Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 8


__ADS_3

"Ck, ini si Kenzo mau nyamperin kita ke sini aja pake lama banget. Ngapain si tuh anak?" Azka yang sudah letih berdiri, mendumel seraya melirik layar ponselnya yang menyala.


"Tahu, tuh bocah. Bikin kita nunggu lama aja," Alex yang biasanya hanya diam, kini ikut nimbrung dan menyuarakan kedongkolannya.


Memang sih, siapa juga yang mau nungguin orang di depan gerbang rumahnya segala kek begini. Apalagi, orang yang ditungguin sengeselin si Kenzo lagi.


Kesabaran itu ada batasnya. Sama seperti kesabarannya Alex.


Sebenarnya, mereka berlima bisa saja langsung nyelonong gitu aja ke rumah kediaman salah satu sahabatnya ini. Tapi karena perkataan Kenzo setahun yang lalu, yang katanya kalau mau bertamu mendadak ataupun tidak ke rumahnya, mereka harus nungguin di bawah sampai Kenzo sendiri yang nyamperin mereka, dan gak boleh masuk gitu aja.


Aneh, kan?


Alex, Azka, Juna, Haykal dan Rio, termenung sesaat dengan kesibukan diri mereka sendiri. Azka dan Juna terlihat sedang sibuk dengan layar ponsel mereka yang menampilkan deratan postingan selebgram cantik di sana.


Sedangkan Haykal, dia sedang berjongkok seraya menguap. Cowok itu terlihat sama dongkolnya dengan Alex.


Sedangkan Rio, dia sibuk menyandarkan punggungnya pada badan mobil milik Alex, beserta sang pemilik mobil yang juga ikut menyandarkan punggungnya di sana.


Sedang asyik menguap, pandangan mata Haykal tiba-tiba langsung terfokus pada seseorang dari jarak kejauhan yang sepertinya sedang asyik dengan ponsel di tangannya.


Merasa kenal dengan sosok itu, Haykal bangkit dari posisinya, lalu menepuk sebelah bahu Juna yang kebetulan baru saja berjalan melewatinya.


"Woi, woi! Itu bukannya Kanza si murid baru di kelas kita?" Alex, Azka, dan Rio yang juga mendengar penuturan Haykal, ikut menatap pada sumber yang ditunjuk cowok itu.


"Mana, mana? Wuih... kalo pake kaos lengan pendek begitu, beningnya jelas." Ujar Azka, heboh.


"Rumahnya di sini?" Itu suara Alex. Perhatian keempat cowok itu langsung beralih menatap Alex, lalu kembali fokus pada gadis yang sedang tertawa menatap layar ponsel yang tak lain adalah Kanza.


"Lha? Iya, ya. Ngapain tuh cewek jalan ke sini? Di area sini kan, cuman ada rumahnya si Kenzo." Rio ikut menyahut.


"Tanya, ah." Kata Haykal. Respon keempat sahabatnya pun hanya setuju-setuju saja. Toh, kenal juga.


"Za!" Haykal mulai berteriak meneriaki nama gadis itu.


Kanza terlihat sedikit kebingungan. Kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri. Namun, detik selanjutnya ketika kepalanya menghadap ke depan, kedua bola matanya langsung membulat hampir sempurna. Senyuman yang sebelumnya terpatri di wajah cantiknya, menghilang seketika.


Satu kata yang saat ini bersarang di dirinya. Panik!


"Sial! Ujian macam apa lagi ini, Gustiii!" gumam Kanza. Gadis itu lalu membalikkan tubuhnya hendak pergi, namun suara seseorang, membuat langkah kakinya seketika terhenti.


"KANZA!" Suara itu milik Alex. Keempat sahabat cowok itu langsung menyeru heboh.


"Lex, samperin, Lex!" Haykal menepuk pelan bahu Alex.


"Samperin, Leeex." Suara Rio, terdengar seperti tengah menggodanya.


"Kuy! Kalo gak mau lo samperin, gue ajalah yang samperin." Ujar Juna. Membuat Alex tanpa sadar berdecak. "Berisik lo pada!" Tandas Alex, lalu berjalan menghampiri Kanza yang terlihat sedang memunggungi kelimanya.


Kanza benar-benar dibuat panas dingin saat ini. Dia bingung harus bagaimana!? Kanza juga takut jika mereka nanti bertanya 'apa yang dilakukan dia di sini?!'


Secara, di area ini hanya ada satu rumah yang begitu mewah yang tak lain adalah rumahnya. Tapi, yang mereka tahu bahwa anak dari pemilik rumah itu hanya Kenzo.


Sial! Sial! Sial!


"Za! Lo kenapa?" Kanza spontan berjengit kaget, ketika tangan seseorang berhasil menepuk sebelah bahunya.


