
"Aduhduhduh! Sebenarnya ada apa, sih, Ma? Kok, lo tiba-tiba malah narik tangan gue?" Kanza menatap bingung Alma yang telah menyeretnya secara paksa memasuki ruang kelas mereka.
Alma melepas genggaman tangannya seraya menatap tajam sahabatnya. "Ish! Dasar gak peka! Barusan gue bantuin lo! Gue risi lihat mereka nanya-nanya gak jelas soal kembaran lo itu! Kenapa gak langsung tanya aja ke orangnya? Kenapa malah nanya sama lo?"
Kanza refleks terkekeh geli mendengar berbagai kekesalan yang dilontarkan oleh Alma. Sedangkan Alma, ia malah tampak memanyunkan bibirnya seraya melipat kedua lengannya di depan dada.
"Btw, makasih, ya Almaaaa! Lo emang best friend gue, deh." Kanza mencubit kedua pipi Alma sampai membuat gadis itu refleks meringis.
"Sakit tahu!" Ucapnya. Tak lama kemudian, seorang gadis yang tak lain adalah Kayla memasuki ruang kelas dengan terburu-buru. Sontak membuat Kanza dan Alma langsung mengalihkan perhatiannya pada gadis itu.
"Gila, gila! Gue hampir aja telat, Anjay!" Kayla menghela napas lega setibanya gadis itu mendudukkan diri di atas kursi miliknya.
Kanza dan Alma refleks saling pandang, kemudian berjalan menghampiri Kayla yang terlihat mengipasi area sekitar leher dan wajahnya yang terasa kepanasan.
"Lo telat, La?" Alma menyahut dengan tatapan matanya terpusat pada Kayla.
"Iya, nih. Kemarin malam gue marathon nonton drakor sampe jam 1 malem! Omaygattt, gue lupa kalo besoknya masih harus sekolah!"
"Lo suka nonton drakor?" Tanya Kanza. Raut wajahnya terlihat begitu serius ketika menatap Kayla.
"Eh? Lo gak tahu? Kita berdua ini pecinta drakor, Za! Ya, gak, Ma?" Kayla mengalihkan perhatiannya pada Alma seraya meminta persetujuan dari gadis itu.
"Woo... Pasti, dong!" Balas Alma, kemudian mengangkat salah satu tangannya untuk mengajak Kayla bertos ria.
"Gue juga!" Pekik Kanza. Sontak membuat satu kelas refleks beralih menatapnya.
Tersadar akan dirinya yang berbicara dengan suara lantang, Kanza langsung berdeham seraya berpura-pura tidak terjadi apa pun. Bodo amatlah!
"Eh? M-maksudnya, gue juga suka drakor! Hehee," ucapnya lagi. Sepasang bola matanya refleks terpejam saat tidak ada respon apa pun dari Alma maupun Kayla.
"Serius?" Alma dan Kayla menyahut. Sontak Kanza langsung mengerjapkan kedua bola matanya sesaat ketika sepasang mata kedua gadis itu menatapnya seakan tengah menuntut suatu jawaban.
"I-iya!"
Alma dan Kayla langsung membulatkan kedua bola mata mereka dengan mulut yang menganga tidak percaya. Tak lama kemudian, mereka saling pandang ke arah masing-masing, lalu...
"Aaaa! Akhirnya kita nemu yang satu spesies kayak kita lagi, Ma!"
"Iya, La! Akhirnya kita bisa saling membahas drakor bersama-sama!"
Kedua gadis itu memekik keras seraya mencak-mencak heboh di tempat. Satu kelas yang kini telah dipenuhi oleh para siswa dan siswi yang memasuki ruang kelas, refleks menatap heran ke arah Alma, Kayla, dan juga Kanza.
Tidak dengan gengnya Kenzo yang terkesan bodo amat dan tidak peduli. Mungkin, hanya Rio yang terkekeh kecil melihat tingkah Alma yang terlihat begitu imut di matanya.
"Pokoknya, kapan-kapan kita harus nonton bareng, gue gak mau tahu!" Kayla histeris, membuat Kanza refleks terkekeh.
"Siapa aktor favorit lo?" Alma menatap Kanza dengan penuh semangat.
