
Hampir setengah jam telah berlalu, namun tangis Chelsea selaku seorang ibu masih belum juga mereda. Mendengar berita mengenai putrinya yang diculik pun ia sudah sangat syok dan takut. Apalagi ketika mendengar telepon dari Kenzo yang mengatakan bahwa Kanza baru saja dibawa ke rumah sakit akibat syok karena dirinya yang dengan nekat menyakiti Vando hingga cowok itu pun harus ikut serta dirawat di rumah sakit.
Sampai detik ini pun Kanza masih enggan siuman walaupun dokter sudah mengatakan dengan jelas bahwa gadis itu tidak memiliki sedikit pun luka di tubuhnya.
Hanya saja, dokter tersebut mengatakan kemungkinan jika mental Kanza akan kembali diuji, mengingat kejadian hari ini tak begitu berbeda jauh dengan kejadian lama di mana ia pun pernah diculik, apalagi oleh orang yang sama.
Semua itu sanggup membuat Chelsea dan Kenan, selaku kedua orangtua dilanda panik. Berbagai doa serta harapan agar putri mereka tidak kembali seperti dulu terus mereka panjatkan.
Perlahan namun pasti, Kenzo berusaha bangkit dari posisi duduknya walau kepalanya terasa begitu sakit dan berat. Demi apa pun, ia tidak tega melihat sang mami yang terus menampilkan raut kekhawatiran seperti itu. Hatinya begitu sakit apalagi bulir demi bulir air mata terus berjatuhan dari sana.
“Mih!” Kenzo menyentuh salah satu bahu sang mami sehingga membuat sang empunya lantas menoleh padanya.
“Udah, ya, Mih. Dokter, ‘kan udah bilang kalau Kanza sama sekali gak terluka dan sebentar lagi dia pasti bakal segera siuman. Mami jangan nangis lagi, ya,” ucap Kenzo begitu tulus. Seulas senyuman tipis terbit di wajahnya.
Tak berapa lama kemudian, Chelsea yang semula mencoba untuk terus menahan tangisnya seketika luruh begitu saja di hadapan Kenzo. Detik berikutnya, kedua tangannya perlahan menyentuh wajah Kenzo yang menampilkan beberapa luka memar serta luka sobek yang sebagian dibalut perban.
“Maafin, Mami, ya. Gara-gara Mami yang gagal jagain kalian berdua, kalian jadi kayak gini. Muka ganteng Anak Mami jadi luka-luka begini. Gimana kalau sampai gak sembuh?” lirih Chelsea. Membuat Kenzo lagi-lagi mengulum senyumnya walau kedua sudut bibirnya sedang terluka.
“Kok, jadi salah Mami, sih? Ini semua salah Kenzo yang gak becus jagain kakak kembar sendiri. Maafin Kenzo, ya, Mih. Kenzo janji setelah ini, Kanza gak akan ngalamin hal buruk ini lagi. Cukup ini yang terakhir.” Ujar Kenzo. Lagi-lagi bulir air mata kembali meluncur dari kedua bola mata Chelsea.
Seseorang yang sedari tadi juga berada di ruang yang sama dengan sepasang ibu dan anak itu mendadak menghela napas panjang dengan kepalan tangannya yang terkepal kuat. Tak berapa lama setelahnya, dia mulai memberanikan diri berdiri tepat di hadapan Chelsea dan juga Kenzo.
“Kenapa Alex? Ada-” ucapan Chelsea refleks terhenti, sesaat ketika Alex dengan pasrah bersujud di hadapannya dengan tatapan menyesal yang tertuju ke bawah.
“Ini semua salah saya, Tante. Saya yang mengajak Kanza buat berangkat ke sekolah bareng, tapi karena kelalaian saya sudah membuat Kanza dalam bahaya. Saya pantas disalahkan di sini.” ujarnya, membuat Chelsea tanpa sadar menghela napas.
“Alex!” Panggil Chelsea. Alex malah semakin menyembunyikan wajahnya dengan terus menundukkan kepala. Perasaan bersalah yang teramat serasa terus menggerogotinya.
“Bangun, Nak! Kamu gak salah apa-apa di sini. Justru Tante mau berterimakasih karena kamu sudah mau ikut menyelamatkan Kanza. Kalau gak ada kamu, bisa aja sekarang Kanza lebih dari ini dan Kenzo tidak akan mampu seperti ini. Tanpa kamu, Kanza dan Kenzo mungkin sudah dalam bahaya. Makasih sudah menyelamatkan kedua anak Tante. Tante berhutang sama kamu.”
