
"Oke, anak-anak. Ada yang masih ingat pelajaran sejarah kelas sepuluh?" Seorang guru sejarah kelas sebelas, Bu Wati, masih mengajar di jam terakhir di kelas XI IPS 4. Guru tersebut terlihat masih begitu semangat mengajar, padahal murid-muridnya sudah pada lesu, lemas, dan mengantuk.
"Hari ini, Ibu akan mengetes kalian satu-persatu tentang Kerajaan-Kerajaan pada Masa Hindu-Buddha. Contohnya ada apa saja?" Bu Wati mulai berjalan ke sana ke mari, mencoba untuk mencari salah seorang muridnya yang akan menjawab pertanyaannya kali ini.
Namun, tak ada seorang pun yang menjawab. Bahkan Alex yang dikenal murid paling pintar pun tidak berusaha menjawabnya. Cowok itu hanya diam dengan tatapan kosong tertuju pada punggung seorang gadis yang tak lain ialah Kanza.
Bu Wati lantas menghela napasnya melihat tak ada satu orang pun murid-muridnya yang menjawab pertanyaannya.
"Karena gak ada yang mau jawab, gimana kalau Ibu langsung tunjuk aja?" Ucapan Bu Wati, spontan membuat murid-muridnya langsung menegapkan posisi duduk mereka seraya mendesah pelan.
"Emm... Kamu! Kamu murid pindahan itu, kan?" Bu Wati menunjuk Kanza. Gadis itu sedari tadi menaruh kepala dan kedua tangannya di atas meja dengan kedua matanya yang hampir terlelap.
Mendengar seperti ada yang memanggilnya, Kanza mulai bangkit dari posisinya, dengan tatapan matanya langsung tertuju pada Bu Wati.
"Saya, Bu?" Kanza menunjuk dirinya sendiri, yang diangguki Bu Wati.
"Emm... Tadi pertanyaannya apa, ya, Bu?" Tanya Kanza hati-hati. Satu kelas yang tadinya loyo dan lesu, mendadak sedikit riuh.
Ekspresi Bu Wati sama sekali tidak terlihat kesal, marah, ataupun sebagainya. Tidak seperti guru-guru lain yang jika salah satu muridnya tidak fokus seperti yang baru saja Kanza alami, mereka akan bersikap sensitif dan malah berakhir hukum menghukum.
"Ibu ulangi. Sebutkan Kerajaan-Kerajaan pada Masa Hindu-Buddha."
"Kerajaan pada masa Hindu-Buddha?" Kanza tampak kebingungan. Otaknya masih bleng, dikarenakan dirinya yang masih mengantuk di kelas. Apalagi, ini pelajaran kelas sepuluh.
Kanza sudah lupa. Juga dirinya yang memang agak sering bolos di pelajaran sejarah.
Bukan bolos dalam artian tidak pergi ke sekolah, ya! Bolos yang dimaksud Kanza adalah, ia tidak pernah memperhatikan di pelajaran tersebut. Dan alhasil, nilainya selalu jelek. Membuat Kanza semakin membenci pelajaran sejarah.
"Emm... Kerajaan..." Kanza gugup sekaligus bingung hendak menjawab apa.
Tidak ada satu pun nama kerajaan yang terbesit di otak kecilnya. Yang ada, otaknya ini malah mengingat rumus-rumus matematika, yang bahkan tidak ada pelajarannya di hari ini.
"Ke—" Kanza menghentikan ucapannya, ketika bunyi bel pulang sekolah mulai terdengar.
Satu kelas yang tadinya hening mendadak ricuh sambil berlomba-lomba membereskan buku dan alat tulis mereka.
Bu Wati yang menyaksikan itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, seraya ikut membereskan buku paket dan alat tulis lainnya ke dalam tas miliknya.
"Oke, anak-anak! PR untuk minggu depan hafalkan kembali Kerajaan-Kerajaan pada Masa Hindu-Buddha. Nanti dites perorangan. Mengerti?"
"Mengerti, Bu."
"Ya sudah. Semuanya boleh pulang," ujar Bu Wati. Satu kelas pun mulai berlarian dari tempat mereka. Ada yang menuju parkiran sekolah, ada juga yang langsung menuju keluar area sekolah.
