
..."Suatu hubungan yang didasari oleh kurangnya kepercayaan dan keterbukaan terhadap pasangan akan berakhir dengan sebuah jalan perpisahan."...
...°•Kanza Putri Bravani•°...
...▪︎...
...▪︎...
"Za, lo gak pa-pa?" Pekikan serta sahutan dari arah lain, sontak menghentikan langkah kaki Kanza serta Kenzo yang berjalan tepat di hadapan kembarannya.
Kanza menolehkan kepalanya ke belakang seraya melepas genggaman tangan Kenzo di tangannya. "Alma? Kayla? Lo berdua di sini?"
Dan, ya. Suara sahutan itu berasal dari Alma dan juga Kayla. Kedua gadis itu baru saja berlari dengan sekuat tenaga ketika mereka berdua tengah berada di dalam kantin sekolah seraya menikmati makan siang mereka.
Saat mendengar beberapa gosip tidak masuk akal tentang Kanza dan juga Kenzo, kedua gadis itu langsung berlari menaiki puluhan anak tangga untuk sampai di kelas mereka.
Namun, ketika Alma dan Kayla tiba di dalam kelas, Kanza dan yang lainnya sudah tidak ada di sana. Ada yang mengatakan kalau beberapa saat yang lalu Kanza, Dayana, dan juga Anggia telah pergi ke ruang UKS untuk melakukan pemeriksaan.
Setibanya Alma dan Kayla di kerumunan para siswa dan siswi yang berada di depan ruang UKS, keduanya hanya bisa berdiri di belakang kerumunan tanpa bisa menyela sama sekali.
Sehingga pada akhirnya, Alma dan Kayla baru bisa menghampiri Kanza ketika mereka mendengar suara teriakan Kenzo yang mengumumkan identitas sebenarnya antara Kanza dan juga laki-laki itu.
"Emm... Lo mending duluan aja, Zo. Kayaknya mereka mau ngomong sesuatu sama gue." Tatapan Kanza beralih menatap Kenzo setelah sebelumnya tatapan itu tertuju pada Alma dan juga Kayla.
Kenzo tidak langsung menjawab perkataan dari kembarannya itu. Ia hanya mendengus kemudian mengangguk beberapa kali. Setelahnya, laki-laki itu melenggang pergi seperti apa yang diucapkan oleh Kanza.
"Lo gak di apa-apain sama mereka, kan?" Setelah kepergian Kenzo, Alma langsung heboh seraya memeriksa tubuh Kanza dari atas sampai bawah.
"Gila banget, sih, pas gue denger gosipnya! Ya kali elo hamil anaknya si Kenzo? Untung aja si Kenzo ngejelasin kalo sebenarnya lo sama dia itu cuma kembaran." Kayla mendengus kesal ketika otaknya kembali mengingat ucapan gila dari beberapa siswi waktu ia dan juga Alma berada di kantin sekolah.
Rasa-rasanya, Kayla ingin melunjak saat itu juga jika dirinya tidak ingat pada Kanza yang menyuruh untuk merahasiakan hubungan antara ia dan juga Kenzo, saudara kembarnya.
"Gue gak pa-pa, kok. Kita ke kelas aja, yah. Bentar lagi juga bel masuk kelas." Kanza menarik kedua tangan Alma dan Kayla. Namun, langkah kaki gadis itu langsung terjeda ketika tak ada pergerakan sedikitpun dari Alma dan juga Kayla yang tangan mereka ditarik olehnya.
Kanza kembali menolehkan kepalanya menatap Alma dan juga Kayla. Kedua alisnya sontak mengerut dalam saat tatapan kedua gadis itu berubah menjadi sendu ketika menatap ke arahnya.
"Kalian kenapa?" Alma dan Kayla tidak langsung menjawabnya. Kedua gadis itu malah terdiam dengan tatapan mata mereka yang masih tertuju pada Kanza.
Alma menghela napasnya. "Lo jangan bilang 'gak pa-pa' dan 'baik-baik aja'. Lo sama sekali gak kelihatan baik-baik aja setelah apa yang baru aja udah terjadi." Perkataan Alma langsung diangguki oleh Kayla.
