
"Kamu diapain aja sama dia?" Alex menatap lekat-lekat sepasang manik mata Kanza yang terlihat masih begitu kacau seperti sebelumnya.
Jejak air mata yang mengering bahkan terlihat begitu jelas menempel di wajahnya. Kedua tangannya yang terus bergetar menandakan bahwa gadis itu benar-benar tidak dalam kondisi baik-baik saja.
"Za? Dia gak sempet nyakitin kamu, 'kan?" Tatapan Alex berubah lembut, pun diiringi dengan nada suaranya yang terdengar sama.
Hampir begitu lama Kanza terdiam dengan berbagai kecemasannya, perlahan perhatian gadis itu mulai beralih pada Alex dengan sepasang bola matanya yang mulai berkaca-kaca. Tak lama kemudian, gadis itu terisak dengan kedua lengannya yang refleks memeluk tubuh Alex.
"Aku takut, Lex! Aku takut ..." lirihnya terdengar begitu pilu. Tarikan napasnya pun bahkan terdengar terputus-putus dengan tubuhnya yang kembali bergetar.
Amarah lagi-lagi menguasai diri Alex teruntuk Vando. Salah satu tangannya bahkan terkepal kuat mencoba menahan kekesalan yang melanda. Sedangkan tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk mendekap sekaligus menenangkan Kanza yang masih tak henti-hentinya terus terisak.
"Maaf, aku datangnya telat. Aku janji hal ini gak akan terjadi lagi, hm? Udah, kamu gak usah takut. Aku akan melindungi kamu, gimanapun caranya."
Perlahan, pelukan di antara keduanya mulai sedikit melonggar. Gadis itu dengan tanpa aba-aba mencoba melepaskan diri dari Alex. Saat Alex mencoba untuk menatap wajah Kanza, raut wajahnya tampak begitu ketakutan dengan sepasang bola mata yang sembab dan sisa-sisa air mata yang menempel di beberapa sudut wajahnya.
Melihat hal itu, sudut hati Alex terasa begitu sakit. Refleks kedua tangannya kembali menarik tubuh Kanza ke dalam pelukannya. Tanpa ia sadari, setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya.
"Maaf! Maafin aku, Za! Harusnya aku gak ninggalin kamu tadi. Maaf, karena kamu harus kembali ngerasain ini lagi." Alex mencoba menarik napasnya dalam-dalam seraya terus mendekap tubuh Kanza.
Tangannya yang sebelah kanan ia gunakan untuk mengusap lembut belakang kepala Kanza. Dan tangan sisanya ia gunakan untuk mengunci tubuh gadis itu agar tidak pergi ke mana-mana.
Tangis Kanza yang semula berhenti lantas kembali pecah sesaat ketika ucapan lembut dari laki-laki itu terucap dari mulutnya. Rasanya, hanya dengan mendengarkan ucapannya saja sudah membuat Kanza merasa aman bahwa di dunia ini, ia benar-benar tidak sedang sendirian. Masih akan ada orang yang mencintainya.
Kanza menggeleng-gelengkan pelan kepalanya mencoba menepis ucapan permintaan maaf Alex. "Makasih, Lex! Kalau gak ada kamu, aku gak tahu bakal diapain aja sama dia. Makasih,"
"Bilang sama aku. Dia ngapain aja sama kamu, hm?" Alex melonggarkan pelukannya, kemudian beralih menatap lekat-lekat sepasang bola mata Kanza. Kedua tangannya pun kini telah beralih ke wajah Kanza, mencoba membuat perhatian gadis itu agar tertuju padanya.
Kanza sempat terdiam sejenak dengan sesekali mencoba menelan salivanya. Tak berapa lama kemudian, ia menarik napasnya dalam-dalam. Berharap perasaan gugup dan takutnya akan sedikit berkurang.
"Di-dia—" Kanza menggantungkan ucapannya dengan kembali menarik napas sedalam-dalamnya.
"Ya? Dia ngapain aja? Di gak mukul kamu, 'kan?" Tatapan Alex langsung mengedar ke segala penjuru tubuh Kanza.
Kanza tak langsung menjawabnya dengan lisan. Ia hanya menjawabnya dengan gelengan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Alex.
"Dia cuma megang pergelangan tangan aku sama nyentuh wajah aku, Lex," ujar Kanza, pada akhirnya.
Helaan napas lega lantas Alex embuskan. Namun tak berlangsung sampai di situ saja, perhatian Alex kemudian beralih pada kedua pergelangan tangan Kanza. Dengan penuh ketelitian, ia memeriksa satu-persatu pergelangan tangannya.
Ketika tak ada satu pun memar di sana, perhatian Alex kemudian beralih pada wajah gadis itu. Dan, Alex lagi-lagi mengembuskan napas lega sesaat tak ada luka apa pun di wajah Kanza.
Dengan penuh perhatian, laki-laki itu mulai mengusap pelan wajah Kanza yang masih menyisakan air mata. Sepasang netranya menatap lembut manik mata Kanza yang tampak begitu sendu.
