Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 50


__ADS_3

"Bu Paula!" Panggil Azka. Sepasang netranya tampak sedikit menunduk, dengan seulas senyum miris yang terpatri di wajahnya.


Selang berapa lama, kepalanya yang sedikit tertunduk mulai terangkat. Tatapan sendu penuh luka ia pancarkan pada wanita yang masih setia berdiri di hadapannya.


"Ini saya, Azka! Anak yang dulu pernah Anda buang belasan tahun yang lalu,"


Bagai mendapat sebuah sambaran tepat di ulu hatinya, wanita bernama Paula tersebut langsung terdiam kaku dengan sepasang bola matanya yang membulat hampir sempurna. Kedua kakinya pun dengan refleks mundur beberapa langkah.


Tak hanya itu saja, menarik napas pun sudah terasa begitu sesak padahal wanita itu berada di alam yang cukup terbuka. Satu hal yang ia rasakan saat ini; terkejut.


"A-azka?" Panggilnya dengan suara yang pelan. Tanpa berniat menjawab apa-apa lagi, cowok itu hanya mengangguk dengan sepasang bola matanya yang hampir memerah.


Lagi dan lagi, setetes air mata luruh menuruni wajahnya. Tak berlangsung lama, dengan segera Azka menghapus jejak air mata tersebut seraya membuang pandangan dari wanita itu yang masih terdiam kaku tak melakukan apa-apa.


Wanita itu masih sangat syok! Ia masih berusaha mencerna setiap perkataan yang diucapkan oleh Azka yang mengatakan bahwa; dia adalah anak kandungnya.


"Ka-kamu—"


"Iya, ini aku, Azka! Mama ke mana aja? Apa Mama gak pernah mikirin sedikit pun perasaan aku? Mama tega!" Hardik Azka. Seketika itu juga, Paula semakin dibuat terdiam dengan air mata yang tiba-tiba lolos begitu saja dari dalam pelupuk matanya.


"A-azka! Mama—" ketika Paula hendak meraih tangan Azka, cowok itu malah menepisnya cukup kasar.


"Makasih, Ma! Makasih untuk semua luka yang selama ini Mama kasih sama Azka! Azka udah cukup puas!" Tandas Azka. Ketika cowok itu hendak melangkah menjauh, dengan tergesa-gesa, Paula memberanikan diri menarik salah satu pergelangan tangan cowok itu dan mencengkramnya cukup kuat.


Azka. Dia adalah putra kandungnya yang selama ini ia titipkan pada sang papa agar mendapat sebuah kehidupan yang jauh lebih layak dan tidak berakhir sama seperti dirinya. Selama lebih dari tujuh belas tahun ini, Paula terus teringat akan Azka, namun wanita itu sedikit pun tak memiliki keberanian untuk menemui putranya sendiri. Ia terlalu takut jika Azka akan menolak kehadirannya sehingga itu akan membuatnya lebih tersiksa.


Paula semakin mempererat cengkraman tangannya di pergelengan tangan sang putra. Sementara Azka, ia hanya mampu terdiam dengan kedua bola matanya yang berkaca-kaca.


"Maafin Mama ... Mama punya alasan mengapa harus menitipkan kamu sama Eyang. Mama nggak punya pilihan lain lagi! Mama—"


"Karena Mama gak pernah sayang sama aku." Tandas Azka, kemudian menepis kasar tangan sang mama sampai membuatnya terkejut dengan sedikit memundurkan langkahnya.


Lagi dan lagi, Paula hanya dapat terdiam kaku ketika melihat Azka berpaling darinya. Sedikit terbesit perasaan ingin mengejar, namun entah mengapa tubuhnya masih tetap berdiam diri di tempat yang sama tanpa sedikit pun ingin berpindah.


Lagi. Air mata semakin megucur deras tatkala dari kejauhan sana, sekalipun Azka tidak melirik ke belakang di sela langkah kakinya menjauhi Paula. Terlihat cukup jelas dari raut wajahnya yang penuh dengan perasaan sakit dan kecewa, sehingga tak memungkinkan baginya untuk melirik ke belakang.


