Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 31


__ADS_3

Hampir sekitar setengah jam lamanya Haykal mengemudikan motor, kini laki-laki itu telah sampai di salah satu rumah sakit umum di daerah Bekasi yang menjadi tempat di mana sang mama tengah dirawat akibat sebuah kecelakaan.


Laki-laki itu berlari menyusuri lorong rumah sakit untuk mencari di mana keberadaan sang mama. Setelah berlari ke sana ke mari dengan sesekali menubruk beberapa perawat hingga beberapa keluarga pasien yang menghalangi jalannya, Haykal akhirnya menemukan ruangan tempat mamanya tengah dirawat. Ruangan ICU.


Di depan pintu ruangan tersebut sudah ada seorang wanita seumuran mamanya yang tak lain adalah Tante Tya, sekretaris sekaligus sahabat mamanya.


Ia tidak sendirian. Wanita setengah baya itu tampak duduk bersitegang bersama seorang anak laki-laki berusia kurang lebih sebelas tahunan yang tak lain adalah adiknya Haykal, Zidan.


"Haykal!" Tante Tya menyahut kedatangan Haykal seraya bangkit dari posisinya yang diikuti oleh Zidan yang terlihat menangis sesegukan.


Haykal tidak memedulikan sahutan serta tatapan Tante Tya dan Zidan padanya. Laki-laki itu dengan terburu-buru hendak membuka pintu ruang ICU di hadapannya.


"Berhenti! Anda dilarang masuk!" Seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan tersebut mencegah Haykal.


"Saya mau ketemu Mama saya." Ujar Haykal. Sepasang matanya tampak memerah dan berkaca-kaca dengan deru napasnya yang tidak beraturan.


"Maaf, Mas. Untuk sementara pasien belum bisa dijenguk. Anda bisa menunggunya sebentar di luar." Ujar sang perawat, membuat Haykal mau tidak mau menurut.


Laki-laki itu dengan pasrah sedikit menjauhkan dirinya dari pintu masuk ICU kemudian mendudukkan diri di kursi tunggu bersama Zidan dan Tante Tya.


Berkali-kali Haykal terus menarik napasnya dalam-dalam. Kedua tangannya tak henti-hentinya terus mengacak rambutnya sampai acak-acakan. Pikiran laki-laki itu ke mana-mana. Ia takut jika sewaktu-waktu hal buruk akan terjadi pada mamanya.


"Kak..." Panggilan lirih dari samping Haykal membuat laki-laki itu seketika mengalihkan perhatiannya.


"Kak..." Zidan, adiknya yang sudah sangat lama tidak ia temui, memeluknya dari samping seraya menangis.


"Mama gak akan ninggalin kita, kan, Kak?" Rengek Zidan. Seberusaha mungkin Haykal melepaskan pelukan erat dari adiknya.


Bukan karena Haykal tidak suka dipeluk oleh Zidan. Ia hanya tidak ingin adiknya menjadi sosok yang lemah.


"Lo tuh anak cowok! Lo gak boleh nangis, masa anak cowok nangis!?" Haykal mengacak pucuk kepala adiknya seraya terkekeh miris.


Sebisa mungkin ia menghibur adiknya, padahal laki-laki itu pun sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.


Zidan berusaha menyeka air matanya seperti yang dikatakan oleh sang kakak bahwa laki-laki tidak boleh menangis. Namun, ketika tatapan matanya tidak sengaja menatap seragam sekolah yang dipakai oleh Haykal, kedua bola mata anak itu langsung membulat seraya menatap kakaknya dengan tatapan khawatir.


"Kok, seragam Kak Haykal kotor?" Zidan mulai beranjak dari kursi seraya menggerayangi tubuh kakaknya.


Haykal yang semula pikirannya berlabuh ke mana-mana langsung memfokuskan diri pada seragam yang tengah ia pakai.


"Lho? Lengan Kakak berdarah?" Pekikan Zidan membuat Tante Tya yang tengah menelepon seseorang sontak mengalihkan perhatiannya pada kedua anak dari sahabatnya itu.


"Ada apa?" Tante Tya menghampiri Haykal dan Zidan.


Haykal melirik salah satu lengannya yang katanya berdarah. Dan benar saja, lengannya yang sebelah kiri terlihat mengeluarkan darah sampai darah tersebut menetes ke lantai.


Tante Tya yang melihatnya tentu saja dibuat syok! Wanita setengah baya itu berlari mencari perawat untuk membalut luka di lengan Haykal.


