Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 27


__ADS_3

"Aw! Baru juga pacaran, udah mulai aja kekerasan!" Alex menyengir, walaupun pinggangnya masih terasa sakit akibat cubitan dari Kanza.


"Rasain!" Kanza tersenyum puas, namun raut wajahnya masih memerah, walaupun tidak separah tadi.


"Ekhem. Mau ke kelas?" Sahutan Alex, membuat Kanza yang tengah senyam-senyum sendiri langsung mengalihkan fokusnya pada cowok itu.


"Hah? Ngapain?" Ucap Kanza tanpa ia sadari.


Alex tersenyum menyeringai seraya menatap Kanza yang terlihat salah tingkah ketika ditatap olehnya. "Kenapa? Masih betah di sini, ya? Ya, udah. Kita di sini aja. Sampai bel pulang juga kita di sini aja. Berduaan." Ucap Alex terdengar seperti tengah menggoda Kanza. Tak lupa kedua alisnya di naik-turunkan, membuat Kanza menatap tidak percaya pada cowok itu.


"Ish! Apaan, sih! Berduaan aja sana sama tembok. Gue mau ke kelas, Bye!" Kanza melengos setelah mengutarakan kalimatnya. Sesekali gadis itu terlihat mengulum senyumannya.


Melihat Kanza yang meninggalkannya begitu saja, tentu saja Alex langsung mengejar gadis itu. Senyum manis sedari tadi seolah tak pernah luntur dari wajah Alex.


"Bareng dong! Masa mau masing-masing." Alex mengambil salah satu tangan Kanza. Gadis itu seketika dibuat panas dingin oleh sikap Alex yang tiba-tiba saja menyentuh tangannya.


Demi apa pun, Kanza gugup! Kenapa Alex sekarang jadi main nyosor gitu aja!?


"Eh! Udah mau lewatin kelas!" Kanza berucap khawatir, saat keduanya sudah hampir melewati kelas sepuluh.


Kanza sontak menghentikan langkahnya kemudian hendak melepaskan tangan Alex yang masih setia menggenggam tangannya. Namun, bukannya terlepas, genggaman tangan cowok itu malah semakin kuat sehingga sulit untuk terlepas.


"Lex, lepas! Ini udah mau lewatin kelas! Walaupun ini masih belum jam masuk, beberapa dari mereka pasti masih ada di dalam."


"Terus?" Alex menatap datar gadis di sampingnya. Sontak membuat Kanza menatap cengo cowok itu.


"Ish! Malu tahu kalau dilihatin! Gimana kalau ada duru yang lihat? Emangnya mau distrap?" Kanza mencoba menjelaskan, namun respon cowok itu hanya manggut-manggut dengan ekspresi khas seorang Alex.


"Ya, kan? Lepas, yah! Please... Gue gak mau distrap!" Gue udah terlalu sering soalnya waktu di sekolah lama gue. Lanjut Kanza dalam hati.


"Emm... Kira-kira kalau distrap, hukuman apa aja yang dijalanin?"


"Hah? Kok malah nanyain hukuman? Emang lo mau distrap?" Kanza menatap heran cowok ganteng di sampingnya ini.


Wait! Serius ini Alex? Kenapa sekarang sikapnya jadi begini? Alex gak lagi kesurupan, kan?


"Alex, iihhh! Jangan ngadi-ngadi, deh! Lepas, gak! Gue gak mau distrap! Lo aja sana yang distrap! Gue gak mau!" Kanza masih berjuang untuk terlepas dari genggaman cowok bernama Alex.


Bukannya marah karena Kanza yang terus-terusan mengoceh bawel sedari tadi, Alex malah tersenyum melihat tingkah Kanza yang begitu imut ketika hendak meloloskan tangannya.


Melihat gadis itu yang masih kesusahan, Alex sontak menarik tangan gadis itu sampai membuat Kanza terhuyung dan malah berakhir menubruk dada bidang cowok itu.


Kanza membulatkan kedua bola matanya. Posisinya dengan Alex begitu dekat, sampai kepalanya kini bersandar tepat di dada bidang milik cowok itu.


Saat itu juga, wajah Kanza langsung memerah padam. Degup jantungnya pun mulai berdetak tidak beraturan. Dan semuanya terjadi karena ulah Alex.


