Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 5


__ADS_3

Pagi harinya, Kenzo turun dari tangga rumahnya dengan keadaan tergesa-gesa. Raut wajahnya tampak tegang, kala ingatannya kembali melayang pada jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 6 lewat 40 menit, tepat ketika dirinya terbangun dari tidurnya.


Sial. Kenzo sepertinya akan terlambat lagi seperti kemarin. Dan pasti dirinya akan kembali dihukum oleh Pak Ucup, dan mungkin saja hukumannya nanti tidak akan seringan hukuman kemarin.


"Perasaan tadi malem gue gak gadang, deh!" Gerutunya, seraya melangkah cepat memasuki ruang makan, lalu bergegas membuka penutup saji yang berada di atas meja makan.


Namun, sebuah pemandangan yang membuat Kenzo syok luar biasa adalah, meja makan kosong. Tidak ada nasi, atau bahkan roti di dalamnya.


Sial. Apa maminya belum menyiapkan sarapan?


Sebal dengan kesialannya di pagi hari, Kenzo mengacak tatanan rambutnya menjadi acak-acakan.


Cowok itu lalu berdesis seraya meneriakkan salah satu nama, "Bibiiii!!!"


"Iya, Den!" Suara sahutan cempreng yang Kenzo yakini berada di halaman belakang rumah, terdengar membalas teriakannya.


"Bibiiii, cepetan ke siniiii!!!" Teriaknya.


Namun, bukan hanya si Bibi yang diteriaki Kenzo yang datang menghampirinya. Tetapi juga, Chelsea dan Kenan yang masih mengenakan piyama tidur ikut menghampiri cowok itu.


"Kenapa? Ada apa? Kebakaran, hah? Di mana?" Chelsea panik, yang langsung ditenangkan suaminya, Kenan.


"Enggak ada kebakaran, Mih," ucap Kenan. Membuat Chelsea spontan mengembuskan napasnya lega.


"Terus kalo gak ada kebakaran, kenapa kamu teriak-teriak, sih? Bikin Mami takut aja!"


Kenzo menghela napasnya, "Kenzo kesiangan, Mih! Kenzo laper, tapi pas diliat meja makannya masih kosong,"


Kenan dan Chelsea ikut menghela napas mereka seraya geleng-geleng kepala atas tindakan putra mereka.


"Kesiangan kamu bilang?" Gini giliran Kenan yang bertanya. Kenzo mengangguk mantap.


"Ini baru jam setengah tujuh pagi. Apanya yang kesiangan? Bukannya sekolah masuk jam setengah delapan?" Tanya Kenan, geleng-geleng kepala. Sepasang kakinya lalu melangkah mengitari meja makan, dan menjatuhkan dirinya di atas salah satu kursi makan.


Kenzo terdiam. Mencoba mercerna ucapan sang papi yang mengatakan kalau saat ini baru pukul setengah tujuh pagi.


Tunggu! Apa?!


"Setengah tujuh? Bukannya jam setengah delapan?!" Pekik Kenzo. Seseorang di belakangnya lantas memukul cukup keras bahu cowok itu.


"Setengah delapan your eyes! Noh, liat jam di hp! Hp lo masih berfungsi, kan?" Kanza berucap ngegas, seraya mendudukkan dirinya di salah satu kursi makan yang selalu menjadi tempatnya.


Tidak ingin membuang waktu, Kenzo meraih saku seragam celananya dan merogoh ponselnya di sana.


Dan benar saja ketika Kenzo membuka ponselnya, pukul 06.35 tertera di layar teratas ponselnya. Kenzo menganga.


Sialan! Kenzo ditipu oleh jam dindingnya! Dasar jam dinding gak ada akhlak! Nyusahin aja bisanya!


"Si anj*r, baru jam segini!? Terus kenapa jam dinding di kamar gue barusan ngeliatinnya jam setengah delapan, si?" Gerutunya. Membuat Kenan yang sedang menyeruput kopinya dibuat geleng-geleng kepala.


"Rusak kali!" Timpal Chelsea. Wanita cantik yang menjadi ibu kandung Kanza dan Kenzo.


"Baterai jamnya udah abis mungkin," Kanza ikut menimpali dengan fokus gadis itu yang tertuju pada layar ponselnya.


