
"Bukan salah sambung. Ini gue. Gue kasih waktu selama satu menit, lo harus udah nemuin gue di depan gerbang kampus lo! Itu pun kalau lo gak mau menyesal, jika suatu saat gue pergi tanpa pamit."
Wanda langsung membulatkan kedua bola matanya kala suara seseorang yang teramat ia kenali terdengar sangat jelas dari balik telepon. Tubuhnya mendadak kaku dengan sesekali ia akan menelan ludahnya susah payah. Panggilan suara tersebut benar-benar sanggup mengejutkannya.
Perlahan namun pasti, gadis itu mulai menurunkan ponselnya saat panggilan tersebut telah dimatikan sepihak oleh orang di seberang sana tanpa berniat menunggunya membalas.
Lagi dan lagi, Wanda kembali berusaha menelan ludahnya susah payah. Pikirannya tiba-tiba melayang pada hari di mana ia yang pergi begitu saja ketika Kenzo masih mendapat perawatan di rumah sakit.
Waktu itu, Wanda memilih pergi karena merasa dirinya tidak terlalu dibutuhkan di sisi Kenzo. Hidup cowok itu sudah sangat sempurna dengan memiliki keluarga yang lengkap yang sangat menyayanginya. Lantas, untuk apa Wanda yang hidupnya sangat-sangat tidak sempurna ini masih menempel pada Kenzo?
Wanda menarik napasnya dalam-dalam, kemudian meraih tas punggung yang ia taruh di atas meja perpustakaan. Dengan langkah terburu-buru, gadis itu berlari melewati lorong-lorong kampus menuju gerbang depan universitas.
Belum juga sampai di depan gerbang universitas, Wanda sudah lebih dahulu menghentikan langkah kakinya. Seolah membeku di tempat, kedua kakinya mendadak kaku tak dapat digerakan kala tatapan dingin milik seseorang di seberang sana tertuju padanya.
Lagi dan lagi, Wanda berusaha menelan ludahnya susah payah. Tatapan dingin yang tak lain berasal dari Kenzo sanggup membuatnya terintimidasi.
Ralat. Tatapan cowok itu begitu mengerikan sampai ia pun tak berani bersitatap lebih lama dengan Kenzo.
Tak ingin terus berdiam diri di tempat itu, Wanda pun kembali melanjutkan langkah kakinya sampai ke hadapan Kenzo. Perasaan gugup dan takut semakin mendominasi kala posisi mereka hanya berjarak kurang lebih satu setengah meter.
"Ikut gue."
...****...
Hampir setengah jam lamanya, Chelsea terus mendumel kesal dengan sesekali berdesis pelan menyerukan nama putranya. Wanita yang usianya telah memasuki kepala empat tersebut benar-benar dibuat kesal setengah mati oleh tingkah tengil yang dilakoni putranya.
Bisa-bisanya anak itu menolak panggilan telepon darinya, padahal yang tengah ia rasakan saat ini adalah kekhawatiran.
Percuma Chelsea berpikiran negatif tentang putranya yang mungkin saja diculik oleh orang jahat. Nyatanya, anak itu pasti menghilang dari dalam bangsal rumah sakit karena kabur dan ingin bersenang-senang.
Awas aja kalau nanti dia pulang! Chelsea akan mencabik-cabik anak itu sampai dia sendiri berinisiatif meminta ampun!
"Gimana, Mih? Udah ada kabar soal Kenzo?" Kanza menyahut penuh kekhawatiran. Sedari dirinya mencoba mengirimi pesan pada Kenzo, gadis itu tak mendapatkan apa pun. Tak ada satu pun pesannya yang dibalas, apalagi untuk sekadar dibaca saja.
Chelsea mendengus, kemudian membanting ponselnya ke atas sofa. Membuat Pak Ucup, Alex, Juna, Haykal, Rio, Alma dan juga Azka dibuat berjengit hampir melatah.
"Bodo amat! Biarin aja tuh anak ngilang. Palingan juga kabur," ujar Chelsea, seraya melipat kedua lengannya di depan dada.
Mendengar ucapan yang kelewat judes dari mulut sang mami, sudah diperkirakan bahwa beliau tengah menahan kekesalannya saat ini. Semuanya terlihat dengan cukup jelas dari raut wajahnya yang tidak sekhawatir tadi.
Kanza memilih menghela napas pasrah dengan perhatiannya yang langsung beralih pada Alex. Dan siapa sangka, ternyata cowok itu juga ikut menolehkan kepalanya menatap Kanza.
