Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 13


__ADS_3

Kanza dan Alex mulai memasuki area restauran dan mulai menduduki salah satu tempat kosong yang tata letaknya berdekatan dengan pintu masuk.


By the way, mereka duduk saling berhadapan.


"Lo mau pesen apa?" Tanya Alex, seraya membuka buku menu.


Kanza yang sibuk berpikir sana-sini, langsung memfokuskan diri pada Alex yang berada di hadapannya. "Eh? Emm... Gue ayam sama kentang goreng aja, deh."


Alex tampak mengangguk perlahan. Sebelah tangannya lalu mulai membuka lembaran baru di buku menu tersebut.


"Minumannya?" Tanyanya lagi. Kanza yang masih sibuk dengan pikiran kecilnya, kembali tersadar. "Apa aja! Terserah!" Ujarnya.


Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa catatan pesanan ke meja keduanya. Alex mulai menyebutkan satu-persatu menu yang dipesannya. Sedangkan Kanza, gadis itu sibuk memikirkan cara agar dirinya bisa pulang ke rumah tanpa ketahuan oleh Alex.


Tring!


Bunyi notif pesan dari ponsel Kanza yang berada di atas meja menyadarkan gadis itu. Tanpa pikir panjang, Kanza langsung membuka ponselnya.


MaBrother Somvlak


Lo dmna? Pak Indro nyariin nih. Dia putar blik gk tau udh brpa kli gk bisa nmuin lo.


Za! Lo gpp kan?


Woiii!!! Bales woiii!!!


Temennya Dono & Kasino (Pak Indro)


Non Kanza dimna? Maafin, Pak Indro tdi ketiduran. Skrang Bpk jmput ya,


Non? Jgn nakutin Pak Indro dong... nanti Bpk dihukum lgi sama Pak Kenan gimna:(


Kanza berdecih seraya mendengus sebal. Dasar Pak Indro nyebelliiiinnnn!!!


Dengan kesal, gadis itu mulai membalas pesan dari Pak Indro.


^^^Cepetannnn dtg ke alamat ini! Awasss aja ketiduran lgi kek tadi. Kanza bilangin Papi lho.^^^


Setelahnya, Kanza mulai menaruh kembali ponselnya ke dalam tas sekolahnya. Raut wajahnya berubah dongkol, dan Alex dapat melihatnya dengan jelas.


"Kenapa?"


Tersadar masih ada seseorang di sekitarnya, Kanza mulai menatap Alex seraya berkedip beberapa kali, kemudian berdeham.


"Enggak ada apa-apa, kok! Cuman masalah sepele," balas Kanza, seraya tersenyum kaku.


"Sopir yang harusnya menjemput lo, baru ada kabar, ya?" Perkataan Alex, membuat Kanza spontan melebarkan kedua matanya seraya menutupi mulutnya yang terbuka dengan salah satu tangannya.


"Kok, lo bisa tahu?" Heboh gadis itu. Membuat beberapa orang pelanggan yang berada tidak terlalu jauh dari mereka, langsung meliriknya.


"Nebak aja," balas Alex. Kanza hanya menanggapinya dengan ber-oh ria.


Tak lama kemudian, pesanan keduanya datang. Dua paket ayam goreng dan kentang goreng serta dua gelas minuman yang sama, dihidangkan tepat di meja mereka.


Melihat ayam goreng yang sudah tersaji di hadapannya, Kanza langsung memburu ayam goreng tersebut tanpa rasa malu. Gadis itu dengan santai, seolah tengah sendirian di sana, menikmati makanannya dengan lahap.


"Pelan-pelan," ujar Alex mengingatkan.


Oh, ya. Cowok itu sedari tadi terus menatap ke arah Kanza. Hanya saja, gadis itu tidak menyadarinya.


Kanza menengadahkan kepalanya menatap Alex. Mulutnya masih mengunyah, tapi gadis itu malah tersenyum tiba-tiba, sampai kedua matanya tidak terlihat.


Alex tentu saja dibuat membeku sesaat. Senyuman Kanza dengan kedua pipinya yang mengembung dipenuhi makanan, terlihat imut dan menggemaskan.


Benar kata teman-teman di kelasnya. Kanza itu cantik. Ketika sedang makan belepotan begitu pun tetap cantik. Jadi penasaran, mamanya Kanza kayak gimana?! Jangan-jangan, lebih cantik dari anaknya?!


Terlalu hanyut dalam dunia masing-masing, sepasang remaja itu sampai tidak menyadari bahwa ada seseorang dari kejauhan tengah memerhatikan interaksi keduanya.


Seorang cowok yang tak lain adalah Kenzo, datang dengan terburu-buru ke McDoland's disuruh Maminya untuk menjemput kembarannya yang tak pulang-pulang sudah hampir satu jam lamanya.


