Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 35


__ADS_3

Kenzo beserta teman-temannya yang lain saat ini tengah menghabiskan waktu dengan berleha-leha di kantin sekolah. Laki-laki itu dengan sebuah gitar yang berada di pangkuannya ia mainkan asal dengan perasaan galau dan juga lesu.


"Udahlah, Zo. Dari tadi juga muka lo masih lesu gitu aja! Semangat, dong!" Azka mencoba menyemangati Kenzo dengan menepuk pelan bahu temannya itu.


"Padahal kan, cuma beda tiga tahun doang. Ya, gak? Kalo sama-sama suka, kan, gak pa-pa." Juna ikut menimpal disela aktivitasnya menyeruput kopi.


"Yah, namanya juga pikiran cewek, siapa juga yang bisa tebak? Lo semua tahulah, pikiran cewek tuh rumit! Gak kayak kita-kita yang kaum adam. Kalau suka, yah tinggal bilang suka. Gampang! Giliran cewek yang suka mah beuh, berbelit-belit! Kode sana-sini. Udah tahu cowok adalah makhluk paling susah peka! Iya, gak?" Rio dengan berbagai pengalaman percintaannya ikut menambahi.


"Lo ngomong begituan, emang lo udah diterima sama Si Alma?" Azka menatap Rio dengan tatapan sedikit meragukan.


"Jangankan diterima sama dia, gue samperin juga tuh ke orang tuanya! Dan lo semua tahu gimana hasilnya?" Rio menggantungkan ucapannya, berharap membuat ketiga temannya sedikit penasaran.


"Gimana hasilnya?" Juna, Azka, dan Kenzo bertanya polos, bukan karena benar-benar penasaran.


Mereka hanya gabut kurang kerjaan. Haykal tidak ada karena izin tidak masuk sekolah. Sedangkan Alex sibuk belajar di perpustakaan untuk mempersiapkan olimpiade matematika yang tinggal menghitung hari.


Rio menaikkan kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman sombong menyebalkan. "Ya, sukses lah! Gue dapet restu, Bro! Keren, gak?" Ucapnya bangga pada dirinya sendiri.


Ketiga teman-temannya tidak bereaksi sama sekali. Mereka bertiga malah terdiam seraya merenung meratapi nasib mereka yang masih juga jomlo sampai detik ini.


"Zo, lo udah coba caranya Si Rio? Mungkin aja, kan, lo dengan meluluhkan terlebih dahulu hati calon mertua, dengan gitu perasaan cinta lo langsung diterima?" Juna kembali bersuara setelah sekian lama cowok itu sibuk terdiam.


"Belom, sih. Cuman pernah sekali ketemu aja, waktu jemput dia di rumahnya." Balas Kenzo lesu, dengan jari-jemarinya yang sibuk memainkan senar gitar sehingga menghasilkan bunyi yang cukup merdu.


"Cinta itu buta dan tuli... Tak melihat tak mendengar... Namun datangnya dari hati... Tidak bisa dipungkiri... Itu benar, memang benar..." Kenzo mulai melantunkan lirik lagu paling menyedihkan dengan diiringi petikan musik gitar.


Azka, Rio, dan Juna, hanya bisa menghela napas mereka mendapati Kenzo sepertinya benar-benar dibuat galau oleh makhluk bernama perempuan.


"Dah, dah, Zo! Jangan nyanyi yang itu, lah! Lo kelihatan banget menderitanya." Rio menatap prihatin Kenzo yang masih setia memainkan senar gitar.


"Emang iya?" Kenzo terkekeh miris dengan mendongakkan sedikit kepalanya menatap Rio.


Beda halnya dengan Azka yang tadinya bersikap biasa saja, kini terlihat sedikit tegang dengan fokusnya pada layar ponsel.


"Eh, Zo! Lo beneran selingkuh sama si Kanza di belakang si Alex?" Azka menyahut, membuat Juna, Rio dan juga Kenzo sontak mengalihkan perhatiannya pada cowok itu.


Mendengar tuduhan aneh tak mendasar yang diucapkan oleh Azka, refleks Kenzo mau tidak mau menghentikan aktivitasnya seraya bangkit dari kursi kantin.