"Jadi ... jengukin si Kenzo-nya gak jadi?" Pak Ucup menyahut di tengah-tengah suasana yang cukup hening.
Tak ada yang langsung menjawab perkataannya. Semuanya hanya menoleh dengan pandangan bingung, kemudian saling menghela napas.
"Em, gini aja, Pak. Gimana kalau untuk sekarang Bapak sama yang lain kembali ke sekolah dulu. Nanti kalau ada kabar soal Kenzo, saya sama Kanza pasti kabarin lagi, kok,"
"Terus lo, Lex?" sahutan itu berasal dari Juna. Cowok itu beserta teman-temannya yang lain tampak mengerutkan kening. Tak terima jika mereka harus kembali ke sekolah, padahal niat awalnya adalah untuk membolos dengan alasan menjenguk teman yang sedang sakit.
"Gue izin dulu. Gue mau bantuin Kanza sama Tante Chelsea buat nyariin si Kenzo," balas Alex. Tak lama kemudian, teman-temannya pun mengangguk, tak terkecuali Pak Ucup sekali.
"Ya sudah. Bapak sama yang lain kembali ke sekolah dulu," pungkas Pak Ucup, langsung dibalas helaan napas malas oleh murid-muridnya.
...****...
"Jadi, kenapa selama ini lo ngilang? Gue ada salah sama lo?" Kenzo mencoba bertanya selembut mungkin, walau pada kenyataannya, cowok itu tengah menahan amarahnya agar tidak langsung meledak di hadapan Wanda.
Bagaimanapun juga, Wanda adalah perempuan. Perempuan memiliki hati yang rapuh dan mudah terluka. Kenzo tidak ingin menyakiti gadis itu dengan perkataan maupun emosi yang terkesan sesaat.
"Gue—" Wanda tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Seolah rangkaian kata-kata yang telah ia persiapkan dari jauh-jauh hari ketika Kenzo akan bertanya hal yang serupa, tertahan begitu saja.
Kenzo mengeratkan rahangnya dengan kepalan di kedua tangannya yang semakin mengeras. Kesabarannya hampir menipis, namun cowok itu masih diharuskan untuk tetap bersabar.
Kenzo menarik napasnya dalam-dalam, kemudian melangkahkan kakinya lebih dekat ke hadapan Wanda. "Jelasin, sebelum gue pake cara gue sendiri, supaya lo mau bicara sejujurnya,"
Napas gadis itu langsung tercekat dengan kedua bola matanya yang mengerjap beberapa kali. Ucapan dari Kenzo sanggup membuat Wanda semakin terdiam dengan perasaan yang berkecamuk.
Bagaimana ini? Haruskah ia jujur dan mengatakan segalanya?
"Gu-gue—" lagi dan lagi, gadis itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Kerongkorangannya mendadak terasa begitu kering. Perkataannya lagi-lagi tertahan di sana.
Mulai gemas, Kenzo lantas melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arah Wanda. Tatapan matanya semakin menusuk ketika bersitatap dengan gadis itu.
"Wan! Lo tahu, 'kan, kalo gue bukan cowok baik-baik? Bisa, 'kan, lo jangan pancing emosi gue?! Please, ngomong! Apa susahnya jujur sama gue. Gue ada salah sampai lo ngilang gitu aja, iya? Bilang! Gue akan berusaha memperbaiki—"
"Lo gak ada salah apa pun sama gue!" Wanda memekik, sampai memotong ucapan yang belum selesai dilontarkan oleh Kenzo.
Perlahan, tubuh gadis itu mulai sedikit memundurkan langkahnya agar posisinya sedikit lebih jauh dari hadapan Kenzo. Kedua bola matanya pun tampak berkaca-kaca dengan kepalanya yang menunduk dalam. Sesekali gadis itu akan kembali menelan ludahnya susah payah, berharap mulutnya akan dapat diajak bekerja sama kali ini.
Wanda mencoba menarik napasnya dalam-dalam. "Lo gak ada salah apa pun ke gue. Gue cuma gak mau dengan hadirnya gue di kehidupan lo bakal merusak masa depan lo. Hidup lo udah sempurna, sedangkan gue? Lo gak pantes bersanding sama gue! Orangtua gue aja bahkan udah cerai. Dan gue bahkan bukan dari kalangan atas kayak kalian. Apa lo gak malu pacaran sama gue? Lo harusnya pacaran sama orang yang setara, bukan sama gue!"
Kenzo sedikit terkejut mendengar penuturan gadis itu yang jauh dari prediksinya. Kenzo pikir, ia memiliki suatu kesalahan yang bahkan membuat Wanda berpikir dua kali untuk menghubunginya. Atau mungkin gadis itu sudah tidak lagi memiliki perasaan pada Kenzo.
