Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 33


__ADS_3

Jam di pergelangan tangan telah menunjukkan pukul delapan lewat lima menit. Terik matahari yang semula terasa hangat, kini terasa begitu menyengat apalagi posisi para siswa yang sedikit berdekatan seraya berbaris membentuk barisan kelas hanya untuk melaksakan upacara bendera.


Keringat dan peluh mengucur dari dahi mereka. Rasa haus pun terasa begitu menusuk. Berkali-kali para murid mengipasi wajah serta area leher mereka. Amanat dari sang pembina upacara di depan sana sudah tak lagi mereka hiraukan.


"Gila! Pak Ucup kebiasaan ya, kalo jadi pembina upacara, pasti ngasih amanatnya lama!? Gak lihat apa murid-muridnya udah pada tepar kayak gini?" Alma yang berada di barisan tengah mendumel seraya mengutarakan kedongkolannya.


"Emang iya, ya?" Kanza yang berbaris tepat di hadapan Alma pun menoleh.


"Tahu, tuh, Pak Ucup! Udah mah galak, wali kelas kita lagi!" Kenzo ikut menyahut. Posisi cowok itu berada tepat di samping Kanza.


"Padahal dari waktu kelas sepuluh gue udah berdoa biar gak dapet Pak Ucup jadi wali kelas. Eeh, pas kelas sebelas malah apes!" Juna ikut nimbrung di belakang sana yang dibalas tawaan receh oleh Azka dan Rio.


"Suuttt... Lo semua pada bisa diem gak, sih?" Alex, sang ketua kelas, menatap dingin keempat teman-temannya yang tidak pernah bisa diam.


"Heh, Lex! Lo cuman bisa marahin kita? Apa kabar tuh cewek lo? Perasaan dia duluan dah yang mancing-mancing!" Azka yang tidak terima lantas menunjuk Kanza dengan tatapan matanya.


Kanza yang juga tidak terima atas tuduhan dari cowok itu seketika langsung menatap sinis Azka.


"Lo nyalahin cewek gue? Cewek si Rio tuh yang duluan mancing-mancing! Siapa suruh dia ngomong pas masih upacara?" Alex mencoba mengalihkan kesalahan Kanza pada Alma.


Rio yang tidak suka jika Alma dibawa-bawa pun jelas emosi. "Lex, lo ngajakin gue gelut, atau gimana nih?"


Satu jajaran kelas XI IPS 4 refleks hening. Termasuk Kanza dan Alma yang mulai gelagapan karena kedua cowok ganteng itu telah menyeret-nyeret nama mereka.


"Lo berdua apa-apaan, sih? Fokus, ini tuh masih upacara!" Alma mencoba mengode Rio, namun perhatian cowok itu tetap saja mengarah pada Alex.


"Lex! Udah, ih! Katanya lo Ketua OSIS, tapi malah begini, sih? Udah, yah?" Kanza menyentuh lengan Alex, berharap cowok itu akan mendengarkan ucapannya.


"Ekhem!" Suara dehaman keras berasal dari benda bernama mikrofon sontak mengagetkan satu sekolah, khususnya anak-anak kelas XI IPS 4.


Perhatian seluruhnya tentu saja langsung beralih menatap Pak Ucup yang berada di depan sana yang kini tengah menatap tajam murid-murid didikannya khususnya ke arah Gengnya Kenzo.


"Bisa tidak, diskusinya nanti dulu? Gak lihat di sini saya masih ngasih amanat? Atau, kalian gak mau cepat bubar?" Teguran Pak Ucup mendapat respon ngakak dari para murid dan juga dari beberapa guru.


Namun, tawa mereka tidak berlangsung lama, apalagi ketika tatapan tajam nan menusuk itu beralih ke arah mereka.


"Apa yang lucu?" Sentak Pak Ucup, seketika membuat murid-muridnya langsung terdiam.


Pak Ucup lantas menghela napasnya seraya memijit perlahan keningnya. "Baiklah, upacara hari ini dicukupkan sekian. Wassalamu alaikum Wr. Wb." Salam penutup dari Pak Ucup langsung dibalas serentak dan penuh semangat dari murid-muridnya


"Wa'alaikum salam Wr. Wb."


...****...