"Hah? Selingkuh?" Bingung Rio. Cowok itu bertanya pada Azka, namun hanya dibalas gendikan bahu olehnya.


"Lo ngomong apaan, sih? Ngelantur, ya?"


"Lha, terus ini katanya Si Dayana nemu test pack hasil positif di dalam tasnya Si Kanza! Katanya itu anak lo, Zo!" Ucap Azka lagi, seketika Kenzo langsung merebut ponsel milik Azka untuk melihat keseluruhan cerita.


Juna dan Rio yang memang tidak tahu menahu hanya diam serta menyimak apa yang tengah dibahas oleh Azka dan Kenzo.


"Itu cuman update status anak-anak, gak ada apa-apa! Cuman katanya sekarang Si Kanza sama Si Dayana lagi Di UKS buat pemeriksaan. Lo beneran gak hamilin Si Kanza, kan?"


Kenzo mengepal kuat kedua tangannya ketika membaca update-an status di laman facebook milik beberapa siswa dan siswi di sekolahnya.


Ia benar-benar tidak habis pikir dengan tuduhan gila tersebut.


Haruskah Kenzo mengatakan yang sebenarnya kepada seluruh dunia bahwa Kanza adalah kembarannya, agar seluruh dunia tidak lagi membicarakan ia dan Kanza yang tidak-tidak?


Iya. Sepertinya itu memang harus.


"Gue mau nyusul Kanza!" Kenzo melempar ponsel milik Azka ke pemiliknya. Hampir saja ponsel milik cucu mantan bupati hancur lebur, jika Azka tidak segera menangkapnya dengan cepat.


"Wah... Parah lo Zo!" Pekik Azka. Detik selanjutnya, laki-laki itu berlari menyusul Kenzo yang katanya akan pergi untuk menemui Kanza di ruang UKS.


Juna dan Rio yang ditinggalkan begitu saja oleh kedua temannya jelas bingung. Keduanya pun pada akhirnya memilih menyusul Azka dan Kenzo yang telah berlari mendahului mereka.


...****...


Sedari ia sampai di perpustakaan, Alex sama sekali tidak bisa fokus dengan buku dan puluhan soal latihan yang berada di hadapannya.


Pikirannya terus melayang pada Kanza yang sepertinya benar-benar tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


Padahal, apa susahnya ia jujur jika memang memiliki sesuatu dengan Kenzo. Setidaknya jangan membuat Alex tertekan sampai membuatnya tidak bisa fokus seperti ini.


"Fokus, Lex! Bentar lagi lo olimpiade! Lo harus bisa misahin mana urusan pribadi sama mana urusan percintaan." Alex berusaha memokuskan dirinya sendiri dengan berkali-kali mengetuk keningnya dengan ujung pulpennya.


Namun, ketika Alex baru saja hendak benar-benar fokus, suara beberapa siswa yang bergosip di sekitarnya mampu membuat fokusnya kembali terganggu.


"Eh, eh! Lo udah denger gosipnya belom?"


"Yang si murid baru lagi hamil itu? Anaknya Si Kenzo katanya, kan?"


Mendengar nama sahabatnya disebut, Alex lantas mengerutkan keningnya seraya semakin memokuskan indera pendengarannya.


"Sekarang dia lagi di UKS. Lihat, yuk! Siapa tahu ada gosip baru!"


"Alah, palingan hasilnya beneran positif. Kuylah, gue juga penasaran."


"Bukannya dia pacarnya Si Alex, ya?"


Pacarnya Alex? Jangan-jangan... Kanza?


"Ceritanya selingkuh, nih?"


"Gak tahu. Lihat, yuk!"


Alex langsung bangkit dari kursinya setelah ia cukup puas menguping pembicaraan anak-anak lain soal Kanza dan Kenzo.


Demi apa pun, Alex kesal apalagi ketika mendengar gosip soal Kanza yang tengah hamil anaknya Kenzo.


Pikir Alex, jadi ini yang sedang disembunyikan oleh Kanza darinya. Jadi, gadis itu benar-benar selingkuh?


