Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 61


__ADS_3

“Hm, aku masih di rumah. Lagi beres-beres kamar. Kenapa emangnya?” Kanza menaruh ponselnya di atas nakas sembari me-loud speaker panggilan suara tersebut yang tak lain dari Alex.


“Oh. Ke sekolahnya aku jemput. Jangan sama si Kenzo!” suara Alex yang kelewat jutek dari seberang sana mampu membuat Kanza tanpa sadar terkekeh pelan.


“Ya udah, iya. Berangkatnya bareng kamu, gak bareng si Kenzo. Bawel banget gitu doang.” Celetuk Kanza. Tak berapa lama kemudian, pintu kamarnya terbuka. Menampilkan seorang cowok yang tak lain adalah Kenzo, orang yang tengah dibicarakan oleh Kanza dan Alex dalam telepon.


“Woi! Matiin teleponnya. Mami nyuruh kita turun buat sarapan.” Ucap Kenzo datar. Tanpa berniat menunggu jawaban dari sang saudari kembar, cowok itu kemudian melenggang keluar dari dalam kamar Kanza dengan penampilan yang jauh dari kata rapi.


“Siapa Za?”


“Biasa. Siapa lagi kalau bukan si Kenzo?” Ujar Kanza, kemudian menghela napas lelah seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Udah dulu, ya, aku mau sarapan dulu soalnya,”


Terdengar helaan napas kecewa dari seberang sana. “Udah mandi?”


“Udah dong. Emangnya kamu belum apa-apa udah main telepon aja?” Kekeh Kanza, membuat Alex tanpa sadar mendengus sebal.


“Bodo amat. Masih tetep ganteng, kok.”


“Idih, pede banget! Udah, ah, Bye!” Pungkas Kanza seraya mematikan teleponnya sepihak.


Tak ingin berlama-lama lagi, Kanza pun mulai keluar dari dalam kamar dengan seulas senyum malu-malu yang tanpa sadar bertengger manis di wajahnya.


Sial! Hanya karena mendengar omong kosong dari Alex saja sudah membuatnya salting! Padahal ‘kan, Alex emang udah ganteng. Ganteng banget malah! Bikin Kanza yang cuma butiran keju ini insecure.


Untung Kanza gak jelek-jelek amat, wkwk.


Tak terasa Kanza telah sampai di ruang makan dengan Mami, Papi, dan Kenzo yang tengah memulai sarapan mereka dengan bebeberapa lembar roti dan juga beberapa buah pancake.


Melihat Kanza yang mulai bergabung di meja makan, perhatian ketiga anggota keluarganya lantas beralih menatapnya. Senyuman hangat disertai sapaan ramah mereka lontarkan pada Kanza. Tanpa sadar membuat Kanza lagi-lagi mengembangkan senyumannya.


“Kenapa baru turun sekarang? Kenzo bilang kamu udah dikasih tahu sama dia?” Chelsea, selaku sang mami, menyahut lembut pada putrinya yang terlihat berusaha meraih beberapa lembar roti tawar dan selai anggur kesukaannya.


“Ta-”


“Teleponan dulu dia sama si Alex, makanya lama.” Sela Kenzo, tanpa menatap ke arah mami maupun kembarannya. Cowok itu sok sibuk menyiapkan pancake dengan selai cokelat yang ia ambil tepat di depan piring Kanza.


“Ooh, teleponan dulu,” gerutu Chelsea sembari mengangguk-anggukan kepalanya. Raut wajahnya berubah misterius dengan sesekali menatap penuh selidik putrinya.


Sedangkan Kanza, gadis itu sudah tidak dapat berkata-kata lagi akibat Kenzo yang tiba-tiba menyela ucapannya. Dan sialnya, cowok itu malah berkata seenaknya sehingga menyebabkan sang mami kini beralih menatapnya curiga.


Walaupun maminya sudah tahu bahkan sudah menyetujui hubungannya dengan Alex, tetap saja rasanya malu sekali. Tidak seperti kembarannya si Kenzo yang tidak punya urat malu.


“Lo-”


“Ekhem. Ini lagi sarapan, ngobrolnya lanjut nanti.” Potong Kenan, lagi-lagi menghentikan niatan Kanza yang hendak kembali berbicara.


Memilih diam dan mengalah, karena yang baru saja turun tangan adalah papinya, Kanza pun melanjutkan sarapan dengan sesekali mendengus sebal. Bibirnya bahkan terlihat mengerucut dengan sepasang bola mata yang sesekali menatap tajam Kenzo yang sialnya terlihat begitu santai mengunyah tanpa sedikit pun berpaling dari makanannya.


Dasar nyebelin!


...****...


“Mih, Kanza pergi berangkat duluan, ya,” Kanza berteriak nyaring selepas dirinya yang baru saja kembali dari dalam kamar membawa tasnya yang kelupaan ia bawa.


“Loh, kamu berangkatnya gak bareng Kenzo?” Chelsea balas berteriak sesaat ketika wanita tersebut tengah berkutat dengan beberapa piring kotor di wastafel. Perhatiannya pun lantas beralih menatap Kanza yang tengah berusaha mengenakan sepatu dan kaos kaki di ruang keluarga.


Perlahan namun pasti, Chelsea mulai menghampiri Kanza dengan sesekali mengeringkan tangannya yang masih terasa basah.


“Kamu mau berangkat sekarang? Sama siapa?” tanya Chelsea. Raut wajahnya berubah cemas dengan kedua alisnya yang berkerut dalam.


“Em, sama Alex, hehe. Kenzo berangkatnya lama, entar kesiangan lagi. Hari ini ‘kan hari pertama ujian, gak boleh telat,” ujar Kanza. Tanpa sadar membuat Chelsea menghela napas lega.


“Ya udah, tapi berangkatnya hati-hati, ya. Bilangin ke Alex jangan ngebut. Mami gak mau terjadi apa-apa sama kamu.”


“Iya, Mih. Nanti Kanza bilangin. Kalau gitu, Kanza berangkat duluan, ya,” ucap Kanza, kemudian menyalami tangan sang mami.