Suasana mendadak hening selepas Chelsea mengatakan kalimatnya. Beberapa saat kemudian, Kenzo dengan gantle bangkit mendekati Alex yang masih setia dengan posisinya. Sepasang bola matanya menatap Alex dengan tatapan yang sulit dijabarkan.
Sementara Alex sendiri, laki-laki itu hanya terdiam masih menyimpan perasaaan penyesalan.
“Bangun, Lex! Kalau nanti Kanza sampai siuman dan lihat lo lagi kayak gini, dia bakal ngiranya gue lagi nindas lo.” Ujar Kenzo. Salah satu tangannya terulur ke hadapan Alex, sehingga membuat sang empunya refleks menatap ke arah tangan tersebut, kemudian di lanjut pada raut wajah Kenzo yang masih sangat datar.
Melihat Alex yang masih begitu-begitu saja, Kenzo lantas mendengus sebal dengan tangannya tadi yang sempat terulur ia tarik kembali ke tempat semula.
“Lo kenapa, sih, Lex? Ancaman gue waktu di sekolah bikin lo takut sama gue? Ya, elah … Gitu aja baperan lo, ah! Bangun, gak!” Perintahnya yang lebih terdengar seperti sebuah ancaman.
Dengan ragu, Alex pun bangun dari posisinya dengan sesekali menghela napas.
Melihat Alex yang mulai berdiri, seulas senyum tipis lantas terbit di wajah Kenzo. “Gitu dong, kek cowok! Katanya lo mau jadi ipar gue, gimana, sih?” Ledek Kenzo. Tanpa sadar membuat raut wajah Alex berubah sumringah cerah merona.
“Jadi, sekarang lo udah mulai ngerestuin gue, Zo?” Tanya Alex. Saat itu juga, Kenzo langsung bungkam dengan kedua bola matanya yang agak melebar. Sedangkan di sisi lain, Chelsea menggeleng-gelengkan kepalanya melihat interaksi kedua cowok itu yang bisa dikatakan sangat bertolak belakang.
Yang satu diam-diam menghanyutkan, yang satunya lagi bawel-bawel perhatian.
...****...
Aroma asing yang begitu menyengat perlahan mulai menyadarkan seseorang dari alam bawah sadarnya. Suasana bising disertai kepala yang terasa berdenyut pening semakin membuatnya ingin segera membuka kedua bola matanya.
Ketika sepasang netranya tersebut perlahan mulai terbuka, samar-samar ia mendengar sedikit keributan dari arah luar yang seakan tengah membicarakannya. Sayangnya, apa yang ia dengar tak begitu jelas akibat bagian belakang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut sangat sakit.
“Aaghhh!” Refleks ia mengerang, sehingga membuat seorang suster yang kebetulan tengah bertugas ke ruang tersebut menyadari erangannya.
“Mas-nya sudah siuman, ya? Sebentar, ya, saya panggilkan dokter,” ujar sang suster itu tiba-tiba, kemudian kembali melenggang dari sana.
Sedangkan orang itu yang tak lain adalah Vando, perlahan mulai berusaha bangkit dari posisinya, namun berkhir gagal akibat kepalanya yang terus merasakan sakit. Sehingga pada akhirnya, cowok itu memutuskan untuk pasrah dan terus berbaring.
Tak berapa lama kemudian, seseorang masuk ke dalam ruang perawatannya yang kemudian diikuti oleh beberapa orang lain yang juga menerobos ke dalam sana. Namun, ia memilih tak peduli dan memejamkan kedua bola matanya. Pikirnya, itu pasti dokter dan beberapa perawat yang akan memeriksanya.
Sayangnya, apa yang ia asumsikan tak sesuai dengan kenyataan.
“Selamat malam!” Ucapnya formal. Mau tidak mau Vando harus membuka kedua bola matanya untuk mencari tahu siapa yang baru saja menyapanya.
Saat menyadari bahwa orang yang baru saja menyapanya ternyata adalah beberapa anggota polisi, sepasang bola matanya langsung membulat dengan perasaan waswas yang perlahan mulai bersinggah dalam dirinya.
Dengan terburu-buru, Vando mulai memaksakan diri mengganti posisinya menjadi terduduk walaupun kepalanya masih terasa begitu sakit.
