Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 56


__ADS_3

"Kok, gue kagak lihat si Haykal dari tadi? Ke mana tuh anak?" Celetuk Kenzo. Membuat Rio, Azka, Juna, dan Alex yang berada di satu meja dengannya langsung menoleh.


"Lagi nyamperin bininya kali," balas Juna, asal. Yang ditanggapi serius oleh Kenzo.


"Nah. Itu si Haykal!" Azka menoleh tepat ke belakang Kenzo, di mana Haykal tengah berada.


Cowok itu dengan tampang datar berjalan memasuki area kantin tanpa memedulikan pandangan aneh setiap siswa maupun siswi yang berada di kantin tersebut.


Merasa ada yang ganjil, Alex lantas mengerutkan keningnya dengan batin yang mulai bertanya-tanya. "Habis dari mana, Kal?" Tanya Alex, berusaha untuk mengenyahkan terlebih dahulu rasa penuh tanyanya.


Haykal mendudukkan diri di bangku kantin tepat di samping Alex. "Habis nyamperin Bianca," ujarnya lesu.


"Ooh." Jawab Kenzo, Rio dan Azka serempek. Sedangkan Juna, cowok itu mulai heboh sendiri akibat tebakannya yang ternyata benar.


"By the way, lo semua sadar gak sih, kalau tatapan anak-anak kek aneh gitu pas lihat si Haykal masuk ke kantin?" Alex yang mulai gatal membatin sedari tadi, akhirnya mulai meluapkan rasa keingintahuannya.


Kenzo, Juna, Azka, Rio, pun termasuk Haykal, mulai mengedarkan perhatian mereka ke arah sekitar. Dan benar saja seperti yang Alex katakan, semua siswa maupun siswi seakan bergosip membicarakan sesuatu dengan sesekali mencuri pandang pada Haykal.


"Wah... Nyari gara-gara mereka," Kenzo yang geram, perlahan mulai bangkit dari posisinya. Dengan kaki yang masih agak pincang, cowok itu berjalan ke arah salah satu meja yang ditempati beberapa orang cowok seangkatannya.


Setibanya Kenzo di sana, salah satu tangannya menggebrak meja dengan sangat nyaring. Sanggup membuat seisi kantin yang pada dasarnya ribut langsung hening.


"Heh. Lagi ngomongin apa, sampe-sampe lo terus ngelihatin ke bangku kita? Ada masalah lo sama temen gue?"


Salah satu cowok dari kelas XI IPA 1 yang ber-name tag Andri, lantas terkekeh sinis menanggapi pernyataan Kenzo. "Lo bilang apa? Temen? Orang brengsek kayak gitu lo panggil temen?"


Juna sudah hampir ikut bangkit dari posisi dan meluapkan amarah, jika bukan Rio dan Alex yang segera menghentikannya.


Kenzo menarik napasnya dalam-dalam. "Siapa yang lo panggil brengsek?"


Andri lagi-lagi terkekeh sinis. "Ya, siapa lagi? Si Haykal-lah. Gue denger, ceweknya hamil dan sekarang lagi dipanggil di ruang kepsek. Kalau bukan dia yang hamilin, terus siapa?"


"B*ngsat! Temen gue bukan orang kayak gitu!" Emosi yang sedari tadi terus Azka tahan, pada akhirnya mulai meluap seiring dengan Andri yang seakan terus mengompori.


Tubuhnya yang semula masih terdiam diri di bangku kantin, langsung menerobos ke arah cowok tadi, seraya menarik kasar kerah seragamnya.


Alex, Rio dan Juna, ikut bangkit dari posisi mereka. Kecuali Haykal yang telah lebih dulu meninggalkan kantin untuk kembali menghampiri Bianca yang katanya tengah dibawa ke ruang kepala sekolah.


"Ka, udah, Ka! Orang kayak dia gak perlu diladenin. Mending kita lihat ke ruang kepsek. Si Haykal udah ke sana duluan soalnya," Alex mencengkram salah satu bahu Azka, mencoba menghentikan cowok itu agar tidak berakhir bodoh.


Merasa ucapan Alex barusan ada benarnya, Azka mulai menghempas kerah seragam Andri, kemudian melenggang meninggalkan kantin, diikuti teman-temannya yang lain.


...****...


Stevan menghela napas gusar entah untuk yang kesekian kalinya. Tatapan matanya sedari beberapa saat lalu belum juga beralih dari Bianca yang pada saat ini tengah terduduk kaku di atas kursi yang berseberangan dengan meja kebesarannya.