Tak butuh waktu lama, wanita setengah baya itu kembali ke hadapan Haykal dan Zidan dengan membawa seorang perawat yang membawa kotak P3K.


"Lepas seragam kamu! Ini kenapa bisa kayak gini?" Tante Tya bertanya khawatir seraya mencoba membantu Haykal melepas blazer sekolahnya.


Laki-laki itu tidak langsung menjawabnya. Ia malah menatap kosong lengannya itu dengan sesekali tertawa sinis.


"Cuman telat ngerem." Ujar Haykal datar.


"Ini harus dijahit." Perawat itu menatap Haykal, lalu Tante Tya bergantian. Raut wajahnya terlihat sedikit tegang, apalagi darah tersebut masih saja terus menetes, namun tidak separah tadi.


Tante Tya tampak menepuk keningnya seraya berdesis. Tatapan wanita setengah baya itu lantas beralih menatap Haykal yang masih terlihat diam dengan tatapan kosongnya.


"Kamu bawa motor?" Tanya Tante Tya, dan Haykal pun mengangguk sekali.


"Kenapa kamu bisa kecelakaan juga sih, Haykal! Gimana kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu?" Tante Tya menghela napasnya cukup berat.


Tatapan matanya kemudian beralih menatap perawat itu yang masih setia membersihkan darah yang keluar dari lengan Haykal. "Suster, langsung jahit lukanya!" Perkataan Tante Tya langsung diangguki sang perawat.


...****...


"Selamat pagiiii!!!" Pagi hari yang cerah di hari libur, Kanza isi dengan menyapa anggota keluarga kecilnya yang berada di dalam dapur.


Sudah ada sang papi tengah meminum kopi, sang mami yang sedang sibuk memasak, dan kembaran absurdnya yang terlihat galau padahal hari masih pagi.


"Za, bisa bantuin Mami ngupas bawang?" Chelsea, sang mami, menyahuti putrinya yang baru saja hendak mendudukkan diri di kursi makan samping kembarannya.


Kanza menghela napasnya, sebelum pada akhirnya gadis itu memilih menghampiri sang mami yang masih berkutat dengan kompor dan wajan.


"Motongin bawang doang?"


Chelsea melirik putrinya sekilas sesaat kemudian ia kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya. "Enggak juga, sih. Habis motongin bawang langsung cuci sayuran yang udah Mami potong-potong itu, ya. Ingat! Yang bersih nyucinya!"


Kanza kembali menghela napasnya. Gadis itu dengan pasrah menuruti perintah dari sang mami. Itung-itung sambil belajar masak juga, kan?


"Pih!" Kenzo menyahuti sang papi yang masih setia menyeruput kopinya seraya menatap layar tablet.


Dipanggil oleh putranya mau tidak mau Kenan yang masih betah menatap layar tablet, mengalihkan fokusnya pada Kenzo.


"Kenapa? Pagi-pagi mukanya udah kusut aja. Ditolak cewek, ya?" Ucapan Kenan, sontak membuat Kenzo langsung membulatkan kedua matanya seraya menatap kagum sang papi.


"Kok, Papi tahu?" Sahutan Kenzo, mendapat delikan heran dari Kanza yang kebetulan secara tidak sengaja ikut mendengarkan obrolan dari papi dan kembarannya.


"Hah!? Lo ditolak sama cewek, Zo?" Kanza menatap tidak percaya ke arah Kenzo.


Detik selanjutnya, gadis itu tertawa seraya memegangi perutnya.


Melihat Kanza yang tengah meledeknya, bukan tidak mungkin Kenzo tidak kesal. Cowok itu dengan kecepatan bak burung elang, melempari wajah kembarannya dengan sebuah lap meja yang kebetulan berada tak jauh dari jangkauannya.


Dan saat itu juga, giliran Kenzo yang tertawa. Chelsea dan Kenan yang menyaksikan tingkah absurd si kembar hanya menghela napas seraya geleng-geleng kepala.


"Heh, emang enak!" Gumam Kenzo seraya menyeringai.


Tak lama kemudian, fokus laki-laki itu kembali kepada sang papi yang tampak menatapnya dengan tatapan yang sulit dijabarkan.

__ADS_1


Sedangkan Kanza, gadis itu sudah hampir ingin meledak, namun segera dicegah oleh sang mami yang menyuruhnya untuk kembali melanjutkan memotong bawang.


