Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 32


__ADS_3

"Kamu mau ke mana?" Suara bariton dari arah belakang Alex terdengar menyahutinya.


Alex yang baru saja menuruni tangga rumahnya langsung menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya pun mulai berbalik ke belakang seraya menengadahkan kepalanya kepada seseorang di ujung tangga di atas sana yang tak lain adalah sang papa. Geovano Erza Adhitama.


Dari ujung tangga sana, Geo tampak mulai melangkahkan kakinya menuruni satu-persatu anak tangga dengan raut wajah dingin dengan sepasang matanya yang terkunci pada sepasang mata milik putranya.


"Mau ke mana?" Ulang pria itu, ketika beliau telah hampir tiba di hadapan Alex.


"Mau—"


"Mau main? Enggak! Papa gak ngizinin kamu buat main! Lebih baik kamu kembali ke kamar kamu dan lanjutkan belajar. Katanya dua minggu lagi kamu olimpiade, kan?" Geo menyela ucapan yang hendak dilontarkan oleh Alex.


Sementara Alex yang ucapannya dipotong oleh sang papa mulai mengepalkan kedua tangannya seraya menahan gejolak di dadanya.


Alex ingin sekali mengeluarkan segala keluh kesahnya yang ia alami saat ini. Namun, yang bisa dirinya lakukan hanya bersabar, mengalah, dan menurut.


"Tapi, Pah. Alex gak lama, kok! Paling juga jam 5 langsung pulang!" Ujar Alex. Berharap papanya yang begitu protektif ini dapat mengizinkannya keluar rumah untuk kali ini saja.


Geo tidak langsung menjawab permohonan dari putranya. Pria yang bahkan telah memasuki usia kepala empat itu hanya menatap Alex dengan tatapan menusuk dengan kedua alisnya yang berkerut dalam.


"Sejak kapan kamu jadi membangkang seperti ini? Ke mana Alex yang dulu selalu patuh sama omongan Papanya?"


Alex mulai menarik napasnya dalam-dalam sesaat setelah mendengar pertanyaan dingin dari papanya.


Selalu saja seperti ini!


Disaat Alex ingin sedikit kelonggaran dalam hidupnya, Geo selalu saja menyudutkan dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Apakah pria itu masih tidak merasa bosan setelah sekian lama selalu mengekang serta mengatur kehidupannya?


Memang! Tugas orang tua adalah pengatur kehidupan anaknya. Tetapi, kalau aturan yang diciptakan oleh orang tuanya seketat ini, apakah anak-anaknya bisa bertahan?


Harus jadi juara kelas setiap tahun. Nilai tidak boleh turun. Harus pintar dalam segala hal. Dan ujung-ujungnya harus bisa merebut harta warisan dari kakeknya suatu hari nanti.


Alex kembali menarik napasnya, kemudian mengembuskannya perlahan. "Pah!" Panggil Alex. Raut wajahnya terlihat jelas seperti tengah menahan emosi.


Reaksi Geo sungguh di luar dugaan saat melihat perubahan raut wajah serta sikap putranya. Ia malah tertawa sinis, kemudian melanjutkan langkah kakinya sampai dirinya kini berada tepat di hadapan Alex.


"Papa dengar kamu punya pacar? Jangan-jangan sikap kamu saat ini gara-gara perempuan gak jelas itu, ya?" Tanya Geo. Membuat Alex semakin mengepalkan kepalan tangannya.


"Papa sudah pernah bilang, kan, kalau kamu hanya boleh berhubungan dengan perempuan yang Papa pilihkan untuk kamu? Karena Papa tahu, mana yang baik dan yang buruk untuk masa depan kamu Alex." Ujar Geo seraya menatap dingin putranya. Setelahnya, beliau melenggang dari hadapan putranya.


"Peduli apa Papa sama Alex? Yang Papa peduliin cuma 'harta warisan yang gak boleh jatuh ke tangan Om Ersan'! Iya, kan? Makanya Alex selalu dituntut untuk serba bisa dalam segala hal! Termasuk ikut perlombaan-perlombaan yang bahkan Alex benci!"


Geo menghentikan langkah kakinya setelah mendengar perkataan panjang lebar dari putranya. Pria dengan tinggi badan lebih dari 180 cm itu mulai membalikkan tubuhnya dan menatap Alex dengan tatapan yang sulit dijabarkan.


