
Kanza menatap kosong ke depan dengan salah satu tangannya yang menopang dagu. Raut wajah gadis itu terlihat masih begitu syok setelah mendengar apa yang telah terjadi kepada Haykal maupun Bianca.
Namun yang jadi pertanyaannya adalah, siapa yang menyebarkan informasi itu? Setahu Kanza, hanya Kenzo dan teman-temannya serta Kanza, Alma, dan Kayla yang tahu soal Haykal dan Bianca.
Tunggu! Apa jangan-jangan ... Agnes dan Alia? Batin Kanza menggerutu.
"Baik, anak-anak. Pelajaran kita sampai di sini dulu dan selamat beristirahat." Suara lantang dari seorang guru yang mengajar di kelasnya, seketika membuat Kanza tersentak dari apa yang sempat ia lamunkan.
Kepala yang semula hanya terdiam langsung celingak-celinguk menatap sekeliling. Teman-teman sekelasnya yang lain sudah pada sibuk bangkit dari tempat mereka untuk sekadar ke kantin, maupun hanya sekadar keluar dari dalam kelas.
Yang masih terdiam di kursi mereka hanya Kenzo dan teman-temannya, serta Alma dan juga Kayla. Mereka semua seakan kompak tidak pergi ke mana-mana, padahal sudah waktunya jam istirahat.
Kanza memilih kembali mendudukkan dirinya di tempat semula. Helaan napas gusar terus ia embuskan tatkala bayangan seorang gadis yang memiliki hati lembut, diharuskan memiliki imej buruk hanya karena kesalahannya.
"Kalau seandainya gue ada di posisi Bianca, kayaknya gue gak bakalan kuat, deh. Mungkin gue bakal mati aja, mengingat semua orang pasti benci banget sama gue." Kanza menggerutu pelan yang langsung membuat Alma seketika menepis lengan gadis itu dengan sikunya.
"Hus! Kalau ngomong tuh dijaga! Enak aja lo mau mati. Terus gue sama Kayla gimana?" Ucapan Alma yang begitu nyaring, membuat Kenzo dkk, tak terkecuali Alex, langsung beralih menatap kedua gadis itu yang saling pandang ke arah masing-masing.
"'Kan cuma perumpamaan, Ma! Ya kali gue mau mati," ujar Kanza, seraya terkekeh pelan.
"Kalau lo ada di posisi Bianca dan lo berniat mau mengakhiri hidup, gue sebagai pacar akan bertanggung jawab atas apa yang udah gue lakuin sama lo, dan mencegah lo melakukan hal yang enggak seharusnya lo lakuin." Alex membalas ucapan Kanza tanpa berniat menatap ke arah gadis itu yang berjarak cukup jauh dari tempatnya.
Sayangnya, itu tidak berlaku bagi Kanza. Gadis itu dengan refleks menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatap Alex. Ia benar-benar kaget mendengar jawaban Alex jika semisalnya Kanza berada di posisi Bianca. Benarkah akan seperti itu?
"Dan sebelum lo ngapa-ngapain kembaran gue, gue udah lebih dulu ngasih lo pelajaran yang bakalan lo inget sampe kapan pun!" Itu suara Kenzo. Cowok itu dengan raut wajahnya yang datar, menatap punggung Alex yang berada tepat di hadapannya.
Bukannya merasa takut, apalagi merasa tersudutkan, Alex justru tersenyum kecil mendengar penuturan dari Kenzo. Ia menjadi semakin yakin bahwa cowok itu akan merestui hubungannya dengan Kanza.
"Thank's buat nasehatnya. Lo tenang aja, gue bukan cowok kayak gitu." Ujar Alex, seraya bangkit dari posisi duduknya dengan perhatian yang beralih ke arah Kenzo.
"Dah, dah, dah! Bac*t aja lo berdua bisanya. Ngantin, yok! Gue dah laper, nih." Azka menyela di antara Kenzo dan Alex. Cowok itu yang tadinya hanya diam dan memerhatikan, perlahan mulai ikut bangkit dari posisi duduknya.
"Kuylah! Sekalian ajak cewek-cewek. Siapa tahu akhirnya jadi bestie. Ye, gak?" Timpal Juna, dengan fokus yang tertuju pada Kayla.
Sialnya, Kayla tidak sengaja melirik ke arah cowok itu, sehingga mengakibatkan dirinya yang salting akibat tatapan dari Juna. Dan semua itu sanggup membuat Juna tersenyum puas.
"Gimana? Mau ikut gabung juga?" Kanza menolehkan kepalanya ke arah Alma dan Kayla secara bergantian.
Alma tampak berpikir sejenak. "Boleh. Kapan lagi kita bisa deket gini, 'kan?" Ujarnya, seraya menatap Kanza, kemudian dilanjut beralih kepada Kayla.
Kayla sedikit gelagapan mendengar jawaban dari Alma. Ia benar-benar bingung harus menjawab apa, sementara teman-temannya saja mau bergabung dengan gengnya Kenzo.
