Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 37


__ADS_3

Kenzo menghentikan laju larinya ketika setibanya laki-laki itu di lorong kelas bawah. Napasnya tampak memburu dengan tatapan matanya yang menjelajah ke seluruh penjuru sekolah mencari di mana keberadaan kembarannya.


"Gila! Tuh, cewek larinya cepet juga, ya?" Kenzo menelan ludahnya susah payah ketika dirasa tenggorokannya terasa begitu kering. Sebelah tangannya pun mulai terangkat untuk mengipasi area sekitar lehernya untuk meredakan hawa panas yang menyengat.


"Bodo amat, ah! Mau dia ngejar Si Alex, kek, gue gak peduli! Paling-paling mau ngejelasin masalah yang tadi." Gumam Kenzo. Laki-laki itu sudah frustasi karena sedari tadi, sepasang netranya tidak juga menemukan di mana keberadaan Kanza.


Kenzo mulai membenarkan posisi berdirinya seraya melepas cengkraman dasi yang terasa begitu mencekik lehernya. Dirasa napasnya mulai kembali menormal, Kenzo pun memutuskan untuk melanjutkan langkah kakinya menuju parkiran sekolah.


Namun, belum juga sampai dirinya di parkiran sekolah, laki-laki itu sudah disuguhkan oleh pemandangan dari sepasang siswa dan juga siswi yang teramat ia kenali dari postur tubuh mereka tengah beradu argumen bersama salah satu guru di sekolahnya, yang Kenzo tebak itu adalah Pak Ucup.


Awalnya Kenzo hendak menghampiri mereka. Namun langkah kakinya langsung terjeda ketika suara Pak Ucup yang menggelegar terdengar bahkan hampir ke seluruh penjuru sekolah.


"Dasar murid-murid nakal! Kalian ngeledekin saya, ya, mentang-mentang saya ini duda?! Alex! Awas kamu! Bapak gak peduli kamu adalah siswa juara umum, ketua osis, anak orang kaya, atau apa pun itu!"


"Hmph. Hahahah! Gila, gila! Berani juga Si Alex. Emang temen gua, dah." Kenzo sontak tertawa. Laki-laki itu bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa begitu sakit akibat tawaannya yang terlalu keras.


Cukup puas tertawa sendirian, Kenzo pun mulai menghentikan sesi tertawanya dan kembali melanjutkan langkah kakinya yang sebelumnya sempat tertunda.


Oh, ya. Sepasang netranya masih tertuju pada sepasang sejoli di depan sana yang tak lain adalah Kanza dan juga Alex, kembaran serta sahabatnya.


Pikir Kenzo, pasti keduanya saat ini tengah membutuhkan waktu berdua untuk saling menjelaskan.


Begitupun dengan Kenzo yang hendak kembali memperjuangkan cintanya seperti apa yang diucapkan oleh Azka terakhir kali.


"Kalo lo suka sama dia, lo jangan nyerah! Sekalipun dia nolak lo apalagi dengan alasan yang kayak gitu, lo gak boleh langsung nyerah! Buktikan kalau lo adalah Kenzo! Berjuang! Semangat, Bro!" Kira-kira seperti itulah ucapan Azka beberapa jam yang lalu.


Sebelum dirinya pulang ke rumah nanti, Kenzo akan mampir terlebih dahulu ke rumahnya Wanda. Pokoknya, Wanda harus menjadi miliknya. Tidak peduli gadis itu telah menolaknya sekali, maupun berkali-kali.


Sekalinya Kenzo suka dengan suatu hal, maka hal tersebut akan ia dapatkan dengan cara apa pun.


...****...


Sekitar satu menit sudah Kanza ditarik oleh Alex sampai ke dalam mobil milik laki-laki itu. Dan saat ini, Kanza benar-benar dibuat gondok setengah mati oleh sikap Alex.


Giliran tadi aja pas Kanza mau ngejelasin, Alex malah sok-sok an gak mau tahu sama kek gak peduli! Namun ketika Kanza mengucapkan kata 'putus' saja, laki-laki itu langsung berbalik dan memeluknya di depan satu sekolah.


Memang, sih. Sebelum Alex yang memeluknya, Kanza sudah lebih dulu memeluk laki-laki itu dengan sok berani.


Namun, yang membuat Kanza semakin gondok adalah ketika Alex memeluknya tepat di hadapan guru sekaligus wali kelasnya sendiri, Pak Ucup.