"Kita pulang sekarang, ya," ucap Alex. Ketika laki-laki itu hendak menarik salah satu pergelangan tangan Kanza, gadis itu langsung menariknya, sehingga membuat perhatian Alex kembali pada Kanza.
Alex menautkan kedua alisnya menatap Kanza yang terlihat ragu. Ketika Alex hendak melayangkan pertanyaan, fokus gadis itu langsung beralih pada Alex.
"I-itu ... jangan kasih tahu Kenzo soal kejadian hari ini, ya?"
Alex semakin menautkan kedua alisnya dengan berbagai pertanyaan yang terbesit di kepalanya. "Kenapa?"
"Kenzo baru aja sembuh. Aku gak mau buat dia khawatir. Lagi pula, bukannya ada kamu? I-iya, 'kan, Lex?!" Kanza berusaha menarik kedua sudut bibirnya agar terlihat baik-baik saja.
Sayangnya, senyuman di wajahnya terlihat sedikit bergetar. Sehingga Alex dapat dengan mudah menyadarinya.
Alex sempat berpikir sejenak. Tak berapa lama kemudian, laki-laki itu pun mengangguk pelan. "Kita pulang, ya. Udah mau sore," ujar Alex, yang mendapat anggukan kecil dari Kanza.
...****...
"Cieee... Senyum-senyum sendiri. Lagi mikirin apa nih, Anak Mami?" Chelsea memasuki ruang kamar putranya sesaat ketika wanita itu tidak sengaja berjalan melewati pintu kamar Kenzo yang setengah terbuka.
Sontak Kenzo yang tengah fokus menatap layar ponselnya, lantas mengalihkan perhatiannya pada sang mami.
"Eh, Mami! Enggak ada apa-apa, kok, Mih." Ujar Kenzo. Senyuman manis masih bertenggar indah di wajahnya.
Melihat tingkah Kenzo yang sudah mulai dewasa, Chelsea sebagai orangtua merasa tidak percaya telah membesarkan anak yang kini telah beranjak remaja. Rasa-rasanya, baru kemarin ia melahirkan Kenzo. Tapi sekarang, anaknya yang paling nakal ini sudah berdiri dan melampaui dirinya.
Seingat Chelsea dulu, tubuh Kenzo masih setinggi lutut dan sering sekali merengek minta giliran digendong, ketika ia tengah mengais Kanza. Kini, putra dan putrinya telah beranjak besar. Mereka telah tumbuh menjadi sepasang remaja yang berlomba-lomba mencari jati diri mereka.
Perlahan, salah satu tangan Chelsea terulur mengelus puncak kepala Kenzo dengan penuh kasih sayang. Seulas senyuman tulus pun diiringi tatapan dari kedua bola matanya yang sendu membuat Kenzo lantas mengernyitkan dahinya bingung.
"Anak Mami sekarang udah gede, ya? Makin ganteng, lagi. Jangan malah tambah nakal, ya," Chelsea terkekeh pelan di akhir kalimat yang ia ucapkan. Sedangkan Kenzo, laki-laki itu menatap sang mami dengan perasaan kalut yang tak dapat ia deskripsikan.
Namun, satu hal yang terbesit di otaknya. Kenapa maminya tiba-tiba berkata seperti ini?
"Oh, ya. Gimana hubungan kamu sama cewek yang namanya ... Wandi itu?" Kenzo membelalakkan kedua bola matanya mendengar pertanyaan lain yang dilontarkan oleh sang mami.
Tak berapa lama kemudian, cowok itu terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Wanda, Mih. Bukan Wandi. Siapa Wandi? Mami ada-ada aja, deh."
Chelsea terdiam sejenak dengan kedua alisnya yang hampir bertaut. Persekian detik berikutnya, pukulan kecil mendarat di lengan sang putra. "Iya, itu maksudnya. Hm ... kamu yakin, mau pacaran sama dia?"
Kini giliran Kenzo yang terdiam dengan kedua alisnya yang hampir bertaut. "Mami gak setuju aku pacaran sama Wanda?"
"Hah?! Apaan, sih. Mami cuma nanya, Zo! Respon kamu kok, gitu banget sama Mami? Kamu pikir, pikiran Mami sekolot itu apa, hah? Denger, ya! Mami tuh masih anak Jaman Now! PUBG aja Mami main, kok." Cerocos Chelsea. Detik itu juga, Kenzo langsung tertawa kecil menanggapi ucapan maminya.
"Iya, terus? Kalau bukan itu, terus tujuan Mami nanya kayak gitu apaan? Kasih tahulah," tanya Kenzo. Dengusan sebal, Chelsea embuskan dengan sorot matanya yang sinis tertuju pada Kenzo.
"Gini, ya, Zo. Mami mau ngasih satu nasehat buat kamu. Kamu boleh pacaran sama siapa aja, Mama sama Papi gak larang. Tapi yang Mami khawatirin adalah, kamu yakin mau pacaran sama Wanda Dia beberapa tahun lebih dewasa dari kamu, loh? Kamu yakin gak akan nyesel?"
"Mih!" Panggil Kenzo. Seketika membuat Chelsea langsung memokuskan pandangannya pada sang putra.
