Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 42


__ADS_3

"Hah?! Seorang Kenzo Si Cowok Playboy Sejuta Wanita baru aja ditolak? Enggak salah, lo, Zo?" Azka dengan heboh berteriak mengucapkan kalimat tersebut, sampai membuat beberapa orang yang berada di dalam kelas menoleh pada mereka.


Juna dan Rio refleks tertawa ngakak mendengar teriakan heboh Azka. Sedangkan Kenzo yang jadi bahan tawaan hanya cemberut dengan wajah yang hampir seluruhnya ditekuk.


"Arj*rlah, ngakak! Gue sampe gak habis pikir sama itu cewek yang udah nolak lo! Bisa-bisanya dia nolak seorang Kenzo, padahal cewek-cewek lain di luaran sana aja rela antre biar bisa jalan sama lo?! Aneh, kan?" Juna menghentikan tawanya, kemudian menatap Rio dan mengode cowok itu mencoba meminta persetujuan darinya.


"Yo'i! Gue sampe gak percaya sama omongan dia. Bercanda, kan, Zo? Fix! Bercanda!"


Kenzo mengacak tatanan rambutnya menjadi berantakan. Ia benar-benar kesal mendengar ledekan dari teman-temannya yang selalu saja memojokkannya sedari tadi. Nyebelin emang. Tapi, Kenzo bisa apa?


"Dah, dah! Jangan pada mojokin Si Kenzo! Kek enggak pernah ngalamin aja lo berdua!" Alex pasang badan, berharap teman-temannya tidak lagi mengejek Kenzo.


"Itu dia, Lex! Gue gak pernah ditolak sama cewek! Paling dighosting! Jiaaahhh..." Azka berseloroh, kemudian bertos ria bersama Juna yang juga ikut menanggapi selorohannya. Tidak dengan Rio yang hanya menanggapinya dengan geleng-geleng kepala.


"Berisik lu pada! Pala gue sakit, nih!" Kenzo mulai mengeluarkan ocehannya setelah cukup lama cowok itu hanya terdiam sembari meratapi nasibnya.


Setelahnya, suasana di sekitar mereka pun menjadi hening. Kelima cowok itu terdiam dengan berbagai pikiran masing-masing.


"Btw, Si Haykal mana, ya? Kok, gak balik-balik?" Juna buka suara setelah beberapa saat kelimanya terhanyut dalam keheningan.


Kenzo, Alex, Rio dan Azka, mulai mengedarkan tatapan mereka, menyadari ketidakhadiran seseorang yang baru mereka sadari.


"Lha, iya, ya?" Kenzo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Katanya tadi dia mau balik lagi ke kantin, kan? Sekalian nyariin ceweknya. Soalnya pas tadi pagi keburu jam masuk." Penjelasan dari Rio, kompak dibalas 'oh' oleh keempatnya.


Alex menghela napasnya cukup dalam, membuat perhatian yang lain seketika beralih padanya. Raut wajahnya pun berubah murung. Dan sorot matanya tidak seperti yang biasanya ia tampilkan.


Dan semua itu tak luput dari perhatian keempat sahabatnya.


"Kenapa, Lex? Lo ada masalah?" Azka merangkul Alex tiba-tiba, sehingga membuat cowok itu langsung tersentak dari lamunannya.


"Yaa, gitu, deh." Balasnya sedikit misterius. Mendengar hal itu, Kenzo seketika mengingat soal pembicaraan mereka berdua tadi pagi ketika masih berada di parkiran sekolah.


"Oh, ya, Lex. Tadi waktu di parkiran, lo bilang mau cerita sama gue? By the way, lo mau cerita apaan?" Kenzo buka suara.


Alex terdiam meresapi ucapan dari Kenzo. Tak selang berapa lama, cowok itu mulai melepaskan rangkulan dari Azka dan menatap satu-persatu sahabatnya.


"Ini soal Bokap lo, Zo. Kalau gue cerita, gak pa-pa?"


"Bokapnya Si Kenzo? Om Kenan maksud lo?" Juna menyela, yang langsung diangguki anggukan mantap oleh Alex.


