
Sesampainya di rumah, Rio langsung berlari menuju kamarnya. Cowok itu berlari dengan begitu tergesa-gesa sampai tidak mendengar teriakan demi teriakan dari sang mama yang berada di ambang pintu dapur.
"Kak!" Suara pekikan dari arah belakang, refleks membuat Rio yang baru saja hendak membuka pintu kamarnya dibuat terlonjak kaget.
Rio lantas berdecak kesal, kemudian melirik sinis seorang anak laki-laki berusia kurang lebih dua belas tahun yang tak lain adalah adiknya. Gery.
"Apa?" Rio menatap dingin adiknya.
"Enggak ada apa-apa, sih. Cuman barusan disuruh Mama buat manggilin Kak Rio." Ujarnya polos. Tanpa sadar membuat Rio mendengus sinis.
"Mendingan lo main, gih! Gue mau mandi!" Sarkas Rio, kemudian melenggang memasuki kamarnya tanpa memedulikan Gery.
Melihat sikap kakak keduanya yang selalu saja dingin tidak pernah berubah, Gery hanya bisa mendengus pasrah seraya kembali pergi ke kamarnya.
Sedangkan Rio yang tengah berada di dalam kamarnya, cowok itu dengan cekatan sekaligus gesit, mulai melepas blazer sekolahnya, kemudian dilanjut membuka satu-persatu kancing kemeja seragam, lalu membuangnya sembarangan.
Tak ingin berlama-lama, Rio mulai berlari memasuki kamar mandi dengan sebuah handuk yang sebelumnya ia ambil dari dalam lemari pakaiannya.
Sore ini, Rio akan benar-benar pergi mengunjungi rumah Alma dan meminta restu pada kedua orang tua gadis itu agar hubungan keduanya direstui.
Membayangkannya saja sudah membuat jantung Rio berdegup kencang. Rasanya, ini seperti sebuah mimpi, apalagi ketika pernyataan Alma yang mengatakan kalau dirinya pun memiliki perasaan yang sama pada Rio.
"Okey, pertama gue harus ganteng dulu. Kata Mbak Google, penampilan itu yang paling penting kalau mau menghadap calon mertua." Rio bermonolog dengan tatapan matanya tertuju pada pantulan dirinya di cermin.
Tak selang berapa lama, raut wajahnya yang semula terlihat serius, mulai berganti dengan raut wajah ceria dengan sebuah senyuman manis yang jarang sekali Rio perlihatkan di depan umum.
"Senyum kek begini udah kelihatan tulus, gak?" Monolognya lagi.
Tidak ingin terus berdiam diri terlalu lama, pada akhirnya Rio memilih melanjutkan aktivitas mandinya.
...****...
Kenzo menghentikan mobilnya setelah satu setengah jam lamanya ia mengemudikan mobilnya entah ke mana.
Cowok itu hendak melepaskan seat belt, namun gerakannya terhenti ketika sepasang netranya tidak sengaja melirik ke arah Wanda yang tengah terlelap di sampingnya.
Tanpa sadar, Kenzo menarik kedua sudut bibirnya seraya sedikit mendekatkan diri ke wajah Wanda. Tatapan mata Kenzo tak henti-hentinya terus menatap wajah gadis itu yang terlihat begitu tenang dan nyaman.
"Yah... Lo-nya tidur!" Kenzo berucap setengah berbisik. Sebelah tangan cowok itu terangkat dan membelai lembut pipi Wanda sampai membuat ia mengerang dalam tidurnya.
Kenzo kembali menarik kedua sudut bibirnya. Sebelah tangannya yang tadi ia gunakan untuk membelai pipi Wanda, kembali ia gunakan untuk mencubit hidung gadis itu sampai membuatnya sontak mengerang hingga terbangun dari tidurnya.
"Ish! Apaan sih! Sakit tahu!"
Melihat Wanda yang sudah mulai sadar, Kenzo pun memilih menjauhkan diri dari gadis itu dengan sebuah senyuman yang masih mengembang di wajahnya.
Wanda mulai mengucek kedua matanya yang terasa berat. Sesekali ia pun tampak menguap dan semuanya itu tak luput dari pandangan mata Kenzo.
"Masih ngantuk?" Sahutan Kenzo, sontak membuat Wanda terlonjak sampai kedua bola mata gadis itu melebar seraya beralih menatapnya.
