
"Skakmat! Anjaaay! Gue menang lagi, yes!" Haykal bersorak heboh, ketika dirinya kembali memenangkan permainan catur melawan Juna.
Juna yang sudah dua kali dikalahkan oleh Haykal jelas kesal. Kenapa dirinya ini bisa dikalahkan sama Haykal yang bahkan sering mendapat nilai di bawah KKM di kelas?! Benar-benar menyebalkan.
"Lo kalah lagi, Jun? Serius?" Kenzo yang tadinya sibuk mengghibah bersama Azka, Rio, dan Alex, spontan menghampiri keduanya.
"Auk! Males gue anj*r. Mau pulang!" Desis Juna, seraya bangkit dari kursinya.
Oke. Sepertinya Juna ngambek, gaes!
Tapi, bukannya kelima teman-temannya ini menghibur cowok itu, mereka malah tertawa ngakak seraya meledek Juna yang selalu kalah main catur.
Raut wajah Juna tentu saja semakin tekuk kesal, posisi duduknya pun sengaja sedikit menjauh dari Kenzo dan teman-temannya yang lain.
Oh, ya. Kenzo, Haykal, Juna, Azka, Alex, dan Rio, saat ini tengah berada di apartemen milik Haykal yang juga adalah base camp mereka berenam.
Keenamnya kompak janjian untuk main sepuasnya sampai malam. Mereka tidak peduli jika besoknya masih harus pergi ke sekolah.
"Zo! Lo entar mau pulang jam berapa?" Alex yang tengah rebahan di atas sofa sambil main handphone menyahut.
"Emang ini baru jam berapa?" Kenzo bertanya balik, yang langsung dijawab serempak oleh teman-temannya. "Jam delapan."
"Elah, baru juga jam segini. Jangan dulu balik lah! Gak kasian apa gue sendirian di sini?" Haykal menyela. Raut wajahnya terlihat tidak rela jika teman-temannya harus pulang saat ini.
"Makanya, ajak cewek lo nginep di sini. Sekalian ajakin bobo bareng. Kan enak tinggal peluk. Ye, gak?" Celetuk Azka.
Kesal dengan ucapan Azka yang begitu ngasal, Haykal spontan melempar wajah cowok itu dengan bantal sofa yang ia rebut dari Alex.
"Gila lo, Ka! Lo mau buat si Haykal khilaf, hah?" Rio meneriaki Azka, dan balasan dari cowok itu hanya menyengir tanpa dosa.
"Bianca cewek baik-baik. Jangan, lah!" Ucap Kenzo. Seketika langsung disambut kekehan miris oleh Haykal.
Melihat perubahan raut wajah serta suasana Haykal yang tiba-tiba, Kenzo, Azka, Rio, Alex, dan Juna, sontak saling pandang kebingungan.
Juna yang tadi posisi duduknya sedikit menjauh, mulai mendekat ke arah Haykal dan teman-temannya.
"Kenapa lo, Kal? Pas si Kenzo selesai ngomong, muka lo jadi kayak gitu."
"Hubungan lo gak direstui, Kal?" Ucapan Azka, mendapat desisan peringatan dari Kenzo dan Alex.
Haykal spontan tertawa mendengar ucapan Azja yang selalu seenaknya. "Lo pikir bokap gue punya waktu buat ngurusin masalah percintaan gue?" Pertanyaan Haykal spontan dibalas 'oh' panjang oleh teman-temannya.
"Bener juga lo, Kal. Bokap lo itu kan, orangnya keras. Kurang peduli sama lo," ucap Juna. Sontak membuat raut wajah Haykal yang tadinya dipenuhi keceriaan, berubah menjadi kecut dengan tatapan dingin tertuju pada Juna.
"Jun, lo kalau ngomong suka bener, yah." Ujar Haykal dengan tampang serius. Kelima teman-temannya yang sudah tidak paham lagi dengan keabsurd-an Haykal dan Juna tertawa.
"Ehm. Terus kalau bukan karena hubungan lo gak direstui, apa dong? Kenapa tadi muka lo kek tertekan gitu?" Seolah masih ingin membahas, Azka dengan mulut ceplas-ceplosnya kembali menanyakan hal itu.
"Kepo banget lo, Ka! Si Haykal tertekan juga karena gak ada Bianca di sampingnya, eaaakk!" Sela Kenzo, raut wajahnya terlihat tersenyum menyebalkan.
