Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 54


__ADS_3

"Gue peringatin lo untuk yang terakhir kalinya. Jauhin Kanza, atau lo akan tahu akibatnya karena lo udah berani mengusik cewek gue! Inget itu!" Tekan Alex, kemudian menghempas cengkramannya di kerah seragam Vando, sampai membuat cowok itu langsung memundurkan langkah kakinya.


Vando kembali terkekeh. Ancaman yang dilontarkan oleh Alex tak membuatnya lantas takut. "Gue jadi penasaran, apa yang bakal lo lakuin kalau semisalkan gue ngusik Kanza?" ujarnya, sanggup membuat Alex seketika kehilangan kesabarannya dengan kepalan tangan yang sudah hampir siap kembali ia layangkan.


Namun, belum sempat bogeman tangannya mengenai Vando, cowok itu dengan cekatan langsung menahan serangan Alex dengan salah satu tangannya. Seulas senyum sinis lagi-lagi terbit di wajah tampannya.


"Ups! Gue gak akan lagi biarin lo sentuh wajah gue kayak tadi," bisiknya. Sanggup membuat emosi Alex langsung mencuat sampai ke ubun-ubun.


Detik itu juga, Alex mulai menarik kepalan tangannya dari cengkram Vando, kemudian melayangkan pukulan lain pada cowok itu.


Sayangnya, gerakan Alex sudah terbaca sehingga pukulan itu berhasil ditepis oleh Vando. Tak hanya sampai di sana, keduanya malah semakin menjadi dengan saling serang dengan pukulan yang tak main-main. Tak ayal wajah keduanya pun bahkan hampir babak belur, namun belum ada satu pun dari mereka yang tumbang, maupun yang memilih untuk mengalah.


Bugh!


Satu tendangan keras melayang tepat ke area ulu hati Vando. Sanggup membuat cowok itu yang semulanya hendak melayangkan tinjuan langsung tumbang di tempat.


Sialan! Kenapa dirinya menjadi lengah?


Melihat musuhnya telah terkapar dengan sesekali memegangi area yang terasa begitu sakit, seulas senyum remeh terbit di wajah Alex. Tatapan matanya yang menusuk menatap puas keadaan Vando yang tak berdaya di hadapannya.


"Segitu doang kemampuan lo? Banci, Anj*ng!" Alex menendang tulang kering Vando sampai membuatnya kembali meringis menahan ngilu.


Tak berlangsung lama, Vando kemudian tertawa dengan posisi terlentang seraya menutupi kedua matanya dengan lengan kirinya.


Melihat Vando yang tertawa sendirian seperti orang gila, Alex lantas melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arah Vando, kemudian berjongkok.


Tatapan dingin nan menusuk itu lagi-lagi Alex layangkan pada Vando. Sayangnya, cowok itu tidak dapat melihatnya karena lengan kirinya masih setia menutupi kedua matanya.


"Gimana? Sekarang lo masih berani gangguin cewek gue? Inget, ini baru permulaan. Kalau lo masih berani macem-macem sama Kanza, gue jamin salah satu tangan atau enggak kaki lo bakal ada yang diamputasi. Camkan itu!" Setelah mengucapkan kata-kata ancaman itu, Alex lantas bangkit dari posisinya, kemudian pergi meninggalkan Vando yang masih tergeletak sembari tertawa aneh.


Namun, sebelum Alex benar-benar meninggalkan tempat itu, dia meraih tasnya terlebih dahulu yang sebelumnya sempat ia buang ke sembarang tempat.


Sepeninggalan Alex dari gor basket, tawa aneh Vando langsung berhenti dan digantikan dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Lengan yang semula menutupi kedua matanya langsung ia jauhkan, kemudian berusaha sebisa mungkin untuk mengubah posisinya menjadi terduduk.


Tatapan dingin penuh aura kebencian ia layangkan pada sebuah daun pintu yang sempat digunakan Alex saat meninggalkan gor tersebut. Rahangnya langsung mengeras dan napasnya mulai menggebu. Kepalan di kedua tangannya pun mulai memutih.


Marah. Itulah yang ia rasakan. Vando berjanji akan mengembalikan penghinaan ini kepada Alex berkali-kali lipat dari yang ia terima saat ini.


"Sialan! Kenapa gua bisa kalah sama tuh bocah?!"


...****...


Di sepanjang langkah kakinya meninggalkan gor basket, Alex tak henti-hentinya terus mengusap kasar beberapa sudut wajahnya yang baru ia sadari mengeluarkan darah. Rasa sakitnya tidak terlalu terasa karena bukan rasa sakit yang tengah menguasainya. Melainkan amarah dan kekesalan.