"Bener, Za. Intinya, lo boleh cerita apa pun ke kita. Lo pasti masih syok, kan, karena sekarang satu sekolah udah tahu hubungan sebenarnya antara lo sama Si Kenzo? Lo pasti punya trauma yang gak bisa disebutkan dengan kata-kata, makanya lo rahasiain hubungan lo berdua. Iya, kan?"
Kanza langsung terdiam mendengar ucapan Alma dan juga Kayla. Sepasang bola mata gadis itu pun tampak melebar dengan bibirnya yang terkatup rapat. Sesekali, Kanza berusaha menelan ludahnya susah payah ketika ingatan masa lalunya yang menyedihkan kembali membayangi pikirannya.
Penindasan, pemojokan, perlakuan tidak mengenakan, semuanya yang pernah terjadi dulu kembali terekam ulang di kepalanya.
Air mata tiba-tiba saja terjatuh dari salah satu pelupuk matanya. Tak lama setelahnya, tangis Kanza pecah. Alma dan Kayla yang melihatnya sontak dibuat terkejut. Kedua gadis itu spontan mengusap punggung Kanza yang mulai bergetar akibat tangisnya.
"Sebenarnya gue takut. Gue takut, Ma, La. Cuma gue bingung harus gimana?! Sedikitpun gue gak merasa marah sama Kenzo yang mempublis hubungan sebenarnya antara gue sama dia, tapi gue takut semua orang bakal manfaatin gue lagi kayak dulu, ngehina gue lagi, bilang kalau gue adalah anak pungut hanya karena gue sama sekali gak ada mirip-miripnya sama kembaran gue sendiri! Dan memojokan gue kalau sebenarnya gue cuma ngaku-ngaku jadi kembarannya Kenzo biar bisa dipandang tinggi. Gue takut." Tangis Kanza semakin pecah. Kedua tangan gadis itu pun sampai terangkat untuk menutupi wajahnya yang penuh dengan air mata.
Alma dan Kayla tersentak mendengar curahan hati Kanza. Kedua gadis itu kini mengetahui alasan mengapa Kanza sampai menyembunyikan identitas dirinya dan juga Kenzo.
Tidak tahan melihat salah satu sahabat mereka menangis tepat di hadapan keduanya, Alma dan Kayla mulai ikut menjatuhkan air mata mereka seraya memeluk hangat tubuh Kanza. Mencoba untuk menenangkan gadis itu.
"Shttt... Lo masih punya kita. Buat apa lo takut? Lo juga masih ada Si Kenzo, kan? Alex juga! Dia juga gak mungkin ninggalin lo." Alma membisikkan beberapa kalimat untuk menenangkan Kanza. Tak lupa dengan sebelah tangannya yang terangkat mengusap punggung gadis itu.
"Mereka yang bilang kayak gitu kek lo pasti karena mereka syirik sama lo! Lupain apa yang pernah mereka bilang di masa lalu!" Kayla ikut menambahkan disela ia dan juga Alma yang masih setia memeluk Kanza.
Tiba-tiba saja Kanza melepaskan diri dari pelukan itu. Tangis gadis itu sudah agak mereda, namun raut wajahnya terlihat gusar seperti ada sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.
"Kenapa, Za? Lo masih ada yang mau diomongin lagi? Bilang aja, Za! Kita siap dengerin, kok."
"Alex..." Kanza bergumam memanggil nama Alex. Sontak saja Alma dan Kayla langsung saling tatap satu sama lain ketika Kanza menyebutkan nama pacarnya.
"Kenapa sama Si Alex?" Kayla bertanya khawatir. Tatapan mata gadis itu tak henti-hentinya terus menatap Kanza yang masih menunduk di tempatnya.
"Sekarang Alex kayaknya jadi benci sama gue. Dia pasti kaget banget pas tahu kalau gue sama Kenzo adalah kembaran. Tadi aja dia kayak pergi gitu aja pas gue manggil-manggil dia."
"Hah!? Si Alex udah tahu?" Alma dan Kayla refleks memekik. Kedua gadis itu sampai tidak sadar membuat beberapa siswa dan siswi yang berada disekeliling mereka menatap penuh tanya pada ketiganya.
Alma dan Kayla lantas berdeham. Kedua gadis itu lantas saling tatap seperti tengah memberikan kode satu sama lain lewat tatapan mereka.
Ketika dirasa keduanya mulai sepakat, perhatian mereka kembali pada Kanza yang masih terlihat menunduk murung.