"Kamu bilang apa?" Geo melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit mendekat ke arah Alex.


Sementara itu, di tempatnya Alex hanya bisa mencoba mengatur napasnya yang serasa mau meledak. Kepalan di kedua tangannya mulai memutih sampai terasa berkeringat.


Geo menghentikan langkah kakinya tepat ketika ia telah berdiri tepat di hadapan putranya yang hanya berjarak puluhan senti saja.


"Ulangi semua perkataan kamu barusan!" Bentak Geo.


Alex menarik napasnya sangat dalam. Tatapan matanya yang menyiratkan suatu kekesalan jatuh ke sepasang manik mata tajam milik papanya.


"Alex cape, Pah! Kalau Alex bisa minta sama Tuhan, Alex gak mau terlahir di keluarga ini!"


Plak!


Geo melayangkan salah satu tangannya dan menampar wajah Alex penuh emosi. Pria itu dengan tarikan napasnya yang memburu menatap putra sulungnya dengan sorot mata tajam bak burung elang.


"Lancang! Berani-beraninya kamu bicara seperti itu pada Papa tentang keluarga kita, Alex!" Pekik Geo. Sedikitpun tak membuat Alex merasa sedikit bersalah setelah mengatakan kata-kata yang telah begitu lama ia pendam.


"Ada apa ini?" Sandra dan Elsa, alias istri dan juga anak bungsunya yang sedari tadi disibukkan dengan kegiatan dapur bersama beberapa pembantu, langsung berlari setelah mendengar bentakan keras dari ruang tengah.


"Alex? Kamu gak bikin Papa kamu marah, kan?" Sandra menatap putra sulungnya dari jarak kejauhan dengan tatapan was-was.


Sedangkan Elsa, gadis itu hanya mampu membekap mulutnya ketika tatapan matanya tidak sengaja jatuh ke sebagian wajah kakaknya yang terlihat memerah akibat tamparan dari Geo.


"Papa gak akan mengulangi kata-kata Papa. Masuk ke kamar kamu, atau Papa hancurkan pertemanan kalian! Oh, sekalian Papa cari tahu siapa gadis yang kamu pacari itu?! Menurut pengalaman kamu, apa yang akan Papa lakukan selanjutnya?" Geo menarik salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian tipis.


Setah mengatakan kalimatnya, pria itu lantas melenggang meninggalkan Alex yang masih terbujur kaku dengan kedua rahangnya yang mulai mengeras.


"Kak! Kakak gak pa-pa?" Setelah kepergian sang papa yang entah ke mana, Elsa langsung berlari ke arah Alex. Raut wajahnya terlihat begitu khawatir dengan sepasang bola matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Wajah Kakak mau Elsa kompres? Elsa ambil dulu—"


"Gak usah." Alex menepis pelan tangan adiknya yang hampir menyentuh wajahnya. Laki-laki itu dengan menahan berbagai emosinya memilih kembali menaiki tangga dan memasuki kamarnya.


Bagaimanapun, ancaman papanya barusan tidak bisa ia anggap remeh.


Dulu saja sewaktu masih SMP, Alex pernah berteman baik dengan anak laki-laki yang bukan dari kalangan yang sama dengannya tanpa sepengetahuan papanya.


Suatu hari, ketika papanya mengetahui hubungan tersebut, ia dengan seenaknya menyuruh anak laki-laki itu untuk menjauh dari Alex dengan alasan 'mereka tidak setara dengan Alex'. Bahkan, papanya itu berani mencelakai anak laki-laki itu hanya agar ia berhenti berteman dengan Alex.


"Alex!" Pekikan suara sang mama yang berada di ujung tangga seketika menghentikan langkah Alex.


"Mama, kan, udah bilang! Jangan buat Papa kamu marah! Apa kamu masih gak ngerti sama ucapan Mama, hm?" Sandra menatap punggung Alex dengan tatapan khawatir. Ia hendak melangkahkan kakinya mendekati Alex, namun langkah kakinya langsung terhenti ketika Elsa menyentuh lengannya seakan mencegah apa yang akan ia lakukan.


Alex memilih untuk tidak membalas ucapan dari sang mama. Hanya sekadar membalikkan tubuhnya pun ia enggan. Dengan langkah terburu-buru, Alex melanjutkan langkah kakinya tanpa memedulikan adik dan mamanya.


