Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 51


__ADS_3

"Kayla!" Suara sahutan dari arah lain spontan menghentikan langkah seorang gadis yang tengah asyik mengobrol ria bersama seorang sahabatnya.


Diliriknya ke arah belakang, seorang cowok yang tak lain adalah Juna berjalan dengan langkah gontai menghampiri Kayla. Sontak saja raut wajah gadis itu yang semula ceria langsung berubah datar tanpa eskpresi.


Melihat perubahan ekspresi sang sahabat, bukan tidak mungkin Alma sedikit merasa ada yang tidak beres. Namun, Alma memilih untuk tidak ambil pusing. Pikirnya, mungkin mood gadis itu sedang tidak baik, makanya dia bersikap demikian.


"Ekhem!" Alma berdeham cukup keras ketika posisi Juna kini mulai saling berhadapan dengan Kayla. Sedangkan gadis itu, dia hanya bersikap datar dan acuh tak acuh, seolah yang tengah berdiri di hadapannya bukanlah seseorang yang istimewa.


"Em ... Gue duluan, ya, La! Rio My Husband udah nungguin di depan gerbang sekolah soalnya," ucap Alma yang langsung dibalas senyuman tipis oleh Kayla.


"Oke. Hati-hati, ya," ujar Kayla, kemudian melambaikan tangan pada Alma.


Selepas kepergian sang sahabat, perhatian gadis itu lantas beralih pada Juna yang masih setia dengan posisinya.


Dengan memasang raut wajah datar, gadis itu mulai memberanikan diri menatap Juna, padahal dalam hatinya yang terdalam, ia masih teramat gugup. Pikirannya lagi-lagi melayang pada adegan di mana cowok itu dengan tanpa permisi menciumnya sekilas.


"Ekhem. Ada apa, ya?" Tanya Kayla terdengar begitu judes. Mampu membuat Juna tanpa sadar mengernyitkan dahinya.


"Itu, ada hal yang mau gue bahas sama lo,"


Kayla mengembuskan napas lelah seraya memutar bola matanya. "Lain kali aja gimana? Ini udah mau sore dan gue mau langsung pulang. Takutnya Nyokap nyariin," tanpa menunggu lawan bicaranya membalas perkatannya, Kayla lantas membalikkan tubuhnya hendak melenggang dari hadapan Juna.


Merasa ada suatu hal yang tidak beres dengan gadis itu, Juna lantas menarik salah satu pergelangan Kayla sehingga langkah kakinya refleks terhenti dengan kepalanya yang langsung menoleh.


"Lo kenapa? Lo ada masalah?" Tanya Juna. Sontak gadis itu terkekeh sinis dengan tangannya yang ia tarik kembali dari cengkraman Juna.


"Masalah? Enggak ada apa-apa,"


"Gak usah bohong!" Ujar Juna. Lagi dan lagi, gadis itu kembali terkekeh sinis.


"Peduli apa emangnya kalau gue bohong? Lo bukan siapa-siapa gue, asal lo tahu!" Tekan Kayla, sedikit membuat Juna tersentil oleh perkataan gadis itu.


Memilih menarik napasnya dalam-dalam, Juna lantas mendekatkan sedikit posisi berdirinya ke hadapan Kayla. Tatapan matanya yang cukup menusuk tak henti-hentinya terus dilayangkan pada gadis itu.


"Lo kenapa, sih? Lo marah sama gue?"


"Lo nanya? Ya, lo pikir aja sendiri. Cewek mana yang gak akan marah setelah cowok yang dia sukai selama ini akhirnya nembak dia, cium bibir dia, tapi ujung-ujungnya malah pergi gitu aja tanpa sepatah kata pun." Pada akhirnya, Kayla mengeluarkan segala kekesalan yang selama ini terus ia tahan seorang diri. Persetan dengan harga diri. Perasaannya tengah dipertaruhkan saat ini.


Juna seketika dibuat bungkam oleh gadis itu. Semua yang diucapkan oleh Kayla tidak sepenuhnya benar, namun tidak juga sepenuhnya salah. Memang benar Juna sempat menghindari Kayla beberapa hari ini, namun bukan berarti ia benar-benar meninggalkan gadis itu. Juna hanya perlu waktu untuk menenangkan diri dan memastikan kembali perasaannya.


