
"Jauhi anak saya!"
Alex menjenggut rambutnya kala ucapan dari papinya Kanza, Kenan, terus terngiang-ngiang di kepalanya.
Entahlah. Rasanya, ini tidak adil bagi Alex. Ia tidak salah apa-apa, namun Kenan tiba-tiba saja melarangnya untuk menjauhi putrinya, Kanza.
Selepas kepergian Kanza, Kenan langsung berjalan mendekati Alex seraya menatap remaja itu dengan tatapan datarnya.
Melihat Kenan, papinya Kanza, berjalan ke arahnya, sebisa mungkin Alex untuk tersenyum seraya menyapa ramah pria setengah baya tersebut.
"Om!" Panggil Alex seramah mungkin. Namun yang ia dapatkan malah tatapan tajam dari Kenan yang membuatnya seketika bertanya-tanya, apa maksud dari tatapannya itu!?
"Jauhi anak saya!" Ucapan Kenan yang tiba-tiba, sontak membuat Alex langsung mengerutkan keningnya seraya sedikit melebarkan kedua bola matanya.
Selepas mengatakan hal itu, Kenan langsung berbalik tanpa memedulikan Alex. Namun, bukan Alex namanya kalau tidak mencari tahu sedalam-dalamnya makna dari perkataan pria itu padanya.
Dengan berani, Alex berkata, "Saya gak bisa!" Refleks membuat Kenan langsung menghentikan langkah kakinya seraya membalikkan tubuhnya. Tatapan matanya pun berubah semakin dingin dan sengit.
Namun sedikitpun, Alex tidak merasa gentar akan ditatap seperti itu oleh seseorang yang usianya berpaut cukup jauh darinya. Justru, Alex balas menatap Kenan dengan tatapan dinginnya yang sudah khas mendarah daging.
Kenan terkekeh sinis, kemudian melangkahkan kakinya ke hadapan Alex, lalu menepuk pelan bahu remaja itu dengan tatapan matanya yang masih fokus pada sepasang bola mata milik Alex.
"Saya gak tahu apa saja yang sudah direncanakan sama Papa Kamu, Si Geo itu! Yang jelas, saya tidak akan pernah melibatkan Kanza dalam bisnis yang tidak ada sangkut pautnya dengan putri saya." Ucapan dengan nada rendah yang dikeluarkan oleh Kenan, seketika membuat otak Alex langsung berpikir.
Bisnis?
"Maksud Om?" Pertanyaan polos dari Alex, membuat Kenan lagi-lagi terkekeh sinis seraya memundurkan posisinya.
"Saya kira kamu tahu soal ini. Ternyata, kamu memang tidak tahu apa-apa." Alex masih berusaha mencerna ucapan Kenan, namun otaknya lagi-lagi tidak dapat diajak berpikiran jernih.
Kenan mengembuskan napasnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dulu, dari waktu kalian masih kecil, Papa kamu ngeyel pengen jodohin kamu sama Kanza, anak saya. Dan kamu ingin tahu apa alasannya? Dia ingin memperluas bisnisnya sendiri dengan menggabungkan kedua perusahaan." Kenan menjeda sejenak perkataannya dengan menarik napasnya dalam-dalam.
"Dan, jawaban saya waktu itu adalah, tidak! Sebisa mungkin saya menolak permintaan Geo, karena saya tidak ingin masa depan Kanza suram hanya karena perjodohan yang disiapkan oleh orang tuanya. Saya saja menikahi istri saya bukan karena perjodohan? Walaupun pada akhirnya kami mengetahui kalau masing-masing yang dulunya akan dijodohkan dengan kami adalah diri kami sendiri." Kenan tersenyum samar ketika mengingat momen belasan tahun yang lalu yang membuatnya selalu berpikir, inilah takdir.
Tak berapa lama ketika ia memikirkan memori masa lalunya, pria itu lantas mulai mengenyahkan lamunannya, lalu kembali pada topik awal.
"Dan yang paling inti dari semua yang saya sebutkan tadi adalah, saya tidak ingin jika suatu saat Kanza harus berada di lingkungan keras seperti di keluarga kalian. Jangan kira saya tidak tahu seperti apa Geo ketika mendidik anaknya sendiri!" Tatapan mata Kenan berubah semakin dingin sesaat ketika mengingat kembali seperti apa suasana di kediaman Keluarga Adhitama, Keluarga Besar Geovano Erza Adhitama, papanya Alex.