“Inget! Nanti pas ujian kalau ada soal yang susah, kamu jangan diem mulu di satu soal. Lanjut aja isi soal yang lain. Biarin yang susah belakangan, oke?” Peingat Chelsea, yang kemudian diangguki oleh Kanza.


“Iya, Mamiku sayang … Mami tenang aja. Ujian kali ini pasti Kanza masuk peringkat 2!”


“Kok, peringkat 2? Peringkat 1 dong. Masa anaknya Papi Kenan peringkat 2?” Chelsea sedikit terheran mendengar penuturan Kanza. Biasanya remaja seumuran Kanza itu target peringkat itu pasti mematok ke peringkat 1. Ini, kok 2?


“Ck, Mih! Peringkat 2 aja udah alhamdulillah. Kalau mau peringkat 1, aku harus kalahin dulu Alex si murid juara umum berturut-turut dari SD. Mami pikir-”


“Emang Alex sepintar itu?” Chelsea membekap mulutnya yang sedikit menganga dengan sorot mata tak percaya.


“Lebih pinter dari itu bahkan!” Ujar Kanza, terus membangga-banggakan Alex.


“Oh, gitu. Ya udah, terserah kamu. Tapi walaupun kamu gak dapet peringkat 2 juga gak pa-pa. Mami sama Papi gak akan maksa kamu ataupun Kenzo, kok. Yang penting kalian udah berusaha keras, karena tingginya peringkat seseorang di dalam kelas tidak menjamin kesuksesan seseorang di masa depan. Paham?” Nasihat Chelsea. Salah satu tangannya terangkat mengelus lembut puncak kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


“Berangkat, gih. Udah mau jam tujuh lebih, nih, tuh!”


“Iya, Mamih … kalau gitu Kanza duluan, dah …” Pamit Kanza. Setelahnya, gadis itu melenggang dari dalam rumah meninggalkan sang mami yang raut wajahnya lagi-lagi berubah cemas tanpa alasan.


“Mungkin cuma perasaan aku doang.” Gumam Chelsea, kemudian melenggang kembali ke dapur untuk melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.


...****...


Tring!


Alex:*


Aku berangkat skrng. Tungguin, ya:)


Kanza tersenyum senang sesaat ketika mendapat sebuah pesan yang tak lain berasal dari Alex. Langkah kakinya yang semula pelan langsung berubah cepat dengan sesekali menyembunyikan senyumannya menggunakan punggung tangannya.


^^^Oke. Aku tunggu di depan gerbang rumah:D^^^


“Cieee … Non Kanza senyum-senyum sendiri. Lagi chattan sama ayang beb-nya, ya,” sahutan yang cukup keras tersebut tak lain berasal dari satpam penjaga gerbang rumahnya yang kebetulan sedang berada di pos jaga.


Sontak saja Kanza yang tengah asik sendiri langsung dibuat terkejut bukan main. Di detik berikutnya, gadis itu tersenyum malu-malu dengan wajahnnya yang merona.


“Apaan, sih! Jangan sotoy! Bukan siapa-siapa, kok, ekhem.” Balas Kanza, mengalihkan tatapannya dari sang satpam.


“Masa sih, Non? Kok, Bapak malah curiga, ya?”


“Curiga apaan? I-ini bukan siapa-siapa, kok. Udah, ah, Kanza mau berangkat sekarang, bye!” Pungkas Kanza, terburu-buru berlari keluar melewati gerbang rumahnya yang kebetulan terbuka lebar.


“Fyuh … untung aja masih bisa ngeles,” gerutu Kanza, seraya terkikik geli.


Belum ada sekitar lima menit dirinya menunggu di depan gerbang rumahnya, sebuah mobil berwarna hitam dengan nomor flat asing tiba-tiba berhenti tepat di depannya.


Sempat bertanya-tanya itu mobil siapa, seseorang tiba-tiba keluar dari dalam mobil tersebut. Sayangnya, bukan Alex yang baru saja keluar dari sana. Melainkan sesosok orang bersetelan serba hitam dengan wajahnya yang tertutup masker dan topi.


“Si-Siapa, ya?” Kanza sempat terdiam kaku ketika sosok itu perlahan mulai berjalan ke arahnya.


Bukannya menjawab, ia malah terus saja melangkahkan kakinya ke hadapan Kanza, sampai tanpa sadar membuat gadis itu memundurkan sedikit langkah kakinya.


Merasa ada suatu hal yang tidak beres, Kanza awalnya hendak berlari kembali memasuki gerbang rumahnya, namun siapa sangka, sosok lain yang tidak ia sadari keberadaannya mencekal kedua tangannya di belakang dengan tangannya yang lain membekap mulut Kanza dengan sebuah sapu tangan.


Sempat memberontak dan melawan, pada akhirnya, tubuh gadis itu langsung kehilangan kesadarannya akibat menghirup obat bius yang berada di sapu tangan tadi. Dengan terburu-buru, kedua orang tak dikenal itu pun mulai membopong tubuh Kanza ke dalam mobil dengan sesekali menatap sekitar.


Setelahnya, mobil yang mengangkut paksa Kanza bergegas pergi dari sana tanpa mengatakan sepatah kata.


...****...


Maaf. Nomor yang Anda tuju tidak menjawab. Silakan coba beberapa saat lagi …


Alex refleks melempar ponselnya ke atas kursi mobil ketika lagi-lagi balasan dari operatorlah yang menjawab panggilannya. Dirinya benar-benar dilanda panik bukan main saat ini.


Baru juga ia hendak menjemput Kanza, namun satpam rumahnya mengatakan kalau Kanza sudah keluar sendirian belum lama ini.


Dan ketika Alex bertanya, apakah gadis itu sudah berangkat dengan Kenzo, sang satpam langsung ragu. Ia juga tidak tahu karena pada saat Kenzo berangkat ke sekolah pun gerbangnya sudah terbuka. Dan dia sedang tidak berada di tempatnya. Jadi, dirinya tidak bisa memastikan hal tersebut.