Ketika setibanya Alex di kamarnya, laki-laki itu langsung mengambil ponselnya yang ia taruh di dalam saku jaket untuk menghubungi Kanza bahwa kencan pertama hari ini mereka harus gagal.


^^^Sorry, Za.^^^


^^^Kencan kita gk jdi.^^^


...****...

__ADS_1


Haykal memandangi wajah sang adik, Zidan, yang terlihat lebih murung dari sebelumnya. Adik laki-lakinya ini sedari tadi masih saja mengaduk nasi goreng yang ia pesan beberapa saat yang lalu di salah satu kafe dekat rumah sakit.


"Kenapa gak dimakan? Katanya laper?!"


Zidan menengadahkan kepalanya sesaat setelah mendengar sahutan dari sang kakak. Tak selang berapa lama, ia menghela napasnya cukup berat, kemudian mendorong perlahan sepiring nasi gorengnya itu ke hadapan Haykal.


"Zidan masih kepikiran Mama." Ucap Zidan, seraya kembali menghela napasnya.


"Lo masih bocil, jangan mikirin yang aneh-aneh! Mendingan lo berdoa deh yang banyak! Minta sama Tuhan biar Mama bisa segera sadar." Ujar Haykal. Seketika Zidan langsung mengangkat kedua telapak tangannya seperti seseorang yang hendak memanjatkan doa. Kedua mata anak laki-laki itu pun ikut dipejamkan.


Haykal yang menyaksikan tingkah adiknya itu hanya menatap heran seraya berkedip beberapa kali.


"Lo ngapain!" Haykal berbisik, setelah sebelumnya ia melirik kanan-kiri dan depan-belakang untuk memastikan sekitarnya.


Kedua mata Zidan lantas kembali terbuka. Tatapan matanya berubah sinis ketika menatap Haykal. "Katanya barusan disuruh doa! Gimana, sih?" Zidan kembali memejamkan kedua matanya dengan mulutnya yang mulai berkomat-kamit.


"Ya, enggak gitu juga kali!" Haykal menepuk jidatnya seraya mendesis. "Berhenti, gak? Malu dilihatin orang! Lo gak lihat mereka natap lo aneh, hah?"


Zidan masih bergeming. Ia malah semakin menjadi untuk memanjatkan doanya pada Sang Maha Kuasa.


Haykal mulai menarik napasnya dalam-dalam, kemudian bangkit dari kursinya. Zidan yang mendengar bunyi kursi bergeser lantas membuka salah satu matanya untuk mengintip apa yang tengah dilakukab oleh sang kakak.


"Gue tinggalin lo lama-lama!" Ujar Haykal, kemudian melenggang meninggalkan adiknya.


Ditinggal seperti itu oleh sang kakak, tentu saja membuatnya was-was. Dengan kecepatan kilat, Zidan pun berlari menyusul Haykal.


...****...


"May, kapan kamu sadar? Katanya kamu mau ketemu sama Haykal? Sekarang dia udah ada di sini, tapi kenapa kamu malah begini?" Tya, sekretaris sekaligus sahabat dari Maya, Mamanya Haykal, terduduk lemas di kursi besuk seraya mengusap sisa-sisa air matanya.


Wanita setengah baya itu baru saja tiba di rumah sakit kira-kira sepuluh menit yang lalu setelah sebelumnya ia membereskan kekacauan di perusahaan.


"Kamu harus cepat sadar!" Tya menggenggam salah satu tangan Maya yang ditusuk selang infus.


Saat ini, Hatinya benar-benar hancur. Sahabat yang selama ini selalu ada untuknya dan selalu membantunya tiba-tiba terbujur lemah di atas ranjang rumah sakit dengan beberapa perban, cairan infus, dan alat bantu pernapasan yang terpasang di antara area mulut dan hidungnya.


Bagi Tya, Maya sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Beliau adalah sosok yang baik hati, ramah, dan penyayang.


Tya mulai kembali mengusap air matanya yang kembali menetes dari pelupuk matanya. Sesekali, ia pun terlihat menggosok ujung hidungnya yang terasa berair. Mungkin karena dirinya yang terlalu sering menangisi Maya yang belum juga siuman, padahal hari sudah semakin sore.


