Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 29


__ADS_3

"Mon! Lo mau ke mana?" Sahut Dayana, ketika gadis itu tidak sengaja melihat gerak-gerik Monika yang terburu-buru berjalan menuruni tangga kelas.


"Hah? Gue mau nyamperin Kenzo, lah! Udah hampir beberapa hari ini dia susah banget gue temuin! Gue nyari ke kelasnya, gak pernah ada. Nyari ke kantin, juga gak ada. Gak tahu dia ngumpetnya di mana! Gak tahu apa kalau gue kangen sama dia!" Monika berdecak di akhir ucapannya. Sementara Dayana hanya mengangguk merespon ucapan gadis itu.


"Ya udah, barengan! Gue tebak, dia lagi ada di parkiran!" Perkataan Dayana, sukses membuat raut wajah Monika seketika ceria.


"Ya udah, Ayok!" Monika langsung menarik lengan Dayana dan membuat gadis itu berlari mengikuti langkah Monika.


"Eh, eh! Pelan-pelan, Mon, entar jatuh!"


"Gak akan! Pokoknya, gue gak mau ketinggalan! Lo bilang Kenzo lagi di parkiran, kan? Kita lihat, apa dia beneran di sana!?" Perkataan Monika, sukses membuat Dayana sedikit gelagapan.


"Yaa, itu kan, cuma perkiraan gue! Soalnya tadi dia pas ngelewatin kelas kita kek terakhir gitu!"


"Tuh, berarti perkiraan lo kurang lebih bener!" Kukuh Monika, membuat Dayana menghela napasnya pasrah.


Terserahlah!


Sampai ketika kedua gadis itu telah sepenuhnya menuruni tangga, Monika langsung berlari secepat kilat menuju parkiran sekolah meninggalkan Dayana.


Dayana yang ditinggal begitu saja oleh Monika tentu saja kesal. Pikirnya, kenapa juga dirinya harus mengatakan hal semacam tadi pada Monika?


"MONIIIKKK!!! Tungguin dooong!" Dayana mulai berlari mengejar Monika.


Walaupun Dayana sedikit jengkel dengan Monika, tetapi ia masih merasa bahwa Monika masih dapat ia manfaatkan. Jadi, Dayana harus sedikit tahan walaupun rasa-rasanya ingin sekali meledak.


"Woi! Kenapa berhenti di sini? Parkiran masih di sana!" Dayana menepuk pelan bahu Monika. Gadis itu terlihat sedikit ngos-ngosan karena berlari.


Menyadari Monika yang tidak bereaksi apa pun, sontak Dayana melirik gadis itu dari samping. Raut wajahnya yang semula baik-baik saja, kini terlihat masam dengan sorot matanya yang mengkilat.


"Mon! Lo kenap—" Dayana menghentikan ucapannya, ketika ia tidak sengaja menatap ke arah mana tatapan Monika mengarah.


Kini giliran Dayana yang mengubah raut wajahnya. Gadis itu menatap jijik sekaligus benci ke arah sepasang remaja yang tampak begitu akrab di parkiran sekolah yang tak lain adalah Kanza dan Kenzo.


Menyaksikan adegan yang cukup membuat siapa saja salah paham, membuat Monika mengepal kuat kedua tangannya.


Tidak dengan Dayana yang mengeluarkan ponselnya dan mulai mengambil video dan memotret mereka berdua. Senyum sinis gadis itu tampilkan, namun tidak berlangsung cukup lama, raut wajahnya sudah berubah menjadi biasa saja.


"Bener-bener, ya, Si Kanza! Belum juga sehari dia pacaran sama Alex, sekarang malah godain Kenzo! Dasar Cewek Jal*ng!" Dayana sengaja mengucapkan kata-kata itu untuk mengompori Monika.


Lihat saja sekarang, gadis itu sudah mulai tersulut emosi. Dadanya terlihat naik-turun dengan deru napas yang mulai tidak beraturan.


Bagus! Rencana pertama, berhasil!


"Ekhem. Gimana kalau—"


"Gue labrak tuh cewek!" Monika menyela ucapan Dayana.


Melihat Monika yang mulai berjalan hendak menghampiri Kanza dan juga Kenzo, membuat Dayana sedikit panik!