Namun sepertinya, tindakannya selama ini hanya membuat Kayla berpikir negatif, dan merasa bahwa Juna hanya mempermainkan perasaannya.


Oke. Juna akui bahwa dia telah bersalah.


"Udahlah. Gue capek cinta sepihak mulu sama lo. Mulai detik ini, gue mau benar-benar move on dari lo!" Tandas gadis itu. Ketika ia hendak kembali melenggang dari hadapan Juna, lagi dan lagi cowok itu menarik pergelangan tangan Kayla sampai membuat tubuhnya kembali berhadapan dengannya.


Tak terima tangannya ditarik-tarik begitu saja, Kayla lantas berinisiatif untuk menarik pergelangan tangannya dari cengkraman Juna. Sayangnya, cowok itu terlanjur mencengkram tangan Kayla dengan cukup kuat. Sehingga yang terjadi adalah; tubuh Kayla malah tertarik semakin dekat dengan Juna, sehingga tatapan keduanya pun mulai kembali bertemu.


"Sorry! Lo pasti kesel banget, ya, sama gue? Padahal gue sedikit pun gak ada niatan buat mempermainkan perasaan lo. Walaupun gue sempat berpikir; apa perasaan gue ke elo itu nyata, atau enggak?!"


Kayla langsung menjauhkan diri dari Juna sesaat mendengar kalimat paling terakhir yang diucapkan oleh cowok itu. Perasaan uwu yang sebelumnya sempat bersinggah di dadanya mendadak lenyap. Perkataan Juna yang paling akhir itu sanggup membuatnya kembali tersulut emosi.


"Kalau lo gak yakin sama perasaan lo sendiri, terus lo ngapain pake bilang segala ke gue kalau cinta gue gak bertepuk sebelah tangan? Lo begitu sama aja dengan mainin perasaan gue,"


Juna berdesis pelan. "Dengerin gue dulu! Fine, gue salah karena terburu-buru menyimpulkan, makanya selama beberapa hari ini gue terus introspeksi diri. Dan alasan kenapa gue menghindar selama beberapa hari ini karena gue pengin mastiin satu hal itu," tutur Juna membuat gadis itu seketika dibuat terdiam dengan bibirnya yang mengerucut sebal.


"Jadi? Apa aja yang udah lo dapet dari introspeksi diri lo yang berhari-hari itu?" Tanya Kayla pelan sembari menunduk. Seulas senyum tipis kemudian terbit di wajah Juna.


"Lo pengin tahu apa jawabannya?" Juna lagi dan lagi memajukan sedikit langkah kakinya ke hadapan Kayla sehingga membuat gadis itu dengan refleks langsung mendongakkan kepala.


Dengan penuh kehati-hatian, Kayla lantas menggeleng pelan atas jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Juna.


Perlahan namun pasti, Juna mulai meraih kedua tangan gadis itu sampai membuatnya sedikit tersentak sehingga membuat perhatian Kayla langsung beralih pada kedua tangannya.


"La!" Panggil Juna. Mampu membuat sekujur tubuh gadis itu seketika meremang dengan jantungnya yang berdegup tak karuan.


"Hm?"


Juna lantas menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia mulai melanjutkan kata-katanya. Tatapannya pun mulai berubah serius, sehingga membuat perhatian Kayla sedikit pun tidak dapat teralihkan dari cowok itu.


"Gue suka sama lo! Ralat, gue bener-bener suka dan cinta sama lo. Please, jangan move on dari gue. Kalau lo move on, terus gue gimana?" Lirih Juna. Hampir saja membuat Kayla dibuat lengah oleh pernyataan cinta dari cowok itu, jika dirinya tidak segera tersadar dari apa yang membuatnya terbawa suasana.


Kayla lantas menepis kedua tangan Juna yang masih berada di tangannya. Sontak Juna yang diperlakukan seperti itu oleh gadis itu pun jelas kaget! Kedua bola matanya bahkan sudah hampir membulat sempurna.


"Ekhem. Udah, 'kan, ngomongnya? Kalau gitu gue pamit dulu. Bye!" Sela Kayla, kemudian melenggang dari hadapan Juna yang dibuat menganga oleh perkataannya.


"Kayla! Kok respon lo gitu doang? Lo beneran udah move on dari gue?" Juna menyahut tak terima. Sedangkan Kayla, gadis itu malah tersenyum puas dengan posisi tubuh yang membelakangi Juna.


