Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 15


__ADS_3

Tiga hari setelah kejadian di pesta perjamuan itu membuat Kanza terus berpikir, alasan apa yang logis yang seharusnya waktu itu ia katakan?!


Gadis itu terus mendesis disela lamunannya yang tak habis-habisnya terus ia pikirkan hingga saat ini.


Duag!


"Aduhh!" Kanza mengaduh, kala sebuah bola jatuh mengenai kepalanya. Gadis itu mengelus-elus kepalanya yang terasa benjol.


Sialan! Siapa yang melemparinya?


"Lo gak pa-pa, Za?" Seseorang yang tadinya sibuk bermain basket bersama teamnya, langsung berlari menghampiri Kanza.


Oh, ya. Saat ini kelasnya Kanza sedang melaksanakan pembelajaran olahraga basket di gedung olahraga.


Kanza yang memang tipikal bukan gadis yang pemaaf, menatap cowok yang menghampirinya dengan tatapan menusuk. "Sakit tahu!"


Cowok yang tak lain adalah Alex itu pun langsung menghela napasnya. Perhatian cowok itu langsung beralih menatap seorang teman di kelasnya yang juga adalah pelaku pelemparan bola ke arah Kanza.


"Dam! Sini lo!" Alex memanggil cowok itu.


Dam atau pemilik nama lengkap Damian, mulai panas dingin dipanggil seperti itu oleh Alex.


Bukan apa-apa. Alex ini kalau lagi serius, mukanya tuh kek orang mau ngajak ribut. Seremnya minta ampun!


Dan lagi! Alex itu juara satu taekwondo nasional. Gak ada yang berani berhadapan sama cowok dingin itu. Semua laki-laki di SMA Naruna seolah takut jika harus berhadapan dengan Alex.


Damian berdesis seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Cowok itu mulai berjalan ke arah Kanza dan Alex yang masih memasang wajah masam.


"Kenapa, Lex?" Damian bertanya hati-hati. Takut jika sewaktu-waktu Alex akan meledak, seperti yang pernah terjadi ketika mereka masih berada di bangku kelas sepuluh.


Waktu itu, ada seorang senior yang mengganggunya. Awalnya Alex biarkan, tapi lama-kelamaan, seniornya semakin semena-mena. Sampai pada akhirnya Alex berkelahi dengannya, sampai membuat seniornya itu babak belur.


Sedangkan Alex yang pertama diserang, hanya lecet di bagian sudut bibirnya saja. Aneh bukan? Harusnya kedua-duanya yang babak belur, atau Alex yang lebih babak belur. Ini malah sebaliknya dan Alex malah tidak sama sekali.


"Lo yang lempar bola. Minta maaf." Alex berucap dingin, membuat Kanza langsung melotot tidak percaya.


"Eeh! Gak usah! Gak berdarah juga, kok!" Kanza panik. Gadis itu langsung bangkit dari kursi tribun dengan perasaan tidak enak.


Damian terlihat menahan amarahnya dengan mengepalkan kepalan tangannya. "Maaf, gue gak sengaja."


"Iya, gak pa-pa! Lo balik lagi aja. Makasih udah minta maaf," balas Kanza terburu-buru.


Setelah permintaan maafnya diterima dari Kanza, Damian langsung melenggang meninggalkan gadis itu yang masih berdiri kaku di belakang Alex.


Alex tidak mempermasalahkan lagi. Cowok itu hanya memandangi kepergian Damian dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi.


Sungguh demi apa pun, Kanza baru tahu kalau cowok bernama Alex itu kalau sedang marah sangat mengerikan. Sepertinya, Kanza harus sedikit menjauh dari Alex.


"Ekhem. I-ituu ... mmm ... makasih, ya. Gue dulu—" ucapan gadis itu langsung berhenti, tepat ketika Alex langsung berbalik ke arahnya dan mengulurkan tangannya mengelus kepala Kanza.


"Mana yang sakit?"


"Hah!?" Kanza menatap wajah Alex yang terlihat begitu tinggi. Gadis itu menelan salivanya ketika melihat wajah tampan berkeringat milik Alex.