Tapi nyatanya? Apa yang telah dikatakan oleh Wanda barusan, sungguh sangat tidak masuk akal.
"Lo minder?" Pertanyaan Kenzo, membuat Wanda tanpa sadar langsung memalingkan wajahnya.
"Siapa yang udah bilang ke elo, kalau lo gak pantes buat gue?" Perlahan, Kenzo mulai kembali melangkahkan kakinya ke arah Wanda. Tatapan dingin yang sempat tertampang jelas di wajahnya, berganti menjadi tatapan lembut.
Wanda tidak menjawab. Gadis itu malah menunduk dengan sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kenzo mengembuskan napas panjang dengan kedua tangannya yang terangkat menyentuh pundak Wanda. Kedua bola matanya masih belum juga beralih dari raut wajah menyedihkan gadis itu yang masih saja menunduk, belum mau mengangkat wajahnya.
"Denger ini baik-baik," Kenzo menghentikan perkataannya dengan menarik napasnya dalam-dalam. "Gue gak peduli lo seperti apa, latar belakang lo kayak gimana, lo tetaplah lo!"
"Lo tahu? Pas lo bilang, gue gak pantes buat lo, gue ngerasa kek kesalahan gue sama lo tuh banyak. Tapi saat lo bilang, apa gue gak malu pacaran sama lo dan juga gue harus mencari orang yang setara dengan gue, gue langsung sadar. Gue gak ada salah sama lo, tapi justru otak lo yang bermasalah."
Wanda seketika langsung mendongakkan kepalanya, sesaat ucapan paling terakhir yang dilontarkan oleh Kenzo memasuki indera pendengarannya.
Dahinya langsung berkerut dalam dengan bibirnya yang mengerucut kecil. Kedua bola matanya yang membulat dan berkaca-kaca menambah kesan imut pada gadis itu.
Ingin sekali Kenzo mencuri ciuman di bibirnya. Sayangnya, ini bukan waktu yang tepat baginya untuk melakukan hal itu.
"Ekhem. Kenapa? Emang iya, kok. Kalau di dunia ini ada operasi pembersihan pikiran dalam otak, gue pengin bawa lo ke sana, terus operasi. Biar pikiran-pikiran negatif lo setidaknya berkurang." Papar Kenzo, tak membuat Wanda lantas paham.
Kenzo kembali menghela napasnya seraya menganggukkan kepala beberapa kali. "Intinya, hidup gue gak sempurna. Apa yang lo lihat, gak sama dengan apa yang gue rasain. Lo yang bilang bahwa; lo gak pantes buat gue, karena lo gak sama kayak gue, gue bahkan gak peduli. Lo adalah segalanya buat gue setelah Mami sama Kanza. Kalau bukan karena lo, mungkin sekarang gue masih gonta-ganti cewek. Lo itu unik. Cewek paling unik yang baru aja diputusin mantan, bukannya nangis gak terima, lo malah seenak jidat pukulin kepalanya pake sepatu. Dan sialnya, gue jatuh hati sama lo."
"Dan untuk ke depannya, gue harap lo gak akan mengulangi ucapan-ucapan merendahkan diri lo yang kayak barusan. Gue gak suka lo rendahin diri lo sendiri. Cukup kali ini, dan gak ada lain kali." Terang Kenzo, kemudian membawa tubuh Wanda ke dalam pelukannya. Pelukan yang teramat hangat dan lembut yang baru kali ini dapat Wanda rasakan dari seseorang yang bukan keluarganya.
__ADS_1
Tak berselang lama, pelukan Kenzo mulai sedikit melonggar sehingga pada akhirnya pelukan keduanya mulai terlepas. Tatapan pertama Kenzo lagi-lagi tertuju pada sepasang netra milik Wanda yang kini mulai memberanikan diri balik menatapnya.
"Bisa anterin gue balik ke rumah sakit? Kaki gue masih pincang dan jidat gue masih sakit. Dan lebam-lebam di tubuh gue yang lain juga mulai kerasa sakit. Gue bela-belain kabur dari sana demi nemuin lo. Tadi sakitnya belum kerasa, sekarang sakitnya kerasa sakit banget." Kenzo mulai mengeluh semenyedihkan mungkin. Berharap gadis itu akan merasa kasihan sehingga dirinya akan dengan pasrah untuk menemani Kenzo pulang ke rumah sakit.