"Kanza!" Alex memanggil nama Kanza, ketika gadis itu beserta kedua sahabatnya, Alma dan Kayla, baru saja berjalan melewati satu kelas.
Kanza, Alma, dan Kayla, lantas menghentikan langkah kaki mereka seraya berbalik ke belakang. Melihat bahwa yang baru saja memanggil nama Kanza adalah Alex, Alma dan Kayla refleks berdeham seraya menahan senyum mereka.
"Ya udah, Za. Kita berdua duluan, yah. Bye!" Kayla berucap spontan, kemudian berlari bersama Alma, meninggalkan Kanza yang belum sempat mengutarakan satu patah kata pun pada kedua sahabatnya.
"Eh! Kok—" Kanza merengut sebal. Kedua sahabatnya ini memang sangat menyebalkan. Selalu saja meninggalkannya, apalagi ketika ada Alex di sekitarnya.
"Ekhem." Alex berdeham cukup keras. Mampu membuat Kanza kembali beralih menatap ke arah cowok itu.
"Eh, so-sorry! Ada apa ya, Lex?"
"Soal ucapan gue waktu pemilihan OSIS kemaren." Ucap Alex, seketika membuat raut wajah Kanza memerah dengan jantungnya yang kembali berdegup sangat kencang.
Kanza gugup, demi apa pun! Ia bingung harus bereaksi seperti apa!? Susah payah ia melupakan ucapan Alex waktu itu.
"Ekhem. I-itu..."
"Itu bukan sekedar candaan ataupun gombalan doang. Gue serius. Gue suka sama lo," ungkap Alex. Refleks Kanza langsung membekap mulutnya. Jantungnya sudah berdegup semakin kencang.
Apa barusan, Alex baru saja mengutarakan perasaannya pada Kanza?
"Lo—" Kanza menggantungkan ucapannya. Ia tidak sanggup melanjutkannya, apalagi di kelas sebelah masih terdengar suara gemuruh murid-murid yang sepertinya masih belum pulang.
Alex tersenyum sampai kedua matanya terlihat menyipit. Cowok itu mulai kembali memofuskan diri kepada Kanza yang berada tepat di hadapannya.
"Lo gak perlu buru-buru jawab gue, Za. Sekalian, gue juga mau ngejar lo dengan cara gue sendiri. Boleh, kan?" Mendengar ucapan Alex yang terdengar serius, tanpa sadar membuat Kanza mengangguk kecil.
Alex tersenyum tipis, padahal dalam hati ia bersorak penuh kemenangan.
Walaupun hanya beberapa anggukan kecil, itu sudah membuktikan kalau Kanza juga memiliki perasaan yang sama padanya.
"Ekhem. Kalau gitu..., mau pulang bareng gue?" Alex mengubah raut wajahnya seperti semula.
Kanza hendak mengangguk kembali, namun sepertinya ia langsung tersadar dari lamunannya. "Enggak usah! Nanti kejadian kek waktu kemaren-kemaren lagi."
Pikiran Alex langsung melayang pada hari di mana ia dan Kanza pulang bersama, namun malah berakhir mampir ke McDoland's. Dan seingatnya, waktu itu Kanza dicari-cari oleh sopir pribadinya, sampai membuat gadis itu harus segera pulang, dan malah berakhir meninggalkan Alex sendirian.
"Ya udah. Kalau gitu, turunnya bareng. Gimana?" Ajak Alex, tidak ingin kehabisan ide.
Kanza pun mengangguk. Sebisa mungkin dirinya tidak tersenyum hanya karena perkataan Alex tadi. Tak sampai puluhan menit, kini keduanya sudah sampai di bawah, atau lebih tepatnya berada di parkiran sekolah.
Suasana sekolah terlihat begitu sepi, dan kendaraan-kendaraan di parkiran pun tinggal tersisa beberapa puluh lagi.
"Emm... Mobil jemputan gue udah dateng. Gue duluan, yah," ucap Kanza kepada Alex yang hendak mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam tas.
"Oh! Oke. Hati-hati, " balas Alex.