Cowok itu tengah berdiri di samping mobil hitam yang sering digunakan Pak Indro untuk mengantar jemput Kanza. Tatapannya terlihat menusuk. Tertuju pada Kanza yang sedang enak-enakan makan berdua bareng Alex.


"Sialan, tuh bocah! Godain kembaran gue, lo, hah! Wahh... Kalo gak ingat sama perjanjian resmi gue sama si Kanza, udah gua labrak lo berdua! Gak tau aja lo gimana posesifnya Papih gue kalo tau anak gadisnya deket sama anak cowok! Heh, gua gangguin lo berdua!" Kenzo mendumel panjang lebar seraya meraih ponselnya yang ia tinggalkan di atas dasbor mobil.


"Heh! Lihat pembalasan gue!"


...****...


Drrttt... drrttt...

__ADS_1


Dering ponsel yang tersimpan di atas meja, membuat kegiatan dua orang remaja yang sedang menikmati makan siang, atau lebih tepatnya makan sore, langsung mengalihkan perhatian mereka pada satu titik.


"MaBrother—" Alex menghentikan ucapannya, ketika Kanza langsung meraih secepat kilat ponselnya yang berdering.


Hampir saja!


"Bentar, ya!" Ujar Kanza tertuju pada Alex. Gadis itu lalu mulai berdiri dari kursinya, dan berjalan sedikit agak jauh dari Alex.


"Ha—"


"Bagooossss!!! Dicariin sama Pak Indro ke sana-sini, tau-taunya lagi pacaran lo, hah!? Balik gak lo!" Kenzo menyemprot kembarannya, membuat gadis itu refleks mendesis.


"Berisik! Siapa suruh Pak Indro ketiduran, bikin gue kelamaan nunggu aja! Lo sendiri tau, kan, gue trauma tinggal terlalu lama di tempat sepi sendirian! Dan sekarang lo marahin gue? Ngeselin banget si, hidup lo! Lo gak pernah ngerasain apa yang gue rasain!" Bukannya menciut, takut, atau apalah itu, Kanza malah balik menyemprot Kenzo dengan perkataan panjang lebar.


Bedanya, Kanza berbicara dengan sedikit berbisik-bisik. Tidak seperti Kenzo yang gak punya urat malu. Teriak-teriak di parkiran restauran. Benar-benar menyebalkan.


Kenzo menggeram seraya menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.


Ingin sekali Kenzo membalas perkataan kembarannya itu. Tapi apalah daya, Kenzo menahannya untuk saat ini demi imej dirinya yang dikenal kalem, ganteng, seksi dan lain-lain.


"Gue kasih waktu lo 60 detik. Keluar.dari.sana.SEKARANG!"


Tut... tut... tut...


Kenzo memutus panggilan teleponnya sepihak, membuat Kanza yang belum bisa mencerna perkataan kembarannya, berdesis seraya memaki pelan.


"Kenzo siallaaaannnnn!!!" Makinya tanpa vokal. So, orang lain maupun Alex gak akan bisa mendengarnya.


Memutuskan untuk menarik napas sebelum bertindak, adalah hal yang sering Kanza lakukan. Gadis itu lalu kembali ke mejanya dan mengambil tas serta ayam goreng yang masih tersisa satu porsi lagi. Sayang, kalau harus ditinggalin begitu aja. Pikir Kanza.


"Gue harus pulang sekarang! Mamih gue udah nyariin. Sopir gue juga udah nungguin di depan sana! Gue duluan ya, Lex! Makasih traktirannya! Lain kali, gue yang traktir lo. Byee!" Setelah mengucapkan kalimat merentet itu, Kanza langsung berlari keluar area restauran, tanpa memberikan kesempatan bagi Alex untuk berbicara.


Ditinggalkan begitu saja oleh Kanza, tak membuat Alex marah ataupun kesal. Cowok itu malah tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kanza..." Alex menggumamkan nama gadis itu seraya memainkan sedotan minumannya. "Kayaknya, gue suka sama lo. Lo unik dan berbeda." Alex lantas mengalihkan tatapannya menatap ke luar kaca. Berharap, Kanza masih berada di luar sana, namun nyatanya sudah tidak ada.


"Biasanya, cewek-cewek yang baru kenal gue, apalagi yang udah kenal gue dari lama, mereka pasti sebisa mungkin caper di hadapan gue, gimana pun caranya." Alex kembali bergumam, lalu menyunggingkan sebuah senyum di bibirnya.


...****...


"Kanza, pulaaangggg!" Suara pekikan Kanza yang baru saja memasuki rumah mewahnya, mengundang perhatian beberapa anggota keluarganya yang kini sedang melakukan acara kumpul-kumpul di ruang keluarga.