Kenzo sedikit mengernyitkan dahinya merasa bingung. Tak lama, ia pun ikut bersuara. "Emang Bokap gue kenapa?


Alex kembali mengembuskan napasnya dalam-dalam, sebelum pada akhirnya ia mulai melanjutkan ucapannya. "Om Kenan gak ngesertuin hubungan gue sama kembaran lo."


"What?! Serius lo, Lex?" Kenzo, Juna, Azka dan Rio, refleks berucap secara bersamaan dengan cukup heboh.


Tak lama setelahnya, mereka berempat tampak saling pandang ke arah masing-masing. Setelah dirasa cukup untuk saling pandangnya, perhatian mereka kembali pada Alex.


"Lo gak lagi bercanda, kan? Emang alasannya apa sampe-sampe lo gak direstuin sama Bokap gue?" Kenzo merapatkan posisi duduknya, diikuti oleh Rio dan juga Azka yang mencari posisi ternyaman di kursi mereka.


"Alasannya ...." Alex menggantungkan ucapannya, membuat keempat sahabatnya tidak dapat sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari cowok itu.


"Apa alasannya?" Tuntut Juna tidak sabaran. Refleks Azka langsung menyenggol lengan cowok itu untuk bersikap sedikit lebih sabar.


"Alasannya ada di keluarga gue. Lo semua pada tahulah, mereka kek gimana?"


"Bener juga. Keluarga lo keras! Tapi lo beruntung karena mereka masih ada di sisi lo. Sedangkan gue, ketemu sekali aja gue gak pernah." Azka menyela ucapan Alex kemudian terkekeh miris mengingat bahwa ia hanya dibesarkan oleh kakek, nenek dan juga pamannya.


Mendengar hal itu, Alex langsung terdiam. Benar juga apa yang dikatakan oleh Azka. Seharusnya ia bersyukur, bukan malah terus menyalahkan papanya yang terus bersikap demikian.


"Terus gue harus gimana?" Pertanyaan frustasi dari Alex, refleks membuat keempat sahabatnya langsung berpikir keras.


Bagaimanapun juga, masalah yang tengah menimpa Alex, adalah masalah mereka juga. Itulah gunanya sahabat.


...****...


Saat ini, Haykal dan Bianca tengah berada di taman belakang sekolah yang cukup sepi. Keduanya masih berdiri diam saling berhadapan, setelah sebelumnya mereka berdua sempat saling beradu argumentasi sampai berakhir cukup dramatis.


Ditatapnya Bianca yang masih belum juga selesai dengan tangisannya, Haykal hanya bisa terdiam kaku kebingungan.


Sungguh demi apa pun, ini pertama kalinya ada seorang gadis menangis sesenggukan di hadapannya! Dan parahnya, Haykal tidak tahu harus seperti apa?! Menghibur atau membiarkan, ia pun tidak tahu.


"Bi—" ketika Haykal hendak menyentuh lengan Bianca, gadis itu langsung menepisnya, kemudian mengusap kasar wajahnya yang masih bersisakan air mata.


Tatapannya yang semula menunduk, seberani mungkin kini ia mulai menatap sepasang netra milik Haykal yang juga tengah menatapnya.


Jantungnya sudah bergemuruh sedari tadi dan bibirnya dibuat sebisa mungkin untuk tidak kaku saat nanti berbicara, walaupun ia tahu itu tidak semudah yang ia bayangkan selama ini.


Sebelum ia mulai mengatakan apa yang menjadi bebannya selama ini, gadis itu menyempatkan diri untuk menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dengan perlahan.


Setelah ia cukup yakin, Bianca mulai menarik salah satu tangan Haykal, lalu menempelkannya di perutnya.


Melihat apa yang baru saja dilakukan gadis itu, tentu saja Haykal bingung. Ia masih menatap gadis itu yang belum juga mengatakan apa-apa. Dan Haykal hanya bisa menerka-nerka apa yang tengah dilakukan oleh gadis itu.


"Gue hamil!" Pengakuan Bianca yang tanpa berusaha berbasa-basi terlebih dahulu, membuat Haykal spontan menarik tangannya yang berada di perut Bianca yang masih rata.