Ditatapnya, seorang cowok tampan yang terlihat keheranan menatapnya. Sedangkan Kanza, gadis itu sudah tidak bisa lagi kabur atau bahkan berkata-kata.


Selain karena takut rahasianya terbongkar, Kanza juga gugup karena dirinya harus kembali bersitatap dekat dengan cowok seganteng Alex.


Bisa-bisa khilaf gue!


"Eh, ke-kenapa?" Alex tersenyum sambil menggeleng kecil kepalanya. "Enggak. By the way, tangan lo gak pa-pa, kan?" Alex meraih sebelah tangan Kanza yang sebelumnya sempat ia cubit cukup keras saat berada di dalam toilet sekolah.


Kanza tentu saja kembali dibuat terkejut oleh cogan bernama Alex ini. Perdana, lho, tangannya ini disentuh-sentuh sama cowok! Apalagi yang modelan begini!


Gilaaa!!! Pen teriak rasanyaa!!!


"Ehm. T-tangan gue gak pa-pa, kok!" Mulai gugup, Kanza menarik tangannya dari genggaman Alex. Cowok itu terlihat menatapnya lurus, membuat Kanza salting tidak karuan.


Gilasehh!!! Ini si Kenzo dapet dari manaaaa, temen cowok seganteng Alex? Dan lagi, teman-temannya yang lain si Juna, Haykal, Rio, dan si Azka, juga pada ganteng. Ini geng khusus cogan, kah?


"Y-yaudah! Gue mau pulang. Dah!" Pamit Kanza dengan terburu-buru.


Karena langkah kakinya yang asal dan tatapan matanya yang sedang tidak fokus, langkah kakinya seketika limbung, ketika sebelah kakinya menginjak sesuatu yang cukup licin dan lembab.


Alhasil, Kanza berteriak. Tubuhnya sudah melayang ke belakang dengan tidak estetik. Kanza sudah pasrah! Dirinya akan jatuh, kan? Di hadapan cogan? Ya udahlah, pasrah aja!


Namun, ketika Kanza mulai memejamkan kuat kedua matanya, dia pikir, dia sudah tersungkur ke tanah.

__ADS_1


Tapi kok, gak sakit?


Perlahan, gadis itu mulai membuka matanya, dan suatu hal yang kembali membuatnya terkejut sampai berdebar ialah, wajah seseorang kini terlihat begitu dekat dengan wajahnya.


Raut wajahnya terlihat antara khawatir dan juga gugup. Sedangkan ekspresi wajah Kanza saat ini sudah tidak dapat lagi digambarkan.  Wajahnya memerah seperti tomat.


Dan, yah. Alex, cowok yang tadi siang satu bilik toilet dengan Kanza, kini tengah menangkap tubuhnya.


Dari depan pintu gerbang rumah mewahnya, keempat sahabat Alex yang terdiri dari, Juna, Azka, Rio dan Haykal, menganga lebar, menatap aksi romantis antara Alex dan Kanza.


"Anjay! Dia nyuri start duluan!" Juna berkedip beberapa kali, sembari menggeleng-gelengkan kepala.


"Gilak ini mah! Si Alex main nyosor aja," Azka berdecak kagum.


"Kek cocok gimana gituh," timpal Rio, seraya tersenyum kecil.


"Wah... parah si Alex!" Tambah Haykal.


Keempat cowok itu sibuk mengghibah yang tidak-tidak, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Lo gak pa-pa?" Nada suara rendah milik Alex, menjadi alarm penyadar gadis itu.


Dengan tergesa, Kanza langsung mengubah posisinya menjadi berdiri tegap. Wajahnya kembali bersemu merah tanpa dia sadari. Namun, rona merah muda di wajahnya itu telah disadari oleh Alex.


Tanpa diduga, Alex tersenyum kecil melihat raut wajah Kanza yang memerah itu. Baginya, Kanza terlihat menggemaskan kalau sedang malu-malu seperti itu.


"Sorry! Tadi gue nginjek apaan, ya?" Kanza mengalihkan fokusnya ke tanah untuk mencari objek sialan yang sempat membuatnya hampir terjatuh.


"Ekhem. Oh, ya. Lo ngapain jalan-jalan ke sini? Di area ini kan, cuman ada rumahnya si Kenzo." Tanya Alex. Seketika membuat Kanza kembali dilanda panik.


Sial! Gue harus jawab apaaaa!?


"Gueee, oh! Gue harus pulang dulu, nyokap udah nelpon! La-lain kali aja yah, ngobrolnya. Dah," Kanza langsung ngacir meninggalkan Alex yang terlihat kebingungan di tempat.


Alex tertawa kecil melihat tingkah aneh Kanza, seraya kembali melangkah menghampiri keempat sahabatnya.


...****...


