
Ting! Tong! Ting! Tong!
Bell jam istirahat pertama berbunyi. Seluruh murid-murid SMA Naruna yang berada di dalam kelas, mulai membereskan peralatan sekolah mereka.
"Langsung ke kantin, yuk! Gue udah gak kuat, nih!" Alma mengelus perutnya yang mulai kelaparan.
"Sama! Gue pengen nasi goreng buatannya Kak Rima. Beuhh... Pasti endos tuh kalau dimakan pas jam istirahat begini!" Kayla mulai menjilati bibirnya seraya membayangkan kenikmatan nasi goreng yang dijual di kantin sekolah yang menurutnya tidak ada tandingannya.
Kanza menghela napasnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalian aja, gih! Gue mau ke perpus dulu. Lagian, gue gak laper." Ujar Kanza, mampu membuat raut wajah kedua sahabatnya langsung berubah murung.
"Lo gak ikut, Za? Ah, gak seru!" Kayla melipat kedua lengannya di depan dada. Bibirnya mengerucut dengan kedua alisnya yang mengerut.
"Tumben banget pengen ke perpus. Kenapa? Mau sok rajin, ya, biar dilirik sama Alex? Hm?" Berbeda halnya dengan Kayla, Alma justru malah menggoda Kanza.
"Ha-hah!? Apaan, sih! Enggak! Gue cuman mau nyari buku doang, gak boleh?" Kanza memalingkan wajahnya yang mulai sedikit memerah.
Melihat Kanza yang sepertinya mulai salting, Alma dan Kayla sontak kembali menggoda Kanza dengan menoel-noel bahu gadis itu disertai senyuman ledekan menyebalkan khas dari Alma dan Kayla.
"Apaan, sih! Udah, udah! Katanya mau ke kantin! Turunnya bareng, yok!" Ucap Kanza, mencoba mengalihkan pembicaraan sebelumnya.
"Ya udah, ayok!" Alma mulai menggandeng lengan Kanza dan Kayla. Gadis itu sengaja berdiri di tengah-tengah.
Namun, baru beberapa langkah ketiganya berjalan keluar dari dalam kelas, Kanza langsung menghentikan langkah kakinya. Membuat Alma dan Kayla refleks ikut berhenti.
"Kenapa, Za?" Kayla menatap heran Kanza.
"Ada yang kelupaan. Tunggu bentar, yah!" Kanza menyengir diakhir ucapannya.
Setelahnya, Gadis itu berlari ke dalam kelas untuk mengambil sesuatu yang katanya kelupaan.
Dan sebuah botol minum transparan dengan warna tutup botol berwarna lilac ia keluarkan dari dalam tasnya. Senyum merekah tiba-tiba saja terbit di wajah cantiknya.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Kanza mulai keluar dari dalam kelas. Namun, baru selangkah ia keluar dari dalam kelas, seseorang sudah berdiri di hadapannya dengan penampilan yang terlihat acak-acakan.
Dimulai dari rambut, seragam yang kedua kancing teratasnya terbuka, dan sebuah blazer yang menjadi ciri khas SMA Naruna yang tersampirkan di bahu lebarnya.
"Alex? Udah selesai hukumannya?"
Ya. Orang berpenampilan acak-acakan itu adalah Alex. Cowok itu dengan raut wajah datarnya menatap Kanza dari atas sampai bawah.
"Lo mau ke kantin?"
"Enggak! Gue mau ke perpus," Kanza menjawab cepat, diiringi sebuah senyuman kaku.
Demi Maminya tercinta, Kanza gugup sekali. Ini pertama kalinya ia berdiri berhadapan dengan jarak sedekat ini dengan Alex. Dan lagi, setelah kejadian kemarin dimana cowok itu mengutarakan perasaannya pada Kanza, dan mengatakan ingin mengejarnya.
Alex tampak mengerutkan keningnya. Tatapan matanya jatuh pada sebuah botol minum yang berada di genggaman Kanza.
"Itu..." Alex menggantungkan ucapannya seraya menunjuk botol minum itu.
Mengerti maksud dari ucapan Alex barusan, Kanza langsung mengangkat botol minum itu dan memberikannya kepada Alex. "Buat lo! Takutnya lo haus habis dihukum di lapangan tadi. Pasti capek, yah? Ekhem. Kalau gitu, gue duluan!"
Setelah mengatakan kalimat itu, Kanza langsung ngacir begitu saja. Entah keberanian dari mana ia memberikan botol minum itu dan mengatakan kalimat-kalimat itu pada Alex.