Sepertinya, tujuan hidup Azka sudah benar-benar selesai. Tak ada lagi yang harus ia cari tahu tentang hidupnya yang kelabu ini. Orangtua yang selama ini terus ia cari keberadaannya, telah ia jumpai namun malah berakhir seperti tadi. Padahal tujuan awal dari ia mencari tahu soal mereka bukanlah ini!


Melainkan karena Azka merindukan mereka. Azka ingin seperti teman-temannya yang lain yang akan bercerita tentang suka maupun duka ketika berada di sekolah pada mama maupun papa. Sayangnya, bukannya perasaan penuh kerinduan yang pertama kali menyambut pertemuan pertama mereka. Melainkan perasaan kebencian akan sosok orangtua yang dulunya tidak pernah ada dalam hidup Azka.


Azka merindukan mereka, namun perasaan sakit dan kecewanya lebih mendominasi. Sehingga yang terjadi adalah; Azka berpaling lebih dulu sebelum ia mengatakan kerinduannya.


Paula menatap nanar kepergian putranya yang menaiki sebuah motor sport. Dadanya tiba-tiba terasa begitu sakit seolah ada sesuatu yang baru saja menghantamnya. Keberadaan Azka yang tak lagi terlihat oleh sepasang netranya meninggalkan beribu luka mendalam yang belum sempat ia jabarkan.


...****...


Kayla mengerucutkan bibirnya kesal dengan tatapan sinis yang belum juga beralih dari Alma. Gadis itu benar-benar dibuat dongkol setengah mati oleh Alma karena sedari jam istirahat pertama berlangsung sampai saat di mana keduanya berada di tengah-tengah kantin, sahabatnya yang terlampau cantik ini terus saja tak mengacuhkannya. Alma terlalu sibuk dengan ponsel sehingga sesekali gadis itu akan tertawa cekikikan sendiri seperti orang bodoh.


Dan yang lebih bodohnya adalah, Kayla terus memperhatikan Alma yang tengah asyik dengan dunianya sendiri.


Padahal, ada banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Alma. Apalagi hal-hal yang belum lama ini telah terjadi padanya sehingga hampir menggoyahkan iman serta pendirian Kayla untuk mulai move on dari Juna.


Demi apa pun, waktu itu ia tidak pernah menduga bahwa Juna akan menembaknya. Apalagi sampai ada adegan kecupan singkat yang mendarat di bibirnya. Seketika gadis itu dibuat gugup sehingga tidak dapat melakukan apa-apa selain hanya terdiam.


Parahnya, setelah kejadian tersebut, dengan entengnya cowok itu malah menyela ucapan Kayla yang belum juga sempat terucap dengan mengatakan; akan mengantar Kayla pulang.


Saat itu juga, perasaan dongkol mulai menghinggapi diri Kayla. Pikirannya terus tertuju pada adegan di mana Juna dengan tanpa permisi menciumnya. Walaupun hanya sekilas, bagaimanapun juga itu adalah pengalaman pertama Kayla dan cowok itu dengan seenak jidat telah mengambil keuntungan darinya.


Dan semenjak kejadian hari itu, Juna menjadi lebih dingin dari biasanya dan sering menghindari Kayla.


Lho? Bukannya kebalik, ya? Harusnya kan Kayla yang menjadi lebih dingin dan menjauhi Juna! Karena bagaimanapun juga, Kayla yang paling dirugikan di sini.


Kayla mendengus sebal sesaat memori hari itu lagi-lagi melayang tak dapat dicegah. Batinnya kesal, mulutnya ingin menghujat, namun semuanya hanya bisa ia tahan sendirian dalam hati. Ia tidak tahu harus bercerita pada siapa. Alma sibuk, sedangkan Kanza, Kayla sudah hampir beberapa hari ini tidak bersama gadis itu.


Ralat. Kanza sendiri yang selalu memilih menjauhi mereka. Gadis itu seolah tidak ingin didekati semenjak kejadian di mana ia yang histeris tanpa sebab di sebuah lorong rumah sakit.