"Duh, kok telepon gue gak diangkat, sih? Alex gak lagi ngelakuin hal yang aneh-aneh, 'kan?"


Suara yang teramat sangat Alex kenali membawanya untuk segera mengangkat kepalanya seraya mencari di mana sang pemilik suara tengah berada.


Alex mengembuskan napas lega kala kedua bola matanya menangkap sosok Kanza yang tengah uring-uringan di kejauhan sana. Raut wajah gadis itu terlihat begitu khawatir dengan perhatian yang belum juga lepas dari layar ponsel.


Tak ingin berdiam diri terlalu lama, Alex pun memutuskan untuk melanjutkan langkah kakinya cukup gontai dengan sesekali menyeka darah yang kembali mengucur di area pelipisnya.


Tanpa cowok itu sadari, dari kejauhan sana, Kanza telah menemukan sosok Alex oleh sepasang bola matanya. Raut wajahnya terlihat begitu syok sampai ponsel di genggaman tangannya langsung terjatuh ke tanah.


"ALEX!" Pekik Kanza. Sontak membuat cowok itu kembali mengangkat wajahnya. Kedua kakinya pun melangkah semakin gontai tatkala Kanza mulai berlari ke arahnya.


"Muka lo—" saat keduanya telah saling berhadapan, dan kedua tangan Kanza yang sudah hampir meraih wajah Alex, cowok itu dengan tergesa-gesa menarik tubuh Kanza ke dalam dekapannya. Helaan napas berat yang Alex embuskan terdengar begitu jelas di telinga Kanza.


"Lex?" Sahut Kanza, pelan. Bukannya balik menyahut, Alex malah semakin mempererat dekapannya sampai membuat Kanza sedikit kewalahan.


"Mulai detik ini, gue gak akan biarin lo terluka lagi. Gue akan selalu ada buat lo, berdiri di depan lo buat ngelindungin lo, gak peduli walau sekalipun gue harus terluka."


Merasa ada yang aneh dengan ucapan Alex, sebisa mungkin Kanza berusaha terlepas dari belenggu cowok itu sampai tatapan keduanya pun mulai kembali bertemu.


"Lo ngomong apa, sih? Enggak, enggak! Itu gak penting. Muka lo kenapa? Lo habis berantem? Sama siapa?"


Bukannya langsung menjawab berbagai pertanyaan dari Kanza, Alex malah tersenyum kecil ke arah gadis itu seraya mengusap pelan pucuk kepalanya.


"Kalau gue bilang habis kejedot tembok, lo percaya?"


"Enggak! Jelasin sama gue, muka lo kenapa? Habis berantem, 'kan? Udah gede juga! Berantem sama siapa?"


Lagi-lagi Alex mengembangkan senyumannya sesaat melihat sifat Kanza yang menggebu karena dirinya. "Maaf. Gue buat lo khawatir, ya? Gue gak pa-pa, kok. Luka segini gak ada apa-apanya. Asalkan bukan lo aja yang terluka, gue udah bersyukur." Tutur Alex. Seketika membuat Kanza langsung terdiam dengan pikiran yang langsung tertuju pada seseorang.


"Lo habis berantem sama Vando, ya?"


Kini giliran Alex yang terdiam. "Lo tahu?"


...****...


"Eeh, bentar, bentar, bentar! Setop!" Juna berlari sekuat tenaga menghampiri Alma yang tampak bergandengan tangan dengan Rio menuju parkiran sekolah.


Ketika mendengar ada seseorang tengah menyahutinya di belakang, Alma lantas menghentikan langkah kakinya seraya mencoba melepaskan tangan Rio yang masih setia menggandeng tangannya.


"Juna? Lo barusan nyautin gue?" Alma menatap bingung Juna yang terlihat cukup kesulitan mengambil napas. Sedangkan Rio yang waktu romantisnya dirusak oleh Juna lantas berdecak sebal.


"Ngapain lo manggil-manggil cewek gue?" Rio si tukang cemburu mulai kembali meraih tangan Alma seraya menggandengnya seperti sebelumnya.


Melihat Rio yang over protektive, Alma hanya bisa berdecak kesal dengan fokus yang tertuju pada Juna. Bodo amat sama si Rio! Bisa-bisanya Alma suka sama cowok tukang cemburu modelan dia?! Sialnya, Rio ganteng! Kalau enggak, udah Alma tinggalin dari lama.


Eeh, ralat. Rio juga perhatian. Sulit bagi Alma untuk tidak jatuh hati sama cowok itu.


Alma menghela napas sebal saat Juna belum juga menyahut pertanyaannya dan malah sibuk menarik napas dalam-dalam. Pikirnya, emang selelah itu, ya, mengejar dirinya?


