Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 17


__ADS_3

"Lex! Kamu jahat!" Juna menatap Alex dengan tatapan menyedihkan, namun terlihat mengerikan di mata laki-laki yang melihatnya.


"Jijik anj*r! Takut gue lihatnya!"


Tawa Juna dan Kenzo pecah saat itu juga. Kedua cowok absurd itu tertawa, bahkan sampai suara tawa ketiganya menggema di ruangan pelatihan tinju tersebut.


"Lex!" Kenzo menghentikan tawanya, dan diganti dengan raut wajah datar.


"Apaan?" Alex beralih menatap Kenzo, yang diikuti oleh Juna yang juga mulai mengalihkan fokusnya.


"Bentar lagi kan, pemilihan OSIS, nih. Nah, lo pasti bakal nyalonin jadi ketua, kan?" Pertanyaan Kenzo seketika membuat perhatian Juna kini beralih menatap Alex.


"Nyalonin, Lex! Sayang banget murid ter-smart seprovinsi kayak lo gak jadi ketua osis! Entar gue ikutan nyalon juga deh, jadi seksi keamanan. Cocok gak?" Juna menaik-turunkan kedua alisnya seraya tersenyum jenaka.


"Hm... menurut penampilan sih, lo emang cocok jadi seksi keamanan. Tapi kalo menurut gue, si Rio yang paling cocok jadi seksi keamanan! Lo liat aja dia kalo lagi bad mood. Satu sekolah bisa hancur, kalo sampe mode garang tuh anak dibiarin on!" Ucapan Kenzo, mendapat anggukan setuju dari Alex.


"Walaupun si Rio badannya gak segede dan setinggi elo, Jun, tapi dia kalo udah mode garang, bisa-bisa satu kelas dibantai. Habis sama dia!" Ujar Alex, sok serius. Membuat tawa Juna dan Kenzo pecah saat itu juga.


"Gini nih, ya! Semisalnya kalo si Rio jadi seksi keamanan, tugasnya kan buat melerai kalau ada keributan. Iya, kan? Bukannya membubarkan perkara, entar malah si Rio yang ikut-ikutan. Gimana, tuh?"


Alex dan Kenzo tampak berpikir. "Ya udah, tinggal lo aja, Jun, yang bantuin misahin. Gampang, kan?" Ujar Kenzo. Membuat Juna spontan memasang tampang sok kebingungan.


"Ribet, anj*r! Kalo ujung-ujungnya gue lagi yang turun tangan, ya udah, gue aja yang jadi seksi keamanan! Ribet banget dah, pikiran lo berdua!" Alex dan Kenzo refleks tertawa.


Katakanlah bahwa ini adalah tawaan perdana seorang Alex. Cowok yang kalaupun biasanya ada hal yang lucu, ia hanya akan tersenyum tipis. Namun berbeda dengan saat ini.


"Udah sore. Balik kagak?" Raut wajah Alex langsung berubah normal sesaat setelah melirik jam tangan yang ia kenakan.


Kenzo dan Juna refleks melihat pada layar ponsel mereka. Dan benar saja, pukul 4 lebih 45 menit tertera di sana.


"Pantesan perut gue kruyuk-kruyuk. Ya udah, balik kuy! Cacing di perut gue minta dikasih jatah, nih," Juna menyengir seraya memulai beres-beres.


"Jun! Lo bawa mobil?" Alex menyahuti Juna, disela aktivitasnya yang juga mulai membereskan barang-barangnya.


"Hah? Kagak! Gue bawa motor. Males soalnya. Kenapa emang?" Juna mulai memakai tas ranselnya di punggung.


"Enggak. Nanya doang. Kalo elo, Zo?" Alex beralih menyahuti Kenzo yang terlihat mengganti pakaiannya tepat di hadapan Alex dan Juna.


"Gue juga bawa motor. Kenapa? Mau nebeng?"


Alex berdecih seraya ikut mengganti pakaiannya seperti yang dilakukan Kenzo.