Seandainya gak ada si Juna, gue juga bisa aja langsung setuju! Batin Kayla menggerutu.
"La? Lo juga ikut 'kan?" Alma mengibaskan tangannya tepat di hadapan Kayla yang terlihat melamun. Sontak saja gadis itu langsung tersentak dari lamunannya.
"Eh? Gu-gue—"
"Udah, ikut aja. Si Juna aman kok, kagak gigit." Celetuk Kenzo. Sanggup membuat raut wajah Kayla langsung memerah saat itu juga.
Dih, kok dia bisa tahu? Emang sejelas itu?
"Tuh! Tenang aja, ada gue sama Alma. Kalau dia berani macem-macem sama lo, tinggal gue sleding aja pake jurus karate gue." Balas Kanza. Semakin membuat Kayla gelagapan dan tidak dapat berkata-kata.
"Y-ya udah, gue ikut!" Ujar Kayla pada akhirnya. Membuat Juna lagi-lagi mengembangkan senyumannya.
Yes! Gue bisa sekalian deketin dia lagi! Batin Juna.
Dan setelahnya, Kenzo beserta teman-temannya dan juga Kanza, Alma, dan Kayla, melenggang keluar dari dalam kelas menuju salah satu kantin sekolah yang menjadi tempat langganan mereka.
Ketiga gadis itu beserta kelima cowok itu berjalan hampir beriringan, dengan Kanza, Alma dan Kayla yang memimpin jalan di depan. Dan sisanya berdiri di belakang seperti pasukan pengawal.
Siswa maupun siswi yang sengaja maupun tidak sengaja melirik ke arah mereka menatap heran sekaligus bertanya-tanya. Sejak kapan gengnya Kenzo dengan Kanza menjadi sedekat itu?
...****...
Gaun putih tanpa lengan terbalut dalam tubuh seorang gadis belia yang saat ini tengah berdiri termenung memandangi pemandangan luar di balik kaca. Raut wajahnya yang suram dengan tatapannya yang kosong, mampu membuat siapa saja yang menyaksikannya merasa ikut terbawa ke dalam suasana. Apalagi dengan kedua tangan gadis itu yang tengah memeluk perutnya yang hampir tak lagi terlihat datar.
Tepukan pelan mengenai salah satu bahunya, sehingga membuat gadis itu langsung tersentak dari apa yang tengah ia lamunkan. Ketika ia menoleh, seseorang yang tak lain ialah Haykal, berdiri tak begitu jauh dari posisinya. Lantas saat itu juga, seulas senyuman hangat terbit dari wajah gadis itu. Bianca.
"Kamu udah pulang?"
Haykal tak langsung merespon pertanyaan dari Bianca. Kedua bola matanya masih setia menatap lurus sepasang manik mata yang tampak begitu sendu.
Tak berapa lama kemudian, Haykal menarik tubuh Bianca ke dalam pelukannya. Helaan napas gusar lagi-lagi keluar dari mulutnya.
"Ma—"
"Kamu mau minta maaf lagi?" Suara Bianca yang terdengar halus, sanggup menghentikan niatan Haykal yang hendak melontarkan beberapa rangkaian kata-kata.
Laki-laki itu pun langsung terdiam, namun masih setia memeluk tubuh gadisnya. Perlahan, Bianca mulai melepaskan diri dari pelukan Haykal. Tatapan gadis itu pun jatuh pada sepasang bola mata Haykal yang terlihat begitu dalam ketika menatapnya.
"Aku mohon jangan minta maaf lagi. Anggap kejadian itu gak pernah terjadi." Haykal semakin dibuat terdiam oleh perkataan Bianca. Apalagi ketika melihat sepasang bola mata gadis itu yang perlahan mulai berkaca-kaca.
"Kamu salah, aku juga salah. Aku udah jahat sama kamu dan mungkin itu adalah teguran sekaligus karma buat aku karena telah nyia-nyiain orang yang begitu baik sama aku." Bianca menarik napasnya dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya sejenak. Tak berapa lama kemudian, tatapan matanya kembali kepada Haykal.
"Please, Kal! Jangan ungkit lagi soal kejadian itu. Ya? Anggap aja itu pelajaran buat kita yang sama-sama salah, tapi jangan buat diungkit. Cukup dengan kamu mau berubah dan bertanggung jawab aja aku udah bersyukur.
"Makasih, karena gak ninggalin aku. Dan maaf buat ucapan aku dulu, di mana aku selalu nyakitin hati kamu dengan perkataan aku yang kelewat kasar." Bianca lantas mengakhiri perkataannya dengan memeluk tubuh Haykal, tanpa berniat memunggu laki-laki itu untuk membalas perkataannya.
Setitik air mata lagi-lagi turun dari wajahnya tanpa ia minta. Kenangan buruk dulu benar-benar mengusik pikirannya. Dirinya jahat, dan mungkin inilah balasan dari Tuhan untuk orang jahat seperti dirinya.