"Oma Satu?" Melihat salah satu neneknya yang berasal dari Maminya, Kanza langsung berhamburan dan memeluk wanita tua itu yang masih terlihat awet muda. Amara.


"Huwaaa... Oma Satu kenapa baru jengukin Kanzaaa... Kanza, kan kangen sama Omaaa..." gadis itu menya-menye di pelukan Amara.


Kenzo yang baru memasuki rumahnya refleks terjengit, seraya mengelus dadanya. "Sejak kapan, Nenek Lampir jadi cengeng? Salah minum obat lo!"


Kanza melepaskan pelukan erat dari sang Oma. Tatapan gadis itu langsung berkilat tajam tertuju pada Kenzo.


"Diem lo! Gak takut gue jadiin lo Kenzo Geprek? Mumpung ada Oma Satu di sini. Gue tinggal tanya-tanya aja bumbu resepnya apa!" Perkataan Kanza, mendapat respon ngakak dari Amara, dan beberapa anggota keluarga lain, seperti Al, kakak kandung Chelsea dan, istrinya, Elsa bersama anak perempuannya yang berumur 15 tahun.


Sedangkan Chelsea yang setiap harinya selalu pusing dan sudah terlalu kebal dengan sikap dan sifat ajaib si kembar, hanya menghela napas lelah.


Kenzo bergidik ngeri, seraya berjalan menghampiri Amara. "Sore, Oma Satu!" Raut wajah cowok itu seketika berubah menjadi tersenyum manis, padahal sebelumnya raut wajahnya terlihat kecut saat berhadapan dengan Kanza.


"Cucu Oma ganteng banget, sih. Tinggi lagi. Ceweknya pasti banyak." Pernyataan Amara, membuat raut wajah Kenzo berubah datar.


"Kok, Oma tahu?"


Plak!


Sebuah pukulan tak terlalu keras melayang di sebelah lengan Kenzo. Dan pelaku utama itu tentu saja Omanya.


Oh, ya. Bagi yang bingung kenapa panggilan Amara adalah Oma satu, itu karena dulu sekali ketika Kanza dan Kenzo baru lahir, Amara, ibunda Chelsea, dan Lucy, ibundanya Kenan, berebut nama panggilan untuk cucu-cucu mereka nanti ketika memanggil nama mereka.


Masing-masing dari keduanya ingin dipanggil Oma. Gak ada yang mau mengalah untuk mencari nama panggilan lain, hingga pada akhirnya, Amara dan Lucy sepakat untuk memberikan panggilan diri sendiri Oma, namun menggunakan angka sebagai pembeda.


Oma Satu, untuk panggilan cucu mereka pada Amara. Sedangkan Oma Dua, untuk panggilan cucu mereka pada Lucy.


Sekian.


"Sudah, sudah. Kalian ini kok, semakin besar bukannya semakin akur, malah mirip Tom&Jerry. Duduk dulu, yuk, sama Oma! Oma kangeennn banget sama kalian. Oma pengen ngobrol-ngobrol sama Kenken sama Sasa!" Amara membawa kedua cucu kesayangannya, Kanza dan Kenzo, untuk duduk di sofa dan bergabung dengan anggota keluarganya yang lain.


Kenken dan Sasa, adalah panggilan sejak kecil yang diberikan amara pada Kanza dan Kenzo, sewaktu keduanya masih dalam tahap belajar bicara.


Hingga saat ini, Amara masih memanggil keduanya dengan nama itu, walaupun terkadang ia juga memanggil mereka dengan nama asli mereka.


"Kak Sasa!" Putri dari pasangan Al dan Elsa, Beby, melambaikan tangannya ke arah Kanza.

__ADS_1


"Hai! Kenapa? Mau ngajakin nonton Drakor bareng lagi? Ayok! Siapa takut!" Beby menyengir seraya mengangguk. Menurutnya, Kanza adalah orang terpeka sekaligus sosok kakak yang penyayang bagi gadis itu.


"Hehee... Dramanya Song Joong Ki, ya, Kak!" Ucap Beby, membuat kedua orang tuanya, serta yang lain yang berada di satu tempat yang sama dengannya tertawa.


...****...


"Kak Sasa? Sebenarnya, orang tua kita ngomongin apaan, sih, di bawah! Beby sama sekali gak ngerti!" Beby yang dari dua puluh menit yang lalu sudah berada di kamar Kanza, menyuarakan isi hatinya yang sedari tadi ia pendam.


"Katanya sih, nanti malam ada Formal Party gitu. Sesama pebisnis," jawab Kanza. Gadis itu terlihat sibuk menscroll aplikasi belanja online sembari tiduran di atas tempat tidur.