Melihat Kanza yang mulai mengkhawatirkan dan memedulikannya membuat senyum di wajah Alex tercetak. Dalam hatinya yang terdalam, Alex sebenarnya ingin sekali berteriak kalau dirinya bahagia bukan main.
"Ekhem." Alex menyadarkan dirinya dari apa yang baru saja ia lamunkan.
Raut wajahnya pun mulai kembali seperti sebelumnya. Dengan langkah lebar, Alex berlari keluar kelas untuk mengejar Kanza.
Tak butuh banyak waktu bagi Alex untuk berlari, ia sudah bisa melihat Kanza yang berjalan memunggunginya seraya tertawa lepas bersama Alma dan Kayla.
Dengan langkah kaki yang cukup pelan dan raut wajahnya yang sebisa mungkin terlihat biasa saja dan natural, Alex mulai berjalan di samping gadis itu seraya membisikkan sesuatu.
"Makasih, air minumnya. Udah gue terima dengan senang hati." Dan setelah membisikkan kalimat itu, Alex melenggang begitu saja entah ke mana. Meninggalkan Kanza yang dibuat panas dingin oleh cowok itu.
"KANZA! LO PACARAN SAMA ALEX, KAN? BILANG, WOI! JANGAN RAHASIA-RAHASIAAN!" Pekik Alma. Gadis itu dan Kayla terlihat sangat syok dengan apa yang baru saja terjadi.
"Wahh... Parah, parah! Lo pacaran sama Alex, tapi gak bilang-bilang kita? Za, kita masih sahabat lo, kan? Iya, kan?" Giliran Kayla yang memekik histeris. Membuat satu lorong kelas sebelas yang masih terdapat murid-murid berkeliaran menatap ke arah ketiganya.
Kanza yang menjadi korban tuntutan tuduhan dan pernyataan sembarangan oleh Alma dan Kayla jelas malu.
Bukan hanya malu karena tertangkap basah oleh kedua sahabatnya. Melainkan Kanza juga merasa malu karena kedekatannya dengan Alex kini diketahui hampir semua penjuru kelas sebelas.
Ini semua gara-gara si kedua mulut ember Alma dan Kayla. Awas aja!
Gue tunggu kebucinan kalian nanti!
...****...
Setelah hampir berjalan muter-muter mencari di mana letak perpustakaan di sekolahnya, kini Kanza telah tiba di tempat itu dengan perasaan takjub luar biasa.
Bukannya Kanza kampungan atau bagaimana, ia hanya merasa takjub saja. Berbagai judul buku dengan berbagai warna tersusun rapi di setiap rak yang ada.
Ruangannya pun sangat luas dengan langit-langit yang cukup tinggi. Dan perpustakaan saat ini terbilang cukup sepi. Atau memang di perpustakaan itu harus sepi, ya? Eh!
"Sudah gue duga perpus di sini pasti ruangannya gede! Beda banget sama di SMA Melati. Walaupun terbilang sekolah elit, tapi struktur dan dekorasinya lebih keren di sini." Kanza bergumam disela memasuki perpustakaan.
Sebenarnya, di sini Kanza bukan ingin menjadi seorang kutu buku. Ia hanya ingin mencari buku komik fantasi yang sempat ia baca separuh di perpustakaan sekolah lamanya di SMA Melati. Mungkin saja, kan, di perpustakaan ini buku komik yang Kanza cari juga ada.
"Hm... Biasanya buku komik suka ditaruh di paling belakang." Gerutu Kanza, seraya berjalan ke arah rak buku di bagian paling belakang.
Sesampainya Kanza di sana, gadis itu kembali dibuat takjub. Sekumpulan buku sastra semacam novel dan puisi tersusun rapi di sana, seperti tidak ada yang pernah menyentuhnya.
__ADS_1
"Aaa... Gue tebak, pasti ada!" Kanza mulai memeriksa satu demi satu judul buku di bagian rak paling bawah. Pokoknya, Kanza tidak ingin ketinggalan satu judul buku pun. Mungkin saja, kan, yang tidak ia lirik adalah buku komik yang ia cari?!
"Ish! Mata gue udah pegel lagi! Padahal baru juga nyari!" Kanza mendumel kesal, belum menemukan judul buku komik yang ia cari.
Rasa-rasanya, ia ingin menyerah. Seharusnya ia mendengarkan perkataan Papinya tempo hari yang mengatakan untuk membelinya saja.