Padahal hubungan mereka saja belum ada seminggu. Dan sekarang, isu buruk muncul. Sepertinya, Alex sudah salah menilai Kanza.


...****...

__ADS_1


Bianca berlari dengan langkah terseok-seok melewati lorong-lorong kelas serta menuruni puluhan anak tangga untuk mengetahui keadaan Kanza yang katanya tengah diperiksa di ruang UKS.


Gosip soal gadis itu yang tengah hamil langsung mencuat sampai ke telinga anak-anak kelas dua belas.


Bianca yang pertama kali mendengarnya langsung merasa ada yang aneh. Jangan-jangan test pack yang mereka maksud adalah miliknya?


Tapi, bagaimana bisa benda yang diambil paksa oleh Alia dan Agnes dalam waktu sesingkat itu bisa jatuh ke tangan orang lain?


Apalagi itu adalah Dayana! Adik kelas yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Agnes.


Bianca menghentikan langkah kakinya sejenak. Ia benar-benar lupa dengan keadaannya saat ini. Setelah berlari-larian, tubuhnya seketika menjadi lemas dengan napasnya yang memburu parah.


Bianca sudah tidak kuat lagi. Pada akhirnya, gadis itu memilih untuk memelankan langkah kakinya, sampai pada akhirnya ia tiba di depan kerumunan ruang UKS yang kini dipenuhi oleh siswa dan siswi yang sepertinya datang ke sana untuk memastikan sesuatu.


Di kerumunan itu sudah ada Kenzo yang juga terseret ke dalam gosip yang diciptakan oleh anak-anak. Laki-laki itu terlihat menyalip beberapa siswa yang menghalangi jalannya dan menerobos masuk ke dalam ruang UKS.


Dari arah lain, Alex yang katanya adalah pacarnya Kanza juga berada di tengah-tengah kerumunan itu. Raut wajahnya terlihat dingin dengan tatapan matanya yang menyiratkan sebuah kemarahan.


Namun, Bianca tidak peduli. Yang ingin ia lakukan di sini adalah menghampiri Kanza dan menjelaskan situasinya.


Tapi kalau dipikir-pikir, apa yang harus Bianca jelaskan?


Haruskah ia bilang pada semua orang kalau sebenarnya test pack itu adalah miliknya?


Tidak mungkin, kan?


Itu sama saja dengan membongkar aibnya sendiri pada semua orang.


Lalu, Bianca harus apa?


Langkah kaki Bianca langsung terhenti di tengah jalan ketika sepasang netranya tidak sengaja melirik ke arah Agnes dan Alia yang sepertinya baru tiba di kerumunan tersebut.


Tiba-tiba saja Bianca merasa dirinya tengah dalam bahaya jika sampai Agnes dan Alia melihat kehadirannya di kerumunan tersebut.


Otak kecilnya terus berpikiran negatif, bagaimana jika Agnes dan Alia tiba-tiba membocorkan kalau yang sebenarnya tengah hamil itu adalah dirinya, dan bukan Kanza?


"Enggak! Mereka gak boleh tahu kalau itu gue! Maaf, Za. Untuk kali ini aja gue egois. Gue gak mau orang lain tahu kalau itu adalah gue." Pada akhirnya, Bianca memutuskan untuk menjauh dari kerumunan tersebut dan kembali ke kelasnya.


...****...


Kenzo akhirnya tiba di kerumunan siswa-siswi yang menghalangi pintu masuk ruang UKS. Laki-laki itu dengan deru napasnya yang memburu mencoba menyalip beberapa siswa yang menghalangi jalannya untuk melihat seperti apa situasi di dalam sana.


"Kanza!" Kenzo memanggil nama kembarannya ketika ia telah sukses memasuki ruang UKS yang disusul oleh Juna, Azka, dan Rio, yang ikut serta memasuki ruang tersebut di belakang Kenzo.


Gadis yang namanya baru saja dipanggil oleh Kenzo langsung menoleh. Ia terlihat sedang terduduk di atas kursi yang berhadapan dengan seorang dokter sekolah yang sepertinya telah selesai memeriksa Kanza.