"Gimana kalau kita ke kelas aja. Kalau ngomongin di sini kayaknya kurang enak, deh."
"Gimana, Za? Kita ke kelas dulu, yah?"
Kanza terdiam. Tak lama kemudian, ia pun mengangguk. Pikirnya, benar apa yang dikatakan Kayla dan juga Alma. Kurang baik membicarakan hal pribadi di tempat seperti ini.
...****...
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang yang artinya setengah jam lagi sekolah akan segera berakhir. Alex yang sedari tadi sibuk mengurung dirinya di dalam perpustakaan tak henti-hentinya terus mengepal kuat kedua tangannya ketika bayangan Kanza dan juga Kenzo melintasi pikirannya.
Sial. Kenapa mereka berdua begitu tega berbohong soal mereka yang tidak memiliki hubungan apa pun?
Dan lagi, kenapa hubungan yang Alex curigai adalah hubungan percintaan, tapi yang sebenarnya terjadi adalah hubungan persaudaraan?
Apa alasan mereka memutuskan untuk menyembunyikan identitas mereka? Dan, kenapa juga harus disembunyikan? Tidak tahukah selama ini Alex selalu cemburu tidak beralasan karena rumor soal mereka berdua?
Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia utarakan kepada Kanza maupun Kenzo. Namun, perasaan terkhianati karena Kanza dan Kenzo yang menyembunyikan identitas mereka membuat Alex serasa enggan untuk bertanya.
__ADS_1
Jika ingin tahu mengapa Alex marah dan bukannya senang karena tidak ada sedikitpun hubungan ambigu antara Kanza dan juga Kenzo, alasannya karena Alex tidak suka dibohongi!
Kebohongan sedikit saja, apalagi rahasia yang tidak seharusnya ditutup-tutupi, membuatnya merasa terkhianati.
Pikirnya, semuanya sama saja! Tidak ada yang percaya padanya, sekalipun itu adalah orang yang ia cintai. Gadis itu seolah tertawa bahagia ketika Alex sedikitpun tidak mengetahui soal identitasnya yang sebenarnya.
Alex mendengus setelah hampir cukup lama ia bergelut dengan pikirannya. Lebih baik, Alex menghentikan sesi belajarnya dan kembali ke dalam kelas.
Selain karena setengah jam lagi bel pulang akan berbunyi, ia juga harus meminta penjelasan pada gadis itu. Penjelasan dengan serinci-rincinya.
...****...
"Jadi... Alasan kenapa lo nurutin permintaan kembaran lo soal menyembunyikan hubungan kalian—"
"Karena lo mau ngelindungin dia?" Azka menyela ucapan Rio dan menyambungkannya seolah apa yang tengah mereka pikirkan adalah hal yang serupa.
Kenzo yang ditanya begitu oleh sahabatnya terpaksa mengangguk. Setelah kejadian di mana Kanza menyuruhnya untuk pergi terlebih dahulu, Rio, Juna, dan juga Azka, menyeret laki-laki itu untuk menjelaskan kejadian menggemparkan yang terjadi beberapa saat yang lalu yang mengatakan kalau Kanza dan juga Kenzo adalah saudara kembar.
"Kanza sebenarnya cewek lemah. Dia cuma bisa nangis pasrah disaat orang lain ngebully dia. Dia gak pernah ngadu soal apa yang udah terjadi di sekolah. Dia selalu nyuruh gue buat rahasiain ini semua dari Papi sama Mami." Kenzo menjeda ucapannya sejenak untuk menarik napasnya dalam-dalam.
"So, gue minta maaf sama kalian karena udah ngerahasiain hubungan antara gue sama Kanza. Gue cuma gak mau Kanza menderita. Tapi, karena ngerahasiain ini semua membuat banyak kesalahpahaman, gue rasa, gue harus ngasih tahu semua orang kalau Kanza adalah kembaran gue dan dia bukan cewek kayak gitu. Dan lagi, gue gak akan sembunyi-sembunyi lagi buat jagain dia. Mulai sekarang, gue akan secara terang-terangan ngelindungin dia dari apa pun." Lanjut Kenzo, membuat Juna, Azka, dan Rio yang mendengarnya bengong seraya berdecak kagum.
"Gila lo, Zo! Gue baru tahu ternyata lo punya sisi kayak gini!? Gue bangga sama lo, Zo!" Juna menepuk-nepuk punggung Kenzo beberapa saat.