Tak berniat menjawab apalagi hanya sekadar merespon, Kayla lantas melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda. Semakin membuat Juna tidak paham atas sikap gadis itu padanya.


"La! Kayla! Lo belum move on, 'kan dari gue? Woi! Kok lo pergi gitu aja, sih? Lo mau pulang? Mau gue anterin, gak? La! Witwiuw! KAYLA!" Masih belum juga menyerah, cowok itu lantas mengejar langkah Kayla sampai ke depan gerbang sekolah.


Tanpa keduanya sadari, seseorang yang tak lain adalah salah satu pengurus sekolah menyaksikan adegan uwu dengan cukup jelas yang dilakoni oleh mereka berdua.


Beliau menggeleng-gelengkan kepala seraya berdecak pelan dengan kedua tangannya yang masih sibuk memegang gagang sapu lidi.


"Ck, ck, ck. Anak jaman sekarang pacaran udah kek di drama Korea aja. Apa, ya, judulnya kalau nggak salah?" Gerutunya, seraya terus berpikir disela aktivitasnya.


...****...


"Eh! Lo anak kelas dua belas, kan? Lo lihat Bianca, siswi kelas XII IPA 3, gak?" Haykal menarik spontan lengan seorang siswi yang berjalan melewati lorong kelasnya.


Siswi tersebut jelas terkejut diperlakukan tiba-tiba seperti itu, apalagi oleh seorang cowok yang jelas sekali tidak ia kenali.


"Eh?! Kebetulan gue sekelas sama dia. Tadi katanya mau ke toilet bentar," ujar siswi tersebut seraya melepaskan diri dari cengkraman tangan Haykal.


"Sorry! Di tioilet, ya? Makasih, ya." Tersadar akan apa yang baru saja ia lakukan, Haykal lantas meminta maaf kepada siswi tersebut yang juga adalah salah satu seniornya di sekolah. Tak lupa, Haykal juga mengucapkan terima kasih padanya.


Setelahnya, cowok itu langsung bergegas pergi menuju toilet yang dikatakan siswi tadi.


Di sela langkah kaki melewati lorong serta puluhan anak tangga kelas, perasaan Haykal berubah cemas tanpa alasan. Hatinya tiba-tiba merasa tidak tenang. Sehingga tanpa ia sadari, cowok itu telah mengubah langkah kakinya menjadi setengah berlari.


Belum sempat Haykal sampai di toilet yang dikatakan siswi tadi, langkah kaki cowok itu langsung terjeda beberapa saat dengan sepasang bola matanya yang tiba-tiba membulat hampir sempurna. Sebuah pemandangan yang tak pernah sekalipun ia bayangkan, terpampang cukup jelas di depan sana.


Bianca. Gadis itu dengan posisi yang cukup mengenaskan terbaring lemah di atas lantai koridor kelas dengan raut wajahnya yang tampak pucat.


Tersadar dirinya malah terdiam dan bukannya bergegas, Haykal lantas kembali melanjutkan langkah kakinya dengan tergesa-gesa. Perasaan cemas sekaligus takut mulai menghinggapi diri cowok itu.


"Bi! Bianca! Kamu kenapa bisa kayak gini, hm?" Haykal menepuk pelan pipi gadis itu ketika sesampainya ia di hadapan Bianca.


Tak ada respon dari gadis itu, sehingga Haykal memutuskan untuk mulai menggendongnya. Namun, ketika ia mulai mengangkat tubuh gadis itu setengahnya, cowok itu seketika merasakan keganjilan sesaat tangannya tidak sengaja menyentuh rok belakang gadis itu yang agak sedikit basah.


Ketika Haykal mulai mengangkat tangannya dan ingin melihat apa yang baru saja tidak sengaja ia sentuh, cowok itu lantas dibuat kaget saat cairan merah kental menempel di telapak tangannya.

__ADS_1


"Darah?!"


Panik! Itulah yang ia rasakan. Tanpa berbasa-basi lagi, cowok itu mulai mengangkat tubuh Bianca dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.


Di sepanjang ia berlari melewati lorong-lorong kelas yang mulai sepi serta puluhan anak tangga, cowok itu tak henti-hentinya terus berdoa: berharap tidak ada yang akan terjadi pada Bianca dan juga calon anak mereka.


...****...