Mampus sudah diri Kanza! Entah apa yang akan terjadi padanya besok. Mungkin, Pak Ucup akan memanggil paksa kedua orang tuanya?


Enggak! Itu gak boleh terjadi!


Sekian lama saling terdiam di dalam mobil, Kanza pun mulai melirik laki-laki di sampingnya dengan tatapan sinis. Sedangkan Alex yang ditatap seperti itu hanya bersikap acuh tak acuh. Ia malah dengan tenang dan santai mengemudikan mobilnya entah ke mana.


"Kita mau ke mana?" Sahut Kanza. Raut wajahnya masih ditekuk dongkol seperti sebelumnya.


"Lo maunya ke mana?" Alex menjawab sahutan Kanza tanpa melirik sedikitpun ke arah gadis itu.


Kanza mendengus sekaligus memutar bola matanya. "Gue maunya lo turunin gue di sini!" Ucap Kanza. Sontak membuat Alex langsung menaikkan salah satu alisnya tanpa melirik pada gadis itu.


"Kenapa?"


"Lo nanya kenapa? Gue belum setuju buat masuk ke mobil lo! Dan lagi, gue masih kesel sama lo! Lo tuh nyebelin! Giliran gue bilang 'putus' aja lo langsung putar balik ngejar gue! Pas gue mohon-mohon supaya lo dengerin penjelasan gue, lo ke mana?" Kanza mengeluarkan semua kekesalannya tanpa ada yang ia tutup-tutupi. Gadis itu bahkan sampai tidak sadar sudah membuat dirinya sendiri meneteskan air matanya ketika kembali mengingat apa yang baru saja terjadi.


Alex terdiam setelah mendengar semua ocehan dari Kanza. Perlahan, Alex menolehkan kepalanya melirik Kanza untuk melihat gadis itu.


Namun, Alex langsung membulatkan matanya ketika melihat Kanza tengah menangis diam-diam sambil mengusap air matanya yang membasahi wajahnya.


"Lo nangis?" Alex panik! Sontak laki-laki itu langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan yang tampak kosong. Dan setelahnya, ia langsung melepas seat belt, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Kanza.


"Menurut lo?" Kanza memberanikan dirinya menatap Alex yang masih terlihat panik ketika menatapnya. Sepasang bola mata gadis itu sudah hampir memerah dengan deru napasnya yang mulai tidak beraturan.


"Lo gak tahu apa aja yang udah gue rasain selama di kehidupan ini! Gue mati-matian nutupin identitas gue yang sebenarnya, biar apa? Biar gak ada seorang pun yang bertindak seenaknya sama gue!" Kanza menjeda kalimatnya untuk menarik napasnya yang hampir tersengal.


"Lo gak pernah ngerasain gimana rasanya dikatain anak pungut, cuma gara-gara gue sama sekali gak mirip sama kembaran gue sendiri!" Ucapnya lagi. Alex yang mendengarnya hanya bisa terdiam seraya menunggu ucapan lain yang mungkin saja masih ingin dilontarkan oleh Kanza.


"Dikatain caper, lah. Cuman pengen dipandang tinggi, lah. Lo pikir gue gak trauma? Bahkan, gue sering dapet perlakuan keji dari mereka yang pura-pura baik sama gue cuma buat bisa dideketin sama kembaran gue!" Tangis Kanza kembali pecah. Air mata gadis itu pun luruh begitu saja, tidak peduli siapa yang tengah bersamanya saat ini.


"Tapi lo? Sedikitpun lo gak mau dengerin penjelasan gue, dan yang lo lakuin hanya marah dan ngejauhin gue!"


"Gue pikir, selama ini perasaan lo ke gue cuma palsu. Makanya sikap lo kayak tadi." Kanza tertawa miris di akhir kalimat yang ia lontarkan. Tak lupa, gadis itu pun mulai mengusap kasar air matanya yang membasahi hampir seluruh wajahnya.


Alex masih terdiam di tempatnya. Tatapan matanya berubah sendu tanpa teralihkan sedikitpun dari gadis itu.


Dalam hati Alex yang terdalam, ia sangat-sangat menyesal telah marah pada gadis itu tanpa tahu alasan apa yang membuatnya rela mati-matian menutupi identitasnya itu.


Alex benar-benar merasa menjadi laki-laki pengecut yang meninggalkan kekasihnya tanpa mendengarkan terlebih dahulu alasannya.