Sedikit panik, cowok itu pun menjawab sapaan formal tersebut dengan sekali anggukan kepala.
“Bagaimana keadaan Anda?” Tanyanya. Sedikit membuat Vando kebingungan. Namun tak berapa lama kemudian, cowok itu dengan santai menjawab, “Saya baik-baik aja, Pak, tenang aja. Bapak suruhan Papa saya, ya?” Ujar Vando mulai memberanikan diri menjawab tenang.
Bukannya kembali menjawab, beberapa anggota polisi tersebut mulai saling pandang ke arah masing-masing seakan memberikan sebuah kode untuk melakukan tindakan selanjutnya.
Dan benar saja. Beberapa dari mereka dengan tergesa-gesa mulai mencengkram pergerakan Vando dengan mengunci kedua tangannya di belakang punggungnya. Dengan panik, cowok itu berteriak dengan sesekali memberontak. Sayangnya, akibat tenaganya yang belum benar-benar pulih, ia pun berhasil diringkus dengan sebuah borgol yang mengikat kedua tangannya.
“Lepasin gue! Ini apa-apaan, sih, hah? Lepasin gak? Mau gue aduin ke Bokap gue biar lo semua pada dipecat? Lepas-”
“Maaf, namun ini sudah menjadi tugas dan prosedur kami. Anda dituntut atas penculikan dan penganiayaan. Dimohon untuk menjelaskannya di kantor kami. Dan untuk orangtua Anda, mereka sudah ditahan akibat penggelapan dana dan penyelundupan narkoba. Dan saat ini status mereka adalah tersangka. Mereka sedang diintrogasi oleh pihak yang berwajib. Silakan ikut dengan kami.” Ujar salah satu anggota polisi tersebut panjang lebar.
“Apa? Enggak! Itu gak mungkin! Kalian pasti cuman asal ngomong doang, ‘kan? Kata siapa mereka menggelapkan dana?” Raut wajah cowok itu berubah waswas, apalagi ketika mendengar kedua orangtuanya telah lebih dulu ditangkap menjadi tersangka.
Jika sudah begini, siapa yang akan menolongnya keluar dari masalah yang telah ia buat ini?
Memilih untuk tak berlama-lama lagi, salah satu anggota polisi tersebut mulai mengode rekan-rekannya yang lain untuk membawa paksa Vando ikut bersama mereka.
Sayangnya, menangkap seorang tersangka tak semudah menangkap seekor ikan. Dengan bantuan ahli medis, mereka mulai menyuntikkan obat bius ke dalam cairan infusan Vando, sehingga dalam beberapa puluh detik, pertahanan cowok itu perlahan mulai melemah. Setelahnya, ia mulai kehilangan kesadarannya.
...****...
Hari telah semakin gelap dan Kenzo memutuskan untuk berjalan di sekitar rumah sakit yang tampak tak pernah sepi pengunjung.
Oh, ya, Kenzo baru saja selesai melihat Kanza yang sampai detik ini pun gadis itu masih juga enggan untuk siuman. Entah mengapa hal tersebut sedikit mengingatkannya akan kejadian beberapa tahun silam yang membuat Kanza sedikit memiliki gangguan mental akibat pengalaman kelamnya tersebut.
Jika dikatakan kalau Kenzo takut, ya! Kenzo sangat takut jika hal itu akan kembali membuat Kanza menderita. Sedangkan Kenzo tak ingin kembarannya kembali merasakan hal serupa di mana ia hampir benar-benar putus asa akan hidupnya.
Perlahan namun pasti, cowok itu mulai menghela napas panjang seraya mendongakkan kepalanya menatap langit-langit.
Seandainya Kenzo dapat meminta pada Tuhan, ia hanya ingin Kanza hidup seperti orang-orang pada umumnya. Kenzo tak ingin melihat Kanza terus-menerus menetap dalam ketakutan akibat hidupnya yang jauh dari kata sempurna.
__ADS_1
Tanpa ia sadari, setetes air mata luruh begitu saja dari salah satu pelupuk matanya. Dengan cepat Kenzo segera menghapusnya dengan sesekali terkekeh miris.
“Seandainya gue gak dilahirin ke dunia ini, mungkin hidup lo gak akan kayak gini, Za. Gara-gara gue, semua orang seolah berlomba-lomba buat nyakitin lo padahal lo sedikit pun gak ada salah apa-apa sama mereka.” Kenzo mengepal kuat kepalan tangannya diiringi dengan sepasang bola matanya yang terpejam kuat. Helaan napas dalam lagi-lagi hanya dapat ia embuskan.