"Makasih, Mami udah mau khawatirin Kenzo. Tapi, Mih, Kenzo udah yakin sama diri Kenzo sendiri bahwa Wanda adalah wanita yang tepat buat Kenzo.
"Wanda emang kadang suka judes, tapi hatinya baik. Cinta dia buat Kenzo tulus, walaupun dia sempet khawatir karena status kita yang berbeda. Tapi sebisa mungkin aku yakinin dia bahwa status itu gak ada apa-apanya dibandingkan dengan perasaan sayang kita satu sama lain. Dan lagi, umur cuma angka. Dan aku juga yakin bahwa aku gak akan pernah menyesal memilih Wanda sampai kapan pun." Papar Kenzo
Chelsea terdiam mendengar perkataan Kenzo yang lebih terdengar seperti perkataan orang dewasa. Tidak salah lagi, putranya sudah benar-benar dewasa dan bukan lagi anak kecil seperti dulu. "Kalau itu bisa bikin kamu bahagia, Mami akan dukung kamu, apa pun yang terjadi." Ujar Chelsea. Setelahnya, ia mulai bangkit dari posisi duduknya hendak pergi dari kamar Kenzo.
"Udah jam lima. Mami mau ke dapur dulu, ya, mau buat makan malem. Inget, selain pacaran, kamu juga harus belajar. Mami tahu kamu itu sebenarnya mampu, cuma males aja," kekeh Chelsea, kemudian benar-benar melenggang keluar dari kamar putranya.
Sepeninggalan sang mami menuju dapur, Kenzo benar-benar dibuat tak dapat berkata-kata oleh perkataannya. Maminya yang satu ini benar-benar hebat kalau sudah urusan meledek atau bahkan menjatuhkannya dengan kenyataan. Untungnya, Kenzo tidak pernah mengambil hati perkataan sang mami. Karena Kenzo tahu betul, maminya seperti itu bukan hanya pada dirinya saja. Pada Kenan selaku suaminya saja begitu.
Intinya, maminya seperti itu sudah dari sejak lahir.
Kenzo menghela napas malas seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak lama kemudian, perhatiannya kembali pada layar ponselnya yang menampilkan deretan foto Wanda yang ia curi tadi siang dari galeri hapenya.
"Duh, duh ... Pacar gue cantik bangeettt, dah. Jadi makin cinta, emuah!" Gerutu Kenzo, mulai kembali tidak jelas.
...****...
"A-aku ... pulang duluan, ya. Makasih buat hari
ini." Kanza berusaha menampilkan seulas senyumannya di hadapan Alex yang baru saja selesai mengantarnya pulang sampai di depan gerbang rumahnya. Cowok itu tak langsung menjawab perkataan Kanza. Ia hanya terdiam, kemudian di persekian detiknya ia mengangguk pelan.
"Inget yang aku bilang tadi. Jangan terlalu dipikirin. Aku pasti akan bales setelah apa yang udah dia lakuin sama-"
"Jangan!" Pekik Kanza, refleks membuat Alex langsung mengerutkan dahinya.
"Kenapa?" Tanya Alex. Seketika itu juga, raut wajah Kanza langsung berubah cemas. Sedikit membuat Alex dibuat penasaran dan bertanya-tanya, sebenarnya, orang seperti apa Vando-Vando ini?
"Pokoknya, kamu jangan aneh-aneh lagi sama dia. Dia orangnnya nekat. Kamu jangan deket-deket lagi sama dia, ya!" Ucap Kanza, terdengar sangat serius.
Dalam hati Alex yang terdalam, ia benar-benar sangat ingin kembali menghajar cowok bernama Vando itu. Selain gila, sepertinya dia juga sangat mengerikan sampai-sampai membuat Kanza yang selalu ceria dibuat tak berdaya. Beruntunglah Alex yang tidak pernah takut pada siapa pun. Asalkan itu masih manusia, Alex masih bisa melawan dan menyalurkan dendam.
“Kamu tenang aja. Aku jamin, dia yang akan ketakutan setelah tahu seperti apa Alex yang sebenarnya.” Balas Alex, tanpa sadar sudah membuat Kanza tersenyum kecil.
“Nah, gitu dong. Jangan cemberut aja. Kali-kali kek senyum,” Alex merentangkan salah satu punggung tangannya untuk membelai wajah Kanza.
Detik itu juga, senyuman Kanza langsung luntur dan digantikan dengan raut wajah tegang. Semburat merah lantas menghiasi kedua pipi gadis itu.
__ADS_1
“Ish! Apaan sih! A-aku pulang duluan. Dah!” Pamitnya, terburu-buru meninggalkan Alex yang masih setia berada di dalam mobil. Melihat reaksi lucu dari Kanza, kedua sudut bibir laki-laki itu lantas tertarik membentuk sebuah lengkungan manis.
Sayangnya, momen itu tak berlangsung lama sampai pada saatnya, raut wajah Alex langsung berubah menjadi lebih masam. Aura dalam diri cowok itu pun berubah mengerikan dengan kedua bola matanya yang menyorot tajam.