"Hah?! Serius? Gi-gimana dong? Sakit banget, ya? Gu-gue cari taksi dulu aja, gimana? Lo tunggu di sini, ya,"
Tidak! Bukan ini yang ingin Wanda katakan! Yang ingin ia katakan adalah, kenapa Kenzo tidak meluapkan emosi kekesalannya padanya, dan malah berucap lembut pada Wanda?!
Tetapi, setelah mendengar keluhan kesakitan dari mulut cowok itu, seketika gadis itu lupa akan tujuannya berbicara.
Seulas senyum tipis lantas terbit di wajah Kenzo. Apalagi ketika melihat gadis itu yang waswas karena ulahnya. Ketika Wanda hendak melangkah meninggalkannya, refleks Kenzo langsung menarik pergelangan tangan gadis itu sampai membuatnya sedikit terlonjak.
"Lo mau ke mana? Kita baru aja baikan, dan lo mau pergi ninggalin gue lagi? Really?"
"Gue mau nyari taksi! Katanya lo sakit, gimana, sih?" Wanda berusaha melepas cekalan tangan Kenzo di pergelangan tangannya. Sayangnya, cowok itu malah semakin mengeratkan cekalan tersebut, dan dengan sengaja menarik pergelangan tangan Wanda sampai membuat tubuhnya seketika oleng dan membentur tubuh Kenzo.
Saat gadis itu tersadar akan posisi keduanya yang sangat berdekatan, ia berinisiatif untuk segera menjauhkan diri dari Kenzo. Namun siapa sangka, tangan Kenzo yang lain malah mengunci pergerakan tubuhnya dengan melingkarkan tangannya di pinggang Wanda. Membuat gadis itu seketika melotot dengan sesekali berusaha melepaskan diri dari Kenzo.
"Zo, lo apa-apaan, sih? Lepas, gak? Lo jangan aneh-aneh, ini masih di luar!" Peringat Wanda, namun malah dibalas senyuman miring oleh cowok itu.
"Beruntung gue pilih tempat terpencil yang selalu sepi yang jarang dilewatin sama orang-orang," ujarnya misterius. Sanggup membuat gadis itu dilanda panik dengan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang.
"Zo! Lo jangan macem-macem, ya!" Peringatnya lagi, masih berusaha mencoba terlepas dari belenggu cowok itu. Sayangnya, Kenzo malah semakin mengeratkan pelukannya sampai tubuh kedua hampir tak berjarak.
"Zo!" Panggil Wanda, ketika Kenzo mulai mendekatkan wajahnya.
"Gue kesel sama lo! Lo gak tahu gimana rasanya nahan rindu selama berhari-hari disaat kondisi yang gak bisa apa-apa. Dan dengan jahatnya, lo ngilang tanpa kabar yang pasti. Dan hukuman kali ini termasuk ringan buat lo,"
"Gue-"
Cup!
Satu kecupan mendarat di bibir gadis itu.
...****...
"Mih! Teleponin Kenzo lagi, gih! Siapa tahu sekarang bakal diangkat," Kanza kembali merengek pada sang mami yang masih terlihat bodo amat dengan Kenzo yang menghilang hampir setengah hari.
"Gak mau! Mami sibuk. Kamu aja gih yang teleponin," ujar Chelsea, dibalas dengusan sebal oleh Kanza.
"Gak diangkat, Mih! Coba, deh, Mami yang teleponin. Siapa tahu entar si Kenzo dapet pencerahan, terus teleponnya diangkat. Iya, 'kan?"
"Heh, pencerahan apanya?! Mami jamin, tuh anak gak akan angkat telepon dari siapa pun. Udahlah, kamu ngapain, sih, repot-repot nanyain si Kenzo mulu? Kalau mau nyariin si Kenzo, ya udah, cari sendiri. Jangan gangguin Mami yang lagi ngegame dong," cerocos Chelsea. Dengan pasrah, Kanza pun akhirnya memilih menjauhkan diri dari sang mami yang tengah duduk cantik di atas sofa di dalam bangsal rumah sakit.
"Za!" Alex yang sedari tadi diam dan memerhatikan interaksi sepasang ibu dan anak itu pun pada akhirnya menyahut pelan. Salah satu tangannya dengan refleks menoel lengan Kanza sampai membuat gadis itu seketika menoleh.
"Hm?"
"Tante Chelsea ... sering main game?" Bisiknya, membuat Kanza tanpa sadar terkekeh.
"Baru tahu, ya? Kebiasaan Mami kalau lagi kesel tuh pasti ngelampiasinnya ke game. Dan parahnya, dia kalau main game gak pernah menang! Ujung-ujungnya malah tambah kesel, dan yang bisa nenangin dia cuma Papi, dengan cara, Papi yang harus lanjutin game-nya." Terang Kanza bisik-bisik.