Mencoba berpikir positif bahwa Kanza sudah lebih dulu berangkat dengan Kenzo, nyatanya ketika Alex menghubungi Kenzo pun, cowok itu mengatakan jika Kanza akan berangkat ke sekolah dengan Alex. Semakin membuat Alex dilanda panik sejadi-jadinya.


Mobil yang Alex kendarai akhirnya sampai di parkiran sekolah. Ketika ia baru saja turun, Kenzo dan teman-temannya yang lain langsung menghampiri Alex dengan berbagai pertanyaan serta kekhawatiran.


“Kanza di mana?” Kenzo lantas menarik kerah seragam Alex tak sabaran. Ucapan Alex yang mengatakan bahwa dia tidak menemukan keberadaan Kanza ketika di telepon membuat Kenzo panik.


“Gue juga gak tahu-”


“Gak tahu lo bilang? Lo sendiri yang inisiatif buat jemput dia, dan lo juga yang gak tahu dia ke mana?” Kenzo sudah hampir kehilangan kesabarannya jika saja bukan karena teman-temannya yang berusaha untuk memisahkannya dari Alex.


“Tenang, Zo! Marah gak akan nyelesain masalah.” Rio berucap pelan, membuat Kenzo tanpa sadar berdecih.


“Gue gak akan pernah bisa tenang kalo itu menyangkut kembaran gue!” Tekan Kenzo, dengan perhatian yang belum juga beralih dari raut wajah Alex yang masih terlihat sama.

__ADS_1


“Gue-” ucapan yang hendak dilontarkan Alex tiba-tiba terhenti sesaat ketika bunyi notifikasi pesan masuk terdengar cukup nyaring di antara mereka.


Kenzo, Juna, Azka, Rio, pun termasuk Alex refleks saling memeriksa ponsel masing-masing dengan kompak. Dahi dan alis mereka tampak bertaut ketika tak menemukan apa-apa di ponselnya. Namun, sepertinya tidak dengan Kenzo.


“Bajingan!” Pekik Kenzo. Salah satu tangannya terkepal kuat menahan berbagai amarah yang bersarang di kepalanya.


Alex dan teman-temannya yang lain refleks terjengit dengan fokus yang beralih pada layar ponsel milik Kenzo yang baru saja diambil paksa oleh Juna. Tak berapa lama kemudian, Alex mulai mengambil alih benda tersebut.


Dan, ya. Sebuah foto yang menampilkan bukti keadaan Kanza disertai kalimat ancaman terpampang jelas di sana. Tanpa sadar telah membangkitkan sisi menyeramkan dalam diri Alex.


“Anj*ng lo Vando!” Kesabaran dalam diri Alex sudah habis. Dengan menarik napas sedalam-dalamnya, Alex kemudian menghubungi nomor telepon tersebut dengan tidak sabaran. Kilatan amarah terpampang jelas di kedua bola matanya.


Sempat tak bisa dihubungi, Alex tak langsung menyerah begitu saja. Berkali-kali ia terus menghubungi nomor telepon tersebut sampai pada akhirnya, seseorang dari seberang sana mulai mengangkatnya. Sontak pandangan Alex langsung beralih menatap Kenzo.


Dengan cepat, Kenzo mengambil alih ponselnya yang berada di genggaman Alex. Berbagai kata umpatan sudah ia siapkan dalam pikirannya.


“Heh-”


“Wei, gimana hadiah yang barusan gue kirimin ke elo? Lo suka? Kanza lagi tiduran nih, Bro, di kasur gue. Kira-kira, enaknya diapain, ya,” suara lantang dari seberang telepon tersebut sontak menghentikan ucapan Kenzo.


Mencoba untuk berusaha tetap tenang dan tidak terbakar emosi, Alex kemudian mengambil alih ponsel Kenzo dengan sesekali menarik napasnya dalam-dalam.


“Heh, pecundang! Berani lo sentuh sehelai rambut cewek gue, gue gak akan pernah jamin hidup lo dan juga keluarga lo aman setelahnya. Lo paham ‘kan maksud gue?” Ucap Alex. Vando sempat terdiam di seberang sana, namun tak berlangsung lama cowok itu kemudian tergelak.


“Gak usah banyak bac*t, anj*ng! Lo pikir gue takut sama ancaman gak bermutu lo itu, hah? Bilang aja lo takut, ‘kan?” Kompornya, semakin membuat Alex, Kenzo, serta teman-temannya yang mendengarkan dibuat kesal setengah mati.


“Denger ini baik-baik, khususnya lo, Kenzo! Datang ke alamat yang gue kirim sendirian. Jangan bawa temen-temen lo apalagi polisi. Inget, harus dateng sendirian! Kalau salah satu dari lo pada ada yang ikut, gue gak bisa jamin kalau Kanza masih bisa seperti semula.


“Oh, ya. Gue gak butuh duit dan semacamnya. Gue cuma mau ngomong baik-baik sama calon ipar gue.” Pungkasnya, kemudian mematikan panggilan telepon tersebut secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya.


...****...


Seperti apa yang diinginkan oleh Vando, dengan tangan kosong, Kenzo pergi meninggalkan area sekolah menuju alamat yang dikirimkan oleh cowok itu di via chat. Sebelum benar-benar pergi, ia terlebih dahulu meminta teman-temannya untuk membantu mengizinkan kehadirannya pada guru yang akan bertugas di kelas nanti. Ia juga mewanti-wanti pada mereka untuk mengatakan soal Kanza yang diculik oleh Vando ke anggota keluarganya, khususnya pada sang papi.


Karena walau bagaimanapun, orangtuanya berhak tahu. Dan lagi, Kenzo percaya dengan kinerja papinya yang akan menyelidiki kasus ini secara diam-diam, sehingga polisi tidak perlu turun tangan menangani kasus tersebut.


Sedangkan Alex, cowok itu tengah menyibukkan diri di rumahnya karena tidak dapat berbuat apa-apa akibat ancaman dari Vando yang tidak bisa dianggap remeh. Namun tenang saja. Alex berdiam di rumah bukan berarti ia tengah berleha-leha. Cowok itu hanya sedang berusaha sekuat tenaga untuk mencari bukti tentang kesalahan Vando dan keluarganya seperti yang diucapkan Kenzo beberapa saat yang lalu.