Kepala gadis itu tampak menunduk dalam, dengan air mata yang terus mengalir dengan derasnya. Tubuhnya yang rapuh pun ikut bergetar. Ia benar-benar sudah tamat kali ini!


Ya, tamat! Bianca benar-benar sudah tamat! Kepala sekolah, bahkan seluruh siswa SMA Naruna sudah mengetahui soal dirinya yang tengah hamil! Kini semua orang pasti sangat membencinya, atau bahkan merasa jijik ketika melihatnya.


Pantas teman-teman sekelasnya yang dahulu begitu baik, walau ia tidak berteman dekat dengan mereka, mendadak berubah. Sikap dingin serta tatapan sinis merendahkan terus mereka layangkan pada Bianca.


Tuhan...


Mengapa harus seperti ini? Apakah hamba-Mu ini kurang baik? Apakah penderitaan dulu yang Engkau berikan padaku belum cukup? Kumohon, tolong hamba!


Brak!


Suara benturan keras yang dihasilkan dari sebuah map yang Stevan lempar di atas meja membuat Bianca, serta seorang wanita yang tak lain adalah dokter yang telah memeriksa Bianca sebelumnya, dibuat berjengit saking kagetnya.


"Sudah sampai seperti ini, kamu masih berani ke sekolah? Apa kamu tidak malu?" Stevan lagi-lagi melayangkan tatapannya kepada Bianca. Sayangnya, bukan lagi tatapan memelas seperti tadi. Melainkan tatapan nyalang yang sukses membuat tubuh Bianca kian bergetar.


Stevan mencoba menarik napasnya dalam-dalam seraya melonggarkan ikatan dasi yang terasa begitu mencekik lehernya. Tak lama setelahnya, tatapannya kembali pada Bianca.


"Saya pikir, kamu adalah murid baik-baik. Pendiam, hormat terhadap guru, dan juga berprestasi." Stevan lagi-lagi menghela napasnya, dengan kedua kaki jenjangnya yang berjalan mengelilingi tubuh Bianca.


Bianca semakin tidak dapat berkutik. Mulut gadis itu bahkan dibuat semakin terkatup rapat dengan air mata yang masih belum juga berhenti.


"Ternyata saya salah menilai kamu." Lanjut Stevan, kemudian kembali mendudukkan dirinya di tempat semula.


"Telepon orangtua kamu. Saya ingin mendengar penjelasan dari mereka."


Bianca lagi-lagi terdiam tak dapat melakukan apa pun. Gadis itu bingung harus melakukan apa!? Di satu sisi, kepala sekolahnya menyuruh Bianca menelepon orangtuanya, sedangkan sang papa saja sudah tahu akan hal ini.


Ralat. Bahkan, papanya saja sudah resmi menikahkannya pada lelaki yang sudah membuatnya seperti ini.


Lantas, apa yang harus Bianca katakan jika ia menghubungi papanya? Dan, alasan apa yang harus ia katakan pada Pak Stevan terkait dirinya yang kini bukan hanya berstatus seorang pelajar?


"Kenapa diam? Atau mau saya yang panggilkan?" Bianca refleks menggelengkan kepalanya sesaat mendengar sahutan lain dari Stevan.


"Saya—" ketika Bianca hendak bersuara setelah hampir cukup lama ia terdiam, suara seseorang dari arah lain sukses menghentikan niatannya, sekaligus membuat perhatian Bianca serta Stevan beralih ke sumber suara tersebut.


"Saya yang akan jelaskan semuanya. Bapak ingin sebuah penjelasan bukan? Biar saya yang jelaskan!" Dia, Haykal. Cowok itu dengan terburu-buru berlari menuju ruang kepala sekolah tanpa memedulikan pandangan para murid di sepanjang lorong kelas yang terus tertuju padanya.


Dan ketika setibanya ia di ruangan tersebut, dengan tanpa permisi, Haykal langsung menerobos masuk begitu saja. Tidak memedulikan beberapa guru yang sempat melemparkan beberapa pertanyaan padanya.


Stevan mengangkat salah satu alisnya menatap Haykal dari atas sampai bawah. "Anak kelas mana kamu? Mau apa ke ruangan saya? Keluar!"


Bukannya keluar seperti yang diucapkan oleh Stevan, Haykal justru melangkahkan kakinya semakin masuk ke dalam dengan napas yang tersengal.


"Saya yang bertanggung jawab atas Bianca!" Ucap Haykal, sedikit membuat Stevan bertanya-tanya dalam hati maksud perkataan dari salah seorang siswanya.