"Itu yang lebih saya khawatirkan! Soal menyatukan kekuatan bisnis, itu tidak terlalu penting. Bagi saya, kebahagiaan anak saya adalah yang paling utama!" Balasan lain dari Kenan, membuat Alex semakin dibuat terdiam.
Benar! Keluarganya begitu mengerikan. Ada papanya yang selalu bertindak seenaknya dan selalu menginginkan segala hal yang sempurna agar bisa terus ia banggakan pada orang lain. Juga ada mamanya yang terkadang seolah kurang peduli dengan hidupnya.
Seolah dalam kamus besar di hidup sang mama, Alex harus selalu mematuhi perintah Geo, walaupun ia sendiri tidak menyukainya.
"Sekarang sudah paham, kan?" Ucapan Kenan, lagi-lagi membuat Alex hanya bisa terdiam.
Namun, ketika Kenan baru saja membalikkan tubuhnya, suara Alex yang cukup lantang mampu membuatnya seketika kembali menghentikan langkah kakinya.
"Tolong kasih saya kesempatan, Om! Saya gak bisa pergi ninggalin Kanza! Saya sayang dan cinta sama Kanza! Kalau itu soal keluarga saya, saya akan berusaha melindungi Kanza agar dia tidak merasakan semua hal yang Om takutkan." Deru napas Alex langsung memburu setelah ia mengatakan beberapa kalimat tersebut.
Mendengar hal itu, tak sedikitpun membuat Kenan lantas membalikkan tubuhnya kembali menghadap Alex. Pria itu malah dengan sinis melirik Alex seraya berkata, "Kamu masih kecil. Tahu apa soal percintaan?"
Dan setelahnya, Kenan langsung melengos memasuki kediaman rumahnya, tanpa sedikitpun membiarkan Alex untuk kembali mengutarakan ucapannya.
Alex berdesis ketika memori kemarin sore kembali terputar secara otomatis di otaknya. Karena terlalu kesal, laki-laki itu sampai melampiaskan kekesalannya dengan memencet keras-keras klakson mobilnya, membuat seseorang yang baru saja hendak membuka pintu mobil tersebut, langsung terjengit seraya memegangi dadanya.
"Sorry! Lama banget, ya?" Suara lembut yang lebih terkesan seperti tengah merasa bersalah, refleks membuat Alex langsung mengalihkan perhatiannya seraya mengerjap beberapa saat.
"Eh! Za! Udah?" Alex dengan canggung menatap seorang gadis yang kini tengah duduk di sebelahnya yang tak lain adalah Kanza.
Di pagi hari yang cerah ini, Alex sengaja datang menjemput gadis itu agar bisa pergi ke sekolah bersama-sama.
Ya. Seperti yang sudah mereka rencanakan dari kemarin malam ketika keduanya sedang asyik chattingan.
"Em... Mau berangkat sekarang?" Sahutan hati-hati dari Alex, sontak menyadarkan Kanza yang hampir saja kembali terpesona oleh wajah tampan milik Alex.
Kanza berdeham sesekali, kemudian meraih tas sekolahnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Melihat hal itu, Alex hanya bisa terdiam seraya berpikir dalam otak kecilnya, apa yang tengah dicari oleh Kanza?!
"Nih! Kemarin harusnya gue kasihin ke elo, tapi gue lupa!" Kanza menyodorkan sebuah benda kecil yang Alex tebak adalah sebuah gantungan kunci.
Tapi, kok...?
Kek, ada yang aneh, deh?
"Kok, buaya, sih?" Alex mengambil gantungan kunci tersebut dari Kanza, seraya menatapnya dengan tatapan horor.
"Ini beneran buat gue? Bukan buat Si Kenzo?" Alex menaikkan salah satu alisnya sembari menatap gadis itu dengan sorot meminta penjelasan.
Kanza mendengus. Raut wajahnya pun langsung berubah datar ketika Alex mulai mengomentari pemberiannya.
Bukannya bersyukur, juga!
"Kenapa emangnya?" Kanza menatap Alex sengit.