Sepasang bola matanya langsung membulat hampir sempurna dengan tatapan matanya yang masih belum beralih dari raut wajah gadis itu. Jantungnya pun terasa bergemuruh dengan pikirannya yang mulai buntu.


Melihat respon dari laki-laki itu yang hanya diam seraya memandanginya dengan tatapan terkejut, Bianca hanya bisa kembali meluapkan emosinya. Gadis itu kembali menangis, apalagi pikiran negatif mulai kembali menguasainya setelah melihat respon dan reaksi dari Haykal.


"Kal! Kenapa lo diem aja! Lo bilang waktu itu lo bakal ngelakuin apa pun buat gue, tapi sekarang lo nyesel? Lo harus tanggung jawab, ini semua gara-gara lo!" Bianca memukuli dada bidang Haykal cukup keras. Isak tangis dan air matanya belum berhenti.


Haykal masih terus terdiam walaupun Bianca sudah berkali-kali memukuli dadanya. Ia masih belum mencerna sepenuhnya kalimat dari gadis itu, dan itu benar-benar membuatnya tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Haykal! Jawab! Lo jangan diem gitu aja! Lo gak akan ninggalin gue, kan?" Suara sahutan frustasi dari Bianca yang cukup keras mampu membuat Haykal tersadar dari apa yang membuatnya terdiam cukup lama.


Ditatapnya Bianca yang masih menangis di hadapannya, Haykal lantas menarik tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam dekapannya. Deru napas berat dapat Bianca dengar dengan sangat jelas yang berasal dari Haykal. Dekapannya pun terasa semakin erat dengan sesekali tangannya mengusap kepala gadis itu.


Bianca melebarkan kedua bola matanya. Ia benar-benar dibuat terkejut dengan apa yang tengah dilakukan oleh Haykal padanya saat ini. Padahal Bianca sempat berpikir negatif, jika laki-laki itu akan lepas tanggung jawab dan pergi meninggalkannya begitu saja.


Tak lama setelah Haykal mendekapnya, emosi gadis itu kembali meluap. Tangisnya kembali pecah sesaat mendengar bisikan halus dari Haykal yang mengatakan;

__ADS_1


"Maaf! Gue gak akan lari. Gue udah pernah bilang sama lo kalau gue akan lakuin apa pun buat lo. Gue gak akan ingkar janji. Karena gue sayang sama lo."


...****...


Bel pulang sekolah berbunyi cukup nyaring sampai ke setiap penjuru kelas. Siswa dan siswi satu sekolah kini mulai membereskan masing-masing buku serta alat tulis mereka ke dalam tas dan bersiap untuk pulang.


Sebelum memakai tasnya dan bersiap untuk ke parkiran, Alex terus menunggu keberadaan seseorang yang sedari istirajat jam pertama sampai jam pulang sekolah masih belum juga terlihat batang hidungnya.


"Lex! Si Haykal kok gak balik lagi? Ini tasnya gimana, nih?" Azka yang juga mengkhawatirkan Haykal yang tidak kunjung kembali, menyahut pada Alex sampai membuat beberapa teman sekelas yang masih berada di dalam menolehkan kepalanya sekilas.


"Coba lo telepon, Yo!" Kenzo ikut menyela, dan meminta Rio untuk menghubungi nomor telepon Haykal.


Seperti yang dikatakan oleh Kenzo, Rio pun mengangguk dan mulai menghubungi nomor telepon Haykal. Namun, ketika panggilan teleponnya hanya dijawab oleh operator, seketika Rio berdesis menyadari sesuatu.


"Nomornya gak aktif. Kayaknya hapenya belum diganti, deh!"


"Anj*rlah!" Kenzo mengumpat seraya berdesis pelan. Hilangnya Haykal yang tiba-tiba bagai ditelan bumi membuat Kenzo dan yang lain sedikit kelabakan.


Pasalnya, siang tadi saat jam istirahat pertama di mana Kenzo dkk sehabis jajan dari kantin, Haykal kembali berlari menuju kantin dengan alasan ada yang kelupaan sekalian mencari keberadaan pacarnya, Bianca.