Gadis itu refleks menarik tangan Monika untuk mencegahnya melakukan suatu hal yang mungkin akan menghancurkan rencana Dayana.


"Lepas! Gue mau labrak dia!" Monika memekik seraya berusaha terlepas dari Dayana. Sayangnya, Dayana tidak akan membiarkan gadis ini menjalankan keinginannya.


"Jangan! Daripada lo labrak dia sekarang, yang bakal disalahin nanti adalah lo! Gak lihat di sana ada si Kenzo? Lo pikir dia bakal ngebela lo? Enggak! Justru dia bakal semakin benci karena lo berani labrak si Kanza di depan si Kenzo!" Perkataan panjang lebar Dayana membuat Monika terdiam.


Sepertinya, ucapan Dayana ada benarnya juga!


Monika lantas menepis kuat cekalan Dayana. Tatapan gadis itu kemudian beralih menatap Dayana dengan sorot menuntut.


"Terus, apa rencana lo?"


Sebelah sudut bibit Dayana terangkat sehingga membentuk sebuah senyuman sinis. "Ada. Lo tenang aja, gue udah punya rencana. Serahin semuanya ke gue." Ucap Dayana, sontak dibalas senyuman licik dari Monika.


"Oke. Gue serahin semuanya sama lo."


...****...


"Inget, ya! Entar kalau Mami nanya, lo harus jawab kalau lo sendiri yang gak mau ke berangkat plus pulang sekolah bareng gue! Okeh?" Entah untuk yang keberapa kali, Kenzo terus mengatakan hal yang serupa di sela langkah kakinya.


Kanza yang berjalan lebih dulu dibandingkan dengan cowok itu tentu saja dibuat kesal. Sedari tadi kembarannya yang satu ini terus saja bicara itu dan itu entah untuk yang keberapapuluh kali. Kanza bahkan sudah jengah dan masa bodo oleh Kenzo.


"Za! Lo denger omongan gue, kan?" Sahut Kenzo. Spontan membuat langkah kaki Kanza berhenti, kemudian berbalik menatap sinis cowok itu.


"Zo, lo mau gue kurbanin?"


Kenzo menaikkan salah satu alisnya, seraya berpikir. "Maksud?"


Kanza menarik napasnya cukup dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. "Lo kalau ngomong cukup sekali pun gue udah paham. Serius, deh! Seriburius kalau bisa!" Ucap Kanza.


Kenzo melangkahkan kakinya sedikit mendekat ke hadapan kembarannya. "Terus? Hubungannya sama kurban apa?" Pertanyaan Kenzo membuat Kanza sedikit gelagapan.


Iya juga, ya?!


"I-iya pokoknya, lo tuh nyebelin! Lo gak perlu ngomong hal yang sama sampe berkali-kali! Berisik tahu, gak!" Kanza mendengus diakhir kalimat yang ia utarakan.


"Seberapa nyebelinnya gue menurut lo?" Tanya Kenzo.


Kanza terkekeh sembari melipat kedua tangannya. Tatapan matanya pun kini beralih menatap kedua bola mata Kenzo. Menatapnya dengan sorot datar tanpa ekspresi.


"Lo pikir aja sendiri— Aaw!" Kanza memekik dengan cukup keras, ketika Kenzo dengan jailnya mengucek rambutnya yang tergerai panjang, sampai membuatnya terlihat begitu acak-acakan.


"KEENZOOOO!!! LO NYEBELIN BANGET, SIH, JADI ORANG? LO MAU KENA KARMA, HAH? SINI LO! GUE GAK AKAN AMPUNIN LO!" Kanza hendak mengejar Kenzo, namun cowok itu sudah lebih dulu ngacir masuk ke dalam mobil.


"KENZO! Ish!" Kini gadis itu ikut memasuki mobil milik kembarannya di bagian samping kemudi.


Kanza sudah hampir kembali memekik keras, namun terurung ketika Kenzo dengan cukup cekatan menyumpal mulut Kanza dengan gulungan tisu.


Melihat Kanza yang berusaha mengeluarkan gulungan kertas tisu itu dari mulutnya, sontak Kenzo tertawa menggelegar di dalam mobil. Ia merasa sangat puas melihat kembarannya yang terlihat menderita karena ulahnya.


"KENZOOO!!! GUE BILANGIN MAMI, TAHU RASA LO!" Pekik Kanza, refleks membuat Kenzo menutup kedu telinganya, namun mulutnya masih bisa tertawa.


