Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 16


__ADS_3

"Jadi orang jangan halu! Mana ada Kanza pacaran sama Kenzo terus ngedeketin Alex? Yang ada elo sama temen-temen lo yang ngaku-ngaku pacaran sama si Kenzo! Denger, yah! Kanza itu sahabat gue! Kalo lo berani usik dia, itu tandanya lo juga ngusik gue!" Jujur! Pertama kalinya seorang Alma yang polos dan pendiam meledak sejadi-jadinya seperti sekarang ini.


Dan itu semua, ia lakukan bukan hanya karena membela Kanza saja. Ia juga sedang menyalurkan dendam pribadinya kepada Monika.


"Bener, tuh!" Seorang gadis yang sedari tadi terus menyela kerumunan, buka suara ketika dirinya telah terlepas dari kerumunan itu dan berjalan ke arah Kanza dan Alma. Yang tak lain adalah Kayla.


"Seleranya Kanza tinggi. Yang pasti dia gak cuma ganteng, tapi dia juga pinter, cool, perhatian. Iya, kan, Za!?" Kayla beralih menatap Kanza.


Sedangkan Kanza yang tidak tahu apa-apa hanya memelotot ke arah Kayla seraya menunjuk dirinya sendiri.


"Udahlah! Ngapain sih, kita di sini ngeladenin tiga cabe busuk ini! Buang-buang waktu aja. Mending kita ke perpus, baca buku, belajar yang rajin, biar gak terus-terusan halu!" Alma sengaja menekankan kata halu seraya menatap bangga ke arah Monika, Dayana dan Anggia. Ketiganya terlihat mulai tersulut emosi.


"Ayo, Za!" Kayla dan Alma menarik Kanza untuk segera pergi dari kerumunan. Ketiga gadis itu tertawa bahagia.


Sedangkan Monika, gadis itu sudah mencak-mencak tidak jelas. Dayana dan Anggia seberusaha mungkin menenangkan temannya itu.


"Tuh, kan! Paling si Monika cuman mau cari sensasi aja! Ya kali si murid baru pacaran sama My Sweety Kenzo! Di kelas aja mereka kek orang gak kenal gitu!"


"Iya, lah! Selain cari sensasi, emang dia bisa apa lagi?"


"Cantik-cantik kok kelakuan kayak nenek sihir!"


"Males anj*r, gak seru! Bubar-bubar!"


Setelahnya, kerumunan siswa pun mulai bubar. Kini yang tersisa hanya Monika and the gang.


"Awas aja lo! Berani ngelawan gue, gue jamin hidup lo gak akan tenang!"


...****...


"Za!" Alma memanggil Kanza yang berjalan lebih awal di bandingkan dengan Kayla dan Alma yang masih berjalan di belakang.


Kanza menghentikan langkah kakinya berbalik menatap kedua sahabatnya. "Ya?"


Alma dan Kayla terlihat saling pandang satu sama lain dengan raut wajah serius. Membuat Kanza yang tadinya tengah senyam-senyum sendiri langsung mengubah raut wajahnya menjadi datar.


"Kenapa? Ngomong aja!"


Alma dan Kayla tampak saling tuduh satu sama lain hanya untuk berbicara satu hal. Sehingga pada akhirnya, Kayla yang mengalah.


"Za, sebenarnya..." Kayla menggantungkan sejenak ucapannya.


Gadis itu kemudian menatap sekitar. Berharap tidak ada siapa pun di sekitar mereka saat ini.


"Sebenarnya kita udah tahu kalo lo sama si Kenzo itu saudara kembar!"


Bagai diserang petir tepat di dadanya, Kanza langsung memundurkan sedikit langkah kakinya seraya menatap Alma dan Kayla dengan tatapan gugup sekaligus terkejut.


"Ha-hah?! Lo berdua apaan, sih! Bercandanya gak lucu tahu gak!" Kanza sudah panas dingin. Bagaimana Alma dan Kayla tahu bahwa Kanza dan Kenzo adalah saudara kembar!?


"Za!" Alma kembali memanggil nama gadis itu dengan raut wajah semakin serius. Membuat Kanza tidak bisa mengelak lagi.


"Sejak kapan kalian tahu?"


Alma dan Kayla merasa sedikit bersalah sebenarnya. Tapi, mau sampai kapan keduanya harus pura-pura tidak tahu?!


"Lo masih inget waktu pertama kali lo masuk ke sekolah hari itu? Pas jam istirahat waktu itu, lo ditarik paksa sama si Kenzo. Iya, kan? Dan dari situlah, kita ngikutin lo karena takut terjadi hal buruk sama lo." Ucap Alma.