Kanza tampak berpikir sejenak. "Banyak! Ada Lee Jong Suk, Ji Chang Wook, Song Joong Ki, Kim Bum, Kim Soo Hyun, Cha Eun Woo! Euhh... Siapa lagi, ya? Perasaan masih banyak, deh? Oh! My Papa Muda Lee Dohyun! Ughhh... Gak tahu, ah! Pokoknya banyak!" Balas Kanza ikut bersemangat. Alma dan Kayla yang mendengarnya ikut menjerit bersama gadis itu.
Tanpa Kanza sadari, Alex yang sedari tadi mendengar jelas perkataan Kanza yang menyebutkan 'My Papa Muda Lee Dohyun' langsung dibuat panas dingin. Demi apa pun, apakah tipe cowoknya Kanza adalah seorang om-om?
Lalu, apakah Alex yang gantengnya ngalahin Jaehyun NCT ini kalah begitu saja?
Kesal dengan berbagai asumsi aneh yang ia pikirkan sekaligus otaknya yang terus dibayang-bayangi oleh ucapan penuh semangat dari Kanza yang mengatakan 'My Papa Muda Lee Dohyun', Alex lantas bangkit dari kursinya untuk menghampiri Kanza, padahal laki-laki itu baru saja menduduki kursinya belum ada satu menit.
Setibanya Alex di sekitar Kanza, ia langsung menarik salah satu tangan gadis itu sampai membuatnya berbalik badan seraya menatapnya kaget.
"Gue tanya sama lo. Lo lebih milik aktor kesayangan lo itu, atau gue?" Tanya Alex, seketika membuat Alma dan Kayla, termasuk Kanza yang ditanya, langsung terdiam membisu.
Sial!
"Ish! Apaan, sih, lo! Gak jelas!" Kanza menepis tangan Alex, seraya menjauhkan diri dari laki-laki itu.
Satu kelas langsung hening seketika. Ada yang mengintip apa yang tengah terjadi di antara Kanza dan Alex, ada yang pura-pura tidak lihat padahal tengah menguping, dan ada juga yang memilih tidak peduli.
"Jawab!" Tuntut Alex.
Kanza hanya mampu mendengus kesal seraya menatap sebal laki-laki di hadapannya. "Gue mau pilih siapa pun, terserah gue! Kenapa lo sewot?"
Alma menoel Kanza untuk tidak berbicara sembarangan pada Alex. Bagaimanapun, Alex ini adalah laki-laki. Tidak bisakah gadis itu mengontrol emosinya, padahal yang di depannya ini adalah pacarnya sendiri?
"Za!" Panggil Alma.
"Shttt!" Refleks Kanza mengode sahabatnya untuk diam.
"Gini-gini gue pacar lo!" Balas Alex. Suasana di dalam kelas pun berubah semakin dingin.
Kanza terkekeh. "Oh, ya? Perasaan, gue belum maafin lo, deh?" Kukuhnya. Dan yang bisa Alma dan Kayla lakukan sekarang hanyalah mundur dan mendudukkan diri mereka di atas kursi masing-masing seraya menunduk.
"Lo belum maafin gue? Kok, gitu? Padahal kemaren lo nangis di pelukan gue! Gue kira, gue udah dimaafin." Celetuk Alex. Satu kelas kini refleks langsung menatap kaget ke arah sepasang sejoli itu. Tak terkecuali Kenzo yang mulai tersulut emosi mendengar kembarannya yang habis memeluk Alex.
Sialan! Awas aja lo berani macem-macem sama Kanza! Batin Kenzo. Sepasang bola matanya sudah menyalang tertuju pada punggung Alex dengan deru napasnya yang mulai memburu.
Berbeda halnya dengan Kanza. Gadis itu langsung memejamkan kedua matanya seraya menahan malu akibat ucapan frontal yang keluar dari mulutnya Alex.
Dengan menahan berbagai emosi serta malu, gadis itu menarik paksa tangan Alex, dan membawanya untuk keluar dari dalam kelas untuk merundingkan suatu hal.
Sedangkan laki-laki itu yang ditarik keluar kelas oleh Kanza, mengembangkan senyumnya dengan penuh kepuasan. Ia benar-benar sangat puas dengan apa yang baru saja gadis itu lakukan.
"Lo gila, ya?" Kanza melepas genggaman tangan Alex, ketika ia dan laki-laki itu tiba di luar kelas.
Alex masih terdiam belum menjawab. Laki-laki itu hanya tersenyum tipis, namun tak selang berapa lama, raut wajahnya kembali datar dengan sesekali ia berdeham.