Tenang kawan-kawan. Di tempat pelatihan tinju ini sedang sepi, dan kalaupun ramai, semuanya didominasi oleh laki-laki. Jarang ada perempuan yang datang ke tempat ini.


"Gue bawa mobil, ngapain harus nebeng sama lo!" Cerocos Alex.


Juna berdesis seraya memejamkan kedua matanya. Sedari beberapa saat yang lalu memerhatikan kedua temannya yang tidak punya urat malu mengganti pakaian sembarangan, membuat cowok itu menghela napas lelah.


"Lex! Zo! Imej lo berdua ditaro di mana, dah? Gimana kalo sampai ada yang lihat?" Juna, cowok yang sering mementingan penampilan, mulai mengeluarkan nasihatnya.


"Ya elah, Jun! Kita kan, gak telanjang! Iya, gak, Lex?" Kenzo beralih meminta persetujuan Alex, yang dibalas kekehan kecil dari cowok itu.


"Lepas baju atas doang, malu apaan, dah," gerutu Alex, spontan diangguki anggukan mantap oleh Kenzo.


"Noh! Kalo pun ada yang lihat, itu juga paling cowok. Sesama cowok mah bebas aja lah. Lagian, di sini sepi, kok."


Juna hanya bisa menghela napas seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Cowok itu merasa frustasi.


"Serah lo berdua ajalah! Gue duluan yak! Nungguin lo berdua selesai mah, bisa sampe tahun depan." Celetuk Juna, yang ditanggapi kekehan oleh Alex dan Kenzo.


"Ya udah. Pergi mah pergi aja!" Alex dan Kenzo berucap berbarengan tanpa keduanya sadari.


Kedua cowok itu lantas saling pandang dengan tatapan kebingungan. Berbeda dengan Juna yang sudah memerhatikan keduanya dengan tatapan aneh.


"Lo bisa baca pikiran gue, Zo?" Alex melipat kedua lengannya di depan, seraya menatap Kenzo penuh selidik.


"Lo pikir gue paranormal?" Kenzo berdecih, kemudian mulai memakai pakaiannya berupa kaos lengan pendek warna hitam yang dibalut jaket kulit dengan warna yang senada.


"Ini, nih. Efek samping kalo si Kenzo sama si Alex disatuin, dan cuma ada satu orang yang menjadi pawang diantara mereka. Dan itu gue! Sel otak mereka jadi pada kecampur gitu, kan. Fix! Ini bukan si Alex! Lebih tepatnya Kenzo1, Kenzo2." Juna bergumam sendirian tanpa diketahui oleh Alex dan Kenzo. Setelahnya, cowok itu memilih meninggalkan kedua temannya yang masih bengong satu sama lain tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


...****...


"Gue duluan!" Alex menyahuti Kenzo dari dalam mobilnya.


Kenzo yang masih belum menaiki motor sport-nya, langsung menoleh dan balas menyahut Alex. "Yo'i!"


Dan setelahnya, mobil yang dikendarai oleh Alex pun melesat meninggalkan area parkiran basement.


Tinggal menyisakan Kenzo seorang diri yang masih sibuk mengotak-atik ponselnya.


My Sister


Zo! Boleh pinjem laptop lo bentar gak?


Setelah membaca pesan tersebut yang terbilang masih sangat baru, tanpa sadar membuat Kenzo melotot dengan suhu tubuhnya yang mulai panas dingin.


"Anj*r! Dia gak boleh lihat laptop gue!" Kenzo memaki seraya mendesis. Cowok itu mulai mengenakan helm dan menaiki motor sport-nya.

__ADS_1


Bisa gawat kalau Kanza sampai melihat isi berkas di dalam laptopnya!


Setelah menghidupkan mesin motor, Kenzo langsung melesatkan motornya keluar parkiran basemant. Dan ketika ia dan motornya telah memasuki jalan raya yang terbilang cukup sepi dan kosong, Kenzo mulai melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Di sepanjang perjalanan pulang, Kenzo tak henti-hentinya terus memikirkan soal laptopnya. Apa saat ini Kanza sudah membukanya? Kembarannya itu tidak membuka isi berkas di dalamnya, kan?