Sedangkan Kenzo, ia hanya tertawa singkat dengan tatapan matanya yang menunduk mengarah pada ujung sepatunya.
"Eh, eh, eh! Guru masuk woi!" Pekikan seseorang yang baru saja memasuki ruang kelas mengejutkan Kenzo dan yang lain.
Keempat cowok itu pun pada akhirnya memilih duduk di kursi mereka masing-masing ketika seorang guru yang dikatakan salah satu murid di kelas XI IPS 4 mulai terlihat oleh indera penglihatan mereka.
"Si Alex masih belum ke kelas juga?" Suara bisikan Juna refleks membuat Kenzo yang duduk di sebelahnya menolehkan kepalanya menatap laki-laki itu.
"Ngomong-ngomong soal Si Alex, gue jadi merasa bersalah sama dia. Kayaknya gue harus jelasin sesuatu, deh sama dia." Ucap Kenzo diakhiri dengan helaan napas panjang.
"Kayaknya emang lo harus jelasin deh, sama dia! Takutnya entar salah paham lagi. Kek gak tahu aja Si Alex anaknya kayak gimana!?" Azka yang berada tak jauh dari meja yang ditempati Juna dan Kenzo ikut menyahut. Membuat Juna dan juga Kenzo refleks menoleh padanya.
"Lha? Itu Si Alex?" Rio berucap cukup lantang dengan salah satu tangannya yang terangkat menunjuk pada ambang pintu masuk kelas.
Mendengar ucapan Rio yang memanggil nama Alex, refleks membuat Kenzo, Juna, dan Azka menoleh ke arah yang ditunjuk oleh laki-laki itu.
"Ekhem." Seorang guru yang berada di dalam kelas mereka yang baru saja tiba beberapa saat lalu mengalihkan perhatiannya pada Rio dengan memasang raut wajah dingin mengerikan. Mampu membuat laki-laki itu langsung menciut ketika sepasang netranya secara tidak sengaja bersitatap dengan sepasang manik mata milik sang guru.
Suasana dalam kelas pun mulai kembali hening. Dan pembelajaran yang sempat sedikit tertunda karena sang guru yang sebelumnya memiliki sedikit urusan di luar pun kembali dilanjutkan.
"Lex!" Kenzo berbisik seraya menoel pelan punggung Alex yang baru saja tiba dan mendudukan dirinya di atas kursi kebesarannya.
Alex sama sekali tidak menoleh. Malah yang ada, guru yang baru saja hendak melanjutkan pelajarannya di kelas yang menoleh tajam pada Kenzo. Sehingga pada akhirnya, Kenzo pun ikut menciut dan memilih untuk diam sampai pada saatnya nanti sepulang sekolah, barulah ia akan mencoba mengajak Alex untuk berbicara.
Dan pikiran negatif yang saat ini sedang bersemayam di otak gadis itu adalah, pasti Alex mulai membencinya.
Pikirnya lagi, bagaimana caranya nanti dirinya harus menjelaskannya pada Alex? Sedangkan suasana hati laki-laki itu saja terlihat tidak baik-baik saja.
Kanza tahu karena sepersekian detik yang lalu ia melirik laki-laki itu sekilas dari samping.
Tiba-tiba saja, sebuah usapan halus di area punggungnya terasa menyadarkan Kanza dari berbagai pikirannya. Gadis itu lantas menoleh ke samping, sudah ada Alma yang tersenyum tipis padanya seolah mencoba memberikan Kanza sebuah kekuatan agar gadis itu mampu menghadapi masalahnya.
"Semangat, Za! Gue yakin, Alex gak bakal ninggalin lo hanya karena lo gak jujur sama dia soal hubungan antara lo sama Kenzo. Asal, lo-nya harus jujur dari awal sampai akhir. Oke?" Ucapan Alma, sukses membuat sudut hati Kanza terasa sedikit tenang dan menghangat.
Perlahan, gadis itu mengangguk seraya tersenyum kecil. "Makasih, ya."
"Shttt... Nanti aja makasihnya! Mending sekarang kita fokus. Kalau enggak, entar Pak Andri ngamuk, lagi." Bisik Alma seraya mengedipkan sebelah matanya pada Kanza.
...****...