"Woi! Lo mau ngomong sama gue, bukan?" Tanya gadis itu sudah mulai emosi.


Perlahan, tarikan napas Juna mulai sedikit menormal. Tubuhnya yang semula agak menunduk perlahan mulai ditegakkan dengan fokus yang sesekali akan mencuri pandang pada Rio.


"Ekhem. Lo ... tahu Kayla pergi ke mana?"


"Hah?! Ngapain lo nanya-nanya sahabat gue?" Alma mendadak mengerutkan keningnya sesaat setelah mendengar pertanyaan dari Juna.


Bukan apa-apa. Ia hanya terkejut. Karena yang biasanya selalu seperti itu bukanlah Juna, melainkan Kayla. Itu pun dulu, sebelum gadis itu memutuskan untuk mulai melupakan Juna.


Katanya! Tidak tahu juga apakah perkataannya ini benar berasal dari hati, atau hanya sekadar omongan belaka?!


"Lo pasti tahu dia di mana, 'kan?" Kukuh Juna. Langsung ditanggapi kekehan sarkas oleh gadis itu.


Perlahan, tangannya yang masih berada di genggaman Rio ia tarik secara paksa, kemudian ia lipat kedua lengannya di depan dada. Dengan menahan berbagai kekesalan yang telah begitu lama ia pendam sendirian teruntuk Juna, Alma mengangkat wajahnya seraya menatap sinis cowok itu yang tampak gelagapan karena tatapannya.


"Kuping gue gak salah denger, 'kan? Lo barusan nanyain siapa? Kayla? Enggak salah?" Tanya Alma, kemudian berdecih pelan.


"Gue—"


"Lo suka sama sahabat gue, hah?" Alma sengaja memotong ucapan Juna yang belum selesai ia lontarkan. Tatapan matanya pun tampak semakin menggebu, apalagi ketika melihat raut wajah Juna yang terlihat salah tingkah akibat pernyataannya.


"Ke mana aja selama ini? Heh, denger, ya! Rasa suka lo tuh udah basi. Kayla udah move on dari lo. Mendingan lo jauh-jauh gih jangan gangguin sahabat gue lagi. Gue gak mau lihat dia nangis lagi cuma gara-gara cowok gak berperasaan kayak lo!" Tekan Alma, kemudian menarik tangan Rio dan membawa cowok itu untuk segera melenggang meninggalkan Juna.


Sempat terkejut beberapa saat dengan pengakuan dari Alma, Juna kembali mencoba menghalangi langkah gadis itu dengan sesekali mengode Rio, mencoba meminta sedikit pertolongan pada sang sahabat untuk mengulur sedikit waktu agar Alma mau membuka mulutnya soal di mana Kayla berada.


Mengerti dengan kode dari Juna, Rio pun memilih menurut. Bagaimanapun juga, Juna adalah sahabatnya. Dan juga, sepertinya Kayla masih memiliki rasa pada Juna walaupun gadis itu sempat mengatakan akan move on dari Juna. Siapa tahu, 'kan, mereka bisa jadian?


"Please, kasih tahu gue. Tadi sebelum dia bener-bener pamit pulang pasti dia ada ngomong sesuatu, 'kan, sama lo? Iya, 'kan?"


"Enggak tuh," balas Alma, acuh tak acuh. Sanggup membuat emosi Juna sedikit terpancing, namun sebisa mungkin cowok itu menahannya untuk kali ini.


"Ma! Kasih tahu gih. Lo gak lihat si Juna udah ngemis-ngemis kayak orang susah gitu? Seinget gue, ini pertama kalinya si Juna kayak gini." Rio mulai turun tangan mencoba membujuk Alma.


Di sisi lain, Juna menatap Rio penuh haru. Sahabatnya yang satu ini walaupun terkenal dengan mulutnya yang julid, tapi masih bisa diandalkan juga sesekali. The best-lah!


Alma mendengus dengan pikiran yang mulai melayang ke sana ke mari. Beberapa saat kemudian, gadis itu mengangguk malas seraya meraih ponsel yang ia taruh di dalam saku roknya.

__ADS_1


"Gue tanyain dulu dia di mana," tuturnya lemah. Sontak dibalas seruan spontan dari Juna.


Tak perlu mengulur waktu lebih lama lagi, Alma mulai mencoba menghubungi Kayla. Di dering yang pertama belum dia angkat. Sampai di dering berikutnya, panggilan suaranya pun akhirnya dijawab.


"Halo, La? Lo lagi di mana?"


"...."


"Oh. Sendirian?"


"...."


"Oke, oke."


"...."