Kanza terdiam seraya terus menelan salivanya.


"Waktu itu, kita baru aja mau nyegah si Kenzo berbuat hal buruk ke elo, tapi kita malah mendengar suatu hal yang seharusnya enggak kita dengar, karena itu adalah rahasia kalian berdua." Lanjut gadis itu. Kanza semakin dibuat membisu oleh kedua sahabat barunya.


"Maaf, Za! Seharusnya waktu itu kita gak ngikutin lo! Seharusnya rahasia kalian tetep aman, selagi gak ada kita di tempat itu saat itu. Kita gak tahu alasan kalian menyembunyikan identitas kalian tuh, buat apa. Tapi yang paling jelasnya adalah, kita tetap ngehargain lo dan mendukung lo." Perkataan panjang lebar dari Kayla, mengundang perasaan haru di hati Kanza.


Kedua mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Alma dan Kayla yang melihat Kanza seperti akan menangis, langsung memeluknya.


"Lho, kok nangis? Kita gak menuntut lo buat ngasih tahu kita kenapa lo harus merahasiakan identitas kalian, kok. Jangan nangis, Za!" Alma mengelus-elus punggung Kanza yang mulai bergetar.


"Enggak, gue gak nangis! Gue cuman terharu aja! Makasih kalian udah mau pengertian. Dan maaf karena gue udah ngerahasiain ini dari kalian berdua, padahal kalian yang selama ini tulus sama gue. Dan maaf juga, gue belum bisa cerita kenapa gue merahasiakan ini di depan semua anak di sekolah ini. Gue janji, kalo gue udah siap, gue pasti cerita!" Ujar Kanza, membuat Alma dan Kayla tersenyum hangat dan mulai memeluk kembali sahabatnya itu dengan pelukan yang erat.


"Hm. Kalo belum siap, jangan dipaksain." Kayla berucap pelan, disela acara pelukannya bersama Alma dan Kanza.


...****...


"Alex!" Suara bariton milik seorang pria berbadan tinggi, tegap, dan gagah, memanggil nama Alex.


Alex yang masih berada di ruangan basket di gedung olahraga pun tentu saja menoleh. "Papa? Kenapa Papa di sini?"

__ADS_1


Alex langsung menghentikan kegiatannya mendrible bola, dan membuangnya ke sembarang arah. Cowok itu lantas berjalan menghampiri pria itu yang tak lain adalah papanya, Geovano Erza Adithama.


Geo yang mengenakan pakaian jas lengkap, tersenyum hangat ke arah putranya. "Papa tadi dipanggil sama wali kelas kamu. Katanya mau ikut lomba olimpiade, ya? Hem, anak Papa memang benar-benar jenius. Gak sia-sia Papa ngasih kamu les dari kecil."


Alex sama sekali tidak tersenyum ketika mendengar papanya memujinya. Raut wajah cowok itu malah semakin datar dan dingin tanpa ekspresi.


"Oh, ya. Papa dengar, kamu lagi dekat sama perempuan di sekolah ini?" Ucapan Geo, membuat Alex langsung menatapnya dengan tatapan tajam.


"Papa dengar dari siapa?"


Geo tersenyum seraya berjalan-jalan menatap ruangan tersebut sembari mengangguk-anggukan kepalanya, entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Apa yang Papa gak tahu soal kamu?" Geo mulai membalikkan tubuhnya menghadap putranya. Pria berusia sekitar 40 tahun lebih itu kembali berjalan menghampiri Alex.


"Masih ingat perkataan Papa waktu kamu masih umur 5 tahun? Waktu Papa bilang, 'masa depan kamu, cita-cita kamu, dan jodoh kamu, Papa yang akan atur semuanya'. Jadi, lupakan perempuan yang kamu sukai itu. Kamu masih kelas dua SMA. Tidak boleh memikirkan cinta monyet yang tidak berguna itu. Dan kalaupun kamu mau, Papa bisa pilihkan salah satu yang cocok buat kamu."


Mendengar papanya mengulangi kalimat yang dahulu sempat ia ucapkan padanya, membuat Alex spontan mengepalkan kedua tangannya.


Jadi, di sini gue hanya boneka. Gue harus nurut sama semua yang diperintahkan oleh Papa gue sendiri.


"Gak usah. Aku gak butuh. Papa bilang aku cuma harus belajar biar bisa jadi penerus. Iya, kan? Gampang. Papa tenang aja." Bukan! Bukan kalimat ini yang ingin Alex ungkapkan!


Tapi kalimat pemberontakan seperti yang setiap kali ia rencanakan dalam pikirannya.


Dan, yah. Rencana tetaplah rencana.