Pelukan yang diciptakan Bianca akhirnya terlepas dengan dirinya sendiri yang mencoba melepaskannya. Perhatiannya kemudian beralih menatap perutnya yang terlihat sedikit menonjol. Tak lama kemudian, seulas senyuman tipis lagi-lagi terbit di wajah cantiknya.
"Kamu baik-baik, ya, di sana. Mama sama Papa sayang banget sama kamu. Maafin Papa kamu, ya." Bianca mengelus pelan perutnya seraya mencoba mengajak berbicara janinnya yang juga bersemayam di sana. Membuat Haykal yang sebelumnya tengah melamun langsung tersadar dengan perhatian yang beralih menatap perut gadis itu.
"Oh, iya. Kamu mau dipanggil apa? Papa? Papi? Ayah? Atau ... Daddy?" Sontak saja Haykal terkekeh pelan mendengar pertanyaan Bianca. Perhatiannya pun semakin tidak dapat teralihkan dari gadis itu.
"Ekhem. Papi kayaknya keren tuh. Tapi ... Papa aja deh. Ya?" Ujar Haykal, seraya sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan Bianca. Salah satu tangannya pun terangkat mengelus perutnya.
Bianca mengulum senyumnya, merasa sedikit geli dengan tingkah laki-laki itu yang tidak seperti biasa. Tetapi, itu tidak masalah. Karena sebentar lagi, mereka sudah akan menjadi orangtua. Tidak ada salahnya mencoba menjadi berbeda.
"Mama udah makan?"
"Hah?!" Refleks Bianca mengerjapkan kedua bola matanya, sesaat ketika mendengar pertanyaan lain dari mulut Haykal.
"Kamu ... nanya sama ... aku?" Tanya gadis itu. Tanpa berpikir panjang, Haykal pun mengangguk. Semburat merah lantas terbit di kedua pipi gadis itu.
"Ish! Geli tahu, Kal! Manggilnya yang biasa-biasa aja, ah." Bianca bergidik ngeri ketika membayangkan kembali saat Haykal memanggilnya dengan panggilan mama.
"Yang mancing duluan siapa?" Tanya Haykal. Sanggup membuat Bianca terdiam tak dapat berkata-kata.
"Tapi, 'kan, aku cuma—"
"Jawab dulu pertanyaan aku. Udah makan, apa belum?" Potong Haykal. Membuat Bianca tanpa sadar berdecak sebal.
"Belum."
"Loh? Kok, gitu? Emangnya gak laper?"
"Laper. Tapi, 'kan, aku gak mau makan sendirian," ucap Bianca mulai cemberut. Lagi-lagi membuat Haykal tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum.
"Ya udah. Gimana kalau kita makan di luar? Sekalian jalan-jalan mumpung gak sekolah. Gimana?"
Bianca sempat terdiam sejenak, sebelum pada akhirnya ia mengangguk menyetujui. "Kalau gitu ... aku ganti baju dulu, ya? Enggak nyaman pake dress gini keluar rumah."
"Ya udah. Barengan. Sekalian aku juga harus mandi. Keringetan lagi soalnya."
__ADS_1
Haykal meraih salah satu tangan Bianca, kemudian menggenggamnya dengan begitu erat. Sampai ketika keduanya tiba di dalam kamar pun, Haykal masih belum juga melepaskan genggaman tangannya.
"Mandi sana! Aku mau langsung ganti baju."
Haykal menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengembuskannya diiringi dengan genggaman tangannya yang mulai terlepas.
"Ya udah." Ujarnya lesu, kemudian melenggang memasuki kamar mandi.
...****...
"Nih, ya, gue kasih tahu. Jadi orang tuh jangan sok tegar, sok fine. Suka mah bilang aja, gak usah ditutup-tutupin. Entar hilang, nangis."
"Heh, Zo! Lo nyindir gue?" Kayla menatap kesal ke arah Kenzo yang sedari tadi tak habis-habisnya terus menggerutu tidak jelas dengan fokus yang tertuju pada layar ponselnya.
"Hah?! Enggak! Itu mah lo-nya aja yang baperan. Gue cuma ngomong asal doang, kok. Ya, 'kan, Ka?" Kenzo mengalihkan tatapannya ke arah Azka yang tengah menyeruput kuah baksonya.
"Hah? Oh, bener itu! Si Kenzo paling cuma ngasal doang. Ngapain lo ambil hati? Terkecuali kalau lo-nya emang ngerasa gitu. Ya, gak, Lex?" Timpal Azka, kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah Alex yang tengah sibuk bercanda bersama Kanza.
Alex sempat menoleh sejenak menatap Azka. Setelahnya, fokusnya kembali pada Kanza setelah sebelumnya ia membalas perkataan Azka dengan sekadar dehaman malas.
Kayla mendengus meratapi dirinya sendiri yang terus-menerus disindir sana-sini oleh Kenzo dan juga teman-temannya. Batinnya menggerutu, apakah semenyenangkan itu meledeknya? Menyebalkan!
"Udah, ah. Gue mau balik ke kelas." Kayla bangkit dari posisi duduknya, bersamaan dengan Juna yang tidak sengaja mencuri pandang pada gadis itu.