"Akhirnyaaa... Dari tadi kek dibubarin, ah!" Azka tiba di dalam kelas dengan terburu-buru menjatuhkan tubuhnya di atas lantai.


Disusul Kenzo, Juna, dan Rio yang terlihat membawa masing-masing sebotol minuman dingin yang sebelumnya mereka beli di kantin sekolah.


"Eh? Akang Alex mana?" Azka menyahut bawel ketika menyadari satu orang di antara mereka tidak ada.


"Mana gue tahu!?" Juna dan Rio membalas bersamaan tanpa mereka duga. Sedangkan Kenzo hanya membalas dengan mengendikan kedua bahunya.


"Za! Lo tahu Si Alex di mana?" Azka beralih bertanya pada Kanza yang baru saja tiba di dalam kelas bersama Alma dan Kayla.


"Katanya sih mau rapat pagi!" Ujar Kanza, santai. Namun detik berikutnya, ia tersadar akan sesuatu. "Kenapa lo nanyain Alex ke gue?" Bingung Kanza, refleks membuat Azka langsung tertawa aneh.


"Ya, kan, elo pacarnya! Eaaaak..." Seloroh Azka yang langsung diserbu oleh Juna dan Rio. Tidak dengan Kenzo yang sedari kemarin raut wajahnya masih setia datar dan kecut.


Kanza mengernyit heran seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Pikirnya, kenapa semua teman-temannya si Kenzo ini gak ada yang waras? Cuma Alex yang paling waras di antara keenamnya.


Tak ingin ambil pusing, Kanza memilih mendudukkan diri di kursinya bersama Alma dan juga Kayla.


"Zo! Muka lo kenapa, sih? Perasaan dari tadi gak ada senyum-senyumnya, dah! Kenapa lo?" Juna merangkul bahu Kenzo. Cowok itu sudah mulai enek melihat tingkah Kenzo yang hanya diam seperti seorang biksu.


Kenzo menatap datar Juna yang berada di sebelahnya, kemudian menghempas rangkulan dari cowok itu. Tak selang berapa lama, Kenzo mulai menarik napasnya dalam-dalam seperti seseorang yang memiliki beban hidup yang paling berat.


Rio dan Azka yang baru menyadari ada hal yang berbeda dari Kenzo, langsung mengalihkan tatapannya ke arah cowok itu.


"Muka lo pucet gitu. Abis mabok lo, ya?" Tuduhan Azka, langsung mendapat decakan kesal sekaligus tatapan dingin dari Kenzo.


"Sembarangan lo!"


"Jangan-jangan si Monika minta balikan lagi?" Tebak Rio, seketika membuat Kenzo langsung menaikkan salah satu alisnya seraya menatapnya sinis.


"Ya kali gue mikirin tuh cewek! Heh, denger, yah! Gue udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama dia!"


"Terus elo kenapaaaa? Curhat dikit napa, ah! Lo pikir ini lomba cerdas cermat? Sorry-sorry aja nih, gue bukan si Alex yang dengan secepat kilat langsung nemu rumus kimia, fisika, matematika, cuman buat nyari kunci jawaban dari tebak-tebakan lo!" Celoteh Juna. Seketika membuat Azka dan Rio saling tatap dengan tatapan meminta penjelasan.


"Emang lomba cerdas cermat ada tebak-tebakan, Yo?" Azka bertanya polos pada Rio, yang langsung dijawab gelengan kepala oleh cowok itu.


"Gak tahu! Gue kan, belum pernah ikutan lomba cerdas cermat!" Rio menyengir, dan Azka hanya manggut-manggut di tempat.


Melihat tingkah sok polos kedua temannya membuat Juna gemas. Ingin rasanya ia menendang kedua temannya itu sampai menembus gawang sepak bola di Stadion GBK.


"Iya pokoknya, lo cerita langsunglah! Jangan bikin kita-kita pada kepo! Siapa tahu kita bisa bantu, ye gak?" Juna kembali menyahut yang dibalas acungan jempol oleh Azka dan Rio.


Pikir Kenzo, ucapan Juna ini ada benarnya. Bagaimanapun, mereka adalah teman. Mungkin saja mereka bisa membantunya keluar dari permasalahannya saat ini.


