet pada Rio dan Juna yang berada tepat di belakang langkahnya.
Bukannya menjawab, Rio malah dengan malas mengendikkan kedua bahunya seraya mendengus. Sedangkan Juna, cowok itu mulai mencoba berpikir sejenak. “Gak tahu. Tanya aja sama si Alex,” balas Juna, pada akhirnya.
Sayangnya, jawabannya tak membuat Azka lantas puas, dan malah semakin membuatnya dilanda penasaran.
“By the way, kok gue gak lihat si Alex sama si Kenzo?” Rio menyahut pelan, membuat fokus Azka dan Juna lantas beralih padanya.
“Mereka udah duluan. Gara-gara si Azka nih yang katanya hapenya hilang, jadinya mereka ninggalin kita, ‘kan?” Jawab Juna. Membuat Azka yang namanya di bawa-bawa langsung mendelik tajam.
“Kok, jadi gue? Salahin aja kenapa mereka pulang duluan. Gak solid banget jadi temen.” Celoteh Azka. Bibir julidnya mulai kembali berulah.
Terlalu fokus bercengkrama diiringi sedikit candaan di dalamnya membuat ketiganya tanpa sadar telah sampai di parkiran sekolah. Sontak saja ketiga cowok itu langsung menghampiri kendaraan masing-masing yang terparkir cukup berjauhan.
“Gue duluan, ya. Gue mau mampir dulu ke firma hukum Bokap soalnya.” Juna menyahut ketika cowok itu telah lebih dulu memakai helm serta menaiki motornya.
“Wuidih… tumben lo nyamperin Bokap? Biasanya juga lo gak peduli,” Azka menyeletuk, ketika cowok itu hendak mengeluarkan mobilnya dari tempat parkiran.
“Julid aja lo dari tadi, Ka! Suka-suka si Juna ajalah, paling juga mau minta duit jajan sama Bokapnya.” Rio balas nimbrung di tengah-tengah kesulitan mengeluarkan motornya yang terhimpit motor-motor lain. Namun tak butuh sampai memakan waktu yang lama, cowok itu pun selesai mengeluarkan motornya. Hanya tinggal memakai helm saja.
“Gue duluan, ya. Mau langsung bobo siang soalnya, wkwk.” Rio kembali menyahut dengan posisi yang telah sepenuhnya berada di atas motor. Setelahnya, tanpa berniat menunggu balasan dari Juna maupun Azka, cowok itu pun mulai melesat meninggalkan area parkiran sekolah. Meninggalkan Azka yang bersorak menyerunya.
“Sialan lo, Yo! Gue-”
“Eh, gue juga duluan, Ka! Mau ngapel dulu, haha!” Sahut Juna lagi. Seketika langsung menghentikan ucapan Azka yang hendak mengeluarkan berbagai kata-kata mutiara teruntuk Rio.
Melihat Juna yang telah menghidupkan mesin motor, bukan tidak mungkin Azka tidak geram. Dasar temen laknat!
“Ya udah. Pergi sana lo! Gue gak butuh buat ditemenin,” celetuk Azka, yang dibalas kikikan geli oleh Juna.
Sementara Azka, cowok itu mulai merutuki dirinya sendiri yang pergi ke sekolah membawa mobil. Seharusnya tadi ia mendengrkan nasehat Eyang-nya yang mengatakan pakai motor saja.
Jadinya sekarang malah seperti ini, ‘kan? Mana ngeluarinnya susah lagi. Dan yang paling sialnya adalah, teman-temannya telah lebih dulu pulang dan meninggalkannya.
Sial!
“Awas aja lo semua! Lain kali gue yang gitu ke kalian,”
...****...
Alex tersenyum kecut ketika setibanya cowok itu di depan garasi rumahnya. Ingatan ketika ia, Kanza dan Kenzo di sekolah sebelum pulang benar-benar membuatnya emosi setengah mati.
Alex yang berpikir bahwa Kanza akan memilihnya untuk pulang bersamanya, nyatanya hanyalah sebuah angan-angan belaka. Gadis itu tega menyuruhnya pulang duluan, karena dirinya yang lebih memilih pulang bersama Kenzo.