Melihat Kayla yang sepertinya mulai ngambek, fokus semua teman-temannya, dimulai dari gengnya Kenzo, pun termasuk Kanza dan Alma, spontan mengalihkan perhatiannya pada gadis itu.
"Mau ke mana, La?" Kanza sudah hendak ikut bangkit dari posisinya, jika bukan karena Alex yang dengan cepat menahan pergerakan gadis itu.
Kayla tidak berniat membalas pertanyaan dari sahabatnya. Gadis itu langsung melenggang meninggalkan kantin dengan raut wajahnya yang ditekuk kesal.
Juna meratapi kepergian Kayla dengan tatapan kecewa. Ketika dirinya mencoba menghela napas, siku seseorang menyentuh lengannya, sehingga membuat kepalanya refleks menoleh.
"Kejar, gih, Jun! Siapa tahu entar jadian?" Itu suara Rio. Cowok itu dengan tampang usil menyuruh salah satu sahabatnya untuk kembali bertindak mengejar cintanya.
Juna sempat terdiam sejenak. Tak lama kemudian, cowok itu tersenyum misterius. Perlahan namun pasti, ia mulai bangkit dari posisi duduknya.
"Doain gue, ya."
...****...
"Kayla!" Panggil Juna, setelah hampir cukup lama cowok itu berlari mengejar sang pemilik nama.
Mendengar ada seseorang yang baru saja memanggilnya, sontak saja gadis itu langsung menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya pun perlahan mulai berbalik ke belakang.
Dan ketika menyadari bahwa orang yang baru saja memanggilnya tak lain adalah Juna, Kayla langsung membulatkan kedua bola matanya dengan tubuhnya yang kembali berbalik mumunggungi cowok itu.
"Duh. Ngapain sih dia pake acara ngejar gue segala? Dia gak lagi mau macem-macem, 'kan?" Gerutu Kayla. Tanpa gadis itu sadari, Juna mulai melangkahkan kakinya mendekati Kayla, sampai jarak di antara keduanya hanya tinggal beberapa sentimeter saja.
Ketika gadis itu hendak menolehkan kepalanya ke belakang untuk memastikan apakah cowok itu masih berdiri di tempatnya, seketika tubuh gadis itu langsung tersentak hebat. Jantungnya seakan mau berhenti berdetak tatkala menyadari bahwa posisi cowok itu kini begitu berdekatan dengannya.
Bukannya minta maaf karena telah mengagetkan Kayla, Juna malah tersenyum miring seraya mengangkat sebelah alisnya dengan genit.
"LO APA-APAAN SIH? LO MAU BIKIN GUE JANTUNGAN, HAH!? NGESELIN BANGET SIH HIDUP LO!" Kayla berteriak nyaring di hadapan Juna. Sanggup membuat cowok itu dengan refleks menutupi kedua telinganya.
Tak berlangsung lama, Juna mulai melepas kedua tangannya yang sempat ia gunakan untuk menutupi telinganya. Tatapan cowok itu pun jatuh pada sepasang manik mata milik Kayla yang tampak begitu menggebu.
"Lo marah sama gue?" Sahut Juna, seketika membuat Kayla kembali tersentak, sehingga dengan spontan ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Iyalah! Siapa juga yang gak bakalan marah setelah apa yang lo lakuin barusan. Kaget tahu!" Hardik Kayla. Sedikit membuat Juna terdiam sejenak.
"Bukan itu maksud gue." Ralat Juna. Kini giliran Kayla yang terdiam, mencoba mencerna apa yang telah dikatakan oleh cowok itu.
"Mak-sud-nya?"
Juna menarik napasnya dalam-dalam, kemudian meraih salah satu tangan Kayla, dan menggenggamnya. Diperlakukan demikian, bukan tidak mungkin gadis itu tidak terkejut. Sepasang bola matanya bahkan sudah hampir membulat sempurna, dengan jantungnya yang ikut berdegup kencang tanpa diminta.
Beruntung gadis itu tidak langsung tersungkur ke tanah. Namun sialnya, tubuhnya malah menubruk dada bidang cowok itu.
Waktu seakan berhenti sejenak tatkala dua pasang mata remaja itu saling bersitatap. Masing-masing dari salah satu tangan mereka saling menggenggam, dan juga jantung milik keduanya yang kian berdegup kencang, tak sedikit pun membuat momen di antara mereka tergoyahkan.
"Please, kasih gue satu kesempatan lagi! Gue mohon, La!" Bisikan kecil yang terucap dari mulut Juna, seketika langsung menyadarkan gadis itu dari apa yang tengah terjadi saat ini.
Dengan sekuat tenaga, Kayla mencoba melepaskan diri dari Juna. Tarikan napasnya mendadak begitu menggebu. Diiringi degupan jantung yang kian berdegup kencang.
Sialan! Apa-apaan cowok itu!
"La!" Kayla menepis tangan Juna yang hendak menyentuh bahunya.