"Maksud kamu?"


Haykal mencoba menarik napasnya terlebih dahulu sebelum ia akan melontarkan perkataannya. Namun sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk melirik ke arah Bianca. Dan siapa sangka, ternyata gadis itu juga tengah menatapnya dengan sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya. Haykal tahu betul maksud dari gestur tubuh gadis itu. Sayangnya, Haykal tidak bisa terus diam seperti ini.


Angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam. Pada akhirnya, rahasia tidak selamanya dapat disembunyikan. Mungkin, ini adalah cara yang terbaik dari segala cara yang ada. Yaitu, dengan mengatakan segalanya.


"Saya suaminya Bianca,"


Suasana di sekitar mereka sempat hening beberapa saat. Tak lama kemudian, terdengarlah suara gelak tawa dari Stevan, selaku Kepala Sekolah dari SMA Naruna.


"Suami? Kamu masih pelajar sekolah, berani-beraninya kamu menyebut diri sendiri dengan sebutan suami? Mau jadi apa kamu?"


Haykal terdiam sejenak sebelum ia memilih untuk melanjutkan kalimatnya. "Saya gak bercanda, Pak. Kalau Bapak gak percaya, Bapak bisa lihat buktinya sekarang juga. Ada di hape saya sama di hapenya Bianca. Kita sudah nikah."


Kini giliran Stevan yang terdiam. Raut wajah beliau mendadak suram dengan kepalan tangan yang siap ia layangkan pada siapa pun yang telah berani mengusiknya.


"Jelaskan!"


...****...


"Huwaa! Akhirnya kenyang jugaaa!"


"Habis ini ke kelas, ya! Gue ngantuk,"


Kanza menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Alma dan juga Kayla yang telah lebih dulu menghabiskan makanan mereka. Sedangkan dirinya, baru juga habis seperempat. Mereka doyan, apa laper?

__ADS_1


"Tungguin gue dululah, weh! Gue belom habis," Kanza mengerucutkan bibirnya sebal, kemudian kembali memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


Alma menyengir tanpa dosa, sedangkan Kayla malah menguap dengan sepasang bola mata yang mulai berair. Mungkin efek perut kenyang, makanya ia menjadi demikian.


Tak butuh waktu sampai lima menit lamanya, nasi goreng di piring Kanza akhirnya telah ludes habis. Buru-buru Kanza meminum air putih kemasan cup yang berada tak jauh dari letak piringnya berada.


"Aah... Kenyang! Yuk, ke kelas!" Ajak Kanza, penuh semangat. Namun anehnya, kedua sahabatnya malah terlihat malas untuk bangkit. Sehingga membuat Kanza yang tadinya mulai berdiri, kembali mendudukkan diri di tempat semula.


"Ish! Kok, pada diem, sih? Katanya mau ke kelas,"


Alma dan Kayla refleks menghela napas dengan pandangan ke arah lain. "Gue pengin pulang aja, deh. Habis ini pelajarannya Pak Ucup, males banget,"


Kayla mengangguk setuju atas perkataan Alma. "Tiba-tiba gue pengin ke UKS aja, pengin tidur."


"Dih! Banyak banget alesan lo berdua! Nih, ya, gue kasih tahu. Walaupun pelajarannya Pak Ucup itu gak pernah masuk ke otak, tapi itu pelajaran Matematika, loh! Pelajaran pokok! Mau gak mau, suka gak suka, harus tetep dijalanin." Ucapan panjang lebar dari Kanza semakin membuat Alma dan Kayla ogah untuk kembali ke kelas mereka.


Tetapi, seperti yang dikatakan oleh Kanza di akhir kalimatnya; mau gak mau, suka gak suka, harus tetap dijalanin. Resiko untuk orang-orang yang gak suka Matematika.


"Ya udah, deh. Tapi—" Alma menghentikan ucapannya, sesaat ketika indera pendengarnya yang teramat tajam ini mendengar sesuatu yang sanggup membuat dirinya seketika naik pitam.


"Eh, barusan kalian denger, gak, orang-orang ngomong apa?" Alma menolehkan kepalanya ke arah Kayla, kemudian dilanjut pada Kanza.


"Denger apaan?"


Alma menempelkan salah satu jari telunjuknya di permukaan bibirnya. Menyuruh kedua sahabatnya untuk bungkam, dan lebih fokus pada apa yang ingin mereka dengar.