Setelah setengah jam pelajaran terakhir dilaksanakan, akhirnya sistem pembelajaran sekolah berakhir juga di pukul dua siang lewat tiga puluh lima menit. Seluruh siswa maupun siswi khususnya di kelas XI IPS 4 mulai berdesakan keluar dari dalam kelas dengan terburu-buru.
Tak terkecuali bagi Kanza yang kewalahan membereskan barang-barang yang berserakan di atas mejanya ke dalam tas hanya untuk mengejar Alex yang telah lebih dahulu pergi dari dalam kelas.
Akhirnya, setelah Kanza selesai memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas, gadis itu pun mulai berlari keluar dari dalam kelas untuk menyusul langkah Alex yang terbilang sangat cepat.
"Za, lo mau ke mana?" Sahutan dari Kenzo yang menyadari kembarannya baru saja berlari mendahului langkahnya sama sekali tidak gadis itu hiraukan.
Sehingga pada akhirnya, Kenzo ikut berlari untuk mengejar langkah Kanza yang mulai tidak terlihat oleh indera penglihatannya.
"Alex!" Kanza terus memanggil nama Alex disela langkah kakinya yang terseok-seok menuruni puluhan anak tangga.
Selain karena langkah kakinya yang tidak bisa secepat langkah laki-laki, di area tangga juga terdapat beberapa siswa dan juga siswi yang berjalan menuruni puluhan anak tangga sehingga hampir menutupi sebagian besar tangga tersebut.
Namun, karena Kanza tidak ingin kehilangan jejak Alex, pada akhirnya gadis itu menggunakan cara berdesak-desakan, walau pada akhirnya banyak yang protes kesal akibat ulahnya tersebut.
Setelah Kanza cukup berdesak-desakan di area tangga, akhirnya gadis itu telah sampai juga di tangga terakhir.
Sepasang netranya pun mulai menatap ke segala arah untuk mencari di mana keberadaan Alex. Dan sesaat ketika Alex mulai kembali terlihat oleh penglihatannya, gadis itu kembali berlari mengejar laki-laki itu yang terlihat berjalan dengan langkah gontai menghampiri area parkiran sekolah.
"Alex!" Kanza memanggil nama Alex, namun kali ini gadis itu telah berhasil menarik salah satu tangan laki-laki itu sehingga membuat langkah kakinya refleks berhenti.
Tidak ada sedikitpun pergerakan dari Alex, padahal Kanza masih setia menggenggam tangannya. Kanza ingin segera menjelaskan apa yang harus ia jelaskan pada laki-laki itu, namun ia harus menjedanya sejenak untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya setelah sebelumnya ia berlari dan juga berdesak-desakan hanya untuk mengejar Alex seorang.
"Bisa ngomong sebentar?" Kanza kembali menyahut laki-laki itu setelah dirasa deru napasnya kembali normal.
Alex menoleh sekilas pada Kanza dengan raut wajahnya yang dingin. Laki-laki itu kemudian menepis tangan Kanza yang masih belum juga melepaskan genggaman tangannya.
__ADS_1
"Gue gak ada waktu. Lain kali aja." Ucap Alex, dan kemudian ia pun melenggang meninggalkan Kanza yang mulai menatapnya dengan sorot mata memelas.
"Lex, dengerin penjelasan gue!" Tidak ingin menyerah begitu saja, akhirnya Kanza memilih mencegat langkah Alex yang hendak pergi dari hadapannya.
Alex mendengus dengan tatapan matanya yang dingin dan menusuk tertuju pada Kanza. "Jelasin apa lagi? Gue udah tahu lo berdua itu saudara kembar!" Ucapnya.
Ketika Alex hendak pergi dan kembali melanjutkan langkah kakinya, Kanza dengan berani melingkarkan kedua lengannya di pinggang laki-laki itu. Berharap Alex akan mendengarkan penjelasannya.
Saat ini, mungkin keduanya telah menjadi pusat tontonan satu sekolah, namun Kanza tidak peduli. Alex harus mendengarkan penjelasannya tentang mengapa selama ini ia menyembunyikan identitas dirinya dan juga Kenzo bahwa keduanya adalah saudara kembar.
"Gue mohon lo dengerin dulu apa yang mau gue bilang! Jangan pergi dulu!"