Ditatap seperti itu oleh papinya, bukan tidak mungkin Kenzo tidak terintimidasi. Ia dengan raut wajah tegangnya menatap sang papi dengan sesekali mengedipkan kedua matanya.


"Serius?" Tanya Kenan tiba-tiba.


"Hah?!" Kenzo kurang mengerti arti ucapan dari sang papi. Cowok itu dengan tampang kebingungan menatap Kenan seraya mengerutkan kedua alisnya.


"Kamu ini anaknya Kenan Jiran Bagaskara, tapi kamu habis ditolak cewek? Gak salah?" Kenan menatap lekat raut wajah putranya yang terlihat cemberut seraya mengembuskan napasnya.


"Aneh banget, kan, Pih? Biasanya juga dia yang nolak cewek!" Kanza yang masih setia membantu maminya memasak ikut nimbrung.


"Karma itu!" Timpal Chelsea.


Rasa-rasanya saat ini Kenzo merasa tengah disudutkan oleh perkataan semua anggota keluarganya. Benar-benar menyebalkan.


"Tahu, ah! Bukannya ngasih masukkan, ini malah diledek. Gimana, sih?" Kenzo memanyunkan bibirnya seraya melipat kedua lengannya di depan dada.


Melihat sikap Kenzo yang mulai mengambek, membuat Kenan sontak tidak dapat lagi menahan tawanya. Sikap anak laki-lakinya ini benar-benar seperti tengah mencerminkan dirinya di masa lalu.


Bedanya, Kenan tidak playboy seperti Kenzo. Dia hanya banyak dikagumi oleh kaum hawa sampai membuat beberapa dari mereka bertengkar hebat hanya demi memperebutkannya.


Kalian ingin tahu siapa salah satunya? Itu lho, mantan kepala sekolahnya Kanza di SMA Melati. Beliau dulunya adalah siswi seangkatan Kenan. Dulunya ia pernah bertengkar hebat dengan Jessica dan Mysha semasa sekolah menengah atas hanya untuk mendekati Kenan.


Oke, back to topic.


"Kamu mau Papi kasih referensi?" Sahut Kenan, sontak membuat Kenzo langsung bangkit dari posisi duduknya dengan tatapan mata tertuju pada sang papi.


"Serius?" Kenzo menatap penuh harapan pada Kenan.


Papinya itu tidak langsung menjawab secara lisan, namun menjawabnya dengan anggukan kepala angkuh, membuat Chelsea yang tidak sengaja melirik ke arah suaminya menatap kecut seraya mencebikan bibirnya.


"Terus, terus? Hal pertama yang harus Kenzo lakuin kalau mau ngedeketin cewek, apa tuh?" Kenzo mulai kembali mendudukkan dirinya seraya terus memfokuskan diri pada sang papi.


Kenan tampak berdeham, sebelum pada akhirnya pria itu mulai mengutarakan pendapatnya.


"Sebelum tanya ke hal barusan, ada baiknya jawab dulu pertanyaan Papi yang ini." Ucap Kenan, langsung dibalas beberapa anggukan oleh Kenzo.


"Ayo, Pih! Tanya apa aja!"


"Cewek yang lagi kamu suka, tipe cewek yang kayak gimana? Feminin? Atau tomboi?" Kenzo mulai berpikir dan menerka-nerka.


Kalau dipikir-pikir, Wanda itu tidak feminin, namun ia tidak juga tomboi. Kenzo jarang melihat gadis itu memakai gaun maupun pakaian feminin-feminin lain yang seringkali dipakai oleh Kanza.


Tetapi, walaupun setelan gadis itu hanya sebatas celana jeans panjang dan kaos maupun kemeja, Wanda tidak bersikap seperti seorang yang tomboi. Gadis itu hanya bersikap sedikit judes dan punya kepribadian teguh. Tapi kalau lama-lama digoda oleh Kenzo juga ujung-ujungnya melting.


Jadi sebenarnya, Wanda itu feminin atau tomboi?


"Gimana, yah?! Dia feminin, enggak. Tomboi juga enggak!" Perkataan Kenzo, sontak mendapat tatapan kaget dari papinya.


"Kok, bisa?"


"Tipe cewek lo sekarang berubah, Zo? Bukan yang centil-centil lagi? Si Monika apa kabar?" Kanza menyela, seraya membawa sebuah mangkok berukuran cukup besar yang berisi olahan ayam kecap buatan sang mami dan menaruhnya di atas meja makan.