“Beraninya dia macem-macem sama pacar gue.” Gerutu Alex. Setelahnya, cowok itu mulai menyalakan kembali mesin mobilnya, kemudian membawanya keluar dari area pekarangan rumah Kanza. Setelah ini, Alex akan benar-benar menunjukkan cara paling ampuh untuk balas dendam dengan benar.
...****...
“Loh? Kanza? Kamu kok baru pulang, ini udah jam berapa, hm? Ke mana aja seharian ini? Main? Pacaran? Bener-bener, ya,” setibanya Kanza di dalam rumah, gadis itu langsung dikejutkan dengan suara lantang dari arah lain yang tak lain adalah suara maminya.
Bukannya merasa takut atau bagaimana, gadis itu malah menyengir tanpa dosa seraya menggaruk belakang tengkuknya yang tidak gatal.
Tidak boleh membiarkan maminya tahu soal apa yang sudah terjadi hari ini! Batin Kanza menggerutu.
“Eh, Mami! I-iya, nih, Kanza baru pulang. Banyak kerjaan soalnya- aduh!” Pekik Kanza, sesaat ketika tepukan pedas meluncur di salah satu bahunya.
“Gak usah ngadi-ngadi deh. Kamu masih sekolah, bisa ada kerjaan apa kamu di sekolah? Nonton drakor?” Ketus Chelsea. Membuat Kanza merengut sebal.
“Udah. Sekarang kamu ke kamar, mandi, terus habis itu langsung ganti baju. Bentar lagi kita makan malem,” pungkas Chelsea. Dengan pasrah, Kanza pun mengangguk sembari menyeret kedua kakinya menaiki puluhan anak tangga.
...****...
Tepat pukul tujuh malam, Kenzo sudah siap dengan pakaian kasualnya hendak keluar rumah. Di malam yang tadinya akan ia habiskan untuk menelepon Wanda, malah ia isi bersama teman-temannya yang tiba-tiba mengajak Kenzo untuk berkumpul di tempat tongkrongan biasa.
Dengan sangat terpaksa, Kenzo pun menyetujui ajakan Juna dan teman-temannya untuk berkempul. Sekalian untuk mengisi waktu kebersamaan yang akhir-akhir ini sering tertunda akibat masalah yang datang silih berganti kepada mereka.
“Wuidih… Udah rapi aja kamu. Mau ke mana?” Sahutan dengan suara bariton tersebut sontak mengalihkan perhatian Kenzo yang baru saja menutup pintu kamarnya. Ketika menyadari bahwa sosok tersebut tak lain adalah Kenan, alias sang papi, Kenzo lantas terkekeh pelan seraya menyengir kuda.
“Biasa, Pih. Urusan anak muda,” ujar Kenzo, yang dibalas dengusan pelan oleh Kenan.
“Kamu pikir Papi bukan anak muda?” Bukannya langsung menjawab seperti sebelumnya, kali ini Kenzo malah tersenyum misterius dengan kepala yang agak menunduk.
Kenan menghela napasnya cukup dalam dengan perhatian yang belum juga beralih dari putranya. “Pulangnnya jangan kemaleman, inget! Nanti Mami kamu khawawtir lagi,” ucap Kenan. Setelahnya, papinya itu malah melenggang dari hadapan Kenzo yang sempat terdiam beberapa saat.
“Emang Papi gak bakal khawatir?” Sahut Kenzo, seketika langsung menghentikan langkah kaki Kenan.
“Kenapa harus khawatir? Kamu udah gede, dan Papi yakin kamu bisa jaga diri baik-baik. Inget, pulangnya jangan kemaleman.” Pungkas Kenan tanpa melirik maupun mengubah sedikit posisi berdirinya. Setelahnya, ia kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda.
Di sisi lain, Kenzo terdiam dengan pikirannya yang tertuju pada ucapan papinya beberapa saat yang lalu. Ucapannya memang terdengar santai, namun memiliki arti terselubung di dalam deretan kata-katanya. Benar-benar mengusik Kenzo.
“Papi salah udah percaya sama Kenzo. Kenzo gak sebaik itu untuk Papi percaya.”
...****...
“Woi! Ngelamun aja lo. Mikirin apa sih?” Juna menepuk bahu Alex cukup kuat sehingga membuat sang empunya yang tengah melamun refleks berdesis dengan tatapan yang cukup mengerikan.
Bukannya merasa takut, apalagi meminta maaf, Juna malah dengan santainya menyengir, kemudian menjatuhkan dirinya di atas bangku di samping Alex.
“Lagi nungguin si Kenzo, ya?” Celetuk Juna. Dengan malas Alex pun hanya menjawabnya dengan dehaman pelan sekaligus anggukan.
“Gue curiga deh, Lex!” Ujar Juna mulai kembali membuka suara.
“Apaan?” Tanya Alex dengan perhatian yang beralih menatap wajah Juna.
“Kok, gue ngerasanya si Kanza kek bukan pacar lo, ya,”
Mendengar hal itu, kedua alis Alex langsung mengerut dengan tatapan matanya yang kian menusuk. “Maksud lo?”
“Ya, gimana, ya? Gue sih mikirnya lo sama si Kenzo yang pacaran. Soalnya di mana di sana gak ada lo, si Kenzo suka nanyain lo. Dan begitupun sebaliknya-“
Pletak!