Walau pada kenyataannya Alex begitu ingin ikut untuk menyusul Kanza bersama Kenzo. Bagaimanapun, ia sangat takut hal mengerikan akan terjadi pada Kanza, mengingat posisi gadis itu kini berada di tangan Vando. Cowok dengan berbagai obsesi gila yang tertanam di kepalanya.


Tak sampai setengah jam, Kenzo akhirnya sampai di sebuah vila berukuran besar yang terlihat begitu sepi. Pintu gerbang yang tak dijaga seorang pun sedikit membuat Kenzo curiga. Pasti tidak semudah itu.


Memutuskan untuk menaruh mobilnya tepat di depan gerbang, Kenzo kemudian turun dari dalam mobilnya dengan perasaan yang campur aduk. Dengan tergesa-gesa, Kenzo berlari memasuki gerbang vila tersebut yang terbuka lebar.


Jantungnya lagi-lagi berpacu ketika kepalanya mulai mengingat Kanza yang mungkin sedang disakiti oleh Vando di dalam sana.


Awas aja! Berani dia nyakitin Kanza, gue gak akan biarin dia lolos kali ini. Batin Kenzo menggerutu.


...****...


“Za, Za! Lo itu cantik. Sayang banget lo gak jadi milik gue. Seandainya lo terima cinta gue waktu itu, kejadian ini gak akan pernah terjadi. Iya, ‘kan?” Vando menggerutu pelan dengan salah satu punggung tangannya yang mengelus pelan pipi Kanza.


Gadis itu yang masih belum juga siuman sampai detik ini sedikit membuat Vando kesal. Namun, cowok itu memilih untuk menahannya daripada melampiaskannya. Bagaimanapun juga, menculik Kanza adalah ide gilanya sendiri. Jadi, jika gadis itu sampai detik ini belum juga siuman juga karena dirinya.


Terlalu larut menatap raut wajah tenang milik Kanza yang terbaring lemah di tempat tidur, Vando sampai melupakan niatannya yang membawa Kanza ke vila pribadi keluarganya untuk memancing Kenzo untuk melampiaskan dendam sekaligus untuk menjadikan gadis itu sebagai miliknya.


Dering ponsel yang berada di atas nakas berbunyi. Sontak mengalihkan Vando dari apa yang membuatnya termenung. Perlahan, cowok itu mulai bangkit dari posisinya dengan salah satu tangan yang meraih benda pipih persegi panjang tersebut ke dalam genggamannya.


“Hm, apaan?” Vando menyahut asal dengan fokus yang belum juga beralih dari Kanza.


“Orang yang Bos suruh ke sini sudah sampai di lantai bawah.”


“Sendirian?” tanya Vando, masih setia menatap raut wajah Kanza, tanpa sedikit pun berniat berpaling dari sana.


“Sudah dipastikan sendirian, Bos. Mobilnya juga sudah kami periksa.”


“Oke. Suruh tunggu di sana. Gue turun sekarang.” Balas Vando. Dan setelahnya, cowok itu pun mematikan sambungan teleponnya sepihak dengan kedua kaki yang mulai ia tapakkan di atas lantai.


Sebelum cowok itu benar-benar akan pergi menuju lantai bawah, ia menyempatkan diri untuk menatap Kanza terlebih dahulu. Tak berapa lama kemudian, Vando mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Kanza. Kecupan ringan lantas mendarat di dahi gadis itu.


“Tungguin gue. Sebentar lagi, lo akan seutuhnya jadi milik gue.” Bisik Vando, sebelum ia benar-benar memutuskan untuk pergi dari sana.


...****...


“Woi, SIALAN! KELUAR SEKARANG JUGA, ATAU GUE BAKAR VILA SIALAN LO INI!” Seperti yang sudah Kenzo duga sebelumnya, ketika sesampainya cowok itu di dalam vila milik Vando, beberapa anak buah Vando tanpa permisi langsung mencegat dan mengikatnya dengan paksa.


Saat Kenzo hendak melawan, anak buah Vando yang lain dengan kejam memukul kedua betisnya dengan balok kayu, sehingga Kenzo yang semula berdiri tegak dibuat terkapar lemas tak berdaya.


“Brengs*k! Di mana Kanza? Lo gak nyakitin dia ‘kan? Awas kalau lo berani gangguin Kanza, gue-”


“Agh, bac*t aja lo dari tadi. Kembaran lo lagi tiduran, noh, di kasur gue.” Potong Vando. Sontak membuat Kenzo semakin terbakar emosi sesaat ketika mendengar pernyataan dari cowok itu.


“Lo bilang apa? Heh, KALAU LO BERANI NYENTUH SEDIKIT AJA KEMBARAN GUE, GUE GAK AKAN PERNAH MAAFIN LO! GUE GAK AKAN PEDULI LAGI SAMA SIKAP LO DULU YANG PERNAH BANTUIN GUE! AWAS LO!” Kenzo sudah hampir kehilangan akal. Ingin sekali ia menghajar wajah Vando jika saja kedua tangannya tidak sedang dicekal kuat saat ini.


“Oke. Terserah lo mau maafin gue atau enggak. Yang penting, Kanza jadi milik gue. Dan pertemuan kita di sini bukan buat basa-basi sebenernya. Niat gue tuh mau ngomong baik-baik, tapi lo-nya kagak bisa diajak diskusi. Makanya gue pake cara nekat.” Ujar Vando, yang sama sekali tidak dimengerti oleh Kenzo.


Dengan kode-kode kecil darinya, anak buah Vando mulai melepaskan Kenzo dan mendorongnya tepat ke hadapan cowok itu sampai membuatnya lagi-lagi tersungkur. Ketika Kenzo hendak bangkit, Vando dengan tanpa ampun menendang tubuh Kenzo sampai membuatnya lagi-lagi dibuat terjerembab tak berdaya.


