Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 10


__ADS_3

Perlahan, kedua bola mata yang semula terpejam itu kini mulai terbuka sedikit demi sedikit.


Bianca, gadis yang baru saja kesuciannya direnggut, kedua bola matanya mulai kembali berkaca-kaca. Gadis itu menangis tanpa suara.


Dengan hati-hati, ia mulai bangkit dari posisinya. Rasa sakit serta ngilu di bagian intimnya masih terasa. Namun, rasa sakit itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan hatinya.


Ya. Hatinya hancur!


Lelaki yang sedari kecil sering mengikutinya, menjaganya, bahkan mencintainya, kini telah menyakitinya bahkan telah menghancurkan masa depannya.


Tapi... bukankah ini adalah sebuah hukuman dari Tuhan, atas sikap gadis itu dulu pada Haykal?


Ya. Ini pasti hukuman! Jika bukan karena gue yang menyia-nyiakan cinta tulus dari Haykal, Haykal gak akan jadi seperti ini. Jika bukan karena gue yang dulu nolak dia sampai terluka, dia pasti gak akan kayak gini!


Gadis itu terus menyalahkan dirinya sendiri. Namun, dia juga sedikit membenci Haykal, karena telah melakukan perbuatan itu padanya.


Bianca memutuskan untuk pergi dari tempat terkutuk itu, sebelum Haykal yang masih terlelap di sofa lain mulai terbangun dari tidurnya.


Gadis itu menatap dirinya yang terlihat sangat kacau. Tak ada sehelai pun kain yang menutupi tubuhnya. Pakaiannya sudah disobek oleh Haykal. Pakaian dalamnya juga entah di mana. Hanya celana pendeknya saja yang masih utuh, yang berada di atas meja.


Bianca mulai tertatih seraya memakai celena pendeknya, lalu memakai jaket milik Haykal yang teronggok di lantai.


Pagi ini, ia harus cepat-cepat pergi. Ia tidak peduli, jika dirinya harus mengambil jaket cowok itu, agar dirinya bisa menutupi tubuh bagian atasnya.


Diliriknya sebentar ke layar ponsel milik Haykal, pukul 04:34 pagi tertera di sana. Tanpa merasa ragu lagi, gadis itu pergi dari ruangan tersebut. Kemudian berlari sekuat tenaga, sesaat setelah keluar dari gedung club malam itu.


...****...


Tepat pukul 7 pagi, Kanza tiba di depan gerbang SMA Naruna dengan diantar oleh supir pribadinya. Gadis itu mulai melangkah santai memasuki area sekolah berbarengan dengan murid-murid lain yang juga baru saja tiba di sekolah.


"Woi! Minggir!!!" Suara teriakan dibarengi dengan suara klakson mobil di belakangnya, membuat Kanza mengumpat kesal dalam hati.


Kanza tahu betul siapa pemilik suara teriakan dan bunyi klakson menyebalkan itu!


Gadis itu lantas membalikkan tubuhnya, sudah ada seseorang yang tak lain adalah Kenzo, menaiki mobil BMW Z4 warna merah, dengan tampang yang begitu menyebalkan.


Oh, ya. Cowok itu juga terlihat memakai kacamata hitam di wajahnya. Dasar sok keren!


"Minggir lo bilang? Kenapa gak lo aja yang minggir?" Kanza berucap ketus seraya berkacak pinggang tepat di depan mobil Kenzo.


"Lo buta? Gimana gue mau minggir, kalo lo ngalangin di tengah-tengah? Minggir, gak!"


Kanza berdecak sebal. Gadis itu hendak membalas ucapan kembarannya, namun dirinya malah memilih mengalah daripada bertengkar dengan Kenzo.


Ini masih pagi! Jangan sampai jiwa bar-bar Kanza meledak di hadapan banyak orang. Apalagi, Kanza itu masih murid baru di sini. Belum ada seminggu sejak kedatangannya ke sekolah ini.


Kalau Kanza membuat onar, entah apa lagi yang akan terjadi nanti.


"Huh!" Kanza meminggirkan langkahnya dan memilih mengalah. Gadis itu dengan perasaan dongkol berjalan menuju kelasnya yang berada di lantai tiga, gedung IPS.


Setibanya Kanza di depan kelasnya, yaitu kelas XI IPS 4, gadis itu sudah disambut hangat oleh Alma, teman barunya yang sedang menjalankan piket kelas.


"Hei! Za, kamu udah dateng!" Alma terlihat sangat senang saat kedatangan Kanza.


Kanza tersenyum dengan menampilkan deretan giginya yang rapi. "Piket?" Tanyanya, Alma terlihat mengangguk dengan wajah yang tersipu.