"Asiaaappp! Gue tunggu saat-saat itu." Balas Kenzo, kemudian menjalankan mobilnya sampai keluar dari area sekolah.


...****...


Tidak seperti kelas-kelas lain yang sudah pada pulang sekitar sepuluh menit yang lalu, kelas XII IPA 3, kelasnya Bianca, baru saja membereskan ruang komputer setelah sebelumnya mereka melakukan simulasi untuk persiapan ujian mendatang.


Bianca dan anak-anak lain mulai mengantre keluar dari dalam ruang komputer. Semua anak-anak mulai mengeluh karena jam pulang mereka lebih lambat dari biasanya.


"Eh! Kok, perut gue tiba-tiba sakit, ya?" Rani, siswi yang berjalan di samping Bianca tampak menghentikan langkah kakinya seraya memeluk area perutnya.


"Kenapa?" Tanya Bianca. Rani menggelengkan kepalanya dengan raut wajahnya yang mulai memucat.


"Gitu aja lebay!" Agnes menyela seraya menubruk bahu Rani, sampai membuatnya hampir saja terjatuh, jika bukan karena Bianca yang dengan cepat menahan gadis itu.


"Apaan, sih, si Agnes! Sewot aja jadi orang! Eh, by the way, makasih, ya, Bi! Kalau bukan karena lo, mungkin tadi gue udah jatuh," ucapan Rani dibalas senyum tipis oleh Bianca.


"Perut lo masih sakit?" Tanya Bianca lagi. Gadis itu terlihat meraba-raba perutnya sebentar.

__ADS_1


"Gak terlalu, sih. Eh! Kok...? Bi, lo bisa anter gue bentar ke toilet, gak?" Rani terlihat mulai panik.


Bianca yang melihatnya pun ikut panik. "Lo kenapa? Masih sakit?"


Rani menggelengkan kepalanya, kemudian berjalan mendekat ke arah Bianca seraya membisikkan sesuatu kepada gadis itu. "Kayaknya gue datang bulan." Ucapnya, kemudian menjauhkan diri dari Bianca.


"Ooh, lo—" perkataan Bianca langsung disela Rani. Gadis itu berusaha mengode Bianca agar tidak bicara sembarangan.


"Anter gue ke toilet, yah! Pleasee..." Mohon Rani, mau tidak mau, Bianca pun mengangguk mengiyakan.


Sebenarnya, Rani bukanlah sahabat Bianca. Mereka tidak dekat, hanya sebatas teman sekelas saja. Namun, di dalam kelas Bianca selalu akur dengan siapa pun walaupun jarang bergabung. Hanya dengan gengnya Agnes, Bianca tidak pernah bisa akur.


Back to topic. Sesampainya Bianca dan Rani di dalam bilik toilet perempuan, Rani sudah mulai melepas tas miliknya dan menggantungnya di beberapa paku yang berada di dalam toilet.


"Lo jangan tinggalin gue, ya! Tungguin pokoknya, gue gak mau tahu!"


Bianca mendengus pasrah mendengar ucapan Rani. Gadis itu hanya mengangguk tanpa berbicara lagi.


Omong-omong soal datang bulan, kapan kali terakhir Bianca datang bulan?


"Shhh... Baru juga dipikirin, perut gue udah kek— Bentar! Kok, rasanya— huwek!" Bianca spontan berlari memasuki bilik kamar mandi lain. Mulutnya pun tidak berhenti memuntahkan isi perutnya yang bahkan hanya keluar cairan putih.


Setelah hampir cukup lama Bianca memuntahkan isi perutnya, gadis itu mulai membasuh mulut serta wajahnya dengan air. Napasnya mulai memburu dengan wajahnya yang terlihat memucat.


"Kenapa gue tiba-tiba mual? Apa tadi pagi gue salah makan?" Bianca mengurut keningnya yang terasa begitu pening.


Tak lama kemudian, gadis itu kembali memuntahkan isi perutnya, namun tidak berlangsung lama seperti tadi.


"Perasaan, tadi pagi gue gak makan apa-apa? Jangan-jangan mag gue kumat lagi?" Bianca terus bermonolog. Sebelah tangan gadis itu tanpa ia sadari sedang mengelus perutnya sendiri.