Setelahnya, Kanza pun tidak berniat membalasnya lagi. Gadis itu malah berlari keluar dari area parkiran sekolah, menuju gerbang depan yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Sepeninggalan Kanza, Alex yang tadinya sok cool, mendadak heboh. Ia terlihat seperti seorang pemandu sorak, dengan raut wajah bahagia tercetak jelas di wajahnya.
Namun, tanpa dirinya sadari, seseorang dari kejauhan tampak menatapnya tajam seraya mengepalkan kedua tangannya. Hatinya panas, apalagi ketika melihat kedekatan antara Alex dan Kanza.
"Sial*n! Beraninya lo merebut perhatian Alex dari gue! Gue gak akan tinggal diam!"
...****...
Hari ini, kelas XI IPA 3 pulang terlambat tidak seperti biasanya. Bianca yang baru saja keluar dari dalam kelas dengan keadaan kurang baik, langsung dihadang Agnes, dan keduaa teman satu gengnya, Alia dan Saras.
__ADS_1
Bianca lantas menghentikan langkah kakinya dengan tatapan sayu yang mengarah kepada ketiga gadis di hadapannya yang juga adalah teman sekelasnya.
"Hai! Udah lama kita gak saling berhadapan lagi kayak gini! Lo gak kangen, kan, sama kita?" Agnes menyahut, yang langsung dibalas decihan kecil oleh Bianca.
"Kalian mau apa lagi? Gak bosen tiap hari gangguin gue terus?"
Agnes dan Alia lantas tertawa mendengar ucapan Bianca yang mulai berani kepada mereka. Tidak dengan Saras yang hanya menunduk diam, seperti tidak ingin ikut campur dalam masalah kali ini.
"Mulai berani lo, ya! Mentang-mentang sekarang lo udah punya tameng!" Alia hendak maju, namun segera ditahan oleh Agnes.
"Gak usah buru-buru gitu, lah. Bentar lagi tamengnya nih cewek datang. Lo gak takut emang?" Perkataan Agnes, sukses membuat Alia terdiam.
Seperti yang dikatakan oleh gadis itu, seseorang yang disebut tameng oleh Agnes datang menghampiri Bianca. Raut wajahnya terlihat kesal sesaat melihat Agnes dan kedua temannya mulai kembali mengganggu Bianca.
"Apaan, nih! Lo masih berani gangguin cewek gue?" Dan, yah. Orang yang disebut tameng itu tak lain adalah Haykal.
"Kok, lo suudzon terus sih, sama gue! Gue cuman pengen silaturahmi aja, gak ada maksud lain. Ya, kan, Girls!?" Agnes berucap sinis, yang langsung diangguki Alia.
Haykal tidak langsung menjawabnya. Cowok itu malah tertawa sinis, kemudian mengajak Bianca untuk segera pergi meninggalkan ketiga gadis jahat itu.
Namun, belum sempat keduanya berjalan melewati Agnes, Alia, dan Saras, langkah kaki Bianca sudah limbung. Haykal yang melihatnya dibuat panik seketika.
"Kenapa? Lo sakit?" Ucapan Haykal, dibalas gelengan kecil oleh Bianca.
Sedangkan Agnes, gadis itu tertawa sinis dengan kedua tangannya yang mengepal. "Gitu aja lemah!" Gerutu Agnes, yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Haykal.
"Udahlah, Nes! Ngapain kita lama-lama di sini? Gue muak lihat kemunafikan nih cewek!" Cetus Alia, spontan mendapat tatapan tajam dari Haykal.
"Bener juga kata lo, Al! Kuy, cabut!" Ujar Agnes, lalu ketiganya pun melenggang meninggalkan Haykal dan Bianca.
"Bi, muka lo pucet! Kita ke UKS dulu, yah!" Haykal hendak membopong Bianca, namun segera dihentikan oleh gadis itu, ketika dirinya langsung bangkit dan berdiri.
"Jangan! Gue cuman lemes, kok, gak pa-pa. Mungkin karena tadi pagi gue belum sempet sarapan." Perkataan Bianca, langsung disambut decakan kesal oleh Haykal.