Lagi dan lagi, Alex hanya mendengus. Kedua tangannya dengan kasar melepaskan pelukan dari gadis itu, kemudian kembali menatapnya dingin.
"Gue kecewa sama lo, Za! Setidaknya lo bisa jujur, walaupun cuma sama gue! Seenggaknya gue gak akan marah sama cemburu sendirian gak beralasan!" Ucap Alex terdengar lantang. Cukup membuat beberapa siswa dan siswi yang berada disekitar keduanya mendengar dengan jelas percakapan mereka.
Merasa tidak ada yang harus diucapkan lagi, Alex pun kemudian melenggang meninggalkan Kanza yang terdiam mencoba mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh laki-laki itu.
Kanza tersenyum getir setelah ia cukup sadar setelah mendengar ucapan Alex barusan.
Sudah Kanza duga bahwa laki-laki itu akan merasa kecewa terhadap dirinya. Tetapi, tidak bisakah Alex mendengarkan terlebih dahulu apa yang hendak ia jelaskan?
Kenapa Alex bersikap seperti itu? Apakah selama ini perasaan laki-laki itu kepada Kanza hanyalah pura-pura semata?
"Karena lo gak mau dengerin penjelasan gue, berarti lo mau putus sama gue?" Kanza memberanikan diri berucap demikian dengan suaranya yang tidak terlalu kencang, namun cukup membuat langkah kaki Alex langsung berhenti saat itu juga.
"Ternyata selama ini gue salah menilai lo, Lex! Gue pikir lo cowok pengertian, tapi ternyata sama aja! Selama ini perasaan lo cuma pura-pura. Iya, kan?" Ucap Kanza lagi. Membuat Alex refleks mengepal kuat kedua tangannya. Namun, laki-laki itu masih enggan untuk berbalik menghadap Kanza.
Kanza kembali menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman paling menyedihkan. "Kalau gitu gue mundur, Lex! Gue bukan cewek yang akan terus ngejar-ngejar lo dikala lo sendiri gak mau gue kejar!"
"Huh, seumur hidup gue emang gak pernah ada yang tulus sama gue. Disaat ada yang tulus, dia malah pergi ngilang gitu aja gak mau denger penjelasan gue. Pengecut." Gumam Kanza yang sedikit terdengar oleh Alex.
Setelahnya, Kanza memilih pergi dari hadapan Alex, atau lebih tepatnya pergi dari Alex yang masih juga berdiri dan memunggunginnya.
Di sisi lain, Alex kembali menahan emosi yang bergejolak di dadanya.
Sebenarnya, bukan ini yang ia inginkan. Sedikitpun Alex tidak ingin terlepas dari Kanza, apalagi seperti yang dikatakan gadis itu bahwa dirinya selama ini hanya berpura-pura memiliki perasaan pada gadis itu.
Tak ingin berakhir menyesal, Alex memutuskan untuk berbalik dan mengejar Kanza. Untunglah, langkah kaki gadis itu belum terlalu jauh sehingga Alex dapat dengan mudah mengejar gadis itu.
Dengan sekali tarikan, Alex berhasil menarik tangan Kanza sampai tubuhnya pun ikut berbalik sehingga dahi gadis itu sukses membentur dada bidang Alex.
Kanza yang dibuat seperti itu oleh Alex tentu saja terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Apalagi laki-laki itu kini mulai mendekap Kanza dengan pelukan yang cukup erat sehingga sukses membuat Kanza terdiam membisu di tempat.
"Sedikitpun gue gak pernah main-main sama perasaan gue." Bisikan Alex menjadi penyadar Kanza yang hampir saja terhanyut oleh pesona dan tindakan laki-laki itu.
Tidak ingin berlama dalam dekapan Alex, apalagi keduanya yang saat ini masih berada di area sekolah, Kanza pun akhirnya mencoba mendorong Alex agar dirinya dapat terlepas dari laki-laki itu.
Namun, bukannya terlepas, Alex malah semakin mengeratkan dekapannya membuat Kanza dibuat memerah dan juga salting.
"Lex, lo apa-apaan, sih? Lepas, gak?" Kanza masih berusaha mendorong tubuh laki-laki itu agar segera menjauh darinya. Namun nyatanya nihil.
"Gue gak mau lepasin lo! Oke, lo jelasin semuanya ke gue. Secara rinci biar gterus-terusan salah paham sama lo." Kukuh Alex.