"Kayaknya gak ada guru deh, Za! Lo sendiri kan, yang bilang kalau sekarang belum jam masuk kelas?" Perkataan Alex, seakan menjadi penyadar Kanza yang masih berada sangat dekat dengan cowok itu.


Dan dengan sekali dorongan, Kanza sudah menjauh dari Alex. Gadis itu sudah mau meledak dan mengeluarkan unek-uneknya karena Alex yang tiba-tiba saja membuatnya berada dalam situasi menyebalkan tadi.


Namun, belum sempat Kanza mengeluarkan unek-uneknya, cowok itu sudah berhasil membungkam mulut Kanza hanya dengan tatapan matanya yang lembut, dan sentuhan tangannya yang menyentuh telapak tangan Kanza.


"Udah bell. Nanti keburu guru datang. Lari!" Ucap Alex. Setelahnya, cowok itu berlari dengan sebelah tangannya yang masih setia menggenggam tangan Kanza.


Kanza terdiam dalam lamunannya. Tatapan gadis itu tak henti-hentinya terus menatap Alex dari belakang disela ia berlari bersama cowok itu.


Hangat. Rasanya benar-benar hangat. Pertama kalinya dalam hidup Kanza merasakan kehangatan yang diberikan oleh orang lain yang bukan keluarganya.


Lantas senyum gadis itu terbit seketika. Tatapan matanya masih setia menatap Alex yang berada di depannya.


Hari ini, bahkan esok, maupun nanti, gue, Kanza Putri Bravani, gak akan pernah melepas tangan ini sampai kapanpun.


...****...


"Pernahkah kau merasa!" Suara nyanyian Juna yang menggelegar di dalam kelas, terasa begitu menusuk ke dalam telinga siapa saja yang mendengarnya.


Cowok itu bersama teman-temannya yang lain tengah melakukan konser dadakan yang diselenggarakan tepat di atas meja guru yang senantiasa dijadikan sebagai panggung musik mereka.


Juna sebagai vokal, Haykal dan Kenzo sebagai gitaris yang posisinya berada di bawah. Dan sisanya Rio dan Azka, sebagai juri sekaligus komentator.


"Mana suaranyaaa!" Seru Juna. Sebuah gagang pel ia jadikan sebagai sebuah mikrofon.


"Jreng... Jreng... Jreng..." Kenzo membunyikan sapu lidi yang ia jadikan sebagai gitar.


Sedangkan Haykal, cowok itu tampak sok-sok an memainkan gitar bass, padahal yang ia pegang adalah sebuah sapu. Karena sapu yang ia pakai tidak mengeluarkan suara seperti sapu milik Kenzo, Haykal terpaksa memakai mulutnya yang bersuara layaknya gitar bass.


Satu kelas yang didominasi oleh murid perempuan yang sedang pada belajar, merasa terganggu hingga pada akhirnya, sebagian dari mereka memilih keluar kelas.

__ADS_1


Tidak dengan siswa laki-laki di kelas ini yang belum pada masuk ke dalam kelas. Hanya laki-laki dari Gengnya Kenzo yang berada di kelas ini.


"Pararam... Pararam..." Juna kembali menyanyikan lagunya.


Alma dan Kayla yang masih bertahan di bangku mereka mengerang kesal. Tak ayal bahkan Alma hampir melempari mulut Juna dengan buku pelajaran yang tengah ia baca.


"JUNAAAA! LO GILA, YA? WOI, BERHENTI, WOI!" Alma sudah mencak-mencak. Gadis itu tidak tahan dengan nyanyian cowok itu yang selalu dijelek-jelekan. Padahal nyatanya, suaranya Juna itu bagus kalau nyanyinya serius.


"Woi, Kenzo! Lo bisa suruh berhenti anak buah lo itu gak, sih?" Alma memekik seraya mengeluarkan unek-uneknya pada Kenzo.


"Gak bisa! Kita lagi konser, lo mending minggir!" Ucapan Kenzo, spontan mendapat tatapan memelas dari Alma.


Gadis itu hendak melabrak Kenzo, namun segera ditahan oleh Kayla yang datang tiba-tiba untuk mencegah sahabatnya berbuat hal yang mungkin akan merugikan dirinya sendiri.