Kanza dibuat heran dengan ekspresi yang ditunjukkan Alma padanya. Namun, seketika Kanza paham, mengapa gadis itu menjawabnya sambil tersipu.


Dan, yah. Seorang cowok yang tak lain adalah Rio, salah satu antek-anteknya Kenzo, sedang membantu menyapu lantai di belakang.


Tatapan Kanza langsung beralih menatap Alma dengan tatapan menggoda. Gadis itu dibuat salting, sampai-sampai wajahnya semakin bersemu merah.


"Si Rio jadwal piketnya barengan sama lo, Ma?" Tanya Kanza. Refleks gadis itu menggeleng cepat dengan raut wajah tegang. Membuat Kanza spontan tertawa.


"Ciee... Dibantuin, ekhem!" Kanza berucap cukup lantang, sampai membuat Rio yang tadinya sibuk menyapu, langsung melirik ke arah kedua gadis itu.


"Za, apaan siii! Enggak gituuu..." balas Alma. Wajahnya semakin memerah, dan Rio dapat dengan jelas melihat wajah gadis itu.


Dalam diam, Rio tersenyum. Cowok itu merasa bangga pada dirinya saat ini. Masa bodo, dulu Alma tidak menjawab perasaannya. Yang penting, gadis itu tidak menolak ketika dirinya memberikan perhatian seperti ini.


"Oh, ya?" Ujar Kanza. Gadis itu menatap Alma dengan tatapan curiga, namun bibirnya tak henti-hentinya terus tersenyum geli, membuat Alma spontan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Rio yang masih memerhatikan gadis itu kembali tersenyum. Dengan langkah sedikit agak cepat, cowok itu berjalan melewati Alma, dengan sebelah tangannya terangkat mengelus kepala gadis itu sambil melengos keluar kelas.


Alma tentu saja dibuat kaget luar biasa. Tak hanya Alma, Kanza yang menyaksikan secara langsung adegan tersebut pun ikut terkejut. Gadis itu bahkan menjerit seraya menggoyang-goyangkan bahu Alma.


Dan Alma, gadis itu malah bengong dengan wajahnya yang semakin memerah.

__ADS_1


"Yakin, gak ada apa-apa?" Tanya Kanza lagi. Gadis bernama lengkap Alma Susanti itu memilih bungkam dan melanjutkan pekerjaannya.


...****...


"Waseeekkk... Gak kesiangan lo?" Kenzo yang tengah bersantai di dalam mobilnya yang atapnya terbuka, menatap satu persatu teman-temannya yang baru saja keluar dari mobil mereka masing-masing.


Ada Alex, Juna, Azka, dan juga Haykal yang baru datang. Sedangkan Rio, cowok itu sudah dari tadi tiba di sekolah.


"Udah biasa maljuman, jadi pas paginya gak kesiangan." Ujar Juna bangga.


"Tidur lima jam juga cukup. Kalo ngantuk, izin aja ke UKS!" Giliran Alex yang menyahut. Namun, perkataannya barusan benar-benar di luar prediksi teman-temannya.


"Wuihhh... Akang Alek ternyata bisa begini! Sejak kapan lo jadi nakal?" Azka menyela.


"Kepo!" Balas Alex. Singkat dan dingin.


Kenzo dan Juna langsung tertawa. Melihat reaksi Azka yang menyedihkan dan balasan ketus dari Alex, membuat kedua cowok itu tidak bisa menahan tawanya.


Hanya satu orang cowok yang tidak bereaksi apa-apa. Haykal. Dia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun, padahal biasanya dialah yang paling petakilan.


"Eh, Kal! Bengong aja lo! Mikirin apaan lo!" Azka menyenggol bahu Haykal. Cowok itu terlihat tersadar, lalu menatap satu-persatu teman-temannya yang kini tengah menatapnya serius.


"Lo ada masalah, Kal?" Kenzo yang khawatir melihat sahabatnya melamun sedari tadi pun bertanya.


"Bokap lo mukulin lo lagi?" Itu suara Alex. Juna dan yang lain, spontan memelotot pada Alex, lalu tatapan mereka beralih menatap Haykal.


"Kal! Bokap lo macem-macem lagi sama lo? Bilang, Kal! Kali ini dia mukulin lo di mana!?"


Haykal yang ditanya satu-persatu oleh keempat sahabatnya tentu saja merasa sedikit terharu. Namun, tak seharusnya mereka seperti ini. Karena Haykal melamun begini, itu semua karena otaknya sedang melamunkan Bianca, yang tadi malam ia paksa untuk melakukan hubungan intim dengannya.


Sial!


Mengingatnya saja membuat kepalanya berdenyut sakit! Aksi bejatnya kemarin, membuatnya frustasi sekaligus menyesal.