"Yha, paling dia mah cuman akting doang. Biar bisa ngibulin lo yang otaknya sering banget tuh yang namanya mikir aneh-aneh." Rio menyeletuk. Cowok itu dengan malas kembali mendudukan dirinya di atas lantai yang berlapisi karpet.
"Kuy! Lawan gue kalau lo semua berani!" Sahut Rio. Dengan sok-nya, cowok itu menyunggingkan senyum miring yang ia perlihatkan pada kelima teman-temannya. Sebelah tangannya dengan angkuh mengambil salah satu PS5 yang tergeletak di lantai.
"Anjay, maen-maen lo ama kita?! Lawan gak, nih?" Kenzo menatap Alex dan Juna yang berada di sampingnya. Ajakan Rio seakan tengah menguji kesabarannya.
"Lawan, Zo! Sembarangan Si Kecil ini nantangin lo!" Juna menepuk-nepuk bahu Kenzo, mencoba meyakinkan cowok itu untuk segera duel melawan Rio.
"Gue yakin seratus persen, kalau yang akan jadi pemenang adalah si Rio." Perkataan Alex yang diiringi senyum terpaksa, membuat Kenzo dan Juna menggeleng-gelengkan kepala seraya menatap Alex tidak percaya.
"Wah... Si Alex juga keknya udah gak percaya sama kemampuan lo, Zo. Udahlah, Zo, nyerah aja." Balas Juna. Cowok itu terkikik geli, kemudian bertos ria dengan Alex tepat di hadapan Kenzo.
Demi Dewa Neptunus, Kenzo ingin sekali mengubur hidup-hidup kedua teman laknat yang berada tepat di hadapannya ini. Seandainya Kenzo punya kekuatan super, orang pertama yang akan merasakan kekejamannya adalah mereka berdua.
Sembarangan aja mengatai Kenzo tidak bisa menang melawan Si Rio. Malah menyuruhnya menyerah sebelum bertarung lagi. Enak aja!
"Sebentar lagi, gue akan buat lo berdua bersujud di hadapan gue! Lo pikir seorang Kenzo Jiran Bagaskara akan mudah dikalahkan begitu saja oleh Rio Guinanda? Mohon maaf. Saya putra dari Bapak Kenan, tidak pernah menerima kekalahan." Ujar Kenzo panjang lebar, yang disambut heboh oleh kelima teman-temannya.
"Kok, gue curiga ya, kalau Putra Bapak Kenan ini tidak akan bisa menang? Ada yang sepemikiran sama gue?" Haykal unjuk bicara. Membuat Kenzo spontan berdesis ke arah cowok itu.
"Bukan lo doang, Kal. Gue juga curiga, nih Putra Bapak Kenan gak bakal menang melawan Putranya Bapak David. Secara kan, Si Rio ini dah pernah masuk Team E-sport Nasional. Lha, si Kenzo kapan? Jiaaahh!" Azka ikut nimbrung. Suasana dalam apartemen benar-benar dibuat ricuh.
"Bangs*t lo semua! Meremehkan gue ternyata. Dahlah, siniin!" Kesal dengan semua ledekan dari teman-temannya, Kenzo memilih duduk di samping Rio untuk memulai duel mereka.
"Malem ini kita maen yang mana, nih, Yo!"
Rio tersenyum menyeringai. Saatnya bagi dirinya untuk membalas dendam kepada Kenzo. "Game yang paling lo benci!"
Seketika itu juga, raut wajah Kenzo yang semula songong berubah menjadi tertekan dengan tatapan matanya mengarah kepada Rio yang berada tepat di samping kanannya.
"Anjay, jangan bilang—" Kenzo sengaja menghentikan ucapannya. Ia tidak ingin salah bicara, dan ucapannya nanti malah berakhir menjadi boomerang untuknya.
Alex, Haykal, Azka, dan Juna, sudah tidak bisa lagi menahan tawa mereka. Raut wajah tertekan yang diperlihatkan Kenzo, benar-benar membuat siapa saja tidak bisa menahan tawanya.
"Nah, lho! Kaget dia!" Azka tertawa, seraya merebahkan diri di atas sofa yang sempat dipakai Alex.
"Ayo, Zo! Kalahkan rivalmu!" Juna dan Azka mulai menegapkan posisi berdiri mereka. Tampang keduanya terlihat sok serius. Padahal dalam hati, keduanya sudah tidak tahan ingin tertawa dan meledek Kenzo habis-habisan.