"Lo di sini?" Kanza menatap Kenzo dan ketiga teman laki-laki itu yang terlihat kebingungan.


Tatapan Kenzo yang semula menatap Kanza, langsung beralih menatap Dayana dan Anggia yang baru saja keluar dari balik tirai yang sepertinya kedua gadis itu juga habis diperiksa oleh dokter dan perawat sekolah.


"Dayana! Anggia! Apa-apaan kalian ini? Kalian nuduh Kanza hamil, padahal dia sama sekali enggak hamil?" Bu Elvi, dokter sekolah yang baru saja memeriksa ketiganya, menatap nyalang Dayana dan Anggia.


"Melakukan hubungan saja Kanza gak pernah, kenapa kalian bisa sejahat itu menuduh dia?" Bu Elvi mendesah kesal seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Jari telunjuknya tak henti-hentinya terus menunjuk satu-persatu siswinya yang sering sekali membuat ulah.


"Jawab! Ibu nanya sama kalian berdua! Dari CCTV di kelas XI IPS 4 juga sudah membuktikan kalau kalianlah yang memasukkan benda ini ke dalam tasnya Kanza!"


Dayana dan Anggia masih terdiam menunduk belum menjawab pertanyaan dari Bu Elvi. Berbeda halnya dengan Kanza yang mulai was-was jika sewaktu-waktu mulut kedua gadis menyebalkan itu terbuka dan mengatakan kalau test pack tersebut mereka temukan di suatu tempat di sekolah.


Bagaimana kalau Bu Elvi menyuruh seluruh siswi SMA Naruna untuk periksa? Bisa gawat nanti!


Bu Elvi tampak memijit keningnya yang terasa pening. Pikiran wanita yang usianya telah memasuki kepala tiga tersebut mulai ke mana-mana. Ia pusing dengan tingkah murid-muridnya yang selalu saja bertingkah seenaknya.


"Kalian berdua Ibu hukum bersihkan seluruh toilet sekolah! Paham?!" Ucap Bu Elvi, sontak membuat Dayana dan Anggia langsung mendongakan kepala mereka.


"Tapi, Bu? Masa cuman kita berdua doang yang dihukum?" Dayana mulai mengeluarkan protesnya setelah beberapa menit yang lalu ia hanya diam dan menunduk.


"Lalu siapa lagi?"


"Monika juga harus dihukum, Bu! Dia juga ada dalam rencana ini, kok! Cuman dia kabur aja gak tahu ke mana!" Kini Anggia yang mengutarakan protesnya. Tatapan mata gadis itu terlihat memerah nyalang ketika mengingat sikap Monika tadi yang seenaknya pergi membuat ia dan Dayana harus berada di dalam situasi menyebalkan ini.


"Kalau begitu panggil Monika! Suruh dia juga untuk mengerjakan hukuman dari Ibu!" Ujar Bu Elvi menjeda sejenak perkataannya. "Dengar baik-baik! Walaupun Ibu bukan guru di sini, tapi Ibu berhak hukum kalian! Ibu juga gak peduli siapa orang tua kalian. Mau orang tua kalian pejabat, pengusaha, orang terkenal, Ibu gak peduli! Hukuman tetap hukuman! Camkan itu!"


"Dan untuk kamu Kanza, kamu boleh kembali ke kelas kamu." Bu Elvi kembali menduduki kursi kebesarannya setelah sebelumnya ia merasa cukup puas telah memarahi murid-muridnya.


"Iya, Bu."


"Dan untuk kamu Kenzo, Juna, Azka, Rio! Ngapain kalian ke sini? Masuk ke kelas!" Tatapan Bu Elvi langsung beralih menatap Kenzo dan ketiga teman-temannya.


Juna, Azka, dan Rio tampak gelagapan ketika ditanya seperti itu oleh Bu Elvi. Tidak dengan Kenzo yang malah berjalan menghampiri Kanza seraya menarik lembut salah satu tangan gadis itu.


"Maaf, Bu. Saya di sini cuma mau lihat keadaan kembaran saya. Maaf, kalau itu mengganggu." Jawaban Kenzo, sukses membuat suasana dalam ruang UKS langsung hening seketika.


