Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 12


__ADS_3

...Pesan untuk episode kali ini sampai seterusnya....


..."Jangan melihat seseorang hanya dari satu sisi!"...


.......


.......


.......


"Hai, Bii!" Alia datang menyapa Bianca yang baru saja tiba di depan gedung club malam.


Bianca menatap bangunan di hadapannya dengan sedikit rasa cemas. Dirinya tidak pernah datang ke club malam apalagi mengenakan pakaian minim seperti ini. Dirinya benar-benar terlihat seperti seorang gadis nakal.


Apalagi riasan wajahnya yang full, karena Alia yang mendandaninya. Rambutnya pun sengaja digerai, menambah kesan seksi di mata kaum adam.


"Kita pulang aja, yuk! Ini udah malem banget, gue takut." Bianca menarik ujung dress Alia. Terlihat jelas sekali bahwa gadis itu tidak ingin masuk ke tempat terkutuk di hadapannya.


"Takut kenapa? Gak ada apa-apa, kok. Tenang aja. Kan ada gue!" Alia lantas menarik lengan Bianca dan memaksa gadis itu masuk ke dalam sana.


Sampai pada akhirnya keduanya tiba di dalam, suara dentuman musik yang terdengar memekakkan telinga seakan menyambut kedatangan mereka. Laki-laki maupun perempuan terlihat memenuhi ruangan itu.


Ada yang hanya sekedar minum, menari, dan bahkan ada juga yang saling bercumbu.


Bianca langsung memejamkan kedua matanya melihat adegan itu. Dirinya jijik sekaligus takut. Bianca ingin keluar secepatnya dari tempat ini.


"Alia, gue pulang aja, yaah... Gue gak suka di sini," Bianca menghentikan langkah kakinya, membuat Alia spontan menghentikan langkahnya.


Alia berdecih seraya memutar tubuhnya menghadap Bianca. Raut wajahnya pun berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Tatapannya begitu dingin dan menusuk.


Bianca yang terkejut pun mulai melepaskan tangannya dari genggaman Alia. "Lo tuh, sok suci banget, sih! Bisa diem gak!?"


"A-alia! Ma-maksud lo apa!?" Bianca tidak pernah menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Alia. Gadis itu menatap Alia dengan tatapan tidak percaya.


Tidak lama kemudian, dua orang gadis dari belakang Alia datang. Dan itu adalah Agnes dan Saras.


Bianca semakin dibuat terkejut. Jangan-jangan...


"Selamat! Akhirnya lo masuk ke kandang gue!" Agnes bertepuk tangan seraya menampilkan senyum jahat di wajahnya.


Tatapan Bianca langsung beralih menatap Agnes. Gadis itu menatap miris Agnes dan juga Alia yang saling bertos ria. Air mata Bianca sudah mengalir, mengetahui bahwa selama ini ia ditipu oleh Alia, dan sekarang dirinya malah masuk ke dalam perangkap Agnes dan kedua temannya.


Sial!


Kenapa Bianca begitu polos? Kenapa dirinya tidak bisa membedakan, mana yang tulus dan mana yang hanya berpura-pura?!


"Kenapa lo bisa sejahat ini sama gue, Al?"


Alia menatap sinis sekaligus berdecih pada Bianca. "Kenapa lo bilang? Kurang jelas selama ini, hah? Lo nyebelin! Makanya gue jahat sama lo!"


"Tapi gue punya salah apa sama lo? Kenapa lo semua selalu jadiin gue mainan kalian?" Perkataan Bianca yang menyedihkan berhasil membuat Alia terdiam. Apalagi Saras yang memang tipikal jarang bicara. Gadis itu semakin dilanda rasa bersalah, padahal ia tidak pernah campur tangan soal masalah Agnes dan Bianca. Dia hanya ikut Agnes saja.


"Lo pengen tahu, kenapa gue benci banget sama lo?" Agnes berjalan ke hadapan Bianca. Gadis itu menatap dingin sepasang bola mata Bianca yang berkaca-kaca.


"Nama nyokap lo Rianty, kan? Lo tahu, penyebab asli kematian Nyokap lo? Bahkan, Bokap lo aja kayaknya gak tahu dia mati gara-gara apa?"


"Lo tahu dari mana kalo Nyokap gue namanya Rianty? Dan lo tahu dari mana kalo Nyokap gue udah meninggal?" Agnes berdecih seraya memutar bola matanya.