"Enggak. Gue cuma penasaran aja, soalnya tadi pas pulang sekolah lo langsung kabur gitu aja ninggalin gue sama Kanza. Ya udah, deh kalau lo lagi di toko buku,"


"...."


"Iya. Sorry, ya, gue ganggu! Ya udah, lo lanjutin gih nyari bukunya.


"...."


"Hem. Bye!" Alma mulai mengakhiri panggilan telepon tersebut dengan sesekali melayangkan kiss ala bestie kepada Kayla. Setelahnya, gadis itu kembali menaruh ponselnya di tempat semula. Dengan perhatian yang kembali pada Juna.


"Udah gue tanyain noh! Dia lagi di Gramedia. Udah, 'kan? Cuss, kita cabut, Bye!" sinis Alma, kemudian menarik salah satu lengan Rio dan membawanya untuk segera menjauh dari Juna.


...****...


"Shh... Ah! Aduhduh! Pelan-pelan, sakit!" Sedari beberapa saat yang lalu, Alex tak henti-hentinya terus mengaduh kesakitan kala kedua tangan Kanza dengan cukup kasar membantu membersihkan luka di beberapa sudut wajah cowok itu yang terluka.


Bukannya mengobati dengan lembut dan penuh cinta, Kanza malah dengan sengaja membuat cowok itu meringis dan mengaduh kesakitan. Emang enak!


"Tahu sakit, tapi kenapa masih berantem?" Kanza mendengus sebal, seraya melempar asal kapas bekas alkohol dan obat merah.


Alex sama sekali tidak menyahut ocehan Kanza padanya. Cowok itu memilih diam apalagi ketika Kanza mencoba menutupi lukanya dengan beberapa plester.


"Masih sakit?" Tanya Kanza, terdengar lebih lembut. Sanggup membuat kedua sudut bibir Alex terangkat membentuk sebuah lengkungan manis.


"Tiupin! Di sini!" Alex berucap manja seraya menunjuk beberapa luka di wajahnya yang sebagian diplester dan sebagian lagi tidak.


Tak lagi mendumel seperti sebelumnya, Kanza memutuskan menuruti perkataan Alex dengan sesekali meniupi luka di wajah cowok itu dengan sangat hati-hati. Walau tak berlangsung lama, sikap Kanza padanya sudah cukup membuat jantungnya berdebar gila.


"Kenapa lo harus berantem sama dia, sih?" Kanza menyahut dengan kepala yang sedikit menunduk, tanpa berniat menatap kedua bola mata Alex.


Alex sempat menoleh ke arah gadis itu. Namun di detik selanjutnya, cowok itu mulai menengadahkan kepalanya seraya menghela napas. "Gue cuma mau ngasih peringatan sama dia, biar dia gak gangguin lo lagi."


"Tapi dengan lo berantem sama dia, itu gak akan nyelesain masalah apa pun! Lo gak tahu apa-apa. Dia itu pendendam! Lo bisa aja terluka lebih parah dari ini di lain waktu. Dan gue gak mau itu terjadi,"


Lagi-lagi Alex mengembangkan senyum tipisnya mendengar Kanza kembali mengoceh mengkhawatirkan dirinya. Tak berapa lama kemudian, salah satu tangannya terangkat menyentuh lembut salah pipi Kanza. Senyuman hangat yang tidak pernah ia tampilkan pada siapa pun, terus ia perlihatkan di depan Kanza.


"Asal bukan lo aja yang terluka, gue gak masalah." ujarnya, sanggup membuat Kanza terdiam dengan kepalanya yang kembali tertunduk dalam.


Drtt... Drtt... Drtt...


Suara dering ponsel dari salah satu saku menyadarkan sepasang remaja itu dari keheningan singkat mereka. Dengan terburu-buru, masing-masing dari keduanya mulai memeriksa saku blazer, saku celana, maupun saku rok untuk melihat ponsel siapa yang tengah berdering.


"Hape gue," ucap Kanza, seraya memperlihatkan layar ponselnya yang menyala dengan nama kontak 'My Brother Somvlak' yang tertera besar di sana.


Alex lantas kembali memasukkan ponselnya ke tempat semula. Ia pikir, ponselnya yang berdering.


"Halo, Zo?"


"...."


"Hah?! Lo keluar dari rumah sakit sekarang?" Alex yang tadinya tengah termenung mendengarkan diam-diam, langsung menoleh ke arah Kanza dengan kedua alisnya yang berkerut dalam.


"Mami sama Papi tahu soal ini?"


"...."


"Oh. Gue kirain lo kabur lagi kek waktu kemaren,"


"...."


"Ya udah. Gue pulang ke rumah sekarang sama Alex," ucap Kanza, pada akhirnya. Setelahnya, panggilan suara pun berakhir dengan Kenzo yang mengakhirinya dari seberang sana.