"Ya, kan, gue bukan buaya!"
"Siapa juga yang bilang elo buaya!? Lo manusia!"
"Bukan itu maksud gue!" Alex gemas.
"Terus apa?"
"Masa lo gak tahu, sih? Buaya melambangkan apaan?"
"Apaan? Cowok buaya maksud lo? Tapi ini cocok buat lo! Lihat, deh! Di mata gue, lo tuh buaya! Nyebelin soalnya. Hahaha!" Kanza tertawa selepas mengatakan hal itu. Berbeda halnya dengan Alex yang tampak malas, apalagi ketika gadis itu mengatakan bahwa di matanya, Alex seperti cowok buaya!
Berengsek dong gue?
"Ekhem. Jangan jutek gitu, ah. Nih! Biar adil, gue juga punya! Tapi bukan buaya." Ketika Kanza mengeluarkan sebuah gantungan kunci lain dari dalam tasnya, perhatian Alex yang sebelumnya hendak menghidupkan mesin mobilnya, langsung beralih pada Kanza.
"Lucu, kan?" Kanza memamerkan gantungan kunci tersebut tepat di hadapan Alex.
Tak selang berapa lama ketika ia telah melihat dengan jelas seperti apa gantungan kunci milik gadis itu, Alex lantas tertawa ngakak seraya merebut gantungan kunci tersebut dan mulai menelitinya.
"Yha... Rubah betina!" Alex berucap spontan, membuat Kanza langsung mendelik kemudian merebut kembali gantungan kunci tersebut kembali ke tangannya.
"Sembarangan, rubah betina! Lucu tahu!" Kanza merengut kesal, namun Alex malah semakin menggelakan tawanya.
"Iya, lucu. Kayak lo, rubah betina!" Perkaan Alex, sontak membuat Kanza langsung melirik tajam laki-laki itu.
"Lo ngatain gue rubah betina?" Dengan santai, Alex membalas, "Kapan gue bilang gitu?"
__ADS_1
"Barusan lo ngatain gue!" Kanza memekik. Tidak dengan Alex yang hanya terkikik geli disela laki-laki itu mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman luas depan gerbang rumah kediaman Kanza.
"Tadi juga lo ngatain gue buaya! So, kita impas." Balasan Alex, hanya ditanggapi decakan sebal oleh Kanza.
Tak lama setelahnya, suasana di antara mereka pun langsung hening. Alex dengan otak kecilnya yang kembali memikirkan soal ucapan Kenan kemarin sore, sedangkan Kanza yang tengah dibuat kesal setengah mati oleh Alex.
Dalan hatinya yang terdalam, Kanza berharap Alex akan meminta maaf atau bahkan sekadar membujuknya. Sayangnya, cowok itu malah diam seperti seseorang yang tidak merasa bersalah sedikitpun.
Ya, walaupun ini terjadi gara-gara Kanza juga, sih. Harusnya kemarin waktu di mall ia membeli yang harimau dan kelinci saja. Bukannya buaya dan rubah.
Terlalu larut dalam pikiran masing-masing, keduanya sampai tidak sadar telah memasuki area parkiran sekolah yang terbilang masih cukup sepi.
"Za!" Suara sahutan dari Alex, refleks membuat gadis itu langsung terjengit kaget, kemudian beralih meliriknya.
"Ya?"
"Udah sampe." Ucapan Alex, langsung dibalas 'oh' oleh Kanza, dan dengan terburu-buru gadis itu mulai melepas ikatan seatbeltnya, kemudian keluar dari dalam mobil tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Melihat hal itu, Alex hanya mampu menggelengkan kepalanya seraya terkekeh. Ketika laki-laki itu mulai keluar dari dalam mobil, tatapan matanya tak langsung tertuju pada Kanza. Ia malah menjatuhkan tatapannya pada Kenzo yang tampak lesu tengah duduk di dalam mobilnya yang atapnya sengaja dibuka.
"Lex, gue mau duluan ke kelas, ya? Gue mau piket soalnya." Sahutan Kanza, spontan membuat Alex langsung menoleh. Dengan berat hati, ia pun mulai membiarkan Kanza pergi terlebih dahulu tanpa menunggunya.