"Asal lo tahu aja, Nyokap lo adalah selingkuhan Bokap gue!"


Bagai diserang petir di malam hari, tubuh Bianca hampir saja limbung, jika dirinya tidak segera berpegangan pada punggung sofa di belakangnya. Raut wajah gadis itu berubah pucat dengan sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Enggak! Itu gak mungkin. Lo pasti asal ngomong aja. Iya, kan?" Bianca meracau seraya terus menggelengkan kepalanya.


Agnes menarik Bianca agar berhadapan dengan dirinya. "Denger gue baik-baik! Nyokap lo meninggal karena kecelakaan beruntun, tapi di dalam mobil itu juga ada bokap gue! Bokap gue selamat, sedangkan Nyokap lo meninggal di tempat!" Agnes menjeda ucapannya untuk menarik napas terlebih dahulu. Mengatakan hal-hal mengerikan yang terjadi padanya dulu, membuat dirinya harus memiliki keteguhan ekstra.


"Empat tahun yang lalu, sebelum kecelakaan itu terjadi, gue sengaja membuntuti Bokap gue yang pergi gitu aja tanpa pamit sama gue dan Nyokap. Dan ketika mobil Bokap gue berhenti di depan sebuah gerbang sekolah SMP, gue ngelihat ada Nyokap lo dan juga lo! Tatapan mata Nyokap lo membuat gue jijik sekaligus benci! Dan bukan itu aja, ketika gue memeriksa hape bokap gue, ada nama kontak seseorang yang dikasih emoticon love! 'Rianty♡'." Agnes mulai berkaca-kaca. Siapa sangka, orang sekejam Agnes yang dikenal tidak memiliki hati nurani juga bisa menangis!?


"Kecurigaan gue semakin jelas, apalagi ketika gue membuka galeri foto dia! Ada lebih dari dua foto kemesraan antara Bokap gue sama Nyokap lo! Dan yang paling gue benci dari salah satu foto itu adalah, foto ketika mereka lagi ciuman terus difoto! Oh, ada lagi! Tapi ini video! Gue yang waktu itu belum genap 14 tahun udah ngelihat video dewasa yang diperankan oleh Bokap gue sendiri!" Pekik Agnes, lantas mendorong tubuh Bianca sampai membuat gadis itu terduduk di lantai. Ia tidak dapat berkata-kata lagi. Dirinya masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan Agnes padanya.


"Lo bohong! Gue gak akan percaya sama semua omongan lo!" Bianca terus meracau sambil menangis di lantai. Tak banyak orang yang memerhatikan apalagi memedulikan.

__ADS_1


Tempat itu sangat bising. Mereka saja berbicara dengan nada suara teriak.


"Terserah lo mau percaya atau enggak. Tapi ingat ini baik-baik. Nama Bokap gue adalah Bram!" Perkataan Agnes selanjutnya, membuat Bianca semakin kehilangan kata-katanya.


Bianca ingat siapa Bram! Seorang pria yang dahulu datang menjemputnya ke sekolah, karena dirinya yang sedang sakit, jadi dirinya dipulangkan. Waktu itu, almarhumah ibunya juga terlihat begitu akrab dengan Bram.


Jadi ... itu semua benar?!


"Aaaaaaaakhhhhh!!!" Bianca menjerit seraya menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya. Gadis itu menangis sejadi-jadinya.


Apa yang harus ia lakukan?


Semasa hidupnya, ibunya berselingkuh dengan orang lain, dan bahkan ayahnya saja tidak tahu soal itu.


"Sekarang lo tahu, kan, alasan kenapa gue jahat sama lo! Gue hanya ingin berbagi rasa sakit ini ke elo, karena Nyokap lo juga ada kaitannya!"


Bianca hanya menangis seraya memeluk tubuhnya. Gadis itu sudah pasrah. Perkataan Agnes membuat dadanya seakan tengah ditusuk belati sampai menembus ke tulang.


Beberapa saat kemudian, Haykal datang dan berlari ke arahnya dan membantunya untuk berdiri.


...****...


Bianca terdiam seraya menunduk di dalam bilik toilet sekolah. Setelah menceritakan cukup detil kejadian kemarin malam pada Haykal, gadis itu tidak berani lagi menatap sepasang manik mata dingin dari laki-laki itu.