Namun siapa sangka. Setelah saat di mana ia pergi, di situlah laki-laki itu tidak kembali sampai detik ini. Membuat Kenzo dkk, serta beberapa guru yang sempat mengabsen di kelas dibuat kebingungan karena tidak adanya pemberitahuan lisan maupun tulisan atas ketidakhadiran laki-laki itu.


Kenzo dkk refleks mengembuskan napas berat. Kelimanya kini sibuk berpikir, apa jangan-jangan ada sesuatu hal yang buruk sudah terjadi pada Haykal, sampai membuatnya menghilang seharian?


"Za, lo pulang sama siapa?" Alma yang masih berada di dalam kelas bersama dengan gengnya Kenzo, menyahut kecil pada Kanza yang terlihat santai memainkan ponselnya.


"Eh? Kalo lo pulang sama siapa?" Kanza mulai bangkit dari posisinya, membuat Alex dan Kenzo secara spontan mulai mengalihkan perhatiannya pada gadis itu.


"Gue bawa motor. Lo mau nebeng? Si Kayla udah main kabur duluan soalnya," Alma mengerucutkan bibirnya seraya mengembungkan kedua pipinya.


"Emm ...." Kanza mulai berpikir. Tatapan matanya yang semula menatap Alma, perlahan ia mulai mengalihkan perhatiannya pada Alex yang ternyata tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit dijabarkan.


"Gue mau pulang bareng Alma, ya?" Kanza berucap tiba-tiba yang ditunjukkan kepada Alex.


Mendengar hal itu, refleks Kenzo mendengus. "Terus gue? Lo gak mau bilang apa-apa gitu sama gue?"


"Ngapain? Kan udah barusan. Ngapain harus diulang? Buang-buang oksigen aja." Balasan Kanza yang teramat sinis, membuat Kenzo tanpa sadar kembali mendesis.


Sedangkan Alex dan yang lain refleks menahan tawa mereka. Rangkaian kata-kata dari gadis itu mampu membuat Kenzo langsung bungkam, padahal selama ini selalu Kenzo yang membuat orang lain dibuat seperti itu.


"Lo—"


"Ya, udah. Sekalian gue sama yang lain juga mau nyariin Si Haykal. Hati-hati di jalan, ya. Jangan ngebut!" Alex menyela ucapan Kenzo. Sontak Kenzo langsung beralih menatapnya dengan tatapan cukup sangar.


Kanza tersenyum malu-malu menghadap Alex. Namun ketika ia tidak sengaja mencuri padang pada Kenzo, raut wajahnya langsung berubah datar. Dan setelahnya, gadis itu pun mulai melenggang keluar dari dalam kelas bersama Alma.


Kenzo mendengus selepas perginya gadis itu dari hadapannya. Lupakan soal kembarannya yang teramat menyebalkan itu. Lebih baik ia kembali fokus pada awal pembicaraan mereka.


"Kita ke parkiran dulu aja, gimana?" Usulan dari Juna langsung dibalas setuju oleh keempat sahabatnya.


Namun, sesaat ketika mereka mulai melenggang beberapa langkah keluar dari dalam kelas, notifikasi pesan dari salah satu ponsel mereka berbunyi. Refleks kelimanya mulai menghentikan langkah mereka seraya memeriksa ponsel milik masing-masing.


"Bukan punya gue!" Kenzo angkat tangan seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku blazer.


"Gue juga bukan." Juna, Azka dan Rio menyahut bersamaan.


Juna menerima dengan senang hati ponsel yang diberikan oleh Alex. Cowok itu beserta Kenzo, Azka dan Rio dengan penasaran mulai mengintip isi pesan yang katanya dikirimkan oleh Haykal.


+6281854****


Lex, ini gue Haykal. Bisa ajak yang lain kumpul di tempat tongkrongan biasa, gk? Gue mau jujur sesuatu sama kalian.


Setelah membaca pesan tersebut, Juna, Kenzo, Azka dan Rio, mulai saling pandang. Tak lama kemudian, tatapan mereka pun beralih pada Alex yang mulai mengambil kembali ponselnya dari tangan Juna.