"Udah, Ma, udah! Sabar! Kita keluar aja, yah! Di sini berisik." Sebisa mungkin Kayla membujuk sahabatnya itu.


Alma menepis Kayla yang masih menahannya. Gadis itu menatap Kayla dengan sorot mengerikan, kemudian di lanjut menatap ke arah Juna yang terlihat jengah dan tidak peduli.


"Heuh! Ya udah, buruan! Bisa gila gue kalau di sini mulu!" Ucap Alma, kemudian melengos yang diikuti oleh Kayla di belakangnya.


"Bener-bener, deh! Mereka udah kagak waras lagi keknya. Konser? Mereka bilang konser?" Alma mendumel kesal seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Cowok pujaan hati lo, tuh! Bilangin, kalau mau konser jangan di atas meja guru! Sekalian aja di Stadion GBK. Terserah mau tereak kek gimana juga! Yang penting jangan di dalem kelas! Berisik!" Raut wajah Alma semakin ditekuk kesal. Ia mengeluarkan seluruh unek-uneknya pada Kayla yang sudah jelas tidak salah apa-apa.


Sedangkan Kayla, ia tidak langsung marah mendengar ocegan Alma. Gadis itu malah tersenyum malu-malu seraya membayangkan betapa seksi dan tampannya Juna ketika berada di atas meja guru tadi.


Ya, walaupun agak sedikit menyebalkan, sih!


"Eh, tadi pas lo marah-marah ke Si Juna, Si Rio ngeliatin lo mulu, tahu, Ma!"


"Ssstttt... Ish, lo kok bawel banget, sih? Nanti kedengeran orangnya gimana?" Alma celingukan ke sana ke mari, berharap tidak ada seorang pun yang mendengar ucapan Kayla barusan.


"Ya elah, barusan juga lo gitu sama gue! Giliran gue aja ngomongin Si Rio, lo nyegah! Padahal lo daritadi ngomongin Si Juna mulu! Di depan gue, lagi! Gak gue cegah, tuh!" Kayla memutar bola matanya sedikit malas.


"Ya, kan, itu beda lagi! Lo, kan, bucin banget sama Si Juna! Gue mah enggak!"


Kayla menghela napasnya cukup panjang. "Sampai kapan lo mau bohongin diri lo sendiri? Lo suka, kan, sama Si Rio? Terus kenapa lo masih nolak dia? Berapa kali lo udah nolak dia?"


Alma terlihat menimbang sejenak. "Emm... Sekali."


"Sekali? Terus yang pertama kali dia bilang suka sama lo, jawaban lo apa?"


"Ya ampun, Ma! Kok, lo jahat banget, sih! Bukannya waktu MOS kelas sepuluh lo ngebet banget pengen kenalan sama Si Rio? Giliran dia nembak lo, malah gak lo terima! Kenapa sih, hah? Jujur coba!" Kayla sudah gemas dengan sikap Alma. Jujur saja, Kayla tidak mengerti mengapa sahabatnya ini bersikap demikian.


Alma mulai menghela napasnya yang cukup panjang. Tatapan kedua matanya berubah sendu dengan wajahnya yang sedikit menunduk.


"Lo gak tahu aja Mama Papa gue kayak gimana. Mereka naruh harapan tinggi sama gue, La. Mereka nyuruh gue untuk fokus sekolah. Gue dilarang pacaran sama siapa pun. Iya, gue suka sama Rio, tapi, Mama sama Papa gak bakal setuju. Masa gue harus pacaran diem-diem? Lo kan tahu, gue paling gak bisa nyembunyiin sedikitpun rahasia."


Mendengar penjelasan Alma, membuat Kayla merasa sedikit kasihan pada gadis itu.


Tetapi, memang benar sih, kedua orang tuanya Alma itu sangat ketat. Apalagi, Alma yang memang adalah anak satu-satunya.


Kedua orang tua Alma bukannya tidak ingin menambah anak. Hanya saja, Alma pernah bilang, kalau ibunya tidak dapat memiliki keturunan lagi setelah melahirkan dirinya.


Jadinya yah, Alma adalah anak kesayangan kedua orang tuanya. Sangat-sangat disayangi bahkan tidak sedikitpun membiarkan gadis itu sendirian di rumah.