"Jadi ... gimana keadaan istri saya, Dok?"


Seorang dokter kandungan yang baru saja selesai memeriksa Bianca langsung dibuat melotot tak percaya sesaat mendengar kata 'istri' yang diucapkan oleh Haykal.


"Istri?! Bukan Adik?" Kaget dokter bername tag Fara, berharap apa yang sempat ia dengar barusan adalah sebuah kesalahpahamam belaka.


Haykal tersenyum tipis dengan kepalanya yang sedikit menunduk. "Bukan, Dok. Dia istri saya. Jadi ..."


"Ekhem. Cuma benturan ringan. Dia gak pa-pa. Kandungannya juga baik-baik aja. Hanya sedikit kecapekan. Lain kali jangan sampai kecapekan lagi, ya," ujar Dokter Fara, langsung dibalas helaan napas lega serta anggukan kepala oleh Haykal.


"Dan, satu hal lagi," perkataan Dokter Fara sukses membuat Haykal kembali menolehkan kepalanya.


"Iya, Dok?"


"Kalian ... beneran udah nikah? Kalian, 'kan, masih muda?!"


Haykal sempat terdiam mendengar pertanyaan itu. Namun tak berlangsung lama, seulas senyum tipis terbit di wajah tampannya. Perhatian yang semula saling bersitatap dengan sang dokter, mulai beralih pada raut wajah Bianca yang tampak begitu tenang, masih berbaring belum sadarkan diri.


"Mau gimana lagi, Dok? Mungkin memang udah takdir," ujarnya, membuat Dokter Fara langsung terdiam.


...****...


Sehari setelah olimpiade matematika atau OSN diselenggarakan, Pak Ucup tak henti-hentinya terus memuji dan menganakbungsukan Alex seharian ini.


Bukan tanpa alasan beliau bersikap demikian. Ia hanya terlalu bahagia karena murid didikannya tersebut berhasil membawa pulang piala emas bertuliskan juara pertama.


Bukan hanya itu saja. Karenanya, nama baik SMA Naruna semakin melambung tinggi berkat kemenangan Alex. Semakin membuat SMA Nusantara yang sebagai tuan rumah sekaligus musuh abadi SMA Naruna dibuat tidak dapat berkata-kata.


Bagaimana tidak? Di olimpiade yang diselenggarakan tersebut, SMA Nusantara hanya mendapat peringkat ke-3 saja. Sedangkan peringkat ke-2 diambil alih oleh SMA Melati. Semakin menumbuhkan rasa kebencian SMA Nusantara pada SMA Naruna.


Dan saat ini, saat yang paling dibenci oleh Juna and the gang. Di mana selama pelajaran berlangsung, geng mereka yang terdiri dari dirinya sendiri, Rio, Haykal, dan juga Azka, tak henti-hentinya terus diceramahi dan dibanding-bandingan dengan Alex.


Siapa lagi kalau bukan Pak Ucup-lah pelakunya?


"Jadi, kalian harus bisa mencontoh Alex dari segi apa pun! Jangan cuma modal ganteng doang! Contohnya si Kenzo. Mana tuh anak? Kenapa gak kelihatan?!" Pak Ucup mulai mengedarkan perhatiannya ke segala arah untuk mencari keberadaan Kenzo. Sayangnya, muridnya yang teramat bangor itu masih belum kembali ke sekolah.


Azka menghela napas lelah. "Masih sakitlah, Pak. Ya kali udah masuk sekolah aja. Gitu-gitu sahabat kita masih manusia loh, Pak,"


"Betul itu, Pak!" sahut Juna.


Pak Ucup tampak terdiam seraya berpikir sejenak. "Ya sudah. Jam istirahat nanti kita jenguk si Kenzo." Ujarnya, seketika membuat Juna and the gang langsung bersorak kegirangan, kecuali Alex.


"Kalau begitu kita kembali ke-" Pak Ucup spontan menghentikan ucapannya ketika suara bel tanda jam istirahat pertama, berbunyi. Membuat satu kelas yang tadinya hening langsung riuh seketika.


"Yes! Berarti berangkat jengukin si Kenzo-nya sekarang, 'kan, Pak?" Itu suara Rio. Cowok itu sudah sangat bersemangat dari ketika Pak Ucup mengatakan akan mulai menjenguk Kenzo.