Tatapan mata Juna, Azka, Rio, Dayana dan Anggia, langsung membulat menatap syok Kenzo kemudian beralih menatap Kanza.


Sedangkan Kanza, gadis itu langsung dibuat panas dingin oleh jawaban Kenzo yang secara gamblang mengatakan hubungan sesungguhnya antara keduanya.


"Kem. Ba. Ran?" Azka menyahut penuh tanda tanya dengan tatapan matanya yang tertuju pada punggung Kenzo.


"Hahah! Ngaco dia! Mana ada Si Kenzo sama Si Kanza kembar—" Juna refleks menghentikan ucapannya. Seketika ia baru tersadar akan sesuatu.


"Kanza? Kenzo? Kenzo? Kanza? Jadi lo berdua...?" Juna tidak dapat melanjutkan ucapannya. Ia benar-benar dibuat syok berat dengan kenyataan bahwa nama mereka saja sudah couple dari dulu.


Kenapa ia tidak menyadarinya lebih awal?


"Gila! Lo berdua kenapa rahasiain ini dari kita? Kaget woi, serius dah!" Rio berdecak kagum dengan sesekali bertepuk tangan.


Dari arah pintu UKS yang tidak tertutup rapat, Alex yang hendak masuk ke dalam sana untuk melihat situasi Kanza langsung menghentikan langkah kakinya dengan sepasang bola matanya yang membulat saking kagetnya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Kembaran? Lo berdua saudara kembar?" Sahutan Alex dari ambang pintu UKS, membuat mereka yang berada di satu ruangan tersebut langsung mengalihkan fokus mereka.


Tak terkecuali Kanza yang kembali dibuat terkejut saat mengetahui bahwa Alex berada di satu tempat yang sama dengannya dan ikut mendengarkan apa yang tengah mereka bahas.

__ADS_1


"Alex!" Panggil Kanza. Gadis itu hendak menghampiri Alex, namun laki-laki itu langsung mundur dan pergi meninggalkan ruang UKS.


"Lex!" Kini giliran Kenzo yang menyahut laki-laki itu. Ia hendak berlari mengejar Alex, namun langkah kakinya langsung terhenti oleh Rio yang mencekal salah satu lengannya.


"Lupain dulu Si Alex! Mendingan lo kasih perhitungan sama cewek-cewek gak punya otak itu yang udah berani bikin gosip aneh-aneh tentang lo sama kembaran lo!" Ucapan yang dilontarkan Rio ada benarnya juga.


Dengan penuh emosi, Kenzo melangkah menghampiri Dayana dan Anggia, kemudian menarik paksa salah satu tangan milik Dayana dan membawanya untuk keluar dari tempat tersebut.


Dayana yang bingung sekaligus diselimuti rasa takut hanya bisa meronta, berharap ia dapat terlepas dari cengkraman tangan Kenzo yang terasa begitu menyakitkan.


"Kenzo, lo mau ke mana!" Giliran Kanza yang mulai was-was. Gadis itu langsung berlari mengejar Kenzo sampai keluar dari ruang UKS.


"Kenzo lepas gak? Lo gila, hah? Sakit tahu!" Dayana masih meronta di belakang Kenzo.


Gadis itu masih terus berusaha menarik dirinya dari Kenzo. Ia benar-benar dibuat malu karena laki-laki itu membawa mereka memasuki kerumunan para siswa yang menatapnya dengan tatapan merendahkan.


"Aw!" Dayana meringis ketika Kenzo mulai menghempas kasar tangan gadis itu.


Dari belakang sana, Kanza berusaha menerobos kerumunan untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kembarannya.


Bukan apa-apa. Kenzo itu kalau sudah marah, tidak ada seorang pun yang dapat menghentikannya. Mungkin laki-laki itu sering terlihat tidak serius apalagi sifatnya yang memang petakilan dan hobinya yang sering membuat suasana hangat penuh tawa.