"Maaf." Alex menarik Kanza ke dalam pelukannya seraya membisikkan kata tersebut dengan tulus.


"Harusnya gue gak kayak gitu dan marah sama lo. Gue emang pengecut, seperti yang lo bilang." Bisiknya lagi. Mampu membuat Kanza semakin tidak dapat mengontrol dirinya sampai pada akhirnya, gadis itu menangis sesenggukan di pelukan Alex.


Cukup lama Kanza menangis di pelukan Alex, gadis itu pun mulai menjauhkan dirinya dari laki-laki itu seraya mengusap kasar sisa air mata yang masih menempel di wajahnya.


Pikirnya, kenapa dirinya bisa sampai menangis seperti itu, sih? Benar-benar memalukan.


"Gue mau pulang." Gumam Kanza dengan fokus gadis itu yang mengarah pada kaca mobil di sebelahnya.


Alex tidak bisa menolak apalagi berkomentar. Laki-laki itu hanya mengangguk seraya kembali menyalakan mobilnya untuk mengantar Kanza pulang seperti apa yang diinginkan oleh gadis itu.


...****...


Hari yang semakin sore dan langit yang mulai berwarna jingga keemasan menjadi pemandangan paling menyejukkan mata bagi siapa pun yang menyaksikannya.


Namun, semua itu tidak berlaku bagi seorang laki-laki berusia tujuh belas tahun yang tengah berdiri tegap di atas atap rumah sakit seraya menyesap gulungan tembakau yang sebelumnya ia beli dari sebuah mini market.


Tatapan matanya yang kosong mengarah pada pemandangan matahari terbenam di ufuk barat tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari sana.


Laki-laki itu tidak sedang mengagumi sang mentari yang perlahan mulai kehilangan posisinya. Ia hanya sedang memikirkan seseorang yang hampir begitu lama tidak ia dengar kabar tentangnya.


"Kak Haykal!" Sahutan nyaring dari arah belakang sana mampu mengalihkan perhatian laki-laki itu sampai membuatnya seketika menoleh.


Ya. Laki-laki itu adalah Haykal. Sudah lama ia tidak ada kabar dalam beberapa hari ini. Ia terlalu sibuk mengurusi keperluan sang mama yang masih dirawat di rumah sakit akibat kecelakan yang menimpanya tempo hari.


Haykal mengepulkan asap rokok dari dalam mulutnya. Tatapan matanya kembali menatap pada pemandangan matahari terbenam di depan sana. Sedangkan seseorang yang baru saja memanggilnya, ia langsung berlari menghampiri Haykal kemudian berdiri tepat di samping laki-laki itu. Dan dia adalah Zidan, adik bungsu Haykal.


Zidan menatap polos raut wajah sang kakak dari samping ketika setibanya anak itu berada di samping kakaknya.

__ADS_1


Sedangkan Haykal yang merasa sedikit risi ditatap seperti itu oleh adiknya hanya melirik sekilas seraya terus menyesap ujung rokok tersebut sampai asapnya mulai mengepul di udara.


"Kenapa? Mau?"


Zidan refleks memalingkan wajahnya ketika mendengar tawaran dari sang kakak. Anak itu dengan cepat menggelengkan kepalanya seraya memanyunkan bibirnya.


"Gak dibolehin sama Mama." Ucapnya. Membuat Haykal sontak tertawa kecil, kemudian membuang rokok tersebut yang tinggal separuh.


"Bagus, deh. Jangan kayak gue, ya. Sekali lo kenal rokok, lo gak akan bisa berhenti." Haykal mengalihkan perhatiannya kepada Zidan. Sebelah tangannya pun terangkat untuk mengelus perlahan pucuk kepala adiknya.


Zidan mengerang kesal karena selalu diperlakukan selayaknya seorang anak kecil oleh sang kakak. Ia pun dengan refleks menepis tangan Haykal dari atas kepalanya. Tak lama kemudian, otak kecilnya mulai memikirkan sesuatu yang sempat tertunda karena melihat kakaknya tadi yang tengah merokok.


"Emm... Kak! Kata Dokter, Mama bentar lagi bisa pulang, lho, Kak!" Ucapnya. Perhatiannya pun kembali menatap pada Haykal yang masih berdiri di sampingnya.


"Serius? Bagus, deh. Biar gue bisa langsung pulang."