“Aw!” Juna mengaduh tatkala dengan sangat keras Alex menampar kepalanya.
“Otak lo makin lama bukannya makin waras, ini malah makin gila.” Ketus Alex. Spontan dibalas kekehan menyebalkan oleh Juna.
“Bercanda, Lex. Serius amat lo,”
“Ya, bercanda lo keterlaluan, bego! Ya, kali gue suka batang?”
“Enggak. Ini si Alex-“
“Nah, itu si Kenzo dah dateng. Gue duluan, ya.” Sela Alex, kemudian bangkit dari posisinya, diikuti dengan langkah kakinya yang cukup gontai.
Melihat Alex yang pergi dengan terburu-buru, Juna hanya bisa mengatupkan bibirnya dengan menghela napas cukup panjang. Sialan, si Alex! Ternyata bisa kabur juga dia, batin Juna menggerutu.
“Woi! Si Alex kenapa? Kenapa gak dilanjut?” Azka mengibaskan salah satu tangannya di wajah Juna dirasa cowok itu malah terdiam seperti melamun, bukannya melanjutkan perkataannya.
Juna mendengus, kemudian memilih bangkit dari posisi duduknya untuk menghampiri teman-temannya yang lain. “Auk ah! Kagak jadi!” Ketusnya, kemudian melenggang dari hadapan Azka yang dibuat melongo oleh ucapannya.
“Apaan, sih?”
...****...
Di pagi hari yang terasa begitu tenang dan sunyi, seseorang dengan seulas senyum manis yang belum juga luntur dari sejak kemarin, berjalan dengan sangat santai memasuki area pekarangan sekolah. Namun, ketika setibanya ia di ruang koridor kelas sepuluh, beberapa adik kelasnya dimulai dari siswa maupun siswi terus menatapnya dengan tatapan aneh yang lebih ke sinis, jijik dan takut. Tak berapa lama kemudian, mereka mulai menjauh ketika ia mulai terus berjalan mendekat.
Merasa ada suatu hal yang aneh? Tentu saja! Namun ia memilih untuk tetap diam dan tidak peduli. Sampai pada saatnya ia tiba di koridor kelas sebelas yang berada di lantai dua, langkah kakinya langsung terhenti sesaat ketika penglihatnya tanpa sadar menangkap sesuatu yang membuat kedua alisnya berkerut dalam. Sontak tubuhnya langsung menghadap ke arah papan mading yang posisinya berada di sudut kurang lebih sembilan puluh derajat.
“Anj*ng! Apaan nih?” Pekiknya. Selang berapa detik, kedua tangannya mulai merobek beberapa lembar kertas HVS yang menampilkan foto serta bertuliskan sesuatu yang buruk tentang dirinya.
Sayangnya, belum sempat ia merobek semua, suara tepukan tangan dari arah belakang sontak menghentikan niat sampai mengalihkan perhatiannya.
“Gimana kado ulang tahun yang gue kasih ke elo? Suka?” Sahutnya lantang. Tak lain dan tak bukan ialah Alex.
“Btw, ulang tahun lo hari ini, ‘kan? Atau, udah lewat?” Suara Alex terdengar begitu angkuh ketika mengatakan kalimat itu. Seulas senyuman miring tak henti-hentinya terus ia tampilkan.
“Sialan! Jadi ini ulah lo?” Pekiknya lagi. Dan kalian bisa tebak siapa itu.
Ya, dia adalah Vando. Orang yang telah hampir menyakiti Kanza kemarin.
Alex terkekeh sinis seraya melangkah pelan ke hadapan Vando. “Lo suka? Makanya, jadi orang jangan batu. Udah gue bilangin jangan gangguin pacar gue, masih aja ngeyel. Sekarang gimana? Nyesel?”
Vando terdiam dengan menahan berbagai kekesalan dalam dirinya. Ketika ia hendak membalas, suara nyaring yang berasal dari speaker di seluruh penjuru sekolah lagi-lagi menghentikan niatnya.
“Mohon perhatiannya sebentar! Bagi siswa bernama Vando Ganesha, kelas XII IPS 6, diharapkan untuk segera menghadap ruang BK segera! Sekali lagi, siswa bernama Vando Ganesha, kelas XII IPS 6, diharapkan untuk segera menghadap ke ruang BK segera, terima kasih!”
Alex lagi-lagi memasang senyuman sinisnya teruntuk Vando. Sedangkan cowok itu yang semula hendak melayangkan amarahnya diharuskan tertunda akibat panggilan barusan yang menyuruhnya untuk segera menemui guru di ruang BK.
“Awas lo! Gue akan bales berkali-kali lipat dari apa yang udah terjadi hari ini.”
...****...
“Gila! Ide lo berguna banget dah. Gak sia-sia Bokap lo masukin lo kursus komputer.” Azka menatap kagum Alex yang sedari tadi hanya sibuk diam dengan seulas senyuman bangga yang terukir jelas di wajahnya.
“Ini juga berkat kalian yang udah bantuin gue. Makasih, ya,” balas Alex, membuat teman-temannya sontak langsung membanggakan diri masing-masing.