"Siapa Monika? Baru denger." Kenzo langsung mengubah raut wajahnya setelah mendengar nama Monika disebut-sebut oleh Kanza.


Kanza berdecih, dan memilih untuk tidak membalas ucapan Kenzo. Lebih baik, Kanza membantu maminya yang masih berkutat memasak daripada menemani Kenzo beradu argumen.


Bisa gak selesai-selesai nanti!


"Gitu, ya?" Kenan tampak berpikir sok serius. "Kalian seumuran?" Tanya Kenan. Seketika raut wajah Kenzo yang semula menatap fokus sang papi, langsung berubah lesu seraya menyandarkan punggungnya pada punggung kursi.


Kenzo menghela napasnya cukup panjang. Laki-laki itu lantas menggeleng pelan tanpa bersitatap dengan sang papi.


"Hm... Dia lebih muda dari kamu?" Tebak Kenan, dan lagi-lagi gelengan kepala menjadi jawaban salah atas perkataan papinya.


"Lebih tepatnya, dia yang lebih tua dari Kenzo." Ucap Kenzo dengan nada memelas.


Kenan, Chelsea, dan Kanza, sontak langsung mengalihkan perhatian mereka kepada Kenzo dengan kedua bola mata yang melebar hampir sempurna.


"Dia senior di sekolah kita, Zo?"


"Kamu gak lagi naksir sama tante-tante, kan?"


"Dia kuliah atau udah kerja?"


Pertanyaan merentet dari Mami, Papi, dan saudari kembarnya, tak satu pun yang dijawab iya maupun anggukan kepala oleh Kenzo. Ia malah dengan sangat putus asa menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memanyunkan bibirnya.


"Dia bilang umur dia lebih tua tiga tahun, makanya dia gak nerima cintanya seorang Kenzo yang teramat tampan ini." Ucap Kenzo.


Dan saat itu juga, suasana kediaman Keluarga Kenan langsung hening, dengan tatapan kasihan tertuju pada Kenzo seorang.


...****...


Sudah hampir satu jam lamanya Haykal menunggu sang mama, Maya, yang belum juga siuman dari kecelakaan yang menimpanya.


Menurut cerita dari Tante Tya, saat sebelum kejadian tersebut, mamanya ini sehabis dari supermarket membeli bahan-bahan makanan untuk menyambut kedatangan Haykal.


Waktu itu, Tante Tya sedang memasukkan beberapa bungkus belanjaan ke dalam bagasi mobil, dan mamanya pada saat itu tengah membaca daftar belanjaan di layar ponselnya.


"Belanjanya mau sampai sini aja?" Tya, sekretaris sekaligus sahabatnya sewaktu kuliah bertanya setelah sekian lama ia memasukkan berbagai barang belanjaan yang sebelumnya dibeli oleh Maya.


"Bentar, bentar! Takutnya ada yang ketinggalan." Ucap Maya. Raut wajahnya terlihat sumringah dengan tatapan matanya masih tertuju pada layar ponselnya.


"Eh? Haykal, kan, suka banget sama ayam goreng krispi? Aku mau beli ayam goreng dulu, ya, di depan sana!?" Maya kemudian beralih menatap Tya seraya melangkahkan kakinya mendekati wanita itu.


"Emang kalau beli sekarang gak bakal dingin?"


"Kan bisa diangetin di microwave!" Perkataan Maya hanya diangguki anggukan paham oleh Tya. "Aku nitip dulu hapeku, ya! Kalau ada yang nelepon terutama Haykal, langsung jawab! Bilangin Mamanya lagi belanja sebentar." Ujarnya lagi, kemudian melengos meninggalkan Tya setelah sebelumnya ia menitipkan ponselnya kepada wanita itu.


Posisi bangunan restauran ayam goreng yang dikatakan oleh Maya kebetulan berada tepat di seberang supermarket.

__ADS_1


Ketika ia hendak menyebrang jalan, ia lupa untuk melirik kanan-kiri. Pikirannya terlalu asyik membayangkan kedatangan putra keduanya nanti yang telah begitu lama tidak ia temui.


Dan, seperti yang kalian kira. Maya yang berjalan dengan terburu-buru tanpa melirik ke kanan dan ke kiri, tertabrak oleh sebuah kendaraan roda dua dari arah barat yang pada waktu itu melaju dengan sangat kencangnya.