Pak Ucup menghela napas seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Beliau sudah pasrah akan murid-murid didikannya yang selalu bersikap hiperaktif.


Beliau sudah bosan memarahi mereka, apalagi gengnya si Kenzo. Seolah tidak pernah jera, mereka terus saja melakukan hal-hal yang padahal sudah ia larang dan ingatkan beberapa puluh kali.


"Maksimal tujuh orang, Pak!" Suara sahutan tersebut berasal dari Azka. Sontak perhatian Pak Ucup langsung beralih pada cowok itu.


"Betul, Pak! Kita, 'kan, bestfriend-nya si Kenzo. Masa yang datang cuma bertiga," sela Haykal yang langsung disambut setuju oleh Juna dan Rio.


Lagi dan lagi, Pak Ucup hanya bisa pasrah atas permintaan dari murid-muridnya. Batinnya berkata, terserah mereka sajalah.


"Ya sudah. Sepuluh menit lagi kita berangkat. Ingat, nanti di jalannya tidak boleh ada yang kebut-kebutan!" Ujar Pak Ucup pada akhirnya. Sontak Juna, Azka, dan Rio langsung bersoak gembira. Sedangkan Haykal dan Alex malah tertawa dan geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah para sahabatnya yang sepertinya sudah tidak sabar untuk menjenguk Kenzo.


Ralat. Mereka pasti hanya ingin membolos keluar dari area sekolah. Sama seperti Haykal yang sudah tidak betah berada di sekolah seharian ini. Pikirannya terus tertuju pada Bianca yang tengah menjalankan istirahat di rumah akibat kejadian tempo kemarin.


"Tenang aja, Pak. Kita mah anak-anak tahu aturan, gak mungkin kita bawa kendaraannya kebut-kebutan. Ya, 'kan, gais?!" Sahut Rio, membuat teman-temannya yang lain kembali merespon heboh. Tidak dengan Alma yang malah berdecih pelan dengan tatapan sinis yang tertuju pada cowok itu.


"Baik! Awas aja kalau nanti kebut-kebutan. Saya akan hukum kalian semua," terang Pak Ucup, kemudian mulai membereskan barang-barangnya.


Sebelum beliau benar-benar pergi dari dalam kelas, perhatiannya lagi-lagi tertuju pada sekumpulan murid-muridnya yang masih sangat heboh. Merasa sikap murid-muridnya semakin menjadi, Pak Ucup lantas memukul keras-keras meja guru sebanyak tiga kali, sehingga dengan spontan perhatian mereka semua kembali tertuju pada beliau. Suasana pun mendadak hening.


"Sepuluh menit lagi kita kumpul di parkiran sekolah," terangnya, kemudian melenggang dari dalam kelas. Meninggalkan murid-muridnya yang kembali bersorak heboh.


...****...


"Za!" Alex menarik pelan pergelangan tangan Kanza, sehingga membuat sang empunya langsung menolehkan kepala ke arahnya.


Dengan gugup, gadis itu berdeham pelan menjawab panggilan dari Alex. Sedangkan Alex, cowok itu hanya mampu menarik napas dalam-dalam seraya mencoba memikirkan: kalimat apa yang seharusnya ia katakan pada Kanza setelah apa yang pernah terjadi hari itu?!


"Ekhem. Gue-"


"Maafin gue, ya, Lex! Gue nyesel karena waktu itu gue sempat ngomong pengin putus sama lo. Sekarang gue baru sadar, sepenting apa lo buat hidup gue," sela Kanza. Seketika membuat Alex langsung membekap mulutnya yang hendak mengucapkan beberapa kata.


"Gue ngomong begitu tanpa berpikir panjang lebih dulu. Waktu itu yang gue pikirin cuma; gue takut lo ilfeel sama gue, takut lo bakal berakhir membully gue seperti yang orang-orang lakuin dulu ke gue. Dan gue juga gak mau jika semisalkan hal itu terjadi, gue akan kembali jadi bahan cemoohan satu sekolah seperti dulu. Gue cuma gak mau itu terjadi," tanpa diduga-duga, setetes air mata lolos dari salah satu pelupuk mata Kanza. Wajah gadis itu tampak semakin menunduk dengan kedua bahunya yang sedikit bergetar.


Melihat pemandangan menyedihkan itu, sudut hati Alex terasa berdenyut nyeri. Perasaan kesal dan marah tiba-tiba menyatu dalam dirinya.