"May, aku ke toilet dulu, ya." Tya mulai bangkit dari kursinya. Ketika ia hendak berjalan meninggalkan Maya, suara gumaman kecil yang ia tebak berasal dari bibir sahabatnya terdengar seakan tengah memanggil-manggil nama seseorang.


"Haykal... Haykal... Maafin Mama... Mama janji gak akan ninggalin kamu lagi, gak akan nelantarin kamu lagi... Mama minta maaf..."


Suara gumaman itu terdengar semakin jelas, sehingga membuat Tya seketika langsung mengalihkan perhatiannya pada Maya.


"May? Kamu sudah sadar? May, kamu bisa denger aku?" Tya sedikit menggoyangkan tubuh Maya yang terlihat masih meracau memanggil nama Haykal.


Karena cemas, ia pun mulai memanggil dokter dengan memencet sebuah tombol darurat yang letaknya tak jauh dari tempat ia berdiri.


Tak lama kemudian, seorang dokter dan seorang perawat memasuki ruang perawatan Maya, yang susul oleh Haykal dan Zidan yang berlari dengan terburu-buru untuk mengetahui keadaan di dalam sana.


Sedangkan Zidan, adik bungsunya itu hanya menangis di pelukan Tya ketika melihat mamanya terus memanggil nama Haykal.


Tak lama kemudian, sepasang bola mata Maya mulai berkedip beberapa kali sampai pada akhirnya, kedua bola matanya mulai terbuka sepenuhnya.


"Haykal?" Panggil Maya, ketika tatapan pertamanya jatuh kepada Haykal.


Tya dan Zidan langsung berlari mengerumuni Maya. Sedangkan dokter dan perawat itu memilih mundur setelah sebelumnya mereka telah selesai memeriksa pasiennya.


"Mama udah sadar?" Zidan menyeru senang seraya menghapus air matanya.


Tatapan Maya kemudian beralih menatap putra bungsunya dengan sedikit memaksakan senyuman kecil di wajahnya.


"Mama baik-baik aja." Ucapnya. Tatapan matanya kemudian kembali beralih menatap Haykal yang terlihat menunduk dengan raut wajah yang sulit dijabarkan.


"Selamat ulang tahun Haykal! Maaf, Mama ngucapinnya telat! Walaupun ulang tahun kamu sudah lewat, tapi Mama belum mengatakannya secara langsung sama kamu! Mama juga beli kado buat kamu. Kamu gak marah kan, sama Mama?" Maya menatap Haykal dengan tatapan penuh rasa bersalah. Air matanya pun mengalir menuruni wajahnya begitu saja.


Kilasan-kilasan masa lalu ketika ia dengan begitu jahatnya menelantarkan Haykal sampai membuatnya menjadi begitu dingin dan sangat membencinya, membuat Maya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia memang layak mendapat julukan orang tua jahat yang hanya mementingkan dirinya sendiri.


"Ulang tahun aku udah lewat empat bulan yang lalu, Ma. Mama gak perlu ngucapin 'selamat ulang tahun' apalagi repot-repot 'nyiapin kado' buat aku. Cukup pikirin aja hidup Mama." Ujar Haykal, kemudian melepas genggaman tangan sang mama, lalu melenggang pergi dari ruangan tersebut.


"Haykal!" Tya memanggil nama Haykal, namun laki-laki itu tidak menggubrisnya sama sekali.


Tidak dengan Maya yang hanya bisa menangis, padahal dirinya baru saja siuman dari tragedi kecelakaan yang bahkan bisa kapan saja merenggut nyawanya.


...****...


Hari senin adalah hari paling dibenci oleh semua murid, di mana di hari tersebut, mereka di haruskan melaksanakan upacara bendera pagi-pagi sekali.


Kanza yang baru saja tiba di dalam kelas, mendadak murung dengan tatapan matanya yang kosong. Dilihatnya kembali layar ponselnya yang menampilkan sebuah chattingan antara dirinya dan juga Alex yang masih sama seperti dua hari yang lalu.


Alex♡


Sorry, Za.


Kencan kita gk jdi.


^^^Knpa?^^^


^^^Lo ada janji lain?^^^


Dan tidak ada balasan lain, maupun sekadar dibaca oleh Alex.