Zidan mengernyit seraya terus memokuskan dirinya pada Haykal yang terlihat biasa saja. "Kakak mau langsung pulang? Gak mau nemenin Mama?"


"Gue masih punya kehidupan Di Jakarta. Lo pikir gue gak punya urusan? Nakal-nakal gini, gue masih harus sekolah." Jelas Haykal. Sontak membuat bibir anak laki-laki itu langsung mengerucut sebal.


"Tapi, kan, ini Mama, Kak. Masa Kak Haykal tega, sih."


Haykal sempat terdiam ketika mendengar gumaman kecil dari mulut Zidan. Namun, persekian detik berikutnya, laki-laki itu mulai mengembangkan senyuman miris ketika ingatan suram masa kecilnya melintas begitu saja.


"Dia aja dulu tega nitipin gue sama Bang Rey ke Papa. Padahal dia tahu temperamen Papa kayak gimana." Gerutu Haykal seraya terkekeh sinis.


Zidan menunduk sedih. Dalam hatinya yang terdalam, ia merasa bersalah karena hanya dirinya yang dapat tinggal bersama sang mama.


"Zidan jadi kangen sama Kak Rey." Gumamnya. Sontak Haykal langsung merangkul pundak Zidan seraya mengusapnya perlahan.


"Gak usah sedih. Doain aja yang terbaik. Semoga Bang Rey tenang di sana."


...****...


Seorang gadis dengan hanya mengenakan setelan kaos polos lengan pendek berwarna lilac, dengan dipadukan celana pendek selutut berwarna putih, tampak melamun di atas ayunan yang berada tepat di depan rumahnya.


Gadis itu dengan rambut panjangnya yang sedikit bergelombang ia cepol ke atas. Wajahnya pun tampak natural tanpa polesan make-up sedikitpun.


Oh, ya. Jangan lupakan sebuah kacamata anti radiasi yang bertengger manis di tulang hidungnya.


"Huft... Kok, gue kepikiran terus, ya, sama ucapannya Si Kenzo waktu itu?" Gadis itu bergumam sendirian seraya memainkan ayunan tersebut perlahan.


Dan, ya. Gadis itu tak lain adalah Wanda. Setelah mendengar pernyataan cinta tempo hari dari Kenzo, dan ia yang langsung menolak cinta dari laki-laki itu saat itu juga membuatnya terus kepikiran sampai detik ini.


Entahlah. Hatinya terasa begitu kosong, apalagi yang biasanya di jam-jam seperti ini dirinya sering mendapat pesan spam dari Kenzo yang dengan bawel terus menanyai soal kabarnya.


Namun sekarang, mereka malah terasa canggung. Sekalipun Kenzo tidak pernah mengiriminya pesan lagi semenjak Wanda menolak laki-laki itu.


Sejujurnya, Wanda sedikit memiliki perasaan pada Kenzo. Tetapi ketika mengingat kembali bahwa keduanya dari generasi yang berbeda membuat Wanda kembali berpikir ulang.


Jika pun Wanda berpacaran dengan Kenzo, bagaimana dengan pendapat dari kedua orang tua laki-laki itu ketika mengetahui anak laki-laki mereka mengencani seorang gadis yang lebih tua darinya?!


Huft... Lagi dan lagi Wanda hanya dapat mengembuskan napasnya. Gadis itu masih saja melamunkan dirinya sendiri sampai tidak menyadari kehadiran sebuah mobil berwarna merah menyala mendatangi area sekitar pekarangan rumahnya.


"Wan!" Suara sahutan dibarengi dengan suara klakson mobil sontak mengenyahkan Wanda dari lamunannya.


Kedua bola mata gadis itu refleks membulat kala menyadari kedatangan seseorang yang selama beberapa waktu ini terus berada dalam pikirannya.


"L-lo kapan sampe?" Wanda bangkit dari ayunan, kemudian berjalan menghampiri Kenzo yang terlihat menutup rapat pintu mobilnya.


"Satu abad yang lalu!" Celetuk Kenzo membuat Wanda sontak mengernyitkan dahinya. "Ya, kali. Barusan, lah. Lo-nya aja yang sibuk ngelamun." Ralat Kenzo yang hanya dibalas 'oh' saja oleh Wanda.


"Terus, lo mau ngapain ke sini?"


Kenzo langsung memasang seringaian di wajahnya, kemudian berjalan menghampiri Wanda sampai membuat gadis itu terkejut sehingga refleks memundurkan langkah kakinya.