Perlahan, napas gadis itu mulai kembali menormal, walau degup jantungnya masih berdegup sama. Dengan penuh keyakinan, Kayla berusaha menatap sepasang bola mata Juna yang masih setia menatapnya.
"Kenapa gak dari dulu?" Juna sedikit tersentak akan pertanyaan Kayla yang langsung mengenai hatinya.
"Gue—"
"Gimana sekarang rasanya jatuh cinta sepihak? Enak, atau enek?" Juna lagi-lagi terdiam dengan fokus yang tak dapat dialihkan dari raut wajah Kayla.
Kayla terkekeh miris dengan kepalanya yang menoleh ke samping. Tak berapa lama kemudian, fokusnya kembali menghadap Juna.
"Pasti gak enak, 'kan? Itulah yang gue rasain waktu jatuh cinta sepihak sama lo! Dan parahnya, lo selalu berucap kasar sama gue, agar gue bisa pergi sejauh mungkin dan gak gangguin hidup lo lagi." Kayla menjeda ucapannya dengan menarik napasnya dalam-dalam.
"Setelah gue memutuskan buat pergi dari hidup lo, kenapa malah jadi giliran, elo yang ngejar-ngejar gue? Bukannya lo yang mau gue pergi sejauh-jauhnya, ya? Kenapa? Kenapa, Jun!?" Tarikan napas gadis itu berubah menggebu dengan sepasang bola mata yang begitu menusuk ketika menatap Juna.
Juna lagi-lagi hanya bisa diam tak merespon apa-apa. Batinnya berkata, ucapan Kayla tidak ada yang salah. Memang benar dirinya yang selalu menyuruh gadis itu untuk melupakan dirinya. Sayangnya, Juna lupa kalau di dunia ini masih ada yang namanya karma.
Di mana ketika seseorang yang kita perlakukan dengan baik, maka balasan untuk kita pun akan demikian. Begitupula sebaliknya.
Kata-kata menusuk yang sempat ia lontarkan pada Kayla, kini berbalik arah pada dirinya. Ia menyukai gadis itu disaat Kayla telah memutuskan untuk berhenti mengejarnya. Tuhan memang maha adil.
"Kesempatan?" Juna mengerjapkan kedua bola matanya tatkala gumaman kecil dari mulut gadis itu terdengar sampai telinganya.
"Gue bisa aja ngasih lo satu kesempatan lagi, tapi yang terluka hati gue. Gue gak bisa biarin hati gue terus disakitin sama lo! Gue gak bisa naruh kepercayaan lagi sama lo! Udah cukup gue terluka di masa lalu oleh orang yang sama. Jangan sampai gue kembali terluka di masa depan oleh orang yang sama juga.
"Seperti yang dibilang sama Alma. Cowok bukan cuma lo doang!" Tegas Kayla. Sanggup membuat Juna semakin dibuat tertohok oleh perkataannya.
Merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Kayla pun memutuskan untuk melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda. Sayangnya, apa yang telah menjadi niatnya tak sama dengan apa yang terjadi saat ini.
Baru beberapa langkah ia berjalan, lagi-lagi tangan seseorang meraih salah satu pergelangan tangannya. Sehingga membuat gadis itu lagi-lagi refleks membalikkan tubuhnya ke belakang. Tatapan pertamanya jatuh pada sepasang bola mata milik Juna yang terlihat begitu sendu tengah balas menatapnya.
"Maaf! Gue tahu permintaan maaf gue doang gak bakal cukup buat nyembuhin luka yang gue kasih ke elo. Tapi tolong, gue mohon kasih gue satu kesempatan lagi buat mencintai lo! Maaf, karena gue terlambat menyadari semua itu. Seumur-umur, gue gak pernah dicintai sama siapa pun, termasuk kedua orangtua gue. Jadi gue gak tahu, gimana rasanya dicintai.
"So, please, La! Kasih gue satu kesempatan lagi buat ngejar lo! Gue janji gak akan nyia-nyiain waktu lagi kayak dulu. Gue akan buktiin sama lo kalau gue beneran tulus sayang sama lo."
...****...
Seorang gadis dengan setelan seragam khas SMA Naruna, berdiri tepat di depan salah satu wastafel di toilet putri untuk mencuci wajahnya yang terasa begitu berminyak.
Tak berlangsung sampai setengah jam, gadis itu pun mulai menyelesaikan aktivitasnya. Tak lupa ia juga mulai menutup keran air di wastafel tersebut.
Drtt... Drtt... Drtt...
Suara dari dering ponsel yang ia taruh di dalam saku blazernya sontak mengenyahkan perhatian gadis itu yang tengah mengelap wajahnya dengan beberapa lembar kertas tisu.
Ketika ponselnya telah berada di genggamannya, helaan napas lelah lantas ia embuskan. Nama kontak 'MaBrother Somvlak' tertera besar di layar ponselnya.
"Kenapa?" Sahut gadis itu. Tak lain dan tak bukan ialah Kanza. Raut wajahnya begitu datar dan tenang. Dengan perhatian yang belum juga beralih dari pantulan dirinya di depan cermin.