“Apa gue pergi aja supaya lo gak ngerasain kesakitan ini lagi?” Lirih Kenzo. Tak lagi dapat menahan air mata yang tiba-tiba menghalangi pandangannya.
Tak ingin terus-menerus berlarut akan kesedihan yang tak berujung, Kenzo memutuskan untuk melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda. Tak sampai tiga langkah, langkah kakinya lagi-lagi terhenti dengan sepasang bola matanya yang menyipit tajam ke depan sana, mengamati seseorang yang tengah berlari seperti orang kesetanan yang sepertinya sedikit ia kenali dari postur tubuh hingga wajahnya.
“Wanda?” Gumam Kenzo. Sepasang bola matanya refleks membulat saking kagetnya ketika menyadari bahwa orang tersebut tak lain ialah Wanda.
Kenapa Wanda bisa tahu kalau dirinya sedang di rumah sakit? Batinnya bertanya. Detik selanjutnya, tanpa aba-aba gadis itu mulai memeluk erat Kenzo dengan bulir-bulir air mata yang berjatuhan membasahi wajah cantiknya.
Sempat merasakan syok sesaat, Kenzo lantas terkekeh pelan seraya balas memeluk Wanda dengan sesekali mengelus pelan puncak kepala gadis itu.
“Kok, bisa tahu kalau gue lagi ada di sini?” Tanya Kenzo lembut. Semakin membuat Wanda enggan melepaskan diri dari cowok itu.
“Gue dapet telepon dari temen lo, terus katanya lo lagi ada di rumah sakit. Dia juga bilang kalau lo habis berantem makanya lo dibawa ke sini. Karena panik takut lo kayak kejadian waktu itu lagi, gue langsung buru-buru ke sini. Dan ternyata emang bener.” Ujar Wanda, seraya mengeratkan pelukannya pada Kenzo.
Tak bertahan lama, gadis itu kemudian buru-buru melepaskan pelukannya. Sedikit membuat Kenzo bertanya-tanya dalam hati atas sikap gadis itu yang ia rasa cepat sekali berubah-ubah. Sebentarnya nangis, sebentarnya khawatir, sebentarnya begini.
“Kenapa? Ada yang-”
“Ini tuh udah malem. Dengan keadaan lo yang kayak gini lo mau ke mana, sih? Bukannya lo pasien?” Wanda menyela panjang dengan sesekali menatap tajam Kenzo. Sedikit membuat cowok itu terintimidasi atas tatapan yang dilayangkan kekasihnya.
“Tapi, gue udah sembuh!” Ujar Kenzo, berusaha membela dirinya sendiri.
“Udah sembuh? Gini dibilang udah sembuh? Balik, gak!” Tekan Wanda, seraya menyentuh pelan permukaan wajah Kenzo yang memar akibat pertarungannya tadi siang. Refleks cowok itu langsung berdesis seraya mengaduh.
Bukannya merasa bersalah, gadis itu malah mendengus puas dengan tatapan matanya yang tajam yang belum juga beralih dari Kenzo. “Gimana? Mau balik atau-”
“Pasiennya bukan gue, Wan!” Ujar Kenzo, menyela perkataan Wanda. Helaan napas lagi-lagi ia embuskan dengan sepasang bola matanya yang sempat terpejam beberapa saat.
Wanda sempat mengernyit bingung, namun ia enggan untuk bertanya.
“Yang dirawat kembaran gue, bukan gue! Gue baru aja keluar dari ruangan dia mau beli makanan buat si Alex. Gue gak tega lihat dia terus-terusan diem nungguin Kanza sadar tanpa mau makan apa-apa.” Terang Kenzo. Sedikit membuat Wanda tersentak akan kenyataan lain yang baru ia ketahui.
“Jadi yang sebenernya dirawat Kanza?” Tanya Wanda, sedikit tak percaya. Kenzo pun mengangguk pelan.
“Tapi kenapa wajah lo yang …”
Perlahan namun pasti, Kenzo meraih salah satu tangan gadis itu ke genggamannya. “Nanti gue ceritain. Sekarang anterin gue beli makanan buat si Alex, sekalian beli juga buat Mami yang sekarang lagi di mesjid. Oke?” Ujarnya. Dengan pasrah, Wanda pun mengangguk sembari balas menautkan tangannya.