"Gue anggap penolakan lo waktu itu gak pernah terjadi."


"H-hah?" Wanda terus memundurkan langkah kakinya ketika Kenzo masih saja terus berjalan ke arahnya dengan sepasang matanya yang senantiasa menatap lurus seolah menyiratkan suatu hal.


"Dan, satu hal yang harus lo tahu." Kenzo menghentikan langkah kakinya seraya menjeda kalimatnya membuat Wanda juga ikut menghentikan langkah kakinya.


"Gue, Kenzo Jiran Bagaskara, gak akan nyerah buat dapetin lo." Ucapnya. Sebuah seringaian kembali terbit di wajah laki-laki itu. Dan yang dapat Wanda lakukan hanyalah bengong seraya membulatkan kedua matanya tidak percaya.


"By the way, gue bawa makanan buat lo sama Nyokap lo." Dalam waktu yang singkat, Kenzo langsung mengubah raut wajahnya menjadi tersenyum ceria seraya berjalan kembali ke arah mobilnya untuk mengambil beberapa bungkus makanan yang sempat ia beli beberapa saat yang lalu di perjalanan menuju ke mari.


Wanda mulai mengembuskan napas lega sesaat setelah Kenzo menjauhkan diri darinya. Demi apa pun, jantungnya sempat berdegup kencang sesaat ketika laki-laki itu berjalan mendekat ke arahnya dengan tatapan yang baru kali ini ia lihat dari seorang cowok bernama Kenzo.


Wanda pikir, laki-laki itu hanya memiliki ekspresi dan tingkah konyol serta pede akut saja. Ternyata Kenzo juga memiliki sisi lain yang seperti tadi. Benar-benar diluar dugaannya.


"Eh, Nyokap lo di mana? Kok, gak kelihatan?" Suara sahutan yang tak lain berasal dari Kenzo seketika langsung membuyarkan berbagai pemikiran Wanda.


Perhatian gadis itu pun kembali pada Kenzo. Dengan langkah perlahan, ia kembali berjalan menghampiri Kenzo seraya berdaham untuk menghilangkan sedikit kecanggungannya.


"Ngapain lo nanyain Nyokap gue?"


"Ada, deh." Balasnya misterius, membuat Wanda seketika kembali mengerutkan keningnya.


"Nih. Jangan lupa dihabisin, ya. Gue mau langsung pulang soalnya." Kenzo memberikan satu kantung keresek penuh berisi makanan serta camilan pada Wanda.


Gadis itu kembali dibuat terkejut oleh cowok bernama Kenzo. Bisa-bisanya laki-laki itu memberikannya setumpuk makanan sebanyak ini?


Masalahnya, kantung kereseknya ini ukuran jumbo, dan isinya sangat banyak. Apa-apaan coba? Mau bikin Wanda obesitas?


"I-ini gak kebanyakan?" Wanda menatap heran pada Kenzo. Gadis itu sudah tidak mengerti lagi dengan jalan pemikiran orang kaya. Bisa-bisanya sekali belanja udah kek ngeborong setoko gitu aja.


"Ini buat stok sebulan. Isinya enggak cemilan semua, kok. Entar di dalem lo buka aja satu-satu. Gue mau langsung pulang, yah." Kenzo mengembangkan senyuman manisnya setelah selama beberapa hari ini tidak ia perlihatkan pada Wanda.


Wanda tidak dapat mengelak kalau senyuman dari cowok bernama Kenzo ini gantengnya bukan main. Gak heran orangnya sering kepedean gitu.


"Ta-tapi—"


"Kenapa? Lo masih kangen sama gue? Lo mau gue nginep? Boleh. Tapi jangan sekarang. Gue masih ada urusan soalnya." Kenzo berucap nyerocos tanpa henti membuat Wanda hampir dibuat salah tingkah.


Nih, cowok kenapa, sih?


"Bu-bukan itu maksud gue!" Wanda hendak menjelaskan suatu hal yang mungkin disalahpahami oleh Kenzo.


Namun, cowok itu dengan santainya malah memasuki mobilnya seraya menghidupkan mesin. Dan setelahnya, ia melesatkan mobilnya begitu saja setelah persekian detik sebelumnya ia menyempatkan diri tersenyum manis pada Wanda.

__ADS_1


"Woi! KENZO! LO GILA, YA!?" Pekik Wanda. Tak sedikitpun membuat laki-laki itu menghentikan mobilnya apalagi sampai putar balik.