"Elah! Enggak, gue gak di apa-apain sama bokap gue. Dia aja belom balik dari Bali! Gue cuma kurang tidur aja," ujarnya berbohong. Cowok itu juga memasang wajah selengean palsunya yang terlihat alami di depan Kenzo, Juna, Alex dan Azka.


"Ya elah! Kirain kenapa! Abis nidurin cewek lagi lo ya, kemaren, makanya kurang tidur!?" Tuduhan Juna, membuat Haykal membeku.


Cowok itu langsung gugup, tapi seberusaha mungkin menutupi kegugupannya dengan sebuah tawa yang garing. "Sembarangan! Otak lo isinya begituan mulu dah, kalo soal gua, Jun!"


"Ya, terus?"


...****...


"Pagi anak-anak!" Bu Lani, guru Bahasa Indonesia khusus untuk kelas sebelas, memasuki ruang kelas XI IPS 4 untuk mengajar di jam pertama.


"Pagi, Bu!" Semua murid di kelas itu membalas serempak sahutan dari Bu Lani.


Laniawati, atau lebih akrab dipanggil Bu Lani. Seorang guru senior yang usianya sudah lebih dari empat puluh tahun. Ia sudah mengabdikan dirinya menjadi guru di SMA swasta ini sekitar dua puluh tahun lebih. Dia adalah sosok guru yang baik dan lemah lembut.


"Hari ini, Ibu absen dulu, ya," ujarnya ramah yang dibalas serempak oleh murid-muridnya.


Bu Lani pun memulai sesi absensi dengan memanggil satu-persatu nama siswa maupun siswi di kelas tersebut. Setelah sesi absensi selesai, Bu Lani tampak mulai membuka buku paketnya.


"Sekarang ulangan mingguan, ya. Kalian siap?" Perkataan dari Bu Lani, membuat seluruh siswa maupun siswinya memprotes tidak setuju.


"Bu! Kok tiba-tiba?"


"Jangan, Bu! Kita belum belajar."


"Mampus! Nilai gue pasti jelek lagi!"


Dan masih banyak lagi keluhan-keluhan lain dari mereka.


Bu Lani tampak menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berdeham cukup keras. Murid-muridnya yang tadinya masih ribut memprotes langsung senyap seketika.


"Jangan ribut! Ibu kasih kalian waktu untuk baca buku lima menit." Ujarnya. Para muridnya hanya bisa pasrah dan menerima.


Sementara itu geng Kenzo yang memang adalah tipikal murid-murid bandel, mereka sama sekali tidak membuka buku catatan mereka. Mereka malah santai, dan usil ke anak-anak yang lain.


Kecuali satu orang yang masih penurut. Ya, siapa lagi kalau bukan Alex?


Udah mah ganteng, pintar, hebat dalam segala hal, juara pertama satu sekolah lagi. Idaman banget gak sih?


"Lima menit sudah habis. Kumpulkan buku kalian di meja paling depan." Bu Lani kembali menginstruksi.


"Ketua Kelas! Bagikan kertasnya, ya. Satu orang, satu lembar." Tambah Bu Lani, ditujukan pada sang ketua kelas yang tak lain adalah Alex, juga.

__ADS_1


Kanza yang memang sedari tadi terus memerhatikan Alex dari jauh pun cukup merasa terpesona. Apalagi ketika cowok itu disuruh membaca-baca kembali buku paketnya. Hanya cowok itu yang paling patuh diantara geng-nya si Kenzo.


Bahkan, Kenzo si kembaran absurd-nya saja males-malesan.


Tanpa disadari, Kanza melamun dengan tatapan matanya yang masih tertuju pada Alex yang masih berdiri di depan meja guru.


Gadis itu juga menopang wajahnya dengan kedua tangannya sambil terus melihat punggung cowok itu yang terlihat besar dan lebar.


Dan lagi, Kanza jadi ingat kejadian kemarin, ketika Alex menangkap tubuhnya. Jika saja Alex kemarin tidak menangkap tubuhnya, mungkin Kanza sudah terjungkal, dan dirinya tidak akan pernah bisa bersitatap lagi dengan Alex.


Tersadar dari tadi dirinya terus memikirkan Alex, gadis itu pun mulai memejamkan kedua matanya sambil menggeleng-gelengkan kepala seraya menepuk kedua pipinya.


Namun, ketika kedua matanya mulai kembali terbuka, Kanza langsung dibuat kaget luar biasa. Kanza tercyduk oleh Alex, yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya. Gadis itu bahkan spontan melatah, membuat beberapa teman sekelasnya refleks tertawa.


Kanza meringis. Citranya sudah hancur, bahkan sebelum dirinya bisa dekat dengan Alex. Memang, ya. Kalau sudah dari dulunya bar-bar, gak ada obat.