"Gimana? Beneran udah pulang ke rumah? Emang udah dibolehin?"


Kanza menghela napas sesaat. "Katanya sih, iya. Ya udah, yuk, kita ke rumah gue aja. Sekalian lo bisa jengukin si Kenzo, 'kan?"


Alex sempat terdiam beberapa saat ketika seulas senyum di wajah Kanza terukir di akhir kalimat yang ia ucapkan. Sudut hatinya pun mendadak menghangat entah mengapa. Namun, satu hal ia sadari, Alex sedikit lega melihat Kanza sepertinya tidak terlalu memikirkan insiden dirinya dan juga Vando di gor basket tadi.


"Oke," ujar Alex, seraya bangkit dari posisi duduknya. Salah satu tangannya pun terulur ke hadapan Kanza yang masih berusaha memakai kembali tas sekolahnya, belum berusaha untuk bangkit.


Melihat lengan kekar itu terulur ke hadapannya, seulas senyum tulus lagi-lagi terbit di wajah Kanza. Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Kanza lantas meraih tangan Alex. Sampai saat ketika Kanza telah berdiri dengan jarak yang cukup berdekatan, cowok itu tidak berusaha melepaskan genggaman tangannya. Dia malah dengan sengaja menggenggam tangan Kanza begitu erat sampai membuat gadis itu tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.


Ya. Rasanya begitu bahagia bergandengan tangan dengan seseorang yang teramat berarti di hidup kita. Sayangnya, kebahagiaan ini tak mungkin berlangsung lama mengingat badai paling besar telah memunculkan tanda-tanda. Walaupun begitu, setidaknya untuk saat ini, Kanza masih bisa tersenyum tulus teruntuk dia.


Dia yang bagai tak dapat digapai oleh semua orang, nyatanya malah memilihnya yang tidak sempurna ini. Memiliki pengalaman buruk di masa lalu serta pernah memiliki sedikit gangguan mental akibat trauma yang ditorehkan orang-orang jahat padanya tak membuat laki-laki itu mengundurkan diri dari tempatnya.


Justru yang membuat Kanza salut adalah, Alex malah semakin mendekat ke arahnya. Menggenggam tangannya dan memeluk tubuhnya seolah mengatakan bahwa gadis itu tidak sedang sendirian. Ia masih memiliki dirinya yang akan selalu ada dan melindungi Kanza sampai kapan pun.


Bagi Alex, tidak sempurna bukan berarti tidak pantas. Bagaimanapun juga, tidak ada satu pun manusia yang sempurna di bumi ini. Hanya Tuhan-lah yang Maha Sempurna dan Maha Segalanya.


...****...


"Zo! Mami mau keluar sebentar, ya? Papi kamu terus neleponin Mami, nih, nyuruh cepet-cepet ke kantor," Chelsea menatap penuh harap Kenzo yang tengah berbaring sambil menyandarkan punggungnya di tempat tidur.


Cowok itu yang baru saja selesai menelepon seseorang yang tak lain adalah kembarannya, Kanza, langsung menoleh ke arah sang mami. "Oh. Ya udah, Mami sibuk dulu aja. Gak pa-pa, kok. Kenzo juga udah lebih mendingan daripada pas waktu kemaren,"


Chelsea lantas menghela napas gusar. "Maafin Mami, ya. Mami janji gak akan lama, kok! Kamu tenang—"


"Mau lama banget juga gak pa-pa. 'Kan, masih ada Wanda!?" Potong cowok itu, seraya menaikturunkan kedua alisnya dengan seulas senyum aneh yang sedikit membuat Chelsea, selaku sang mami lantas curiga.


Fyi, sebelum Kenzo benar-benar memutuskan untuk pulang dari rumah sakit, Wanda menyempatkan diri mampir menjenguk Kenzo. Gadis itu bahkan sudah membawa beberapa buah-buahan serta snack kesukaan Kenzo.


Sayangnya, hari ini adalah hari di mana Kenzo dibolehkan pulang oleh dokter. Sehingga pada akhirnya, Wanda yang belum menyiapkan mental diharuskan ikut serta pulang ke rumah cowok itu dengan ditemani Tante Chelsea sekali.


Demi apa pun, rasanya gugup dan ada juga perasaan takut sekaligus malu yang menggunung. Untuk pertama kalinya Wanda mengunjungi rumah seorang laki-laki yang berstatus pacarnya, apalagi yang rumahnya lebih mirip vila-vila mewah yang hanya dapat Wanda lihat di layar ponsel.


Ehm. Back to topic.


Chelsea menatap tajam putranya dengan salah satu alis yang terangkat. "Kamu gak lagi mau macem-macem, 'kan, selagi gak ada Mami?"