...****...


Pagi hari yang menyilaukan mata, tepatnya pukul 7 lewat 5 menit, Kanza tiba di sekolah dengan keadaan murung. Gadis itu masih memikirkan apa yang telah terjadi kemarin sore ketika tengah berduaan bersama Alex di dalam mobil.


Mohon maaf, ini bukan soal hal yang ambigu, ya!


Hanya saja, Kanza merasa sedikit malu setelah apa yang ia ucapkan soal masa lalunya, apalagi saat ia menangis sesenggukan di pelukan Alex hanya karena ingatan masa lalu yang begitu kejam kembali melintasi pikirannya.


Kanza menarik napasnya dalam-dalam mencoba untuk mengenyahkan pikirannya tersebut. Ia tidak ingin pagi hari yang tampak begitu cerah ini berubah menjadi mendung hanya karena moodnya yang tidak seperti biasanya.


Kanza memilih melanjutkan langkah kakinya sampai ke dalam kelas XI IPS 4 yang berada di lantai tiga. Ketika sesampainya gadis itu di dalam kelas, ia dengan lesu menaruh tas sekolah di atas meja yang telah menjadi miliknya selama sebulan lebih bersekolah di SMA Naruna.


Beberapa siswa dan siswi yang datang lebih awal ke kelas tersebut menatap heran Kanza yang terlihat murung seperti memiliki beban hidup yang ia tanggung di atas pundaknya.


Namun, mereka memilih acuh tak acuh. Karena pada dasarnya, mereka memang tidak dekat dengan Kanza.


Alasannya sangat klise. Kanza terlihat seperti gadis jutek yang susah didekati, itulah pendapat mereka. Padahal, sampul tak selamanya mencerminkan hal yang sama dengan apa yang baru dilihat.


Contohnya ya, Kanza. Dari luar kelihatannya memang jutek, tapi aslinya ia adalah gadis rapuh yang menyembunyikan rasa sakitnya lewat tawa dan kekonyolan yang hanya diperlihatkan pada orang terdekatnya saja.


Tak ingin berlama-lama di dalam kelas, Kanza pun memutuskan untuk keluar mencari udara segar. Sekalian menunggu kedua sahabatnya, Alma dan Kayla yang belum juga terlihat batang hidung mereka.


Dari lorong kelas sebelah, tepatnya lorong kelas XI IPS 3, sepasang gadis terlihat saling berbisik satu sama lain dengan perhatian mereka yang sesekali terarah pada Kanza.


Tak lama setelah saling berbisik, kedua gadis itu pun akhirnya memutuskan untuk menghampiri Kanza dengan langkah kaki sedikit terburu-buru.


"Hai! Lo pasti Kanza, kan?" Salah satu gadis yang menghampiri Kanza mulai membuka suara. Seberusaha mungkin mereka tidak terlihat gugup ketika Kanza mulai mengalihkan perhatiannya pada mereka.


"Kenapa?" Kanza menatap datar kedua gadis di hadapannya. Pikirnya, Kanza tidak pernah bertemu apalagi mengobrol dengan mereka.


Lantas, kenapa kedua siswi kelas sebelah ini terlihat seperti sok akrab pada Kanza?


"Ehm. Itu, lho!" Gadis yang satunya lagi seakan ikut unjuk bicara, namun gelagatnya terlihat kaku dan mencurigakan.


Kenapa, sih?


"Ekhem. Gini. Lo, kan, saudara kembarnya Kenzo. Iya, kan? Bisa kasih tahu gue gak, kesukaannya dia apa?"


"Hah?" Kanza mengerjapkan kedua matanya beberapa saat. Perkataan dari gadis tak dikenalnya itu sukses membuat Kanza merasakan de javu.


Dengan perasaan gugup, sebisa mungkin Kanza tersenyum tipis walaupun terlihat kaku. "Ke-kenapa kalian nanyain itu?"


Kedua gadis itu tampak saling pandang. Tak lama setelahnya, perhatian keduanya kembali pada Kanza.


"Yaa, lo pasti tahulah! Fans-nya Kenzo tuh banyak di sekolah ini! Banyak cewek-cewek yang ngantre cuma buat dapetin hatinya doang. Atau paling-paling jadi mantan yang pernah deket sama dia aja? Pasti cewek-cewek udah pada seneng!" Ucapnya, membuat Kanza langsung terdiam dengan pemikiran yang kembali melayang pada ingatan masa lalunya.