Sebenarnya, banyak hal yang Ingin Kayla ketahui soal; apa saja yang telah menimpa Kanza sehingga menyebabkan gadis itu bersikap demikian. Tetapi, yang bisa ia lakukan hanyalah diam dan menunggu, berharap Kanza akan mulai membuka pintu hatinya sehingga gadis itu akan mulai bercerita segala keluh kesah hidupnya pada Alma dan juga Kayla.


"Ma!" Kayla memanggil Alma setelah hampir cukup lama ia terhanyut akan lamunannya.


Alma tidak berusaha menoleh, namun gadis itu hanya membalasnya dengan dehaman singkat. Tak lupa ia juga akan tersenyum aneh pada layar ponselnya yang menampilkan deretan pesan chat dari Rio.


Kayla lagi-lagi dibuat mendengus sebal karena ulah Alma. Ketika gadis itu hendak mengeluarkan beberapa kata mutiara teruntuk sang sahabat, perhatiannya tanpa sengaja melirik ke arah lain sehingga perkataannya refleks tertahan.


Perasaan dongkol yang semula ditujukan pada Alma, langsung beralih pada sesosok manusia yang selama beberapa hari ini terus menghindari Kayla.


Emosi gadis itu yang telah lama ia pendam pun langsung mencuat. Perasaan kesal sekaligus marah atas apa yang telah terjadi di antara mereka, namun tidak ada konfirmasi lebih lanjut darinya membuat Kayla merasa sedang di-ghosting!


Awas aja kalau hari ini ngehindar lagi! Gue tendang aset lo! Batin Kayla, kemudian mendengus.


Tak ingin berlama-lama menatap sosok tersebut, Kayla lantas bangkit dari kursi kantin dengan langkah gontai disertai tatapan menusuk yang terus tertuju padanya.


Di sepanjang ia melangkahkan kakinya, gadis itu terus-menerus menggulung blazer biru navy yang ia kenakan. Napasnya pun mulai menggebu-gebu.


Ketika tinggal beberapa langkah lagi Kayla sampai di hadapan sosok yang membuatnya tersulut emosi, langkah kakinya tiba-tiba tertahan tatkala melihat seorang gadis yang teramat ia kenali menghampiri sosok tersebut dengan seulas senyum yang membuat Kayla langsung paham maksud dari senyuman tersebut.


Kayla tersenyum kecut saat Juna malah merespon sapaan dari gadis itu yang tak lain adalah mantannya sendiri, Monika.


Ya! Sosok yang membuatnya emosi itu adalah Juna. Cowok yang selama ini terus menghindari Kayla setelah dia berhasil menyatakan cinta dan mencuri ciuman darinya tanpa berniat mengatakan apa-apa lagi.


"Jadi gini, ya, rasanya di-ghosting?! Habis bilang suka, terus ngilang tanpa bilang-bilang. Semua cowok emang sama aja!" Kayla menggerutu pelan dengan kepalan tangannya yang terkepal kuat. Dadanya terasa begitu sakit, dan kedua bola matanya serasa berkedut seolah ada sesuatu yang akan keluar dari sana.


Tak ingin lebih lama lagi berdiri menyaksikan adegan yang membuatnya sakit hati, gadis itu lantas berpaling dengan kedua kakinya yang melangkah cepat meninggalkan tempat tersebut.


Tak berapa lama, langkah kakinya yang masih normal mulai berganti dengan berlari. Sepasang bola matanya sudah mulai berkaca-kaca dan itu sanggup membuat penglihatannya sedikit memburam.


Kayla menghentikan laju larinya tatkala ia telah sampai di belakang gedung sekolah yang terbilang cukup sepi. Napasnya yang tersengal perlahan mulai sedikit menormal. Sayangnya, air mata yang ia tahan sekuat tenaga, pada akhirnya luruh begitu saja tanpa permisi.


Detik berikutnya, gadis itu mulai menangis seraya berjongkok. Tangisnya terdengar begitu kencang, namun beruntungnya tidak ada siapa pun selain dirinya di sana. Mungkin karena di tempat tersebut tidak ada yang begitu istimewa sampai jarang dikunjungi oleh para siswa.

__ADS_1


Perlahan, tangisan Kayla mulai sedikit mereda. Air matanya pun mulai ikut berhenti mengalir seiring dengan tangisnya yang juga berhenti.