"Gue gak nyangka, ternyata Si Haykal berani juga ngicip-ngicip Si Bianca! Gue pikir, Si Bianca cewek baik-baik. Gak mungkin mau diajak begituan. Eeh, nyatanya apa?! Cewek kalau udah ketemu cowok ganteng, ujung-ujungnya mereka tetep lupa daratan! Iya, gak?"


Masing-masing sepasang bola mata ketiga gadis itu langsung membulat, tatkala suara gosip di tengah-tengah kantin terasa lebih jelas dari sebelumnya.


"Ini ... maksudnya apa? Me-mereka udah tahu soal—" bisikkan yang lontarkan oleh Kayla refleks terjeda, ketika Kanza mencoba mengode gadis itu untuk kembali diam dan lanjut mendengarkan.


"Gue pikir, tuh cewek beda dari cewek kebanyakan. Makanya gue selalu sungkan sama dia. Tapi kalau ujung-ujungnya udah pernah dicobain, kenapa enggak?"


"Anj*ng, b*ngs*t! Lo mau ikut nyobain? Udah bekas, Man! Udah longgar!"


Kanza lantas menggebrak meja, merasa apa yang tengah para siswa bicarakan saat ini terlalu vulgar dan sangat merendahkan. Tindakannya barusan sanggup membuat sesisi kantin lantas menoleh padanya sekilas. Setelahnya, mereka kembali pada kesibukan mereka.


Saat Kanza hendak mendatangi meja yang berisi siswa-siswa brengsek yang telah merendahkan Bianca, salah satu tangan Alma dengan cekatan mencengkram pergelangan tangannya, sehingga menghentikan Kanza dari apa yang ingin ia lakukan.


Kanza melirik Alma dengan tatapan datar, seolah mengode gadis itu untuk melepaskan cengkraman tangannya. Sayangnya, tatapan dari Kanza tak membuat Alma lantas terintimidasi. Gadis itu malah semakin mencengkram kuat pergelangan tangan Kanza, seraya menggeleng pelan kepalanya.


"Jangan, Za!"


"Tapi, Ma—"


"Denger-denger, Si Bianca lagi di ruang kepsek. Jangan-jangan udah mau dikeluarin?"


Kanza, Alma, dan juga Kayla refleks saling pandang sesaat suara dari beberapa siswa yang bergosip tadi kembali terdengar. Tak ingin berlama-lama lagi, ketiga gadis itu pun mulai beranjak dari bangku kantin menuju ruang kepala sekolah seperti apa yang dibicarakan siswa-siswa tadi.


...****...


"Ck! Lo yakin, Zo, nguping di sini bakal kedengeran?" Rio menyahut pelan pada Kenzo yang sedari beberapa saat yang lalu disibukkan dengan aktivitas barunya.


Ya. Seperti yang dikatakan oleh Rio. Cowok itu tengah berusaha menguping di salah satu jendela ruang kepala sekolah yang tidak tertutup rapat.


Samar-samar Kenzo dapat sedikit mendengar suara dari dalam ruang kepala sekolah yang ia yakini bahwa pemilik suara tersebut tak lain adalah Haykal.


"Mereka ngebahas apaan, Zo?" Juna yang mulai kepo pun akhirnya menyahut. Bukannya langsung menjawab pertanyaan dari sang sahabat, Kenzo justru menyuruh cowok itu untuk tetap diam terlebih dahulu.


Tak selang berapa lama, sepasang bola mata Kenzo langsung membulat hampir sempurna. Perhatian yang semula masih tertuju pada apa yang ingin ia dengar, langsung beralih menatap satu-persatu teman-temannya yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang sama.


Kenzo mendengus dengan raut wajah yang mulai memucat. "Kalau barusan kuping gue gak salah denger, Si Haykal barusan jujur sama Pak Steven kalau dia yang bertanggung jawab atas Bianca, dan dia juga bilang kalau dia sama Bianca udah nikah."


"Hah?! Serius lo?" Pekik keempat teman-temannya. Refleks Kenzo memberikan kode kepada mereka untuk memelankan suara.


Alex, Juna, Azka, dan Rio berdeham pelan, menyadari suara mereka barusan bisa saja terdengar sampai ke dalam ruangan kepala sekolah. Keempatnya lantas saling terdiam setelahnya, dengan pikiran yang mulai melayang ke mana-mana.


"Gimana kalau—"


"Heh, kalian!" Suara pekikan nyaring dari arah lain mengagetkan Kenzo beserta keempat teman-temannya.