Tiba-tiba saja Bianca teringat sesuatu. Kalau dirinya tidak salah hitung, dua minggu yang lalu Bianca seharusnya sudah datang bulan. Tapi, seingatnya stok pembalut di kamarnya masih baru.


Jangan-jangan...


"Enggak! Pikiran lo ngaco, Bianca! Lo jangan mikir yang aneh-aneh!" Seberusaha mungkin Bianca mengenyahkan pikiran negatifnya.


Sayangnya, pikiran negatif itu sudah lebih dulu menguasainya. Gadis itu lantas keluar dari dalam bilik toilet. Raut wajahnya berubah menjadi tegang dengan kedua telapak tangannya yang mulai bergetar dan berkeringat dingin .


Bianca lalu berjalan ke arah bilik toilet yang masih digunakan oleh Rani. Sebisa mungkin Bianca menahan rasa bergejolak di dalam hatinya, agar ketika ia berbicara nanti tidak sedikitpun dicurigai oleh Rani.


"Ran, gue balik duluan, yah! Gu-gue buru-buru, daa!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Bianca lalu berlari keluar dari toilet, tanpa mengindahkan teriakan Rani di dalam sana yang memanggil-manggil namanya.


...****...


Chelsea, selaku ibu dari Si Kembar Nakal Kanza dan Kenzo, menatap penuh selidik kedua putra dan putrinya yang baru saja tiba di rumah.


Tatapan dari wanita setengah baya itu sukses membuat Kanza dan Kenzo terdiam dengan raut wajah panik terpampang jelas di wajah mereka berdua.


"Ekhem!" Chelsea sengaja berdeham keras. Kanza dan Kenzo yang tadinya hampir jengah, langsung berdiri tegap layaknya seorang anggota TNI yang tengah melangsungkan istirahat di tempat.


"Pulang sama siapa?" Chelsea menatap Kenzo dingin.


Sebelum Kenzo benar-benar menjawab ucapan sang mami, cowok itu seberusaha mungkin menelan ludahnya susah payah. Rasa-rasanya, tenggorokannya terasa begitu kering saat ini.


"Sama Kanza, Mih!"


Tatapan Chelsea kemudian beralih menatap putrinya. "Apa itu benar?"


Kini giliran Kanza yang mulai berusaha menelan ludahnya susah payah. Selain karena tenggorokannya yang juga terasa kering, Kanza juga sedikit terintimidasi oleh tatapan sang mami.


"Benar!" Kanza langsung memejam kuat kedua bola matanya setelah mengatakan kata barusan.


"Za, lo gak waras?"


"Bodo! Pokoknya, mulai dari detik ini, Kanza berangkat ke sekolah sampai pulang sekolah akan terus barengan sama Kenzo! So, please! Mami jangan kayak giniii! Kek, berasa mau perang aja!" Kanza mengutarakan segala keluhannya. Bibirnya tampak cemberut dengan tatapan matanya yang tertuju pada kedua bola mata sang mami.


"Oke. Udah janji, jangan diingkari! Ingat! Kalian ini saudara, tapi kenapa ke sekolah aja harus masing-masing? Udah kayak orang asing aja," Chelsea mendengus, kemudian bangkit dari sofa.


"Ya udah, sekarang kalian berdua cepetan mandi, gih! Bentar lagi mau sore," Ucap Chelsea, yang langsung dijawab patuh oleh Kanza dan Kenzo.


Setelah mengatakan hal itu, Chelsea langsung melenggang menuju dapur yang terletak tak begitu jauh dari ruang utama.


Kanza dan Kenzo mulai menghela napas lega. Menyadari keduanya yang selalu berbarengan ketika melakukan hal apa pun, keduanya lantas saling menatap dengan tatapan kebingungan.


Namun tak lama setelahnya, tawa keduanya tak dapat lagi mereka tahan.


"Kayaknya kita emang kembar, deh, Za!" Kenzo menaik-turunkan kedua alisnya membuat Kanza menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kan, emang iya! Gimana, sih? Otak lo korslet, ya?" Ketika Kenzo hendak membalas ucapan dari kembarannya, ponsel yang ia taruh di dalam saku blazernya berbunyi.