Bukan tanpa alasan Kenzo menjadi lemah saat ini. Kedua tangannya tengah diikat di belakang oleh anak buah cowok itu. Dan kedua kakinya terasa begitu ngilu akibat pukulan keras dari sebuah balok kayu.


“Nyerah ajalah, Zo! Kali ini aja lo turutin kemauan gue. Gue cuma mau-”


“Seandainya lo bukan psikopat kayak gini, bisa aja gue nyerahin Kanza ke elo. Apalagi dulu lo sempat dianggap baik sama Kanza. Kemungkinan besar kalau lo bisa sedikit sabar, Kanza bisa aja suka sama lo melebihi temen. Sayangnya, lo bukan orang yang tepat di antara kemungkinan yang gue sebut.” Kenzo menyela ucapan Vando dengan sesekali mencoba membenarkan posisinya.


Vando terdiam dengan perhatian yang belum juga beralih dari Kenzo. Tatapan matanya pun berubah dingin dengan kedua alisnya yang berkerut dalam.


“Bisa, gak, lo kalau ngomong pake bahasa manusia? Gue gak ngerti sama apa yang barusan lo omongin.” Kenzo terkekeh seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Bagus juga kalau lo gak ngerti.” Gerutu Kenzo. Tanpa sadar telah memancing amarah Vando yang sebelumnya sempat ia tahan.


Dengan langkah gontai, Vando berjalan ke hadapan Kenzo seraya mengambil alih balok kayu yang kebetulan tergeletak tak jauh dari sana. Tanpa sepatah kata lagi, Vando melayangkan balok kayu tersebut tepat ke wajah Kenzo. Belum sampai mengenai sang empunya, suara sahutan nyaring seseorang menghentikan niatannya.


“Setop! Jangan sakitin Kenzo!”


...****...


“Oke. Suruh tunggu di sana. Gue turun sekarang.” Balas Vando. Dan setelahnya, cowok itu pun mematikan sambungan teleponnya sepihak dengan kedua kaki yang mulai ia tapakkan di atas lantai.


Sebelum cowok itu benar-benar akan pergi menuju lantai bawah, ia menyempatkan diri untuk menatap Kanza terlebih dahulu. Tak berapa lama kemudian, Vando mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Kanza. Kecupan ringan lantas mendarat di dahi gadis itu.


“Tungguin gue. Sebentar lagi, lo akan seutuhnya jadi milik gue.” Bisik Vando, sebelum ia benar-benar memutuskan untuk pergi dari sana.


Bunyi pintu tertutup meyakinkan Kanza untuk mulai membuka kedua bola matanya. Ketika Vando benar-benar sudah meninggalkan Kanza sendirian, gadis itu lantas mengembuskan napas lega dengan sesekali mengepal kuat kedua kepalan tangannya.


Bayangan ketika Vando mengecup dahinya barusan membuat Kanza jijik serta takut sendiri. Beruntung ia berpura-pura pingsan sehingga Kanza tidak perlu saling tatap dengan cowok gila itu.


Sebenarnya, ketika kedua orang tak dikenal tadi membiusnya pun, Kanza tidak benar-benar pingsan karena gadis itu sempat menahan napas beberapa saat. Ya. Ia hanya berpura-pura untuk mengetahui siapa dalang di balik ini semua.


Ketika menyadari dalang di balik ini semua tak lain ialah Vando, tubuh Kanza langsung bergetar. Keringat dingin bercucuran dari area dahinya. Demi tidak membuatnya curiga, Kanza terus berpura-pura pingsan walau pada kenyataan ia begitu takut jika sewaktu-waktu akan ketahuan oleh cowok itu.


Perlahan namun pasti, Kanza memberanikan diri untuk bangkit dari atas tempat tidur. Kedua kakinya dengan sangat pelan melangkah ke arah dauh pintu yang tertutup rapat. Pikirnya, pasti sudah dikunci dari luar.


Namun siapa sangka ketika Kanza menarik knop tersebut, pintunya langsung terbuka. Dengan kaget gadis itu menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.


Ketika Kanza hendak keluar dari dalam ruangan tersebut, ponselnya yang berada di saku blazernya tiba-tiba bergetar. Lantas kembali mengagetkan Kanza sampai tanpa sadar membuatnya kembali menutup pintu tersebut.


Dengan terburu-buru, Kanza meraih ponselnya dari dalam saku. Nama kontak Alex terpampang jelas di layar ponselnya. Tanpa berpikir panjang, Kanza langsung menjawab panggilan tersebut.


“A-alex?” panggil Kanza, membuat Alex yang sebelumnya dibuat uring-uringan di seberang sana langsung dibuat lega.


“Za? Za, kamu baik-baik aja? Kamu gak di apa-apain sama si cowok gila itu, ‘kan? Za, please, sekarang kamu ada di mana? Tante Chelsea sama Om Kenan bener-bener khawatir. Kita di sini lagi berusah nyari keberadaan kamu, tapi kita gak nemu sama sekali. Kamu … gak pa-pa, ‘kan?”


Mendengar suara Alex yang sepertinya benar-benar khawatir padanya, membuat Kanza tanpa sadar meneteskan air mata. Tak berapa lama kemudian, gadis itu mulai berusaha menstabilkan dirinya dengan menarik napasnya dalam-dalam.


“Aku gak pa-pa. Dia gak sempet ngapa-ngapain aku. Oh, ya. Tolong bilangin ke Mami sama Papi kalau Kanza di sini baik-baik aja. Aku pasti akan mencari jalan keluar untuk keluar dari sini.” Ucap Kanza. Chelsea dan Kenan yang mendengar dengan jelas ucapan putrinya akibar pangglan suara yang di-loud speaker pun turut bernapas lega.


“Oh, ya. Aku lupa kasih tahu kalau sebenarnya Kenzo juga dateng ke sana setengah jam yang lalu. Mungkin sekarang dia udah sampe, jadi, kamu lebih baik tetep diem di sana, jangan ke mana-mana! Aku sama orang-orangnya Om Kenan juga sebentar lagi akan ke sana. Kita lagi ngelacak tempatnya, oke? Tungguin aku, Za!” Balas Alex. Dengan penuh keterkejutan, Kanza membulatkan kedua bola matanya dengan fokus yang beralih menatap daun pintu tadi yang tertutup rapat.