Sialan! Mengingat raut wajah penuh kemenangan yang Kenzo tampilkan tadi, benar-benar membuatnya kesal. Jika saja Kenzo bukanlah saudara kembar Kanza, sudah dari sejak dulu Alex meninju wajah cowok itu.
Sayang seribu sayang. Jika Alex benar-benar meninju wajah Kenzo, yang ada dia tidak akan pernah direstui untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Kanza.
Aghhhh! Menyebalkan!
“Loh, Kak Alex udah pulang?” Sahutan kecil dari arah pintu utama, menyadarkan Alex dari apa yang tengah ia lamunkan.
Ketika menyadari bahwa orang tersebut tak lain ialah Elsa, adiknya yang masih kelas dua SMP, menatapnya dengan tatapan polos penuh tanya.
“Tumben Kakak jam segini udah pulang?” Elsa berjalan mendekat ke arah sang kakak yang terlihat tengah menutup pintu mobilnya.
“Lah, itu kamu juga kenapa jam segini udah pulang?” Bukannya menjawab, cowok itu malah balas bertanya. Semakin membuat sang adik kebingungan atas pertanyaan yang dilayangkan oleh sang kakak.
“Kok, balik nanya, sih? Kakak lupa, ya? SMP ‘kan pulangnya cuma sampe jam 2. Kalau SMA baru jam 4.” Ujar Elsa. Dibalas ‘oh’ saja oleh Alex.
Melihat respon kakaknya yang hanya membalas ‘oh’ saja, gadis itu refleks mendengus sebal dengan bibirnya yang mengerucut. Menyadari perubahan sang adik, refleks Alex terkekeh dengan salah satu tangannya yang mengucek puncak kepala Elsa.
“Minggu depan ujian, makanya pulangnya cepet.” Ujar Alex, yang dibalas ‘oh’ oleh Elsa.
Alex lagi-lagi terkekeh melihat adiknya yang sepertinya tengah membalas dendam padanya. Memilih mengalah, Alex pun mulai melangkahkan kakinya memasuki rumah tanpa berniat mengatakan apa-apa lagi.
“Kakak! Papa bilang, Kakak udah punya pacar, ya? Kok, gak dibawa ke rumah sih, Kak?” Elsa kembali menyahut dengan kedua kakinya yang melangkah cepat, berusaha menyamakan langkah kakinya dengan sang kakak.
Alex sempat menoleh sekilas ke arah adiknya. Namun di detik berikutnya, fokus cowok itu kembali ke tempat semula dengan terus melangkahkan kakinya.
“Kak?” Sahutnya lagi, sedikit membuat Alex dongkol dengan pertanyaan dari Elsa.
“Hm, lain kali Kakak bawa ke rumah. Sekalian langsung bawa ke KUA kalau bisa,” balas Alex sekenanya, masih setia melangkahkan kaki, sehingga tanpa sadar cowok itu kini telah berada tepat di depan pintu kamarnya. Spontan Alex langsung menghentikan langkah kakinya dengan tubuhnya yang perlahan berbalik ke belakang.
“Kenapa masih di sini? Mau lihatin Kakak mandi?” Alex menaikkan salah satu alisnya dengan sorot mata dingin yang tertuju pada Elsa. Refleks gadis itu langsung membekap mulutnya dengan sepasang bola mata yang sedikit melebar.
“Emang boleh?” Tanya gadis itu pelan. Saat itu juga, Alex lantas menepuk jidatnya cukup keras.
“Ya kali. Pergi sana! Main sama siapa, kek,”
“Dih, katanya tadi nawarin, gimana, sih?”
“Heh, nawarin apaan, dah! Pergi sekarang, gak? Atau mau Kakak kasih tahu Mama soal-” Elsa buru-buru membekap mulut sang kakak sehingga menyebabkan perkataannya langsung terhenti.
Dirasa sang kakak sudah tidak lagi mengoceh, gadis itu mulai menjauhkan diri dari kakaknya. Dengusan sebal mulai ia embuskan dengan sesekali mendelik tajam.