"Den Kenzo. Tadi teh Aden manggil saya, ada apa ya?" Bi Asih. Salah satu pembantu di kediaman Kenan, bertanya linglung pada tuan mudanya.


Sedari tadi, Bi Asih hanya memerhatikan interaksi para majikannya yang entah sedang membahas apa.


Oke. Anggap saja Bi Asih orangnya tulalit dan lemot. Namun, biarpun begitu, dia orangnya baik, kok. Masakannya juga enak. Dan pekerjaannya juga bagus.


"Gak jadi, Bi!"


Dongkol dengan apa yang terjadi di pagi ini, Kenzo memutuskan untuk ikut bergabung di meja makan bersama papi dan Kanza, kembarannya.


Oh, jangan lupakan raut wajah merengut sebal yang terpampang jelas di wajah tampan cowok itu.


"Nih, ngemil roti dulu sebelum sarapan nasi. Mami sama Bi Asih mau masak dulu." Chelsea memberikan beberapa lembar roti tawar dengan selai berry, yang disambut antusias oleh Kanza dan juga Kenan.


Kenzo? Tidak! Cowok itu terlihat masih sama seperti sebelumnya.


"Mau masak apa, Mih?" Tanya sang suami, Kenan.


"Em, ayam goreng?"


"Good!" Kanza menyahut, membuat Chelsea spontan terkekeh.


"Oke. Tunggu ya! Gak lama, kok." Ujar Chelsea. Bertepatan dengan Kenzo yang tiba-tiba saja bangkit dari kursinya.


"Lho! Mau ke mana kamu?" Sahut Kenan. Bukannya menjawab, cowok itu malah menghela napasnya seraya memakai blazer biru dongker yang menjadi ciri khas SMA Naruna.


"Berangkat." Balasnya pelan.


"Gak makan dulu? Nanti lapar lho, Sayang?" Maminya ikut bertanya.


"Enggak. Nanti aja di kantin." Balas Kenzo lagi, seraya berjalan meninggalkan meja makan.


"Gak mau bareng Kanza?" Chelsea menyahut cukup keras, sehingga membuat langkah kaki Kenzo seketika berhenti, kemudian berbalik.


"Bareng?" Beonya. Lalu tatapan Kenzo beralih menatap pada Kanza yang juga sedang menatapnya.


"Ooh. Lo mulai sekolah lagi? Pantesan pagi-pagi udah rapi," gerutu Kenzo.


Kenan, Chelsea dan Kanza, spontan saling tatap dengan tatapan kebingungan.


"Iya, makanya bareng-" belum sempat Chelsea menyelesaikan ucapannya, cowok itu malah melenggang pergi sembari berkata,


"Duluan, dah...."


Kenan, Chelsea dan Kanza, kembali saling tatap dengan tatapan keheranan.

__ADS_1


"Tuh, cowok kenapa, sih?" Kanza mendumel.


"Ya udah, gak pa-pa. Kanza berangkatnya bareng Papi aja," Kenan berucap, membuat Kanza spontan menghela napas.


"Iya. Kembaran kamu gajenya kumat," timpal Chelsea. Seraya menyibukkan diri memasak bersama Bi Asih.


...****...


"Tumben gak telat?" Ucapan menyebalkan yang sangat Kenzo hafal dari jenis suaranya, terdengar memasuki telinganya.


Pemilik suara itu adalah, Pak Ucup. Wali kelasnya di kelas XI IPS 4. Seperti biasa, guru bertampang garang itu selalu siap sedia menjaga pintu gerbang bersama satpam sekolah untuk menginterogasi murid-muridnya yang melanggar aturan dari segi pakaian, kelengkapan atribut dan lain sebagainya.


Bukan. Beliau bukan guru BK! Namun, entah kenapa kepala sekolah selalu melibatkan Pak Ucup yang notabene adalah seorang wali kelas.


Katanya sih, banyak murid-murid bandel yang langsung nurut kalau ditegur sama Pak Ucup, ketimbang ditegur oleh guru BK.


Lha, terus? Kenapa Pak Ucup gak dijadikan guru BK aja?


Alasannya karena beliau sendiri yang bilang, bahwa; "Saya lebih suka mengajar daripada menghukum murid-murid."


Lha, lebih suka mengajar daripada menghukum katanya?


Hilih. Palsu!