"Oke! Jadi gini..." Kenzo mulai buka suara. Juna, Rio, dan Azka refleks merapatkan tubuh mereka untuk mulai mendengarkan setiap inci cerita yang akan dibahas oleh Kenzo.


"Pertama-tama..."


...****...


"Eh? Guru gak bakal masuk kelas duluan, kan?" Kanza menyahuti kedua temannya yang terlihat sibuk membuka lembaran demi lembaran buku tulis.


"Kenapa emangnya?" Kayla menghentikan aktivitasnya seraya beralih menatap Kanza.


"Gue kebelet, nih!"


Kini giliran Alma yang menghentikan aktivitasnya dan mengalihkan tatapannya pada gadis itu. "Mau gue anter?"


"Eh! Gak usah! Gue bisa sendiri, kok! Tapi, gimana kalau nanti pas gue masih di toilet terus guru masuk?"


"Tenang aja. Gue sama Kayla bakal izinin lo, kok." Alma beralih menatap Kayla seolah meminta persetujuan dari gadis itu lewat tatapan matanya.


"Iya, gih! Kalau nanti ada guru dateng tinggal bilangin aja! Ya, kan?" Ucap Kayla, yang langsung diangguki Alma.


"Gimana bilangnya?"


"Ekhem." Alma tampak berdeham seraya kembali mengode Kayla dengan tatapan matanya.


"Di mana Kanza?" Alma bertanya dingin dengan ekspresi ngotot seraya menatap Kayla.


"Ke toilet, Bu!" Ujar Kayla, sok serius. Sedangkan Alma, ia tengah mempersiapkan dialog selanjutnya untuk mendalami peran mereka saat ini.

__ADS_1


"Ngapain ke toilet?"


"Ya, Ibu pikir aja sendiri ngapain Kanza ke toilet? Beli mie ayam?" Balas Kayla, sontak membuat Alma dan Kanza langsung tertawa seraya memukul keras-keras bahu gadis itu.


"Kek, sok iya aja lo ngomong begitu di depan Bu Ratna!"


"Dah, dah! Kalian terusin dramanya berdua aja, ya! Gue udah gak kuat soalnya. Bye!" Kanza mulai berlari terbirit-birit setelah mengatakan kalimat itu.


Sedangkan Alma dan Kayla, kedua gadis itu masih saja tertawa menertawakan diri mereka sendiri yang selalu saja mengcosplay guru-guru mereka.


"Lo cocok jadi Bu Ratna!" Ujar Kayla, seketika membuat Alma langsung melotot.


"Sembarangan lo!"


...****...


Setelah berdiam diri cukup lama di ruang UKS dengan alasan sakit, akhirnya Bianca mulai melangkah keluar dari ruangan tersebut seraya menenteng tas sekolahnya.


Tadinya ia akan langsung pergi ke kelas. Namun, ia malah memilih untuk menyempatkan dirinya untuk mampir ke dalam toilet kelas sebelas.


Entahlah. Semenjak Bianca mengetahui dirinya tengah hamil, ia terus saja merasakan ingin buang air kecil. Padahal dulu ia tidak seperti ini.


Sebelum Bianca memasuki toilet, ia menaruh tasnya di samping wastafel yang berada di luar bilik toilet.


Tepat dari arah kejauhan, Kanza berlari hendak memasuki toilet. Namun, ketika ia baru saja tiba di ambang pintu, seseorang dari arah belakang mencoba menyela tubuhnya sampai membuatnya hampir terjatuh.


"Adek kelas lo?" Orang itu tak lain adalah Agnes. Ia dengan sinis menatap atribut seragam sekolah Kanza.


Kanza hanya menunduk seraya merapatkan tubuhnya. Bukan karena ia takut, melainkan karena Kanza tidak ingin jika dirinya tidak menahan amarahnya, mungkin saja ia bisa terlibat perselisihan dengan kakak kelasnya yang ia tahu dari Kayla, kalau kakak kelasnya yang satu ini memiliki temperamen yang cukup buruk.


"Minggir lo!" Satu orang lagi datang dari arah yang sama dengan Agnes. Tak lain adalah Alia.