Dilanjut menatap lengan cowok itu yang terlihat agak berotot. Mengenakan kaos olahraga yang terlihat pas, membuat pahatan indah tubuh cowok itu tercetak dengan jelas.


Sialan! Nih, cowok mau godain gue atau gimana? Gak tahu aja gue ini bukan cewek baik-baik. Entar kalo gue khilaf gimanaaaa?


Kanza langsung mundur beberapa langkah merasa jaraknya semakin terlalu dekat dengan Alex. Raut wajah gadis itu juga sudah memerah seperti tomat. Ia salting luar biasa.


"Gu-gue gak pa-pa, kok!" Ujar gadis itu, lalu berlari keluar dari gedung olahraga tanpa memedulikan tatapan iri dan dengki orang lain yang juga menyaksikan adegan tersebut.


...****...


"Mon! Udah beberapa hari ini, tumben banget lo gak nyamperin si Kenzo?! Kenapa? Ada masalah?" Dayana, teman satu gengnya Monika, bertanya seraya menatap heran temannya.


Monika terlihat mencebikkan bibirnya seraya melipat kedua tangannya di atas meja. Cewek itu terlihat sekali sedang bad mood.


"Kenzo nyuruh gue berhenti deketin dia!" Ujarnya, dengan bibirnya yang dicebikkan.


"Apa!? Dan lo iya-iya aja?" Mendengar Dayana berkata begitu, tentu saja Monika merasa tidak terima. "Ya, enggaklah! Gue tuh cinta mati sama dia!"


"Ya udah, terus kenapa sekarang masih di sini?" Perkataan Dayana, membuat Monika tidak paham. "Maksud lo?"


"Ck! Maksud gue, samperinlah! Anak-anak XI IPS 4 sekarang lagi pada olahraga di gedung olahraga. Lo bawain minum, kek. Mungkin aja, kan, dia luluh lagi terus mau balikan sama lo? Iya, kan?"


Monika tampak berpikir sejenak. Namun, tak berapa lama kemudian, gadis itu menghela napasnya seraya menjatuhkan kepalanya ke atas meja.


"Gak, deh! Pasti dia jijik liat gue terus nempel sama dia! Enggak, enggak! Gue gak boleh buat dia jijik!" Ujarnya, membuat Dayana berdecak.


Ingin rasanya ia memaki gadis manja di hadapannya ini. Jikalau tidak ingat Monika adalah anak orang kaya, Dayana tidak akan mau berteman dengan cewek sealay dan semanja Monika.


"Ya elah," Dayana memutar bola matanya. Gadis itu mulai lelah dengan sifat Monika. Tatapan kedua matanya yang semula menatap Monika, kini beralih menatap ke pintu masuk kelas yang terbuka.


"Eh, Anggia! Dari mana aja lo?!" Melihat salah satu teman satu gengnya baru memasuki ruang kelas, Dayana langsung bersahut dengan raut wajahnya yang terlihat dongkol.


Anggia, teman satu kelas sekaligus satu geng dengan Monika dan Dayana. Gadis polos, sedikit o'on, lelet dalam urusan berpikir, namun selalu menjadi yang paling utama dalam hal gosip, berjalan perlahan memasuki ruang kelas dengan raut wajahnya yang tampak berpikir serius.


"Woi! Denger gue gak sih, lo!?" Dayana membentak Anggia. Membuat gadis itu langsung tersentak dari lamunannya, dan kemudian berlari menghampiri kedua temannya.


"Eh! Kalian pada tahu gak, soal murid baru di kelasnya si Kenzo?" Anggia langsung mendudukkan dirinya di atas kursi di samping Dayana.


"Siapa? Kok, gue gak tahu?" Tanya Dayana.

__ADS_1


"Itu, lho! Yang namanya Kanza itu! Banyak yang bilang kalo dia tuh cantik! Eh, pas tadi gue lihat di gedung olahraga, sumpah dia tuh beneran cantik!" Ucapnya, membuat Dayana seketika mendengus, kemudian menggertak meja.


"Lo ngomongin si murid baru, karena fisiknya cantik doang? Di SMA ini banyak kali cewek cantik! Termasuk gue!" Balas Dayana angkuh, seraya menyibakan rambutnya.