"Gue punya firasat yang gak bener. Kuy, kita ke sana!" Kenzo menepuk pelan bahu Rio dan mengajak keempat sahabatnya untuk segera menuju parkiran dan pergi ke tempat biasa untuk menghampiri Haykal.


Keempatnya pun mengangguk. Dengan langkah terburu-buru, mereka berlari melewati beberapa belas dan menuruni puluhan anak tangga sampai akhirnya mereka mulai tiba di parkiran sekolah.


...****...


Haykal mengembuskan napas berat setelah cukup lama laki-laki itu masih terdiam di dalam mobilnya bersama seorang gadis yang ia bawa untuk membolos hanya untuk satu hari ini.


Suasana di antara keduanya terasa begitu hening dan kaku. Tidak ada percakapan, padahal keduanya hampir berjam-jam menghabiskan waktu dengan pergi memeriksa kandungan gadis itu, pergi makan sambil menongkrong sebentar, sampai pada akhirnya keduanya kini hanya berada di dalam mobil yang tidak dijalankan.


Haykal terkekeh miris kala ingatan beberapa jam yang lalu saat keduanya nekat pergi ke dokter kandungan dengan mengenakan seragam sekolah berputar kembali di otaknya. Kedua remaja itu sempat dimarahi dan dinasihati panjang lebar oleh dokter yang memeriksa Bianca, namun yang dinasihati hanya bisa diam dan sesekali hanya mengangguk.


"Jangan maafin gue, Bi. Gue gak pantes dapat maaf dari lo." Suara setengah berbisik dari Haykal, spontan membuat gadis itu langsung menolehkan kepalanya dan menatapnya.


Tak berlangsung lama, Bianca kembali membuang mukanya tanpa berniat berbicara sedikitpun.


Tak berapa lama setelah Haykal sempat meminjam ponsel milik Bianca untuk menghubungi teman-temannya, beberapa mobil yang sangat Haykal kenali mulai terparkir tak jauh dari tempat dirinya memarkirkan mobil.


Senyum tipis lantas terbit dari wajahnya. Tidak ingin membuang-buang waktu, Haykal mulai melepas ikatan seatbeltnya, dan keluar dari dalam mobil. Namun sebelum ia benar-benar keluar dari sana dan meninggalkan Bianca seorang diri, ia menyampatkan diri melirik gadis itu sejenak.


"Lo tunggu di sini. Jangan ke mana-mana!" Ucapnya, kemudian mulai keluar dari dalam mobil dan menghampiri Kenzo, Alex, Juna, Azka dan Rio yang juga mulai keluar dari dalam mobil mereka.


Tempat biasanya yang dimaksud Haykal adalah sebuah tanah lapang yang tidak terpakai yang biasa mereka jadikan sebagai tempat tongkrongan yang jauh dari keramaian.


Ada sebuah bangunan tua berupa warung yang telah lama ditinggalkan oleh pemiliknya yang sempat mereka renovasi sehingga menjadi sebuah tempat tongkrongan paling pas dikala sore hari.


Kenzo, Alex, Juna, Azka dan Rio, menatap kedatangan Haykal dengan saling melayangkan tatapan meminta penjelasan karena telah menyuruh mereka semua untuk berkumpul di tempat ini.


Bugh!


"Ke mana aja lo? Kalau lo mau bolos, bilang dulu kek, jangan main ngilang gitu aja! Kita khawatir, nih!" Azka melempar tas milik Haykal pada pemiliknya langsung. Tatapan matanya terlihat sekali menyiratkan sebuah kekesalan.


"Sorry! Gue bolos karena terpaksa. Ada satu hal yang mau gue ceritain ke lo semua. Tapi pertama-tama, gue minta maaf sama kalian kalau semisalkan gue buat kalian kecewa." Penuturan Haykal, membuat Kenzo dkk refleks saling pandang dengan tatapan kebingungan.