Kayla memeluk Alma dari samping mencoba untuk menguatkan sahabatnya itu. "Emm... Lo belum pernah gitu, nyoba minta izin ke mereka?"


Alma menggeleng pelan. "Gue gak berani!" Ucapnya yang diakhiri dengan sebuah cengiran.


"Dasar!" Kayla melepas pelukannya pada Alma seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh, ini sebenarnya—" Alma menghentikan ucapannya, ketika sebuah pemandangan baru yang tidak sengaja ia lihat di depan sana, membuatnya sontak terdiam seraya melebarkan kedua bola matanya.


"I-itu..." Alma menggantungkan ucapannya. Gadis itu dengan terburu-buru menepuk sebelah bahu Kayla, untuk segera melihat, apa yang baru saja ia lihat itu bukanlah sekadar ilusi.


"Apa, sih? Sakit tahu—" kini giliran Kayla yang menggantungkan ucapannya. Kadua bola mata gadis itu pun ikut melebar dengan mulutnya yang terbuka akibat syok ia tutupi menggunakan sebelah tangannya.


"Kanza? Alex? Kalian...?" Alma dan Kayla memekik secara bersamaan.


Ya. Pemandangan baru yang berhasil membuat kedua gadis itu syok berat adalah pemandangan di mana Alex dan Kanza berjalan bergandengan tangan dengan tidak biasa.


Kanza dan Alex menghentikan langkah kaki mereka tepat di hadapan Alma dan Kayla yang masih terlihat sama seperti sebelumnya.


"Kayaknya guru belum dateng. Sekalian, gue juga harus rapat buat pemilihan ulang Wakil Ketua OSIS. Gue tinggal bentar, yah. Kalau ada apa-apa lo tinggal kasih tahu gue aja. Nomor gue ada, kan?" Alex mengucapkan kalimat panjang lebar tanpa mengalihkan fokusnya dari Kanza.


"Ada, kok! Di grup kelas. Ya udah, lo rapat aja, sana!" Ucap Kanza terdengar lembut. Alma dan Kayla masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi di antara Kanza dan Alex. Kedua gadis itu bahkan tidak berkedip menatap ke arah sepasang sejoli yang berada tepat di hadapan mereka.

__ADS_1


"Oke. Gue duluan," Alex mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh kepala Kanza lembut.


Hampir saja Alma dan Kayla menjerit melihat adegan romantis yang dilakoni oleh Alex dan Kanza. Untungnya, kedua gadis itu spontan membekap mulut mereka dengan kedua tangan masing-masing.


Setelah mengucapkan salam perpisahan, Alex langsung melenggang pergi. Meninggalkan Kanza yang sepertinya tidak rela melepas kepergian Alex.


"KANZA!!!" Alma dan Kayla memekik secara bersamaan memanggil nama gadis itu. Lagi.


Mendengar kedua sahabatnya memanggil namanya dengan suara yang cukup keras, membuat Kanza terjengit seraya memejamkan kedua bola matanya.


Perlahan namun pasti, Kanza membalikkan tubuhnya ke hadapan Alma dan Kayla. Raut wajah Kanza sudah terlihat kaku ketika kedua sahabatnya menatap dirinya dengan tatapan menusuk seolah meminta kejelasan.


"Gue..." Kanza menggantungkan ucapannya. Gadis itu bingung harus menjelaskannya dari mana dulu!?


"Itu, gue..." Kanza semakin gugup harus menjelaskan apa! Tatapan kedua sahabatnya ini sukses membuatnya tidak bisa berkata-kata.


"Kita gak butuh yang namanya bertele-tele!" Ucap Kayla tegas.


"Lo sekarang tinggal jawab aja pertanyaan kita!" Perkataan Alma, langsung diangguki Kanza.


Alma dan Kayla mulai menarik napas mereka dalam-dalam. "Apa hubungan lo sama Alex?"


Seberusaha mungkin Kanza menghilangkan kegugupannya dengan berdeham sesekali. "Pacaran!" Ucap Kanza. Kedua matanya refleks terpejam ketika mengatakan kata itu.


Tak lama setelah jawaban Kanza terlontar, Alma dan Kayla sontak heboh dengan berbagai tingkah nyeleneh mereka.