"Kenapa gak sempet sarapan? Lo mau sakit? Lo tahu sendiri, kan, kalau tubuh lo tuh lemah! Kalau lo sakit, siapa yang bakal jagain lo di rumah? Kalau sampai lain kali gak sempet sarapan terus kayak gini lagi, gue gak akan maafin lo!" Haykal mengomel panjang lebar tanpa henti. Cowok itu terlihat kesal sekaligus cemas, membuat Bianca tanpa sadar mengulum senyumnya.
"Maaf. Habisnya gue muak sama makanannya. Bikin gak nafsu, makanya gue gak sarapan." Ucap Bianca. Tidak membuat Haykal langsung mengubah raut wajahnya.
Bianca mendengus kecil. "Kal? Marah, ya? Jangan marah dong. Ini kepala gue pusing, kayaknya mau pingsan gitu, deh. Aw!" Mendengar Bianca yang meracau serta mengaduh, Haykal langsung mengangkat tubuh gadis itu dan membopongnya layaknya seorang putri.
Bianca tentu saja dibuat terkejut. Barusan ia hanya berpura-pura, berharap Haykal tidak marah lagi padanya. Tapi, sepertinya ia salah. Raut wajah cowok itu semakin ditekuk dalam dengan langkah kaki lebarnya yang mulai menuruni puluhan anak tangga.
"Kal! Tu-turunin! Nanti kalau dilihat guru kan bahaya!" Bisikan Bianca, tak dihiraukan sedikitpun oleh Haykal.
"Bodo amat! Tinggal bilangin aja, kalau lo lagi sakit, gak bisa jalan. Gampang, kan?" Ucap Haykal dingin. Namun sanggup membuat wajah Bianca memerah.
...****...
"Nes! Lo gak pa-pa?" Alia menyahuti Agnes, ketika keduanya saat ini berada di dalam sebuah mini bar.
"Ish! Menurut lo?!" Agnes membalas ngegas. Gadis itu dengan masih memakai seragam sekolahnya mulai menghabiskan segelas bir yang sebelumnya ia pesan.
Alia memutar bola matanya, seraya meminum sedikit demi sedikit segelas bir yang baru saja dituangkan oleh seorang bartender.
"Lo masih suka aja sama si Haykal?" Celetukan Alia, membuat Agnes melebarkan sedikit kedua matanya.
"Tapi dia cowok player! Dan lagi, sekarang dia udah pacaran sama musuh lo, Si Bianca! Yakin, lo masih mau sama cowok kayak dia?" Pertanyaan Alia, disambut tawa sinis oleh Agnes.
"Bodo amat! Gue cuman mau dia jadi cowok pertama gue! Sayangnya, setiap kali gue ajak dia, dia terus-terusan nolak gue. Body gue udah goals kayak gini, masih kurang apa sebenarnya?" Ujarnya mulai melantur.
Alia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tertawa. "Daripada lo terus-terusan mikirin tuh cowok, mending lo cari sugar daddy, sanah! Banyak yang lagi liatin lo tuh," Ucap Alia, membuat senyum Agnes tertarik.
...****...
Di perjalanan pulang menuju rumah, Kenzo tak henti-hentinya terus memikirkan seseorang yang sudah lebih dari dua minggu ini tidak ia temui. Sesekali, cowok itu berdesis disela menjalankan mobilnya. Terkadang, ia juga berdecak sambil terus mengubah posisi duduknya.
"Nomor gue udah gue tulis sendiri di hape dia. Tapi, kok, dia gak ngehubungin gue sama sekali? Gak tahu aja gue kangen. Eeh, buset—" Kenzo spontan mengerem mobilnya secara mendadak, ketika seseorang dengan tidak hati-hatinya langsung berlari ke tengah jalan seperti hendak menyebrang jalan.
"Gila! Untung gue cepet ngerem! Siapa sih, tuh cewek? Udah bosen hidup, apa gimana?" Kenzo menggerutu kesal.
Dari luar sana, tampak seorang laki-laki berjalan ke arah gadis yang hampir ditabrak oleh Kenzo. Laki-laki itu terlihat menarik pergelangan tangan gadis di hadapannya, namun gadis itu langsung menepisnya.