Tapi, dibeli juga buat apa? Paling buat sekali baca, abis itu gak dibuka lagi, deh!
Mulai lelah mencari buku komik yang tidak juga ia temukan, Kanza mulai menjatuhkan dirinya di atas kursi yang tersedia di perpustakaan. Sebelah tangannya ia jadikan tumpuan untuk dagunya.
"Aihh... Gue pergi lagi aja gituh? Percuma di sini juga. Bukunya gak ad— Eh!" Kanza spontan berdiri dari kursinya dengan kedua matanya yang melebar terfokus pada satu hal di depannya.
Kedua alisnya mulai mengerut dalam, dengan bibirnya yang berkali-kali mengucapkan judul buku yang tidak sengaja terlirik oleh penglihatannya.
"Ini... Bukannya..." Kanza langsung menghampiri rak buku di hadapannya dan mengambil sebuah buku yang sukses menarik perhatiannya.
Namun, seketika raut wajah Kanza berubah datar, ketika buku yang ia ambil tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Judulnya doang yang sama. Dalemnya beda." Kanza menghela napasnya, kemudian kembali menaruh buku tadi di tempat semula.
Ketika hendak berbalik dan pergi, seorang laki-laki yang entah sejak kapan sudah berada tepat di hadapannya, dengan sebelah tangannya yang terulur ke rak di bagian paling atas.
Kanza tentu saja dibuat kaget setengah mati. Ia hampir saja memekik jika ia tidak segera menahannya.
Laki-laki itu yang sepertinya baru tersadar bahwa gadis yang tadinya memunggunginya telah berbalik, mulai mengalihkan fokusnya dan menatap ke arah Kanza dengan tatapan yang sulit dijabarkan.
"Ekhem." Laki-laki itu berdeham, kemudian menjauhkan diri dari Kanza.
Kanza mulai menghela napas lega dengan sesekali menepuk-nepuk dadanya. Demi apa pun, Kanza kaget barusan! Kenapa mendadak mendekat begitu, sih?
"Sorry, gue gak sengaja! Gue cuma mau ambil buku doang yang di atas. Harusnya gue permisi dulu karena ada lo. Tapi karena gue gak mau ganggu, jadinya gue langsung ambil aja," laki-laki di hadapan Kanza ini terlihat menyesal. Sebisa mungkin Kanza yang tadinya menunduk, mulai mengangkat wajahnya untuk menatap laki-laki itu.
"I-iya, gak pa—" Kanza menghentikan ucapannya. kedua matanya refleks membulat dengan tatapan tidak percaya.
"Lo... Kak Gibran, ya?" Ucapan Kanza, mendapat respong penuh tanya dari laki-laki itu.
"Lo... kenal sama gue?" Dan, ya. Laki-laki itu tak lain bernama Gibran Keanu Januar, atau yang lebih akrab dipanggil Gibran. Murid laki-laki mantan ketua OSIS yang jabatannya sudah digantikan oleh Alex.
"Eh! Gu-gue anak pindahan kelas sebelas! Maklum kalau lo gak kenal gue." Ujar Kanza, yang langsung ditanggapi anggukan serta kekehan kecil oleh Gibran.
"Gitu, ya. Kanza...." Gibran membaca papan nama Kanza, membuat gadis itu langsung tersenyum malu-malu.
"Ya, udah. Lanjutin, Kak! Gue mau langsung keluar soalnya,"
"Buru-buru banget. Kenapa?" Pertanyaan Gibran membuat Kanza kikuk.
Gimana, ya, jawabnya? Masa jawab, gak mood gara-gara kejadian barusan?— Ucap Kanza dalam hati.
"Emm... Gue mau ke kantin soalnya! Iya, mau ke kantin!" Jawab Kanza. Setelahnya, gadis itu mulai pamit dan melenggang meninggalkan Gibran yang tampak masih ingin berbicara beberapa patah kata dengannya.
...****...
Alex yang tengah bermain basket di lapangan terbuka bersama Kenzo, Juna, Haykal, Azka, dan Rio, spontan mengembangkan senyumnya seraya mengalihkan fokus pada suara perempuan tadi yang baru saja menyahutinya.
Mengetahui bukan Kanza yang baru saja menyahutinya, melainkan Dayana, raut wajah Alex seketika berubah masam.
Melihat sikap Alex yang masih sama dinginnya seperti dulu, membuat Dayana mengepalkan kedua tangannya. Dalam hati, Dayana ingin sekali menggila dan mengambil Alex untuk ia jadikan miliknya.