Mendengar hal itu, detik itu juga, senyuman aneh di wajah Kenzo langsung luntur dan digantikan dengan raut penuh kecewa. "Kok, Mami bilangnya gitu, sih? Ya, enggaklah, Mih! Kenzo, 'kan, anak baik-baik." Ujarnya ngotot, yang dibalas dengusan malas oleh Chelsea.


"Kalau pun iya, gak akan dilakuin di sini juga kali," tambahnya, terdengar begitu pelan. Sanggup membuat Chelsea memelotot tajam dengan kedua tangannya yang mulai terkepal.


"Bilang apa barusan?"


Kenzo sempat sedikit terjengit. Namun tak berlangsung lama, cowok itu mulai mengganti raut wajahnya dengan menyengir tanpa dosa. "Bercanda, Mih! Sensitif banget,"


"Awas, ya, kalau berani macem-macem! Mami sunat lagi anunya!"


"Waduh?! Aelah, cuman bercanda doang, ngancemnya kek mau beneran aja! Iya, iya, gak macem-macem. Serius, deh! Janji, gak macem-macem," Kenzo tersenyum manis ke arah sang mami, padahal dalam hatinya, ia sudah teramat waswas.


Chelsea lagi-lagi mendengus. "Ya udah. Pegang janji kamu. Awas kalau berani macem-macem!" Peringatnya, sebelum wanita itu benar-benar akan melenggang meninggalkan ruang kamar Kenzo.


Selepas kepergian sang mami di balik pintu, senyuman manis yang Kenzo pampang di wajahnya langsung memudar. Helaan napas lega pun ikut keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Sial! Pake keceplosan segala lagi. Nih, mulut emang yang paling jujur, dah, kalau masalah yang beginian. Untung Mami udah pergi," gerutu Kenzo, sembari mengelus dadanya perlahan.


Cklek!


Suara knop pintu terbuka, sontak membuat Kenzo kembali terjengit dengan fokus sepasang bola mata yang tertuju pada daun pintu kamarnya.


Tak lama kemudian, sesosok gadis dengan setelan kasual yang tak lain adalah Wanda, berdiri kaku di ambang pintu kamar. "Ke-kenapa? Ada yang salah sama gue?" Wanda memberanikan diri menyahut Kenzo yang masih termenung menatapnya.


Bukan apa-apa. Hanya saja, tatapan mata Kenzo terlihat seperti seorang buronan yang tertangkap basah oleh seorang polisi. Bikin yang lihat panik aja.


"Ekhem. Gue kirain Mami gue balik lagi," Kenzo lantas tersenyum canggung ke arah Wanda. Tak berlangsung lama, senyuman cowok itu langsung memudar dengan sesekali akan menghela napas lega.


"Oh! T-tante Chelsea katanya mau ke kantor dulu. Barusan dia bilangnya sih gitu," ujar Wanda. Entah kenapa, gadis itu yang tidak tahu apa-apa mendadak canggung ketika saling melempar obrolan dengan Kenzo. Padahal ketika keduanya masih berada di rumah sakit, mereka masih sempat-sempatnya berperilaku romantis.


"Ekhem. Oh, iya. Gue barusan habis kupasin buah buat lo. Dimakan, ya,"


"Eh? Em, taruh aja. Entar gue makan," balas Kenzo, datar. Semakin membuat suasana di antara keduanya terasa semakin canggung.


Wanda memilih untuk tak lagi bersuara. Gadis itu memutuskan untuk menaruh piring berukuran sedang di atas meja nakas di samping tubuh cowok itu yang tengah berbaring seraya menyandarkan punggungnya.


Namun, sesaat ketika gadis itu hendak berbalik selepas menaruh piring berisi potongan buah tadi, tangan kekar Kenzo menyentuh salah satu lengannya. Seketika membuat Wanda refleks menoleh.


"Kenapa?" Tanya Wanda. Bukannya menjawab, Kenzo malah menggiring gadis itu untuk mendudukkan diri di atas tempat tidurnya yang masih menyisakan tempat.


"Gue mau ngomong sesuatu," ujar Kenzo, terdengar cukup serius.


Wanda terkekeh pelan mencoba untuk sedikit mencairkan suasana. "Ngomong aja kali, gak usah pake izin-izin segala! Emang mau ngomong apa?"


Melihat raut wajah Wanda yang menatapnya seraya menunggu, sedikit membuat sudut hati Kenzo merasakan sesak. Haruskah ia mengatakannya?


"Gue—" Kenzo menggantung ucapannya sejenak. Tak lama setelahnya, cowok itu memilih menghela napas sebelum kembali melanjutkan perkataannya. Seulas senyuman hangat pun perlahan mulai terbit di wajah tampannya.