“Iya, iya, iya! Elsa pergi, nih! Bercanda kali. Ogah banget aku lihatin Kakak mandi. Mendingan juga Elsa lihatin roti sobek punya Jimin. Lebih menggoda, wleek!” Kecut gadis itu, membuat Alex benar-benar dibuat kewalahan.
“Awas kalau lihatin yang aneh-aneh lagi! Kakak aduin sama-”
“E-eh, Kak! Ka-kakak ini beneran udah punya pacar? Temen-temen Elsa pada sedih tahu pas denger Kakak udah punya pacar!” sela gadis itu. Seulas senyum kaku ia tampilkan, berharap kakaknya yang satu ini tidak lagi melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
“Bodo amat, gue mau mandi, bye!” tekan Alex, kemudian melenggang memasuki kamarnya dan mengunci pintu tersebut dari dalam.
Bisa bahaya jika tidak ia kunci. Alex tak ingin kejadian seperti dulu di mana adiknya yang nakal ini masuk tanpa aba-aba ke dalam kamarnya. Dan parahnya, waktu itu ia baru saja selesai mandi. Otomatis tubuhnya setengah telanjang.
Bukannya lari atau berteriak seperti di film-film, adiknya ini malah memelotot dengan fokusnya yang saat itu tertuju pada perut berotot sang kakak yang terpampang jelas tanpa sensor sedikit pun.
Dan kalian tahu apa yang pertama kali adiknya ucapkan ketika melihat itu? Dan, ya. Gadis itu mengatakan, “Waw! Ternyata Kakak punya roti sobek juga. Kenapa Elsa baru tahu?”
Dan respon Alex, cowok itu dengan panik langsung berteriak seraya mengusir adiknya untuk segera keluar dari dalam kamarnya. Sejak kejadian hari itu, Alex akan selalu mengunci pintu kamarnya, mau itu ketika ia tidak sedang dalam keadaan mandi sekalipun.
...****...
Siang telah berganti gelap, namun Kenzo bukannya memilih berdiam diri di rumah malah keluyuran ke sana ke mari dengan si merah gagah, alias motor sportnya.
Bukan tanpa alasan cowok itu memilih berkeluyuran di luar rumah. Ia hanya ingin bertemu dengan kekasihnya yang beberapa hari ini hampir tak memiliki waktu untuk bertemu.
Alasannya? Wanda memilki banyak tugas kuliah yang harus segera diselesaikanlah, Kenzo yang dikurung oleh sang mami dengan embel-embel harus banyak istirahat di rumahlah, dan masih banyak lagi yang membuat pertemuan mereka selalu berakhir tertunda.
Kemarin saja ketika ia hendak pergi berkumpul dengan teman-temannya, sang mami menceramahinya terlebih dahulu seraya mengintrogasinya satu-persatu pertanyaan yang sanggup membuat Kenzo dibuat pusing sendiri.
Beruntung papinya yang teramat berpengalaman itu berhasil membujuk sang mami, sehingga pada akhirnya Kenzo pun diizinkan untuk keluar rumah.
Dan untuk kali ini, mami maupun papinya kebetulan tidak sedang berada di rumah. Kata salah satu pembantunya sih, pergi dinas ke luar kota. Tapi, kenapa juga maminya harus ikut? ‘Kan mami udah gak kerja lagi? Hm… patut dicurigai.
Tak butuh waktu lama bagi Kenzo untuk mengendarai motornya, akhirnya cowok itu pun tiba di tempat tujuannya yang tak lain adalah rumah Wanda.
Ketika Kenzo telah mematikan motornya, pintu utama rumah gadis itu terbuka. Menampilkan seorang gadis cantik bersetelan kaus berwarna putih yang dibalut jaket jeans berwarna hitam dengan celana jeans panjang berwarna senada.
Oh, jangan lupakan tas selempang berwarna peach yang ia tenteng di salah satu pundaknya.
“Pagi, Cantik~” Kenzo menatap Wanda dengan tatapan genit seraya menaik-turunkan kedua alisnya. Salah satu tangannya pun ia gunakan untuk menopang dagunya.