Sayangnya, semua hanya lamunannya.
Memilih untuk kembali pada rencana awal, Dayana mengembangkan senyumnya seraya melangkahkan kaki menghampiri Alex yang terlihat rebutan air minum dengan teman-temannya.
"Lex!" Panggil Dayana lagi, membuat Alex tanpa sadar berdecak.
Sedangkan Kenzo, Juna, Haykal, Azka, dan Rio yang tidak ingin terlibat, memilih menjauhkan diri dari mereka berdua.
"Alex, iih! Lo dengerin gue gak, sih?" Dayana mulai sok-sok an manja, membuat Alex semakin tidak menyukainya.
"Apa? Ngomong langsung. Gue gak ada waktu buat ngomong sama lo." Sarkas Alex. Sebisa mungkin Dayana menahan emosinya untuk tidak meledak di hadapan Alex.
Ia harus tahan, jika tidak ingin Alex semakin tidak menyukainya!
"Gue ada satu hal yang perlu gue omongin ke lo!"
"Gue bilang, ngomong langsung!" Ucapan Alex terdengar semakin sarkas dengan tatapan matanya yang semakin dingin. Membuat siapa saja yang menatap matanya langsung gugup luar biasa.
Tak terkecuali Dayana yang saat ini berada di hadapan Alex.
Namun, seperti yang sudah ia tanamkan pada dirinya jika sewaktu-waktu berhadapan dengan Alex, maka ia harus sebisa mungkin menahannya dengan penuh kesabaran.
"Ekhem. Lo tahu?! Tadi gue gak sengaja lihat Si Kanza lagi berduaan sama Kak Gibran di perpus! Mana kek deket banget gitu,"
Alex terkekeh sinis seraya menatap datar gadis itu. "Lo kalau ngomong jangan ngasal!"
Dayana tampak tersenyum bangga seraya menggendikan bahunya. "Kalau lo gak percaya, tanya aja sama orangnya langsung! Mumpung dianya lewat, tuh!" Dayana menunjuk seseorang dengan tatapan matanya yang tak lain adalah Kanza. Gadis itu baru saja keluar dari perpustakaan hanya untuk melihat Alex yang katanya sedang bermain basket bersama Kenzo dan yang lain.
Kanza mengetahuinya dari murid-murid perempuan yang berjalan di lorong kelas yang tampak antusias ketika membahas gengnya Kenzo.
Diliriknya ke arah mana tatapan mata Dayana mengarah. Benar saja, di sana sudah ada Kanza yang tersenyum malu-malu ke arahnya.
Namun beberapa saat kemudian, seorang laki-laki yang tak lain adalah Gibran yang entah datang dari mana, berjalan ke arah Kanza dan menyapa gadis itu seperti pernah akrab sebelumnya.
Dan yang membuat Alex memanas adalah ketika Kanza membalas sapaan laki-laki itu dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"Tuh, kan, gue bilang juga apa!" Dayana semakin mengompori Alex. Berharap cowok itu akan mulai membenci Kanza, dan berpaling padanya.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Alex melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju Kanza dan Gibran yang terlihat mengobrol satu sama lain.
Setibanya Alex di hadapan keduanya, ia langsung menarik salah satu tangan gadis itu, dan membawanya pergi dari hadapan Gibran.
Kanza yang bingung pun hanya mengucapkan permisi sekilas sekaligus permintaan maaf pada Gibran karena dirinya pergi begitu saja.
Lain halnya dengan Kenzo yang berada di atas tribun yang juga menyaksikan adegan tersebut. Cowok itu hanya menatap datar dengan otaknya yang mulai jengah jika sewaktu-waktu Alex akan benar-benar mengencani saudara kembarnya.
Pikirnya, Alex cowok baik. Mungkin bisa menggantikannya menjaga Kanza. Ia juga tidak bisa terus menghalangi keduanya jika memang mereka saling suka.
...****...
"Lex! Kita mau ke mana?" Pertanyaan Kanza yang ke puluhan kalinya ketika ia masih ditarik sana-sini oleh Alex, masih tidak juga dijawab oleh cowok itu.
Tarikan tangannya memang tidak kasar, dan lebih ke lembut. Namun, aura cowok itu terasa sedikit mencekam, apalagi ketika Kanza menatap kedua bola mata Alex.
Tak lama kemudian, Alex menghentikan langkah kakinya tepat di belakang gedung sekolah. Kanza pun refleks ikut menghentikan langkah kakinya dengan tatapan matanya terus menyelidik menatap Alex yang masih berdiri memunggunginya.