"Siapa suruh lo suka sama orang selain gue?" Alex melipat kedua lengannya dengan santai, membuat Kanza semakin kesal dibuat oleh cowok itu.
"Lo gak bisa bedain, ya, mana suka yang ngefans, sama suka yang real? Gue cuman suka sebatas ngefans doang!" Ungkap Kanza. Refleks Alex langsung menaikan salah satu alisnya seraya menatap datar gadis itu.
"Tapi gue tetep gak suka! Enak aja rasa suka lo dibagi-bagi." Ucapnya. Kanza semakin dibuat gemas oleh laki-laki itu.
"Terserah! Gue kesel sama lo!" Tekan Kanza, seraya melenggang pergi dari hadapan Alex, namun dengan cekatan laki-laki itu langsung menahan pergerakan gadis itu.
Kanza berdecak sebal, dengan fokusnya yang kembali menatap ke arah cowok itu. "Apa lagi, sih?"
"Salah! Harusnya gue yang kesel. Kenapa jadi elo?" Alex menatap heran Kanza, sedangkan gadis itu hanya terkekeh sarkas kemudian menepis tangan Alex yang masih mencengkram pergelangan tangannya.
"Karena gue belum maafin lo!" Ucap gadis itu. Tatapannya berubah dingin dan menusuk ketika bersitatap dengan manik mata Alex.
Alex terdiam. Satu hal yang baru ia ketahui dari sifatnya Kanza adalah, gadis itu sangat sulit menerima maaf seseorang yang telah menyakiti perasaannya.
"Gue harus gimana biar lo maafin gue, hm?" Alex berusaha kembali meraih tangan Kanza, namun gadis itu dengan kukuh kembali menepisnya.
"Gak ada yang perlu lo lakuin. Entar kalau gue udah baikan juga gak bakal marah lagi sama lo!"
"Ya, gak bakal marah laginya itu sampe kapan? Lo mau bikin gue pusing sampe uring-uringan?" Kini giliran Alex yang dibuat gemas oleh Kanza. Pikirnya, apakah saat ini gadis itu benar-benar kesal padanya, atau hanya sedang mengujinya?
"Bodo amat!" Balas Kanza, seraya menjulurkan lidahnya tepat di hadapan Alex. Tak lama setelahnya, gadis itu menaikan salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian kecil.
__ADS_1
Emang enak! Batinnya tertawa.
"Za!" Alex kembali menahan pergerakan gadis itu dengan menghalangi jalan, ketika Kanza hendak berpaling dan meninggalkannya.
Kanza tidak langsung merespon dengan lisan. Gadis itu hanya menatap laki-laki itu datar seraya menunggu kalimat apa yang hendak diucapkannya lagi kali ini.
"Gue—"
"Ekhem!" Suara dehaman yang terdengar cukup keras dari arah lain, spontan membuat Alex dan Kanza seketika menoleh pada sumber suara tersebut.
Diliriknya ke samping, Pak Ucup dengan beberapa buku yang berada di genggamannya, berjalan gontai dengan raut wajah paling mengerikan yang ditujukan ke pada sepasang murid-muridnya yang tak lain adalah Alex dan Kanza.
Sontak saja kedua remaja itu langsung menjauhkan diri dari masing-masing dengan sesekali berdeham dan memejamkan kedua matanya menahan malu yang menggunung.
"Baru saja Bapak mau mengajar ke kelas sebelah, tapi sekarang Bapak malah melihat lagi kalian berdua sedang pacaran! Enggak bosen apa, dari kemaren berantem mulu, hah? Ini adalah lingkungan sekolah! Bukan tempat sembarangan yang bisa kalian jadikan sebagai tempat menyelesaikan masalah bersama pacar kalian!" Pak Ucup tak henti-hentinya terus mengomel di sela langkah kakinya menghampiri Alex dan Kanza.
Setibanya sang guru di hadapan kedua murid didikannya, dengan kesal ia langsung menarik salah satu telinga Alex sampai membuat laki-laki itu refleks mendesis menahan ngilu, namun tidak sampai memekik.
Melihat Pak Ucup menjewer telinga Alex, refleks Kanza membulatkan kedua matanya dengan mulutnya yang meganga lebar. Tak selang berapa lama, Kanza langsung tertawa, namun sebisa mungkin ia menahannya.