Dalam hati Kanza yang terdalam, ingin rasanya ia mencabik-cabik kedua kakak kelasnya yang begitu menyebalkan itu. Sok-sok an berkuasa! Gak tahu aja sekolah ini pertama kali didirikan atas ide papinya!


Pada akhirnya, Kanza hanya bisa menghela napasnya seraya mengalah. Lebih baik, ia segera menuntaskan hasrat buang air kecilnya sesegera mungkin, kemudian pergi dari tempat terkutuk itu.


"Eh? Itu tasnya si Bianca bukan, sih?" Alia menunjuk sebuah tas berwarna cokelat yang berada di samping wastafel.


Agnes yang tadinya hendak mencuci wajahnya di salah satu wastafel lain, langsung menghentikan aktivitasnya. Tatapan gadis itu pun langsung beralih menatap tas tersebut, kemudian menghampirinya.


"Tuh cewek ada di sini?" Agnes bertanya dengan suara setengah berbisik.


"Kayaknya." Alia tersenyum sinis seraya menatap tas tersebut. "Geledah, gih! Siapa tahu dia nyembunyiin rahasia?!"


Agnes menaikkan salah satu alisnya dengan tatapan yang tertuju pada Alia. "Lo aja yang geledah! Gue males!" Agnes mengambil tas tersebut lalu memberikannya pada Alia untuk digeledah.


Dengan sangat senang hati Alia mulai menggeledeh isi tas Bianca. Dan, tidak ada yang aneh. Hanya peralatan sekolah seperti buku, pulpen, pensil, dan lain-lain yang biasa ia temukan di dalam tas-tas anak sekolahan.


Namun, ketika Alia hendak menutup kembali tas tersebut, netranya tidak sengaja menatap sebuah benda yang mampu membuatnya sedikit tertarik.


"Ini apa?" Alia mengambil benda tersebut dengan terburu-buru, kemudian melempar asal tas sekolah Bianca.


Agnes yang tadinya bersikap tenang-tenang saja, langsung mengalihkan fokusnya ke arah benda yang berada di genggaman Alia.


"Ini...?" Agnes menatap horor Alia yang juga tengah menatapnya sama. Benda tersebut kini beralih ke tangan Agnes.


"Tect pack?" Agnes dan Alia berucap bersamaan.


Tak lama kemudian, salah satu bilik toilet yang berada tak jauh dari posisi mereka terbuka, sehingga tampaklah Bianca dengan raut wajahnya yang penuh gelisah.


Bianca yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, langsung mengunci pandangannya ke arah benda yang kini berada di genggaman Agnes.


"Wow! Lo beneran hamil, Bi?" Alia mengambil alih benda yang berada di tangan Agnes, kemudian kembali memeriksanya dengan seksama.


Bianca memelot. Gadis itu sudah dibuat panas dingin oleh Agnes dan Alia yang dengan jahatnya mengobrak-abrik isi tasnya sampai mereka berhasil menemukan sebuah hasil test pack yang selama ini berusaha ia sembunyikan.


"Balikin, gak!" Bianca berjalan ke arah Agnes dan Alia hendak merebut benda tersebut.


Namun, bukan Agnes dan Alia namanya kalau tidak hati-hati?!


Kedua gadis itu dengan cekatan menjauhkan benda tadi dari Bianca. Dan jangan lupakan senyuman sinis serta merendahkan yang terpampang jelas di wajah keduanya.


"Agnes, balikin!" Kedua bola mata Bianca sudah berkaca-kaca.


Ia benar-benar takut jika setelah ini Agnes akan memberitahukan rahasianya pada satu sekolah kalau dirinya tengah hamil.


Apa yang harus Bianca lakukan?


"Ini anaknya si Haykal?" Agnes menatap dingin Bianca yang posisi tubuhnya sedikit lebih pendek darinya. Otomatis, Agnes menatap Bianca sedikit menunduk.


"Kenapa? Peduli lo sama gue? Balikin, gak!" Bianca hendak meraih benda itu, namun segera direbut oleh Alia.


"Jangan agresif gitu, dong! Lo gak kasian sama calon anak lo?" Alia menyunggingkan salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian.


Air mata Bianca sudah tidak dapat lagi ia bendung. Gadis itu menangis seraya menatap kedua gadis jahat yang telah berkali-kali menghancurkan hidupnya.