“Sekalian beli juga buat lo! Gue gak mau sampai lo ikutan jatuh sakit hanya karena lo lupa makan gara-gara sebuah insiden tak terduga kayak hari ini.”
Sempat terdiam beberapa saat, Kenzo kemudian tersenyum kecil dengan kepalanya yang agak menunduk. “Oke. Gue akan nurut sama apa pun yang lo bilang.” Ujar Kenzo, kemudian mengecup singkat punggung tangan Wanda sampai membuatnya dibuat salting sendiri.
...****...
“Jadi … gitu ceritanya.” Terang Kenzo. Membuat Wanda langsung terdiam membisu dengan sesekali bergidik ngeri.
“Gue gak ngerti deh, sama jalan pikiran Si Vando-Vando yang lo bilang barusan! Segitu terobsesinya dia sama Kanza sampai-sampai dia pake jalan nekat kayak gini supaya Kanza mau nerima dia? Dia punya keterbelakangan mental atau gimana, sih, sebenarnya?” Cerocos Wanda, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya merasa penjelasan dari Kenzo sebelumnya benar-benar tidak masuk akal.
Kenzo menarik napasnya dalam-dalam kemudian mengembuskannya. “Gue juga gak tahu. Padahal dulu pas awal-awal dia mulai kenal sama Kanza, dia beneran sosok yang baik. Dia sering ngajak Kanza bercanda bareng. Ngelindungin Kanza disaat gue gak ada. Tapi yang bikin gue gak habis pikirnya adalah, hanya karena Kanza gak nerima perasaan dia dan cuma nganggap Si Vando gak lebih dari temen, dia terobsesi sampai segitunya. Padahal, dia ‘kan bisa pake cara baik-baik. Kenapa harus kayak gini?”
“Emang ada yang kayak gitu?”
Kini giliran Wanda yang mengalihkan perhatiannya pada Kenzo. “Emm … mungkin?! Bisa aja, ‘kan?” Wanda mengendikkan bahunya merasa kurang yakin dengan perkataannya sendiri.
Melihat sikap Wanda yang terkadang dapat menghiburnya, seulas senyuman tipis lagi-lagi terbit di wajah Kenzo. Salah satu tangannya pun terangkat mengelus lembut puncak kepala gadis itu sampai membuatnya tanpa sadar dibuat mengerang.
“By the way, malem-malem gini, kok, pacar gue belum tidur? Malah nyamperin gue di rumah sakit sambil nangis-nangis. Emang besok gak ngampus?” Tanya Kenzo mengubah topik pembicaraan keduanya. Nada bicara yang diucapkan oleh cowok itu pun terdengar begitu halus, namun entah mengapa rasa-rasanya terdengar seperti tengah mengejek Wanda saat ini.
“Ck! Siapa suruh lo selalu bikin gue khawatir? Denger berita soal lo terluka dari temen lo aja udah bikin gue panik setengah mati.” Ujar Wanda. Raut wajahnya berubah murung dengan bibirnya yang perlahan mulai mengerucut.
“Maaf! Gue selalu bikin lo khawatir, ya.” Tanpa gadis itu duga, Kenzo meraih kembali tangannya untuk ia genggam dengan begitu erat. Selang berapa lama, cowok itu lagi-lagi mengecup punggung tangan Wanda dengan lembut sampai membuat gadis itu dibuat tak dapat berkata-kata.
“Gue janji gak akan bikin lo khawatir lagi.” Lanjut Kenzo. Seketika langsung menyadarkan Wanda dari lamunannya.
Dengan secepat kilat, gadis itu menarik kembali tangannya dari genggaman Kenzo, kemudian berdeham pelan. Perasaan gugup tiba-tiba menghinggapinya tanpa ia sendiri tahu apa penyebabnya.
Karena cowok itu yang selalu bersikap manis secara tiba-tiba?
Ya! Mungkin karena itu.
“Janji aja terus. Gak tahu bakal beneran ditepatin, atau enggak.” Gerutu Wanda, sembari membuang muka dari Kenzo.
“Yeeh, malah ngambek. Mukanya biasa aja dong.” Kenzo mengetuk pelan dahi Wanda sampai membuatnya lantas mengaduh.
Selang berapa lama, cowok itu mulai mengubah posisinya menjadi berdiri. Sesekali ia akan memerhatikan Wanda yang masih setia mendumel mengatainya.