Jeweran di telinga Alex tak berlangsung begitu lama Pak Ucup sudah menarik kembali tangannya dari telinga muridnya tersebut.
Dalam hati Alex yang terdalam, ia ingin sekali menjerit sampai memaki habis-habisan atau bahkan mengajak duel orang yang berani menjewer telinganya barusan. Sayangnya, orang tersebut adalah wali kelasnya. Alex gak berani.
"Kamu ini, ya! Jabatannya aja Ketua OSIS! Tapi malah seperti ini. Ini pasti gara-gara kamu keseringan gaul sama Si Kenzo. Iya, kan? Makanya anak baik-baik kayak kamu jadi pembangkan seperti ini?" Pak Ucup kembali mengomel seraya mengeluarkan segala unek-uneknya yang selama ini selalu ia pendam.
Mendengar omelan dari Pak Ucup sampai menyalahkan salah satu sahabatnya membuat raut wajah Alex seketika berubah menjadi masam.
Pikirnya, kenapa setiap apa pun yang terjadi, selalu Kenzo yang dibawa-bawa dan disalahkan? Siapa yang tahu, jika bukan karena Kenzo yang mau berteman dengannya, mungkin Alex yang sekarang tidak akan jadi seperti ini.
"Pak—"
"Kamu, lagi!" Pak Ucup menyela ucapan yang hendak dilontarkan oleh Alex.
Guru berparas bak pemeran antagonis dalam drama film tersebut beralih menatap Kanza yang tengah senyam-senyum sendiri membayangkan hal sebelumnya yang terjadi pada Alex.
Ditunjuk tiba-tiba oleh Pak Ucup, tentu saja membuat Kanza langsung kembali menciut. Tubuhnya pun dengan refleks berdiri tegap seraya menghadap ke arah Pak Ucup.
"Kamu itu anak baru! Bisa-bisanya kamu sudah membuat skandal di sekolah ini?! Pokoknya, saya gak mau tahu, kalian berdua Bapak hukum berdiri sambil hormat pada tiang bendara selama tiga jam pelajaran!" Ujarnya. Setelah mengatakan kalimat kecaman tersebut, beliau langsung melenggang pergi dari hadapan Alex dan Kanza yang dibuat terdiam menahan beribu kekesalan.
"Gara-gara elo, nih!" Kanza melirik tajam Alex yang berada tepat di sampingnya.
"Lo masih mau nyalahin gue? Telinga gue sakit, nih!" Balas Alex, seraya melangkahkan kakinya terlebih dahulu meninggalkan gadis itu.
Melihat Alex yang berjalan mendahuluinya tanpa sedikitpun berkata sekadar basa-basi mengajak untuk turun ke bawah berbarengan, membuat Kanza semakin dibuat gondok oleh cowok itu.
"Dasar cowok nyebelin, gak peka! Bujuk dikit, kek." Dumelnya, seraya ikut melangkahkan kaki melewati beberapa kelas dan menuruni puluhan anak tangga untuk melaksanakan hukuman yang disuruh oleh Pak Ucup.
Berjemur di bawah terik matahari seraya unjuk hormat.
...****...
Pagi hari yang teramat cerah ini, Bianca diharuskan pulang kembali ke rumahnya dengan alasan kurang enak badan. Padahal, beberapa menit sebelumnya ia baru saja tiba di sekolah.
Wajahnya pucat, perutnya terasa sedikit mual dan kepalanya begitu pusing. Ia pun tidak paham kenapa dirinya mengalami hal seperti itu, padahal sebelumnya ia baik-baik saja.
Saat ini, Bianca mencoba mengistirahatkan sejenak dirinya di atas bangku halte bus yang berada tak jauh dari pintu gerbang sekolah berdiri. Gadis itu dengan pasrah menyandarkan tubuhnya ke samping seraya menunggu bus maupun taksi yang mungkin saja akan berlalu sebentar lagi, sehingga ia bisa cepat-cepat pulang ke rumahnya dan berbaring.
Namun, disaat ia sedang tenang-tenangnya menunggu transfortasi yang melintas, seseorang dengan kasar menendang salah satu kakinya dari samping. Entah itu disengaja atau tidak, Bianca refleks menolehkan kepalanya pada seseorang yang baru saja menendang kakinya tersebut.