Melihat Bianca yang menangis di hadapan keduanya, tak lantas membuat Agnes dan Alia merasa iba.


Justru, kedua gadis itu dengan santainya melenggang pergi meninggalkan toilet dengan membawa serta bukti berupa alat tes kehamilan milik Bianca.


Sepeninggalkan Agnes dan Alia, Bianca langsung terduduk lemas di atas lantai. Tangisnya kembali pecah, dan air matanya telah membasahi seluruh wajahnya.


Dari dalam bilik toilet sebelah, Kanza yang mendengar semua pembicaraan antara Agnes, Alia, dan juga Bianca mulai membekap mulutnya sendiri yang menganga lebar.


Kedua bola matanya pun ikut membulat saking kagetnya dengan apa yang telah ia dengar barusan.


"Si Haykal hamilin cewek?" Gumam Kanza, masih setia membekap mulutnya yang menganga.


Tak ingin terus berdiam terlalu lama di dalam bilik toilet, Kanza pun memutuskan untuk keluar dari dalam sana.


Dan pas sekali, tatapan Kanza ketika keluar dari bilik toilet tersebut langsung tertuju pada Bianca yang sepertinya masih belum menyadari akan kehadirannya.


"Kak, lo gak pa-pa?" Sahutan dari Kanza, mampu membuat Bianca langsung tersentak.


Gadis itu yang semula menunduk seraya menangisi takdirnya langsung menengadahkan kepalanya seraya menatap Kanza dengan tatapan syok luar biasa.


Tidak ingin aibnya semakin diketahui oleh orang luar, Bianca memutuskan untuk bangkit dari posisinya. Tak lupa ia pun mulai kembali memunguti barang-barangnya yang sempat digeledah paksa oleh Agnes dan Alia.


"Kak, lo mau ke mana?" Kanza berusaha menghentikan langkah Bianca, namun dengan kasar gadis itu menepisnya.


"Lo gak mau minta pertanggungjawaban dari Cowok Brengs*k itu?!" Perkataan Kanza, refleks membuat Bianca langsung menghentikan langkah kakinya.


Lagi dan lagi, Bianca kembali dibuat syok oleh gadis yang baru pertama kali ia temui.


Bianca membalikkan tubuhnya seraya menatap Kanza dengan tatapan emosi. "Lo nguping? Kenapa? Lo mau nyebarin ke satu sekolah kalau gue—" Bianca tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Gadis itu kembali menangis dengan air matanya yang mengguyur deras.

__ADS_1


"Enggak! Gue gak bermaksud begitu. Gue barusan ada di toilet di sebelah lo dan gue gak sengaja denger pembicaraan kalian!" Jelas Kanza, namun Bianca sudah enggan untuk membalas ucapan dari gadis itu.


"Lo pacarnya Haykal, kan? Kebetulan gue sekelas sama dia! Dia gak boleh ninggalin lo gitu aja!" Kanza mencengkram kuat kedua lengan Bianca untuk memberikan sedikit kekuatan pada gadis itu.


Bianca menengadahkan kepalanya menatap Kanza. Perasaan hangat dan haru serasa tercampur begitu saja di hatinya.


"Lo tahu di mana Haykal? Tolong kasih tahu gue! Gue udah hubungin dia berkali-kali tapi dia sama sekali gak ada kabar!" Tubuh Bianca mulai merosot hampir terjatuh jika saja Kanza tidak segera menangkap tubuh gadis itu.


"Kak, lo gak pa-pa? Lo bawa minum?"


"Gue gak pa-pa." Ujar Bianca. Perlahan tangisnya mulai sedikit mereda. Dan ini adalah kesempatan bagi Kanza untuk menanyakan beberapa hal pada gadis itu.


"Lo yakin udah ngehubungin dia?" Tanya Kanza pelan sekaligus hati-hati.


"Udah ribuan kali gue hubungin dia!" Pekik Bianca, refleks Kanza mengelus punggung gadis itu untuk kembali menenangkannya.


"Kanza!" Panggil Bianca. Sontak membuat Kanza seketika membulatkan kedua bola matanya.