Dari situ, Kanza pikir mungkin Alex sedang tidak ingin diganggu. Jadi, Kanza memutuskan untuk tidak menghubungi laki-laki itu sampai pada keesokan harinya yang Kanza pikir Alex akan menghubunginya, ternyata laki-laki itu masih juga tidak membaca pesannya.


Kanza ingin menelepon Alex, tapi ia bingung harus mengatakan apa ketika nanti laki-laki itu menjawab teleponnya. Atau, bagaimana jika Alex tidak menjawabnya?

__ADS_1


Sehingga pada akhirnya, Kanza memilih menunggu satu hari lagi dan berharap Alex akan segera menghubunginya dan memberinya sebuah kabar.


"Gue gak lagi dighosting sama dia, kan?" Gumam Kanza. Kemudian menghela napas panjang dan mulai beranjak dari posisinya.


Ketika Kanza mulai melangkahkan kaki untuk keluar dari dalam kelas yang masih terbilang sepi, netranya yang sedari tadi terus menunduk ke lantai itu tidak sengaja menangkap sepasang sepatu berwarna hitam yang berdiri tepat di hadapannya yang sangat ia kenali siapa pemilik dari sepatu itu.


Sesaat ketika Kanza mulai menengadahkan kepalanya, seseorang yang tengah ia rindukan selama beberapa hari ini berdiri dengan tubuh tinggi menjulangnya seraya menatapnya dalam.


"Alex?" Raut wajah murung Kanza langsung berbinar setelah melihat Alex dengan mata kepalanya sendiri.


Alex tidak menyahut ataupun merespon panggilan dari Kanza. Laki-laki itu malah terlihat menarik napas gusar dengan tatapan matanya yang masih tertuju pada Kanza.


"Lo ke mana aja? Kenapa lo gak—" ucapan Kanza terpotong ketika Alex mulai menarik gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya.


Kedua bola mata Kanza refleks melebar. Jantungnya pun sudah berdegup tidak karuan setelah mendapat serangan tiba-tiba dari Alex.


"Gue kangen sama lo, Za." Alex berbisik di telinga gadis itu seraya semakin memeluk Kanza dengan erat.


Detik itu juga, Kanza mulai menjauhkan diri dari Alex. Bisikkan yang terdengar dari bibir laki-laki itu seolah menjadi penyadarnya saat itu.


Kanza berdeham cukup kuat setelah dirinya terlepas dari pelukan cowok bernama Alex. Demi apa pun, Kanza sangat gugup! Pertama kalinya ia dipeluk-peluk sama cowok, apalagi yang seganteng Alex!


Bisa keburu mati duluan nanti Kanza!


"Lo gak suka, ya, gue peluk?" Sahutan dari Alex, membuat Kanza sontak menatap laki-laki itu seraya kembali melebarkan kedua bola matanya.


"Hah? E-enggak! Bukan gitu—"


"Jadi lo suka?" Sela Alex cepat. Kanza yang bingung harus mengatakan apa lagi pun hanya bisa gelagapan dengan wajahnya yang memerah padam.


Benar-benar, deh!


Kenapa Alex selalu membuatnya seperti ini? Kanza, kan, juga punya jantung! Gimana kalau sampai jantung berharganya ini kenapa-kenapa?


Di sisi lain, Alex mulai mengembangkan senyum manisnya melihat tingkah malu-malu Kanza. Padahal, selama dua hari kemarin, ia sudah dibuat kesal setengah mati oleh kedua orang tuanya terlebih sang papa yang selalu mengekangnya.


"Sorry, ya, gue batalin janji gitu aja. Kencan pertama kita malah gagal jadinya." Alex mengelus pelan pucuk kepala Kanza seraya menatapnya lembut.


"Lo ada masalah?" Sebisa mungkin Kanza bertanya dengan setenang mungkin. Padahal jantungnya sudah berdegup kencang seperti tengah berdisko.


"Hm... Gimana, ya? Gak tahu!" Ujar Alex, seraya menarik kembali tangannya dari pucuk kepala Kanza.


"Lho? Kok, gak tahu?" Kanza mencebikkan bibirnya dengan kedua lengannya yang dilipat di depan dada. Pandangan mata gadis itu terkunci kepada Alex yang terlihat tengah menahan senyumnya.


"Kan, emang enggak tahu!" Balas Alex sambil terkikik, membuat Kanza refleks berdecak sebal seraya menatapnya sinis. "Dasar gak jelas!"