Haykal menatap miris gadis di hadapannya. Ucapan gadis itu soal postingannya waktu di bar juga sudah diluruskan. Kini, Haykal merasa dirinya sangat-sangat bejat karena telah merusak gadis sepolos Bianca.


"Gue—"


"Karena lo udah tahu semuanya, sekarang gue mau ke kelas. Minggir!" Bianca menyela ucapan Haykal yang hendak mengatakan sesuatu. Gadis itu juga mulai berjalan keluar dari bilik toilet, namun dengan cepat, Haykal menghentikan langkah kaki gadis itu dengan menarik sebelah tangannya.


"Gue minta maaf." Ucapan Haykal, membuat Bianca kembali mengingat momen menakutkan malam itu.


Bianca tidak langsung menjawabnya. Gadis itu menepis kasar tangan Haykal, lalu melirik cowok itu dari samping.


"Lo pikir dengan minta maaf aja cukup? Lo udah merusak masa depan gue! Sekarang gue udah kotor. Gak akan ada yang mau sama cewek bekas kayak gue!" Ucap Bianca, lalu berlari meninggalkan Haykal yang terdiam membeku karena perkataan gadis itu beberapa saat yang lalu.


...****...


Kedua matanya tak henti-hentinya melirik ke jalanan, berharap sopir pribadinya segera menjemputnya.


"Kebiasaan nih, Pak Indro! Masa mobilnya mogok lagi, sih? Mobil sultan kok, mogok! Awas aja Pak Indro! Kanza bilangin Papi entar," gadis itu mendumel seraya menatap ponselnya yang berisi pesan singkat untuk sang sopir pribadinya yang bernama Indro.


Tak ada balasan apa pun. Membuat Kanza mencak-mencak tidak jelas di tempat.


Seandainya, tadi pas si Kenzo pulang, dirinya nebeng. Mungkin, saat ini Kanza sedang berada di dalam kamarnya dan bersiap menonton update-an drama yang baru saja rilis tadi malam.


Lima belas menit pun berlalu. Kanza kembali melirik jalanan, lalu beralih ke gerbang depan sekolahnya yang terlihat sangat sepi.


Demi apa pun, Kanza sudah was-was berdiri sendirian di sini. Satpam sekolah yang biasanya jam segini masih belum pulang, entah dimana keberadaannya.


Duhh... Kan, Kanza jadi negative thingking!


"Kanza?"


"Astaga!" Mendengar seseorang memanggilnya dari belakang, gadis itu refleks berjengit.


Ketika tahu bahwa yang baru saja memanggil namanya adalah Alex, Kanza langsung mengembuskan napas lega.


Ternyata, Alex juga belum pulang. Perasaan was-was yang ada pada dirinya, perlahan mulai menghilang.


"Lo belum balik?" Pertanyaan Alex, ketika cowok itu telah tiba di hadapan Kanza.


Gadis itu menggeleng pelan seraya tersenyum malu-malu. "Lagi nungguin jemputan,"


Alex tampak mengangguk tanpa ekspresi. Cowok itu juga terlihat melihat sekeliling area sekolah, lalu tatapannya kemudian kembali menatap Kanza.


"Mau pulang bareng gue?"


"Mau! Eh," Kanza refleks menjawab pertanyaan Alex dengan cukup bersemangat. Sebelah tangan gadis itu spontan menepuk dahinya cukup keras.


Bisa-bisanya Kanza terlalu jujur di hadapan Alex!

__ADS_1


Alex yang melihat gelagat salah tingkah Kanza membuatnya tanpa sadar tersenyum tipis. Sepasang bola mata cowok itu tidak henti-hentinya terus menatap Kanza.


"Ekhem." Merasa sudah terlalu lama Alex terhanyut dalam pesona Kanza, cowok itu berdeham, kemudian menarik sebelah tangan gadis itu menuju parkiran sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.


"Mobil gue di sana!" Ucap Alex, tanpa melihat ke arah Kanza langsung.


Sedangkan Kanza, gadis itu terkejut luar biasa. Kedua matanya menatap punggung Alex yang berjalan di hadapannya. Tangannya sudah berkeringat dingin. Dan jantungnya sudah berdegup sangat kencang.


Ketika keduanya sampai di depan sebuah mobil sport berwarna putih berkilap yang tak lain ialah mobil milik Alex, cowok itu dengan berat hati melepaskan genggamannya pada tangan Kanza, dan mulai membukakan pintu samping kemudi untuk gadis itu.