"Lo tahu nama gue?" Bianca tidak langsung menjawab dengan lisan. Ia hanya menunjuk papan nama milik gadis itu oleh tatapan matanya.


"Karena lo sekelas sama Haykal, lo pasti tahu, kan, dia di mana? Tolong kasih tahu gue! Gue mohon!"


Permohonan Bianca membuat Kanza sedikit terbebani. Namun, ia tidak bisa menolak permintan orang yang tengah kesulitan. Apalagi yang tengah berada dalam masa-masa tersulit seperti yang tengah dialami Bianca.


Kanza tidak dapat membayangkan jika dirinya berada di posisi Bianca. Pasti sangat menderita.


"Gue ... Gue juga gak tahu dia di mana! Tapi, katanya dia izin." Ucapan Kanza, sontak membuat Bianca sedikit mengubah posisinya.


"Izin? Kenapa?"


Kanza menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban atas kekhawatiran Bianca.


Bianca menghela napasnya cukup panjang. Kedua bola mata gadis itu kembali berkaca-kaca dengan tatapan matanya yang mulai kosong.


"Tapi lo tenang aja! Gue akan cari tahu sama temen sekumpulannya dia, kenapa si Haykal susah dihubungin sama izin dari sekolah!"


"Jangan!" Balasan Bianca sungguh di luar dugaan Kanza. "Kenapa?"


"Jangan sama mereka! Gue takut—"


"Lo gak usah khawatir! Gue gak akan bilang itu dari lo, kok. Oke?" Kanza memasang senyum di wajahnya, berharap Bianca akan mempercayakan semuanya pada Kanza.


"Tapi—"


"Gue cuma mau sebuah keadilan buat lo! Kita sama-sama perempuan! Harga diri kita gak boleh diinjak-injak sama makhluk yang namanya laki-laki!" Bianca kembali dibuat terdiam. Perkataan Kanza sukses membuatnya kehilangan kata-katanya.


"Kenapa lo mau nolongin gue?"


"Karena—" lo mengingatkan gue sama diri gue dulu yang sering dapat penghinaan, pembully-an, dan gak ada satu orang pun yang nolongin gue waktu itu.


"Emm... Mungkin Tuhan masih sayang sama lo? Makanya dia ngirimin gue!?" Kanza tertawa kecil, kemudian mulai memeluk tubuh Bianca.


...****...


Alex beserta ditemani beberapa anggota OSIS inti mulai membereskan ruangan yang sempat mereka gunakan untuk rapat.


Mereka baru saja berdiskusi soal atribut OSIS yang akan dipakai di hari-hari tertentu. Dan pas sekali, mumpung pagi-pagi sekali ini guru-guru akan rapat sampai jam sepuluh, Alex beserta kawan-kawan OSIS memutuskan untuk memulai rapat mereka di pagi hari setelah upacara bendera selesai.


"Jadi... kita rapat pagi-pagi gini, kirain bakal langsung dapat ide?! Tapi malah otak anak-anak pada bleng. Gimana, sih?" Riana terkikik geli disela menyapu lantai.


Tony yang kebetulan berada tak jauh dari posisi gadis itu ikut tertawa. "Mau gimana lagi? Konsepnya, kan, gak boleh sama yang kayak tahun kemaren? Gak segampang itu, lah!"


"Jadinya, nanti pulang sekolah kita rapat lagi, gak?" Dayana, si sok akrab hanya karena ada Alex di sekitarnya, ikut nimbrung pembicaraan Tony dan Riana.


"Emm... Kurang tahu. Tanyain aja sama Alex." Raut wajah Riana yang semula begitu sumringah cerah, langsung berubah canggung ketika berhadapan dengan Dayana.


Ya, bagaimana mereka tidak canggung? Siapa yang tidak tahu sifat kasar dan sombongnya si Dayana-Dayana ini!? Satu sekolah bahkan sudah sangat hafal dengan tingkahnya.


Dayana mengepalkan kedua tangannya menahan emosi. Ketika ia hendak membaur dengan anggota OSIS lain, mereka selalu saja membuat jarak yang membuat Dayana sangat sulit untuk bisa membaur dan berdekatan.


Pikirnya, ia juga anggota OSIS inti!