...****...


Di tengah malam yang mencekam dan sunyi, Bianca masih belum juga bisa menghubungi Haykal. Gadis itu dengan kantung matanya yang mulai sembab, dan air matanya yang perlahan mulai mengering, mencoba kembali menghubungi Haykal dengan segala cara.


Meneleponnya ribuan kali, mengiriminya pesan singkat bahkan pesan chat, dan mengiriminya e-mail telah ia lakukan. Namun tak ada satu pun di antara keempat cara itu yang dibalas oleh Haykal.


Sekadar dibaca pun tidak ada!


Ke mana sebenarnya Haykal itu? Apa laki-laki itu sudah menebak kalau Bianca akan hamil dan berniat untuk meninggalkannya?


"Enggak! Lo gak boleh ninggalin gue, Kal! Lo udah janji sama gue!" Bianca mulai memeluk tubuhnya yang teronggok di lantai. Ponselnya yang sedari tadi ia gunakan untuk menghubungi Haykal ia taruh di atas tempat tidurnya.


Bianca ingin menangis, namun air matanya sudah tak lagi keluar. Pikirannya pun hanya tertuju pada satu hal.


Tak ingin menyerah begitu saja, Bianca kembali mengambil ponselnya tersebut dan memutuskan untuk kembali menghubungi Haykal entah untuk yang keberapa ratus kalinya.


Pokoknya, Bianca tidak boleh menyerah! Ia dan juga bayi yang ada di dalam perutnya harus mendapatkan sebuah pertanggungjawaban!


Ayahnya yang super sibuk itu belum mengetahui soal kondisinya. Dan pembantu rumahnya pun tidak Bianca izinkan untuk membersihkan ruang kamarnya.


"Haykal? Lo bisa denger gue, kan?" Bianca mulai berbicara walaupun sebenarnya panggilan teleponnya belum diangkat sama sekali, atau lebih tepatnya dialihkan ke pesan suara.


"Gue mohon, Kal! Angkat telepon gue sekali aja! SMS sama chat dari gue cukup lo read juga gak pa-pa. Gue cuma minta lo angkat telepon gue, Kal!" Bianca mulai menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia benar-benar akan menyelesaikan kalimat berikutnya.


"Kal! Gue hamil! Lo akan tanggung jawab, kan? Seperti yang lo janjiin ke gue waktu di atap sekolah sebulan yang lalu? Iya, kan?"


"Di dunia ini, cuma lo harapan gue satu-satunya. Lo juga tahu, kan, Papa gue kayak gimana? Dia udah gak sayang sama gue! Cuma lo, Kal, yang tulus sayang sama gue! Jadi gue mohon, jawab telepon gue! Kasih tahu keberadaan lo di mana sekarang! Jangan buat gue takut." Bianca menjatuhkan ponselnya setelah ia selesai mengatakan hal-hal yang sangat ingin ia ucapkan.


Setelahnya, gadis itu pun bangkit dari posisi duduknya dan menjatuhkan diri di atas tempat tidur.


Bagaimanapun, malam ini ia harus tetap tidur. Besok pagi adalah hari yang berat yang akan ia jalani.


Entah besok ia akan pergi ke sekolah atau tidak, kita lihat saja apakah besok kondisinya akan membaik, atau sebaliknya?!


^^^To be continue....^^^


Cuplikan next episodes>>>


Ketika Agnes mencoba mengobrak-abrik isi di dalam tas Bianca, ia tidak sengaja menemukan sebuah benda keramat yang baru kali ini ia lihat menggunakan mata kepalanya sendiri.


"Lo hamil?" Agnes menyahut seraya menatap Bianca dengan tatapan tidak percaya.


Bianca yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, langsung mengunci pandangannya ke arah benda yang kini berada di genggaman Agnes.


"Wow! Lo beneran hamil, Bi?" Alia mengambil alih benda yang berada di tangan Agnes, kemudian memeriksanya dengan seksama.


Bianca sudah dibuat panas dingin oleh Agnes dan Alia yang dengan jahatnya mengobrak-abrik isi tasnya sampai mereka berhasil menemukan sebuah hasil test pack yang selama ini berusaha ia sembunyikan.


"Balikin, gak!"


Update!!!:')

__ADS_1


See you in the next episodes:*


__ADS_2