"Ya, udah. Gue juga mau nyamperin Si Kenzo. Tuh!" Alex menunjuk Kenzo yang berada tepat di samping mobil miliknya.
Melihat ke arah mana Alex menunjuk, Kanza pun langsung ber-oh ria ketika Kenzo yang sedari pagi ini ia cari-cari, ternyata sudah lebih dulu berangkat ke sekolah.
Tumben?
Setelahnya, gadis itu pun melengos meninggalkan Alex. Tak jauh berbeda dengan gadis itu, Alex pun mulai berjalan mendekati Kenzo yang tampak melamunkan sesuatu di dalam mobilnya.
"Woi! Pagi-pagi udah ngelamun aja lo! Awas, entar kesambet." Sahutan dari Alex serta ikut memasuki mobil Kenzo dan menduduki kursi di sebelahnya, membuat laki-laki itu refleks mengerjap seraya mengalihkan perhatiannya pada Alex.
"Eh, Lex! Kapan lo sampe? Ngagetin aja lo!" Kenzo langsung terkekeh seperti biasa terlihat konyol. Sedangkan Alex yang sudah menyadari ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh Kenzo hanya mendengus.
"Lo ada masalah, Zo? Cerita, gih! Gue juga lagi pengen cerita, nih, sama lo!"
Kenzo sempat terdiam beberapa saat, namun setelahnya cowok itu malah langsung terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lo emang yang paling peka, dah. Tahu aja, gue lagi kepikiran sesuatu."
"Iya, makanya. Lo cerita, dong!" Kenzo manggut-manggut mendengar penuturan dari Alex.
Tak selang berapa lama, raut wajah Kenzo langsung berubah murung seperti tadi. Tatapan matanya pun terlihat lesu tidak seperti biasanya. Melihat hal itu, Alex hanya bisa terdiam dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya itu.
"Gue ditolak lagi, Lex!" Ucapan Kenzo, refleks membuat Alex langsung membulatkan kedua bola matanya seraya menegapkan posisi duduknya.
"Hah? Ditolak sama siapa lo?"
"Biasa. Yang waktu itu sempet gue ceritain ke kalian. Cewek kampus. Dia nolak gue karena gue lebih muda tiga tahun dari dia." Ucapan Kenzo terdengar begitu menyedihkan. Alex saja yang mendengarnya tidak tega melihat Kenzo yang sekarang kembali lagi seperti Kenzo yang dulu.
Ya. Di mana laki-laki itu pernah dicampakkan oleh seorang gadis yang sangat ia cintai dengan alasan yang bahkan tidak bisa dimengerti.
Gadis itu memutuskan Kenzo secara sepihak dengan alasan ia akan kembali ke Inggris dan melanjutkan sekolahnya di sana. Namun, karena waktu itu Kenzo yang begitu menyukai gadis itu, ia menolak dan dengan sangat cepat mengambil sebuah keputusan untuk ikut ke Inggris bersama gadis itu, dengan alasan bahwa Kenzo pun memiliki keluarga yang tinggal di sana.
Dengan keras kepala, gadis itu terus menolak dan mendorong Kenzo untuk terus menjauh darinya. Ia bahkan sempat berkata untuk jangan mengikutinya.
Dan setelahnya, perpisahan pun terjadi. Kenzo yang ceria berubah menjadi seorang yang pemurung dan sering sendirian. Namun tak selang berapa lama dari kejadian gadis itu meninggalkannya, Kenzo langsung berubah menjadi seorang yang playboy dan sering menyakiti hati para gadis yang dekat dengannya.
Seringkali ia memberikan sebuah harapan pada mereka, namun ketika para gadis itu mulai terpancing, Kenzo akan dengan tega pergi meninggalkan mereka tanpa kabar yang jelas.
"Orang bilang, cinta itu gak mandang umur apalagi materi. Tapi kayaknya, yang dibilang sama orang-orang salah, deh, Lex." Kenzo berdecih sinis di akhir kalimat yang ia ucapkan.
"Dia cuma ngasih alasan itu doang?" Pertanyaan Alex langsung dibalas gelengan kepala oleh Kenzo.