Langsung saja Kenzo meraih ponselnya. Ketika ponselnya dinyalakan, beberapa notifikasi pesan chat dari Wanda, sukses membuat kedua bola mata cowok itu refleks terbelalak.


Wanda


Ekhem.


Soal tawaran lo yg wktu itu msh berlaku gk?


Soalnya entar mlm gue gk ada kesibukan.


"Waseeekkk... Akhirnya trik gue berhasil juga! Eishhh, siapa dulu dong! Kenzo gituloh! Ahaay!" Kenzo bersorak ria dengan tatapan matanya yang masih terfokus pada layar ponselnya.


Melihat gerak-gerik kembarannya yang kembali seperti semula, Kanza pun memilih meninggalkan cowok itu. Pikirnya, lebih baik Kanza pergi mandi habis itu rebahan.


Bisa ikutan gila nanti Kanza, kalau masih berdiri di satu tempat yang sama dengan Kenzo.


...****...


Tepat pukul 7 malam, Bianca berdiri di dalam kamarnya yang sengaja terlihat gelap dengan sedikit cahaya remang-remang yang hanya terpancar dari lampu tidur.


Sedari beberapa saat yang lalu, ia tak henti-hentinya menatap nanar sebuah test pack yang masih terbungkus rapi yang ia taruh sembarangan di atas tempat tidurnya.


Oh, ya. Ketika sampai di rumah tadi sore, Bianca langsung memesan benda itu lewat ojek online. Dia ingin mencobanya, tapi ia takut akan hasilnya.


Pada akhirnya, Bianca mengambil test pack tersebut, kemudian berlari ke dalam kamar mandi.


Ketika ia baru saja tiba di dalam kamar mandi, gadis itu kembali merasakan perutnya yang mual-mual, sampai akhirnya Bianca kembali memuntahkan isi perutnya.


Hampir sekitar tiga menit lamanya, rasa mual itu akhirnya berhenti dengan sendirinya. Raut wajah Bianca sudah pucat pasi. Rasa-rasanya ia sudah hampir tidak sanggup untuk berdiri.


Tidak ingin lebih lama lagi di dalam kamar mandi, Bianca memutuskan untuk mencoba alat tes kehamilan itu sesegera mungkin. Berharap hasilnya adalah negatif, agar kekhawatiran Bianca selama seharian ini hanyalah kekhawatiran tanpa alasan belaka.


Tak selang berapa lama, Bianca berjalan keluar dari dalam bilik toilet di kamarnya dengan langkah tertatih-tatih. Raut wajahnya masih terlihat pucat. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengelus perutnya yang masih terasa sedikit mual. Dan sebelah tangannya yang lain ia gunakan untuk memegang alat tes kehamilan tadi.


Bianca menunggu dan menunggu. Tatapan matanya masih tidak dapat dialihkan dari benda di tangannya itu, sampai pada akhirnya, garis merah yang tadinya hanya satu, kini bertambah menjadi dua yang artinya, kemungkinan besar saat ini Bianca tengah hamil.


"Gue—" Bianca tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tubuh gadis itu yang semula berdiri, mulai merosot sampai terduduk lemas di atas lantai yang dilapisi oleh karpet berbulu.


Ia masih tidak percaya pada apa yang baru saja ia lihat di alat tersebut.

__ADS_1


"Ini gak mungkin!" Bianca berusaha meyakinkan dirinya sendiri, namun bayangan malam itu ketika dirinya dan juga Haykal melakukan hubungan terlarang di ruangan terkutuk itu membuatnya serasa tertampar habis-habisan.


Bianca kemudian mengambil ponselnya yang ia taruh di atas nakas. Nomor yang akan ia panggil saat ini tak lain adalah nomor ponselnya Haykal. Ia harus mencoba menghubungi laki-laki itu dan meminta pertanggungjawabannya seperti yang laki-laki itu sendiri katakan padanya tempo hari.


"Haykal angkat! Hiks. Lo gak boleh ninggalin gue!" Bianca mencoba menghubungi Haykal. Namun tidak ada jawaban dari laki-laki itu.


Tak ingin menyerah begitu saja, Bianca kembali mencoba menghubungi Haykal.


"Haykal, please..." Suara Bianca sudah mulai melemah. Air matanya sudah tidak dapat lagi ia bendung. Jeritan tangis tertahannya meledak saat itu juga.