Kanza benar-benar sudah dibuat panas dingin saat ini. Bagaimana ini?
"Ekhem! Berani-beraninya kalian pacaran di area sekolah? Kalian masih mau lanjutin sekolah, hah?" Pekikan lantang dari belakang Alex sontak membuat laki-laki itu serta Kanza yang masih berada di dekapannya menegang seketika.
Dengan sekuat tenaga, Kanza mendorong tubuh Alex sampai pada akhirnya ia mulai terlepas dari belenggu laki-laki itu.
Sedangkan Alex, ia hanya bisa berdeham seraya membalikkan tubuhnya menghadap seorang guru yang tak lain adalah Pak Ucup, sang wali kelas yang baru saja memergokinya tengah berpelukan mesra bersama seorang gadis di area sekolah.
Mampus!
"Elo sih, dibilangin lepas juga!" Kanza berbisik sekaligus menginjak salah satu kaki Alex yang terbalut sepatu dan kaos kaki.
Hampir saja laki-laki itu menjerit ketika dengan begitu teganya Kanza menginjak kakinya cukup kuat.
"Kenapa lo gak bilang?" Tanya Alex berbisik di samping Kanza, dengan perhatiannya tertuju pada Pak Ucup yang terlihat tengah berusaha menahan emosinya.
"Gue udah bilang!" Balas Kanza masih berbisik dengan menekan setiap kata-katanya.
Tidak ingin terus-menerus berada dalam situasi menegangkan, tanpa diduga-duga Kanza dan Alex menyengir secara bersamaan menghadap Pak Ucup.
Namun, cengiran mereka tak berlangsung lama ketika keduanya menyadari telah melakukan suatu hal yang sama tanpa mereka rencanakan.
Pada akhirnya, Kanza menolehkan kepalanya menatap Alex yang berada di sampingnya yang juga tengah menatapnya.
Keduanya sukses saling menatap bengong dengan pemikiran masing-masing. Mereka sampai tidak sadar bahwa raut wajah Pak Ucup sudah sangat memerah menahan berbagai amarah dalam hatinya.
"Kalian berdua!" Pekik Pak Ucup, menyadarkan Kanza dan juga Alex dari apa yang tengah mereka lakukan.
"Mau pulang atau saya hukum?" Pekiknya lagi. Membuat Kanza yang mendengarnya refleks menciut.
"Maaf, Pak. Urusan rumah tangga. Permisi, Pak!" Alex dengan gelagat sok seriusnya berucap demikian pada Pak Ucup dan setelahnya, ia pun meraih salah satu tangan Kanza dan membawa gadis itu untuk ikut berlari bersamanya menghindari Pak Ucup yang semakin dibuat emosi oleh ulah keduanya.
"Dasar murid-murid nakal! Kalian ngeledekin saya, ya, mentang-mentang saya ini duda?! Alex! Awas kamu! Bapak gak peduli kamu adalah siswa juara umum, ketua osis, anak orang kaya, atau apa pun itu!" Celoteh Pak Ucup yang sama sekali tidak dihiraukan oleh sepasang sejoli itu.
Namun, itu tidak berlaku bagi siswa dan siswi yang masih berada di sekitar sekolah yang mendengarkan pekikan amarah Pak Ucup. Mereka malah tertawa ngakak berjamaah, tanpa memedulikan delikan serta sumpah serapah Pak Ucup yang ditujukan pada mereka.
^^^To be continue....^^^
__ADS_1
Maaf updatenya lama! Akhir² ini aku lgi raskin kuota gaes🤣 ini juga baru kemaren keknya kuotanya diisi lagi, tpi karena proses ngetiknya lama, jdinya sering tertunda mulu:( tpi kan, setiap kli update aku selalu ngasih banyak😗 1 eps tuh bisa sampe 3500+ kata, tpi kadang kurang dari itu pling 3400+ kata. Kdang 1 eps bisa memakan waktu berhari², tpi klo otaknya lgi encer palingan 6 jam baru kelar nih 1 eps🙂 percaya gak? 6 jam cuman buat 1 eps gaes😭 udh ah, gk mau bnyk cingcong lgi. Pokoknya yah gitu deh. Aku juga punya kesulitan tersendiri selama mengetik naskah. Dan intinya maaf bgt selalu telat update🙏🙂