"Masih ada. Katanya, dia gak pantes buat gue. Dia nyuruh gue nyari seseorang yang lebih baik dari dia. Bukan dia yang bahkan gak punya apa-apa. Dia juga bilang, lagi pula cewek yang lebih muda maupun yang seumuran sama gue masih banyak. Jangan pilih gue! Gitu katanya."
Alex mengangguk-angukkan kepalanya seraya sedikit berpikir. "Dia kayaknya cuma insecure! Lo masih bisa kejar dia. Dia cuma belum sadar aja sama perasaan dia ke elo."
Mendengar hal itu, Kenzo lantas mengalihkan perhatiannya pada Alex seraya menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh selidik. "Emang, iya?" Tanyanya. Spontan dibalas gendikan bahu oleh Alex. "Mungkin!? Coba aja lagi. Mungkin aja, kan, dia beneran jodoh lo! Lo harus tetep semangat! Jangan mudah menyerah! Katanya lo Kenzo Jiran Bagaskara, gimana, sih."
Ledekan dari Alex sontak membuat Kenzo langsung tertawa. "Iya juga, ya. Gue Kenzo Jiran Bagaskara! Ya, kali, langsung nyerah gitu aja."
Melihat Kenzo yang kembali seperti biasanya, membuat kedua sudut bibir Alex tertarik.
"Thank's, ya, Lex!" Kenzo menepuk bahu Alex jantan, yang dibalas kekehan kecil oleh sahabatnya.
"Gitu doang pake acara terima kasih segala lo, kek sama siapa aja. Ke kelas, yok!" Alex mulai membuka pintu mobil milik Kenzo dan mengajak sahabatnya itu untuk pergi ke kelas mereka.
Kenzo pun hanya dapat mengikuti ajakan dari sahabatnya itu dan segera keluar dari dalam mobilnya, kemudian menguncinya.
"Kita berdua doang, nih?" Tanya Kenzo, seraya memakai kembali tas sekolah yang sebelumnya ia simpan di dalam kursi mobil bagian penumpang.
Ketika Alex hendak membalas ucapan Kenzo, pergerakan bibirnya langsung terhenti kala suara klakson mobil dari arah gerbang masuk sekolah terdengar cukup nyaring, membuatnya seketika langsung mengalihkan perhatiannya.
Tidak hanya Alex yang mengalihkan perhatiannya. Kenzo pun yang juga mendengar bunyi klakson mobil yang teramat ia kenali dari jenis suaranya itu refleks membuat Kenzo ikut mengalihkan perhatiannya.
"Kek kenal, deh?" Kenzo menyipitkan kedua bola matanya, sampai mobil tersebut mulai memasuki area parkiran sekolah.
Ketika mobil itu mulai terparkir, seseorang keluar dari mobil tersebut. Rambutnya tampak seperti biasa, terlihat apa adanya dengan setelan seragam serta blazer biru navy khas SMA Naruna yang membungkus tubuh tinggi tegapnya.
"Wanjaaay! Mantan nominasi cowok terplayboy sejagad SMA Naruna balik gaess!" Kenzo bertepuk tangan dengan heboh kala mengetahui siapa sosok itu.
"Gila! Akhirnya gue come back!" Laki-laki itu langsung memekik setelah menyadari teriakan heboh tadi berasal dari Kenzo.
Ia adalah Haykal. Seseorang yang selama beberapa hari ini sudah begitu lama hampir tidak terlihat batang hidungnya.
"Pelukan, kagak, nih?"
"Pelukan dooonggg!" Ketika Haykal hendak berlari untuk memeluk Kenzo dan Alex yang masih terdiam di tempat, Alex dengan terburu-buru langsung menjauhkan diri seraya bergidik ngeri atas tingkah nyeleneh dari kedua sahabatnya.
"Najis gue pelukan sama lo berdua! Mendingan gue meluk tiang, daripada meluk kuman kayak kalian!" Decak sebal lantas keluar begitu saja dari mulut Kenzo dan juga Haykal.
"Wah... ngatain kita kuman, Zo!"
"Mentang-mentang udah pacaran sama kembaran gue, sikap lo jadi sombong gitu, ya?" Ucapan Kenzo, spontan mendapat tatapan kebingungan dari Haykal.
"Sejak kapan lo punya kembaran, Zo? Kok, gue gak tahu!"