Bianca menjatuhkan ponselnya ke lantai. Tatapan matanya berubah nanar. Haykal tidak menjawab teleponnya.


"Aaaakhhh!" Bianca berteriak seraya membuang test pack tadi sembarangan dan mulai memeluk tubuhnya.


Tidak ada yang memedulikannya. Tidak ada pula yang mengetahui keberadaannya. Di rumah ini jika tidak hanya dirinya sendiri, mungkin hanya kesunyian yang menemaninya.


Semuanya sudah berakhir...


...****...


Kenzo menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah yang tak lain adalah rumahnya Wanda. Cowok itu dengan pakaian casual yang didominasi oleh warna hitam tampak berjalan menghampiri pintu rumah Wanda yang tertutup rapat.


Sebelum benar-benar mengetuk pintu rumah itu, Kenzo menyempatkan diri untuk berdeham untuk menghilangkan rasa kegugupannya.


Dan ketika Kenzo hendak mengetuk pintu tersebut, seseorang dari dalam sudah mendahuluinya.


Saat pintu tersebut terbuka, tampaklah seorang wanita setengah baya yang Kenzo tebak adalah mamanya Wanda.


Demi dirinya yang super tampan ini, Kenzo sangat gugup! Ia bahkan belum menyiapkan apa pun untuk calon mertua.


Eh!


"Malem, Tante." Kenzo mencoba hal yang sederhana dahulu, yaitu menyapa dengan sopan dan senyuman.


Wanita setengah baya di hadapannya itu tampak kikuk. Ia mulai berjalan keluar dari dalam rumahnya, yang kemudian disusul oleh Wanda yang berjalan di belakang.


"Kamu...? Siapa?"


"Eh, saya—" ucapan Kenzo terjeda ketika Wanda yang baru menyadari kehadiran Kenzo menyela ucapannya.


"Eh, lo udah sampe?" Wanda tersenyum tipis, yang dibalas senyuman manis oleh Kenzo.


"Lho? Kalian udah janjian?"


Wanda yang ditanya begitu oleh sang mama hanya tersenyum simpul. "Jalan bentar ya, Ma. Enggak lama, kok! Yah? Besok, kan, weekend!" Wanda berusaha membujuk sang mama, namun raut wajah mamanya terlihat sedikit judes, apalagi ketika tatapan matanya tertuju pada Kenzo.


"Sama dia? Berdua? Kalian pacaran?" Perkataan merentet dari Mamanya Wanda, mendapat antusiasme lebih dari Kenzo. Berbeda halnya dengan Wanda yang terlihat gelagapan dan berusaha untuk menjelaskan.


"Kita enggak—"


"Do'ain aja Tante." Sela Kenzo, seraya tersenyum manis pada mamanya Wanda.


Mendengar ucapan Kenzo, Wanda refleks melotot tajam kepada cowok itu. Sedangkan Kenzo, cowok itu membalas tatapan Wanda dengan mengendikan bahu seraya mencebikkan sedikit bibirnya.


Tanpa keduanya sadari, mamanya Wanda mulai memerhatikan tingkah dan gelagat mereka berdua. Mengingatkannya akan masa mudanya dulu yang tidak jauh berbeda dengan putrinya.


"Ya sudah. Kalian boleh pergi berdua, tapi jangan lama-lama! Awas aja kalau kalian berdua berani macem-macem! Terutama kamu! Siapa nama kamu?" Mamanya Wanda menunjuk Kenzo.


Dengan senang hati, Kenzo menjawab pertanyaan dari calon mama mertuanya ini. "Kenzo, Tante."


"Ooh. Nama kamu keren juga! Ya sudah kalau begitu. Kenzo! Jagain anak Tante, ya!" Ucap Mamanya Wanda yang diakhiri dengan senyuman manis. Padahal sedari tadi, wanita setengah baya itu terlihat enggan untuk memerlihatkan ekspresinya. Cara bicaranya pun terdengar judes.


"Siap, Tante!" Kenzo semakin mengembangkan senyumannya apalagi setelah mendapatkan restu dari mamanya Wanda.


Wanda lantas menatap sosok mamanya itu yang mulai melenggang masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan sepatah kata lagi. Namun sebelum sosoknya menghilang di balik pintu, mamanya Wanda menyempatkan diri untuk meledek putrinya dengan senyuman jahil yang perdana bagi Wanda melihat senyuman itu.