Dalam hatinya yang terdalam, ia terus memaki dirinya sendiri karena tidak dipertemukan lebih awal dengan Kanza. Jika saja ia dipertemukan lebih awal dengan gadis itu, mungkin Kanza tidak akan mengalami sebuah trauma yang menyebabkan dirinya menjadi seperti sekarang ini.


Mungkin setidaknya, Alex akan menjadi salah satu pelindung bagi Kanza, selain Kenzo.


"Lo gak perlu minta maaf. Gue yang salah karena dari awal gue gak mengetahui satu pun tentang lo. Jadi, di sini yang harusnya minta maaf adalah gue," ujar Alex. Salah satu tangannya terangkat meraih salah satu tangan Kanza.


"So please accept my apologies. I can't calm down if you don't forgive me."


Seulas senyum tipis lantas terbit di wajah Kanza. Sepasang bola matanya pun kini dengan berani mulai menatap kedua bola mata milik Alex dengan sorot tulus penuh haru.


"Iya. Gue maafin lo, walaupun gue gak tahu di mana letak kesalahan lo sama gue. Gue gak berpikir lo ada salah sama gue. Yang selalu gue pikirin adalah, gue punya banyak rahasia yang gak lo tahu, dan itu membuat gue sedikit merasa bersalah karena telah nyembunyiin itu semua dari lo,"


Alex sedikit menaikkan kedua sudut bibirnya dengan genggaman tangan yang kian erat di salah satu tangan kanza.


"Kalau begitu, apa lo bersedia mengatakan semuanya sama gue? Tentang seluruh kisah hidup lo yang telah membuat lo jadi trauma kayak gini,"


Kanza sempat terdiam beberapa saat. Namun di detik berikutnya, gadis itu kembali tersenyum tipis diiringi anggukan pelan sebagai jawaban 'ya' dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Alex.


"Tergantung, apa lo bener-bener mau dengerin semuanya tanpa sedikit pun ada yang mau diskip?! Cerita hidup gue panjang, loh! Emangnya, lo mau dengerin? Entar lo nyesel lagi,"


"Lo tenang aja. Gue gak akan pernah nyesel sampai kapan pun,"


"WOI!!! LO BERDUA PADA NGAPAIN SI? KITA UDAH MAU PADA CAPCUS, NIH," suara teriakan nyaring dari arah lain sontak mengundang perhatian Alex dan juga Kanza untuk menoleh.

__ADS_1


Di tempat yang tidak terlalu jauh, Azka bersama yang lain, serta Pak Ucup sudah mulai siap dengan kendaraan mereka. Tinggal menunggu Alex dan Kanza saja untuk segera memasuki kendaraan mereka.


"PACARANNYA BISALAH, YA, PENDING DULUUU!!! INI KITA MAU JENGUKIN ORANG SAKIT, LOH!" Selorohan tersebut berasal dari Alma yang telah berada di dalam mobilnya Rio.


Sebenarnya, gadis itu tidak ingin ikut, karena Kayla juga tidak ikut. Bukan karena itu saja. Alma juga berpikir bahwa ia tidak dekat dengan Kenzo. Jadi, percuma juga, 'kan, dirinya datang?


Tetapi, sekarang Alma malah tengah berada di dalam mobilnya Rio, dengan cowok itu yang berhasil memaksanya dengan segala cara.


"Noh, dengerin tuh kata Bini gua," sela Rio yang langsung dibalas pelototan marah oleh Alma.


"Alex! Kanza! Kalian gak kesian apa sama Bapak, hm? Bapak sudah cukup tersiksa tinggal di dalem mobilnya si Juna! Mana bau, lagi!" Pak Ucup ikut menimpal, membuat Juna yang sedari tadi anteng langsung tersindir.


"Bapak ngatain mobil saya? Mobil saya ini mahal, loh, Pak! Sembarangan dikatain bau. Ini tuh namanya pengharum mobil! Masa gitu ajak gak tahu, sih,"


"Jadi, kamu ngatain saya kampungan. Begitu?" Tanya Pak Ucup. Seketika mengundang gelak tawa dari Azka, Rio, Alma, Haykal, juga Alex dan Kanza.