“Kenzo … di sini?” detik berikutnya, Kanza langsung berlari keluar dari dalam ruangan tersebut tanpa memedulikan teriakan Alex di telepon.


Beruntung Kanza tidak sempat mematikan panggilan suaranya sehingga Alex dan beberapa orang kepercayaan Kenan telah sepenuhnya mendapatkan lokasi Kanza.


...****...


“Posisi Non Kanza berada di vila yang di belakangnya terdapat perkebunan anggur milik Keluarga Adhitama. Tepatnya di …”


“Perkebunan anggur milik Keluarga Adhitama? Itu, ‘kan, lahan punya Papa?” Alex mengernyit bingung. Sejak kapan di sana ada sebuah vila?


“Dan lokasi itu cuma satu. Alex, kamu tahu, ‘kan, di mana tempatnya?” Tanya Kenan. Dengan mantap Alex pun mengangguk.

__ADS_1


“Kamu lebih dulu susul Kanza sama Kenzo ke sana. Om sama yang lain akan nyusul belakangan. Sebisa mungkin kamu harus mengulur waktu sebanyak-banyaknya. Soal kejahatan keluarga anak laki-laki itu masih akan terus diselidiki. Kami sudah dapat beberapa bukti, namun itu masih belum cukup. Beri kami waktu satu jam, dan saya yakin dalam waktu itu kami akan segera mendapatkannya. Ketika itu tiba, saya dan yang lain akan menyusul. Paham?” Terang Kenan, yang lagi-lagi hanya mampu diangguki oleh Alex.


“Iya, Om! Saya berangkat sekarang.”


...****...


Kanza refleks membungkam mulutnya sesaat ketika pemandangan kurang mengenakan terpampang jelas di bawah sana. Vando yang membawa sebuah balok kayu yang tergelatak di lantai membuat perasaan cemas dalam diri Kanza semakin menggebu. Apalagi ketika melihat raut tak berdaya yang ditampilkan Kenzo di bawah sana.


Dengan tergesa-gesa tanpa berpikir panjang, Kanza berlari menuruni puluhan anak tangga untuk menghampiri Kenzo dan juga Vando.


“Setop! Jangan sakitin Kenzo!” Pekiknya. Sanggup menghentikan serta mengalihkan atensi beberapa orang di sana.


“Kanza?” Panggil Kenzo. Tanpa sadar sudut hatinya mendadak lega ketika melihat dengan jelas bahwa kembarannya baik-baik saja.


Seulas senyuman hangat lantas terbit dari wajahnya yang ia tujukan pada Kenzo. Namun tak sampai berapa lama, Vando dengan brutal melayangkan balok kayu tersebut ke arah Kenzo sampai membuatnya lantas mengerang.


“Aaakh!” Pekik gadis itu lagi, refleks memejamkan kedua matanya, tak sanggup melihat bagaimana dengan kejam saudara kembarnya disiksa begitu saja. Darah segar lantas menetes dari salah satu pelipis cowok itu.


Perlahan namun pasti, Kanza mulai memberanikan diri menurunkan kedua tangannya yang sempat ia gunakan untuk menutup kedua matanya. Ketika kedua matanya telah benar-benar terbuka kembali, tubuh gadis itu langsung merosot ke lantai dengan tubuhnya yang bergetar hebat.


Kenzo. Wajah laki-laki itu kini tertutupi oleh darah, namun bibirnya masih saja bisa tersenyum getir.


“Gue gak pa-pa, Za. Lo mending pergi dari sini. Gue-”


Bugh!


Satu tendangan mendarat di bahu Kenzo. Sehingga dengan refleks Kanza kembali menjerit dengan Kenzo yang tubuhnya perlahan mulai tak seimbang.


“Za! Gue pernah bilang sama lo, ‘kan? Lo mending nurut jadi pacar gue, atau orang-orang terdekat lo yang perlahan tersiksa akibat berusaha ngelindungin lo? Lo tinggal milih aja, sih. Kalau lo milih yang kedua, it’s okay! Berarti hidup dan mati orang lo sayang semuanya ada di tangan gue.”


Tuhan… apa yang harus Kanza lakukan?


Melihat Kenzo yang kini terkapar di sana membuat sudut hati Kanza tak tega. Hatinya mendadak sakit dengan kekhawatiran yang menggunung di kepalanya.


Namun jika dirinya memilih untuk bersama dengan laki-laki itu, Kanza tidak akan pernah merasakan hidup tenang dan bahagia. Obsesi cowok itu padanya sudah lebih dari batas wajar. Kanza takut!


Tapi jika dirinya tak memilih bersama Vando, mungkin target selanjutnya dari laki-laki itu adalah …


“Oh, iya, si Alex! Cowok lo namanya Alex, ‘kan? Gimana kalau habis ini giliran dia aja? Kayaknya seru tuh,”


“Enggak! Lo gak boleh gangguin Alex! Dia gak salah apa-apa!” Kanza memberanikan diri berteriak pada Vando setelah hampir cukup lama gadis itu terdiam dengan ketakutannya.


Senyum miring kemudian terbit di wajah Vando. “Akhirnya lo buka mulut juga, Za. Gimana tadi? Lo bilang apa?” Perlahan namun pasti, Vando menyeret kedua kakinya mendekat ke arah Kanza. Dengan spontan gadis itu memundurkan posisinya yang masih berada di atas lantai.


“Coba ngomong sekali lagi.” Ulang Vando, bertepatan ketika posisinya telah berada tepat di hadapan Kanza. Salah satu tangannya pun terulur membelai wajah Kanza. Refleks gadis itu berusaha melepaskan diri dari Vando, namun berakhir gagal.


“Za?” Panggil Vando. Sedikit pun tak membuat Kanza sudi membalas apalagi menatap kedua bola mata cowok itu.