"Iya, lo pulang duluan aja! Gue pulangnya bareng Alex, kok."
__ADS_1
"...."
"Ck! Iya, iya. Bawel banget sih lo jadi cowok!"
"...."
"Iya, sabar dong. Ini gue lagi di toilet, lagi cuci muka. Tas juga udah gue bawa, kok. Tinggal turun ke parkiran doang."
"...."
"Iyaaa! Ngapel aja lo bisanya. Bye!" Kanza memutus sepihak panggilan telepon tersebut, kemudian memasukkan kembali ponselnya ke tempat semula.
Panggilan telepon dari Kenzo yang katanya izin pulang duluan, dengan niat sebenarnya adalah untuk menemui kekasihnya. Sebenarnya, Kanza gak terlalu peduli cowok itu mau pulang lebih dulu, ataupun menunggunya. Toh, pada akhirnya sama aja. Tenang, masih ada Alex yang setia menunggunya di parkiran sekolah! Pikirnya.
Tak ingin lebih berlama-lama lagi, Kanza memutuskan untuk segera keluar dari dalam toilet tersebut. Namun, belum sempat gadis itu keluar dari sana, tubuh seseorang dari arah berlawanan berjalan di hadapannya, sampai tak sengaja menubruk tubuh Kanza.
Kanza refleks mengaduh dengan fokusnya yang tertuju ke bawah. Ketika gadis itu mulai mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang baru saja menabraknya, seketika itu juga, ekspresi di wajahnya langsung memudar.
Tak hanya itu saja, napasnya yang semula masih sangat normal menjadi tak beraturan tatkala menyadari seseorang yang paling ia takuti, kini berdiri tepat di hadapannya diiringi seulas senyuman miring yang terbit di wajahnya.
"Gue pikir, gue salah lihat. Tahu-tahunya emang elo," ujarnya, tak lain dan tak bukan ialah Vando.
Perlahan namun pasti, Kanza berusaha memundurkan langkah kakinya agar tidak terlalu berhadapan dengan cowok tidak waras itu.
Sialnya, Kanza lupa bahwa cowok itu juga makhluk hidup yang dapat bergerak. Sehingga ketika Kanza berusaha memundurkan langkah kakinya, refleks Vando melangkah mendekat ke hadapan Kanza.
"Lo mau apa?" Kanza sudah sangat waswas, apalagi ketika punggungnya yang mulai menubruk dinding toilet, dan cowok itu yang bersikeras terus berjalan ke arahnya.
Melihat reaksi Kanza yang begitu kentara, Vando semakin tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum ke arah gadis itu. Sampai ketika tubuh keduanya hanya berjarak beberapa sentimeter saja, Vando masih tak henti-hentinya terus tersenyum pada Kanza.
Sayangnya, senyuman cowok itu terlihat begitu mengerikan. Tak ada sedikit pun perasaan aman yang Kanza rasakan ketika bersitatap dengannya.
"Gue kangen sama lo, Za! Untung aja lo keluar dari SMA khusus cewek itu. Dan yang lebih untungnya adalah, lo sekolah di SMA yang semua murid cewek dan cowok dicampur jadi satu. Ya, walaupun sekolah ini saingan sekolah lama gue? Tapi, gak pa-pa, deh. Demi lo. Jadinya gue bisa ngejar ke sini. Gimana? Lo terharu?"
Kanza menatap heran sekaligus tidak percaya pada cowok itu yang baru saja menyelesaikan beberapa kalimat anehnya.
Dia bilang apa tadi? Kangen? Terharu? Apa dia masih tidak sadar juga kalau Kanza masuk SMA khusus putri juga karena ia takut didatangi dirinya?
Jika bukan karena Kanza yang dikeluarkan dari sekolah itu, dan tidak ada yang mau menerima murid seperti dirinya di sekolah lain, Kanza tidak akan pernah mau masuk sekolah ini. Sekolah menengah atas yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki latar belakang khusus dan tentunya untuk orang berdompet tebal.
Namun demi masa depannya, Kanza rela masuk ke sekolah ini, walau pada kenyataannya ia benar-benar enggan.
Ya. Anggap saja begitu.
"Lo kenapa sih, selalu mengusik hidup gue? Gue punya salah apa sama lo, Van? Please, lepasin gue. Gue mohon! Ya?"
Senyuman yang sedari tadi terus terpampang di wajah Vando langsung luntur, dan digantikan dengan raut wajah datar. Tatapannya pun berubah dingin nan menusuk. Sanggup membuat Kanza semakin terintimidasi.
"Salah lo? Lo gak nerima cinta gue, padahal gue tulus sama lo! Gue kurang apa, Za? Kurang kaya? Atau, kurang ganteng? Padahal satu sekolah waktu itu tahu gue yang paling ganteng. Atau—"
"Van!" Sela Kanza. Seketika langsung menghentikan perkataan dari cowok itu.