Namun jangan salah, sekalinya ia diusik ataupun terusik, Kenzo akan membuang jauh-jauh sifat petakilannya itu dan digantikan dengan sifat menyeramkan yang tidak sembarang orang dapat mengetahuinya.


"Zo, udah Zo!" Kanza menarik lengan Kenzo, berusaha untuk menghentikan niatan laki-laki itu yang sudah tercatat begitu jelas dari sorot matanya.


"Diem, Za! Gue gak bisa biarin dia bersikap seenaknya sama lo!" Kenzo menepis kasar tangan Kanza dari lengannya.


Semua siswa dan siswi yang menyaksikan adegan tersebut refleks kembali membicarakan Kanza dan Kenzo yang tidak-tidak.


Kanza selingkuh sama Kenzo lah, Kanza ditolak sama Kenzo lah, Kanza mencampakkan Alex lah, dan masih banyak lagi gosip-gosip baru yang terucap oleh bibir mereka.


"Punya masalah hidup apa lo sama Kanza!" Kenzo mendekatkan posisinya ke hadapan Dayana yang terlihat mulai menciut takut.


Gadis itu hanya menunduk dengan sesekali memundurkan langkah kakinya. Ia benar-benar dibuat gemetaran oleh Kenzo, apalagi ketika tatapan mata laki-laki itu yang menusuk tertuju pada dirinya.


"A-apaan, sih! Bukan gue doang kali, Si Monika juga, asal lo tahu!" Dayana sebisa mungkin menjawab pertanyaan Kenzo, walaupun sebenarnya dirinya sendiri tidak berani menatap sepasang mata laki-laki itu.


"Camkan ini baik-baik! Sekali lagi lo berani gangguin Kanza, gue gak akan segan-segan buat hancurin hidup lo!" Kenzo mendorong bahu Dayana menggunakan jari telunjuknya.


Tubuh gadis itu tidak sampai terjerembab ke tanah. Tubuhnya hanya sedikit bergeser saja karena dorongan dari Kenzo yang bukan main-main.


"Oh, satu hal lagi! Ini buat lo semua yang ada di sini, yang selalu ngegosip yang aneh-aneh!" Kenzo mengalihkan perhatiannya pada kerumunan para siswa yang mengerumi mereka. "GUE SAMA KANZA SAUDARA KEMBAR! BERANI LO SEMUA BIKIN GOSIP ANEH-ANEH TENTANG GUE SAMA KANZA, LO HABIS SAMA GUE!" Ucap Kenzo lantang, sukses membuat satu kerumunan menganga tidak percaya.


Mendengar Kenzo yang kembali mempublikasikan hubungan keduanya, Kanza kembali terdiam. Bayangan mengerikan di masa lalu kembali menghampirinya.


"Zo!" Kanza menyentuh lengan Kenzo, berharap laki-laki itu akan menarik kembali perkataannya yang mengatakan kalau keduanya adalah sepasang saudara kembar.


Pikirnya, sudah cukup Dayana, Anggia, dan teman-teman dari laki-laki itu yang mengetahui soal identitasnya. Jangan satu sekolah! Ia tidak sanggup jika kejadian dulu sewaktu SD dan SMP terulang kembali.


"Lo jangan takut, Za! Sampai mati pun, gue gak akan biarin lo terluka!" Kenzo mengalihkan tatapan matanya kepada Kanza. Laki-laki itu menarik tangan Kanza dengan lembut untuk segera keluar dari kerumunan siswa yang hampir membuatnya gila setengah mati.


Lo tenang aja, Za! Gue jamin, kejadian dulu gak akan terulang lagi! Kalaupun iya, gue akan selalu di samping lo buat jagain lo!


...****...


"Anj*rlah! Males banget gue harus bersihin toilet? Mana bau lagi!" Dayana mengeluh seraya membanting gagang pel yang berada di genggamannya.


"Huwek! Mereka pada disiram gak, sih, kalo habis pake toilet? Bau banget, gila!" Anggia keluar dari dalam salah satu bilik toilet setelah sebelumnya ia berusaha sebisa mungkin untuk membersihkan toilet tersebut.