"Yaaa, bukan git-"


"Dah, dah, dah. Gitu aja pake ribet. Nih, gue sama calon istri gue masuk sekarang, nih! Puas, 'kan?" Sela Alex, kemudian menarik tangan Kanza untuk segera memasuki mobilnya.


"Pamer aja terus, gak pa-pa. Mentang-mentang gue jomlo. Tapi, bomat juga, sih. Gue, 'kan, jomlo fisabilillah, alias jomlo di jalan Allah," ujar Azka. Membuat teman-temannya kembali tergelak, sebelum benar-benar menjalankan kendaraan mereka ke jalan raya.


...****...


"Kanza! Kira-kira bangsalnya kembaran kamu ada di mana? Kok, dari tadi kita belum sampai juga?" Pak Ucup mulai menyahut gatal kala beliau beserta ketujuh murid-muridnya belum juga sampai di tempat Kenzo masih dirawat.


Juna berdecak pelan. "Sabar napa, Pak! Nih, ya, saya kasih tahu. Menurut pengetahuan saya, sabar itu mendapatkan pahala, loh, Pak!"


"Kamu pikir saya gak tahu? Saya, 'kan, cuma nanya basa-basi doang. Biar gak tegang," ujar Pak Ucup tak mau kalah.


"Di depan sana bangsalnya Kenzo, kok, Pak." Jawab Kanza sopan yang dibalas 'oh' saja oleh Pak Ucup.


Seperti yang baru saja dikatakan oleh Kanza, akhirnya mereka semua hampir tiba di depan pintu bangsalnya Kenzo. Namun, sebelum mereka benar-benar tiba di sana, perhatian mereka langsung terfokus pada seorang wanita setengah baya yang berdiri gusar di depan pintu bangsal, tak lain dan tak bukan adalah Chelsea.


Sedikit penasaran mengapa sang mami tampak demikian, Kanza lantas memilih berjalan lebih dulu menghampiri maminya yang juga langsung disusul oleh Alex dan Alma.


"Mami?! Mami kenapa gak nunggu di dalem?" Sahutan dari Kanza, membuat Chelsea sedikit dibuat terkejut, namun tak berlangsung lama.


"Siang, Tante." Sapa Alex sopan, yang langsung dibalas ramah oleh Chelsea.


"Kok, kalian pada di sini? Kalian gak sekolah?" Chelsea langsung mengedarkan perhatiannya pada beberapa pemuda seumuran Kenzo yang ia tebak adalah teman-teman dari putranya.


"Ekhem!" Pak Ucup yang merasa tidak dianggap kehadirannya lantas berdeham cukup nyaring, sehingga perhatian Chelsea pun langsung beralih pada beliau.


"Loh?! Pak Ucup juga di sini?!"


"Em, Mih! Mereka di sini mau jengukin Kenzo yang lagi sak-"


"Astaga! Mami baru inget!" Chelsea terpekik cukup nyaring, sampai membuat Kanza serta teman-teman gengnya Kenzo termasuk Pak Ucup sekali langsung dibuat berjengit oleh suaranya.


"Ada apa, Tante?" Tanya Haykal.


Perlahan namun pasti, raut wajah Chelsea kembali panik seperti saat wanita itu belum dihampiri oleh Kanza beserta teman-temannya dan juga Pak Ucup. Kedua bola matanya lantas berkaca-kaca dengan salah satu ujung kuku jari telunjuk yang ia gigiti tanpa sadar.


Melihat reaksi berlebihan sang mami, bukan tidak mungkin Kanza juga tidak ikut panik! Kedua tangan gadis itu bahkan telah berada di kedua telapak tangan sang mami. Sepasang bola matanya pun mulai menatap bola mata milik sang mami dengan hara-harap cemas.


"Mami kenapa? Ada masalah?!"


Chelsea menggeleng beberapa kali. Namun di detik selanjutnya, wanita itu kemudian mengangguk. Sedikit membuat Kanza serta yang lain kebingungan.


"Ini bahkan lebih dari masalah, Zaaa!"


"Masalah apa? Coba Mami cerita pelan-pelan," tutur Kanza. Perlahan demi perlahan, Chelsea mengangguk dengan sesekali menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengembuskannya. Setelah dirasa cukup tenang, perhatian wanita itu lantas kembali pada putrinya.


"KENZO HILANG!!!"


"Apa?!"


...****...