"Gue pernah bilang, 'kan, sama lo. Lo temen gue. Orang pertama yang mau temenan sama gue! Gue gak pernah nganggap lo lebih dari itu. Please, Van! Dulu lo gak kayak gini. Lo tuh—"
"Za! Gue gak suka lo cuman nganggap gue temen. Gue maunya lo jadi pacar gue."
"TAPI CINTA GAK BISA DIPAKSA, VAN!" Pekik Kanza, menggebu. Tanpa dirinya sadari, raut wajah Vando kini berubah semakin dingin dari sebelumnya. Kedua alisnya bahkan sudah hampir menyatu. Emosi benar-benar telah menguasai diri cowok itu.
"Lo semakin lama, semakin berani ternyata. Semakin membuat gue gak sabar jadiin lo sebagai milik gue."
Mendengar hal itu, Kanza yang tadinya sibuk bergelut dengan pikirannya, langsung dibuat berdiam mematung tak dapat berkutik. Perlahan namun pasti, Kanza mencoba memberanikan diri kembali menatap wajah Vando.
Dan ketika sepasang netranya telah kembali bersitatap dengan Vando, tubuh gadis itu mendadak bergetar, dengan sesekali akan menelan ludahnya susah payah. Tatapan mematikan dari cowok itu benar-benar membuatnya kembali mengingat momen mengerikan beberapa tahun yang lalu, yang membuatnya trauma hingga detik ini.
Kanza semakin dibuat takut tatkala tangan Vando mulai berani mencengkram salah satu pergelangan tangannya. Ketika Kanza hendak menarik kembali tangannya, cowok itu dengan kasar semakin mencengkram pergelangan tangan Kanza sampai menimbulkan bekas merah.
Demi apa pun, Kanza sangat takut pada sosok laki-laki di hadapannya ini. Selain berbahaya, Vando jugalah orang yang paling besar memberikan trauma yang begitu mendalam padanya.
Sekalipun Kanza memiliki keahlian bela diri yang baik, tapi jika dirinya sudah dihadapkan dengan cowok bernama Vando, ia akan sangat lemah. Rasa takutnya akan lebih mendominasi ketimbang rasa pertahanannya.
"Lepasin, Van! L-lo mau apa?" Kanza semakin waswas, tatkala seringaian misterius lagi-lagi terbit di wajah Vando.
"Menurut lo?" Vando mendekatkan wajahnya ke hadapan Kanza. Salah satu tangannya yang tidak mencengkram apa pun, ia gunakan untuk menyentuh dagu gadis itu sampai membuat wajahnya langsung mendongak.
"Van, jangan nekat!" Kanza sudah tidak dapat lagi menyembunyikan ketakutannya. Air mata bahkan sudah mengucur deras membasahi wajah gadis itu.
"Lo nangis? Mau gue usapin?" Kanza refleks memejamkan kedua bola matanya ketika jari-jemari Vando mulai berani menyentuh wajahnya. Tubuhnya pun kian bergetar hebat.
Dalam hatinya yang terdalam, Kanza tak henti-hentinya terus berdoa pada Tuhan. Berharap ada seseorang yang akan menyelamatkannya dari cowok yang bisa dikatakan masuk dalam jajaran orang yang sangat terobsesi.
Brak!
Suara pintu toilet yang dibanting cukup keras dengan diiringi suara langkah kaki cepat, spontan mengalihkan sejenak perhatian kedua remaja itu.
Belum sempat mereka menoleh ke belakang, tangan seseorang dengan cukup kasar menarik kerah seragam Vando, sampai membuatnya langsung menjauh dari Kanza.
Tak berlangsung lama, satu bogeman mentah kemudian dilayangkan pada salah satu rahang cowok itu. Membuat Vando yang belum siap apa-apa dibuat limbung tak berdaya.
Melihat apa yang baru saja terjadi dengan kedua bola matanya, bukan tidak mungkin Kanza tidak panik. Gadis itu bahkan memekik keras sesaat ketika bogeman itu mengenai rahang Vando.
Kanza menatap Vando dan juga laki-laki yang baru datang itu silih berganti.
"A-alex?" Gumam Kanza, kala menyadari bahwa laki-laki yang baru saja memukul Vando tak lain adalah Alex, pacarnya.
Vando terkekeh miris sembari berusaha bangkit dari posisinya. Sayangnya, belum sempat cowok itu benar-benar berdiri, Alex sudah lebih dulu kembali menarik kedua kerah seragam cowok itu. Sehingga berakhirlah wajah mereka yang saling berhadapan hampir tak berjarak.
"Udah gue bilang berapa kali, jangan gangguin Kanza, atau lo akan tahu akibatnya! Lo nganggap omongan gue apa, hah? Bercanda doang? Lo mau gue kasih pelajaran apa, supaya lo bisa tetep inget ini selamanya?!" Alex menatap tajam sepasang netra milik Vando yang juga tengah balas menatapnya. Tarikan napasnya semakin menggebu, apalagi ketika melihat Vando yang terkekeh sinis tepat di hadapannya.