Ketika kelimanya menoleh, sudah ada Pak Samsul, guru BK yang terkenal paling galak kedua setelah Pak Ucup, sang wali kelas. Kenzo dkk refleks menelan ludah masing-masing tatkala Pak Samsul dari jarak yang terbilang lumayan jauh, berjalan gontai dengan raut wajah ditekuk menuju mereka berlima.


"Cabut, gaes! Dia mau ke sini! Cabut, cabut, cabuttt!" Juna mulai heboh, kemudian diikuti teman-temannya yang berlari seakan menyetujui perkataannya.


Sayangnya, mereka melupakan satu hal. Kenzo tidak bisa berlari, dikarenakan kakinya yang masih pincang, sehingga cowok itu hanya bisa berteriak memanggil teman-temannya yang telah lebih dulu meninggalkannya.


Beruntung, Juna yang setia kawan kembali berbalik menghadap Kenzo, kemudian menggendong tubuh sahabatnya ke atas punggung lebarnya. Setelahnya, kedua cowok itu mulai melesat menyusul yang lain sebelum Pak Samsul lebih dulu menangkap mereka.


...****...


"Saya gak tahu harus mengatakan apa lagi sama kalian berdua. Silakan kalian keluar!" Stevan mengurut keningnya yang terasa begitu pening setelah hampir setengah jam lamanya ia mendengarkan penjelasan yang menurutnya tak masuk di akal yang dijabarkan oleh Haykal.


Dia bingung harus bereaksi seperti apa?! Siswi dan siswanya menikah secara diam-diam dalam keadaan masih berstatus sepasang pelajar. Bahkan parahnya, siswinya sudah hamil. Haykal mengatakan, mereka menikah karena kesalahan. Dan yang dapat Stevan simpulkan adalah, kemungkinan besar mereka melakukan hubungan di luar batas yang mengakibatkan keduanya harus menikah.


Haykal tak lagi berbicara banyak kepada kepala sekolahnya. Perlahan, cowok itu mulai bangkit dari posisi duduknya yang bersebelahan dengan Bianca, dan mengajak gadis itu untuk ikut serta keluar dari dalam ruang kepala sekolah.


"Kami duluan, Pak—"


"Tunggu!" Stevan menyahut terburu-buru dengan fokus yang tertuju pada meja kebesarannya.


Mendengar sahutan dari sang kepala sekolah, Haykal lantas menghentikan langkah kakinya, pun termasuk Bianca yang sedari tadi hanya diam dan menunduk.


"Besok pagi, panggil orangtua kamu ke mari! Dan untuk kamu, Bianca," Stevan menjeda kalimatnya dengan fokus yang beralih menatap tajam siswinya.


"Kamu di drop out." Lanjutnya. Sanggup membuat tubuh gadis itu lantas membeku dengan sepasang retina yang melebar. Setetes air mata kemudian jatuh menuruni salah satu pipi mulusnya.


"Sekarang kalian boleh keluar!"


...****...


Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, dan saatnya seluruh murid-murid SMA Naruna menyelesaikan sesi belajar mereka dan bersiap untuk segera pulang.


Bukannya merasa bebas dan gembira seperti di jam pulang sebelum-sebelumnya, Kanza, Alma, dan Kayla, malah terlihat murung dengan sesekali akan menghela napas.


Bukan hanya ketiga gadis itu saja. Kenzo, Alex, Juna, Rio dan Azka bahkan juga bersikap demikian. Kelima cowok itu seakan ikut merasakan gelisah akibat kejadian tak terduga hari ini yang menimpa salah satu sahabat mereka.


Bahkan selama berjam-jam ini, Haykal tidak juga kembali ke kelasnya untuk sekadar mengambil tas. Semakin membuat Kenzo dkk dilanda gelisah setengah mati.


"Za! Kira-kira ... menurut lo Bianca sekarang gak lagi kenapa-kenapa, 'kan? Gue takut terjadi sesuatu sama dia," Alma menarik pelan lengan blazer Kanza sampai membuatnya seketika menoleh.


Kanza menarik napasnya dalam-dalam, mencoba untuk menghilangkan pikiran negatif yang lagi-lagi bersarang di kepalanya. "Gue juga takut dia kenapa-kenapa. Tapi gue harap, sih, dia baik-baik aja. Gue yakin, Si Haykal pasti gak bakal biarin Bianca kenapa-kenapa."


Kini giliran Kayla yang menarik napas dalam-dalam, kemudian menganggukkan kepalanya beberapa kali. Seulas senyum tipis lantas terbit di wajah cantiknya.