"Ooh. Terus, nanti kita juga ikut?" Beby bangkit dari posisi duduknya di atas kursi belajar milik Kanza. Gadis yang masih duduk di bangku kelas 3 SMP itu mulai ikut merebahkan diri di samping kakak sepupunya.


"Iya, ikut. Beby udah punya gaunnya?" Itu bukan Kanza yang bertanya, melainkan Kenzo yang juga berada di kamar Kanza.


Cowok itu sedang gabut. Makanya ia ikut masuk ke kamar kembarannya. Perdana lho, ini sebenarnya bagi Kenzo masuk ke kamar Kanza!


Biasanya juga, Kanza tidak pernah mengizinkan cowok itu untuk masuk ke kamarnya. Tetapi, berbeda dengan hari ini. Mungkin karena ada Beby, jadinya Kanza membiarkan saja Kenzo masuk ke kamarnya.


"Kira-kira... menurut Kak Kenzo, Beby cocok pake gaun warna apa?"


Kenzo tampak berpikir sejenak. "Warna pink?"


Bukannya terlihat senang, gadis itu malah mencebikkan bibirnya seraya membenarkan posisinya menjadi terduduk. "Gak, deh. Warna pink terlalu mencolok. Beby maunya yang elegan,"


Kanza terkekeh geli mendengar ucapan Beby. Meskipun usianya sudah 15 tahun, tapi gadis itu masih bertingkah seakan dirinya adalah anak kecil. Efek terlalu dimanja sama Papanya.


"Warna abu-abu elegan, lho!" Ucap Kanza, kedua matanya masih sibuk melihat layar ponselnya.


"Hm... boleh juga! Nanti minta ke Papa, ah. Oh iya, terus Kak Sasa sama Kak Kenken mau pake apa?"


Kenzo mendesis mendengar Beby memanggilnya dengan panggilan 'Kenken'. Cowok itu menatap Beby dengan tatapan memelas kasihan.


"Panggilnya jangan 'Kenken' dong, By. Kenzo! Panggilan 'Kenken' cuman dikhususkan buat para Oma!"


Beby cemberut, kedua matanya melirik Kenzo sinis seraya melipat kedua lengannya di depan dada. "Bodo amat! Maunya manggil 'Kenken', gimana dong?"


"Dasar bocil!" Celetuk Kenzo, cowok itu kemudian memutuskan keluar dari kamar Kanza dengan perasaan dongkol yang menggunung.


...****...


Malam harinya, tepatnya pukul delapan malam, Keluarga Besar Kenan mulai turun ke bawah dengan setelan dress dan tuxedo untuk menghadiri acara Formal Party seperti yang dikatakan Kanza tadi sore.


Kenan dan istrinya Chelsea, kompak mengenakan pakaian seragam berwarna biru navy. Sedangkan Kanza dan Kenzo, mereka mengenakan pakaian yang berbeda.


Kalau Kanza dress panjang berwarna putih, Kenzo mengenakan setelan jas berwarna hitam. Penampilan keduanya terlihat begitu anggun dan menawan. Seakan bahwa keduanya tidak terlihat seperti sepasang murid SMA.




"Hoaam..." Kenzo menguap cukup keras, membuat Chelsea, selaku maminya, spontan menatap ke erah putranya.


"Jam segini kok, udah ngantuk? Begadang lagi, ya, kemaren?"


Kenzo yang tidak terima tuduhan dari maminya pun mengelak. Padahal, dalam hati ia mengiyakan tuduhan tersebut.


"Enggak, Mih."


Chelsea tidak memedulikan Kenzo lagi setelahnya. Wanita yang sudah memasuki kepala empat itu tampak menyibukkan dirinya dengan sebuah majalah yang ia ambil di atas meja.


Kenan yang baru saja selesai dari urusannya mengangkat telepon pun langsung menghampiri kedua anak dan istrinya.


"Ayo! Kita berangkat sekarang. Mobilnya udah siap!" Ujar Kenan. Chelsea, Kanza dan Kenzo, mulai beranjak dari posisi duduknya dan bersiap untuk segera meninggalkan rumah.


^^^To be continue...^^^


Cuplikan part selanjutnya>>>>


"Kanza?" Seseorang dari belakang punggung gadis itu memanggil namanya.


Ketika gadis itu mulai berbalik, seseorang yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan berada di tempat mewah ini, kini berdiri tepat di hadapannya.


Sial! Kok, dia bisa ada di sini? Jangan sampe dia tahu kalau gue....


Sudah update sesuai janji kemaren ahooiii!>~<


Besok kalo otaknya masih bisa diajakin fokus kyk skarang, Insya Allah update lagi.


Oke, kalo begitu. Sampai jumpa di eps selanjutnya:*

__ADS_1


__ADS_2