"Harusnya gue langsung move on aja! Gak peduli dia bilang suka sekalipun ke gue. Karena pada akhirnya, perasaan yang dia bilang waktu itu cuma sesaat." Kayla bergumam seraya terkekeh miris. Setetes air mata tanpa ia duga kembali menuruni wajah cantiknya. Dengan cepat gadis itu langsung menghapusnya cukup kasar.


"Lo emang bego! Udah tahu cinta pertama itu gak akan pernah bisa tergapai, tapi kenapa lo masih ngarep? Lo lupa kalau dia selalu gak peduli sama lo? Dasar bego! Lo bener-bener bego, Kayla!" Pekiknya dengan suara yang cukup lantang. Salah satu tangannya pun terangkat untuk memukuli kepalanya beberapa kali.


Selang berapa lama, Kayla mulai menghentikan aksi gilanya. Tatapan matanya yang menggebu berubah sendu. Perasaan sakit penuh luka seolah terpancar begitu jelas dari sepasang bola matanya.


Tak ingin terus-menerus berjongkok dan meratapi kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan, gadis itu lantas menegakkan posisi berdirinya dengan kedua tangan yang sibuk menghapus jejak air mata.


"Mulai detik ini, gue gak mau peduli lagi sama dia! Sudah cukup gue menderita sendirian. Kesabaran gue juga ada batasnya," Kayla mengembuskan napas panjang setelah mengatakan kalimat tersebut.


Tak berapa lama, raut wajah sendu yang semula terpatri di wajahnya mulai berganti dengan raut datar tanpa ekspresi.


Kali ini, ia akan benar-benar melupakan Juna. Tidak peduli seperti apa pun nantinya, ia harus melupakan cinta yang tak akan pernah bisa ia gapai sampai kapan pun.


...****...


Juna menghela napas gusar sesaat ingatan beberapa hari yang lalu ketika ia dengan berani mengungkapkan perasaan sekaligus mencium gadis yang selama ini sering mengintilinya terus berngiang di kepalanya.


Pikirannya seketika menjadi kacau entah kenapa. Dan demi tidak membuat pikirannya semakin kacau, Juna memilih menjauh terlebih dahulu dari Kayla untuk mencoba menenangkan diri dan mencari tahu lebih dalam; apakah rasa yang bersemayam di dadanya ini benar-benar sebuah perasaan cinta, atau bukan?!


Dan semakin ia mencoba untuk berpikir jernih, otaknya semakin tidak dapat diajak berkomunikasi dan itu semua sanggup membuat Juna tidak dapat berkonsentrasi. Semua isi otaknya dipenuhi oleh bayang-bayang Kayla. Semua!


Juna bahkan tidak bisa fokus di dalam kelas karena netranya terus saja mencuri pandang pada Kayla. Terkadang, perasaannya menjadi gusar tak menentu. Ia sendiri bahkan tidak paham mengapa dirinya bersikap demikian.


Kesalahan besar ia mengatakan pada gadis itu bahwa cintanya tidak sepihak! Nyatanya, saat ini bayangannya masih terasa begitu abu-abu dan belum ada pencerahan sedikit pun.


Memilih untuk segera mengenyahkan apa yang masih ia pikirkan, Juna lantas bangkit dari posisi duduknya dengan sesekali menghela napas.


"Yo! Kal! Gue mau ke kantin, nih! Lo berdua mau pada nitip, gak?" Juna kemudian menyahut pelan ke arah kedua sahabatnya yang juga berada di satu tempat yang sama dengannya. Masing-masing dari mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri.


Rio yang tengah senyum-senyum ke arah layar ponselnya langsung menoleh pada Juna. Sedangkan Haykal yang sedari tadi tengah melamun, langsung tersentak dari apa yang ia lamunkan.


"Eh? Enggak, deh. Gue lagi gak mood," ujar Haykal yang langsung diangguki oleh Juna. Persekian detik kemudian, perhatian cowok itu lantas beralih pada Rio yang tampak terdiam.


"Elo, Yo? Mau nitip?"


"Emm... Sama, deh. Enggak. Lo aja," ujarnya yang lagi-lagi hanya mampu dibalas anggukan kepala oleh Juna.