"Gue yakin, dia baik-baik aja, kok. Seperti yang barusan Kanza bilang, masih ada Si Haykal. Pasti Bianca baik-baik aja,"

__ADS_1


Terlalu lama termenung di dalam kelas, membuat beberapa remaja itu tidak sadar hanya tinggal merekalah yang berada di kelas tersebut.


Ya. Yang lainnya sudah lebih dulu pergi meninggalkan kelas menuju parkiran sekolah, maupun yang langsung melalui gerbang sekolah.


"Ya udah. Sekarang kita pulang. Buat kabar yang selanjutnya, entar kita tanya lagi sama mereka berdua. Gimana?" Alex menyahut sembari menyampirkan tas di salah satu pundaknya.


Kenzo mengangguk menyetujui ucapan Alex. "Sekarang kita pulang."


...****...


Waktu berjalan seakan begitu cepat sampai tak sadar telah berganti hari. Pagi hari yang terbilang cukup cerah ini tak terasa demikian untuk beberapa orang yang merasakan kegelisahan dan berbagai masalah lainnya yang terjadi dalam hidup mereka.


Contohnya, Maya. Wanita dengan usia yang hampir mendekati angka kepala lima tersebut diharuskan berdiri kaku di depan sebuah bangunan ruang kepala sekolah putranya yang seharusnya di jam seperti ini ia masih disibukkan dengan urusan kantor.


Omong-omong soal Maya, alias mamanya Haykal, setelah hari di mana putranya resmi menikah, wanita itu memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya di Bekasi, dan memilih untuk lebih disibukkan pada bisnis lain yang berada di Jakarta.


Alasan utamanya sudah pasti karena Maya tidak ingin mengulang kejadian serupa seperti dulu, di mana dirinya memilih melepaskan tanggung jawab merawat Haykal, dan lebih fokus pada egonya.


Seperti yang diceritakan oleh Haykal kemarin sore padanya, wanita itu pun setuju untuk datang ke sekolah putranya untuk menemui dan menjelaskan beberapa detil penting yang mungkin belum diketahui oleh kepala sekolah SMA Naruna.


"Mama ... beneran gak lagi repot, 'kan?" Haykal lagi-lagi melayangkan pertanyaan itu yang pada dasarnya telah ia katakan kepada Maya berulang kali.


Maya menolehkan kepalanya menatap raut wajah datar sang putra. Seulas senyum tipis kemudian terbit di wajah cantiknya yang telah hampir menua.


"'Kan, sudah Mama bilang berkali-kali. Mama sama sekali gak repot. Justru Mama seneng kamu masih mau memberikan satu kesempatan buat Mama bertanggung jawab atas kamu. Ya, walaupun bukan dalam hal yang begitu baik, tapi Mama tetap bersyukur."


Haykal sempat terdiam sejenak mendengar penuturan lembut dari sang mama. Hatinya yang biasanya dingin mendadak tergerak hampir terenyuh.


Beginikah rasanya dipedulikan dan selalu diprioritaskan oleh sosok mama?


Betapa bagusnya jika hari ini tidak langsung berakhir begitu saja. Haykal masih ingin merasakan hangatnya memiliki sosok ibu yang begitu menyayanginya.


"Maafin Haykal, Ma. Maaf udah ngecewain Mama."


Maya menggelengkan kepalanya merasa ucapan Haykal tak seharusnya ia katakan. "Kamu gak salah apa-apa. Justru Mama yang salah karena sudah menelantarkan kamu. Mama egois. Mama gak pantas dapat gelar seorang ibu kalau pada akhirnya Mama telah menjerumuskan kamu ke dalam suatu keburukan.


"Sekali lagi Mama minta maaf! Karena kegigihan Mama, Rey pergi untuk selamanya dan kamu menjadi seperti ini. Mama benar-benar gak becus jagain kalian." Lirih Maya. Tetes demi tetes air mata berjatuhan dari pelupuk matanya.


Melihat sang mama yang lagi-lagi menjatuhkan air mata, Haykal berusaha menghapus jejak air matanya tersebut dengan mengusapnya perlahan menggunakan punggung jari telunjuknya. Seulas senyuman tulus terbit di wajah tampannya.


"Kalau begitu, kita berdua yang salah. Ekhem. Gimana kalau Mama langsung maduk ke dalam? Takutnya Pak Stevan udah nungguin Mama dari tadi."


Maya terkekeh pelan sesaat merasakan usapan lembut di wajahnya diiringi suara Haykal yang terdengar begitu halus. Tak lama kemudian, wanita itu mengangguk pelan sebagai jawaban atas ajakan dari putranya.