"Ini cuma omongan asal gue aja, ya! Misal, nih. Kalau gue pergi, lo bakal izinin gue, gak?"


Wanda sempat terdiam sejenak. "Emang lo mau pergi ke mana?" Tanyanya, sontak dibalas dengusan sebal oleh Kenzo. "Misalkan, Wan! Gue cuma asal ngomong doang. Misalnya gue pergi gitu, lo bakal izinin, gak?"


Kini giliran gadis itu yang mendengus. "Enggak! Gak gue izinin! Lo pasti mau selingkuh, 'kan? Nyari cewek yang lebih muda. Iya, 'kan? Awas aja! Gue kutuk lo jadi batu!" ujarnya menggebu. Sanggup membuat sudut hati Kenzo terasa semakin sesak, namun ia memilih untuk menutupinya dengan seulas senyuman getir.


"Ngapain gue nyari cewek lain? Sedangkan di depan gue aja udah kayak bidadari. Iya, gak?" Kenzo mencoba menaikturunkan kedua alisnya menggoda Wanda. Sayangnya, Wanda tidak seperti gadis-gadis lain yang akan klepek-klepek hanya karena godaan receh dari Kenzo.


"Cih, basi!"


"Masa, sih?" Goda Kenzo lagi, dengan mencolek pelan dagu Wanda.


"Ish! Apaan, sih!? Diem, gak!"


Maafin gue, Wan! Gue belum bisa jujur sama lo! Mungkin, gue akan tunggu pas hari kelulusan gue.


"Gak—"


"Ekhem!" Suara dehaman yang terdengar begitu nyaring, sontak mengalihkan perhatian Kenzo maupun Wanda dari apa yang tengah mereka berdua lakukan.


Diliriknya ke arah daun pintu kamar yang terbuka, Kanza beserta Alex yang masih mengenakan seragam khas SMA Naruna, berdiri kaku seraya terus memberikan beberapa kode.


"Lex! Kayaknya kedatangan kita hari ini sedikit mengganggu mereka, ya? Gimana kalau kita ke tempat lain aja?" Kanza menoel pelan lengan Alex, membuat cowok itu yang sebelumnya sempat termenung sesaat, langsung menolehkan kepalanya.


"Hm. Gue setuju. Gimana kalau ke kamar lo aja?" Ujarnya terdengar ambigu, dengan raut wajah yang cukup serius. Sanggup membuat kedua pipi gadis itu langsung memerah dengan kedua bola matanya yang membulat.


"Hah!?"


Raut wajah Alex yang datar langsung berubah dan menampilkan senyum manisnya ke arah Kanza. "Bercanda. Ya kali, Za,"


"Woi! Lo berdua kalau mau pacaran, di tempat lain, gih! Di sini wilayah gue!" Celetukan sarkas yang berasal dari Kenzo, sontak membuat Alex dan juga Kanza langsung menoleh ke arah cowok itu.


Kanza yang tadinya masih menyimpan gugup akibat candaan yang dilontarkan Alex, langsung mengubah rautnya menjadi penuh kekesalan.


"Hellooow! Apa gak kebalik, ya? Elo berdua tuh yang pacaran gak tahu tempat. Untung aja kita berdua mergokin duluan. Kalau enggak, bisa-bisa kalian udah khilaf duluan," Kanza mendengus seraya memutar malas kedua bola matanya.


"Oh, ya? Jadi, gue harus berterima kasih gitu sama lo? Oke! Thank you banyak-banyak karena lo udah gangguin kita. Puas?"


"Lo—"


"Udah, udah! Kok, malah pada ribut, sih?" Alex menengahi di antara si kembar Kanza dan Kenzo yang masih setia adu mulut.


Alex menghela napas lelah setelah menyaksikan adegan dramatis yang baru ia sadari yang terjadi di antara Kanza dan juga Kenzo. Alex pikir, mereka berdua tidak akur hanya karena untuk menutupi identitas mereka dari orang-orang. Namun sepertinya, Alex salah besar.


Disaat semua orang telah mengetahui identitas keduanya, Kanza dan Kenzo nyatanya memang tidak pernah bersikap akur. Hanya sesekali disaat keduanya dalam kondisi yang sama-sama membutuhkan.


"By the way, gue mau ngomong sesuatu sama lo, Zo! Cuma berdua. Penting!" Sahut Alex, sesaat setelah keempatnya saling terdiam beberapa saat.


Perhatian Kenzo yang awalnya melirik malas ke sembarang tempat, langsung memokuskan diri pada Alex. Sempat sedikit bingung, akhirnya cowok itu pun mulai mengangguk pasrah. Tak lama kemudian, perhatian Kenzo langsung beralih ke arah Wanda.