"Maaf, ya. Gue nebeng. Jadi ngerepotin lo, kan," ucap Kanza gugup. Ia bingung harus bereaksi seperti apa. Pertama kalinya ada laki-laki seumurannya yang membukakan pintu mobil layaknya tuan putri.


Berasa punya pacar huwaaa!


Alex tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis. Senyuman yang jaraaangggg sekali ia perlihatkan, apalagi di depan seorang gadis seperti Kanza.


Saat Kanza sudah memasuki mobil, kini giliran Alex yang masuk ke kursi kemudi. Cowok itu terlihat sangat cool, apalagi ketika mencoba memakai sabuk pengaman.


"Udah?" Alex melirik Kanza yang juga telah memakai sabuk pengaman.


Pikirnya, Kanza akan kesulitan, dan Alex punya kesempatan untuk membantu.


Duhh... otaknya Alex kok, bisa berpikiran begitu, ya?


"Em." Balas Kanza, dan Alex pun mulai menjalankan mobilnya keluar dari area sekolah.


Keadaan di dalam mobil sangat hening dan kaku. Tak ada yang memulai pembicaraan. Masing-masing dari keduanya tidak pernah berada dalam posisi seperti sekarang ini. Mereka bingung bahkan gugup untuk hanya sekedar bertanya.


"Ekhem." Alex berdeham cukup keras, membuat Kanza yang sedari tadi diam dan memandangi keluar kaca refleks meliriknya.


Diam-diam Alex juga melirik Kanza walaupun sekilas. Cowok itu terlihat menyamankan posisi duduknya senyaman mungkin.


Sebenarnya, Alex ingin mengobrol dengan Kanza. Tetapi, dirinya bingung harus membahas apa. Apa... tanyain alamat rumahnya aja, ya? Kebetulan, kan, sekarang dirinya mau mengantarkan Kanza pulang!


"Oh, ya. Rumah lo di mana?" Kanza melirik Alex. Cowok itu bertanya padanya tanpa mengalihkan sedikitpun tatapan matanya pada jalanan di depan sana.


"Rumah gue di—" Kanza menghentikan ucapannya merasa ada yang salah.


Gadis itu berpikir sejenak, lalu tak lama kemudian, ia tersadar akan sesuatu.


Mampus! Alex gak boleh tahu rumah gue di manaaaa!!!


"Gu-gue berhenti di halte bus aja! Soalnya jalan ke rumah gue susah banget,"


Alex tersenyum tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. "Gak pa-pa. Sekalian nanti kalo gue ada apa-apa, gue bisa langsung ke rumah lo," ujarnya, yang semakin membuat Kanza kebingungan.


"Oh, ya. Gue laper. Mampir dulu buat makan, boleh gak?" Ucapan Alex membuat Kanza yang tengah berpikir keras, seketika mengalihkan tatapannya pada cowok itu.


"Hah?!"


Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Alex berhenti. Kanza yang masih belum mencerna ucapan cowok itu, langsung mengedarkan tatapannya ke luar kaca mobil.


"McDonald's?" Kanza menatap bingung bangunan restauran cepat saji di hadapannya. Gadis itu juga mulai tersadar bahwa mobil yang tengah mereka kendarai saat ini telah memasuki area parkiran restauran.


"Lex, kita—" ucapan Kanza terhenti, ketika tidak menemukan keberadaan Alex di sampingnya.


Dan tak lama kemudian, pintu samping Kanza terbuka dari luar, dan yang membukakannya tak lain adalah Alex.


"Gak pa-pa kan, mampir dulu ke sini? Gue gak sempet makan siang tadi pas istirahat. Sibuk ngerjain soal di ruang guru," ujarnya, Kanza hanya mengangguk kaku, namun di sisi lain ia juga mulai bisa bernapas lega.


Setidaknya, Kanza bisa mengulur waktu sejenak untuk berpikir.


^^^To be continue....^^^


Huwaaa... maaf update-nya kelamaan>~< akhir² ini gk bisa fokus, gk tau knpa:'(


Maaf jga cmn 1 eps:'( besok aku usahain buat update (klo gk update berarti otak ini msih gk bisa diajak fokus kerja>~<)


Klo bgitu, smpe ketemu di next episode:*


Jgn lupa beri Author dukungan, ya!:)

__ADS_1


Dgn klik tombol Like dan jgn lupa tinggalkan komentar positif:) bijaklah dlm bersosial media!:*


__ADS_2