Orang dia mah setiap kali ngajar aja suka marah-marah, menghukum sana-sini yang gak bisa-bisa belajar Matematika.


Oke. Lupain. Kembali ke alur.


Kenzo tidak berniat menyahut atau bahkan mengoceh seperti biasa pada Pak Ucup. Dia memilih diam ketika telah turun dari dalam mobilnya yang kali ini tanpa penutup atas.


"KENNZOOOOO!!!!" teriakan nyaring sekaligus melengking dari kejauhan, sontak membuat semua siswa yang berada di parkiran termasuk Kenzo yang diteriaki, berjengit sampai memaki kesal.


"Hi, babe!!!" Dan, yah. Monika dengan tampang centil, sok cantik, dan berbagai sikap manja lainnya, memeluk sebelah lengan Kenzo.


Respon Kenzo? Dia hanya terkekeh seraya membalas pelukan erat di lengannya yang dipeluk oleh Monika. Membuat gadis itu spontan bahagia luar biasa.


Sedangkan diluaran sana, banyak siswi-siswi yang tidak rela ketika menyaksikan adegan romantis antara Kenzo dan juga Monika, si gadis centil itu.


"Pagi-pagi udah main peluk-peluk aja." Azka yang memang baru tiba dan turun dari mobilnya, menyeletuk.


Gadis itu yang tidak terima dikatai seperti itu pun menyanggah. "Terserah gue dong! Pacar, pacar gue!" Ucapnya lantang.


Gadis itu lantas semakin lengket pada Kenzo. Entah mereka benar-benar pacaran atau tidak, kita tanyakan langsung saja pada Kenzo.


Karena apa? Banyak cewek-cewek terdahulu yang juga dekat dengan Kenzo seperti si Monika ini, mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah pacar seorang Kenzo.


"Pacar lo, Zo?" Juna yang entah sejak kapan berada di sebelah Azka, bertanya.


"Bukan. Biasa, temen." Balas Kenzo santai, yang membuat Monika mencebikkan bibirnya sok imut.


"Iya, temen. Tapi lama-lama pacar, kaaaannn," balas Monika, menuntut. Sedangkan Kenzo? Dia hanya terkekeh seraya tersenyum penuh makna.


"Babe, anterin aku ke kelas, yuuukkk! Pleaseee, yah, mau yah?" Monika menarik-narik blazer yang dikenakan Kenzo sembari memerlihatkan jurus puppy eyes.


Sementara Kenzo hanya tersenyum, namun tangannya seberusaha mungkin untuk melepaskan tarikan tangan cewek itu yang menurutnya begitu kuat.


Bisa rusak seragam gue, batin Kenzo.


"Ke kantin aja, gimana? Aku belum makan soalnya," kata Kenzo. Membuat beberapa temannya yang terdiri dari Azka, Juna dan dua temannya yang lain yang baru sana tiba, Alex dan Rio, mengernyit jijik.


"Oh, ya? Kamu belum sarapan?" Monika merespon heboh. Kedua tangannya beralih meraba-raba wajah Kenzo, modus.


Kenzo mengangguk. "Ya udah, nanti aku suapin ya," ucap Monika. Lantas setelahnya, gadis itu menarik lengan Kenzo untuk segera menuju kantin sekolah.


Azka, Juna, Alex dan Rio, dibuat menganga dengan tatapan yang masih tertuju pada kedua punggung milik Kenzo dan Monika yang perlahan mulai menjauh.


"Gila ini mah!" Juna menggerutu.


"Main nyosor aja dia," Rio berdecak di akhir kalimatnya.


"Sama cewek centil modelan begitu aja mau," kini Alex yang berkata.


"Ya udahlah. Biarin aja. Si Kenzo kan emang gitu," Azka berujar yang membuat teman-temannya yang lain mengangguk setuju.


"Ke kelas?" Tawar Alex pada teman-temannya.


"Yo'i!" Balas Juna, Azka dan Rio, kompak.


"Si Haykal?" Kini Azka yang berucap. Membuat langkah keempatnya seketika berhenti sejenak.


"Alahh, dia mah si Rajanya Telat! Udah biarin aja," balas Juna yang diangguki Rio. "Betul, tuh. Udah ke kelas aja." Kata Rio, yang spontan mendapat jitakan kecil dari ketiga temannya.