"Ekhem! Mau sampe kapan berdiri di situ?" Kenzo menyahut, membuat Wanda sontak mengalihkan perhatiannya ke arah Kenzo, kemudian berjalan menghampiri cowok itu.


"Ini gue nyamperin, nih!" Ucap Wanda dengan bibirnya yang merengut sebal.


"By the way, kita beneran mau kencan, nih? Kenapa lo gak pake dress aja gituh, biar keliatan anggunnya?!"


Wanda menaikkan sebelah alisnya seraya menatap datar cowok itu. "Sorry-sorry aja, ya! Ini udah malem, ngapain gue pake dress? Yang ada entar gue malah masuk angin, lagi! Ya udah, ish, ini beneran mau jalan gak, sih? Kalau enggak jadi, gue masuk lagi, nih!"


"Eh, jangan! Jadi lah, gitu aja emosi!" Kenzo terkekeh pelan, kemudian mulai berjalan mengitari mobilnya, dan membukakan pintu mobil di samping kemudi untuk Wanda.


Tanpa Wanda sadari, ia tersenyum melihat Kenzo yang membukakan pintu mobil untuk mempersilakannya masuk. Gadis itu lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kenzo dengan sebuah senyuman yang belum luntur sama sekali.


"Silakan masuk, Mbak." Ucap Kenzo. Seketika membuat senyum di wajah Wanda luntur saat itu juga.


"Sembarangan manggil Mbak!" Wanda mencebikkan bibirnya kemudian masuk ke dalam mobil dengan perasaan dongkol sekaligus kesal.


Emang ya, gak sama kembarannya, gak sama temen-temennya, gak sama gebetannya. Kenzo selalu saja membuat mood orang di sekitarnya rusak.


"Emm... Terus, kalau bukan Mbak, lo mau dipanggil apa? Tante?" Tanya Kenzo usil. Membuat Wanda langsung menatap cowok itu garang.


"Iih! Kok, lo nyebelin banget, sih! Udah ah, gue males, mau balik ke rumah aja, Bye!" Wanda sudah hendak keluar dari dalam mobil, namun langkahnya segera dicegah oleh Kenzo yang menghalangi pintu mobil.


Ditatapnya kembali Kenzo yang menampilkan raut wajah tengilnya. Cowok itu dengan sangat menyebalkan menyengir tanpa dosa.


"Minggir! Gue mau turun!"


"Jangan dong! Iya, iya, gue minta maaf! Bercanda doang, sensi banget." Ujar Kenzo, kemudian berjalan mengitari mobilnya dan mulai masuk ke dalam mobil.


"Tujuan kita mau ke mana?" Sahut Wanda, sesaat setelah Kenzo mulai menghidupkan mesin mobilnya.


"Kalau lo maunya ke mana?"


"Emm... Gue terserah elo! Asal jangan tempat yang aneh-aneh aja." Balasan Wanda masih terdengar begitu judes di telinga Kenzo.


Kenzo tersenyum. "Oke. Gue tahu suatu tempat, dan gue jamin lo bakal suka tempat itu!"


^^^To be continue....^^^


Spoiler next episode...


"Gue suka sama lo!" Kenzo mengungkapkan perasaannya pada Wanda.


Wanda yang tadinya tengah tersenyum seraya menatap kagum pemandangan di hadapannya sontak melirik cowok itu dengan kedua bola matanya yang sedikit melebar.


"Gue cuman mau lo!" Ucap Kenzo lagi, kemudian mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Wanda. Menepis jarak antar keduanya.


Maaf, baru update!!!


But, epsnya aku panjangin jadi 3400+ kata yaa:)


mungkin besok dan seterusnya jga bklan agak telat lgi updatenya. Soalnya hari rabu besok ujian daring gaes, males bgt:( tpi kalian tenang aja, walaupun entar updatenya bklan agak lama kek eps yg ini, pastinya per epsnya bkl dipanjangin, jdi kalian walaupun cmn baca 1 eps, bkln berasa baca beberapa eps:D ywdh, sgitu dulu yaa. Jgn lupa tinggalin jejak like, comments and vote (kalau mau) gak mau, gak usah😆


Tanggal menulis: Selasa, 15 Juni 2021

__ADS_1


__ADS_2