“Sama-sama, Lex. Makanya, kalau ada masalah tuh jangan dipendem berdua. ‘Kan si Juna nyangkanya lo sama si Kenzo ada hubungan khusus.” Rio menyeletuk membuat semuanya lantas tertawa.
Jika kalian masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini, mari kita kembali ke kilas balik sebelum hari ini.
Flashback on.
Kemarin malam, tepat ketika Kenzo sampai di tempat tongkrongan, ia langsung disambut heboh oleh teman-temannya yang meliputi Juna, Azka, Rio, Haykal, dan juga Alex. Melihat teman-temannya yang masih begitu bersemangat padahal suasana telah berganti malam, bukan tidak mungkin ia pun tidak ikut heboh.
Dengan sekali tarikan, ia pun melepas helmnya yang masih bersarang di kepala. “Hi, everybody! Segitu kangenkah kalian pada gue yang paling ganteng ini?” Celetuk Kenzo, yang dibalas selorohan jijik oleh kelima teman-temannya.
“Kagak usah halu lo, Zo. Kite-kite begitu juga cuma kesian aja soalnya popularitas lo udah menurun dan diambil alih sama senior baru kelas dua belas itu,” timpal Juna. Membuat Haykal dan Rio kompak mengernyit bingung.
“Siapa?” Tanya Rio.
“Kalau gak salah sih namanya Van … Van …”
__ADS_1
“Vandi?” Tebak Haykal, yang langsung dibalas desisan sebal oleh Azka. “Bukan, anj*r! Pokoknnya Van-“
“Vando?” Sela Alex. Membuat Azka refleks menyeru heboh ketika ia mulai mengingat nama senior baru mereka.
“Nah, Vando maksud gue. Eh, btw, kok lo bisa tahu sih Lex?”
“Dia musuh bebuyutan kita.” Sahut Kenzo. Sontak perhatian teman-temannya langsung beralih menatap cowok itu dengan tatapan penuh tanya.
“Hm. Dan gue punya rencana buat ngasih dia pelajaran karena udah berani-beraninya nyakitin cewek gue.” Balas Alex yang diangguki Kenzo.
“Makasih udah jagain Kanza disaat gue gak ada. Gue berhutang budi sama lo, Lex!”
Juna, Azka, Rio dan Haykal terdiam dengan berbagai pertanyaan yang terbesit di otak mereka. Banyak yang ingin mereka tanyakan tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi. Sayangnya, mereka hanya bisa terdiam memendam rasa keingintahuan.
“Ya udah. Kita di sini mau kumpul bareng, ‘kan? Kenapa jadi pada diem? Yoklah, mabar.” Rio menyahut membuat suasana yang tadinya awkward menjadi kembali riuh seperti sebelumnya.
“Yoklah, mumpung malem ini ada si Haykal. Gue mau nantangin lo maen ludo pokoknya. Kagak mau tahu gue,” ujar Juna, yang dibalas gelak tawa yang lain.
“Jiah… Maen ludo. Maen yang lain kek, Jun,”
“Sewot aja lo, Ka! Suka-suka gue lah. Pokoknya gue masih kesel sama lo! Sembarangan pion gue yang tinggal bentaran lagi finish udah lo matiin aja. Pokoknya gue mau balas dendam.” Kukuh Juna. Dengan sangat pasrah, Haykal hanya bisa mengangguk seraya membuka ponselnya yang ia taruh di salam saku jaketnya.
“Ya udah. Tapi kalo kalah lagi lo jangan nyesel, ya,”
“Kagak ada! Gue pasti menang duluan kali ini.”
“Ikutan jugalah. Gabut gue. Pacar gue jam segini lagi nontonin idolanya,” Itu suara Rio. Dengan raut wajahnya yang dongkol dia pun ikut merogoh ponselnya yang ia taruh di dalam saku celana.
“Maennya pada online nih?” Tanya Azka yang dibalas kompak oleh Juna, Haykal, dan Rio.
“Ikutan jugalah.” Timpal Azka, ikut mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. “Eh, btw. Lo berdua ikutan juga kagak?” Pertanyaan itu Azka layangkan pada Alex dan Kenzo yang sedari tadi hanya sibuk berdua tanpa mau menengahi sama sekali.
Disahut seperti itu sontak membuat Alex maupun Kenzo menoleh pada Azka, kemudian dilanjut pada teman-temannya yang lain.
“Gak dulu, deh. Gue sama si Alex mau sibuk dulu,” ujar Kenzo. Tak lama setelahnya, Alex mulai berjalan ke arah mobilnya yang terparkir tak terlalu jauh dari posisi mereka. Cowok itu dengan santainya membuka pintu mobil sebelah kemudi untuk mengambil beberapa barang yang tak lain ialah sebuah laptop beserta perangkat keras lain dimulai dari mouse, TP-LINK, beberapa kabel LAN, dan kabel stop kontak.
“Lo mau ngegame apa gimana, nih?” Tanya Azka yang memang mulutnya paling bawel di antara semua teman-temannya yang lain.
“Bukan buat ngegame, bodoh! Itu buat bikin jaringan Wi-fi sendiri.” Ujar Haykal. Sontak perhatian Azka langsung beralih pada cowok itu.