Sial!


Kenzo terus berpikir, sampai membuat cowok itu tidak menyadari bahwa motornya melindas genangan air yang cukup dalam.


"Woiii! Yang pake motor! Berhenti lo!"


Cekiitttt!


Kedua bola mata cowok itu langsung membulat sempurna. Debaran jantungnya yang keras akibat suara teriakan yang cukup nyaring itu, membuat Kenzo mau tidak mau langsung mengerem motornya secara mendadak.


Sial! Bikin orang jantungan aja!


Kenzo berdecak sebal setelah motornya berhasil ia rem. Untunglah jalanan saat ini sedang sepi. Bagaimana jika saat ini banyak kendaraan yang berlalu lalang?


Mungkin saat ini Kenzo sudah tinggal nama!


Bugh!


"Aw!" Kenzo mengerang, kala sebuah pukulan keras mendarat di atas kepalanya yang terbungkus helm.


Cowok itu langsung mengedarkan tatapannya pada seorang perempuan mengenakan pakaian kasual yang terlihat basah dan kotor dari atas kepala sampai ujung kaki.


Gak basah semua, sih. Cuman yah, kecipratannya itu lho.


"Sengaja, ya?" Perempuan itu menatap Kenzo dengan tatapan marah sekaligus kesal.


Bukannya Kenzo takut ditatap oleh perempuan itu, ia malah terdiam seraya menatap wajah perempuan itu tanpa berkedip.


Anjay, cantik!


"Woi! Lo denger gue gak, sih?" Pekikan perempuan itu langsung menyadarkan Kenzo. Cowok itu langsung turun dari motornya seraya melepas helm.


"Sorry. Kena lo, ya?" Kini giliran perempuan itu yang terdiam, kala melihat wajah Kenzo yang cukup tinggi dari pandangannya.


Melihat perempuan itu yang terdiam dan tidak berkutik sama sekali, membuat Kenzo tersenyum kecil seraya balik menatap perempuan tak dikenal itu.


Sadar akan dirinya yang terus menatap wajah cowok di hadapannya, perempuan itu langsung berdeham seraya memalingkan wajahnya.


"Ehm. Lo harus tanggung jawab! Gue gak mau tahu pokoknya!" Ucapan perempuan itu spontan membuat kedua bola mata Kenzo membelalak.


"Hah? Tanggung jawab? Emang kapan gue ngapa-ngapain lo?"


Bugh!


"Ya elo mikirnya yang aneh-aneh! Kuliah di mana lo? Biar gue bisa nagih hutang lo,"


Kenzo tertawa kecil melihat raut wajah perempuan itu yang terlihat semakin dongkol karena dirinya.


Kenzo lantas melangkah sedikit lebih dekat ke arah perempuan itu. Tatapannya pun kini beralih melirik ke arah tumpukan buku yang berada di genggaman perempuan itu yang terlihat basah.


Oke. Sepertinya perempuan di hadapannya ini marah gara-gara buku paketnya basah.


"Gue masih SMA. Buku lo baru beli, kan? Ya udah, naik. Gue beliin lagi deh, yang baru buat lo. Oke, gak?" Penuturan Kenzo membuat perempuan di hadapannya langsung membelalakan kedua bola matanya seraya menatap Kenzo.


"Lo masih SMA?" Tanpa pikir panjang, Kenzo mengangguk. Perempuan itu terlihat mengembuskan napasnya sedikit kecewa.


...****...


"Kanza!" Setibanya Kenzo di dalam rumah, cowok itu langsung berlari seraya terus memanggil-manggil nama kembarannya.


Tidak ada sahutan maupun seseorang di ruangan tersebut, sehingga pada akhirnya Kenzo memilih nekat berlari menaiki tangga rumahnya dan menghampiri Kanza yang ia yakini tengah berada di kamarnya.


Brak!


"Kanza!"


"Astaga dragon!"


"Sialan, gue kaget!"


Deg!


Kenzo langsung terdiam seraya menelan ludahnya susah payah. Cowok itu menatap tidak percaya akan apa yang baru saja ia lihat.