Melihat agedan drama percintaan di hadapannya, membuat Kenzo kesal sekaligus emosi. Bisa-bisanya mereka berpacaran di tengah jalan dan hampir membuat Kenzo yang baik hati ini menjadi seorang penjahat!
Awas saja!
Kenzo akan balas dendam!
"Woi!" Kenzo berteriak di dalam mobilnya seraya memencet klakson mobil sekeras-kerasnya.
Kedua orang yang Kenzo tebak adalah sepasang kekasih itu mulai mengalihkan tatapan mereka, dan saat itu juga, Kenzo langsung membelalakkan kedua matanya ketika menyadari siapa salah satu dari kedua orang itu.
"Dia kan...?" Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Kenzo pun keluar dari dalam mobil dan menghampiri pasangan itu.
Sial! Pasangan? Kenzo tarik kembali ucapannya itu yang mengatakan bahwa mereka adalah pasangan!
"Heh! Apa-apaan, nih?" Kenzo langsung menarik gadis itu yang masih dicekal oleh laki-laki yang sama sekali tidak ia kenali.
"Kenzo? Kok, lo bisa di sini?" Gadis itu menyahut dengan tatapan kebingungan. Dan, yah. Gadis itu tak lain adalah Wanda. Seorang mahasiswi yang sedang dibicarakan dan dirindukan oleh Kenzo.
"Oh! Jadi ini yang lo maksud dengan pengganti gue? Bocah bau bawang! Lo pikir lo bisa gantiin posisi gue, hah!?" Laki-laki tak dikenal itu mulai berteriak di hadapan Kenzo.
Kenzo berdecih, kemudian melangkahkan kakinya ke hadapan laki-laki itu. "Tinggi lo berapa? Masih ngatain gue bocah bau bawang."
Laki-laki itu terlihat sedikit panik, ketika dirinya dihadapkan oleh Kenzo yang tinggi tubuhnya tidak main-main walaupun dirinya adalah seorang siswa SMA.
"Minggir lo! Gue gak ada urusan sama lo! Urusan gue cuman sama tuh cewek!"
Tatapan Kenzo beralih menatap ke arah Wanda yang berdiri di belakangnya. Kedua mata gadis itu terlihat berkaca-kaca. Raut wajahnya pun tidak sejudes saat pertama kali ia bertemu dengan Kenzo.
"Lo apain cewek gue, hah!?" Kenzo mengalihkan tatapannya ke arah laki-laki itu. Suaranya terdengar rendah ketika mengatakan kalimat tersebut.
"Dia cewek lo? Heh! Asal lo tahu aja, ya! Dia itu sebelumnya cewek gue! Belum gue apa-apain, dia udah nolak. Dasar cewek sok suci!" Mendengar ucapan itu yang keluar dari mulut seseorang yang dulu adalah kekasihnya, membuat Wanda mengepalkan kedua tangannya seraya menahan emosi.
__ADS_1
Pikir Wanda, laki-laki itu adalah laki-laki paling baik yang menjadi kekasihnya. Tapi siapa sangka, baru seminggu berpacaran, dia malah meminta hal yang aneh-aneh yang seharusnya tidak diucapkan oleh laki-laki yang hanya berstatus pacar.
Perlahan, Kenzo mulai mengembuskan napasnya. Ia mencoba untuk tidak tersulut emosi, mengingat mereka saat ini masih berada di tempat umum.
"Maksud dari perkataan lo apa?" Kenzo menatap laki-laki pendek di hadapannya dangan tatapan kurang bersahabat.
Pers*tan ia mengatai orang lain pendek! Siapa suruh dia bersikap seperti itu pada Wanda!
"Lo mau ngapa-ngapain dia?! Emang lo siapanya? Heh! Cowok kayak lo gak pantes dapatin cewek sebaik Wanda!" Ucapan telak Kenzo, membuat laki-laki itu tersulut emosi.
"Diem lo bocah!" Laki-laki itu memekik. Sebelah kepalan tangannya mulai melayang hendak memukul wajah Kenzo.