"Oke. Kalo gitu gue duluan, ya," pungkas Juna, yang langsung dibalas acungan jempol serta anggukan kepala oleh Rio dan juga Haykal.


Akhirnya, Juna melenggang dari tempat tersebut yang tak lain adalah ruang kelas XI IPS 4, kelasnya sendiri. Langkah kakinya yang cukup gontai sehingga tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di salah satu kantin yang sering ia kunjungi.


Juna lagi-lagi menghela napas kala sepasang netranya menangkap sekumpulan siswa serta siswi SMA Naruna yang hampir memenuhi seluruh penjuru kantin. Suasananya yang cukup berisik mampu membuat cowok itu berdesis pelan.


Tujuannya ke kantin bukan tanpa alasan. Cowok itu haus dan dia butuh sebotol minuman dingin untuk menyegarkan pikirannya.


"Juna!" Suara sahutan dari belakangnya sontak mengalihkan perhatian cowok itu.


Ketika Juna menoleh, seorang gadis yang tak lain adalah Monika, masa lalunya, berjalan ke arah cowok itu. Raut wajahnya terlihat cukup tenang tidak seperti biasa. Seulas senyum tipis pun ikut terpatri di wajah cantiknya.


"Kenapa?" Tanya Juna dingin. Sanggup membuat Monika dibuat sedikit canggung olehnya.


"Mastiin apa?" Tanya cowok itu lagi. Nada suaranya terdengar semakin dingin dari sebelumnya.


Dengan ragu, gadis itu kembali tersenyum canggung pada Juna disertai salah satu tangannya yang menggaruk belakang lehernya.


"I-itu! Katanya Kenzo masuk rumah sakit, ya? Gi-gimana keadaan dia sekarang? Di-dia baik-baik aja, kan?"


Juna menaikkan salah satu sudut bibirnya seraya mengangguk beberapa kali. Batinnya yang terdalam, ia sudah menduga akan pertanyaan gadis itu yang akan bertanya soal Kenzo. Bagaimanapun juga, Monika itu salah satu fans-nya si Kenzo di sekolah ini.


"Lo tenang aja. Dia gak akan kenapa-kenapa. Dan, oh ya! Ada satu hal yang mungkin lo belum tahu soal si Kenzo," Juna sedikit memajukan langkah kakinya ke hadapan gadis itu, sampai jarak di antara keduanya hanya tersisa beberapa beberapa jengkal saja.


"Apa?" Tak merasa terintimidasi sedikit pun, Monika justru malah bertanya dengan cukup santai pada Juna. Padahal yang kita tahu, Juna adalah mantan pacarnya sendiri.


Lagi dan lagi Juna menaikkan salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian. Kedua bola motanya pun tanpa canggung maupun dendam menatap bola mata milik gadis itu yang juga tengah menatapnya.


"Lo mending cepet move on, deh. Dia udh punya pacar. Si Kenzo dari awal cuma main-main sama lo." Ucapnya pelan. Sanggup membuat tubuh Monika seketika dibuat menegang dengan kedua bola matanya yang sedikit melebar.


Memilih untuk segera mengenyahkan lamunannya tersebut, Monika lantas berdeham beberapa saat seraya sedikit memundurkan langkah kakinya dari hadapan Juna.


"Gu-gue udah move on, kok! Gue nanya karena pengen tahu aja,"


Juna mengangguk beberapa saat, kemudian tersenyum miris. "Oke," ujarnya. Ketika cowok itu hendak berbalik meninggalkan Monika, Juna seketika teringat suatu hal yang mungkin dapat ia tanyakan pada Monika.


"By the way, gue mau nanya satu hal sama lo!"


"Eh!? Nanya aja,"


Juna tampak terdiam dan berpikir sejenak. "Misalnya nih, ya! Lo yang dulunya selalu bisa konsentrasi di mana pun dan kapan pun, tiba-tiba pikiran lo jadi terpecah belah gara-gara seseorang yang tiba-tiba muncul begitu aja di pikiran lo! Lo sering dibuat uring-uringan gak jelas dan mata lo sedikit pun gak bisa diem buat nyari di mana keberadaan dia!"