"Ish! Lo yang barusan nyubit hidung gue?" Raut wajah gadis itu seketika berubah garang menatap Kenzo.
Kenzo terkekeh kemudian membuka pintu mobil seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebelum cowok itu hendak keluar dari dalam mobil, Kenzo melirik Wanda terlebih dahulu yang terlihat tengah menahan emosi.
"Menurut lo?" Ucap Kenzo. Setelahnya, cowok itu keluar dari dalam mobil dengan senyum manis di wajahnya yang tak pernah luntur sedari tadi.
Di tempatnya, Wanda mulai menarik napas dalam-dalam dengan kedua tangannya yang mengepal kuat.
"Emang bener-bener ya, Si Kenzo! Muka doang ganteng, tapi sifatnya nyebelin minta ampun!" Wanda mendumel disela melepas seat belt-nya. Ketika gadis itu hendak membukakan pintu mobil, pintu itu langsung terbuka oleh Kenzo yang membukakannya dari luar.
Wanda mencibir melihat Kenzo yang sedari tadi masih tersenyum genit padanya. Ketika gadis itu telah sepenuhnya keluar dari dalam mobil, kedua netranya langsung terfokus pada sebuah pemandangan cantik yang berada tepat di belakang Kenzo.
"Woah... Malem-malem gini lo ngajakin gue ke pantai?" Raut wajah Wanda berubah sumringah, padahal sebelumnya raut wajah gadis itu terlihat kecut dan sinis.
Kenzo berdeham. Cowok itu semakin mengembangkan senyumannya dengan fokus kedua bola matanya masih tertuju pada Wanda. "Gimana? Lo suka?"
Wanda mengangguk antusias. Tatapan matanya yang semula menatap pemandangan pantai yang berada di belakang Kenzo, beralih menatap cowok itu dengan senyuman tulus yang pertama kalinya ia perlihatkan kepada Kenzo.
Kenzo terkekeh pelan, membuat Wanda seketika langsung tersadar dari apa yang tengah ia lakukan.
Tidak ingin terus berdiam diri, Kenzo pun mulai meraih salah satu tangan Wanda, dan membawanya untuk mendekat ke bibir pantai.
Tatapan mata Wanda lagi-lagi kembali mengarah kepada Kenzo. Jantung gadis itu seketika dibuat berdegup kencang oleh cowok bernama Kenzo ini.
Andai dirinya seumuran dengan Kenzo, mungkin Wanda akan menjatuhkan hatinya pada cowok itu yang sering membuatnya kesal setengah mati, namun sering juga membuatnya serasa dibuat terbang tinggi.
"Wuihh... Karpetnya udah disediain. Duduk di sana, yuk!" Kenzo mengalihkan pandangannya ke belakang, tepat di mana posisi Wanda berada.
Wanda yang sedari tadi masih menatap Kenzo langsung menyadarkan dirinya seraya menghempaskan tangan cowok itu yang masih setia menggenggam tangannya.
"I-ini siapa yang nyiapin?" Tanya Wanda. Ia mencoba mengalihkan pikiran serta tatapan matanya dari Kenzo.
Bisa kegeeran nanti si Kenzo kalau tahu Wanda sedari tadi terus menatapnya!
"Ada. Duduk?" Tawar Kenzo, yang dibalas kekehan kecil oleh Wanda.
"Lo juga harus duduk!" Wanda menarik tangan Kenzo, sesaat setelah gadis itu mulai menduduki karpet yang telah disiapkan oleh cowok itu.
Tatapan Kenzo langsung beralih menatap sebelah tangannya yang ditarik oleh Wanda. Dalam hati Kenzo yang terdalam, ia benar-benar senang ketika Wanda sepertinya mulai merasa nyaman dengan kehadiran Kenzo. Apalagi sekarang Wanda sudah mulai berani pegang-pegang tangannya.
"Ekhem." Kenzo berdeham, sesaat setelah ia berhasil mendudukkan dirinya di samping Wanda. Tangan gadis itu yang semula menarik tangannya pun sudah terlepas.
"Kenapa lo bawa gue ke sini?" Wanda menyahut dengan tatapan matanya yang tertuju pada pemandangan pasir dan ombak laut di depan sana.
Kenzo tampak sedikit berpikir. "Emm, mau aja! Udah lama juga gue gak ke pantai malem-malem gini."