“Dah, sekarang kita pulang. Udah malem, gak baik anak gadis keluyuran di luar. Entar disangkanya cewek nakal, lagi.” Kenzo lagi-lagi berucap seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Wanda.
Sempat tak menjawab dan berniat untuk tak menerima uluran tangan tersebut, Wanda malah berakhir ditarik paksa oleh Kenzo, sehingga pada akhirnya, posisi gadis itu mulai ikut berdiri tepat di hadapan cowok itu.
Raut wajahnya lagi-lagi terlihat suram dengan bibirnya yang semakin mengerucut kesal.
“Udah, dong, jangan manyun mulu. Entar gue cium tahu rasa lo!” Timpal Kenzo. Membuat Wanda spontan mendelik tajam dengan bibirnya yang ia posisikan seperti semula.
Ucapan dari cowok itu benar-benar serasa seperti sebuah ancaman telak yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi.
Menyebalkan!
Ingin membalas, tapi takut salah ucap, sehingga pada akhirnya Wanda memilih bungkam dengan sesekali mendengus sebal. Sangat bertolak belakang dengan hatinya yang saat ini tengah menggerutu kesal akibat perkataan Kenzo.
“Nah, ‘kan, malah bengong! Gue bilang, pulang! Susah banget disuruh pulang sama cowok seganteng gue! Udah, yuk, buruan! Entar Mama Mertua gue nyariin.” Tanpa berbasa-basi, Kenzo menarik kembali salah satu tangan Wanda untuk ia genggam. Perlahan namun pasti, sepasang kaki jenjangnya mulai melangkah meninggalkan tempat yang juga diikuti oleh Wanda.
“Eeh! Lo mau anterin gue pulang? Terus kembaran lo? Makan malam buat temen lo si Alex?”
“Gampang! Kembaran gue masih ada yang jagain, sementara buat makan malam si Alex entaran juga masih sempet. Sedangamkan lo! Lo cewek gue dan itu artinya gue memiliki tanggung jawab buat jagain lo. Udah, sekarang lo nurut!” Cerocos Kenzo. Sanggup membuat Wanda terdiam dengan perhatian yang tertuju pada pundak lebarnya.
Tanpa gadis itu sadari, semburat merah disertai seulas senyuman tipis terbit di wajahnya. Bayangan tentang Kenzo yang walaupun sangat cerewet dan teramat menyebalkan, nyatanya sanggup membuat hatinya berdebar.
__ADS_1
Sebenarnya, siapa yang lebih tua di sini?
...****...
“Alex? Kamu masih di sini? Kenzo mana?” Chelsea menyahut lembut setibanya ia di dalam ruang rawat putrinya. Sepasang bola matanya tampak sedikit syok saat mengetahui bahwa yang tengah menjaga Kanza saat ini adalah Alex dan bukannya Kenzo.
Alex yang dipanggil seperti itu pun lantas menoleh dengan sorot matanya yang terlihat begitu lelah. Sedikit membuat Chelsea selaku ibu kandung Kanza merasa bersalah telah membuat remaja itu ikut menanggung sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan.
“Tante udah selesai?” Alex kemudian bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri Chelsea yang juga tengah berjalan ke arahnya. Atau lebih tepatnya, berjalan menghampiri Kanza yang masih belum juga siuman sampai detik ini.
“Udah. Oh, ya. Kenzo mana?”
“Tadi katanya mau keluar sebentar buat beli makanan. Tapi, sampai sekarang Kenzo masih belum pulang.” Ujar Alex, yang dibalas helaan napas lelah serta anggukan kepala oleh Chelsea.
“Ya udah, gak pa-pa. Mumpung Kanza masih belum siuman, gimana kalau sekarang kita pergi beli makan duluan? Kamu pasti belum makan apa-apa dari siang. Kita pergi cari makan, ya?” Chelsea membalas ramah dengan seulas senyuman kaku yang terpajang di wajahnya.
“Tapi, Tante. Kanza…”
“Kamu tenang aja. Pembantu di rumah kita, Bi Asih udah di sini, cuman katanya barusan mau pergi ke mesjid dulu. Tapi, dia gak bakal lama, kok. Jadi, dia bakal bantu kita buat giliran jagain Kanza. Kamu jangan khawatir, ya. Kanza aman, kok.” Terang Chelsea.
Awalnya, Alex sempat ragu mendengar ucapan dari Chelsea untuk pergi meninggalkan Kanza. Namun, rasanya sedikit tidak sopan jika ia harus menolak, apalagi jika sudah ada orang yang akan membantu menjaga Kanza.