Monika seketika dibuat terkekeh pelan oleh perkataan yang dilontarkan oleh Juna. "Serius lo nanya begituan sama gue?"


Juna mengernyit dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada. "Kenapa emangnya?"


"Ya, aneh aja! Lo nanya begituan sama mantan lo? Lo gak merasa canggung apa?" Tanya Monika. Lagi dan lagi gadis itu terkekeh pelan.


"Kenapa harus canggung? Sorry-sorry aja, gue udah move on dari lo!" Ucap Juna enteng, namun sanggup membuat Monika dibuat terdiam oleh perkataanya.


"Ekhem. Oh, ya? Selamat! Lo baru aja jatuh cinta sama seseorang yang udah buat lo gak bisa konsentrasi," ujar Monika. Setelahnya, gadis itu melenggang dari hadapan Juna.


Di sepanjang langkah meninggalkan cowok itu, raut wajah Monika langsung berubah drastis. Perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya serasa menggerogoti area dadanya. Dan tanpa ia sadari, kedua tangannya mulai terkepal kuat.


...****...


Bel tanda pulang sekolah pun akhirnya berbunyi. Seluruh siswa serta siswi SMA Naruna mulai berbondong-bondong meniggalkan kelas mereka.


Tak terkecuali Bianca yang juga mulai meniggalkan kelas setelah pelajaran di kelasnya resmi berakhir. Namun, bukannya segera menuruni kelas dan segera pulang, gadis itu malah menyempatkan dirinya untuk mampir terlebih dahulu ke salah satu toilet kelas dua belas.

__ADS_1


Bukan apa-apa. Ia hanya ingin mencuci wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih menggerogotinya selepas pelajaran terakhir tadi.


Oh, ya. Walaupun ia telah resmi menikah, Bianca masih bisa melanjutkan sekolahnya beberapa bulan lagi sebelum perutnya mulai agak membesar. Jika hari itu tiba, Bianca akan benar-benar mengakhiri pendidikannya di sekolah ini dan melanjutkannya dengan bersekolah di rumah.


Ya. Seperti itu saja. Mau bagaimana lagi. Untungnya, sekarang sang papa yang dulunya sering tak mengacuhkan Bianca perlahan mulai sedikit perhatian padanya, sehingga gadis itu tak lagi merasa kesepian. Dan lagi, ia sekarang memiliki Maya, ibu mertuanya yang akan selalu menyayanginya sepenuh hati.


Rasa-rasanya, Bianca yang telah lama tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu mulai kembali merasakan perasaan hangat tersebut sehingga tak lagi membuatnya rindu akan sosok mama yang telah lama meninggalkannya.


"Huwek! Huwek!"


Bianca seketika menghentikan langkah kakinya tepat di depan salah satu pintu toilet yang tertutup rapat. Perhatian gadis itu langsung beralih pada daun pintu tersebut seraya terus menajamkam indera pendengarannya.


"Huwek! Huwek! Huwek!"


Merasa benar ada yang tidak beres, Bianca lantas mengetok pintu tersebut beberapa kali sampai membuat suara seseorang di dalam toilet tersebut langsung berhenti.


"Lo yang di dalem gak pa-pa? Mau gue ambilin obat?" Pekik Bianca. Tak lama kemudian, pintu toilet tersebut langsung terbuka sehingga tampaklah seorang gadis yang teramat ia kenali menatapnya datar dengan raut wajah pucat.


"Agnes?!" Mengetahui orang yang mual-mual di dalam toilet tersebut ternyata adalah orang yang selama ini selalu membencinya, membuat Bianca sedikit tersentak.


Ada hal yang membuatnya sedikit merasa aneh yang dapat ia lihat dengan cukup jelas dari Agnes. Raut wajahnya benar-benar terlihat pucat, padahal yang Bianca tahu, Agnes bukanlah tipe yang mudah sakit.


"Lo gak pa-pa?" Tanya Bianca. Sedikit terbesit perasaan curiga, namun gadis itu memilih untuk menahannya ketimbang mengatakannya.


Agnes tampak berdecih pelan kemudian melenggang dari dalam toilet tersebut tanpa berniat memedulikan Bianca sedikit pun.