“Malem, bukan pagi!” Tekan Wanda, yang langsung mendapat kekehan kecil dari Kenzo.
“Eh? Malem juga,” ujarnya random. Sanggup membuat Wanda menyernyit jijik, namun entah mengapa hatinya malah berkata lain.
“Ekhem. Kita mau ke mana, sih? Ini tuh udah malem. Awas aja lo berani macem-macem!” Wanda menyipitkan kedua bola matanya menatap Kenzo dengan tatapan sinis.
Kenzo lagi-lagi terkekeh pelan. Salah satu tangannya pun terangkat mengelus puncak kepala Wanda sampai membuat gadis itu dibuat mengerang.
“Udah, lo ikut, aja. Gak gue apa-apain, kok, tenang!Kalaupun iya, cara ngajaknya bukan kek begini,”
“Maksudnya?” Wanda spontan mengernyitkan dahinya dengan berbagai pertanyaan yang terbesit di otaknya.
“Yaa, paling gue kasih alamat sama nomor kamar- aduh!” Kenzo refleks mengaduh sesaat ketika tepukan keras mendarat di salah satu lengannya.
“Dasar gak waras! Gue pulang, nih!” Ancam Wanda, tidak terdengar bercanda. Bukannya merasa bersalah, cowok itu malah menyengir dengan sesekali mengelus lengannya yang masih terasa sakit.
“Bercanda kali, Beb. Ya kali. Bisa digrebek gue sama Bokap gue kalau ketahuan begitu! Entar gue dicoret lagi dari daftar warisan. ‘Kan bahaya, wkwk,” Kenzo membalas tengil, semakin membuat Wanda dongkol atas sikap aneh dari cowok itu.
Kok, bisa, sih gue suka sama cowok ini? Udah mah tengil, mesum lagi! Gue sedikit gak percaya kalau dia lebih muda dari gue. Gerutu Wanda dalam hati.
“Udah, udah. Nih, pake dulu helmnya, atau … mau gue yang pakein?” Kenzo menyerahkan sebuah helm lain kepada Wanda.
Sempat terdiam sejenak dengan raut wajah cemberut, gadis itu pun mulai menerima helm tersebut kemudian memakainya.
“Udah, Yang?” Kenzo lagi-lagi menyahut, membuat Wanda kembali mengernyit jijik atas panggilan aneh dari cowok itu.
“Yang, Yang, pala lu peyang? Geli tahu,” ketusnya, yang dibalas kekehan pelan oleh Kenzo.
Bagi Kenzo, menggoda Wanda itu sangat menyenangkan. Apalagi jika sudah membuat gadis itu dongkol sampai mengeluarkan kata-kata ketus dengan nada ngegas di dalamnya. Semakin membuat Kenzo gencar untuk menggoda Wanda.
“Ya udah, naik! Debatnya kita lanjut nanti.” Ujar Kenzo, terdengar begitu lembut. Sanggup membuat jantung gadis itu berdegup kencang saking saltingnya dengan perkataan Kenzo.
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Wanda pun mulai menaiki motor Kenzo tepat di belakang tubuh cowok itu. Saat sepasang netranya menatap ke arah punggung Kenzo, sudut hatinya mendadak ragu. Sehinga pada akhirnya, Wanda memilih menarik ujung jaketnya.
“Wan?”
“Hm.”
“Lo udah pegangan?”
“Ekhem. Udah!”
“Oh. Oke,” dan di detik itu juga, Kenzo langsung tancap gas sekencang-kencangnya, membuat Wanda yang tadinya hanya berpegangan pada ujung jaket Kenzo, malah berakhir dengan memeluk pinggang cowok itu. Seulas senyum penuh kemenangan kemudian terbit di wajah tampannya.
“KENZOOO! LO SENGAJA, ‘KAN?” pekik gadis itu, masih setia memeluk pinggang Kenzo dengan begitu erat.
“HAH? NGOMONG APAAN SIH? GUE KAGAK DENGER?” balas Kenzo, sengaja. Padahal pada kenyataanya, suara Wanda terdengar begitu kencang sampai-sampai membuat gendang telinganya sakit.