Terdengar suara helaan napas dari Wanda. Tatapan mata Kenzo seketika beralih menatap wajah gadis itu dari samping.
"Sorry, ya. Gue sendiri yang nolak ajakan lo kemaren, tapi gue juga yang berubah pikiran. Gue cewek plin-plan. Iya, kan?" Wanda melirik Kenzo sekilas. Helaan napas kembali Wanda hembuskan, membuat Kenzo semakin menatapnya dalam.
"Lo ada masalah?"
Reaksi Wanda ketika mendengar pertanyaan Kenzo sungguh di luar dugaan. Gadis itu malah terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Emang gue bisa punya masalah apa? Gue cuman lagi bad mood aja." Ujarnya, seraya menyamankan posisi duduknya.
"Oh." Balas Kenzo. Dan setelahnya, suasana di antara keduanya pun mulai hening dengan Wanda yang asik menikmati keindahan pemandangan laut di depan sana, dan Kenzo yang tengah sibuk memikirkan suatu hal yang sangat ingin ia utarakan pada Wanda.
Namun, kenapa rasa-rasanya sangat sulit? Ada apa dengan Kenzo? Biasanya, ia akan sangat bersemangat. Namun saat ini yang ia lakukan hanyalah berpikir dan terus berpikir.
Ck, kelamaan! Kek gak pernah nembak cewek aja lu, Zo!- Kenzo membatin. Tatapan matanya kemudian beralih menatap Wanda yang tengah menengadahkan kepalanya seraya tersenyum dengan kedua matanya yang terpejam. Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan.
__ADS_1
"Wanda!" Akhirnya, Kenzo mulai memanggil nama gadis itu.
Spontan Wanda membelalakan matanya seraya melirik Kenzo yang baru saja memanggil namanya.
"Kenapa?" Tanya Wanda. Tatapan mata gadis itu langsung kembali beralih menatap pemandangan laut malam dengan deburan ombak di depan sana. Senyumannya lantas terbit melihat pemandangan yang sudah sangat lama tidak ia temui.
"Gue suka sama lo!" Ungkap Kenzo.
Senyum di wajah gadis itu langsung luntur, ketika ucapan Kenzo terdengar memasuki telinganya. Tatapan matanya pun sontak beralih menatap Kenzo.
"Lo bilang apa barusan?" Wanda mengerutkan kedua alisnya. Gadis itu benar-benar dibuat syok oleh pengakuan Kenzo barusan.
"Gue bilang, gue suka sama lo!" Ucap Kenzo lagi, mampu membuat Wanda langsung mengepalkan kedua tangannya. Raut wajah gadis itu pun berubah murung dengan tatapan matanya yang menunduk.
"Kenapa lo suka sama gue?" Sebisa mungkin Wanda bertanya, walau hatinya serasa diporak-porandakan oleh pengakuan Kenzo beberapa saat lalu.
Melihat reaksi Wanda yang di luar ekspektasi, Kenzo lantas mengerutkan dahinya dengan tatapan matanya yang menusuk menatap gadis itu yang masih menunduk seakan enggan untuk menatapnya.
"Apa gue harus ngasih alasan, kenapa gue suka sama lo?" Ucapan Kenzo, membuat Wanda langsung mendongakkan kepalanya seraya menatap cowok itu.
"Lo gak boleh suka sama gue, Zo!"
Kenzo mengepalkan kedua tangannya seraya menguatkan rahangnya. Ucapan Wanda benar-benar menyinggung Kenzo.
"Kenapa?"
Gadis itu terlihat menarik napasnya dalam-dalam seraya menggeleng kecil kepalanya. "Gue gak pantes buat lo! Lo lihat aja, gue lebih tua tiga tahun dari lo! Masih banyak cewek-cewek seumuran lo yang bisa lo pacarin. Jangan gue! Selain gue lebih tua dari lo, kita dari dunia berbeda, Zo! Lo anak orang kaya, sementara gue bukan."
Kenzo tertawa sinis mendengar perkataan panjang lebar dari Wanda. Kenzo benar-benar tidak mengerti, kenapa gadis itu bisa bicara sampai berpikir sejauh itu?!
Kenzo kembali menatap dalam gadis di hadapannya. Sorot mata Kenzo berubah dingin, namun Wanda dengan sengaja memalingkan wajahnya dari Kenzo.