"Iiihhh! Dengerin gue dulu! Gini nih, ya! Waktu pertama kali cewek itu masuk sekolah kita, pas jam istirahatnya, tuh cewek ditarik paksa sama si Kenzo!"


"Apa!?" Mendengar nama Kenzo juga ikut terseret dalam obrolan Anggia dengan Dayana, Monika langsung bangkit dari posisinya seraya menatap dengan tatapan bertanya-tanya tepat ke arah Anggia.


"Si Kanza-Kanza itu kenal sama si Kenzo?" Dayana dengan hati-hati bertanya. Takut jika dirinya salah bicara, itu akan membuat Monika menggila hanya karena Kenzo kesayangannya dirumorkan dekat dengan cewek lain.


"Mau denger lebih lanjut?" Perkataan Anggia, membuat Monika kembali mendudukkan dirinya di kursi semula.


"Nah, waktu itu gue lagi mau keluar kelas, kan. Mau ke kantin ceritanya. Tapi, eh tapi! Pas gue baru keluar dari kelas, gue dengan enggak aestethic-nya terdorong dong, dan pelaku utamanya adalah Si Kenzo dan seorang cewek yang waktu itu gue gak tahu siapa dia." Ujarnya menjeda.


"Terus-terus?" Monika dan Dayana kompak bertanya.


"Ya, gue ikutinlah! Gue penasaran aja, cewek mana lagi yang dideketin sama si Kenzo! Dan ketika mereka udah berhenti di belakang sekolah—"


"Mereka diem-diem pergi ke belakang sekolah?" Monika yang tidak sabaran, menyela ucapan Anggia. Gadis itu menganguk polos, seraya kembali menceritakan apa yang ingin ia ungkapkan dari lama.


"Ketika mereka sampai di belakang sekolah, gue cuman bisa ngintipin mereka dari jauh. Gue sempet denger mereka tuh ngomongin soal rahasia-rahasia gitu! Dan yang paling bikin gue gak nyangka adalah, mereka lagi ngerahasiain hubungan merekaaa!!!"


Brak!


Monika menggebrak meja dengan cukup keras. Penuturan Anggia sukses membuat dirinya tersulut emosi.


Mungkin ini alasan yang membuat Kenzo ingin menjauh darinya. Ya! Pasti karena kedatangan si murid baru itu!


"Kita labrak dia!" Monika sudah hendak berjalan keluar kelas, namun segera dihentikan oleh Anggia.


"Eh, bentar! Cerita gue belum selesai! Yang ini bahkan lebih parah!" Perkataan Anggia, membuat Monika langsung menatap gadis itu dengan tatapan menusuk.


"Apa?"


Anggia terlihat berdeham sejenak dan menyuruh Monika untuk kembali duduk di kursinya. Monika terlihat menghela napas, kemudian kembali mendudukkan dirinya walaupun sebenarnya ia enggan.


"Apa lagi? Buruan ceritain!" Tuntut Dayana. Mendengar cerita Anggia membuatnya sedikit tertarik dengan gadis bernama Kanza-Kanza itu.


"Gue tadi bilang ke kalian juga, kan, kalo gue habis dari gedung olahraga?" Monika dan Dayana tampak berpikir sejenak, kemudian mengangguk.


"Gue tadi lihat dia sama si Alex kayak deket gitu! Apalagi tadi si Alex sempat ngelus-ngelus kepalanya tuh cewek!"


"HAH!!??" Monika dan Dayana refleks memekik seraya menggebrak meja.


Anggia yang tidak memprediksi bahwa kedua sahabatnya akan berteriak sekencang ini refleks menutupi kedua telinganya. Gadis itu merasa menyesal telah menceritakan hal itu pada mereka.


"Baru datang ke sekolah kita udah jadi pacarnya Kenzo!? My honnie? Wahh... minta dikasih cabe tuh cewek!" Monika tertawa sinis seraya terus memukul-mukul meja dengan kepalan tangannya.