"Lo pikir gue takut sama lo?" Gerutu Vando. Tak selang berapa lama, cowok itu mulai menghempas kedua tangan Alex yang berada di kerah seragamnya.
Ketika Vando hendak melayangkan pukulan serupa kepada Alex, sontak Kanza berlari dan menghadang mereka berdua dengan berdiri di tengah-tengah, sehingga menyebabkan perkelahian di antara keduanya langsung terhenti. Fokus kedua cowok itu pun spontan beralih pada Kanza yang masih terlihat sama seperti sebelumnya, namun sebisa mungkin ia menyembunyikan perasaannya itu.
"Setop! Jangan main pukul lagi!" Kanza menjeda kalimatnya, dengan sesekali akan menarik napasnya dalam-dalam. Tak lama kemudian, fokusnya lantas beralih pada Alex yang juga tengah menatapnya.
"Udah, ya. Kita pulang!" Kanza menarik salah satu lengan Alex, kemudian memeluknya. Membuat Vando yang menyaksikan kemesraan mereka dibuat panas dingin seketika.
Alex sempat enggan dengan ajakan dari Kanza untuk lebih memilih diam dan tidak melakukan hal lebih pada Vando. Namun ketika pandangannya tidak sengaja melirik ke arah cowok itu, seketika itu juga, sebuah ide brilian tiba-tiba muncul di otak encernya. Seringaian kecil kemudian terbit di wajah Alex.
"Oke. Kita pulang." Ujar Alex. Salah satu tangannya dengan sengaja merengkuh bahu Kanza, sampai membuat gadis itu dibuat menoleh ke arahnya. Semakin membuat Vando merasakan kesal yang tak dapat ia salurkan.
"Lo mau ke mana? Urusan kita belum beres." Vando mencengkram salah satu bahu Alex, sehingga membuat langkah kaki cowok itu langsung terjeda beberapa saat.
Alex sempat terdiam dengan raut wajahnya yang datar. Tak lama kemudian, cowok itu mulai menolehkan kepalanya ke samping kanan, tempat di mana Kanza tengah berdiri saat ini.
Melihat raut wajah gadis itu yang kacau balau, ingin sekali rasanya Alex kembali memukuli wajah Vando sampai babak belur, jika bukan karena saat ini masih ada Kanza di sampingnya.
Alex mengembuskan napas panjang, seraya menepis kasar tangan Vando dari atas bahunya. Tatapan yang Alex layangkan kini tak lagi seperti sebelumnya yang lebih dominan penuh amarah. Yang ada malah sebaliknya.
"Kenapa emangnya? Urusan kita masih bisa di-pending. Tapi kalau soal Kanza alias pacar gue, sorry, gue gak bisa. Gue balik duluan, ya. Kapan-kapan kita maen adu jotos lagi." Alex menepuk pelan bahu Vando, kemudian melenggang dari hadaoan cowok itu dengan membawa ikut serta Kanza di sampingnya.
Sepeninggalan Alex dari dalam toilet tersebut, Vando tak henti-hentinya terus mengeratkan rahangnya seraya mengucapkan kata-kata kasar teruntuk Alex.
Jika saja tidak ada Kanza di samping cowok itu, Vando sudah akan lebih dulu menghabisi Alex dengan caranya sendiri. Cowok itu belum tahu saja, seperti apa Vando jika sudah bertindak.
"Awas lo Alex!"
^^^To be continue....^^^
__ADS_1
Ya ampun, udh 2 minggu, dan aku baru update? Astaga, maaf! Aku gk update, bkn berarti aku gk mau. Tpi karena hampir 2 minggu ini hp aku gk bisa dicharger adooohhh🥲 semaleman bahkan seharian dicharger tuh cmn ngisi paling 34 atau nggak 50%an😭 pdhl aku chargernya pke 2 charger sekaligus, tpi ttp aja gk ngisi. Dan itu semua membuat aku kek membuang2 waktu terbaik buat ngetik dgn nungguin hp yg batrenya bkl gk penuh2🥲 jdinya yah, selama bbrpa hari ini aku gk bisa ngetik karena yah ini. Hp nya blm smpet aku servis karena aku rasa aku msh btuh buat ngetik. Tpi ini mlh ujung2nya ttp aja mau ngetik tuh susah! Tpi karena skrng ngetiknya udh, dan updatenya jga udh, kyknya hpnya mau aku servis dulu deh. Berharap diservisnya gk lama biar bisa lnjut ngetik😭 sumpah ini bner2 ganggu bgt apalgi yg bnyk deadline kek aku ini. Maaf aku ujung2 nya mlh curhat di sini ya. Tpi ini tuh serius gk boongan! So, aku bner2 minta maaf karena updatenya bner2 lebih lamaaaaa dari sblmnya🙏 Kalau gitu, mungkin segini aja dulu QnA nya. Maaf untuk semuanya dan mksih bgi klian yg msh stay sma cerita ini🙏 Sekali lgi aku bner2 minta maaf🙏