Apakah ia harus memperlihatkan sisi jahatnya dulu, baru mereka bisa membiarkannya bicara dan berbincang?


"Eh, Lex! Lo mau langsung ke kelas?" Tony menyahut Alex yang hendak berjalan keluar.


Dayana yang mendengar dengan jelas Tony yang memanggil nama Alex pun ikut mengalihkan tatapannya.


"Iya, nih. Takutnya entar Bu Ratna masuk ke kelas." Ujar Alex, yang hanya dibalas anggukan singkat oleh Tony.


Melihat Alex dengan seksama, membantu mengingatkan Dayana akan rencananya untuk menghancurkan hubungan cowok itu dengan Kanza.


Dengan langkah sedikit berlenggak-lenggok, gadis itu berjalan menghampiri Alex dengan sebuah senyuman manis yang terparti di wajahnya.


"Alex!" Dayana memukul pelan salah satu bahu cowok itu ketika Alex tengah berusaha memakai kembali sepatunya.


"Lo apa-apaan, sih?" Tatapan mata Alex seketika berubah sinis. Salah satu tangannya pun dengan kasar menepis tangan gadis itu yang dengan berani menyentuhnya.


"Ups! Sorry! Soalnya gue ada sesuatu yang harus banget gue kasih tahu ke lo!"


"Gak tertarik!" Sarkas Alex, kemudian melenggang meninggalkan Dayana.


"Tapi ini soal cewek lo, Kanza! Yakin lo gak tertarik?" Perkataan Dayana, sukses membuat Alex langsung menghentikan langkah kakinya seraya membalikkan tubuhnya.


"Nah, kan! Lihat, deh! Mesra banget, kan?" Dayana menunjukkan sebuah foto kebersamaan Kanza dengan laki-laki lain di layar ponselnya.


Sontak saja itu membuat Alex terkejut, sampai dirinya tidak sadar hendak merebut ponsel milik Dayana.


Namun, bukan Dayana namanya kalau tidak licik. Gadis itu dengan cekatan langsung mematikan ponselnya, sehingga membuat Alex tidak dapat langsung melihat foto-foto itu.


"Password hape lo!"


"Kenapa? Kepo, ya? Siniin makanya! Entar gue kirimin deh, ke WhatsApp lo. Gimana?" Tawaran Dayana sukses mendapat decakan kesal dari Alex.


Dengan sangat terpaksa, Alex mengembalikan ponsel Dayana dengan cara melemparnya. Hampir saja tangkapan gadis itu meleset karena lemparan Alex yang tidak main-main.


"Lo jangan kasar gitu dong! Lo penasaran gak sama siapa cewek lo di foto ini?" Dayana kembali mengacung-acungkan ponselnya. Membuat Alex seketika berdesis seraya menatapnya tajam.


"Oke, oke! Gue kirimin sekarang!"


"Udah, tuh! Selamat menikmati!" Ujar gadis itu setelah dengan secepat kilat mengotak-atik ponselnya hanya untuk mengirimkan beberapa foto pada Alex.


Setelahnya, gadis itu melenggang dari hadapan Alex dengan senyuman puas yang sedari tadi belum juga luntur dari wajahnya.


^^^To be continue....^^^

__ADS_1


Halo semua!!! Maaf bgt aku baru bisa update! Ini bkn berarti aku males update atau gk mau update, ya. Selama beberapa hari ini aku demam. Padahal sblumnya aku baik-baik aja, sehat-sehat aja. Ini pun aku ngetik lesehan di atas tempat tidur sambil selimutan. Mungkin gara-gara slh satu keluarga aku ada yg sakit, jdinya nular gitu. Bahkan mama sama adek aku aja skrng lgi sakit, tpi udh agak mendingan sih. Tinggal aku aja nih yg msih gini-gini aja. Untuk kedepannya kalau updatenya msih lama, itu berarti aku msih blm sehat. Ini pun aku update karena merasa harus bgt. Ya kali aku ninggalin kerjaan gitu aja. Sekali lagi, aku minta maaf yg sebesar-besarnya ya🙏 doain semoga aku sama keluarga aku bisa cepet sembuh, biar aktivitas gk ada yg terganggu🙏 yaudh klo bgitu, sampai jumpa di next eps:*


__ADS_2