Dengan langkah tertatih, seseorang dengan mengenakan pakaian rumah sakit yang dibalut dengan jaket hoodie berwarna hitam, tampak berjalan menyusuri trotoar jalanan ibukota menuju ke sebuah tempat yang ia rasa perlu untuk ia kunjungi.


Kenzo. Ya, seseorang itu tak lain adalah Kenzo. Cowok itu nekat keluar diam-diam dari rumah sakit untuk menemui seseorang yang sampai detik ini masih belum bisa dihubungi.


Siapa lagi kalau bukan Wanda?


Bak ditelan bumi, gadis itu seolah tak akan pernah muncul kembali dari semenjak hari pertama Kenzo masuk rumah sakit sampai detik ini.


Dan, ya. Cowok itu baru saja turun dari sebuah mobil taksi yang sempat mengantarnya ke alamat rumah Wanda.


Sayangnya, ketika Kenzo tiba di sana, ia tak menemukan keberadaan Wanda sama sekali. Kenzo lupa akan satu hal, bahwa di jam seperti ini, gadis itu tidak akan mungkin berada di rumahnya.


Dan seperti yang kalian pikirkan di benak kalian, Kenzo memutuskan untuk pergi ke kampus Wanda dan mencari keberadaan gadis itu di sana.


"Shhh!" Kenzo berdesis pelan kala luka di bagian pelipisnya tidak sengaja ia sentuh untuk menyeka keringat yang menetes dari sana.


Jika saja ia tadi memilih untuk meninggalkan hoodie-nya, mungkin ia tidak akan merasa segerah ini di tengah-tengah panasnya terik matahari.


Kenzo menghentikan langkah kakinya sesaat ketika tubuhnya telah sampai tepat di depan sebuah gerbang universitas yang pintunya masih terbuka lebar. Dengan banyaknya mahasiswa maupun mahasiswi yang tampak berkeliaran keluar masuk melewati gerbang universitas tersebut, Kenzo cukup yakin bahwa Wanda juga tengah berada di dalam kampus itu.


Tak ingin membuang-buang lebih banyak waktu, Kenzo lantas merogoh saku hoodie untuk mengambil ponselnya. Setelah ponsel tersebut kini berada di tangannya, cowok itu langsung membuka aplikasi telepon untuk mencoba menghubungi Wanda.


Namun, belum sempat cowok itu menghubungi Wanda, lagi dan lagi panggilan dari sang mami masuk ke ponselnya. Dengan cepat tanpa ragu, Kenzo menolak panggilan tersebut dan memilih untuk segera menghubungi Wanda, namun menggunakan nomor telepon yang berbeda.


Kenzo cukup tahu bahwa gadis itu pasti tidak akan mengangkat teleponnya jika ia menghubunginya melalui nomor biasa. Maka dari itu, sebelum Kenzo memutuskan untuk mencari Wanda tadi, ia memilih untuk mampir terlebih dahulu ke sebuah konter terdekat.


Kenzo mulai mengangkat ponsel tersebut dan menempelkannya pada salah satu daun telingnya. Panggilan tersebut mulai terdengar berdering, dan Kenzo memutuskan untuk menunggu sedikit lebih lama lagi.


Tepat ketika dering ketiga mulai terdengar, panggilan tersebut pun akhirnya mulai diangkat dari seberang sana. Nada suara lembut yang selama beberapa hari ini hampir ia lupakan, mulai dapat kembali ia dengar dengan cukup jelas.


"Halo? Ini siapa, ya?" Panggilan dari seberang telepon itu kembali terdengar. Sontak langsung menyadarkan Kenzo dari lamunan singkatnya.


Sebelum Kenzo mulai membalas panggilan tersebut, cowok itu mencoba menelan ludahnya susah payah dengan tangannya yang lain yang tidak menggenggam apa pun terkepal kuat sampai menimbulkan bunyi.


"Halo? Salah sambung, ya? Kalau begi-"


"Bukan salah sambung. Ini gue. Gue kasih waktu selama satu menit, lo harus udah nemuin gue di depan gerbang kampus lo! Itu pun kalau lo gak mau menyesal, jika suatu saat gue pergi tanpa pamit."


^^^To be continue....^^^


Ciee updatenya gak smpe seminggu ciee😆


Ada yg bisa tebak, lnjtnya bkl kyk gimna?🤭

__ADS_1


__ADS_2