"Bagus. Kamu baru keturunan Adithama! Dan, satu hal lagi. Setelah kamu lulus SMA, kamu akan langsung menjabat jadi manager di perusahaan Papa. Kuliah sambil belajar mengurus perusahaan. Kamu pasti bisa! Warisan keluarga Adithama tidak boleh jatuh ke Om kamu yang gak punya etika itu. Hanya kamu, anak laki-laki Papa satu-satunya yang berhak mendapat warisan itu. Paham?" Geo mencengkram kedua bahu Alex, seraya menatap sepasang manik mata putranya dengan tatapan serius.


Seperti biasanya. Papanya itu selalu saja mengatakan hal yang sama ketika keduanya bertemu. Tidak bisakah bertanya hal lain seperti, sudah makan? Bagaimana sekolah kamu? Lelah tidak?


Sayangnya, semua itu hanya imajinasi Alexi Erza Adithama seorang. Dan tak akan perah menjadi kenyataan.


"Ya sudah. Papa harus kembali. Masih banyak kerjaan yang harus Papa urus. Kamu belajar yang rajin, biar terus mendapat predikat juara umum di sekolah." Setelah mengatakan kalimat itu, Geo lantas pergi melenggang begitu saja. Meninggalkan putranya yang tampak mengepalkan kedua tangannya sampai memucat.


...****...


Anak laki-laki yang baru pulang dari sekolah biasanya lebih asyik diisi dengan nongki, alias nongkrong sambil minum kopi. Tapi tidak dengan Alex. Cowok itu memilih pergi ke tempat pelatihan tinju bersama dengan Kenzo dan Juna yang menemani cowok itu.


Sedangkan Rio, Azka, dan Haykal, ketiganya sedang tidak bisa datang. Si Rio yang katanya sedang dihukum oleh papanya, karena terlalu sering keluyuran tidak bisa ikut.


Lalu Azka yang disuruh ikut kakeknya sebentar ke Jogya, entah untuk urusan apa, yang pasti cowok itu harus ikut.


"Wuidihh... Makin hebat aja si Alex!" Juna menatap Alex dengan tatapan kagum. Cowok itu yang sedang berdiri seraya memainkan air mineral kemasan botol di tangannya tak henti-hentinya terus berdecak melihat keterampilan Alex yang semakin meningkat.


"Hajar teros, Lex! Go Alex! Go Alex! Go!" Kenzo yang baru saja selesai memukuli samsak, langsung bersorak menyemangati Alex yang sedang bertarung di ring tinju bersama seorang master tinju langganannya.


Juna tertawa ngakak melihat aksi Kenzo. Namun pada akhirnya, cowok itu juga ikut bersorak seperti yang dilakukan Kenzo beberapa saat yang lalu.


"Go Alex! Go Alex! Go! Go Alex! Go Alex! Go! Hahahaay! Kok gue geli, ya." Cerocos Juna.


"Sama!" Balas Kenzo. Keduanya lantas tertawa receh, menertawakan tingkah random mereka yang selalu kumat sewaktu-waktu.


Bugh!


Satu pukulan telak yang Alex berikan kepada sang master tinju yang juga menjadi lawannya, sukses mendapat tepuk tangan heboh dari Juna dan Kenzo.


"Sorry, Master!" Ucap Alex, ketika sadar bahwa pukulannya barusan bukanlah pukulan main-main.


Untungnya, mereka bermain aman dengan menggunakan alat pengaman. Jadi, rasa sakitnya tidak akan terlalu nyata. Mhehe.


"It's okay!" Ujarnya, lalu bangkit dari posisinya dibantu oleh Alex.


"Lex! Lo kalo punya dendam, coba lo lampiasinnya ke samsak! Jangan ke orang Lex, nanti malah merenggut korban jiwa. Ye, gak, Jun!" Pekik Kenzo.


Bukannya tersinggung atau apa, Alex malah terkekeh seraya menuruni ring tinju. "Mukulin lo aja, gimana? Enak tuh kayaknya!" Ucapan Alex, membuat Kenzo langsung bersembunyi di belakang tubuh Juna yang terbilang tinggi besar.


"Heh! Ngapain lo sembunyi di belakang gue?"


"Aau! Takut diserang Alex! Hahahaa!" Tawa Kenzo pecah saat itu juga. Diikuti Juna yang juga tidak tahan mendengar ucapan Kenzo yang begitu alay.


"Dasar lo berdua gila!" Sarkas Alex, tapi ujung-ujungnya ya sama aja. Ikut-ikutan ketawa, tapi tidak sebar-bar Kenzo dan Juna.


