
...Kanza...
...Kenzo...
...Alex...
...Haykal...
...Juna...
...Azka...
...Rio...
...Alma...
...Monika...
...Kayla...
...****...
"Kamu..., Kanza?" Pak Ucup bertanya pada siswi yang berada di ambang pintu kelasnya, seraya melangkah mendekat.
"I-iya, Pak. Nama saya Kanza. Saya disuruh Pak Kepala Sekolah untuk masuk ke kelas ini." Gadis itu menjawab sopan. Dan Pak Ucup pun manggut-manggut di tempat.
"Ya sudah. Mari masuk," ujar Pak Ucup lembut, dan mempersilakan murid barunya untuk segera memasuki ruang kelas.
Dengan canggung, Kanza mengangguk seraya tersenyum. Namun, sebelum benar-benar melangkah masuk, Kanza menyempatkan diri untuk melirik sekilas pada Kenzo, kembarannya.
Sial. Cowok itu terlihat sedang mengurut pangkal hidungnya. Pasti sedang berpikir keras.
Namun, Kanza tidak ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh cowok itu. Gak penting!
"Nah, murid-murid. Ini dia murid baru di kelas kita. Namanya—"
"Pak! Biarin Neng Cantik-nya aja yang bilang siapa namanya. Bapak, enggak usah!" Salah satu murid lelaki yang duduk di bangku paling belakang, berhasil memotong perkataan Pak Ucup.
"Dasar murid gak ada akhlak!" Pak Ucup berujar ngegas. Namun, pada akhirnya, tetap mengizinkan murid barunya untuk memperkenalkan diri seperti yang diinginkan murid-muridnya yang lain.
"Ya sudah kalau begitu. Kanza! Bapak persilakan." Ujar Pak Ucup.
Kanza pun mengangguk seraya tersenyum canggung. Kemudian, gadis itu mulai mengalihkan perhatiannya pada seluruh murid kelas XI IPS 4 yang berada di hadapannya.
"Halo, semua! Gue, Kanza."
"Hai, Kanza!" Kanza terkekeh geli, ketika murid-murid yang akan menjadi teman-teman barunya, merespon senang.
Tak ingin membuang waktu lebih lama, Kanza lantas memilih untuk menyelesaikan sesi perkenalannya.
"Gue pindahan dari SMA Melati, sekolah khusus perempuan. Sebelumnya, gue gak punya teman di sana. Punyanya saingan!" Kanza menjeda ucapannya, membuat semua anak-anak kelas XI IPS 4 tertawa riuh.
"Tapi sekarang, gue harap kita bisa jadi teman baik. Makasih." Ujarnya yang diakhiri dengan senyuman.
Semua murid kembali histeris heboh. Terlebih murid lelaki.
"Nah. Karena—" Pak Ucup hendak berbicara, namun lagi-lagi perkataannya harus digantung, karena salah satu muridnya kembali menyahut.
"Pak!" Pak Ucup lantas berdecak kesal. "Apa?! Saya ini dari tadi mau ngomong, tapi dipotong-potong mulu sama kalian! Heran saya,"
Murid-muridnya terkikik menanggapi. "Sesi tanya jawab lah, Pak! Murid baru ini!" Pemilik suara itu adalah Juna. Ya, siapa lagi kalau bukan playboy ke-2 setelah Haykal dan Kenzo?
"Setuju, Pak!" Azka menyahut setuju.
__ADS_1
"Lumayan, Pak. Buat dijadiin do'iii!!!" kini Haykal yang ikut nimbrung.
Semua murid yang tau gelagat Haykal, berseloroh seru, membuat Pak Ucup seketika berteriak dan dalam sekejap mengheningkan suasana.
"Kebiasaan kalian ini, ya! Mentang-mentang ada cewek cantik, ribut aja terus." Ucap Pak Ucup emosi. Lalu guru tersebut mulai menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"Kanza! Lebih baik kamu cari tempat duduk, ya? Coba kamu duduk di...," Pak Ucup menggantungkan ucapannya dan mengedarkan matanya untuk mencari bangku kosong yang akan ditempati Kanza.
"Di sini aja, Pak! Sebelah saya!" Alma, gadis yang disukai Rio, menyahut.
Raut wajah gadis itu terlihat begitu ramah dan ceria. Tak heran jika seorang Rio yang berwajah garang saja klepek-klepek dibuat gadis itu.
Pak Ucup pun tersenyum senang, seraya menyuruh Kanza untuk duduk di sebelah Alma. Meja paling depan di samping pintu masuk kelas.