Namun, bukan Kenzo namanya kalau tidak siap siaga!
Kenzo dengan berbagai pengalaman yang ia punya, mulai menghadang pukulan dari laki-laki itu, dan membalas pukulan yang belum sempat Kenzo terima, langsung di wajah laki-laki itu.
"Aw! Gila! Muka lo tebel banget! Terbuat dari apaan? Besi?" Kenzo menatap kepalan tangannya yang baru saja berhasil memukul wajah laki-laki berengsek di hadapannya.
Laki-laki itu tampak tersungkur ke tanah dengan sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah. Wanda yang melihatnya jelas panik. Ia hendak menghampiri laki-laki itu, namun segera ditahan oleh Kenzo.
"Lo mau nyamperin dia? Cowok gak berakhlak yang hampir membuat lo—"
"Lo pikir gue akan nangis-nangis minta lo berhenti cuman buat dia?! Heh! Ya kali!" Wanda menyela ucapan Kenzo.
Gadis itu dengan penuh keberanian mulai menepis lengan Kenzo yang menghalanginya. Kemudian melangkah ke hadapan cowok ber*ngs*k itu yang masih terdampar di atas tanah.
"Seandainya membunuh itu dihalalkan, orang pertama yang akan menjadi korban pembunuhan pertama gue adalah lo!" Wanda memukul kepala laki-laki yang kini berstatus mantan pacarnya dengan sepatu yang sebelumnya ia lepaskan.
Laki-laki itu tentu saja mengaduh. Belum sempat ia kembali protes, pukulan dari sepatu gadis itu kembali menerjang kepalanya.
"Thanks for your fake love!" Ujar Wanda, sebelum pada akhirnya melenggang meninggalkan laki-laki itu.
...****...
Di tempat yang cukup sepi ini, Wanda terdiam seraya menatap datar danau buatan di hadapannya. Wanda pergi ke tempat itu ditemani oleh Kenzo yang saat ini tengah berada tepat di sampingnya. Terduduk di atas tanah yang berlapiskan rumput jepang.
"Gak usah sok tegar! Nangis mah, nangis aja." Celetukan Kenzo, spontan mendapat tatapan tajam dari Wanda.
Bukannya takut, Kenzo malah tersenyum penuh arti, sembari mendekatkan sedikit posisinya supaya lebih berdekatan dengan Wanda.
"Kata siapa gue mau nangis? Gue sama sekali gak merasa sedih waktu minta putus sama dia!" Ujar Wanda, masih terdengar judes plus garang di telinga Kenzo.
"Tapi tadi gue lihat mata lo berkaca-kaca pas pertama gue datang!? Kalau bukan karena putus sama tuh cowok, terus kenapa lo nangis?"
Tatapan mata Wanda yang semula terlihat sangar, pelan-pelan mulai melemah. Gadis itu tampak mulai menundukan tatapannya.
"Gue gak nangisin dia. Gue cuma sakit hati aja sama omongan dia dan omongan semua orang yang nyinggung gue." Wanda tertawa sinis di akhir ucapannya. Gadis itu terlihat begitu lemah ketika dilihat lebih dalam.
Kenzo tidak berniat menyela ataupun menjawab. Ia malah semakin mendekatkan posisi duduknya, dengan tatapan kedua matanya yang tidak terlepas dari gadis di sampingnya.
"Emang kenapa kalau gue miskin?! Emang mereka siapa bisa seenaknya kayak gitu? Bilang gue sok suci lah! Sok bermartabat lah! Cewek kampung lah! Padahal kan, gue juga sama kayak mereka. Gue juga manusia. Apa gue gak berhak bahagia!?" Raut wajah Wanda seketika berubah semakin sendu. Kedua bola mata gadis itu semakin berkaca-kaca, dan Kenzo dapat dengan jelas melihatnya.
"Iya! Gue kuliah karena dapat beasiswa! Terus kenapa? Karena penampilan gue kayak gini, mereka ngiranya gue polos, cewek kampung, gampang dimainin. Heh!" Gadis itu kembali tertawa sinis. Kedua tangannya mulai mengusap kasar air matanya yang belum sempat menuruni wajahnya.