Alhasil, tubuh Maya terpental cukup jauh sampai ke tengah jalan raya.


Tya yang menyaksikan adegan tragis tersebut jelas kaget sekaligus tidak percaya.


Dengan langkah terseok-seok, Tya berlari menghampiri tubuh sahabatnya yang mulai terkulai lemah dengan darah yang mulai mengucur dari beberapa bagian tubuhnya.


"Harusnya Mama bersikap kayak dulu aja. Gak usah sok peduli sama gue. Kalau begini, kan, Mama gak akan kayak gini." Gerutu Haykal. Tatapan matanya masih terfokus pada sang mama yang masih belum juga sadarkan diri, walaupun telah dipindahkan ke ruang rawat inap.


Haykal menarik napasnya dalam-dalam, kemudian bangkit dari kursinya. Ia memilih untuk keluar dari ruangan itu dan mencari udara segar.


Kalau dipikir-pikir, rasa sakit di lengan kirinya baru terasa saat ini. Sebelah kakinya yang tadi serasa baik-baik saja, mulai memperlihatkan rasa sakitnya.


Seragamnya kotor dan di bagian lengan kirinya sobek. Ponsel yang ia taruh di dalam blazernya pun hancur karena kecelakaan yang menimpanya sebelum ia sampai di rumah sakit.


"Kak Haykal? Kakak mau ke mana?" Zidan yang sehabis dari kamar mandi di ruang rawat tersebut, langsung menyahuti Haykal ketika melihat kakaknya tengah menyentuh knop pintu.


Mendengar Zidan menyahutinya, Haykal langsung membalikan tubuhnya seraya menatap adiknya.


"Gue mau keluar bentar. Jagain Mama, ya." Ucapan Haykal, langsung diserbu oleh Zidan yang tiba-tiba berlari ke arahnya seraya menggenggam kuat salah satu lengannya yang tidak terluka.


"Kakak gak ada niatan buat pergi, kan?" Zidan menatap Haykal dengan tatapan penuh selidik. Dirinya takut jika sewaktu-waktu kakaknya ini akan kembali pergi meninggalkan dirinya dan juga sang mama.


"Enggaklah! Gue mau keluar nyari angin. Bentar doang, kok." Ujar Haykal, seraya mencoba melepaskan tangan adiknya yang masih menggenggam kuat lengannya.


"Beneran?" Tanya Zidan yang langsung diangguki anggukan pasti oleh Haykal.


"Zidan ikut, yah?" Ucapnya, sontak membuat Haykal langsung mengerutkan kedua alisnya.


"Ngapain? Lo gak percaya sama Abang lo?" Haykal menatap manik mata adiknya dengan tatapan yang dibuat-buat seolah dirinya tengah menahan emosi.


Zidan tidak langsung menjawab pertanyaan dari Haykal. Ia malah menggaruk belakang kepalanya seraya memanyunkan bibirnya.


"Bukan gitu."


"Terus?" Haykal menaikkan salah satu alisnya dengan kedua lengannya yang ia lipat di depan dada.


"Gue laper, Kak. Traktir Zidan makan, yah?" Sambung Zidan, membuat Haykal sontak mengembangkan sedikit tawanya.


"Wuidih... Bahasanya udah keren aja! Okelah, gue yang traktir. Tapi ada syaratnya!" Haykal merangkul pundak Zidan seraya berjalan keluar dari ruang rawat inap sang mama.


"Apa tuh?" Tanya Zidan mulai menerka-nerka.


"Gue pinjem hape lo, ya? Hape gue ancur soalnya."


"Mau ngapain? Jangan-jangan lo mau ngerecokin akun FF gue lagi, ya? Ogah, ah! Beli lagi aja sana, lo kan banyak duit, Kak!" Zidan langsung melepas rangkulan lengan Haykal. Namun, baru saja terlepas beberapa saat, detik selanjutnya Haykal kembali merangkul bahu adiknya itu dengan sebuah senyum tengil terbit di wajahnya.


"Enggak, elaah! Lo jadi adek su'udzonan mulu perasaan!"


"Ya, kan dulu juga gitu!"


"Ya, kan, itu dulu! Sekarang gue udah enggak! Serius, dah! Yah? Boleh, yah? Entar gue beliin kuota deh, mau yang berapa?" Tawar Haykal, mencoba untuk bernegosiasi dengan adiknya yang dapat dikategorikan sebagai manusia yang tidak mudah percaya dengan ucapan orang lain.