"Lo keluar bentar, ya? Si Alex mau ngomong, gak lama, kok."


"Oh! Ya udah, gue—"


"Kak Wanda ke kamar aku dulu aja, yuk! Sekalian kita ngobrol-ngobrol. Biar makin akrab. 'Kan, calon saudari ipar, hehe," Kanza menarik pelan salah satu tangan Wanda, ketika gadis itu baru saja bangkit dari posisi duduknya.


"Eh? Enggak pa-pa, nih?"


"Gak pa-pa lah! Yuk!" Pungkas Kanza, kemudian menarik Wanda keluar dari dalam kamar Kenzo, dan membawanya ke dalam kamarnya sendiri.


Beberapa saat setelah Kanza dan Wanda memutuskan keluar dari dalam kamar, Alex perlahan mulai melangkahkan kakinya ke arah sebuah sofa berukuran sedang yang berada tak jauh dari posisi tempat tidur milik Kenzo.


Merasa ada yang ganjil, Kenzo memutuskan untuk menghampiri Alex, walau langkah kakinya masih sedikit tertatih.


"Kanza sama Wanda udah gak ada. Lo bisa langsung cerita, Lex!" Ujar Kenzo, sesaat ketika cowok itu telah menapakkan tubuhnya di sofa lain di sebelah Alex.


Alex mendengus pelan dengan kedua alisnya yang berkerut dalam. Sedangkan Kenzo, cowok itu sibuk mengemil kue kering yang sempat dibawa oleh sang mami dari dapur untuknya.


"Si Vando sekarang ada di sekolah kita!" Terang Alex, to the point.


Kenzo sempat terdiam beberapa saat, masih mencoba memuat ulang otaknya. "Hah?! Si Vando? Vando yang man—" tersadar akan sesuatu, Kenzo lantas mengepalkan kedua tangannya dengan sepasang bola mata yang menyipit dalam menatap Alex.


"Lo bercanda, 'kan? Candaan lo gak lucu tahu!" Kenzo terkekeh sinis, mencoba untuk menampik apa yang baru saja diucapkan oleh Alex.


Nyatanya, raut wajah Alex yang tidak berubah sedikit pun membuat Kenzo dilanda waswas. Jangan-jangan...


"Gue gak lagi bercanda. Buktinya ini," Alex menunjuk satu-persatu luka di wajahnya yang baru disadari Kenzo.


"Loh? Muka lo—"


Alex mengangguk. "Gue habis berantem sama dia."


"Apa?! Dia beneran ada di sekolah kita?" Lagi-lagi Alex mengangguk. Detik itu juga, Kenzo langsung bangkit dari posisinya dengan salah satu kakinya yang baik-baik saja menendang ujung sofa.


"Sialan! Ngapain tuh anak ada di sekolah kita? Tunggu! Kanza—" Kenzo langsung menghentikan gerutuannya tatkala ingatannya langsung melayang pada sosok Kanza, saudari kembarnya.


"Lo tenang aja! Dia gak sempet gangguin Kanza. Dan lagi, gue gak akan biarin Kanza diganggu lagi sama psikopat gila itu!" Alex ikut bangkit dari posisinya dengan kedua tangannya yang ikut terkepal.


Sementara Kenzo, cowok itu sudah tidak dapat berkata-kata. Di satu sisi, ia takut jika hal buruk yang sempat menimpa Kanza dulu akan kembali terulang dan membuatnya merasakan ketakutan seperti dulu. Di mana mental gadis itu hampir saja rusak, jika bukan karena dirinya yang mencoba sekeras mungkin untuk membuat Kanza sembuh dari keterpurukannya.


"Lo gak usah khawatir, Zo! Gue yang akan jagain Kanza. Gue gak akan biarin dia kenapa-kenapa,"


Kenzo mengangguk lemah sembari menghela napas gusar. "Gue harap lo bisa pegang kata-kata lo, Lex! Karena gue gak mau, saudari kembar gue mengalami hal yang serupa kayak dulu."


"Gue gak mau itu terjadi lagi!"


^^^To be continue....^^^


Ups! Sudah update!!! Kira-kira updatenya bakalan seminggu sekali nih, soalnya luangin waktunya susah. Maaf! Tapi setiap part-nya akan selalu panjang, oke? Ini aja 4400+ kata loh! Semoga sukaaa! Btw, kalian ada yang nyadar gak, di eps ini sbnrnya ada spoiler yg gk terduga? Atau ... Udah pada ketebak nih? Kalo udh pada ketebak, fix kalian hebat!🤗

__ADS_1


__ADS_2