"Dari tadi lo liatin gue?" Alex berucap spontan tanpa adanya basa-basi. Cowok itu dengan enteng mengatakan hal tersebut, padahal Kanza sudah dibuat gugup sekaligus kaku olehnya.


"Hah!? Eng-gak! Geer, dih. Siapa juga yang ngeliatin lo!" Balas Kanza. Kedua matanya menatap ke arah lain, ketika mengatakan kalimat terakhir.


Alex tentu saja dibuat tertawa kecil. Cowok itu tidak membalas dan malah memberikan soal ulangan mingguan di atas meja gadis itu.


Sebelum Alex benar-benar meninggalkan mejanya, cowok itu menyempatkan diri untuk membisikkan sesuatu pada telinga Kanza.


"Gue tahu, gue ganteng. Ngeliatinnya gak usah dihayati gitu lah." Bisiknya, lalu melengos dan melanjutkan memberikan soal ulangan pada murid-murid lain.


Kanza dibuat membeku di tempat. Gadis itu tidak dapat berkata-kata lagi. Wajahnya pun terasa memanas saat ini. Sedangkan teman sebangkunya, Alma yang sedari tadi menyimak sambil senyam-senyum sendiri, mulai menyenggol lengan teman barunya sampai membuat Kanza langsung tersadar dari lamunannya.


"Jadi ... Alex, nih?" Ucap Alma. Kanza spontan mengernyitkan dahinya.


"Hah!? Ap-aan, si! Jangan ngawur! Isi tuh soal-soalnya,"


"Emang gue ngawur apaan? Perasaan, gue gak ngomong apa-apa, deh!" Tersadar akan sesuatu, Kanza pun menyenggol lengan Alma, menyuruh gadis itu untuk berhenti menggodanya.


Dan setelahnya, keadaan pun kembali normal. Murid-murid kelas XI IPS 4 mulai melaksanakan ulangan mingguan dengan sangat hening.


Ya. Saatnya bagi Kenzo untuk beraksi!


"Lex, Lex!" Kenzo menoel punggung Alex yang berada tepat di hadapannya.


Ya. Maksud dari beraksinya saat ini adalah, menyontek ketika ulangan pada si smart Alex.


"Hem." Alex terdengar sedikit berdeham.


"Nomor..." perkataannya tiba-tiba terhenti, ketika Bu Lani yang tadinya sibuk memeriksa sesuatu di laptopnya, berdiri seraya berjalan ke arah mejanya.


Sial!


Kenzo sudah was-was. Cowok itu mulai pura-pura tekun mengerjakan, takut jika Bu Lani akan kembali menergokinya seperti yang pernah terjadi seminggu yang lalu.


"Alex!" Kenzo dan Alex spontan mengangkat wajah mereka bersamaan.


Kirain ke gue!- batin Kenzo, lalu mulai kembali fokus pada selembar kertas ulangan yang sama sekali tidak ia mengerti.


"Iya, Bu!"


"Hari ini kamu disuruh Pak Kepala sekolah untuk ke ruang guru, untuk persiapan lomba olimpiade matematika. Jadi, hari ini ulangan kamu ditunda dulu, ya." Ucap Bu Lani. Seketika membuat seluruh murid-murid kelas XI IPS 4, termasuk gengnya Kenzo, melirik pada Alex dan Bu Lani.


"Yhaa... kunci jawaban kita gak ikutan ulangan, Bro!" Itu suara Juna yang tengah bergosip bersama Haykal yang berada di meja sampingnya.


"Suttt..." Kenzo yang duduknya sebangku dengan Juna, menyenggol lengan cowok itu.


Alex sudah terlihat membereskan kertas, buku dan alat tulis lainnya ke dalam tas sekolahnya. Cowok itu dengan gaya cool, berjalan keluar dari kelas untuk menuju ke ruang guru seperti apa yang dikatakan Bu Lani.


Sebelum cowok itu benar-benar keluar dari kelas, Alex menyempatkan diri untuk mampir sejenak di depan meja yang ditempati Kanza dan Alma.


"Kanza!" Alex memanggil nama Kanza. Gadis itu yang semula sibuk mengerjakan soal ulangan, langsung mengalihkan perhatiannya pada Alex.


"Ya?"


"Besok weekend. Lo ada waktu?" Tanya Alex. Membuat Kanza gugup sekaligus bingung mau menjawab apa.


"Gu-gue? Enggak ada! Kenapa?"


"Enggak." Ujarnya seraya tersenyum misterius, sampai memperlihatkan lesung pipinya yang baru diketahui Kanza, termasuk semua orang.


Dan setelahnya, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, cowok itu melenggang keluar kelas.

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2