“Lo mau, ‘kan, jadi pacar gue?” Tanyanya. Semakin membuat Kanza dilanda ketakutan dengan sesekali mencoba menjauhkan diri darinya.


“Jangan, Za! Lo harus inget kalau orang yang paling sayang sama lo selain gue masih banyak! Lo masih punya Alex! Jangan mau sama dia!” Sela Kenzo. Suaranya terdengar serak dengan sesekali terbatuk.


Tanpa berbicara sepatah kata, Vando mengode beberapa anak buahnya yang masih setia berdiam diri tak melakukan apa-apa. Namun di detik berikutnya, mereka mulai berjalan gontai menghampiri Kenzo, kemudian menendang tubuhnya berkali-kali dengan sangat kasar.


Lagi-lagi Kanza dibuat memekik tak berdaya melihat saudara kembarnya disiksa sedemikian rupa. Air mata lantas menuruni wajah cantiknya tanpa ia sadari.


“Setop!” Sahut Vando. Menghentikan aktivitas anak buahnya yang masih setia menyiksa Kenzo.


“Gimana, Za? Lo-” belum sempat Vando menyelesaikan ucapannya, pintu utama vila tersebut terbuka sangat keras. Seketika mengalihkan perhatian seluruh atensi mereka yang berada di dalam vila tersebut.


“A-alex?” Lirih Kanza.


Ya. Orang yang baru saja mendobrak pintu tersebut tak lain ialah Alex. Setelah memakan waktu hampir sepuluh menit lamanya, akhirnya cowok itu telah sampai di tempat tujuan untuk menyelamatkan Kanza dan juga Kenzo.


Melihat kedatangan musuhnya yang lain masuk ke dalam sarangnya, Vando dengan instruksi berupa tatapan mematikan yang tertuju pada beberapa anak buahnya lantas membuat mereka langsung paham, dan kemudian berlari ke arah Alex dan mulai menyerbunya tanpa ampun.


Kanza sempat khawatir melihat Alex yang baru saja tiba sudah disuguhi lawan yang lima kali lebih banyak dari dirinya. Namun ketika beberapa dari anak buah Vando mulai terkalahkan, sudut hati gadis itu mendadak sedikit lega.


Belum sampai di sana, Kanza kembali dibuat waswas saat seseorang yang tadinya sudah limbung, memukul kuat bagian belakang kepala Alex dengan kepalan tinjunya.


Alex sempat terdiam mencoba memegangi belakang kepalanya yang teras begitu pening. Namun seolah tak memberi ampun, salah satu dari mereka dengan gesit menendang bagian engsel lututnya, sehingga menyebabkan posisinya langsung tersungkur.


Kanza lagi-lagi dibuat memekik keras dengan air mata yang bercucuran. Sedangkan Vando, cowok itu perlahan mulai melangkahkan kakinya ke hadapan Alex dan juga Kenzo yang posisinya menjadi bersebelahan akibat beberapa dari anak buah Vando yang menyeret mereka tanpa ampun.


“Pegangin yang kuat!” Suruh Vando. Dengan senang hati mereka menurut.


“Akhirnya gue bisa nangkep lo juga! Gue pikir, lo hebat karena pernah sekali ngalahin gue. Tapi ternyata, lo masih gitu-gitu aja. Gak beda jauh sama lawan gue yang sebelum-sebelumnya. Lemah kalau udah menyangkut soal cewek.” Vando menyunggingkan seulas senyum miringnya teruntuk Alex. Sedangkan Kenzo, cowok itu masih berada dalam posisinya, yaitu terkapar dengan darah yang hampir menutup sebagian kepalanya.


Alex terkekeh sinis seraya menahan ngilu di beberapa sudut bibirnya yang terluka. “Waktu itu lo kalah karena satu lawan satu! Sekarang lo menang karena lo maennya keroyokan. Dasar banci!” Cetus Alex, yang ditanggapi kekehan pelan oleh Kenzo.


Sontak perhatian Vando langsung beralih pada Kenzo yang perlahan mulai mengangkat kepalanya ke posisi tegak. Seringaian sinis lantas terbit di raut wajahnya.


“Lo pernah kalah sama si Alex juga masih wajar. Dia pemegang sabuk hitam taekwondo sama pernah jadi juara pertama lomba taekwondo juga. Eeh, bentar! Taekwondo apa karate, sih? Gue lupa soalnya.” Perhatian Kenzo beralih menatap ke arah Alex yang berada tepat di sebelahnya.


“Kalau gue bilang dua-duanya, lo percaya?” Balas Alex santai. Membuat Vando yang merasa tak diacuhkan oleh kedua orang tersebut pun langsung dibuat kesal.


“By the way, ini udah lewat berapa menit?” Tanya Kenzo. Masih belum mau menatap ke arah Vando yang tengah berusaha merendamkan amarahnya.


“Em, dari rumah sampe sini kira-kira sepuluh menit. Terus barusan gue berantem cukup lama kira-kira dua puluh menit. Terus barusan kita ngobrol sambil apalah ini keknya udah lewat lima belas menit. Kira-kira … empat puluh lima atau lima puluh menitan waktu udah berjalan.” Terang Alex. Masih berusaha dicerna oleh Vando walau ia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang tengah mereka bicarakan saat ini.


“Berarti kira-kira sepuluh menitan lagi dong, ya?”


“Heh! Lo berdua ngomong apaan, sih, hah? Lo berdua ngomong-ngomong waktu kayak gitu karena bentar lagi mau mati?” Semprot Vando. Baru kali ini ada sepasang sandera di tangannya yang masih bisa mengobrol santai seperti Kenzo dan Alex.


Kedua cowok itu terdiam dengan sesekali mengulum senyum misterius. Tanpa mereka semua sadari, Kanza dari arah berlawanan berjalan dengan hati-hati ke arah mereka, atau lebih tepatnya ke arah Vando. Kedua tangannya dengan nekat membawa sebuah vas bunga yang ia ambil di sudut ruangan tersebut.