"Tatap mata gue!" Kenzo menarik dagu Wanda sampai membuatnya berpaling dan menatap cowok itu.
"Gue ulangi, gue suka sama lo! Gue gak peduli lo lebih tua dari gue, atau apalah itu. Gue cuman mau lo!" Tandas Kenzo, kemudian mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Wanda. Menepis jarak antar keduanya.
Wanda hampir saja terbius oleh kata-kata yang diucapkan Kenzo. Kedua bola matanya membulat sempurna ketika melihat Kenzo yang jaraknya hanya beberapa senti dari penglihatannya semakin mendekatkan wajahnya.
Tunggu! Kenzo mau ngapain?
Sontak saja Wanda langsung membekap mulut Kenzo ketika wajah cowok itu semakin mendekat ke arahnya. Dan saat itu juga, tatapan keduanya bertemu dengan jarak yang sangat dekat.
"Lo tahu gue mau ngapain?" Nada suara rendah Kenzo, seketika membuat Wanda gugup.
Gadis itu hendak menjauhkan diri dari Kenzo, namun cowok itu berhasil menahan pergerakan Wanda, sehingga tatapan mata keduanya kembali bertemu.
"Kasih gue kesempatan buat ngejar lo! Gue belum pernah sesuka ini sama cewek selain lo!" Kenzo menurunkan tangan Wanda yang sempat membekap mulutnya, kemudian mencium lembut punggung tangannya sampai membuat Wanda kehabisan kata-kata.
...****...
Pagi hari yang teramat cerah di hari libur sekolah Kanza manfaatkan untuk tidur seharian penuh. Namun, baru juga pukul 7 lagi, ponsel yang ia taruh di atas meja nakas berbunyi nyaring dan sukses membangunkan gadis itu yang masih terbalut selimut tebal.
"Eungh... Jam segini siapa, sih, yang gangguin gue?" Kanza melenguh seraya meregangkan otot-otot tubuhnya. Sebelah tangannya pun terulur meraba-raba meja nakas untuk mengambil ponselnya.
Ketika ponsel yang ia cari telah berada di genggaman, tanpa basa-basi lagi Kanza langsung mengangkat panggilan telepon tersebut lalu menempelkannya di salah satu daun telinganya.
"Halo?" Sahut Kanza. Suaranya terdengar serak dengan kedua matanya yang masih terpejam.
Terdengar suara kekehan kecil dari seberang sana yang mampu membuat Kanza seketika menjauhkan ponselnya dan melihat siapa yang baru saja menelponnya.
Nama 'Alex' tertera besar di layar ponsel Kanza. Sontak gadis itu langsung terlonjak dari posisinya dengan teriakan tertahannya.
"Ekhem." Kanza mencoba berdeham terlebih dahulu, sebelum pada akhirnya ia mulai memberanikan diri menempelkan kembali ponselnya ke daun telinganya.
"Ha-halo?" Kanza menyahut dengan nada suara pelan sekaligus hati-hati. Ia benar-benar malu saat ini.
Pikirnya, Alex tidak akan tahu, kan, kalau cowok itu menelponnya disaat Kanza masih tertidur?
"Baru bangun?"
Sekakmat!
Hancur sudah semua imejnya di depan Alex. Setelah ini, Alex pasti merasa ilfeel pada Kanza. Mungkin, saat ini cowok itu tengah menyesali dirinya sendiri yang telah menjadikan Kanza sebagai pacarnya.
"Ekhem. Enggak! Gue abis dari— dariii— dari kamar mandi! Iya, kamar mandi!" Ucap Kanza tergagap. Terdengar suara Alex yang tertawa di seberang telepon sana.
"Iyain aja, deh. Kasian, nanti nangis." Balasan Alex, seketika membuat Kanza merengut sebal.
"Gue matiin, nih!" Ancam Kanza. Raut wajahnya sudah memerah karena diejek habis-habisan oleh Alex.
"Ck. Pacar gue ngambekan juga ternyata."
Mendengar Alex yang memanggilnya 'pacar', bukan tidak mungkin Kanza tidak baper. Raut wajahnya seketika memerah seperti tomat.
"By the way, ada apaan nelepon gue jam segini?" Tanya Kanza. Sebisa mungkin ucapannya terdengar biasa saja.