Tidak dengan Monika yang hanya berdiam diri seraya menyandarkan punggungnya pada dinding. Gadis itu terlihat cuek tanpa peduli dengan hukumannya yang belum juga ia kerjakan.


"Heh, Monika!" Dayana menggertak Monika seraya menaruh sebuah ember berisi air bekas pel-an tepat di hadapan gadis itu.


Monika tampak mengalihkan perhatiannya pada Dayana dengan salah satu alisnya yang terangkat. "Kenapa?" Tanyanya santai. Membuat Dayana dan Anggia refleks tertawa sinis.


"Kok, lo malah nanya? Bantuin, lah! Ini kan terjadi juga demi cowok pujaan hati lo itu!" Dayana mendorong pelan bahu Monika sampai hampir membuat gadis itu kehilangan keseimbangannya.


"Lo mau cari gara-gara sama gue? Siapa suruh lo ngerjain Si Kanza bawa-bawa nama cowok gue!" Tidak ingin kalah begitu saja, Monika balas mendorong bahu Dayana sampai membuat tubuh gadis itu sedikit memundurkan langkah kakinya.


"Udah, udah! Kok, kalian jadi berantem, sih? Mendingan sekarang kita minta maaf sama Si Kanza! Dia kembarannya si Kenzo, kan?" Anggia berdiri di tengah-tengah Dayana dan Monika berusaha untuk melerai keduanya.


Dayana berdecih. Tatapan matanya yang semula menatap nyalang Monika, kini beralih menatap Anggia. "Gila, ya? Ngapain gue minta maaf sama dia? Najis anj*r!"


Anggia mengerutkan keningnya seraya menahan emosi yang seakan mau meledak dari dalam dirinya. "Lo lebih baik buang jauh-jauh harga diri lo yang super tinggi itu! Lo gak denger tadi Si Kenzo ngomong apa?"


"Lo pikir gue takut sama dia? Enggak dan gak akan pernah!" Dayana menjerit tepat di hadapan Anggia.


Setelahnya, gadis itu melenggang pergi dari dalam toilet meninggalkan Anggia dan Monika dengan berbagai kekesalan dalam dirinya.


^^^To be continue....^^^


Spoiler next eps>>>


"Lex, dengerin penjelasan gue!" Kanza mencegat langkah Alex yang hendak pergi dari hadapannya. Gadis itu sudah dibuat takut oleh Alex yang selama beberapa jam ini sulit untuk didekati.


Alex mendengus dengan tatapan matanya yang dingin tertuju pada Kanza. "Jelasin apa lagi? Gue udah tahu lo berdua itu saudara kembar!" Ucapnya.


Ketika Alex hendak pergi dan melanjutkan langkah kakinya, Kanza dengan berani melingkarkan kedua lengannya di pinggang laki-laki itu. Berharap Alex akan mendengarkan penjelasan Kanza.


"Gue mohon lo dengerin dulu apa yang mau gue bilang! Jangan pergi dulu!"


Lagi dan lagi, Alex hanya mendengus. Kedua tangannya dengan kasar melepaskan pelukan dari gadis itu, kemudian kembali menatapnya dingin.


"Gue kecewa sama lo, Za! Setidaknya lo bisa jujur, walaupun cuma sama gue! Seenggaknya gue gak akan marah sama cemburu sendirian gak beralasan!" Ucap Alex, kemudian melenggang meninggalkan Kanza yang terdiam mencoba mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh laki-laki itu.


Sudah update yaa!!!


Maaf lama. Harusnya ini tadi pagi diupdatenya. Berhubung kemaren malem ketiduran, jadinya agak siangan ya diupdatenya!


Klo gitu, smpai jmpa di next eps:*

__ADS_1


Btw, aku mau minta maaf sblmnya bagi kalian yg minta masuk grup aku! Bukannya gimna2 sbnrnya. Aku bingung, soalnya grup chatnya tuh udh lama bgt gk aktif! Setahun lebih keknya ada. Jadi, maaf bgt ya gk aku msukin! Sbnarnya grup chatnya tuh pengen aku hapus aja tdinya, soalnya juga sepi buat apa. Tpi gk bisa hehee😁 maaf bgt🙏


__ADS_2