"Btw, tumben lo ngajakin kita ke sini? Kenapa kagak ke club aja, si!?" Pertanyaan Juna, mendapat sledingan dari Kenzo.


"Gila lo, Zo! Biasa aja dong! Rambut gue bisa rontok nih, kalo terus-terusan lo gituin."


Kenzo berdecih seraya memutar bola matanya. "Ya, elo! Masih sore begini ngajakin ke club! Belom buka anjay!"

__ADS_1


"Dah, dah, dah! Lo berdua gak bisa tenang dikit apa, hah? Gue ke sini biar ngilangin stres. Bukannya stres gue hilang, ini malah makin parah!" Alex sudah kehilangan kesabarannya.


Sekalipun Alex itu tipe cowok kalem dan jarang bicara, tapi kalau sudah disatukan dengan Kenzo dan Juna, cowok itu akan berubah bawel seketika.


"Sabar dong, Lex! Gak baik anak ganteng marah-marah! Nanti cepet tua. Terus dijadiin judul sinetron, dengan judul 'Wajah Tampanku, Menua karena Amarahku, Padahal Aku Masih Berusia 17 Tahun', HUAHAHAHAHAAA!!!" Juna tertawa nyaring yang membuat Kenzo yang berada di sebelahnya tak kuat menahan kegilaan salah satu sahabatnya.


"Itu judul sinetron apa badan lo? Panjang amat!" Celetuk Kenzo.


"Tinggi anj*r, bukan panjang! Dikira panjang apaan, dah. Bikin yang denger ambigu aja lo, ah!" Juna ngegas, tapi ujung-ujungnya ngakak juga.


Melihat kedua sahabatnya yang sedari tadi terus tertawa, membuat Alex yang tadinya sedang dalam keadaan mood yang hancur, jadi ikut tertawa. Beban pikiran dalam hidupnya seolah menghilang, ketika mendengar tawaan receh dari kedua sahabatnya. Ya, walaupun tidak semuanya kumpul di sini.


Bayangkan jika Rio, Azka, dan Haykal juga ada di sini. Suasana akan semakin ribut, apalagi kalau sudah dikomentari oleh Azka, dipanas-panasi oleh Rio, dan digoda oleh Haykal.


Sayangnya, mereka tidak bisa hadir.


"Ketawa aja lo berdua bisanya!"


Kenzo dan Juna saling tatap sembari menyengir kuda. "Harus ketawa, biar gak tegang! Hahahaa!"


"Perasaan dari tadi kata-kata yang keluar dari mulut lo ambigu semua dah! Lo lagi kebelet, Zo?" Juna menepuk pelan bahu Kenzo, yang mendapat tatapan tajam dari cowok itu.


"Yeeh... elo-nya aja yang otaknya sering traveling ke mana-mana! Makanya kalo lagi di kelas tuh jangan nontonin video maju mundur terus! Giliran orang ngomong begini, nangkepnya begitu. Kan jadinya kagak sejalan," cerocos Kenzo.


Padahal, ia sama sekali tidak jauh berbeda dengan Juna. Nasehatin orang lain mah bisa. Coba kalau nasehatin diri sendiri, bisa gak?


"Tuh, dengerin kata pepatah Tetua Kenzo! Kalo nontonin yang begituan tuh, lo harus ajak-ajak dia! Biar Si Kenzo gak cuman bisanya nasehatin orang doang. Sekali-kali diri sendiri yang dinasehatin!" Timpal Alex, seketika membuat raut wajah Kenzo yang semula bahagia, menjadi suram seketika.


Berbeda halnya dengan Juna, cowok itu yang semula terdiam, mulai mengembangkan kembali tawanya yang hilang. Cowok itu bahkan mengejek Kenzo dengan perkataan Alex yang mengatakan, "Sekali-kali diri sendiri yang dinasehatin!"


"Seneng banget lo pada, kalo dah lihat gue ternistakan begini!"


"Seneng lah! Kapan lagi Anak Sultannya Om Kenan kita nistain. Iya gak, Lex!" Juna menyahut heboh.


Sedangkan Alex yang dipanggil hanya membalas 'hem', membuat Juna menghilangkan raut wajah senangnya.


"Lex! Kamu jahat!" Juna menatap Alex dengan tatapan menyedihkan, namun terlihat mengerikan di mata laki-laki yang melihatnya.


"Jijik anj*r! Takut gue lihatnya!"


^^^To be continue....^^^


Menurut kalian, adakah pesan yang dapat diambil dari eps ini?!


...Cast:...


...Alex



...


...Kenzo



...


...Juna



...


...Kayla



...


...Kanza



...


...Alma

__ADS_1



...


__ADS_2