"Gue kangen. Masa nelepon aja gak boleh,"
Lagi dan lagi Kanza kembali dibuat salah tingkah hanya karena perkataan Alex. Gadis itu bahkan kini tengah menggigiti ujung selimutnya untuk menahan mulutnya yang mungkin saja sewaktu-waktu akan berteriak.
"Ish! Bukan gitu! Yaa, ini tuh masih pagi!" Geram Kanza. Terdengar begitu bersemangat di telinga Alex
"Ooh, jam segini lo-nya masih tidur gitu? Ya udah, lanjutin aja tidurnya. Gue gak pa-pa, kok."
"Ish, bukan—"
"Nanti siang jalan, yuk! Gue mumet, nih, di rumah mulu!" Alex sengaja menyela ucapan Kanza. Di seberang telepon sana, cowok itu bahkan sebisa mungkin menahan tawanya.
"Gak mau! Lo aja sendiri!" Pekik Kanza, lalu mematikan sambungan teleponnya sepihak.
Kanza benar-benar kesal dengan Alex. Bisa-bisanya cowok itu menguji kesabaran seorang Kanza!? Tidak tahu saja kalau Kanza ini orangnya gak mudah sabar.
"Lihat aja, lo bakal nelepon gue balik sambil minta maaf, atau enggak!" Dumel Kanza, seraya menatap sinis layar ponselnya yang masih menyala.
Dalam hati, Kanza mulai menghitung mundur dari sepuluh. Jika sampai angka satu Alex masih tidak menghubunginya, maka jangan harap Kanza akan menghubungi cowok itu duluan.
"Ekhem." Kanza berdeham dengan raut wajahnya yang mulai ditekuk kesal. Tatapan matanya pun masih tertuju pada layar ponselnya yang berada di genggamannya.
"Ish! Dasar cowok gak peka!" Kesal karena Alex masih belum juga menghubunginya, Kanza langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.
Pikirnya, awas aja entar kalau Alex masih tidak bersedia menghubunginya! Pokoknya, Kanza ngambek!
__ADS_1
...****...
"Nanti siang jalan, yuk! Gue mumet, nih, di rumah mulu!" Alex menyela ucapan Kanza dengan santai. Cowok itu bahkan tengah menyunggingkan kedua sudut bibirnya sehinga terbentuklah sebuah senyuman manis. Namun akan sangat menyebalkan jika saja saat ini Kanza tengah berada di hadapannya.
"Gak mau! Lo aja sendiri!" Pekik Kanza. Dan saat itu juga, panggilan keduanya terputus oleh Kanza yang mematikan teleponnya secara sepihak.
Oke, sepertinya Kanza sudah benar-benar dibuat kesal oleh Alex. Haruskah Alex menelpon gadis itu balik?
"Kayaknya enggak, deh. Gue lihat, sampe kapan lo bakal ngambek ke gue!" Gumam Alex, lalu menaruh ponselnya di atas nakas, dan kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Alex juga baru bangun tidur hanya sedikit awal dari Kanza. Cowok itu menelpon Kanza hanya ingin memastikan, apakah gadis itu sudah bangun atau masih tidur!?
"Hehe. Sorry, ya, Za. Gue tidur duluan." Gerutu Alex, dengan kedua bola matanya yang mulai kembali terlelap.
...****...
Pagi-pagi sekali, Bianca dengan mengenakan setelan jaket hoodie putih dan celana jeans panjang berwarna hitam dengan sebuah tas selempang berwarna nude, berdiri tepat di depan gerbang rumah seseorang yang tak lain adalah gerbang rumahnya Haykal.
Pokoknya, Bianca harus nekat, jika dirinya tidak ingin berakhir menyesal.
Ia ingin meminta pertanggungjawaban dari laki-laki itu yang bahkan hampir semalaman penuh tidak menjawab panggilan teleponnya, atau lebih tepatnya nomornya selalu tidak aktif. Dikirimi pesan pun tidak ada satu pun yang dibalas atau sekadar dilihat.
"Huuft!" Bianca mengembuskan napas panjang. Sebelum ia benar-benar akan memencet bel, gadis itu mengelus perutnya yang kembali terasa mual.
"Please, jangan sekarang!" Lirih Bianca. Seberusaha mungkin ia menahan rasa mual yang kembali menggerogotinya.