"Yhaa... Ketinggalan jaman! Makanya, ke mana aja lo selama ini, hah?" Kenzo menatap sok serius Haykal yang masih terlihat kebingungan.
"Anj*r, gue kan, ngurusin Nyokap gue, Zo! Gini-gini gue masih anak yang berbakti, walaupun sebelum-sebelumnya gue kek anak durhaka." Haykal terkikik sendiri setelah mengatakan kalimatnya.
Berbeda halnya dengan Alex yang hanya menggelengkan kepalanya seraya mendengus pasrah.
__ADS_1
"Entar gue ceritain, deh. Sekarang ke kelas dulu, yok!" Ketika Kenzo hendak menarik Haykal, laki-laki itu dengan sigap menghentikan niatan Kenzo, membuatnya seketika menatap Haykal dengan penuh tanya.
"Sorry! Bukannya gue nolak, nih, ya! Gue mau nyamperin cewek gue dulu. Udah terlanjur kangen soalnya." Ucapan Haykal, refleks dibalas dengusan sebal oleh Kenzo. Ia pun dengan sok emosi menjauh dari Haykal dan menghampiri Alex.
"Lex, Lex! Dia mah giliran punya cewek, temennya dilupain!" Kenzo berucap setengah berbisik pada Alex.
Melihat hal konyol itu, Haykal hanya bisa tertawa. "Dah, dah. Kan, bisa barengan jalannya. Ya, gak, Lex?"
"Hm." Balas Alex terdengar sangat malas. Dan setelahnya, ketiganya pun mulai melangkahkahkan kakinya untuk sampai di kelas yang akan menjadi tujuan mereka.
...****...
Kanza terus menarik napasnya disetiap langkah kaki menuju ruang kelasnya yang berada di lantai tiga.
Ketika gadis itu hendak berbelok, seseorang yang hampir beberapa hari ini tidak ia lihat batang hidungnya, berjalan ke arahnya hampir saja membuat mereka saling bertabrakan.
"Maaf! Gue gak—" ucapan dari seseorang itu langsung terhenti ketika netranya tidak sengaja menatap ke arah Kanza.
"Bianca?" Panggil Kanza. Seseorang yang dipanggil Bianca itu langsung menundukkan kepalanya. Seketika perasaan bersalah yang selama ini ia pendam semakin menghinggapinya.
"Lo ke mana aja? Kok, lo gak pernah nyariin gue lagi, sih? Ada sesuatu yang mau gue omongin ke elo!" Kanza meraih kedua tangan Bianca, membuat gadis itu refleks kembali mengangkat kepalanya menatap Kanza.
"Si Hay—"
"Za, maafin gue! Semenjak hari di mana lo dituduh yang aneh-aneh sama anak-anak lain, gue gak bisa nunjukin diri gue di depan lo! Gue terlalu takut semisalkan orang-orang langsung tahu kalau sebenarnya yang—" Bianca tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Raut wajah gadis itu berubah sendu dengan kedua bola matanya yang hampir meneteskan air mata.
"Hei! Kok, jadi lo yang minta maaf, sih? Malah itu lebih bagus, karena waktu itu lo gak nyamperin gue! Dan yang minta maaf itu harusnya gue! Padahal gue khawatir banget sama lo, takut lo terguncang, tapi disaat gue mau nyari keberadaan lo di mana, gue malah gak bisa. Gue minta maaf, ya, Bi! Lo mau, kan, maafin gue?"
Bianca terdiam meresapi semua ucapan dari Kanza padanya. Dalam hatinya yang terdalam, betapa beruntung orang-orang yang menjadi sahabat Kanza.
Kanza baik. Dia juga orangnya peduli tentang masalah orang lain. Dia bahkan meminta maaf dengan tulus, padahal gadis itu sedikitpun tidak memiliki kesalahan pada Bianca.
Bianca menelan ludahnya susah payah seraya memberanikan diri kembali menatap Kanza. "Makasih, ya, Za! Kalau bukan karena lo, gue mungkin saat ini udah ngelakuin hal yang bodoh! Lo gak tahu sefrustasi apa gue saat gue tahu kalau gue hamil disaat gak ada siapa pun yang peduli sama gue! Haykal yang gak pernah ada kabar pun sempat membuat gue berpikiran sempit; Jangan-jangan dia ninggalin gue? Gimana kalau Haykal pergi dan gak mau sama gue lagi? Terus gue harus gimana?"