"Set*n lo pada!"
...****...
Tepat pukul 6 pagi, Kanza keluar dari dalam kamarnya dan bersiap turun ke bawah untuk pergi sarapan. Gadis itu dengan raut wajahnya yang terlihat ceria, menggumamkan sebuah nyanyian disela langkah kakinya.
"Eh, Non Kanza! Pagi, Non." Bi Asih, salah satu pembantu di rumahnya menyapa.
"Eh, Bibi! Morning too." Balas Kanza seraya tersenyum manis.
Sayangnya, Bi Asih tidak paham maksud dari ucapan nonanya. Ia malah terlihat terus menggumamkan kata 'morning too' berulang-ulang, sampai dirinya tak menyadari Kenzo yang baru saja tiba di lantai bawah, berdiri tepat di belakangnya.
__ADS_1
"BIBI!" Pekik Kenzo. Sebuah cengiran tanpa dosa terbit di wajahnya.
"Astaga, Aden! Jangan ngagetin Bibi, atuh. Kan, tahu, kalau Bibi itu orangnya gampang kaget." Bi Asih terlihat mengelus dadanya berkali-kali.
Kenzo terkikik geli melihat sikap Bi Asih. Cowok itu lantas meminta maaf, kemudian berjalan memasuki ruang makan yang sudah ada Maminya yang cantik tengah menyiapkan sarapan, dan Papinya yang terlihat masih menguap duduk di atas kursi seraya memainkan tabletnya.
"Congratulation morning!" Kenzo memekik, membuat Kanza yang baru saja menutup pintu kulkas, lantas menatap heran ke arah kembarannya itu.
"Hah? Gimana, gimana?" Kanza berjalan ke arah Kenzo, sampai pada akhirnya gadis itu berdiri tepat di hadapan kembarannya.
Kenzo tampak mencebikan bibirnya seraya menduduki kursi makan. "Gue bilang, congratulation morning!?"
Kanza mengerutkan keningnya seraya berpikir keras. "Artinya?"
"Selamat pagi lah, B*go! Lo pikir artinya apa?!" Kenzo menoyor pelan dahi Kanza, membuat gadis itu berdesis pelan.
"Selamat pagi? Eh, sialan! Enggak gitu konsepnyaaaa Kenzo kembarankuuu euhhhh!" Kanza geram demi apa pun.
Kenapa kembarannya ini mentranslate ucapan selamat pagi seperti itu? Dari mana datangnya rumus teori tersebut? Emang sih, 'congratulation' itu artinya selamat. Tapi gak gini juga kali!
"Zo! Sebenarnya, lo tuh bisa Bahasa Inggris atau enggak, sih? Kenapa mentranslate ucapan 'selamat pagi' aja kayak gitu? Anak SD aja yang gak belajar Bahasa Inggris tahu!"
"Anjay! Lo pikir gue serius bilang begitu? Gue canda kali! Baperan lo!" Balas Kenzo. Sontak membuat Kenan, Papi mereka, berdeham keras seraya menatap kedua putra-putrinya dengan tatapan tajam.
"Bicaranya jangan pake bahasa kasar bisa? Kita lagi mau makan, bukan mau demo, apalagi tawuran!"
Kanza dan Kenzo sontak mengalihkan perhatian keduanya ke arah sang Papi. Keduanya refleks menjadi tenang bagaikan air setelah mendengar teguran dari Kenan.
"Maaf, Pih." Ucap Kanza dan Kenzo bersamaan.
...****...
"Mih, Kanza berangkat duluan, ya!" Kanza berjalan ke arah Chelsea, kemudian menyalami wanita setengah baya itu.
Chelsea yang tengah mengelap meja makan, langsung mengalihkan perhatiannya pada Kanza. "Eh! Berangkat sekarang? Emang ini udah jam berapa? Oh, ya. Kamu berangkat ke sekolahnya bareng Kenzo, kan?"
"Emm... Kanza berangkatnya bareng Pak Indro." Jawab Kanza. Sontak mendapat tatapan heran dari sang mami.
"Kenapa? Kan, bisa bareng sama Kenzo! Apa jangan-jangan si Kenzo yang gak mau? Wah... Benar-benar ini anak! Mana dia? Mami mau kasih pelajaran buat dia!" Dengan terburu-buru tanpa membiarkan Kanza memberikan penjelasan, Chelsea langsung berjalan meninggalkan ruang makan untuk mencari anaknya yang satu lagi.