Seolah ingat kalau ia menyimpan sebotol air mineral di dalam tas selempangnya, langsung saja Bianca merogoh tas selempangnya itu dan mengeluarkan air mineral tersebut dan meminumnya sedikit demi sedikit. Berharap rasa mual itu akan hilang setelah ia meminum air.
Dan benar saja, rasa mual itu perlahan mulai menghilang. Bianca akhirnya bisa sedikit bernapas lega.
Tak ingin terus membuang waktu, Bianca pun mulai memencet bel yang berada tepat di hadapannya ini.
Tak butuh waktu lama, seorang satpam berlari ke arah gerbang depan dan membukakan sedikit pintu gerbang tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu, Neng?" Tanya satpam tersebut ramah pada Bianca.
"Em, Pak! Haykalnya ada?"
"Waduh, maaf, Neng! Den Haykal sudah hampir sebulan gak pulang ke rumah ini. Dia pindah ke apartemen." Perkataan Pak Satpam, sontak membuat Bianca sedikit terkejut.
"Pindah? Kira-kira apartemennya di mana, ya?" Tanya Bianca lagi.
Satpam itu terlihat berpikir sejenak. "Duh, kurang tahu saya. Waktu itu Den Haykal sama Papanya berantem parah! Terus, Den Haykal pergi gitu aja sambil bawa koper sama kunci mobil. Setelah itu, saya gak pernah lihat dia lagi."
Bianca menatap miris rumah mewah bertingkat di hadapannya. Ternyata, laki-laki itu masih sama seperti dulu. Ia tidak pernah bisa akur dengan papanya.
"Kira-kira, sebulan yang lalunya itu, tanggal berapa ya, Pak?"
"Waduh, Bapak lupa, Neng. Pokoknya kalau Bapak enggak salah ingat, hari kamis!" Ujarnya. Dan saat itu juga pikiran Bianca langsung melayang pada malam di mana ia dan Haykal melakukan sebuah hubungan kesalahan.
Kalau dipikir-pikir, saat di mana mereka melakukan itu juga pada hari kamis malam. Jangan-jangan...
"Kalau begitu saya permisi dulu, ya, Pak! Terima kasih untuk informasinya, permisi." Pamit Bianca, kemudian pergi dari sana dan kembali mencoba peruntungannya untuk menghubungi Haykal.
"Haykal, please... Lo ada di mana? Kenapa hape lo enggak pernah aktif? Lo bisa gak, jangan bikin gue khawatir?" Bianca kembali menghela napas seraya melangkahkan kakinya entah ke mana.
Ia harus mencari Haykal ke mana lagi?
"Masa gue harus nanya ke temen-temennya?" Bianca lantas menggeleng-gelengkan kepalanya. Bayangan nanti jika teman-temannya Haykal bertanya alasan mengapa ia mencari laki-laki itu membuatnya takut sendiri.
Bagaimana kalau nanti mereka menyindir Bianca? Secara, dulu Bianca-lah yang selalu menjauhkan diri dari Haykal dan menolak perasaan laki-laki itu sampai membuatnya terluka.
Ya! Bianca lebih baik sabar. Mungkin Haykal sedang ada urusan mendadak, makanya ketika ditelepon ponselnya selalu tidak aktif.
"Oke. Masih ada besok." Ucap Bianca seraya menguatkan dirinya.
^^^To be continue....^^^
Epilog:
Tepat pukul lima sore kemarin, Rio benar-benar mengunjungi rumah Alma. Cowok itu dengan hanya bermodalkan berani, datang mengunjungi orang tua gadis itu.
Dan yang seperti kalian pikirkan, saat ini Rio tengah berada tepat di ruang baca kediaman rumah Alma. Ia tidak sendiri. Cowok itu ditemani oleh kedua orang tuanya Alma, Noval dan Rahma.
Suasana di ruangan itu cukup hening dan mencekam. Apalagi tatapan mata papanya Alma yang terlihat begitu dingin tertuju pada Rio yang masih terduduk diam di sofa yang berhadapan dengannya.
"Jadi, tujuan kamu ke mari adalah...?" Noval, papanya Alma, bertanya seraya menggantungkan pertanyaannya. Pria setengah baya itu terlihat mengambil secangkir teh hangat yang sebelumnya disajikan oleh putri semata wayangnya, Alma.
Oh, ya. Saat ini Alma tengah di kurung oleh sang mama, Rahma, di kamarnya. Ia sengaja mengurung putrinya itu untuk tidak bertemu dengan Rio terlebih dahulu.