"Modus lo! Pengen ketemu Alma, ye kan? Secara kan, ya. Neng Alma itu kan anaknya rajin, pinter, can-" Juna menggantungkan kalimatnya, ketika netranya tidak sengaja melirik pada Rio yang terlihat sedang menatapnya datar dengan satu alisnya yang terangkat.


"Can- gimana? Kok gak diterusin, Jun?" Tanya Rio. Mode garang, on.


Bukannya menjawab, Juna malah cengengesan yang membuat Alex dan Azka tertawa lepas. Lalu kedua cowok itu merangkul bahu Juna dan Rio secara jantan.


"Udahlah, gak usah diperpanjang. Becanda kali, Yo! Emang dasarnya aja si Juna orangnya ngeselin," timpal Azka. Mode garang Rio kembali off, setelah mendengar penuturan Azka.


"Bener, tuh. Udah, mending kita ke kelas. Ntar Pak Ucup ngamuk kek waktu kemaren." Ujar Alex. Keempatnya pun sepakat menuju kelas.


"Ho'oh. Si Kenzo yang salah, satu kelas kena amuk! Kan sialan," timpal Azka. Keempatnya lantas tertawa.


...****...


"Babeeee, katanya kamu belum makan. Kok makanannya gak dimakan, siihh? Aku yang suapin gak mauuu... kamu tuh maunya gimanaaa," Kenzo berdecak kesal sekaligus jengkel.


Ocehan Monika yang sedari tadi tak pernah berhenti, membuat Kenzo pusing luar biasa.

__ADS_1


Oke. Kenzo menyerah demi apa pun. Sumpah, deh!


Cewek bernama Monika ini selain bawel dan cerewet, dia juga centil plus manjanya minta ampun. Minta inilah, itulah. Haduh. Dasar cewek.


"Aku su-" ucapan cewek itu terpotong kala suara bel tanda masuk kelas berbunyi. Senyum bahagia di wajah Kenzo lantas terbit saat itu juga.


Dengan tergesa, Kenzo bangkit dari bangku kantin hendak pergi meninggalkan Monika. Namun, sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk pamit terlebih dahulu. Ehm, biasa. Modus!


"Udah bel. Gue duluan, bye." Pamitnya. Spontan membuat Monika menganga seraya menatap nanar punggung tegap Kenzo yang semakin menjauh darinya.


"IIIHHH!!! KOK GUE DITINGGAL SIHH??? KEENZOOOO!!!" Pekik Monika, seraya mencak-mencak di tempat.


...****...


Kenzo mengembuskan napasnya yang cukup berat ketika dirinya telah berhasil menjauh dari cewek bernama Monika.


Cowok itu lantas melenggang santai memasuki ruang kelasnya yang terbilang masih ramai, karena Pak Ucup yang memang masih belum masuk kelas.


"Cieee... Monika, cieee..." Juna dan Azka yang memang tipikal cowok bawel, berseloroh, tepat ketika Kenzo mulai melangkah menuju tempat duduknya.


Fokus semua murid kelas XI IPS 4 yang awalnya sibuk dengan kesibukan masing-masing, perlahan mulai mengalihkan fokus mereka pada Kenzo.


"Berisik lo pada!" Sentak Kenzo, tepat ketika cowok itu telah menduduki kursinya.


Juna, Azka, Rio dan Haykal, tertawa. Sedangkan Alex? Cowok itu sibuk mengerjakan PR yang katanya belum sempat dia kerjakan semalam.


Tumben, memang. Biasanya juga, cowok itu selalu mengerjakan PR di rumah. Bukan di sekolah seperti saat ini.


"Udah, Lex! Jangan ngerjain PR mulu! Jangan rajin-rajin amat, napa! Ntar juga dilulusin," Haykal manyeletuk. Namun, tak sedikitpun membuat Alex gentar untuk mengerjakan tugasnya.


"Sembarangan, lo! Alex anak baik. Ya kali gak ngerjain tugas! Ya kan, Lex?" Azka menyahut.


"Ya, elo mah orkay! Pinter gak pinter pun lulus, asal ada pulus!" Kata Juna. Membuat Rio dan Alex terkekeh.


"Nah, ituuu..."


"Mending lo jadiin Alex panutan lo, deh. Biar otak lo tuh gak sering loading sama mikirin contekan soal mulu. Kali-kali kek mikir sandiri," Kenzo ikut nimbrung yang ditujukan pada Haykal.