Ya. Ini benar-benar persis seperti yang pernah terjadi di masa lalu. Orang-orang akan mendekati Kanza, berpura-pura baik dengan embel-embel ingin berteman dengannya, namun pada akhirnya mereka akan pergi begitu saja setelah rencana mereka untuk bisa dekat dengan Kenzo gagal.


"Za! Kok, lo diem, sih?" Gadis itu melambai-lambaikan tangannya di hadapan Kanza yang tampak bengong.


"Eh? *S*orry! Kenzo..." Kanza tidak dapat melanjutkan ucapannya. Semua hal yang hendak ia utarakan seolah tertahan begitu saja di kerongkongannya.


"Iya? Apa aja yang dia suka?"


"Emm..." Kanza semakin sulit untuk mengatakannya. Kedua bola mata gadis itu bahkan terus mengerjap beberapa saat dengan kedua telapak tangannya yang mulai berkeringat dingin.


"Kenzo—"


"Kanzakuuuu!" Pekikan manja dari arah lain sontak membuat Kanza refleks menghela napas lega.


Diliriknya ke belakang, Alma dengan raut wajah sok menyedihkan berlari ke arah Kanza, kemudian memeluk salah satu lengan sahabatnya seraya bermanjaan di sana.


"Kanzaaa... Di dunia ini, cuman lo sahabat gue. Si Kayla udah gak peduli lagi sama gue, huhuu..." Alma merengek seraya mendusel-duselkan kepalanya di bahu Kanza.


Sedangkan Kanza dan kedua gadis yang tidak diketahui namanya, hanya menatap Alma keheranan.


"Lo gak pa-pa?"


Alma refleks mendongakkan kepalanya menatap Kanza. "Tuh, kannn. Cuma lo sahabat gue yang paling perhatian! Udah, ah. Ke kelas, yuk!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Alma langsung menarik Kanza sampai ke dalam kelas.


Kanza yang ditarik seperti itu jelas gelagapan. Tadinya ia masih hendak berbicara dan membahas suatu hal dengan kedua gadis itu, namun semuanya langsung digagalkan oleh Alma.


Sejujurnya, dalam hati Kanza yang terdalam, ia merasa bersyukur di saat-saat seperti tadi, Alma datang dan membuatnya terbebas dari pertanyaan kedua gadis itu yang bisa saja membuat Kanza semakin mengingat luka masa lalunya.


Di tempat kedua gadis dari kelas sebelah itu, mereka berdecih seraya menatap sinis kepergian Kanza dan juga Alma. Kedua gadis itu tampak bergumam kesal seraya kembali menuju kelas mereka.


"Bener, ya, kata beberapa akun gosip di sekolah. Si Kanza orangnya agak gimana gituh? Kek gak ngebolehin kita buat deket sama Kenzo! Ya, gak, sih?"


"Emang dasarnya aja cewek pelit! Ditanya gitu doang juga sombong. Itu yang baru dateng Si Alma juga sama aja. Ngeselin."


^^^To be continue....^^^


Spoiler next eps>>>


"Kapan lo mau maafin gue?" Tanya Alex yang berdiri tepat di samping Kanza seraya terus unjuk hormat pada bendera merah putih yang berada di atas sana.


"Lo mau gue maafin?"


"Iyalah. Gak enak seharian didiemin sama pacar sendiri."


Kanza menaikan salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian. "Jajanin gue di mall sepuasnya pas pulang sekolah!"


Alex terkekeh kecil, kemudian menatap sepasang bola mata Kanza yang juga tengah menatapnya. "Gitu doang?"


"Heh. 'Gitu doang' lo bilang? Awas, entar lo nyesel lagi!"


"Cuman jajanin pacar doang di mall mah gampang! Kalo lo mau, habisin sekalian saldo ATM gue!" Ucap Alex dengan bangga.


Ia tidak mengetahui hal buruk apa yang akan terjadi padanya nanti yang telah direncanakan khusus oleh Kanza.


Sudah update!!!


Seperti biasa updatenya lama, menyebalkan ya:(


But, eps nya msh senantiasa tetep panjang kok. 3600+ kata lebih lho ini:*


Oh, ya. Aku juga mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idil Adha🤗 khusus bagi kalian yang menjalankan tentunya, ehee. Klo begitu, smpai jmpa di next eps:*

__ADS_1



__ADS_2