"Oh! Dan satu hal lagi,"
"Apa?" Tanya Alex, seraya sedikit menggeser posisinya ke samping Kanza.
"Karakter game-nya gak boleh diganti. Harus Layla!"
Krik... Krik... Krik... Krik...
Alex dan Kanza spontan terdiam sesaat sebuah suara yang mereka tebak berasal dari ponsel sang mami terdengar hampir bergema di dalam ruangan. Suasana yang sebelumnya cukup hangat pun berubah sedikit canggung.
"Ekhem! Katanya, Tante Chelsea kalau main game gak pernah menang? Tapi barusan kayaknya suara ..." Alex langsung menjeda ucapannya ketika melihat Chelsea perlahan mulai bangkit dari posisi duduknya.
Selang berapa lama, cowok itu tersenyum canggung ke arah Chelsea yang juga dibalas seulas senyum tipis olehnya. Tak berapa lama kemudian, perhatian wanita itu beralih pada putrinya yang juga tampak tersenyum canggung padanya.
"Mami mau pulang dulu. Nanti kalau ada kabar dari si Kenzo, tolong kabarin aja, ya. Papi kamu nyuruh Mami ke kantornya,"
"Eh?! I-iya, Mih! Hati-hati di jalan," balas Kanza, sebelum sang mami benar-benar melengos keluar.
Namun, baru saja Chelsea menarik knop pintu, seseorang yang tak lain adalah Kenzo berdiri dengan posisi sedikit membungkuk tepat di ambang pintu. Raut wajahnya tampak diselimuti perasaan gugup dengan kedua bola matanya yang sesekali mengerjap pelan.
Melihat hal itu, bukan tidak mungkin Chelsea tidak emosi. Kedua tangannya bahkan sudah hampir terkepal kuat, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melayangkan pukulannya pada Kenzo.
"Dasar anak nakal! Kamu-" Chelsea langsung menghentikan ucapannya sesaat netranya tanpa disengaja melirik ke arah seorang gadis yang baru ia sadari tengah berdiri tepat di samping tubuh putranya.
Seketika itu juga, mulutnya langsung bungkam. Perasaan akward telah menghinggapinya.
"Kenzo?! Akhirnya, lo balik juga. Lo habis dari mana, sih?! Lo gak mikirin apa, kalau kita semua di sini nyariin lo?" Itu suara Kanza. Gadis itu cukup peka saat sang mami terdengar hampir berteriak dan mengomel di ambang pintu.
Pikirnya, Kenzo pasti sudah pulang! Siapa lagi yang akan dipanggil anak nakal oleh sang mami kalau bukan dirinya dan juga kembarannya?!
Tapi, kok, rasa-rasanya kek ada yang aneh, ya?
"Lho? Ini ... siapa, Zo?" Tanya Kanza, sesaat ia menyadari bahwa bukan hanya ada Kenzo-lah yang berada di hadapannya saat ini. Melainkan juga ada sesosok gadis yang ia tebak usianya sedikit lebih tua dari dirinya.
"Ekhem! Hai, Za! Kenalin, dia ... pacar gue,"
"Dan, Mih! Ini ... pacar Kenzo."
...****...
"Ooh... Jadi, kamu kabur demi dia... Bagus, ya! Bukannya bilang-bilang dulu, kek, sama Mami! Bikin orang khawatir aja," ucapan Chelsea yang terdengar begitu menyeletuk hampir membuat Wanda yang juga berada di satu ruangan yang sama dengannya semakin dilanda gugup dan takut.
"Kalau bilang-bilang, entar yang ada gak diizinin lagi sama Mami," gerutu Kenzo, setelah sebelumnya cowok itu telah menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir, mengapa dirinya memilih kabur dari bangsal rumah sakit.
Alex menghela napas lelah seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak lama kemudian, cowok itu menoyor kepala Kenzo lumayan pelan sampai membuatnya sedikit meringis.
"Apaan, sih, lo Lex! Sakit, woi!" Sewot Kenzo, merasakan ngilu di area kepalanya yang masih lebam.
"Masih tahu sakit, tapi lo malah berani-beraninya kabur? Kenapa gak sekalian aja gak usah balik lagi?!"
"Noh! Dengerin tuh kata calon mantu Mami! Awas kalau kamu kabur lagi," sela Chelsea, membuat Kenzo serasa sedang dianaktirikan saat itu juga.