"Aakh, males gue. Kalo ada kunci jawaban gratis, ngapain susah-susah!?" Ujar Haykal, enteng. Kenzo, Juna, Rio dan Azka, termasuk Alex, hanya terkekeh seraya geleng-geleng kepala.


"Ekhem." Bunyi dehaman yang terdengar cukup nyaring, membuat seisi kelas yang semula ricuh, menjadi hening seketika.


Murid-murid pun mulai membenarkan posisi duduk mereka, ketika Pak Ucup dengan tampang garangnya, memasuki ruang kelas dengan tatapan yang mengarah pada Kenzo and the gang.


"Tumben, gak bikin ulah?" Pertanyaan nyeleneh dari Pak Ucup, tentu saja mengarah pada satu orang.


Siapa lagi kalau bukan Kenzo?


"Bikin ulah, salah. Gak bikin ulah, salah juga. Lha, terus saya harus gimana biar Bapak seneng?" Balas Kenzo, gemas.


Seisi kelas langsung tertawa ngakak. Namun, tawa mereka harus mereda, ketika sepasang mata nyalang milik Pak Ucup mengintimidasi murid-muridnya.


"Apa yang lucu?" Pak Ucup berteriak sembari memelotot garang.


"Ketawa aja kalian bisanya," Pak Ucup menduduki kursi guru, seraya membenarkan tata letak kacamatanya.


"Permisi. Ini benar kelas XI IPS 4?" Sahutan suara lembut milik seorang siswi yang berada di ambang pintu masuk kelas XI IPS 4, mengalihkan fokus seluruh murid. Tak terkecuali dengan Pak Ucup dan geng Kenzo.


Dan, seorang gadis dengan postur tubuh tinggi, berkulit putih dengan rambut panjang bergelombang yang diurai indah, dan raut wajah malu-malunya, membuat semua murid terlebih murid lelaki, memelotot seraya menelan ludah mereka.


"Gilaak! Siapa nih? Cantik amat!"


"Woy! Ini nih murid barunya?"


"Ya Allah Ya Rabb, bidadari ini mah!"


"Yah, kirain murid barunya cowok,"


"Jadi, ini beneran murid barunya?"


"Cantik, woy!"


"Wuitwiw!!! Minta no WA nya dong, Cantik!"


Dan masih banyak lagi respon nyeleneh sekaligus heboh dari murid-murid kelas XI IPS 4 yang membuat siswi yang tak lain adalah murid baru di kelas itu merasa kurang nyaman.


"Zo! Cantik, Zo!" Juna yang sedari tadi tak bisa berpaling pada wajah cantik yang katanya si siswi baru itu, menoel bahu Kenzo.


Sedangkan Kenzo? Dia memelotot dengan mulut yang terbuka lebar. Mendapati kenyataan bahwa murid baru di kelas mereka adalah,


"Lo!" Kenzo memekik, membuat perhatian seluruh murid, beralih pada cowok itu.


Tak ayal, bahkan si siswi baru itu juga menolehkan kepalanya, sehingga sepasang bola mata cantiknya, saling bersitatap dengan Kenzo.


"Hah? Ke-kenzo?" Pekik gadis itu. Semua murid termasuk Pak Ucup dibuat keheranan setengah mati.


"Lo ngapain ke kelas gue, Za!?"


Dan, yah. Siswi baru itu adalah Kanza.


Semua murid bertanya-tanya, tak terkecuali dengan teman-teman Kenzo yang pada saat ini tengah memberondong dirinya dengan berbagai pertanyaan.


"Lo kenal?" Azka menoleh pada Kenzo. Sedangkan yang ditanya tidak menjawab.


Cowok itu masih setia memelotot tidak percaya pada si siswi baru yang tak lain adalah Kanza. Kembarannya.


Sial. Jangan sampe temen-temen gue tau, kalo gue punya kembaran. Kenzo membatin.


Lain dengan Kanza yang juga ikut terkejut dengan kenyataan yang ternyata, dirinya ditempatkan dalam satu kelas dengan Kenzo.

__ADS_1


KENAPA HARUS SEKELAS, SIIHHHH!!! batin Kanza memekik.


^^^To be continue...^^^


__ADS_2