Memilih menghela napas dan tak mau mempermasalahkan, Bianca pun memutuskan untuk acuh tak acuh seperti halnya gadis itu yang bersikap demikian padanya.


Namun, ketika Bianca baru saja memasuki toilet yang ditinggalkan oleh Agnes, kedua bola matanya refleks membulat hampir sempurna kala sebuah benda kecil berbentuk strip tertangkap oleh indera penglihatannya.


"Ini, kan-" Ucapan Bianca langsung terhenti ketika sebuah tangan lain langsung merebut benda tersebut yang belum lama ini berada di genggamannya.


Perhatiannya pun dengan refleks langsung beralih pada sosok tersebut yang tak lain adalah Agnes. Dengan canggung, Agnes menyembunyikan benda yang ia rebut dari Bianca ke dalam saku rok yang ia kenakan.


Tak berniat mengatakan apa-apa lagi, gadis itu lantas melenggang dari hadapan Bianca yang terlihat masih syok dengan apa yang baru saja ia lihat.


Tak ingin terus berlarut dalam lamunan, Bianca lantas keluar dari dalam toilet tersebut dengan langkah gontai untuk mengejar langkah Agnes yang telah lebih dulu meninggalkan toilet.


"Tunggu!" Sahut Bianca, sesaat ketika langkah gadis itu masih belum terlalu jauh dari area toilet.


Mendengar ada seseorang yang menyahutinya, sontak membuat langkah kaki Agnes langsung terhenti. Kedua tangannya pun dengan refleks terkepal kuat tanpa ia sadari.


Mencoba untuk tetap terlihat tenang, Agnes lantas membalikkan tubuhnya menghadap Bianca. Seulas senyum sinis terbit di wajah pucatnya.


"Kenapa? Tumben lo nyamperin gue? Kangen gue bully? Sorry, gue lagi gak sempet buat bully lo. Gue masih banyak kerjaan soalnya," ucap gadis itu, masih sempat-sempatnya berkata hal demikian.


Kini giliran Bianca yang terkekeh sinis. "Gimana rasanya dapet karma yang serupa? Lo lagi hamil, kan?"


Perkataan Bianca yang to the point sontak membuat Agnes terdiam. Raut wajahnya pun terlihat berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.


"Gimana rasanya hamil dalam keadaan lo yang masih sekolah? Enak? Akhirnya lo juga merasakan apa yang gue rasain. Tuhan emang maha adil, ya?" Bianca lagi-lagi terkekeh sinis yang membuat Agnes semakin dibuat terdiam oleh perkataan gadis itu padanya.


"Jaga omongan lo!" Agnes mengerang dengan tatapan mata yang belum juga beralih dari Bianca.


"Kenapa? Gue bahkan belum bilang selamat sama lo! Sebentar lagi lo juga bakal kayak gue! Ngerasain hal yang mungkin bakal lebih sulit dari apa yang gue jalani." Ujar Bianca, kemudian melenggang dari hadapan Agnes yang mulai kehilangan kesabarannya.


"Gak usah bangga! Lo pikir, dengan lo yang kayak gini bisa membuat Haykal tanggung jawab sama lo? Enggak dan gak akan mungkin!" Teriak Agnes. Sanggup membuat langkah kaki Bianca langsung terjeda beberapa saat.


Merasa ada yang salah dengan perkataan Agnes, Bianca lantas membalikkan tubuhnya kembali menghadap gadis itu. Seulas senyum miring terbit di wajah cantiknya.


"Kayaknya, lo masih belum tahu beberapa hal, ya, soal kehidupan gue? Em ... Kalo gitu, sekarang gue mau kasih tahu beberapa hal itu sama lo!" Bianca melangkahkan kedua kakinya ke hadapan Agnes. Ketika posisi keduanya telah benar-benar saling berhadapan dengan jarak yang bahkan kurang dari satu meter, Bianca lantas menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia kembali melanjutkan perkataannya.


"By the way, gue sama Haykal udah nikah sekitar tiga hari yang lalu. Lo gak mau ngucapin selamat atau apa gitu buat gue?"