"Lo ada apa sebenarnya? Ada sesuatu yang lo sembunyiin dari kita?" Rio buka suara. Terdengar helaan napas berat dari Haykal membuat teman-temannya sedikit gemas dengan cowok itu.


"Gue buat kesalahan." Ucap Haykal. Ia masih menjeda ucapannya, membuat teman-temannya berusaha menerka-nerka maksud dari ucapan cowok itu.


"Kesalahan apa?" Alex mulai unjuk bicara. Ia yang sedari tadi hanya diam mulai ikut gemas dengan ucapan Haykal yang bertele-tele.

__ADS_1


"Gue hamilin Bianca."


Hening. Tak ada suara lagi setelah Haykal mengatakan kalimat itu. Kelima teman-temannya tidak ada satu pun yang bersuara. Mereka hanya menampilkan reaksi terkejut seperti reaksi saat pertama kalinya Haykal mendengar kenyataan tersebut dari Bianca.


"Lo bercanda, kan?" Kenzo menyela setelah cukup lama suasana di antara mereka hening.


"Gue gak bercanda. Waktu it—"


Bugh!


Satu pukulan di rahang Haykal sebelum laki-laki itu menyelesaikan ucapannya dilayangkan oleh Kenzo yang mulai kehilangan kesabarannya. Emosinya mencuat dan napasnya mulai tersengal. Ia benar-benar tidak menyangka ucapan seperti itu akan keluar dari mulut Haykal suatu hari.


Haykal mendesis pelan merasakan sakit di area rahangnya. Sedangkan teman-temannya yang lain, mereka hanya diam dengan masing-masing menahan emosinya. Berbeda dengan Kenzo kalau sudah emosi, maka ia tidak akan sungkan untuk segera meluapkannya.


Kenzo segera menarik kedua kerah seragam Haykal dan membawanya ke hadapannya. Tatapan matanya berubah dingin mengkilat yang ditujukan pada sahabatnya.


"Kenapa harus Bianca!" Kenzo memekik keras, membuat Alex dan yang lain dengan sigap mulai mengerumuni mereka berdua hendak memisahkan.


"Udah berapa kali gue bilang sama lo! Kalau lo mau main-main, jangan sama cewek polos yang gak tahu apa-apa! Cukup sama jal*ng yang udah pernah kepake! Kenapa harus cewek polos kayak dia yang jadi korban lo!" Kenzo semakin mencengkram kuat kerah seragam Haykal, namun laki-laki itu hanya bisa diam diperlakukan seperti itu oleh Kenzo.


"Gue khilaf, Zo—"


"Khilaf lo bilang? Bangs*t!" Kenzo mendorong Haykal, kemudian mulai kembali melayangkan pukulannya.


Melihat hal itu, Alex dengan sigap menjadi penghalang di tengah-tengah antara Kenzo dan Haykal. Sementara Juna dan Azka memilih menahan pergerakan Kenzo yang mungkin saja akan melayangkan kembali bogemannya pada Haykal. Dan Rio, dia dengan refleks mendekati Haykal yang tersungkur akibat pukulan yang dilayangkan oleh Kenzo.


"Lepasin gue! Gue belum puas mukulin dia!"


"Tahan, Zo! Lo boleh marah, tapi cara lo jangan kayak gini. Biar bagaimanapun juga, Haykal tetap temen kita. Dia juga manusia. Dia bisa khilaf kapan aja!" Ucapan Azka seraya memegang kuat Kenzo, membuat cowok itu sedikit melemah.


Dengan frustasi, Kenzo menepis kuat Azka dan Juna sampai membuat dirinya langsung terlepas dari cengkraman mereka. Dengan tarikan napas yang dalam, Kenzo mulai melangkahkan kakinya ke hadapan Haykal yang masih tersungkur menahan nyeri di area rahang dan wajahnya.


"Jangan, Zo!" Alex merentangkan lengannya untuk mencegah Kenzo, agar hal yang sebelumnya terjadi tidak terulang kembali.


Kenzo tidak mendengarkan ucapan Alex. Dengan emosi, ia mendorong Alex sampai membuat cowok itu hampir ikut tersungkur jika tidak segera menyeimbangkan tubuhnya.