"Nah, kamu duduk sama Alma, ya?"
"Iya, Pak. Terima kasih,"
Kanza melangkah hati-hati seraya tersenyum canggung ke arah gadis bernama Alma yang sedari tadi terus tersenyum hangat padanya.
"Hai! Gue Alma!" Sapa Alma, tepat ketika Kanza telah berhasil menduduki kursi barunya.
"Hai! Kanza!" Balas Kanza, sopan.
"Nanti kita ngobrol lagi pas istirahat, oke?" Ujar Alma. Kanza hanya bisa mengangguk pasrah.
"Ajak gue juga doonggg..." seorang gadis yang duduk di belakang Alma dan Kanza, menyahut.
Kedua gadis itu lantas menoleh seraya terkekeh. "Dia Kayla. Sohib gue di kelas ini." Alma berucap menyebutkan siapa nama gadis yang ikut masuk dalam obrolan mereka.
Kanza kembali tersenyum canggung yang ditujukan pada gadis yang katanya bernama Kayla. "Hai, Kayla!" Ujar Kanza, seraya kembali tersenyum canggung.
Gadis bernama Kayla itu hanya tersenyum lebar sampai kedua matanya yang sipit pun menghilang.
"Wah... jadi gak sabar pengen ngobrol-ngobrol lagi. Nanti kita lanjutin lagi, ya, Za? Hehe," kekeh Kayla. Dan setelahnya, satu kelas kembali ke dalam pelajaran.
Beberapa siswa lelaki tampak kurang fokus pada pelajaran, karena mata mereka yang terus saja melirik-lirik pada punggung si murid baru, alias Kanza.
"Duh, gila sih. Murid barunya cantik banget," beberapa siswa lelaki yang duduk di bangku paling belakang saling berbisik. Kenzo yang mendengarnya namun hanya sedikit, menolehkan kepalanya ke belakang dengan kedua alis yang berkerut dalam.
"Yo'i. Senyumannya itu lho, beuhh! Mematikan saraf," bisiknya lagi, membuat Kenzo berdecih lalu kembali fokus pada papan tulis di hadapannya.
Cantik katanya? Biasa aja. Cantikan juga Billie Eilish.
...****...
Sebagian murid ada yang menuju kantin, sebagian menuju perpustakaan, sebagian menuju lapangan dan sebagian lagi nongkrong di rooftop.
Dan saat ini yang terjadi di kelas XI IPS 4 adalah, sebagian murid lelaki tengah mengantri hanya untuk bisa cari perhatian pada sang murid baru. Kanza.
Merasa risi? Tentu saja! Belum pernah Kanza diperlakukan aneh seperti ini. Bahkan, dia tidak tahu harus membalas bagaimana?! Gadis itu hanya tersenyum canggung, namun respon beberapa siswa lelaki begitu heboh. Membuat Kanza, Alma dan Kayla yang masih berada duduk di bangku mereka, menutup kedua daun telinga mereka dengan kedua telapak tangan.
"Heh, heh, heh! Minggir! Minggir! Minggir!" Suara lantang milik Juna, membuat kerumunan siswa lelaki yang menghalangi bangku Kanza, mulai sedikit menjauh.
Para siswa lelaki itu tampak berdecak sebal, kemudian memutuskan untuk membubarkan diri, ketika tahu bahwa yang sedang beraksi saat ini adalah gengnya Kenzo.
"Hai, Cantik!" Haykal dengan tampang sok kerennya, menyugar poninya yang berwarna sedikit kemerahan ke belakang, dengan diiringi kedua alisnya yang dinaik-turunkan dengan genit.
Kanza menatap heran pada Haykal. Sedangkan Alma dan Kayla yang sudah hafal dengan tingkah laku Haykal, mengernyit jijik.
"Gue—" belum sempat Haykal menyelesaikan perkataannya, Juna mendorong cowok itu dengan badan besarnya, yang hampir membuat Haykal terjungkal ke lantai.
"Gue Juna! Arjuna Wiratmaja. Dewa Cin—" ucapan Juna ikut terpotong, ketika Azka dengan cukup kuat mendorong cowok itu hingga menyingkir ke pinggir, bersama Haykal.
"Jangan didengerin. Mendingan sama gue aja. Kenalin, gue Azka," Azka mengulurkan sebelah tangannya sebagai tanda perkenalan.
Kanza awalnya ragu untuk menerima. Namun, ketika dirinya hendak menerima uluran tangan Azka, seseorang sudah menepisnya dengan sangat kasar. Dan orang itu, adalah Kenzo.