"Lex, lo sebenarnya kenapa, sih? Gue bikin lo marah? Kalau iya, gue minta maaf." Suara Kanza kembali memanggilnya. Gadis itu terlihat kebingungan dengan sikap Alex yang tiba-tiba seperti ini.
Alex membalikan tubuhnya seraya menatap Kanza dengan sorot mata yang dalam. Raut wajahnya terlihat jelas sekali bahwa ia tengah menahan amarahnya.
"Gue tarik ucapan gue yang waktu itu yang mau ngejar lo! Pokoknya, lo harus jawab pernyataan gue sekarang! Ya, atau enggak!" Ucapan Alex yang to the point sanggup membuat Kanza melebarkan kedua bola matanya. Jantung sialannya ini kembali berdegup kencang dengan tidak tahu dirinya.
"Ke-kenapa?" Sebisa mungkin Kanza bertanya, walaupun jantungnya sudah serasa mau meledak.
"Gue gak suka kalau lo didiemin terlalu lama, entar cowok lain malah pada deketin lo! Cepet! Jawab sekarang juga! Ya, atau—" Alex sengaja menggantungkan ucapannya. Ia tidak sanggup jika Kanza nanti menjawab 'tidak'.
Kanza yang tadinya dilanda gugup luar biasa langsung tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Pikirnya, Alex kenapa sampai seperti ini?! Ternyata cemburu...
Perlahan, sebelah tangan Kanza terangkat mengelus kepala Alex. Seberani mungkin Kanza menatap kedua bola mata cowok itu yang masih saja menatapnya dengan tatapan yang sama.
"Iya! Puas?" Ucap Kanza. Tak membuat raut wajah Alex berubah sedikitpun.
"Iya apa?" Tanya Alex, sok pura-pura tidak tahu. Padahal, cowok itu jelas tahu betul, apa maksud dari kata 'iya' yang diucapkan oleh Kanza.
Kesal karena Alex sepertinya ingin mengujinya, Kanza lantas menjauhkan sedikit dirinya dari cowok itu sembari berdeham.
"Iyaa, itu lho! Yang itu!" Ujar Kanza. Tatapan matanya sengaja tidak menatap ke arah Alex.
"Yang mana?" Alex melangkahkan sedikit langkah kakinya ke hadapan Kanza, mampu membuat gadis itu terbujur kaku seketika.
"Yang itu lho!" Ujar Kanza gemas, kemudian memundurkan sedikit langkah kakinya sampai punggungnya menubruk dinding.
"Yang mana? Yang jelas dong! Entar otak gue nangkepnya lain." Dengan usilnya, Alex kembali melangkahkan kakinya ke hadapan Kanza sampai jarak antar keduanya hanya tinggal beberapa centimeter saja.
Kanza sudah dibuat malu oleh jawabannya sendiri yang ambigu. Dan sekarang, ia dibuat lebih malu lagi dengan Alex yang tiba-tiba sedekat ini dengannya.
Aduuhh... Kanza pengen pingsan aja, deh. Boleh, gak?
"Iya, pokoknya yang itu! Yang, gue mau jadi pacar lo! Udah, yang itu!" Ujarnya lagi, lantas menutupi wajahnya yang memanas dengan kedua tangannya.
Melihat reaksi Kanza yang begitu malu-malu, membuat Alex seketika langsung mengembangkan senyumannya.
Tatapan matanya yang lembut menatap Kanza yang masih berusaha menutupi wajahnya.
"Udah, jangan ditutupin lagi. Dari tadi juga gue udah lihat kalau muka lo tuh merah." Alex menarik kedua tangan Kanza yang menutupi wajah gadis itu.
"Gara-gara siapa?" Kanza sebisa mungkin membalas seperti terlihat biasa saja.
"Gak tahu! Gara-gara siapa, ya?" Balas Alex, spontan mendapat cubitan keras di pinggangnya.
"Aw! Baru juga pacaran, udah mulai aja kekerasan!" Alex menyengir, walaupun pinggangnya masih terasa sakit akibat cubitan dari Kanza.
"Rasain!"
^^^To be continue....^^^
...Cast:...
...Kanza...
...Alex...
...Kayla...
...Alma...
...Dayana...
...Gibran...
__ADS_1
Hai!!! Sudah update! Ini mereka udah jadian lho, ya! Gak mau ngucapin selamat, gituh? Ehheee...