"Mih! Sebenarnya anak Mami siapa, sih? Aku, apa Alex?" Tanya Kenzo, menyedihkan. Dengan salah satu tangannya yang ia taruh di depan dada.
"Apaan, sih? Gak usah ngedrama gitu, deh." balas Chelsea, judes. Tak lama kemudian, perhatian wanita setengah baya itu langsung beralih pada Wanda yang masih diam-diam berdiri di samping Kenzo yang berada di atas blankar.
"Oh, ya, Wanda! Kamu beneran pacarnya Kenzo?" Tanyanya penuh selidik. Membuat Wanda yang sedari tadi hanya diam dan memerhatikan, langsung dibuat gelagapan.
__ADS_1
Aduh! Jangan-jangan Tante Chelsea gak suka lagi anaknya pacaran sama gue!? Batinnya berspekulasi.
"Emm. Aku—"
"Kok, kamu mau-mau aja, sih, pacaran sama dia?!" Potong Chelsea. Seketika membuat Wanda yang sebelumnya dilanda kegugupan, langsung dibuat bertanya-tanya.
"Eh?!"
Chelsea menggeleng-gelengkan kepalanya seraya mendengus. "Nih, ya, Tante kasih tahu. Siapa tahu setelah kamu denger ini, kamu jadi berubah pikiran—"
"Mih! Kok, Mami ngomongnya gitu, sih? Emangnya aku punya salah apa lagi sampe bilang, siapa tahu Wanda berubah pikiran? Emangnya aku mantan narapidana, gitu? Enggak, 'kan?" tidak terima dengan hasutan sang mami pada Wanda, Kenzo lantas menyela. Tanpa sadar membuat Wanda terkekeh pelan yang tadinya hanya berdiam-diam di tempatnya.
"Mami gak mau sebutin satu-persatu kesalahan kamu, karena Mami bukan Tuhan. Mami cuma mau bilang sama Wanda, kalau kamu ini mantan cowok playboy kelas kakap! Mami kasihan sama Wanda! Nanti Wanda disakitin lagi, kek mantan-mantan kamu yang sebelumnya," papar Chelsea. Seketika membuat Kanza dan Alex ingin tertawa ngakak, namun masih berusaha mereka sembunyikan dengan baik.
Sedangkan Kenzo, cowok itu dibuat diam tak dapat berkutik. Perkataan sang mami sukses menamparnya sampai ke ulu hatinya yang paling dalam.
"Sadis! Fix, habis ini suruh Papi Kenan nyari istri baru lagi! Mami jahat soalnya. Kek ibu tiri," ujar Kenzo. Spontan langsung dibalas pukulan telak dari sang mami tepat di salah satu lengannya yang masih terdapat luka lebam.
"Sembarangan nyuruh Papi kamu nyari istri baru! Coba aja kalau dia berani. Mami potong anunya!" pungkas Chelsea menggebu. Sanggup membuat Alex, Kanza, dan Wanda, langsung menelan ludah mereka. Tidak dengan Kenzo yang masih betah mengajak bercanda maminya.
"Za!" Alex kembali berbisik di samping Kanza seraya menoel pelan bahu gadis itu.
"Hm?"
"Tante Chelsea ... keren, ya! Keknya Om Kenan tipe suami yang takut istri," bisiknya lagi, yang langsung dibalas anggukan setuju oleh Kanza.
"Emang Papi tipe suami takut istri, kok. Buktinya nih, ya, pas dia lagi dilema antara kesulitan di kantor sama Mami yang tiba-tiba ngambek, dia lebih milih tunda kerjaan dia, dan pulang ke rumah nemuin istrinya. Dan habis itu, pertempuran pun terjadi." papar Kanza, masih berbisik-bisik. Takut jika sewaktu-waktu obrolannya akan diketahui oleh maminya.
"Pertempuran? Berantem maksudnya?"
Kanza terkekeh miris dengan perhatian yang kini beralih pada Alex. Seulas senyum yang tampak begitu dipaksakan terpampang jelas di wajahnya.
"Gue gak percaya lo gak ngerti sama maksud dari ucapan gue, Lex! Secara lo tuh cowok." Ujar Kanza ambigu. Dan saat itu juga, Alex langsung paham dan memilih untuk membungkam mulutnya.
...****...
Satu hari semenjak kejadian di mana Kenzo kabur dari rumah sakit pun berlalu. Hari-hari biasa di sekolah kembali berjalan, namun Kenzo masih belum diizinkan kembali bersekolah oleh Chelsea. Wanita itu keukeuh sekaligus ngeyel bahwa Kenzo gak boleh ke mana-mana. Dan dengan penuh keterpaksaan, cowok itu hanya bisa menurut seperti apa yang dikatakan oleh maminya.