"Zo, udah, Zo! Menghakimi bukan tugas kita. Biarin itu jadi tugas orangtua dia." Rio bangkit dari posisinya seraya menahan bahu Kenzo.


Seperti yang sudah pernah dilakukannya pada Juna, Azka dan Alex, Kenzo menepis tubuh Rio sampai membuat cowok itu berpindah tempat. Kini tidak ada lagi penghalang antara dirinya dan juga Haykal.


"Pukul gue lagi, Zo! Gue emang pantes dapat pukulan dari lo!" Haykal belum berusaha untuk bangkit. Cowok itu dengan sama-sama frustasi menatap sepasang bola mata Kenzo yang masih terlihat dingin.


Tanpa aba-aba lagi, Kenzo mengulurkan tangannya. Bukan untuk kembali melayangkan pukulannya pada Haykal, melainkan untuk membantu cowok itu agar bangkit dari posisinya.


Menyadari situasi mulai berubah, Alex, Juna, Azka dan Rio, bahkan Haykal mulai mengernyit menatap Kenzo dengan sorot kebingungan. Dengan ragu, Haykal masih menatap uluran tangan Kenzo, dan belum berniat untuk menerimanya.


"Gue nyuruh lo bangun! Lo gak mau gue tolongin?" Nada suara yang dikeluarkan Kenzo terdengar sarkas. Namun, mereka menyadari satu hal bahwa perlahan Kenzo mulai berusaha untuk menyudahi perkara tersebut agar tidak menimbulkan keretakan dalam tali persahabatan mereka.


Haykal berusaha terlihat tenang dengan menampilkan kekehan kecil. Tak lama setelahnya, cowok itu mulai meraih uluran tangan Kenzo, sehingga Kenzo pun dapat dengan mudah menarik tangannya.


Alex, Juna, Azka dan Rio, kompak menghela napas lega. Mereka pikir, Kenzo akan kembali meluapkan emosinya. Namun ternyata, cowok itu hanya ingin membantu Haykal untuk bangkit.


"Nah, gini, kan enak! Sekarang, kita selesaian pake kepala dingin. Oke? Walaupun sebenarnya gue juga kesel sama lo, Kal!" Juna kembali buka suara untuk memecah ketegangan di antara mereka.


Haykal melepaskan tangannya dari Kenzo, kemudian menatap Juna. "Maafin gue." Ucapnya tulus, lantas dibalas tepukan pelan oleh Rio di salah satu bahunya.


"Kita semua kecewa sama lo, Kal! Gue harap lo mau tanggung jawab atas apa yang udah lo perbuat!" Alex menyela. Membuat Haykal langsung menundukkan kepalanya seraya mencerna apa yang telah dikatakan oleh cowok itu.


"Gue akan tanggung jawab. Makanya gue jujur sama kalian, karena gue tahu, cuma kalian yang gue punya."


"Waseekkk! Sa ae lu, Kal. Pelukan gak, nih?" Azka mulai mengeluarkan jurus andalannya agar suasana di sekitar mereka semakin mereda.


Juna, Rio, Haykal dan Kenzo langsung terkekeh. Tidak dengan Alex yang hanya menampilkan senyum biasa.


"Sekarang kita pulang. Udah sore juga dan, oh ya. Gue gak akan minta maaf sama apa yang udah gue lakuin ke elo, Kal!" Tatapan Kenzo kembali pada Haykal yang tengah terkekeh menanggapi ucapannya.


"Siap! Lo udah maafin gue aja, gue udah bersyukur banget, Zo! Gue yang harusnya minta maaf sama kalian. Gue benar-benar udah ngecewain semua sahabat gue yang udah percaya sama gue." Balas Haykal.


Tak lama setelah mengucapkan kalimat itu, teman-temannya dimulai dari Alex, Juna, Azka dan Rio, mulai mengacak kepalanya cukup kuat membuat cowok itu mengaduh beberapa kali.


"Hantaman dari gue, nih! Gue kesel sama lo soalnya!" Ungkap Azka setelah cowok itu cukup puas mengacak kepala Haykal.