Gadis itu dengan pakaian kurang bahan yang memperlihatkan sedikit belahan dadanya serta riasan make-up yang cukup tebal, berdiri seraya menatap remeh Bianca yang terlihat lemah.
"Lo mau ngelont*? Pantesan pas guru lagi ngabsen, lo alpa." Bianca dengan cukup berani menatap raut wajah gadis yang tak lain adalah Agnes, seraya tertawa sarkas.
"Kenapa? Syirik? Mending lo urusin aja calon anak lo itu! Awas, entar tahu-tahu dia mati lagi!" Agnes membalas ucapan Bianca tak kalah pedas.
Bahkan saat ini, Bianca sudah mulai tersulut emosi mendengar ucapan dari gadis itu yang seakan tengah menyumpahi dirinya dan juga calon anaknya.
"Gak usah lo nyumpahin calon anak gue!" Bianca berdiri dari posisinya kemudian mendorong bahu Agnes sampai membuatnya sedikit memundurkan langkah kakinya.
Walaupun kepalanya masih terasa sedikit pusing dan tubuhnya yang masih lemas, ia masih bisa sedikit membela diri apalagi yang di hadapannya saat ini adalah orang semacam Agnes.
Agnes terkekeh melihat Bianca yang mulai berubah dari gadis lemah lembut menjadi gadis kasar dan cukup pemarah. Pikirnya, harusnya dari sejak dulu gadis itu bersikap seperti ini. Jadi, akan lebih seru lagi ketika Agnes membully Bianca.
"Oh, ya. By the way, setelah nanti Si Haykal balik, lo mau langsung minta dia nikahin lo, atau..." Bianca mengerutkan keningnya ketika Agnes mulai kembali berbicara, dan dengan sengaja menggantungkan ucapannya.
"Atau apa?"
Agnes menaikkan salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian. "Atau... putus?"
Bianca semakin tidak mengerti dengan perkataan dari Agnes. Gadis itu hanya membalasnya dengan terkekeh malas, kemudian setelahnya ia melenggang meninggalkan Agnes.
Pikir Bianca, lebih baik dirinya mencari alat transfortasi di tempat lain. Jika ia masih berada di satu tempat yang sama dengan Agnes, mungkin saja ia akan kembali tersulut emosi.
"Oh! Katanya Si Haykal bentar lagi balik ke sekolah! Lo udah tahu belum, soal gosipnya?" Agnes berucap setengah berteriak, membuat langkah kaki Bianca langsung berhenti saat itu juga.
Perlahan, Bianca menolehkan kepalanya ke belakang menatap Agnes dengan penuh tanya. Sedangkan Agnes, gadis itu hanya tersenyum penuh arti seraya mengangkat tinggi-tinggi ponsel miliknya.
Seolah paham maksud dari tatapan Bianca padanya, Agnes pun lantas berkata, "Gue tahu karena dia yang ngechat gue kemaren. Katanya, nyokapnya udah hampir sembuh total." Setelah mengatakan itu, gadis berparas cantik namun memiliki hati bak iblis itu pergi melenggang meninggalkan Bianca yang terdiam dengan sejuta pertanyaan yang terbesit di otaknya.
Di sepanjang langkah kakinya yang berlenggak-lenggok, tak henti-hentinya Agnes terus tersenyum puas sambil membayangkan raut wajah Bianca barusan.
Jika bukan karena kemarin ia tidak sengaja menguping pembicaraan Kenzo beserta keempat temannya dan Haykal di telepon, ia tidak akan memiliki bahan untuk mengompori Bianca.
Bagi Agnes, Bianca tidak boleh dan tidak pantas untuk bahagia. Karena ibundanyalah, keluarganya yang hangat penuh cinta hancur begitu saja. Maka dari itu, Agnes akan menghancurkan hidup Bianca, seperti yang telah almarhum ibunda Bianca lakukan pada keluarganya.
...****...
Satu jam sudah Kanza dan Alex berjemur di bawah terik matahari di tengah-tengah lapangan seraya unjuk hormat pada bendera di ujung tiang sana. Sepasang siswa itu tampak mulai kepanasan dengan keringat yang mulai mengucur sampai ke area sekitar leher.
Sepasang tangan dan kaki mereka pun sudah terasa begitu pegal. Untunglah matahari belum barada di puncaknya. Jadi, penderitaan mereka tidak akan terlalu menyiksa, walaupun untuk dua jam ke depan, rasa tersiksa itu mungkin akan semakin terasa.