"Gila lo, Zo! Ngantre napa?" Azka mengelus perlahan tangannya yang terasa sakit.
"Lo aja kagak ngantre!" Juna menyahut.
"Lha, lo kagak ngaca? Elo juga!" Haykal ikut nimbrung. Membuat Alex dan Rio yang sedari tadi hanya diam, saling menepuk dahi mereka.
Ampun dah, punya temen kok modelan mereka? Alex membatin.
"Ikut gue!" Kenzo menarik tangan Kanza, membuat Alma dan Kayla sontak memelotot.
"Lho? Kanza mau dibawa ke mana!?" Alma berteriak seraya bangkit dari kursinya yang juga diikuti oleh Kayla.
"Ikutin jangan, Ma?" Kayla bertanya bingung pada Alma. Dan gadis itu yang ditanyai pun ikut bingung. "Enggak tahu. Males, ah. Si Kenzo!" Ujar Alma. Lalu kembali menduduki kursinya.
Sedangkan di lain tempat, Kanza sebisa mungkin untuk terlepas dari cengkraman cowok yang tak lain adalah kembarannya yang begitu menyebalkan, Kenzo.
__ADS_1
Bukan karena apa. Hanya saja, saat ini di koridor kelas, banyak sekali siswa maupun siswi yang memerhatikan mereka. Terlebih lagi tatapan kebencian yang sepertinya memang ditujukan pada Kanza.
"Zo! Lo apa-apaan, sih? Lepasin gue, gak!" Kanza mendumel seraya mencoba menarik tangannya dari cengkraman Kenzo. Namun, hasilnya tetap sama.
Kenzo seketika menghentikan langkah kakinya ketika dia dan juga Kanza telah tiba di belakang sekolah, setelah sebelumnya mereka sempat menuruni tangga kelas sebelas, dan membuat gempar beberapa kaum hawa.
Kenzo juga telah melepaskan cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Kanza.
"Lo apa-apaan, sih? Gajelas banget jadi cowok!" Kanza merengut, seraya mengelus pergelangan tangannya yang sedikit memerah.
"Lo yang apa-apaan! Ngapain lo sekolah di SMA Naruna? Sekelas lagi! Kelas IPS di sekolah ini tuh banyak! Kenapa harus sekelas sama gue!? Ngintilin gua, lo, hah!?" Kenzo bertanya merentet, membuat Kanza spontan menganga lebar.
"What?! Ngintilin lo? Gak ada kerjaan banget gue, sampe harus ngintilin lo! Heh, denger yah! Gue juga gak tau kalo ternyata gue sekelas sama lo! Yang gue tau cuma, kita bakal satu sekolah. Buat satu kelasnya gue enggak tau!" Ujar Kanza. Gadis itu langsung mengalihkan fokusnya ke lain arah, seraya melipat kedua lengannya di depan dada.
Kenzo berdecak. Berbagai pikiran dan asumsi teman-teman satu kumpulannya, atau bahkan satu sekolah yang tiba-tiba mengetahui dirinya memiliki kembaran, membuat Kenzo pusing seketika.
"Heh, kalo orang-orang sampe tau kita saudara gimana? Lo sendiri kan, yang nyuruh kita rahasiain hubungan kita?" Kenzo berucap dengan nada suara yang pelan sekali pada Kanza. Tubuhnya pun sengaja sedikit mendekat ke hadapan gadis itu, hingga kini hanya berjarak beberapa senti saja.
"Ups! Kenapa gue gak kepikiran ke situ, ya?" Kanza menepuk dahinya. Ingatan sewaktu SMP ketika dirinya bersumpah untuk merahasiakan hubungannya bersama Kenzo, melintas begitu saja di otaknya.
Sial. Bagaimana ini? Males banget kalau orang-orang sampai tahu kalau Kanza dan Kenzo saudaraan. Saudara kembar, lagi.
Dulu saja sewaktu masih taman kanak-kanak, Kanza dan Kenzo diolok-olok karena keduanya adalah anak kembar. Kayak upin ipin katanya. Kan kesel!
Waktu SD juga sempat kejadian. Namun, cukup berbeda dari kejadian sewaktu TK. Tetapi, kejadian di semasa SD itu, membuat Kanza maupun Kenzo langsung enggan untuk disekolahkan di sekolah yang sama lagi.
Sehingga ketika keduanya hendak masuk SMP, keduanya pun membuat sebuah kesepakatan untuk merahasiakan hubungan keduanya. Apa pun yang terjadi.