"Apa pun keputusannya nanti, Mama akan tetap mendukung kamu dan melindungi kamu."


...****...


"Jadi ... kejadiannya seperti itu. Kami sebagai orangtua hanya bisa pasrah dan menyetujui kemauan anak-anak yang memutuskan untuk menikah muda. Walau pada awalnya saya sempat kecewa atas tindakan mereka yang melebihi batas wajar, tetapi bagaimanapun juga, anak tetaplah anak yang masih perlu didikan orangtua.


"Dan sebagai contoh, saya sangat menyesal tidak menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak saya, sehingga kejadian ini pun terjadi. Saya mohon maaf atas apa yang telah anak saya lakukan di sekolah ini." Maya menundukkan wajahnya tepat di hadapan Stevan, sesaat dirinya telah usai menyelesaikan sedikit penjelasan kepada beliau, selaku kepala di sekolah tersebut.


Stevan tak langsung membalas ucapan Maya. Pria yang usianya sekitar empat puluh tujuh tahunan tersebut hanya dapat menghela napas panjang, kemudian mengangguk-angukkan kepalanya.


"Saya paham bagaimana perasaan Anda. Tetapi, dengan berat hati, saya dan juga para guru sudah menggelar rapat darurat kemarin, dan memutuskan untuk tidak mempertahankan Haykal, maupun Bianca dari sekolah ini. Saya sebagai kepala sekolah sangat-sangat minta maaf atas keputusan ini"


Maya tersenyum miris seraya mengangguk beberapa kali. "Saya mengerti. Terima kasih karena sudah mau membiarkan anak-anak saya bersekolah di sini.


"Dan, sampai bertemu lagi. Selamat siang!"


...****...


"Kal! Lo ... beneran mau berhenti?" Kenzo beserta Alex, Juna, Rio dan Azka, menatap tidak percaya ke arah Haykal yang tampak begitu baik-baik saja setelah apa yang telah terjadi padanya.


"Maunya sih, enggak. Tapi yah, mau gimana lagi? Gue di drop out karena kesalahan gue sendiri. Anggap aja ini karma buat gue. Ya, gak?" Haykal masih sempat-sempatnya tersenyum jenaka, padahal keadaan sudah sampai seperti ini.


Azka menatap Haykal dengan sepasang bola mata yang mulai berkaca-kaca. Tak berapa lama setelahnya, cowok itu berhamburan memeluk jantan tubuh sahabatnya yang tak akan lagi dapat ia lihat di antara jajaran para siswa.


"Gue gak ridho demi apa pun, Kal! Lo sahabat gue, tapi lo malah udah mau lulus duluan. Kalau gue kangen gimana?" Azka mulai menangis sejadi-jadinya, membuat teman-temannya ikut terhanyut dalam kesedihan, namun sebisa mungkin mereka tutupi dengan tawa dan canda.


"Elah, Ka! Si Haykal cuman kagak sekolah aja, bukan mau pergi ke luar angkasa yang jauh di sana. Lebay amat lo!" Juna mengucek pelan matanya yang ikut berair, kemudian menarik seragam sekolah Azka, sampai membuat sang empunya langsung menjauh dari Haykal.


Azka menepis tangan Juna dari seragam sekolahnya. Raut wajahnya tampak cemberut, masih sama seperti sebelumnya.


"Maafin gue, Kal. Gara-gara lo temenan sama gue, lo malah terjerumus sama hal yang kayak gini. Gue bener-bener—"


"Apaan sih, lo, Zo! Berhenti nyalahin diri lo sendiri! Jangan mentang-mentang para guru sering mojokin lo yang kelewat bandel, bukan berarti gue kayak gini juga karena lo! Gue kayak gini juga karena ulah gue sendiri. Awas lo nyalahin diri lo lagi! Gue sleding lo!" potong Haykal, refleks membuat Kenzo terkekeh pelan.


"Lo lagi nenangin gue, apa lagi ngatain gue?"


Haykal menyengir, kemudian berjalan mendekat ke arah Kenzo, dan memeluk jantan tubuh sang sahabat seraya menepuk pelan punggung tegapnya. Tak berlangsung lama, setelahnya, perhatian cowok itu beralih pada teman-temannya yang lain, dimulai dari Rio, Azka, Juna, kemudian dilanjut pada Alex dan Kenzo.