Bagaimanapun, sudah lebih dari setahun sejak dia menyukai Alex, tidak pernah sedikitpun dia terlihat dekat dengan seorang gadis. Bahkan ketika cowok itu didekati oleh Dayana pun, sikapnya cuek dan terkesan tidak peduli.


"Gue udah gak tahan lagi! Gue mau labrak tuh cewek!" Pekik Monika, lantas berjalan keluar dari kelas, diikuti oleh Dayana dan juga Anggia.


...****...


Sedari tadi, Kanza tidak henti-hentinya terus tersipu disela dia berjalan meninggalkan loker sekolah. Gadis itu masih terus memikirkan sikap Alex tadi saat di gedung olahraga.


"Ck! Gue jadi baper gini, kan! Dasar cowok ganteng!" Gerutu Kanza, kemudian mempercepat langkah kakinya. Namun terhenti ketika tiga orang siswi yang sama sekali tidak ia kenali, menghalangi jalannya.


Tunggu! Kenapa rasanya seperti de javu?


Perasaan, gue selama beberapa hari ini gak bikin ulah sama cewek-cewek di sini?! Tapi, kenapa tampang mereka kayak baru aja gue usik?


"Nama lo Kanza?" Seorang gadis yang berdiri di tengah-tengah, menyahut Kanza dengan nada setengah berteriak.


Ck! Kayaknya mereka benar-benar merasa terusik sama kehadiran gue!


"Hm. Kenapa?" Merasa tidak perlu terlalu sopan menghadapi makhluk yang juga tidak sopan kepadanya, Kanza melipat kedua lengannya di depan, dengan tatapan dingin ia layangkan pada ketiga gadis itu yang tak lain adalah Monika, Dayana, dan Anggia.


Monika, Dayana, dan Anggia langsung tersulut emosi ketika melihat sikap Kanza yang sok pemberani itu. Pikir mereka, belum tahu saja Kanza, bahwa tidak ada seorang pun yang tidak bisa ditakluki oleh Monika.


Lihat betapa sombongnya Kanza. Monika pasti akan segera membuat gadis itu langsung tunduk seperti seorang pengecut.


"Oh, ya udah. Kalo gitu gue titip salam buat lo!" Monika terlihat menjeda sejenak ucapannya. "Jangan jadi cewek genit, kalo gak mau gue labrak!" Lanjutnya. Monika dan kedua temannya terlihat tersenyum puas.


Demi Dewa Neptunus di dunia Spongebob! Mereka ini kenapa, sih, hah? Kenal juga kagak, datang-datang udah maen labrak aja! Otaknya pada koslet atau gimana, sih?


"Heh, Ikan ******! Lo ngomong sama siapa, hah? Sama gue? Emang gue pernah bikin masalah apa sama kalian?"


Dikatai seperti itu tentu saja membuat Monika kesal. Gadis itu lantas berjalan gontai ke hadapan Kanza, dan—


Plak!


Tamparan cukup keras mendarat mulus di wajah Kanza. Anak-anak kelas lain yang berada tak jauh dari mereka berempat langsung berkerumun di lapangan, mengerumuni keempatnya.


"Lha? Itu murid baru kelas XI IPS 4 yang katanya cantik itu? Kok dia bisa ditampar sama si Monika?"


"Gila! Mulai lagi tuh anak gangguin murid-murid yang gak bersalah!"


"Dari dulu gue emang gak pernah suka sama si Monika! Mentang-mentang anak orang kaya, tingkahnya semena-mena!"


"Tolongin, gih! Dia anak baru!"


"Ya ampun! Bisanya emang sama yang lemah!"

__ADS_1


Mendengar bisik-bisik dari para siswa yang mengelilinginya, membuat Kanza tertawa sinis. Gadis itu juga mulai kembali memasang wajahnya tidak kalah angkuh dari Monika yang baru saja menampar wajahnya.


"Lo Monika? Akhirnya gue gak merasa penasaran lagi sama cewek yang namanya Monika!" Perkataan Kanza menuai banyak perbincangan dari para kerumunan.


Ada yang terkejut, kagum, dan ada juga yang merasa bahwa Kanza terlalu sombong, padahal dia tidak mengetahui lawannya saat ini sebesar apa.