Bukannya merasa kesal ataupun marah, Agnes malah terkekeh sarkas seolah semua hal yang diucapkan oleh Bianca tidak benar adanya.


"Kenapa? Lo gak percaya? Mau gue tunjukin bukti?" Bianca mulai mengorek isi di dalam tas untuk mengambil ponselnya.


Ketika ponsel tersebut telah berada di tangannya, gadis itu mulai mengotak-atik benda tersebut untuk mencari sesuatu yang akan ia perlihatkan pada Agnes sebagai bukti.


"Nih! Sekarang lo percaya, kan, kalo gue sama Haykal beneran udah nikah? Atau, lo masih gak percaya juga? Lo boleh lihat jari manis gue aja deh kalo gitu," Bianca semakin gencar memamerkan foto serta sebuah cincin yang tersemat di salah satu jari manisnya pada Agnes


Sedangkan Agnes, gadis itu dibuat tak dapat berkata-kata kala puluhan foto, atau bahkan mungkin ratusan foto di mana Bianca dan juga Haykal tengah memakai seragam pengantin terpampang nyata di layar ponsel tersebut.


Agnes sangat ingin mengatakan bahwa foto tersebut hanyalah editan belaka, namun lagi dan lagi gadis itu semakin dibuat tidak dapat berkata-kata saat foto-foto lain beserta seluruh teman sekumpulan Haykal juga ikut terpampang jelas di sana. Semakin membuktikan bahwa apa yang tengah diperlihatkan oleh Bianca adalah sebuah kenyataan.


"Gimana? Sekarang lo percaya-"


"Berisik lo!" Agnes memotong ucapan Bianca, sampai tanpa sadar telah mendorong tubuh gadis itu sehingga membuat tubuhnya seketika dibuat terjerembab ke lantai.


Bianca sempat mengaduh pelan dan berusaha untuk kembali bangkit dari posisinya. Sayangnya, perutnya tiba-tiba terasa begitu sakit sampai membuatnya tidak dapat lanjut berdiri.


Agnes mengerang kesal dengan deru napasnya yang menggebu-gebu. Tangannya yang semula menggenggam kuat ponsel milik Bianca kini telah ia lempar sembarangan. Emosi telah benar-benar menguasai dirinya.


"Lo pikir lo berhak bahagia, hah? Setelah apa yang udah Nyokap lo lakuin sama keluarga gue, lo sebagai anaknya juga gak berhak buat bahagia! Lihat aja nanti. Gue akan merenggut kembali kebahagiaan lo, agar lo pun sama menderitanya kayak gue!" Tandas Agnes. Setelah mengatakan kalimat tersebut, gadis itu langsung melenggang dari hadapan Bianca yang masih terlihat mengaduh memegangi perutnya yang kian terasa sakit.


Ketika Bianca hendak berteriak minta tolong, darah segar mengalir dari area selangkangannya sampai mengucur ke area mata kaki. Saat itu juga, Bianca mulai panik apalagi rasa sakit itu terasa semakin menyebar tidak tertahankan.


Dalam hatinya yang terdalam, ia terus-menerus berdoa pada Tuhan supaya Haykal atau siapa pun itu datang menyelamatkannya sehingga janinnya akan baik-baik saja.


Sayangnya, tidak ada seorang pun yang datang sehingga yang dapat Bianca lakukan hanyalah menjerit menahan sakit yang teramat sakit.


"Haykal... Lo di mana?" Suara teriakan gadis itu terdengar kian melemah. Kedua tangannya terus-menerus memegangi perutnya.


Kepalanya tiba-tiba terasa begitu pening dengan penglihatan mulai sedikit memburam. Detik selanjutnya, tubuh gadis itu sudah tidak lagi kuat menahan bobotnya. Perlahan demi perlahan, kesadaran Bianca mulai menghilang sepenuhnya.


^^^To be continue....^^^


Sudah update!!!

__ADS_1


Maaf selalu lama. Tapi walaupun begitu, aku tetap berusaha untuk tetap update di setiap minggunya🤗


Di episode kali ini scene Kanza, Kenzo maupun Alex belum muncul, ya! Scene temen-temennya dulu eaaak😆🥰


__ADS_2