"Gini aja, deh! Kita..., tetep rahasiain hubungan kita. Pasti bakal tetep aman, kok! Apalagi, wajah kita kan gak mirip. Ya, gak?" Kanza memberikan sebuah solusi.
Kenzo tampak berpikir sejenak. "Yakin, aman?"
"Rahasia hubungan kita bakalan aman, kalo salah satu dari kita gak gacor dan gak ada yang nguping kita saat ini!" Perkataan Kanza, spontan membuat Kenzo langsung menatap sekitar mereka. Lalu diikuti Kanza yang juga ikut menatap sekitar.
"Oke. Gue pastiin, gue gak akan gacor!" Kenzo mengangkat satu tangannya sebagai sumpah, bahwa dirinya benar-benar tidak akan membeberkan status hubungan keduanya.
"Gue juga!" Kata Kanza, ikut mengangkat satu tangannya.
...****...
"KANZA!!!" Alma berteriak menyahuti Kanza, ketika gadis itu berjalan sembari menatap ke sana ke mari memasuki area kantin.
Merasa ada yang memanggil namanya, Kanza mengangkat wajahnya serta celingukan ke sana ke mari. Dan akhirnya, tatapan Kanza langsung terkunci pada sepasang gadis yang sedang duduk di salah satu bangku kantin, sembari mengangkat tinggi-tinggi tangan mereka.
"Hei, ternyata kalian berdua di sini." Sapa Kanza, tepat ketika dirinya ikut mendudukkan diri di dekat Alma dan Kayla.
"Lo tadi diapain aja sama si Kenzo? Gak diapa-apain, kan?" Kayla bertanya cukup pelan pada Kanza. Gadis itu masih sangat ingat bahwa ketiganya tengah berada di tempat umum saat ini.
"Fyuh, untungnya enggak." Ujar Kanza, seraya terkekeh.
"Eh, kok lo bisa kenal sama si Kenzo? Temen?" Alma yang sedang menyeruput pop ice bertanya.
Ditanya seperti itu, tentu saja membuat Kanza gugup luar biasa. Namun, sebisa mungkin ia mencoba tenang.
"Te-temen?" Kanza mengulangi pertanyaan Alma. Gadis itu mengangguk. "Ya, bukan lah. Cuma yaaa, kenal aja. Samaaa, pernah punya sedikit kesalahpahaman sama dia. Makanya tadi dia narik gue ke belakang gedung sekolah,"
"Hah!? Dia narik lo ke belakang gedung sekolah, Za?" Kayla berucap sedikit berteriak, yang membuat beberapa siswa maupun siswi yang duduk di dekat mereka, refleks menoleh.
Untungnya, Kayla tidak menyebutkan nama Kenzo tadi. Untunglah...
"I-iya. Ngeselin banget, kan? Mana pas di koridor sama pas turun tangga banyak yang liatin, lagi. Duh, malu banget." Kanza menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Alma dan Kayla spontan terkekeh. "Ya, udahlah. Kesalahpahamannya udah beres, kan?" Tanya Alma, dan Kanza mengangguk. "So, tenang aja. Gak bakal kejadian lagi, kok." Tambah Alma, seketika membuat senyum Kanza mengembang.
"Yakin?" Tanya Kanza memastikan. Alma dan Kayla mengangguk berbarengan. "Kayaknya. Asal lo-nya aja jangan cari gara-gara sama tuh cowok. Kalo lo cari gara-gara, para fans-nya si Kenzo bakal nyerbu lo, asal lo tahu!" Ujar Kayla, Alma mengangguk.
"Hah!? Fans? Si Kenzo punya fans?"
Alma dan Kayla tertawa seraya geleng-geleng kepala. "Maklum, murid baru gak bakal tahu!" Ujar Alma. Kayla semakin dibuat tertawa disela memakan makanannya.
"Gini nih, ya. Si Kenzo bukan cuma punya fans cewek di sekolah ini! Tapi, ceweknya di mana-manaaa..." tekan Kayla. Membuat Kanza melongo tidak percaya.
Ternyata kembarannya yang super duper nyebelin plus usil ini punya fans!?
"Dan, lo harus inget satu hal, Za!" Perkataan Alma selanjutnya, mengenyahkan berbagai pikiran Kanza tentang Kenzo.
"Lo kalo deket-deket sama si Kenzo, hati-hati sama pawangnya!"
"Pawang?" Alma dan Kayla mengangguk serentak.
"Monika. Anak XI IPS 1 yang terkenal cewek paling alay, paling lebay, dan paling rempong seantero SMA Naruna. Pacarnya si Kenzo!"
^^^To be continue...^^^
__ADS_1