"Heh! Lo barusan nampar gue. Maksud lo apa?"


Monika berdecih seraya tertawa sinis. "Gak usah pura-pura polos deh, lo! Lo diam-diam datang ke sekolah ini bukannya buat godain cowok?"


Heboh!


Para kerumunan siswa itu mendadak bergosip sana-sini. Kerumunan pun sudah tidak seperti kerumunan biasa lagi. Hampir satu sekolah kini berdatangan dan menciptakan sebuah kerumunan besar.


Kanza menarik napasnya dalam-dalam. "Lo kalau mau fitnah, jangan asal nyeletuk! Gak takut sama karma?"


Monika, Dayana, dan Anggia saling pandang, kemudian tertawa sinis. "Kenapa gue harus takut karma?"


Kanza tidak suka diusik tanpa penyebab yang jelas. Jadi, hal yang harus Kanza lakukan saat ini adalah, bertindak maju jika tidak ingin jatuh dan terjerumus.


"Lo bilang tadi, alasan gue pindah ke sekolah ini buat godain cowok. Iya, kan? Buktinya apa, kalau gue beneran datang ke sekolah ini cuma buat hal begituan?"


Monika kembali tertawa sinis. "Heh! Serius lo mau aib lo, gue buka di sini sekarang? Oke, kalau begitu!" Gadis itu menggantung ucapannya sejenak.


"Hi, Every body! Denger ini baik-baik! ASAL KALIAN TAHU AJA! SI MURID BARU INI, PINDAH KE SEKOLAH KITA BIAR BISA PACARAN TERANG-TERANGAN SAMA KENZO! IYA, KAN?" Pekikkan keras Monika yang berdiri di tengah-tengah lapangan, membuat hampir satu sekolah gempar .


Kanza yang dituduh berpacaran dengan Kenzo oleh Monika pun tentu saja tidak terima. Kanza juga tidak habis pikir, ide konyol macam apa ini? Dari mana Monika mengarang cerita aneh ini?


Pacaran sama Si Kenzo!?


Heh! Dikira gue apaan pacaran sama saudara kembar gue sendiri?!


"Heh, Badut Comblang! Lo lihat dimana gue sama si Kenzo pacaran? Lo sakit, ya?"


"Sembarangan ngatain gue Badut Comblang! Lo kali Cabe Emperan! Udah pacaran diem-diem sama Kenzo, sekarang masih pengen godain Alex? Tahu diri dong! Lo kalo pindah ke sekolah ini buat bikin malu, mending lo balik lagi aja ke sekolah lama lo! Orang kayak lo tuh gak pantes sekolah di sini!"


Plak!


Tamparan keras melayang di wajah Monika. Pelaku tersebut bukanlah Kanza. Melainkan teman barunya, Alma.


Gadis itu baru menerobos masuk ke kerumunan, langsung menampar wajah Monika. Alma tidak terima jika sahabatnya Kanza dikatai seperti itu, padahal kenyataannya tidak begitu sama sekali.


Alma menatap tajam Monika. Napasnya sudah memburu, dan emosinya baru saja ia keluarkan lewat tamparan keras yang ia berikan dengan suka rela.


"Jadi orang jangan halu! Mana ada Kanza pacaran sama Kenzo terus ngedeketin Alex? Yang ada elo sama temen-temen lo yang ngaku-ngaku pacaran sama si Kenzo! Denger, yah! Kanza itu sahabat gue! Kalo lo berani usik dia, itu tandanya lo juga ngusik gue!" Jujur! Pertama kalinya seorang Alma yang polos dan pendiam meledak sejadi-jadinya seperti sekarang ini.


Dan itu semua, ia lakukan bukan hanya karena membela Kanza saja. Ia juga sedang menyalurkan dendam pribadinya kepada Monika.


^^^To be continue....^^^


Sudah update setelah beberapa hari libur dulu!


Minal aidzin wal faidzin yaaa, semuaaa!


By the way, bagaimana tanggapan kalian soal eps kali ini?


...Cast:...


...Kanza



...


...Alex



...


...Monika



...


...Dayana



...


...Anggia



...


...Alma



...

__ADS_1


__ADS_2