“Bukannya Wi-fi dari hape juga bisa?”
“Emang, Cuma biar makin stabil aja.”
“Wuihhh… Lo tahu soal kek gituan, Kal?” Azka menatap kagum Haykal dengan kedua lengannya yang terlipat di depan dada.
“Tahu dikit-dikit. Soalnya dulu gue sering liatin almarhum Abang gue ngotak-ngotik benda begituan. Dia ‘kan sekolahnya dulu masuk SMK.” Jelas Haykal yang ditanggapi ‘oh’ oleh semuanya.
“Btw, lo mau ngapain sih Lex?” Tanya Rio yang sudah mulai gatal melihat Alex yang sibuk sendiri.
“Si Alex mau jadi hacker. Dia mau balas dendam sama si Vando dengan cara dia sendiri.” Timpal Kenzo, kemudian menghampiri Alex yang mulai disibukkan dengan layar monitor laptopnya.
Teman-temannya mulai tertarik. Mereka yang tadinya hendak bermain ludo malah beralih ikut menghampiri Alex dan melihat apa yang akan dilakukan oleh cowok itu.
“Lo yakin, Zo, bukti si Vando pernah berbuat bullying sama teman-teman sekolahnya pernah ada yang ngeupload di sosmed?” Alex menyahut datar dengan fokus kedua bola matanya yang belum beralih dari layar laptop.
“Gue yakin seratus persen kalau video dia pernah viral, bahkan sampai-sampai bokap dia yang kaya raya itu mengerahkan segala cara buat menghapus tingkah bejat anak kesayangannya.” Ujar Kenzo. Yang diangguki anggukan paham oleh Alex.
“Kalaupun udah dihapus tapi masih bisa dilacak ‘kan?”
“Kita lihat aja nanti, apa jejak digitalnya masih bisa dipulihkan atau enggak.” Balas Alex. Semakin membuat teman-temannya dibuat kagum oleh cowok itu.
Pikir mereka, memang pantas para siswi di sekolah mereka lebih mengidolakan Alex. Sudah pintar, jago dalam segala hal, lagi. Apa yang akan terjadi bila mereka tahu bahwa Alex jago ngehack? Rasa-rasanya, mereka sudah dapat membayangkannya seperti apa ekspresi para siswi.
Cukup lama Alex berkutat di depan layar laptop, dia masih belum juga menemukan bukti yang dimaksud Kenzo. Sempat frustasi, akhirnya Alex mencoba membuka web lain dan kembali mengecek dan mencoba memulihkan ulang seperti sebelumnya.
Hingga tak berapa lama kemudian, sebuah garis horizontal berwarna hijau yang muncul di tengah-tengah layar laptop membuat Alex beserta teman-temannya lantas semakin dibuat penasaran akan hasil yang akan ditampilkan nanti.
Sempat booting cukup lama, pada akhirnya apa yang mereka tunggu-tunggu pun muncul juga. Namun, ada yang salah dari apa yang tertera di sana.
“Dari tanggalnya … belum lama, ‘kan?” Gumam Haykal.
Tak lagi membuang-buang waktu, Alex mulai memutar sebuah rekaman video yang baru ia temukan itu. Dan, ketika video baru saja diputar, semuanya langsung melotot tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi dalam rekaman video tersebut.
“Ini … serius?” Rio menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
“Dia berani bikin kerusuhan di tengah masyarakat pake seragam sekolah kita? Maksudnya apaan nih? Mau mencoreng nama baik sekolah kita?”
“Heh, Geng Black Hunter? Bisa-bisanya video ini udah dihapus duluan sebelum kita tahu kebenarannya. Sialan! Karjaan SMA Nusantara lagi keknya.” Kenzo mengeratkan rahang serta mengerutkan keningnya. Rasa kebencian yang ia simpan teruntuk Vando dan juga sekolah saingan SMA Naruna semakin tak dapat ia tepis.
Azka mengernyitkan keningnya dengan perhatian yang beralih menatap Kenzo. “Emang ada hubungan apa Si Vando sama SMA Nusantara?”
“SMA Nusantara sekolah lama dia sekaligus sekolah yang dibangun sama kakeknya. Keluarga dia saingan berat sama keluarga gue. Pas sekolah ini mau dibangun, keluarga mereka juga ikut-ikutan beli tanah terus ikutan bangun sekolah swasta. Intinya, mereka bangun sekolah itu karena gak mau kalah saing.” Papar Kenzo. Teman-temannya yang mendengar penjelasan tersebut hanya bisa mengangguk-anggukan kepala.
“Gue nemu yang lain.” Sahut Alex. Seketika kembali mengalihkan fokus mereka pada layar monitor laptop.
Lagi-lagi mereka dibuat terdiam dengan sepasang bola mata yang hampir terbelalak sempurna. Di detik berikutnya, semuanya langsung menggeleng-gelengkan kepala dengan tatapan yang berubah jijik.
“Mabok ditemenin jal*ng. Emang cuma si Vando doang keknya,” celetuk Azka.