Mendengar berbagai rasa ketakutan yang diceritakan oleh Bianca, refleks membuat Kanza langsung memeluk tubuh gadis itu. Memberinya kehangatan serta kekuatan, berharap ia akan sedikit terhibur oleh apa yang Kanza lakukan.
"Lo gak sendiri! Lo masih ada gue, kok. Dan, Haykal juga bentar lagi balik. Gue denger berita ini dari Kenzo sama temen-temennya. Jadi, disaat dia udah bener-bener balik ke sekolah, lo langsung ajak dia bicara. Bilang sama dia dan minta dia tanggung jawab sama lo. Oke?" Ucapan Kanza yang teramat lembut di telinga Bianca, dibalas anggukan kecil oleh gadis itu.
Dengan meluapkan segala emosinya, Bianca balas memeluk Kanza seraya mencoba tegar menghadapi segalanya.
Ya. Sekarang Bianca tidak sendiri. Sekarang ia memiliki teman yang selalu mendengarkan segala kesusahannya.
Dan dia adalah, Kanza. Seseorang yang tak pernah sedikitpun ia bayangkan akan datang dan menghiburnya. Seorang adik kelas yang tidak ia kenali, justru dialah yang membuat Bianca untuk tidak bersikap lemah hanya karena sebuah keadaan sedang mengujinya.
...****...
Bel tanda istirahat pertama berbunyi. Bianca dengan langkah tertatih keluar dari dalam kelas seraya membawa setumpuk buku paket untuk disimpan kembali di salah satu meja guru.
Walaupun tubuhnya serasa lemas, apalagi kondisinya yang tengah seperti ini, tak membuat gadis itu lantas tidak mengacuhkan permintaan dari guru yang telah mengajar di kelasnya.
Terkadang, Bianca menghentikan langkah kakinya seraya menaruh tumpukan buku tersebut di atas tempat sepatu maupun di atas tong sampah yang tertutup rapat yang berada di beberapa kelas yang ia lalui.
Ketika tenaganya kembali terkumpul, gadis itu akan kembali melanjutkan langkah kakinya perlahan sampai pada akhirnya, ia telah sampai di ruang guru tersebut dan menaruh tumpukan buku paket itu di salah satu meja guru.
"Makasih, ya, Bianca! Tapi kok, muka kamu pucet? Kamu sakit?" Bu Rina, salah satu guru yang mengajar di kelas dua belas yang tak lain adalah guru yang meminta pertolongan Bianca untuk membawakan buku-buku paket tadi, bertanya khawatir pada gadis itu.
Bianca tersenyum kaku seraya menggelengkan kepalanya, "Saya gak pa-pa, kok, Bu. Habis ini saya mau ke kantin buat pesen makanan. Em... Kalau begitu, Bu, saya pamit duluan."
"Oh! Jangan lupa makan yang banyak, ya. Ibu lihat kamu makin hari makin kurus? Jangan-jangan kamu jarang makan lagi?" Tuduhan dari Bu Rina, dibalas kekehan kecil oleh Bianca.
"Ah, Ibu bisa aja. Kalau begitu, saya permisi dulu, ya, Bu." Setelah berpamitan, gadis itu lantas melenggang keluar dari ruang guru tersebut.
Di sepanjang perjalanan menuju kantin, gadis itu terus bertanya pada dirinya sendiri, emang muka gue pucet banget, ya?
Tinggal beberapa langkah lagi ia akan segera sampai di salah satu kantin sekolah, Bianca langsung menghentikan langkah kakinya ketika seseorang yang telah lama tidak ada kabar berdiri cukup jauh dari hadapannya.
Raut wajahnya tampak tersenyum tipis ketika menatapnya. Bianca berdecih melihat hal itu. Tak sedikitpun kehadirannya membuatnya senang, padahal beberapa hari sebelumnya, gadis itu hampir dibuat gila oleh laki-laki itu yang sudah membuat dirinya begitu takut akan ditinggalkan karena tidak pernah menerima sedikitpun kabar darinya, tak lain adalah Haykal.