Keduanya sedari tadi hanya diam dengan perasan dongkol. Mereka berdua ingin saling mengobrol, namun keduanya sedikit gengsi dikarenakan mereka masih saling marahan.
Sehingga pada akhirnya, keduanya memilih bungkam dengan sesekali menghela napas lelah.
Dan saat ini, Alex sudah sangat muak karena sedari tadi ia hanya berdiri diam dan tidak melakukan apa-apa. Mulutnya sudah gatal ingin berbicara pada Kanza.
Sekesal-kesalnya Alex pada gadis itu, ia masih sangat mencintai Kanza. Seperti yang pernah dikatakan oleh Azka, cowok selalu salah di mata cewek! Maka dari itu, cowok harus selalu mengalah agar pandangan cewek pada kita berubah.
Ya. Kira-kira seperti itulah perkataan Azka yang masih terdiang-ngiang di otaknya.
"Ekhem." Alex berdeham, setelah sekian lama ia membungkam mulutnya.
Tatapan matanya yang semula jengah, kini beralih melirik ke arah Kanza yang berada tepat di sampingnya. Berharap gadis itu juga ikut menoleh atau paling tidak hanya sekadar meliriknya.
Sayangnya, gadis itu tetap pada posisinya. Berdiri dengan raut wajah yang hampir seluruhnya memerah padam, dengan sepasang matanya yang mulai menyipit.
__ADS_1
Tidak ingin mengaku kalah begitu saja, Alex mencoba cara lain agar gadis itu mau menoleh padanya.
Dengan menendang kecil sepatu gadis itu, Alex sukses membuatnya sontak menoleh seraya menatapnya dengan kedua alis yang mengerut dalam. Tatapannya pun terlihat agak galak tidak seperti biasanya.
"Ekhem. Kapan lo mau maafin gue?" Tanya Alex to the point, tanpa menatap langsung pada sang lawan bicara.
Kanza terkekeh sinis. "Lo mau gue maafin?"
"Iyalah. Gak enak seharian didiemin sama pacar sendiri." Kanza hanya manggut-manggut di tempat mendengar balasan dari Alex.
Tak lama kemudian, Kanza menaikan salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian. Sebuah ide untuk membalas dendam pada laki-laki itu terbesit di otaknya. "Jajanin gue di mall sepuasnya pas pulang sekolah!"
Alex awalnya sedikit terkejut mendengar ucapan dari Kanza. Namun tak selang berapa lama, ia terkekeh kecil, kemudian menatap sepasang bola mata Kanza yang juga tengah menatapnya. "Gitu doang?"
"Heh. 'Gitu doang' lo bilang? Awas, entar lo nyesel lagi!"
"Cuman jajanin pacar doang di mall mah gampang! Kalo lo mau, habisin sekalian saldo ATM gue!" Ucap Alex dengan bangga.
"Gue kasih tahu sekali lagi, ya. Jangan nyesel!" Kanza kembali mengingatkan laki-laki itu agar dirinya tidak langsung setuju begitu saja dengan usulan darinya.
Tidak tahu saja Alex, bahwa Kanza memiliki niat terselubung dalam setiap kata yang ia ucapkan. Laki-laki itu belum menyadari hal buruk apa yang akan terjadi padanya nanti yang telah direncanakan khusus oleh Kanza.
...****...
Haykal menatap pantulan dirinya di depan kaca sebuah mini market yang bangunannya berada tepat di depan gedung rumah sakit, tempat di mana sang mama tengah di rawat.
Laki-laki itu baru saja membeli beberapa makanan dan camilan untuk adiknya yang tengah menjaga sang mama di ruang rawat inap. Namun, ketika ia hendak pergi meninggalkan mini market tersebut, ia tidak sengaja bercermin di kaca tersebut sampai membuatnya terdiam hingga melamunkan sesuatu.
Bianca.
Nama itu seketika muncul tiba-tiba dalam lamunan singkatnya. Entahlah. Sepertinya Haykal sangat merindukan gadis itu akhir-akhir ini. Ia ingin menanyakan kabar gadis itu, namun ia tidak ingat deretan nomor ponselnya.
Hanya nomor ponsel Alex yang ia hafal. Entahlah. Mungkin karena Alex adalah sahabatnya dari semasa bangku SD dan dialah orang yang paling berjasa di hidupnya. Setiap Haykal ada masalah, selalu ada Alex yang berdiri paling depan dan mensupportnya.