Alex menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengangguk pelan. “Ya udah, Tante.” Balas Alex. Membuat Chelsea tanpa sadar menghela napas lega.
“Kalau gitu kamu ikutin Tante, ya.” Ujar Chelsea, kemudian melenggang memimpin jalan dengan Alex yang berdiri tak jauh di belakangnya.
Sepeninggalan mereka dari sana, Kanza yang sedari tadi berpura-pura belum siuman, akhirnya mulai membuka sepasang bola matanya. Selang berapa lama, air mata dengan cukup deras mengucur dari pelupuk matanya.
“Maaf! Aku masih belum siap menghadapi siapa pun sekarang. Tolong biarin aku kayak gini untuk sementara.” Gumam Kanza dalam tangisnya.
...****...
Malam telah berganti pagi, namun sampai detik ini pun Kanza masih belum juga membuka sepasang bola matanya.
Perasaan harap-harap cemas semakin menggerogoti hati orang-orang yang mencintainya. Sayang, gadis itu seolah tuli walaupun mendengar jerit tangis mereka yang sesekali akan membahas tentang kapan ia akan siuman.
Chelsea mengusap air mata yang lagi-lagi terjun bebas menuruni wajah cantiknya. Melihat putrinya yang masih terkapar lemah tak berdaya, semakin membuat dirinya tidak dapat menahan duka.
Sentuhan hangat tiba-tiba menyentuh salah satu pundaknya. Ketika menoleh, Kenan selaku suami serta ayah dari kedua putra-putrinya menatap sang istri dengan tatapan lembut namun menusuk.
Melihat tampang Kenan yang sepertinya tengah menahan luka demi tidak membuat Chelsea tidak semakin terluka membuatnya semakin menjatuhkan air mata. Kedua tangannya dengan refleks memeluk tubuh gagah sang suami tanpa berniat terlepas dari pelukannya.
"Kanza, Ken... Anak kita kenapa sampai sekarang belum juga siuman? Dokter bilang dia baik-baik aja, 'kan? Tapi kenapa sampai sekarang ...?"
"Suttt... Aku yakin Kanza baik-baik aja. Mungkin dia perlu waktu untuk menghadapi ini semua." Bisik Kenan. Sedikit membuat Chelsea bertanya-tanya akan maksud tersirat dari perkataan suaminya.
"Mak-sudnya?" Perhatian Chelsea kemudian beralih menatap raut tenang putrinya di atas ranjang pasien. Tak berapa lama kemudian, wanita itu mulai melepaskan diri dari pelukan suaminya, dan beralih menggenggang erat kedua tangan Kanza yang terasa dingin.
Perlahan, seulas senyuman getir diiringi air mata lagi-lagi menetes membasahi wajahnya.
"Kanza ... Kamu bangun ya, Nak! Tolong, jangan buat Mami kayak gini. Mami sayang banget sama Kanza. Mami gak akan biarin siapa pun nyakitin kamu lagi. Kalau perlu, kamu gak usah sekolah juga gak pa-pa. Kamu dulu paling gak mau ketemu sama orang luar, 'kan? Mami turutin! Asal kamu bisa sadar dan bilang kalau kamu baik-baik aja. Bangun, ya, Sayang? Mami mohon ..." Chelsea semakin erat menggenggam tangan putrinya hingga bergetar. Air mata serta senyuman kaku itu masih terus terpajang, berharap putrinya akan segera sadar karena tak tega melihatnya terus-menerus bercucuran air mata.
Sayang. Apa yang ia lakukan tetap tak membuahkan hasil. Tangisnya lagi-lagi pecah sehingga ia dengan refleks melampiaskannya pada Kenan dengan memukuli dadanya sesekali.
Sesak. Putri yang telah begitu susah payah ia rawat dan besarkan malah dengan seenak hati dilukai orang lain yang bukan siapa-siapa.
Kenapa? Kenapa harus buah hatinya yang terluka? Kenapa tidak ia saja yang merasakan hal tersebut? Anak-anaknya belum sepenuhnya dewasa. Mereka belum bisa sepenuhnya menerima apa yang terjadi di hidup mereka. Mereka tak sekuat itu untuk menanggung semua luka.
"Ken, Kanza masih belum siuman! Aku harus gimana kalau anak kita masih belum juga bangun? Aku gak mau kehilangan dia! Aku gak mau ditinggal Kanza, aku belum siap!" Pekik Chelsea seraya meronta. Dengan sigap Kenan lantas kembali memeluk tubuh istrinya mencoba untuk menenangkannya.