"Terima dari gue juga, Kal! Gue pengen nabok lo, tapi untungnya udah diwakili sama Si Kenzo!" Juna ikut menimpal.


"Bersyukur lo enggak gue jadiin samsak! Kalau iya, habis lo sama gue, Kal!" Alex ikut nimbrung.


"Gue gak mau bilang apa-apa. Pokoknya gue kesel sama lo!" Dan setelahnya Rio. Cowok itu langsung mendengus setelah mengatakan kalimatnya.


Kenzo menggeleng pelan seraya terkekeh. Ia tidak ikut melakukan hal serupa seperti yang dilakukan teman-temannya karena dia telah mendapatkan yang lebih puas dari sekadar mengacak kepala.


Ya, apalagi kalau bukan bogeman mentah-mentah yang tadi?!


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Bianca tersenyum kecil dari balik mobil melihat interaksi tak biasa dari Haykal dan kelima teman-temannya.


Bianca pikir, Haykal akan habis dihajar oleh teman-temannya karena telah menodai dirinya. Tapi siapa sangka, Bianca yang tadinya hendak berlari menghampiri Haykal yang tengah dipukuli oleh Kenzo langsung terhenti ketika melihat cowok itu malah mendatangi Haykal dan membantunya untuk berdiri.


Bianca menghela napasnya cukup panjang. "Dan yang harus dihadapi selanjutnya adalah ...." Gumaman gadis itu terjeda kala netranya kembali menatap keenam cowok di luar sana yang tengah bercanda ria.


"... Papa." Lanjut gadis itu dengan raut wajahnya yang langsung berubah sendu.


^^^To be continue....^^^


Spoiler...?>>>


Plak!


Tamparan keras melayang di pipi kiri Haykal setibanya ia di rumah mewah yang selama hampir sebulan lebih telah ia tinggalkan.


Seorang pria setengah baya yang tak lain adalah papanya, Juan, berdiri hangkung di hadapan putra keduanya. Raut wajahnya tampak tak bersahabat. Deru napasnya pun terlihat memburu. Kilatan kemarahan terpancar jelas di kedua bola matanya.


"Masih ingat pulang kamu, hah?! Apa yang sudah kamu lakukan? Dasar anak tidak tahu malu! Papa enggak pernah ngajarin kamu untuk bersikap berengsek sama perempuan!" Pekik Juan. Dan saat itu juga, tatapan antara Juan dan Haykal bertemu. Keduanya saling menatap dengan tatapan dingin dan mengintimidasi.


Mulai muak dengan keadaan yang selalu memojokkannya, Haykal lantas melangkahkan kakinya ke hadapan Juan, sampai jarak di antara keduanya hanya tinggal beberapa jengkal saja.

__ADS_1


"Kapan Papa pernah ngajarin Haykal?"


Hadoh, gaes! Maafkeun baru update!!! Niatnya paling lama 3 hari bkl diupdate, tpi ini udh berapa hari, ya hm:v ini semua gara² waktu daring kemarin aku izin sakit yg waktu jatoh dari motor itu loh, dan akhirnya tugas² pada numpuk deh. Ini aja tugas aku msh pada bnyk, tpi aku lebih milih update dibandingkn ngerjain tugas, ups! Soalnya kalo ngetik naskah, seharian juga beres. Tapi kalo ngerjain tugas yang banyaknya gk ketulungan itu bisa sampe berhari². So, entar malem aku bkln lanjut nulis lgi walaupun sebnrnya males bgt huwaa... pokoknya mohon maaf bgt sama kalian🙏 aku harap kalian bisa maklumin aku karena aku msih seorang pelajar SMK. Kemarin aja hbis ke sekolah cmn msh pke baju bebas, dan waktu buat ngetik cmn sebentar, yaitu pas malam. dan besoknya harus sekolah lgi. Aku sekolahnya cmn seminggu 2x hari senin sama rabu dan di pljrn produktif doang. buat pljrn yg lain pada daring. Ywdh deh, segitu dulu QnA nya. lain kali kita berbincang lgi, eaaak🤣 pamit duluuu🙏


__ADS_2