"Emang mau dibeliin yang berapa? Gue gak mau kalau yang 1GB, 2GB! Paling lima menit juga habis." Oke, sepertinya adiknya ini mulai sedikit tertarik dengan penawaran yang diajukan oleh Haykal.


"Heh, gue kasih yang 50GB, deh! Enggak-enggak, 100GB kalo lo mau!" Ujar Haykal. Dan saat itu juga, raut wajah adiknya langsung sumringah dengan tatapan sepasang matanya tertuju pada Haykal.


"Janji, ya? Awas lo bohong! Zidan aduin Mama lho!" Ancam Zidan, membuat Haykal langsung mengembangkan tawanya.


"Ngapain gue bohong! Lo sendiri yang bilang gue banyak duit, gimana sih?"


"Ya udah, iya! Sekarang gue laper. Jajanin, pokoknya gue gak mau tahu!" Ucap Zidan, kemudian menarik paksa lengan kakaknya untuk segera mencari tempat makan.


...****...


Waktu telah menunjukkan pukul dua siang dan Alex dengan setelan pakaian kasualnya berdiri di depan cermin panjang yang berada di kamarnya.


Seperti yang dikatakan Alex tadi siang kepada Kanza, ia akan melakukan kencan pertama mereka siang ini setelah beberapa saat sebelumnya ia telah kembali menghubungi Kanza dan membujuk habis-habisan gadis itu untuk pergi ke kencan pertama mereka.


Cklek!


Suara pintu kamarnya yang terbuka dari luar, membuat Alex sontak mengalihkan tatapannya ke arah sumber suara tersebut.


Seorang wanita setengah baya, berdiri tegap di ambang pintu masuk kamar Alex yang tak lain adalah mamanya. Sandra.


"Kamu mau keluar?" Sahutan dari mamanya mendapat respon berupa senyum kecil dari Alex.


"Sebentar doang, kok. Boleh ya, Ma?" Tanya Alex, seraya terus menyunggingkan senyum manisnya.


"Kamu udah belajar? Katanya dua minggu lagi kamu olimpiade, kan? Kamu mau main sama siapa?" Pertanyaan merentet dari Sandra, dibalas helaan napas kecil oleh Alex.


Selalu saja begini. Hal yang pertama kali mereka tanyakan pada Alex ketika ia hendak minta izin keluar rumah adalah tentang belajar, belajar, dan belajar.


Apa tidak ada hal lain selain itu?


"Udah, Ma. Nanti pulang main juga Alex bisa belajar lagi." Balas Alex. Raut wajahnya yang semula tersenyum, langsung berganti menjadi datar tanpa ekspresi.


Sandra tampak mengangguk. "Ya udah. Jangan lama-lama, ya, mainnya! Papa kamu lagi ada di rumah soalnya. Kayak gak tahu aja dia bakal kayak gimana kalau kamu gak ada di rumah, apalagi lupa sama belajar!" Sandra kemudian menepuk pelan lengan putranya seraya tersenyum tipis. "Kalau gitu Mama ke bawah lagi, ya?" Pamitnya, kemudian melenggang keluar dari kamar Alex tanpa mengatakan sepatah kata lagi.


Setelah sepeninggalan mamanya, Alex lantas kembali menghela napasnya. Pikirnya, sampai kapan ia akan terus dikekang dan dituntut untuk harus selalu sempurna seperti ini?


"Belajar yang bener biar jadi penerus. Apa hidup gue semata-mata cuman buat jadi penerus?" Gumam Alex, seraya mengepal kuat kedua tangannya.


^^^To be continue....^^^


Sudah update!!!


tadinya mau aku tambahin epilog-nya Haykal, tapi enggak jadi, deh. Ini aku ngetiknya malem banget, mumpung udh agak mendingan>~< takutnya klo di nanti-nanti malah enggak lagi updatenya. Ywdh klo gitu, smpai ketemu di next eps!!! Seperti biasa updatenya gk nentu ya, apalagi keadaan aku blum bner-bner fit, cmn agak lumayan aja gk kayak kemaren-kemaren. And, btw, terima kasih untuk doa sama rekomendasi obat di eps pengumuman kemaren😂 mksih bgt!!!😿 diluar dugaan, aku pikir gk akan ada yg ngasih ucapan GWS😁

__ADS_1


__ADS_2