"Eeh, Mamih! Mamih mau ke mana?"
Kanza sudah dibuat dag-dig-dug luar biasa oleh maminya. Bagaimana kalau nanti maminya ini menyuruh Kanza untuk berangkat serta pulang sekolah bareng Kenzo?
Tidak! Itu tidak boleh terjadi, dan tidak akan pernah terjadi! Ia tidak ingin satu sekolah tahu bahwa Kanza dan Kenzo adalah saudara kembar.
Ia tidak ingin kejadian dulu terulang lagi!
Tidak boleh!
Ini belum saatnya!
"Kenzo!" Chelsea memanggil atau lebih tepatnya berteriak meneriaki nama Kenzo. Wanita setengah baya itu terus berjalan mencari keberadaan Kenzo yang entah di mana.
"Ken—" teriakan Chelsea terputus, ketika Bi Asih berlari ke arahnya dan mengatakan satu hal, "Den Kenzo sudah berangkat duluan, Nyonya!" Ucapnya, membuat Chelsea spontan menarik napasnya dalam-dalam.
"Y-ya udah. Kanza berangkat dulu, ya, Mih. Daa..." Setelah mengucapkan kalimat itu, Kanza langsung berlari keluar dari dalam rumah, meninggalkan sang mami yang masih menahan emosinya.
Sekarang gue aman, kan?
...****...
"Ish! Ini tuh udah hampir jam 7, tapi kenapa sekolah masih pada sepi? Huft," Kayla mendengus seraya mencak-mencak disela langkah kakinya.
Gadis itu baru saja tiba di sekolah dengan mengendarai motor scoopy berwarna biru muda miliknya.
Sebelum Kayla sampai di sekolah, gadis itu sudah berpikir bahwa ia sudah kesiangan. Namun, ternyata ia salah besar.
Lihat saja parkiran sekolah saat ini! Hanya ada beberapa kendaraan yang terparkir.
"Alma sama Kanza belum datang, lagi!" Gerutu gadis itu. Tatapan matanya tak henti-hentinya terus menatap ke arah gerbang sekolah yang terbuka yang dijaga oleh seorang satpam.
Tak selang berapa lama, seseorang dengan mengendarai sebuah motor sport berwarna hijau, mulai memasuki area gerbang sekolah.
"Lho, itu kan...?" Kayla membulatkan kedua matanya, saat mengetahui siapa seseorang yang tengah mengendarai motor tersebut.
Raut wajah gadis itu yang semula ditekuk, perlahan mulai berangsur hilang dan digantikan dengan raut wajah ceria.
Tak butuh waktu lama, pemilik motor sport itu mulai memarkirkan motornya di samping motor Kayla. Dari kejauhan, gadis itu terlihat senyam-senyum sendiri.
"Hm. Juna markirin motornya di samping motor gue." Gumam gadis itu, dengan kedua pipinya yang mulai memerah.
Ya. Seseorang yang baru saja memarkirkan motornya itu tak lain adalah Juna. Cowok itu dengan cool melepas helm full face yang ia kenakan, kemudian menyisir sebagian rambutnya ke belakang menggunakan jemari tangannya.
"Emm... Pengen gue samperin deh, rasanya!" Kayla merengut di tempat. Gadis itu dilema antara ingin menghampiri Juna, atau pergi dari tempat itu dan langsung ke kelas.
Sehingga pada akhirnya, gadis itu malah berakhir berjalan bolak-balik di tempat.
"Ah, bodo! Gue samperin aja, deh. Bodo amat dia mau sok jual mahal sama gue! Yang penting, gue memperlihatkan ketulusan—" gumaman Kayla terhenti, ketika Monika yang baru saja tiba di parkiran sekolah menghampiri Juna dengan langkah berlenggak-lenggok.
Raut wajah Kayla langsung berubah murung melihat Monika, mantan pacarnya Juna, menghampiri cowok itu.
Pernah dikatakan sebelumnya, kalau Juna masih belum bisa move on dari Monika? Ya. Itu adalah sebuah fakta yang tidak terelakan. Karena dulunya Monika adalah gadis yang selalu mengejarnya dan mencintainya dengan tulus.
Namun itu dulu. Gadis itu seolah berubah ketika Juna yang awalnya selalu jual mahal padanya, tiba-tiba membalas cinta gadis itu.