Kenzo, Juna, Azka dan Rio juga sahabatnya. Haykal tidak pernah membeda-bedakan mereka dalam buhungan tali persahabatan. Kalau bukan karena mereka juga yang selalu ada disaat ia sedang membutuhkan sebuah kehangatan, Haykal tidak akan pernah menjadi sosok yang seceria itu.
Haykal menghela napasnya setelah cukup lama laki-laki itu terdiam. Dengan langkah pasti, ia melenggang meninggalkan area mini market tersebut dengan sebuah kantung keresek berukuran sedang ia tenteng di salah satu tangannya.
Sesampainya Haykal di rumah sakit, tepatnya di salah satu ruang rawat inap VVIP yang menjadi tempat dirawatnya sang mama, ia dengan hati-hati mendorong pintu tersebut membuat beberapa orang yang berada di dalam sana sontak mengalihkan perhatiannya pada ambang pintu masuk tersebut.
"Kak! Kok, Kakak lama banget, sih, ke mini marketnya?" Zidan yang tengah duduk di samping blankar yang digunakan sang mama, langsung bangkit seraya berlari ke arah Haykal.
"Macet." Haykal membalas ngasal seraya memberikan kantung keresek berisi beberapa makanan dan camilan tersebut pada adiknya.
"Ya, kali macet. Orang, tempatnya deket gitu." Zidan mendumel dengan sebelah tangannya yang menjelajah mencari sesuatu yang sebelumnya telah ia pesankan pada sang kakak.
"Gimana kata Dokter?" Haykal berjalan ke arah Maya, sang mama yang tengah terduduk di atas blankar. Raut wajahnya sudah tidak seperti kemarin-kemarin. Beberapa luka lebam dan luka goresan perlahan mulai sembuh.
"Kata Dokter, sore ini Mama bisa langsung pulang. Oh, ya. Setelah Mama pulang, kamu mau, kan, tinggal beberapa hari lagi sama Mama?" Maya meraih tangan putranya seraya menggenggamnya cukup kuat.
Merasa kurang nyaman ketika sang mama yang tiba-tiba menggenggam tangannya, Haykal lantas menarik kembali tangannya, membuat Maya seketika merasa tertohok.
Sebegitu bencinya kah, Haykal sama aku? Batinnya bertanya.
"Aku gak bisa. Aku masih harus ke sekolah. Udah lama juga Aku izin." Balasan Haykal, mendapat anggukan kecil dari Maya.
Maya tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Yang bisa ia lakukan hanyalah menunduk seraya tersenyum kecut.
Mungkin, ini adalah balasan dari Tuhan, karena dirinya yang telah begitu tega menelantarkan anaknya sampai ia tidak menyukai kehadiran ibu kandungnya sendiri.
Beberapa tahun silam, Maya terlalu egois hanya untuk bisa terlepas dari jeratan mantan suaminya. Ia melakukan hal tersebut karena ia sudah tidak tahan lagi akan sikap kasarnya. Ditambah lagi, keduanya menikah karena sebuah perjodohan yang dibuat oleh kedua orang tua agar dapat memajukan bisnis satu sama lain.
Ya. Anggap saja itu pernikahan bisnis.
Maya dan sang mantan suami, Juan, waktu itu bersepakat hanya akan menikah sampai usia dua tahun pernikahan. Namun siapa sangka, kedua orang tua mereka menuntut Maya dan juga Juan untuk memiliki anak.
Waktu itu, Maya tidak dapat mengelak dan memilih untuk menuruti semua perkataan orang tuanya. Termasuk Juan yang juga tidak dapat membantah karena selalu diancam sana-sini oleh sang ayah.
Sampai pada akhirnya, Maya melahirkan buah hati pertama bersama Juan yang ia beri nama Reynaldi Adiwangsa Pratama. Beberapa tahun kemudian, kedua orang tua mereka kembali memaksa Maya dan juga Juan untuk menambah anak dengan alasan menambah keturunan Keluarga Adiwangsa.
Sehingga pada akhirnya, Maya kembali melahirkan seorang anak laki-laki yang ia beri nama Haykal. Dan beberapa tahun setelah kelahiran putra keduanya, Zidan pun lahir ke dunia sebagai putra bungsu.