"Makasih udah mau jadi sahabat gue. Padahal, keburukan dan kesalahan gue banyak banget. Tapi, lo semua masih mau-mau aja nerima gue,"


"Kita semua gak peduli soal baik buruknya lo, karena kita bukan malaikat yang akan mencatat baik buruknya seseorang. Kita cuma sekumpulan anak-anak yang mencoba mencari jalan kebahagiaan, dikala keadaan sebenarnya gak pernah memberikan suatu kebahagiaan buat kita." Rio menepuk pelan bahu Haykal, mencoba memberikannya semangat.


Bukan hanya untuk cowok itu saja, melainkan untuk semuanya. Pun termasuk dirinya.


Rio yang sering sekali dibeda-bedakan oleh kedua orangtuanya karena tidak bisa seperti sang kakak yang selalu penurut.


Juna yang tidak pernah merasakan hangatnya keluarga akibat kedua orangtuanya yang sibuk berkarir di bidang masing-masing.


Azka yang tidak pernah tahu siapa kedua orangtuanya dari sejak lahir, dan selalu menutupi kesedihannya seorang diri.


Alex yang selalu dituntut sempurna oleh orangtuanya agar bisa mewarisi harta warisan keluarga. Ditambah dengan lingkungan keluarganya yang keras seringkali membuat Alex depresi, walaupun hanya sesaat.


Dan Kenzo. Cowok sejuta tawa, namun memiliki luka dan tanggung jawab yang begitu besar secara bersamaan dikala usianya yang masih terbilang sangat muda.


Diharuskan menjadi sosok pelindung bagi saudari kembarnya yang lemah tak berdaya, Kenzo diharuskan mampu dalam melakukan segala hal. Dan mencoba sebisa mungkin untuk tetap kuat, walau pada dasarnya ia juga lemah. Terkadang, ia merasa tidak mampu untuk menjaga Kanza dari orang-orang yang tidak menyukainya.


Dan untuk Haykal, terlalu banyak yang harus dijabarkan tentang laki-laki itu. Perceraian kedua orangtua, kehilangan sosok kakak, dan tidak mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orangtua. Jika kalian berada di posisi Haykal, bisakah kalian melaluinya?


"Semoga untuk kedepannya, ini akan menjadi pelajaran buat kita semua, termasuk buat lo, Kal. Semoga setelah hari ini, lo masih tetep sama kayak dulu. Menjadi Haykal yang selalu ceria, gak peduli walau kenyataannya hidup lo sedang gak baik-baik aja." Alex menyahut penuh kewibawaan. Teman-temannya yang mendengarkan pun menyetujui perkataannya dengan sesekali mengangguk-angukkan kepala.


"Makasih, Lex! Makasih, Zo, Jun, Yo, Ka! Gue bener-bener bersyukur punya sahabat kayak kalian. Makasih buat semuanya. Dan kayaknya, gue harus pulang sekarang. Gue gak mau bikin Nyokap gue nunggu lama."


"Hati-hati di jalan, Kal!"


Haykal tersenyum ramah ke arah satu-persatu teman-temannya. Tak ingin terus membuang-buang waktu lagi, cowok itu pun perlahan mulai memundurkan langkah kakinya menjauh dari kelima teman-temannya yang telah begitu berjasa pada hidupnya.


"Gue duluan, ya!" Pamit Haykal. Setelahnya, cowok itu benar-benar melenggang pergi dari hadapan Kenzo, Alex, Juna, Rio, serta Azka. Kepergian Haykal dari sekolah ini akan terus menjadi luka terbesar bagi kelima cowok itu.


Selamat tinggal SMA Naruna! Makasih udah sempet mau nampung gue selama hampir satu setengah tahun ini. Dan maaf, gue gak bisa bertahan sampai akhir di sekolah ini gara-gara kesalahan gue sendiri. Kedepannya, gue akan selalu ingat pelajaran apa yang gue dapet hari ini.


^^^To be continue....^^^


Aduhh! Updatenya agak siangan ya, maaf! Banyak kerjaan rumah soalnya. Dan maaf banget aku updatenya cuma setiap hari minggu. Karena sekarang sekolah udah mulai normal lagi, dan pulang sekolah tuh suka sore. Baterai hp juga suka tinggal separuhnya lagi. Btw, aku ngetiknya di hp, jadinya yah, harus bagi-bagi waktu antara dipake di sekolah sama di rumah. Jadinya yah, kadang gak kebagian karena baterainya abis, atau karena dipke sama yang lain.

__ADS_1


Btw, gimana menurut kalian tentang episode kali ini?


__ADS_2