"Yha... Mantannya datang." Kayla mengembuskan napasnya seraya menundukkan kepalanya.
Selalu saja seperti ini. Belum sempat ia berjuang, kekalahan sudah ia terima.
__ADS_1
Tak ingin terus menyaksikan adegan menyakitkan itu, Kayla memutuskan untuk berbalik dan pergi. Ia tidak ingin hatinya semakin terluka, hanya karena melihat masa lalu laki-laki itu yang masih saja sering menemui Juna, padahal yang gadis itu incar adalah Kenzo.
Namun, tanpa Kayla ketahui, Juna melirik ke arah punggungnya dengan tatapan yang sulit dijabarkan.
Sebenarnya, sejak tadi, Juna sudah mengetahui Kayla yang terus saja memperhatikannya dari kejauhan. Gadis itu terlihat tidak bisa diam di tempat itu seperti tengah memikirkan sesuatu.
Namun, Juna enggan menanggapinya.
"Lo mau nyari si Kenzo, kan? Dia belum datang. Lo tungguin aja dia di sini, bentar lagi dia nyampe." Juna berucap sarkas kepada Monika.
Cowok itu sudah mulai jengah dengan gadis di hadapannya. Selain tidak tahu malu, Monika juga sering bersikap seenaknya pada Juna, hanya karena cowok itu pernah menyukainya.
Dan juga, entah gadis itu bodoh atau amnesia, ia selalu saja menanyakan keberadaan Kenzo padanya. Tidak tahukah bahwa Kenzo adalah sahabatnya? Apa gadis itu tidak peduli dengan rasa sakit dan cemburu yang selama ini Juna pendam?
Sialan memang!
^^^To be continue....^^^
EPILOG:
Waktu telah menunjukkan pukul duabelas malam. Dan Kenzo baru saja tiba di rumahnya setelah sebelumnya berkumpul dengan teman-temannya di apartemen Haykal.
Cowok itu dengan penuh kehati-hatian mulai membuka kunci gerbang rumahnya yang ia curi dari Pak Ujang, satpam di rumahnya.
"Papih sama Mamih pasti udah pada tidur, kan?" Gumam Kenzo. Cowok itu masih berusaha membuka kunci gerbang yang belum bisa ia buka.
"Shit! Lama-lama bisa pegel tangan gue!"
Tanpa Kenzo sadari, sebuah mobil mewah edisi terbatas dengan lampu mobil yang sengaja dimatikan, kini tengah berada tepat di belakangnya.
Dari dalam mobil tersebut, seseorang yang tak lain adalah Kenan, sang papi, tampak cekikikan melihat putranya yang begitu bandel ini baru saja pulang entah dari mana.
Melihat Kenzo yang selalu berulah seperti ini, mengingatkan Kenan akan masa mudanya dulu. Benar-benar mirip seperti dirinya dulu yang juga sering pulang larut malam.
Tiba-tiba saja, sebuah ide jahil untuk mengerjai Kenzo terbesit di pikirannya. Sebelum Kenan benar-benar menjalankan ide jahil tersebut, ia menyempatkan diri untuk berdeham.
"Yes! Terbuka!" Pekik Kenzo tanpa sadar. Cowok itu mulai senyam-senyum sendiri dan hendak membukakan pintu gerbang.
Namun, suara mesin mobil diiringi kilatan cahaya yang begitu menyilaukan mata sontak membuat tubuh Kenzo menegang. Cowok itu dengan susah payah mulai menatap ke arah kilatan cahaya di hadapannya.
"Woi! Siapa lo! Gila lo, ya! Matiin gak?!" Kenzo berteriak cukup keras.
Untungnya, jarak antara gerbang dan rumahnya cukup jauh. Sekitar 30 meteran. Jadi, orang-orang di rumahnya tidak akan merasa terganggu dengan teriakannya.
"Kamu berani teriak-teriak sama Papi? Mana ngatain 'gila', lagi?" Sahutan Kenan diiringi lampu mobil yang dimatikan, membuat Kenzo tidak mampu berkata-kata lagi.
Sial! Haruskah Kenzo tarik kembali ucapannya barusan?
...Cast:...
...Kenzo...
...Kanza...
...Alex...
...Haykal...
...Juna...
...Azka...
...Rio...
...Alma...
...Kayla...
...Bianca...
...Wanda...
...Monika...
Haiii!!! Sudah update!!!:)
__ADS_1