“Anj*r, 18+! My eyes is ternodai, bangs*t!” Juna terpekik kala rekaman video tersebut mulai memperlihatkan aksi liar Vando bersama seorang wanita tak dikenal. Atau lebih tepatnya seorang wanita bayaran.
“Heh, akhirnya gue bisa balas dendam juga sama lo, Vando!” Senyuman miring terbit di wajah Alex yang sebelumnya hanya memasang ekspresi datar.
Tak ingin puas terlalu cepat, Alex pun mulai mengeluarkan flashdisk, kemudian mentranfer file-file tersebut ke dalam sana. Setelah malam ini, Alex ragu Vando masih bisa terus tersenyum dan memamerkan dirinya lagi. Akan Alex buat cowok itu kehilangan muka sampai tak lagi berani menampakkan batang hidungnya.
“Gue share ke kalian-“
“Eeh, ngapain? Jijik gue anj*r, males banget.” Juna menyela membuat Azka refleks menoyor kepala cowok itu.
“Kek gak pernah lihat begituan aja lo, Jun. Gak usah so suci, deh,”
Alex mendengus seraya memutar bola matanya. “Maksud gue, bukan buat lo tontonin. Tapi buat dishare ke semua grup WhatsApp, Facebook, atau apa kek. Kirim ke kontak guru langsung juga terserah. Gue Cuma mau si Vando kehilangan muka.” Jelas Alex yang kemudian dibalas ‘oh’ serta anggukan paham oleh teman-temannya.
Flashback off.
“Setelah ini si Vando-Vando itu pasti lagi kesel banget dah. Langsung di DO gak, ya?” Juna menatap satu-persatu teman-temannya dengan seulas senyuman bangga.
“Btw, lo berdua ada dendam apaan sih sama tuh senior? Segitunya banget sampe menjelma jadi ahli komputer?” Juna lagi-lagi menyahut ketika mengingat satu hal yang sempat membuatnya bertanya-tanya kemarin, namun belum sempat ia tanyakan.
Semua teman-temannya refleks terdiam dengan pandangan yang sesekali akan beralih menatap Kenzo maupun Alex.
“Dia orang yang udah buat Kanza trauma. Kalau bukan karena berbagai bujukan dari gue sama keluarga, Kanza gak akan pernah jadi sosok yang kayak sekarang.” Itu suara Kenzo. Cowok itu bersuara mewakili Alex yang tampak terdiam dengan dengan kedua alisnya yang mengerut dalam.
“Dia pindah ke sekolah ini karena dia tahu Kanza udah dikeluarin dari sekolah khusus putri. Kalau aja SMA Melati bukan sekolah khusus putri, mungkin udah dari awal dia nyamperin Kanza.” Ujar Kenzo lagi, membuat teman-temannya terdiam dengan berbagai pikiran masing-masing.
“Kalau aja kemaren gue terlambat datang, gue gak tahu hal nekat apa yang bakal dia lakuin sama Kanza. Gue nyesel dengerin ucapan dia yang nyuruh gue buat nungguin dia di parkiran sekolah. Coba aja gue gak ninggalin Kanza, mungkin-“
“Dengan lo datang tepat waktu aja gue udah bersyukur, Lex. Makasih udah jagain Kanza, dan makasih karena udah ngasih tahu gue soal hal ini.” Kenzo menyela dengan perhatian yang tertuju pada Alex.
Alex sempat terdiam beberapa saat. Tak berapa lama kemudian, ia menghela napas panjang sembari mengangguk beberapa kali.
“Lo gak perlu bilang makasih sama gue, Zo. Karena sampai kapan pun, gue gak akan biarin orang yang gue cintai terluka. Dan gue mau minta satu hal dari lo,” ujar Alex, menggantung. Sedikit membuat teman-temannya, tak terkecuali Kenzo semakin dibuat tertarik untuk mendengarkan percakapan mereka.
“Apa?” Tanya Kenzo.
“Please, restuin gue sama Kanza. Gue mau ngelamar dia setelah lulus SMA nanti.”
“Hah?! Lo bilang apa?”
^^^To be continue….^^^
__ADS_1
Aduh, maaf baru sempet update! Dua mingggu yg lalu aku sibuk belajar buat ujian dan seminggu yang lalunya ujian. Aku udah bikin pengumuman di kolom komentar di eps sebelumnya, tpi aku mau jelasin lagi sekarang karena takutnya ada yang gk baca, wkwk. Tapi skrng kalian tenang aja. Ujian pokoknya dah beres dan keknya gk akan ada bljr2 lagi ke depannya. Tpi gk tahu juga sih soalnya stlh ujian kli ini katanya gk bkl ada libur. Bulan januari nanti bkl mulai efektik seperti waktu sebelum korona, yaitu bjlr sampe jam 4 sore:’) pen nangis weh sumpahhh! Tpi yah, mau gimana lgi yakan?Resiko pelajar namanya juga wkwk.
Btw, klo ada yg slah di scene di mana Alex ngehack, maafin ya! Soalnya aku sbrnya gk ada pengalam kek gitu. Cuma bermodalkan dengerin pljrn sama nontonin drama doang wkwk. Klo ada yg salah, koreksi, mksihhh:* And see you next time…