"Wahh... Gilaak! Hampir aja ketahuan, huhuu... untuungggg gue pinter ngeles. Coba kalo enggak? Haduh... gak tau lagi harus gimana?!" Kanza mengembuskan napas lega seraya mengelus-elus dadanya.


Gadis itu baru saja berlari dari area rumahnya, menuju kafe yang sebelumnya sempat dia datangi.


Sial! Sial! Sial!


Jika bukan karena ada banyak panggilan tak terjawab dari Kenzo yang tidak dia sadari akibat ponselnya yang dimode silent, Kanza tidak akan mungkin memiliki ide konyol tadi, yang mengatakan bahwa dia sudah disuruh pulang oleh mamanya.


Huwaaa... baru kali ini berbohong semenegangkan itu!


"Hari terapes emang." Gumam Kanza, seraya kembali menghela napasnya.


Gadis itu sudah cukup tenang sekarang. Dia memilih memesan minuman dingin pop ice rasa alpukat pada salah satu waitress di kafe itu.


"Mohon ditunggu sebentar ya Kak, pesanannya." Ucap waitress itu dengan sopan, yang dibalas anggukan oleh Kanza.


Sepeninggalan waitress tadi, Kanza hanya sibuk menatap jalanan Ibukota yang senantiasa ramai seperti biasa.


Ting!


Bunyi notifikasi dari ponselnya, berhasil mengalihkan perhatian Kanza yang semula tengah menatap jalanan.


Diambilnya ponsel yang dia taruh di atas meja. Lalu dilanjut membuka sebuah pesan chat yang mampu membuat kedua alisnya mengerut.


MaBrother Somvlak


Gue sama temen2 gue mau nongkrong ke luar. Lo udah bisa pulang skrng


Kanza mendengus sebal setelah membaca pesan tersebut.


Sialan memang! Baru juga sampai di kafe, dirinya sudah harus kembali ke rumahnya karena Si Kenzo dan para antek-anteknya akan pergi nongkrong di luar.


"Terserah! Gue mau nongkrong dulu di kafe," Kanza mengucapkan kalimat itu seraya mengetikkannya juga di papan keyboard untuk dikirim pada Kenzo sebagai pesan balasan.


"Lo pikir lo doang yang bisa nongkrong? Gue juga bisa kali!" Lanjut Kanza, seraya menaruh kembali ponselnya.


Bertepatan dengan itu, seorang waitress memberikan sebuah nampan berisi pop ice pesanan Kanza.


"Silakan dinikmati."


"Makasih, Mbak."

__ADS_1


Setelah mendapat pop ice-nya, Kanza langsung menyeruputnya sedikit demi sedikit sembari menatap kembali jalanan Ibukota yang masih terlihat ramai.


...****...


"Eaaaa... barusan abis ngapain lo sama Kanza? ***-***?" Azka langsung menyerbu Alex yang baru saja tiba kembali di hadapan mereka.


"Jiaahh... Seorang Alex akhirnya menemukan pasangannya juga." Rio pun ikut menyeru.


"Tadinya Kanza mau gue embat, tapi karena udah di sentuh sama Akang Alek, Babang Juna ngalah aja lah!" Juna menambahi.


"Yhaa... target gue diduluin si kancil!" Haykal berucap sok sedih, yang dibalas helaan napas lelah oleh Alex.


"Berisik lo pada! Lihat adegan gitu doang rempongnya sampe kedengeran satu RT. Gimana kalo ada adegan hot?" Alex membalas godaan dari teman-temannya sedikit ngaco. Haykal, Rio, Juna, dan Azka membalas ngakak.


Mungkin, kalian para gak tahu, kalau sebenarnya Alex juga sebelas duabelas sama yang lain. Cuma ya, nih cowok kebanyakan diem, jadi aibnya gak terlalu menonjol seperti Kenzo, Haykal, dan yang lain.


Omong-omong soal Kenzo, setelah kelima cowok itu menunggu hingga berabad-abad lamanya, akhirnya orang yang dinanti-nanti kemunculannya, mulai menampakkan dirinya.


Kenzo berjalan sok cool ketika keluar dari rumah besar nan mewahnya, dengan setelan atasan berupa kaos hitam pendek yang dipadukan dengan celana jeans yang warnanya senada.


Oh, ya. Cowok itu juga menyampirkan jaket hitam di lengan kirinya.


Cowok itu tersenyum pada kelima teman-temannya tanpa merasa bersalah telah menelantarkan mereka di depan gerbang rumahnya yang terbuka lebar.


"Lama anj*r! Ngapain aja lo? Gak kasian sama kita? Kita yang tadinya udah pada wangi, sekarang malah pada bau matahari," Azka mengomel kesal, ketika sesampainya Kenzo di hadapan mereka.


"Tahu, lo, Zo! Gua bela-belain gak nerima tawaran diner dari selebram cantik, cuman buat nungguin lo selama seribu tahun!?" Juna ikut mengutarakan kedongkolannya, yang dibalas tepukan bahu pelan dari Alex, sebagai bentuk 'memberikan kesabaran'.