Kepuasan kedua orang tua Maya dan juga Juan akhirnya terpenuhi. Namun, pernikahan keduanya langsung berakhir ketika putra sulung mereka, Reynaldi menginjak usia 18 tahun, Haykal menginjak usia 10 tahun, dan Zidan yang baru menginjak usia 4 tahun.
Semuanya berakhir karena Maya yang terus meminta untuk diceraikan. Ia sudah tidak sanggup lagi dengan pernikahan kaku yang lebih seperti alat yang diciptakan oleh kedua orang tuanya untuk berbisnis dan memperbanyak keturunan.
Pernikahan yang waktu itu seharusnya hanya berusia dua tahun, menjadi belasan tahun, bahkan sampai memiliki tiga orang anak.
Semenjak saat di mana Maya terus meminta cerai, Juan pun pada akhirnya memilih pasrah dan melepaskan Maya.
Hak asuh Reynaldi dan Haykal jatuh ke tangan Juan, sedangkan hak asuh Zidan jatuh ke tangan Maya.
Mengingat kembali memori masa lalunya yang suram, membuat Maya tanpa sadar menitikan air matanya. Namun, tak selang berapa lama, wanita setengah baya itu langsung mengusapnya cepat agar tidak diketahui oleh anak-anaknya.
Maya mulai mendongakkan kepalanya menatap Haykal yang tengah membalikan tubuhnya berniat untuk menghampiri Zidan yang tengah berbaring di sofa.
Dengan berbagai keberanian yang ia miliki, Maya berucap, "Tolong berikan satu kesempatan lagi untuk Mama memperbaiki diri, Haykal! Mama janji gak akan ninggalin kamu lagi. Mama akan selalu ada buat kamu!"
Mendengar perkataan yang terucap dari mulut sang mama, refleks Haykal langsung menghentikan langkah kakinya dengan sepasang bola matanya yang sedikit melebar. Kedua tangannya pun dengan refleks terkepal kuat menahan emosi yang tiba-tiba saja bergejolak di dalam hatinya.
Kesempatan. Satu kata yang sangat sulit diberikan kepada seseorang yang telah begitu dalam melukai hidupnya. Contohnya, Maya. Ibu kandungnya sendiri.
^^^To be continue....^^^
Spoiler>>>
Bianca menghentikan langkah kakinya ketika seseorang yang telah lama tidak ada kabar berdiri tepat di hadapannya.
Raut wajahnya tampak tersenyum tipis ketika menatapnya. Namun sedikitpun Bianca tidak merasa senang karena kedatangan laki-laki itu.
Laki-laki yang sudah membuat dirinya begitu takut akan ditinggalkan karena tidak pernah menerima sedikitpun kabar darinya, yang tak lain adalah Haykal.
"Gue kangen sama lo." Ucap Haykal. Membuat Bianca seketika naik darah.
Plak!
Satu tamparan gadis itu layangkan tepat di wajah Haykal. Deru napasnya pun tampak memburu dengan kedua bola matanya yang mulai berkaca-kaca.
Ditampar tiba-tiba tanpa alasan seperti itu jelas membuat Haykal bingung. Dengan sedikit berhati-hati ia bertanya, "kenapa lo nampar gue?"
Baru update, maaf!
Sbgai permintaan maaf aku tambahin jdi 4000 kata lebih🙏 sebelumnya waktu hari minggu kmaren aku udh ngasih pengumuman di komenan eps sblumnya. Aku gk bisa update karena suatu alasan, bkn karena aku gk mau. Dan ini buktinya ya, jgn lupa lihat baik² tgl nya:)
Niatnya mau hari senin update, tpi malah hari senin malem baru selesai ngetik:( sekolah tiba² aja ngasih pengumuman mau mulai sekolah online lgi. Mana ngasih pengumumannya mendadak lagi😭 kan kesel, plus endingnya pengen memaki gitu loh🤣 dan pada akhirnya aku gk ikutan ngezoom gaes karena hp aku msh dicarger, apk zoom belum instal ulang, dan ram hp yg penuh kelebihan drakor😤 ini curhat sekaligus kenyataan. maaf bgt🙏🙏🙏 untuk kedepannya akan lebih diusahakn updatenya tidk lebih dari 3-4 hari (kalo gk lgi bnyk kerjaan ya). sekali lgi aku minta maaf🙏🙏🙏
__ADS_1