Haykal melangkahkan kakinya ke hadapan Bianca, sedangkan gadis itu hanya berdiri kaku dan menatapnya.
"Gue kangen sama lo." Ucap Haykal, setibanya ia di hadapan Bianca.
Melihat laki-laki itu seperti orang bodoh yang tidak mengetahui apa pun masalah yang selama ini ia sembunyikan, membuat Bianca seketika tidak dapat menahan emosinya.
Plak!
Satu tamparan gadis itu layangkan tepat di wajah Haykal. Deru napasnya pun tampak memburu dengan kedua bola matanya yang mulai berkaca-kaca.
Satu kantin yang dipenuhi oleh siswa dan siswi yang sedang mampir untuk sekadar makan dan nongkrong refleks mengalihkan perhatian mereka pada sepasang remaja itu yang mereka tebak sedang bertengkar.
Ditampar tiba-tiba tanpa alasan seperti itu jelas membuat Haykal bingung. Dengan sedikit berhati-hati ia bertanya, "kenapa lo nampar gue?"
Perlahan, air mata gadis itu luruh dari salah satu pelupuk matanya. Dan Haykal benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada gadis itu.
Baru kembali bertemu, bukannya menyambutnya, tiba-tiba gadis itu malah menamparnya. Sebenarnya, ada apa ini?
"Bi!" Ketika Haykal hendak meraih tangan Bianca, gadis itu refleks menepisnya dengan kasar.
"Lo jahat tahu, gak!" Bianca memekik. Dan setelahnya, gadis itu berlari meninggalkan Haykal.
Dengan cepat Haykal langsung ikut berlari mengejar gadis itu, kemudian menarik tangannya sampai membuat tubuh gadis itu kembali berbalik dan menatapnya.
"Kenapa? Lo marah sama gue? Gue gak ada kabar? Hm? Sorry, Bi, hape gue rusak dan gue gak sempet beli yang baru. Gue sibuk di rumah sakit jagain Nyokap gue. Lo mau, kan, maafin gue?" Bianca menggeleng kuat menanggapi ucapan dari Haykal.
Itu memang salah satu yang membuat Bianca kesal, namun itu bukanlah intinya.
Ingin sekali rasanya Bianca berteriak di depan laki-laki itu dan mengatakan dengan lantang bahwa ia memerlukan pertanggungjawaban darinya.
Tapi...?
"Kita cari tempat yang lain, ya? Di sini banyak yang lihat, nanti malah jadi gosip. Oke?" Sebisa mungkin Haykal membujuk halus gadis itu yang masih menangis entah karena apa.
Dengan pasrah, Bianca pun mengangguk. Menuruti apa yang diusulkan oleh Haykal.
^^^To be continue....^^^
Alhamdulillah gaesss!!!
Akhirnya aku bisa update huwaaa!!! Pdhl sblmnya aku takut bgt gk bisa update gara2 insiden jatoh dari motor itu. Smpe2 tangan harus diurut (pas diurutnya nanges gila gk kuat aku maak😭 ckup sekali, gk ada lain kli🤣), mana klo mau jongkok, kaki sebelah kiri sakit lagi. udah mh kelopak mata aku yg sblh kiri juga nyium aspal jdinya benyok sebelah🤣 tpi pas aku nyoba ngetik, ternyata aku msh bisa gaes, huhuu😭 libur seminggunya gk jdi ya. Kalian tungguin aja eps slnjtnya, pling 3 harian kli, ya? Entahlah, pokoknya gk smpe seminggu, kok. Janji! Tpi, kan, 1 eps nya suka panjang😗 ini juga hampir 4000 kata lho serius🤣 ywdh deh, sgitu dulu aja, ya. maafkn klo ada yg sdikit gaje sma part ini. aku sengaja skip biar cpet ke ending hehee😄
*Edit: wah, ada yg kelupaan nih😣 buat yg ngucapin gws di part sblumnya aku ucpkn terima kasih🤗 mungkin brkat doa kalian juga aku bisa cpt smbuh🤭 aku gk bisa bls satu² karena yaah, kalian tahu lah. tanganku sakit, mataku juga sakit, jdinya cman aku baca sekilas aja smbil tiduran. Semuanya aku baca😁 mksihh yaaa😘
__ADS_1