"Kenapa kamu ngomong gitu? Kanza gak akan ninggalin kita, aku yakin itu. Tunggu sampai mental Kanza siap, aku yakin dia nanti akan siuman dan bilang sama kita kalau dia baik-baik aja, hm?"
...****...
Perlahan namun pasti, Kanza mulai membuka sepasang bola matanya yang terpejam. Dirasa keadaan sekitar mulai sepi, gadis itu memberanikan diri dan melihat sekitar ruangannya yang didominasi berwarna putih. Aroma khas karbon yang cukup menyengat pun mendominasi ruangan tersebut.
Helaan napas lega lantas gadis itu embuskan. Pandangannya yang semula tertuju pada daun pintu yang tertutup rapat kini beralih menatap jendela yang setengah terbuka, menampilkan langit biru cerah yang terpampang jelas di sana.
“Lo udah siuman?” Sahutan dengan nada penuh keterkejutan itu membuat Kanza seketika terperanjat dalam lamunannya.
Ketika ia menoleh, Kenzo dengan tampang khawatir berjalan tergesa-gesa ke arahnya. Di detik selanjutanya, tepat ketika Kanza hendak bersuara, pelukan hangat langsung menimpanya.
“Akhirnya lo sadar juga, Za! Gue, Mami sama Papi, Alex, bahkan kita semua khawatir sama lo. Tapi untungnya lo baik-baik aja.” Kenzo terus menggerutu panjang di sela aktivitasnya memeluk sang kembaran. Tak berapa lama kemudian, cowok itu mulai melepaskan pelukannya dengan perhatian yang beralih pada raut pucat Kanza.
“Lo baik-baik aja, ‘kan? Ada yang sakit? Dia ngapain lo aja waktu itu? Bilang sama gue!” Ujar Kenzo perhatian.
Perlahan demi perlahan, gadis itu memasang seulas senyum getir yang diiringi dengan air mata yang mulai berjatuhan. Sedikit membuat Kenzo panik, namun gelengan kepala pelan dari gadis itu membuat Kenzo bernapas lega.
“Kalo lo baik-baik aja, kenapa lo nangis, hm? Oh, ya. Mau gue panggilin Mami sama Papai? Atau mau
gue panggilin Alex?” Pertanyaan Kenzo spontan dibalas gelengan cepat oleh Kanza. Raut wajahnya pun berubah panik dengan tarikan napasnya yang berubah berat. Tatapan matanya pun berubah cemas dan sedikit berkaca-kaca.
Kenzo sempat terdiam sejenak melihat tingkah Kanza yang demikian. Seingatnya, sedari Kenzo
berbicara panjang lebar dari awal sampai sekarang, gadis itu belum pernah membalasnya. Dia hanya
merespon dengan ekspresi wajah dan gestur tubuh.
Jangan-jangan…
“Ekhem. Za, lo laper? Mau gue ambilin makan?” Kenzo mencoba mengenyahkan pemikiran negatifnya dengan mencari topik lain untuk ia bahas bersama Kanza. Sayangnya, mulut gadis itu begitu terkatup rapat, seolah tak berniat menjawab apa pun.
Hati cowok itu terasa mencelos menyaksikan saudara kembarnya sendiri terluka tak berdaya. Kenangan pahit dulu ketika Kanza tak ingin berbicara kepada semua orang, apakah akan terulang kembali?
Tidak! Itu tidak boleh terjadi!
Jikalaupun ini harus terjadi, maka yang harus Kenzo lakukan adalah berjuang dan terus menemani Kanza seperti dulu, agar gadis itu dapat kembali tersenyum bahkan tertawa lepas seperti Kanza sebelumnya.
Dengan penuh perhatian, Kenzo kembali menarik Kanza ke dalam pelukan hangatnya. Kedua tangannya dengan lembut membelai punggung rapuh sang saudara kembar yang masih saja terdiam membisu.
“Gak pa-pa, Za! Kita pelan-pelan aja, ya? Seperti dulu. Gue janji, gue gak akan pernah ninggalin lo
__ADS_1
sampai kapan pun.” Bisik Kenzo. Tak berapa lama Kemudian, tangis yang selama ini terus disembunyikan, pada akhirnya lolos juga di depan Kenzo.
^^^To be continue...^^^