Dan untuk saat ini, Kanza selaku kembaran mutlak dari Kenzo, berusaha kembali untuk mendekatkan dirinya pada Alma dan juga Kayla yang sempat ia jauhi akibat asumsi negatif dari traumanya yang tiba-tiba menghantuinya.
Pada saat itu, Kanza memilih menjauh dikarenakan ia sendiri merasa ketakutan. Gadis itu takut jika sewaktu-waktu Alma dan juga Kayla akan ikut merendahkan dan menjauhinya seperti apa yang pernah ia terima sewaktu dulu.
Dan, alasan mengapa Kanza memilih untuk kembali mendekatkan diri dengan mereka adalah, itu semua karena Alma.
Kemarin ketika anak-anak sekumpulannya Kenzo beserta Pak Ucup yang lebih dulu melenggang pergi, Alma dengan penuh keyakinan menarik Kanza ke suatu tempat yang tak jauh dari bangsal kembarannya.
Raut wajah gadis itu terlihat begitu tulus tanpa sedikit pun menyiratkan suatu kebencian pada Kanza. Dan lagi, ucapan Alma kemarin membuat Kanza tersadar bahwa; sekarang, dirinya tidak lagi sendirian.
"Za! Lo jangan jauh-jauh dari gue sama Kayla lagi, ya! Gue janji, gue gak akan tanya apa pun soal lo waktu itu. Gue juga bakal ngasih tahu Kayla supaya dia gak nanya-nanya hal itu sama lo. Tapi dengan syarat, lo jangan jauhin kita lagi. Kita masih sahabatan, 'kan, Za?"
Kanza mengembuskan napas berat kala sepenggal ucapan Alma kemarin siang kembali melayang di pikirannya. Demi apa pun, Kanza sangat terharu dengan sikap dan perkataan Alma maupun Kayla yang selalu menghormati keputusannya.
Disaat Kanza memilih menjauh dari mereka pun, kedua gadis itu masih memikirkan soal perasaannya. Dan mereka lebih memilih memberikan Kanza waktu untuk sendirian dan merenungkan apa yang menjadi beban pikirannya.
"Za!" Sebuah sahutan diiringi tepukan pelan di salah satu bahunya, membuat Kanza dengan refleks langsung membalikkan tubuhnya ke belakang.
Dan betapa terkejutnya Kanza, bahwa yang baru saja menepuk pundaknya adalah Alma yang ditemani oleh Kayla di sebelahnya. Kedua gadis itu dengan raut wajah antusias menatap Kanza yang masih dilanda gugup.
"Kok, lo sendirian di sini, sih, Za? Lo mau ke kantin? Bareng, yuk!" Kayla yang sebelumnya mengapit lengan Alma, langsung beralih mengapit salah satu lengan Kanza. Begitu pun dengan Alma yang ikut serta mengapit lengan Kanza yang satunya.
"Lo mau pesen apa, Za?" Giliran Alma yang bertanya penuh perasaan antusias pada Kanza.
"Gu-gue—" Kanza sempat terdiam akibat dirinya yang merasa canggung sendiri. Namun tak berlangsung lama karena di detik selanjutnya, gadis itu berusaha menghilangkan kecanggungan yang ia buat sendiri dengan menghela napas seraya tersenyum hangat.
"Samain aja kayak kalian," ujarnya, yang langsung dibalas anggukan setuju oleh Alma dan juga Kayla.
Jadi, beginilah rasanya punya sahabat? Setidaksempurna apa pun kamu, sahabat sejati akan tetap berada di sampingmu, sekalipun kamu sedang tidak memerlukannya.
Kanza dulu tidak pernah bermimpi akan memiliki sahabat sebaik Alma dan juga Kayla. Bahkan ketika ia pertama kali menginjakkan kakinya di SMA Naruna, hal yang terpikirkan olehnya adalah, cara untuk menjauh dari semua orang. Karena sesungguhnya, Kanza tidak ingin terlibat apalagi sampai menimbulkan kembali masalah seperti di sekolah lamanya.
Sudah cukup ia dicap buruk oleh guru-guru dan orangtua murid soal dirinya yang sering bertindak kekerasan pada teman satu sekolah. Padahal yang sebenarnya terjadi ialah, Kanza korban dari mereka yang berusaha membully-nya. Kanza hanya tidak ingin menjadi lemah dan kembali merepotkan Kenzo. Jadi yang dapat dirinya lakukan adalah dengan membalaskan hal yang serupa.