Kedua gadis itu refleks mengguncang-guncang bahu Kanza, membuat sang empunya spontan mengerang.


"Za! Kita gak mau tahu, pokoknya lo harus jelasin dari awal ke kita! Ya, kan, Ma?" Kayla beralih menatap Alma dengan kedua bola matanya yang memelotot.


"Oh, iya dong! Harus!" Balas Alma, tanpa sadar membuat Kanza tertawa sambil geleng-geleng kepala.


"Nanti sepulang sekolah, lo harus ke rumah gue Za! Gue gak mau tahu!" Tekan Alma. Mau tidak mau, Kanza harus nurut dan patuh atas permintaan sahabatnya ini.


"Siap, Kapten!"


^^^To be continue....^^^


Epilog:


"Oke, semuanya! Rapat OSIS sampai di sini dulu. Wakil Ketua OSIS udah ditentuin, dan jadinya itu Tony. Semoga jabatan barunya ini tidak memberatkan dia, dan semoga Tony akan bertanggung jawab seperti bagaimana semestinya." Ucapan penutup dari Alex, langsung disambut tepuk tangan oleh anggota-anggota OSIS yang berada di dalam ruangan tersebut.


Tidak dengan Dayana yang berada di samping tempat duduk Riana. Raut wajah gadis itu berubah dingin, dengan kedua tangannya yang mulai mengepal kuat.


"Kalau gitu, kalian boleh langsung bubar." Ujar Alex.


Seperti yang dikatakan oleh Alex, sang ketua OSIS, seluruh anggota-anggota OSIS mulai membubarkan diri dan bersiap untuk melakukan aktivitas lain di jam istirahat kedua yang waktunya terbilang lebih lama daripada jam istirahat pertama.


"Thank's, udah percaya sama gue, Lex!" Tony menjabat tangan Alex secara jantan. Sedangkan Alex, ia hanya membalasnya dengan tersenyum tipis seraya mengangguk.


"Jangan ngecewain Club OSIS! Gue sama yang lain udah mercayain lo jadi wakil ketua." Ucap Alex, lantas membuat Tony seketika tertawa.


"Kalau gitu, gue duluan, ya!"


"Oke."


"Lex, gue juga duluan, ya!" Riana yang sedari tadi berada di samping Tony mulai bersuara. Sontak disambut senyum tipis serta anggukan kecil dari Alex.


Kini tinggal Alex yang berada di dalam ruangan tersebut yang hanya dikhususkan untuk rapat OSIS. Sebelum benar-benar pergi, Alex memeriksa terlebih dahulu ponselnya untuk berjaga-jaga.


Mungkin saja, kan, ada sebuah pesan dari Kanza?


Namun nyatanya, tidak ada notif apa pun di ponselnya. Seketika, raut wajah Alex berubah murung. "Ck, kenapa gak ngachat gue?"


Mulai bosan, akhirnya Alex memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Setelah ini, ia akan pergi ke ruang guru untuk kembali mempersiapkan diri di olimpiade nanti yang tinggal beberapa minggu lagi.


Dari kejauhan, Dayana menatap punggung Alex yang berjalan memunggunginya dengan tatapan yang begitu menyedihkan. Gadis itu terlihat begitu kacau, apalagi ketika mengetahui bahwa laki-laki yang selama ini ia cintai telah menjadi milik orang lain, dan orang lain itu tak lain adalah Kanza.


Dayana tahu soal hubungan Alex dan Kanza dari beberapa anggota OSIS yang bergosip ketika mereka mulai membubarkan diri.


Ada yang bilang kalau Alex sekarang sudah jadi milik Kanza!


Dan, ada juga yang bilang kalau Kanza terlihat cocok bersama Alex!


Namun, ada juga yang sedih dan tidak rela karena Alex, pujaan hati satu sekolah, kini hanya memilih satu gadis dari sekian banyaknya siswi-siswi cantik di SMA Naruna.


"Awas aja lo, Kanza! Gue akan segera merebut Alex dari lo! Tunggu aja nanti!"

__ADS_1


Sudah update!!!


Hari ini update-nya enggak sepagi kemaren² yak! Kemaren mlem ketiduran adooh, parah sekali:'( tapi tenang aja, ini udah diupdate kok!


__ADS_2