"Kalo bukan temen, udah kita tinggalin. Ya, gak?" Rio ikut menyahut.


Kenzo berdecak sembari menatap satu-persatu sahabatnya. "Lebay amat, sampe seribu tahun. Buruan dah, katanya mau capcus! Gua udah siap, nih. Gua lama karena baru bangun tidur kuterus mandi,"


"Tidak lupa menggosok gigi..." Juna menyanyikan lirik selanjutnya, membuat yang lainnya tertawa receh.


"Dah, dah. Capcus buruan!" Seru Haykal. Semua teman-temannya pun mulai masuk ke mobil milik Alex, dan sebagian masuk ke mobilnya Kenzo.


Mumpung papinya jam segini belum pulang, boleh dong, pinjem dulu mobilnya.


"Papih! Kenzo minjem mobilnya, yak! Gak lama kok, cuma sampe jam 12 malem." Kenzo bersuara lantang disela menghidupkan mesin mobil. Juna dan Rio yang berada satu mobil dengannya menyahut heboh.


"Siap-siap entar pas pulang, Papi lo nungguin depan gerbang bawa senapan. Ahaayy!" Juna mengompori.


"Sekalian sama bom molotov!" Rio menambahi.


"Jiaaah... perang dunia, dong!" Kenzo bukannya merasa terintimidasi, cowok itu malah membalas candaan kedua temannya, sebelum pada akhirnya menjalankan mobilnya ke suatu tempat yang selalu mereka kunjungi setiap malam jumat.


Club malam.


^^^To be continue...^^^


...Epilog:...


Sedari lima menit yang lalu, Kenzo tak henti-hentinya terus menelpon Kanza, disela dirinya berganti pakaian. Cowok itu terus menghubungi kembarannya, namun tidak juga diangkat olehnya.


Bukan apa-apa, Kenzo hanya takut, tiba-tiba Kanza berpapasan dengan teman satu kumpulannya di depan gerbang rumahnya sendiri.


Gimana kalau mereka nanya, Kanza mau ke mana? Dan, gimana kalau Kanza sampai keceplosan kalau dirinya mau pulang ke rumahnya? Bisa gawat!


Kenzo berdecak, ketika panggilan kesepuluh kalinya tidak juga diangkat oleh Kanza. Cowok itu sudah dongkol dan masa bodo.


"Pinter-pinter dia ajalah, nyari alas—" Kenzo menghentikan ucapannya, saat tatapan matanya tidak sengaja melirik ke luar jendela, yang menampilkan kembarannya, Kanza, tengah mengobrol berdua bersama Alex.


Kenzo tentu saja terkejut. Firasatnya yang ia takuti benar-benar terjadi, dan sekarang ia dalam bahaya.


Setelah ini, teman-temannya akan bertanya tiada henti, tentang mengapa Kenzo menutupi hubungan persaudaraannya dengan Kanza?! Atau, bahkan mereka akan menertawakan Kanza dan Kenzo, karena keduanya jelas tidak mirip saudara kembar?! Atau...


Berbagai kemungkinan buruk yang Kenzo perkirakan membuatnya mendesis. Kenzo hendak mengambil ponselnya kembali untuk menelpon Kanza, namun belum sempat Kenzo meraih ponselnya itu, adegan tidak terduga tertangkap basah oleh indera penglihatannya.


Di bawah sana, Kenzo melihat dengan jelas bahwa kembarannya tengah berada dalam pelukan sahabatnya.


"Heh! Berani-beraninya si Alex ngecengin kembaran gua! Gak tau aja lo, gua disuruh Papi sama Mami gue buat jagain Kanza dari cowok-cowok buaya macam lo!" Kenzo sempat marah dan ingin melabrak Alex yang bisa-bisanya baru juga kenal belum sehari, sudah berani menyentuh bahkan memeluk Kanza.


"Awas lo berdua! Gue gangguin lo, heh! Gak akan gue biarin!" Dan setelahnya, Kenzo mengambil kembali ponselnya yang sempat terurung karena melihat adegan gila yang dilakoni kembarannya, dan juga sahabat baiknya.


"Angkat, Za! Angkattt!!! Gua bilangin Papi, tahu rasa lo!" Gerutu Kenzo, namun teleponnya masih juga tidak diangkat oleh Kanza.


Tetapi, biarpun begitu, kini Kenzo merasa sedikit lega karena Kanza sudah terlepas dari Alex. Gadis itu juga terlihat berlari entah ke mana meninggalkan Alex.


Kenzo tersenyum miring. Cowok itu lantas mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya pada Kanza, tepat ketika Kenzo mulai keluar dari rumah mewahnya.

__ADS_1


__ADS_2