Terlalu asyik mengobrol dan bersenda gurau di sela langkah kaki ketiga gadis itu menuju salah satu meja kantin, ketiganya bahkan sampai tidak sadar telah menabrak tubuh seseorang yang tengah berdiri menyamping sampai hampir terjungkal.
Menyadari bahwa langkah mereka yang ceroboh telah membuat seseorang terluka, Kanza, Kayla maupun Alma spontan menunduk seraya berusaha membantu orang tersebut untuk berdiri.
Namun, ketika orang yang mereka tabrak dengan tidak sengaja tersebut mulai berdiri dan mengangkat wajahnya, seketika itu juga, ketiga gadis itu langsung dibuat terdiam dengan mulutnya yang menganga lebar.
Ralat. Hanya Kanza yang mulutnya masih terkatup ralat.
"Lo ... gak pa-pa?" Tanya Kayla, dengan sepasang bola mata yang belum juga beralih dari orang tersebut.
Dia terkekeh dengan sesekali mencuri pandang ke arah Kanza. "Gue gak pa-pa. Santai aja kali," ujarnya, membuat Alma dan Kayla yang berjiwa barbar hampir terpekik dengan sesekali menggoyangkan tubuh Kanza.
Bukan tanpa alasan kedua gadis itu bersikap demikian. Hanya saja, orang yang barusan tidak sengaja mereka tabrak itu adalah cogan alias cowok ganteng.
Udah mah ganteng, baik lagi. Gimana gak bikin meleyot coba?
Sayangnya, itu tidak berlaku untuk Kanza. Gadis itu malah dengan kaku menatap sepasang bola mata cowok di hadapannya dengan tatapan penuh keraguan dan ketakutan.
"By the way, lo Kanza, 'kan?" Ucapan cowok itu sontak menjadi penyadar Kanza dari apa yang ia lamunkan.
Tanpa menjawab apa pun, gadis itu lantas membuang muka serta memundurkan langkah kakinya agar sedikit berjauhan dengan posisi cowok itu.
Sementara itu, Alma dan Kayla yang tidak menyangka bahwa ternyata, cowok ganteng di hadapan mereka kenal dengan Kanza, langsung dibuat syok dengan sesekali melemparkan pertanyaan pada Kanza seperti,
"Za, lo kenal?"
"Ih, kok, lo gak bilang-bilang sih, kalau lo kenal sama cowok seganteng ini?"
Kanza terkekeh miris dengan sepasang bola matanya yang tiba-tiba berair tanpa ia sadari. Mencoba untuk tetap kuat dan berpegang teguh pada pendiriannya, Kanza kembali menatap sepasang bola mata cowok itu dengan seulas senyuman yang dipaksakan.
"Sorry. Kayaknya lo salah orang, deh. Gue gak kenal sama lo," ujar Kanza, kemudian berusaha menarik lengan kedua sahabatnya agar segera menjauh dari hadapan cowok itu.
Belum sempat ketiganya melenggang, suara sahutan dari cowok itu lagi-lagi membuat Kanza semakin tidak dapat berkata-kata.
"Gak mungkin lo gak kenal sama gue. Secara, gue adalah cinta pertama lo. Vando!"
^^^To be continue....^^^
__ADS_1
Adohhh maafkeun diriku yg telat updatenya kebangetan huwaa😭 aku lupa ngasih tahu kalo akhir² ini aku sering kecapekan, sampai² suka ketiduran, dan berakhir selalu gagal buat ngetik🥲 drama lainnya ya ketiduranlah, baterainya lowbatlah, banyak tugaslah, pokoknya adaaaa aja yg bkin susah😤 dan entah knpa akhir² ini aku gk bisa begadang kek sebelum²nya. Skrng jam 7 malem aja udh ngantuk, tpi untungnya ini aku ngetiknya dadakan sampe jam 1 subuh. Untunggg aja tadi aku sempet tidur beberapa jam. Dan entah knpa tiba² jam stengah 11 aku kebangun, terus inisiatif ngetik deh, sampai akhirnya skrng aku udh update🥰 pokoknya aku minta maafff bgt bgt bgttt sama kalian🙏 kedepannya aku akn tetap berusaha semoga gk ada kejadian di mna baterai lowbat ataupun ketiduran lagi. Kalo soal tugas sekolah ... hmmm, keknya gk bisa dihindari ya🥲 yaodah, segitu dulu untuk chapter kali ini. Semoga dapat memuaskan rasa penasaran kalian akibat aku yg updatenya terlalu sering KELAMAAN🥲 Oke, see you next time😘