"Elo?! Lo gebetannya si Rio, kan?! Nga-ngapain lo di kamarnya si Kanza?" Dan, yah. Alma bersama dengan Kanza, terlihat seperti sepasang pencuri yang baru saja tertangkap basah oleh Kenzo.


Duh! Si Kenzo ngamuk gak, yah?


"Hehe. Hai, Kenzo! Gue ke sini cuma mau main doang kok, sama Kanza. Oh, ya. Gue juga udah tahu kalo lo berdua ... saudara kembar." Alma mengangkat sebelah tangannya ke arah Kenzo, seakan tengah menyapa cowok itu. Gadis itu juga mengembangkan senyum palsunya hanya demi tidak membuat Kenzo ngamuk atau apa pun itu.


Kenzo spontan menepuk dahinya. Pikirnya, sejak kapan gadis itu tahu bahwa Kanza dan Kenzo adalah saudara kembar? Apakah Kanza yang memberitahunya?

__ADS_1


"Gila, Za! Kamar mandi lo luas banget! Bak mandinya juga—" seseorang yang baru saja keluar dari dalam toilet di kamar Kanza, langsung menghentikan ucapannya.


Perhatian Kenzo, Kanza, dan juga Alma, refleks langsung berfokus pada seseorang itu yang masih berdiri kaku di depan pintu kamar mandi.


"Ups!"


Kanza berdesis seraya memejamkan kedua matanya. Sedangkan Alma, gadis itu mulai menutupi sebagian wajahnya menggunakan sebelah tangannya.


"Lo juga ada di sini?" Kenzo menyahuti seseorang yang tak lain adalah Kayla.


Kayla memejamkan kedua matanya seraya mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


"Zo! Gue bisa jelasin ini!" Kanza bangkit dari posisinya seraya berjalan ke hadapan Kenzo.


Kenzo berdecak kesal seraya menatap satu-persatu teman sekelasnya, Alma dan Kayla, lalu tatapannya kemudian dilanjut menatap Kanza yang berada tepat di hadapannya.


"Ikut gue!" Kenzo menarik pergelangan tangan Kanza, dan membawa kembarannya itu untuk keluar dari dalam kamarnya dan menjelaskan apa yang sedang terjadi saat ini.


Sedangkan Alma dan Kayla yang masih berada di dalam kamar Kanza, langsung menghela napas lega. Kepergian Kenzo membuat mereka sedikit bisa bernapas.


...****...


"Sekarang lo bisa jelasin?" Kenzo menghentikan langkah kakinya tepat ketika keduanya berada di taman belakang rumah.


Pergelangan tangan Kanza yang masih dicengkram oleh Kenzo, langsung ia tarik kembali.


"Gini, Zo! Sumpah demi apa pun, gue gak ngasih tahu mereka! Mereka yang tahu sendiri! Gue aja kaget pas denger mereka ngomong gitu!" Ujar Kanza.


Kenzo tampak melirik sinis kembarannya seraya mencebikkan bibirnya. "Tahu sendiri? Mereka bisa tahu dari mana kalau kita berdua saudara kembar? Wajah kita gak mirip, Za! Mereka langsung tahu aja gituh, kalau kita saudara kembar?"


Kanza mendesis kemudian menghela napas berat. "Lo masih inget, waktu pertama kali gue masuk sekolah, dan lo narik gue ke belakang sekolah?" Kenzo tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk.


"Nah, jadi—"


"Maksud lo, mereka ngikutin kita?" Kenzo menyela ucapan yang hendak dilontarkan Kanza. Raut wajah cowok itu juga langsung berubah drastis.


Dengan berat hati, Kanza mengangguk dengan kedua mata yang terpejam.


Kenzo yang masih belum terima akan kenyataan, bahwa identitasnya kini diketahui oleh dua orang teman di kelasnya hanya bisa berdecak seraya merengut sebal.


"Terus? Lo ngasih tahu mereka alasan kenapa kita nyembunyiin identitas kita?" Pertanyaan Kenzo langsung dijawab gelengan kepala oleh Kanza.