Kenzo menghela napasnya yang cukup berat. Cowok itu mulai mengubah raut wajahnya menjadi seperti semula. Kedua tangannya pun ia lipat di depan dada.
"Jadi, ceritanya lo curhat, nih?" Kenzo menatap datar gadis itu.
Wanda yang awalnya masih mempercayakan Kenzo menjadi teman curhat dadakannya, mendadak emosi dengan kedua matanya yang menatap tajam pada Kenzo seorang.
"Ish! Lo jadi bocah nyebelin juga, yak! Lama-lama gue ceburin lo ke danau, sekalian mumpung lo sama gue masih ada di sini. Gimana? Mau?" Ancaman Wanda, mendapat decihan dari Kenzo.
"Siapa takut!? Ceburin aja kalo bisa!" Balas Kenzo santai.
Tidak terima dengan sikap Kenzo yang sangat menyebalkan, Wanda dengan berani mulai mengeluarkan jurus tersembunyinya.
Eits, bukan beneran mau nyeburin Kenzo ke danau, ya! Lebih tepatnya, Wanda akan memukuli bocah tengil di hadapannya ini menggunakan sepatunya yang sebelumnya ia gunakan untuk memukuli kepala mantan pacarnya.
Melihat sebuah sepatu milik Wanda mulai berada di genggaman gadis itu, Kenzo mendadak panik sekaligus menjauhkan sedikit posisinya.
Cowok itu mulai senyam-senyum sendiri dengan beberapa kali berdeham seperti seseorang yang tengah dilanda kecanggungan.
"Itu sepatu lo kenapa dilepas sebelah? Mau dilempar?" Di saat seperti ini, Kenzo masih sempat-sempatnya mengajak Wanda basa-basi.
"Iya! Dilempar ke muka lo!" Pekik gadis itu, membuat Kenzo tertawa menyedihkan seraya terus menjauhkan posisinya dari gadis super galak di hadapannya.
"Kak ampun, Kak! Muka gue udah ganteng gini, jangan dibikin babak belur, Kak! Entar kalo jelek, lo-nya gak mau lagi." Ucapan Kenzo yang terdengar ngawur, sukses membuat Wanda menatap prihatin cowok itu.
"Ish! Lo selain nyebelin, pede lo tingkat akut banget, ya!"
Kenzo tertawa, kemudian berdeham. "Mendingan gue pede, daripada lo insecure-an!" Ucap Kenzo, benar-benar langsung tepat sasaran mengenai ulu hati Wanda.
Sialan nih bocah!
"Tapi pede lo kepedean! Udah tingkat penyakit! Gak takut overdosis?" Teriakan Wanda, membuat Kenzo tidak dapat menahan tawanya lagi.
"Mon maap, Mbak! Overdosis itu kelebihan obat, bukan kelebihan pede."
Wanda sudah tidak tahan lagi! Ia benar-benar dibuat emosi oleh bocah tengil bernama Kenzo— entahlah!
Pokoknya, Wanda harus membalas dendam!
^^^To be continue....^^^
Mohon maap baru sempet update:( alesannya bnyk. Gk bisa fokuslah. Sekalinya fokus, kuotanya gk ada lah. Pengen nonton drama lah. Dan kebanyakan mikirin nasib² para cast lah. Adegan berikutnya harus begini lah, ahh pokoknya hidup ini serasa dibuat ribet! But, ya udhlah. Mungkin dah takdirnya bgini.
Oh ya, walaupun update nya lama pke bgt, dan 1 eps, tpi ini eps nya aku panjangin jdi 3300 kata lebih. Seriusss!!!
Gak percaya? Hitung aja sendiri:v canda hitung sendiri.
By the way, aku gk akan menjanjikn lgi bisa update kapan ya! Yg jelas, perkiran paling 2-3 atau 3-4 hari sekali. Soalnya mikirnya gk gampang sayang:)
Ya udah. Segitu aja dulu.
__ADS_1
Main cast? Lain kli aja, lgi males soalnya:v ini aku juga lgi gadang, jam 12:32 blm tidur.
Okelah klo bgitu. Akoh pamit, see you in the next chapter:*