Momen. Ya, Kenzo akan terus mengingat momen indah ini sampai kapan pun. Momen di mana ia dapat tertawa lepas hanya dengan ditemani gadis bawel itu.
Batinnya berharap, di masa depan, Kenzo masih bisa melihat senyum indah Wanda. Tak peduli jikalaupun jarak akan memisahkan mereka kelak.
Omong-omong soal jarak, akankah Wanda mengikhlaskannya jika suatu hari ia diharuskan pergi?
“Wan!” Panggil Kenzo dengan suara yang tidak terlalu kencang. Laju motornya pun mulai ia kendurkan agar bisa mengobrol cukup leluasa bersama Wanda.
“Apa lagi?” Balas gadis itu, lagi-lagi terdengar ngegas.
“Ini semisalkan, ya. Misal, nih, gue pergi ke tempat yang jauh. Lo masih mau nungguin gue, gak?” Seketika itu juga, Wanda langsung mengernyit dengan pikiran berbagai negatif yang tanpa permisi mulai bersinggah di kepalanya.
“Kok, lo ngomongnya gitu, sih? Zo, lo sakit? Lo ngomong begitu karena lo sakit parah? Bilang sama gue, lo sakit ap-”
“Sembarangan ngatain gue sakit. Lo pikir gue ngomong kek gitu karena bentar lagi mau mati? Enggaklah, ya kali.” Potong Kenzo. Spontan membuat bibir gadis itu langsung mengerucut sebal.
“Iya, terus? Kenapa lo ngomong-ngomong pergi kalau bukan karena lo sakit? Lo mau selingkuh dari gue? Huwaaa… Kenzo lo kecil-kecil jahat juga, ya! Gue laporin sama Tante Chelsea, loh!”
“Malah ngatain gue mau selingkuh, lagi. Enggak gitu maksud gue-”
“Ya terus, apa?” Sela Wanda. Kedua bola matanya bahkan sudah hampir berkaca-kaca hanya karena obrolannya dengan Kenzo.
Demi apa pun, Wanda tidak pernah dibuat menangis oleh makhluk yang namanya cowok! Perdana dirinya menangis hanya karena perkataan aneh yang diucapkan Kenzo.
“Gue cuma nanya random, gak ada maksud apa-apa!”
“Beneran?” Kenzo mengangguk, walau dalam hati ia merasa ragu.
“Jadi?” Tanya Kenzo, masih berusaha mengungkit obrolan sebelumnya.
“Kalau semisalkan-”
“Gak ada semisal-semisal! Enak aja lo mau ninggalin gue. Gue gak mau! Kalau lo pergi, terus gue sama siapa di sini?” Perkataan gadis itu terdengar melemah, apalagi ketika mengatakan kalimat paling akhir. Kedua lengannya pun tanpa sadar mulai memeluk Kenzo dengan begitu erat
Jawaban dari Wanda sudah ia dengar. Dan sialnya, itu membuat Kenzo langsung kehilangan kata-kata. Namun, bukan Kenzo namanya kalau tidak pandai menyembunyikan perasaan.
Dengan menarik napas sedalam-dalamnya, cowok itu kemudian tertawa ngakak, sehingga membuat perhatian Wanda langsung beralih pada cowok itu. Kedua alisnya pun tampak berkerut dalam dengan berbagai pertanyaan yang terbesit di pikirannya.
“Cieee… segitu cintanya ya, lo sama gue,” goda Kenzo. Refleks gadis itu langsung mencubit area pinggang cowok itu sampai membuatnya lantas mengaduh.
“Dasar nyebelin! Turunin gue gak?” Teriak Wanda. Sanggup membuat Kenzo panik, sehingga berakhir memilih mengatupkan mulutnya.
^^^To be continue….^^^
Sudah updateeee!!! Tidak tahu apa kalian seneng
atau enggak, yg paling penting, udah update. Wkwk:) Btw, gimna menurut kalian soal eps kli ini?
__ADS_1