Tanpa basa-basi lagi, gadis itu langsung melemparkan vas tersebut ke belakang kepala Vando sampai vas itu hancur tak tersisa.


Kenzo dan Alex yang tidak menyadari akan hal itu langsung dibuat terkejut. Apalagi ketika darah segar mulai mengalir dari belakang kepala cowok itu.


“Kanza, lo-” Kenzo menghentikan ucapannya ketika Vando perlahan mulai membalikan tubuhnya menghadap Kanza. Sepasang bola matanya menatap Kanza dengan sorot kecewa dengan salah satu tangannya yang memegang belakang kepalanya yang terasa begitu sakit.


“Lo mau bunuh gue, Za?” Vando sudah hampir melangkah ke hadapan Kanza, jika saja rasa pening dan berat di kepalanya tidak langsung menyerang saat itu juga.


Melihat Vando dan beberapa anak buahnya yang mulai lengah, Kenzo dan Alex buru-buru berusaha melepaskan diri dari cengkraman mereka. Dengan perasaan cemas, Kenzo sudah hendak menghampiri Kanza, namun beberapa dari anak buah Vando langsung mencegatnya. Sehingga perkelahian lagi-lagi tak dapat terelakan. Begitupun yang sedang terjadi dengan Alex.


Di sisi lain, Kanza mulai memundurkan Langkah kakinya dengan tubuhnya yang lagi-lagi bergetar hebat. Melihat Vando yang tengah mengerang sembari memegangi belakang kelapanya yang terus mengeluarkan darah akibat ulahnya membuat Kanza ketakutan.


“Lo harus tanggung jawab, Za! Lo baru aja ngebunuh gue, Za! Lihat, sekarang darah gue di mana-mana, Za!” Erang Vando, semakin membuat Kanza ketakutan dengan tubuhnya yang kian bergetar.


“Enggak! Gue gak ngebunuh lo! Gue-” tak berapa lama kemudian, terdengar suara sirine dari luar vila yang semakin membuat Kanza dibuat ketakutan sampai tubuhnya perlahan tersungkur ke lantai. Kedua tangannya bahkan terangkat menutupi kedua telinganya, sesaat ketika suara sirine tersebut semakin terdengar jelas di kepalanya.


“Aaaghhh! Lo udah bunuh gue, Za! Lo harus-”


Bugh!


Satu tendangan meluncur ke salah satu betis laki-laki yang baru saja dilakukan oleh Alex. Detik berikutnya, Vando sudah kehilangan kesadarannya akibat darah yang tak henti-hentinya terus mengalir dari belakang kepalanya.


Sementara Alex, cowok itu langsung berlari menghampiri Kanza yang terlihat begitu ketakutan dengan sesekali berteriak.


“Za, kamu gak-”


“Aku bukan pembunuh! Aku bukan pembunuh! Dia yang mau nyakitin Kenzo sama Alex! Aku gak berniat bunuh dia!” Kanza terus meracau tidak jelas. Dengan penuh perhatian, Alex memeluk tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Sesekali ia pun akan mengelus pelan punggung Kanza, berusaha untuk menenangkannya, namun tetap berakhir sama.


Sementara di sisi lain, Kenzo dengan beberapa anal buah sang papi mulai membereskan kekacauan yang ada. Tak pernah ia sangka ternyata suara sirine yang barusan terdengar adalah suara sirine ambulans. Bukan sirine polisi.


“Tuan Muda! Sebaiknya Anda segera diobati. Luka Anda tidak boleh sampai terinfeksi.” Ujar seorang bawahan papinya. Dengan ragu, Kenzo mengangguk.


“Mami gak sampai cemas, ‘kan?”


“Anda tenang saja. Nyonya seratus persen aman bersama Tuan Besar.”


“Oke. Em, terus Papi bilang apa?” tanya Kenzo lagi. Ia benar-benar masih sangat cemas saat ini.


“Kata beliau, jangan sampai meninggalkan jejak dan jangan sampai polisi tahu. Dan juga … soal kejahatan Keluarga Ganesha, semuanya sudah berada di tangan pihak berwajib.” Ujarnya. Membuat Kenzo tanpa sadar menyeringai.


“Oke. Itu lebih baik. Berarti kita-” ucapan yang hendak dilontarkan oleh Kenzo refleks terhenti ketika mendengar suara teriakan dari salah satu sahabatnya terdengar cukup memekakkan telinga.


“Za, bangun Za! Za, kamu gak pa-pa, ‘kan? Za, please, jangan buat aku cemas, Za!” Tanpa basa-basi lagi, Kenzo lantas berlari menghampiri Alex dan juga Kanza yang terlihat tak sadarkan diri.


Dengan cemas, Kenzo pun melakukan hal yang sama pada Kanza, yaitu terus memanggil-manggil namanya tanpa henti. Sayangnya, sedikit pun gadis itu tak berniat membuka sepasang bola matanya dan masih senantiasa terus terpejam.


“Kita bawa ke rumah sakit! Kita gak boleh nunggu lama lagi, ayo!”


^^^To be continue….^^^


Hai, udah update! Maaf updatenya lagi-lagi telat, ya, hadeuh… padahal waktu itu aku udah semangat banget nulisnya, eeh tante, om, sama nenekku dateng jauh-jauh ke sini buat tahun baruan bareng. (ya walaupun gk sampe bneran tahun baruan juga sih, karena di malem tahun barunya aku sibuk tidur)


Sebenarnya, alasan aku gk bisa update ya karena di rumah yang biasanya sunyi tuh mendadak bising. Apalgi aku tipe orang yg gk bisa konsentrasi kalo di ruangan itu berisik. Makanya pas mereka pulang kermaren aku langsung gaspol ngetik. Dan sebagai permintaan maafku yg kesekian kalinya, aku update epsnya smpe 5800+ kata. Entah kalian mabok bacanya atau gimana aku gk peduli, wkwk. Intinya ini untuk permintaan maaf dari aku, hehe.

__ADS_1


Oke, segitu dulu, sampai jumpa di eps selanjutnya yg gk tahu bkl update kpn~:*


__ADS_2