Kenzo menghela napasnya. Cowok itu langsung berjalan ke hadapan Kanza, kemudian memeluk kembarannya itu layaknya seorang kakak laki-laki.


"Lo pasti masih trauma, ya. Lo tenang aja, gue akan selalu jagain lo seperti dulu. Kalau ada apa-apa, lo tinggal kasih tahu gue. Gue akan selalu datang dan jadi perisai buat lo." Mendengar ucapan Kenzo yang setengah berbisik, membuat Kanza kembali teringat kejadian lama yang membuatnya tak bisa mengungkapkan identitasnya seterbuka dulu.


Kanza membalas pelukan Kenzo. Gadis itu mulai berkaca-kaca, dan Kenzo tahu itu. "Padahal yang pertama lahir ke dunia adalah gue. Tapi lo selalu berlagak kakak. Maafin gue, Zo. Lo pasti juga tersiksa karena gue, kan?"


Kenzo tidak membalas ucapan Kanza. Ia hanya menepuk-nepuk punggung kembarannya memberi kekuatan.


Terasa begitu asing ketika melihat Kanza dan Kenzo begitu akur, apalagi terlihat dekat dan akrab seperti saat ini.


Ya, inilah Kanza dan Kenzo sebenarnya. Walaupun biasanya keduanya terlihat seperti Tom & Jerry yang tidak bisa akur, tapi keduanya juga bisa menjadi seperti Patrick dan Spongebob. Selalu bersama dikala suka maupun duka.


...****...


"Eh, Za!" Alma menyahuti Kanza yang baru saja tiba di dalam kamar.


Raut wajah Kanza terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Gadis itu terlihat sedikit murung, tapi bibirnya tetap dipaksakan untuk tersenyum.


"Udah ngejelasinnya?" Kayla ikut menyahut.


"Udah." Ujar Kanza seraya mengangguk.


"Emm... Za! Gue sama Kayla izin pulang, yah. Udah jam 5 soalnya. Barusan orang tua kita juga udah pada nyariin,"


Kanza tersenyum seraya mengangguk kecil. "Ya udah. Gue anterin sampai depan, ya." Ucap Kanza. Alma dan Kayla mengangguk.


Ketiga gadis itu pun mulai keluar dari dalam kamar Kanza, kemudian menuruni tangga, hingga sampailah ketiganya kini berada di halaman luas rumah kediaman Kanza.


"Kita pulang, ya, Za." Kayla memeluk sahabatnya sebelum pada akhirnya memakai helm yang diberikan Alma.


Oh, ya. Alma dan Kayla kemari menaiki motor scoopy berwarna pink yang dipadukan dengan warna putih milik Alma.


Kini giliran Alma yang memeluk Kanza sebagai tanda perpisahan. "Kalau ada apa-apa, jangan segan kasih tahu gue, ya." Gadis itu berbisik, kemudian melepaskan pelukannya dari Kanza.


"Kita balik ya, Za!" Kayla sudah siap sedia berada di atas motor. Sedangkan Alma masih tersenyum dan melihat ke arah Kanza yang masih membeku mendengar ucapan Alma barusan.


"Dah, Za!" Alma kemudian mulai menaiki motornya yang sudah siap dijalankan oleh Kayla. Kedua gadis itu langsung melesat keluar area pekarangan rumah Kanza setelah sebelumnya mereka sempat berpamitan kepada sahabat mereka.


Kanza menghela napasnya. Gadis itu mulai melambaikan tangannya ke arah Alma dan Kayla yang masih belum terlalu jauh.


"Lain kali main ke sini lagi, yaa!"


^^^To be continue....^^^


Telat update astagaaa😭

__ADS_1


Entah kenapa ini otak gak bisa diajak kompromi bgt dahh😭 berhari-hari aku nulis eps ini gk selesai-selesai. Kaku bgt rasanya, pdhl setiap adegannya udh diluar kepala😭


Maaf😔 aku usahain besok update lagi. Semoga otak aku bisa diajak kompromi ya:(


__ADS_2