"Sebelumnya, maaf saya datang tidak memberitahu dulu Om dan Tante atas kedatangan saya yang tiba-tiba. Tapi, saya sudah berbicara dengan anak Om, kalau hari ini saya mau datang menemui kalian untuk meminta restu." Rio mulai buka suara dengan kalimat-kalimat sopan yang telah ia rancang dan susun sebelumnya.
Mendengar perkataan Rio yang paling terakhir ia ucapkan, sontak saja membuat Noval dan Rahma, selaku orang tua Alma terkejut.
Ya, gimana mau gak terkejut?! Ada anak SMA yang umurnya sekitar tujuh belas tahunan, tapi sudah berlaga seperti orang dewasa dengan mendatangi orang tua si perempuan dengan maksud meminta restu?
Jarang ada anak laki-laki yang memiliki nyali sebesar Rio.
"Ekhem. Kamu bilang minta restu? Restu apa? Jangan buat saya salah paham kalau restu yang kamu maksud adalah menikahi anak saya! Kamu gak habis macem-macem sama anak saya, kan?" Noval menatap penuh selidik anak muda di hadapannya.
Sang istri, Rahma, langsung menyentuh pundak suaminya seraya memberi kode untuk tidak bicara terlalu keras kepada Rio.
Rio merespon ucapan Noval dengan terkekeh santai. Cowok itu mulai memusatkan perhatiannya kepada pria setengah baya itu dengan tatapan yang cukup serius.
"Saya enggak mungkin macem-macem, Om, Tante. Saya cuma mau minta restu sama Om dan Tante buat macarin anak kalian. Soalnya perasaan saya sudah terlalu lama digantung sama anak Om." Ujar Rio. Dan saat itu juga, Noval langsung tertawa.
Perkataan terakhir yang Rio ucapkan benar-benar membuatnya tak bisa lagi menahan tawanya.
Dasar anak muda!
Noval menggeleng-gelengkan kepalanya setelah tawanya mulai berhenti. Tatapan matanya yang semula begitu dingin menatap Rio, kini berubah menjadi lebih hangat apalagi ditambah dengan seulas senyum yang terpatri di wajahnya.
"Kamu suka sama anak saya?"
"Suka, Om! Eh!" Rio menyahut dengan penuh semangat. Ia bahkan sampai lupa kalau dirinya harus terus bersikap cool dan tenang di hadapan calon mertua.
Noval mulai berdiri dari posisinya yang langsung diikuti oleh Rio. "Inilah alasan saya gak ngizinin Alma buat pacaran. Karena saya tahu, suatu saat nanti, pasti akan ada satu orang yang benar-benar tulus dan mencintai Alma, sampai orang itu berani buat nunjukin diri di depan orang tuanya langsung. Saya salut sama kamu, Rio." Noval mulai mencengkram kedua bahu Rio seraya menatap takjub anak muda di hadapannya ini.
"Karena kamu sudah di sini, kenapa tidak ikut makan malam bareng kami? Sekalian ketemu anak saya. Tujuan kamu selain buat minta restu ke sini, pasti juga pengen ketemu sama Alma, kan? Makan malam di sini, ya?" Noval mulai melangkahkan kakinya ke samping Rio, kemudian mulai merangkul bahu cowok itu.
Dalam hati Rio yang terdalam, ingin rasanya ia berteriak di atas Kapal Titanic seraya mengundang satu Indonesia Ke Planet Saturnus untuk mengadakan pesta bahwa dirinya telah mendapat restu dari kedua orang tua Alma.
__ADS_1
Yes! Gue berhasil! Langkah selanjutnya adalah, ngedeketin Alma!
Hai~ Sdh update, dan maaf updatenya telat. Harusnya ini updatenya kemaren, tpi karena 2 hari yg lalu aku sakit kepala (migrain kayaknya. aku lihat di google katanya migrain) aku jdi gk bisa nulis satu kata pun!>~< jdinya yah gitu. Ngetiknya gk selesai sehari, but sperti yg aku bilang, partnya aku panjangin. Ini udah 3500+ kata ya. Semoga puas dan sampai jumpa di next episode!!! Dan, oh, ya. Sinopsisnya aku perbarui ya. Aku kasih peringatan kalau cerita ini khusus 17+🙈🙏