Yes! We Are Twins

Yes! We Are Twins
Eps. 7


__ADS_3

"Monika. Anak XI IPS 1 yang terkenal cewek paling alay, paling lebay, dan paling rempong seantero SMA Naruna. Pacarnya si Kenzo!"


Sedari tadi, Kanza tidak bisa fokus dalam pelajaran yang diberikan guru hanya karena perkataan Alma beberapa waktu lalu di kantin.


Gadis itu masih tidak percaya tentang kembarannya, si Kenzo, yang ternyata punya banyak cewek di sekolah ini. Tapi, gak heran juga sih! Tampangnya aja tengil begitu.


Semakin memikirkan Kenzo, pikiran Kanza semakin susah untuk fokus. Sehingga pada akhirnya, gadis itu memilih izin pergi ke kamar mandi, setelah mendapat izin dari Pak Ilham, guru PKn kelas sebelas.


"Huuftt... bisa gila gue, kalo masih mikirin tuh anak!" Kanza bergumam kecil, ketika setibanya gadis itu di salah satu bilik di toilet sekolah.


Gadis itu tampak mencuci kedua tangannya, lalu membasuh wajah. Karena Kanza tipikal cewek yang suka make-up dikit-dikit, sekalian saja gadis itu juga memakai kembali riasannya.


Tidak perlu banyak-banyak, apalagi tebal-tebal. Kanza hanya memakai krim siang dan bedak yang sebelumnya ia masukkan ke dalam saku roknya. Dan untuk sentuhan terakhir, Kanza memakai lipbalm agar bibirnya tidak terlihat kusam.


Setelah merasa selesai, gadis itu mulai keluar dari bilik toilet. Namun, belum sempat Kanza meninggalkan toilet, pintu toilet yang berhadapan dengan yang baru saja ia pakai terbuka. Menampilkan sesosok lelaki berparas tampan, bertubuh tinggi, yang sepertinya habis mencuci wajahnya.


Kanza sempat terpesona akan makhluk ciptaan Tuhan di hadapannya ini. Namun dengan segera, Kanza tersadar akan suatu hal yang menurutnya sedikit aneh.


"Heh! Kok, lo ada di sini!?" Kanza menyahut pelan, membuat cowok itu yang tadinya masih mengelap wajahnya dengan tisu, langsung tersentak seraya menatap Kanza dengan kedua bola matanya yang membulat.


"Lho? Lo Kanza, kan? Kenapa lo ada di sini?" Kanza mengernyitkan dahinya merasa heran.


Gue yang nanya, kok balik nanya?- pikirnya.


"Gue di sini mau cuci muka!" Ujar Kanza, menjawab pertanyaan cowok itu yang tak lain adalah Alex, murid laki-laki yang tinggal di satu kelas dengannya. Dan juga salah satu antek-anteknya Kenzo.


"Lha, gue juga!" Balas Alex, namun setelahnya, raut wajah cowok itu terlihat berpikir serius. "Tunggu! Lo tahu, kan, kalo ini sebenarnya toilet cowok?"


Deg!


Kanza membulatkan kedua matanya seraya menatap horor cowok di hadapannya. Jantungnya pun seakan berhenti berdetak sesaat setelah Alex mengatakan kalimat itu barusan. Kanza tentu saja dibuat kaget luar biasa. Memangnya, ini benaran toilet cowok!?


Tunggu, apa???


"Hah!? T-toilet cowok?!" Ulang Kanza, memastikan.


"I-" Baru saja Alex hendak menjawab serta menjelaskan kembali pertanyaan dari gadis di hadapannya, suara riuh beberapa siswa laki-laki dari luar sana yang sepertinya hendak memasuki toilet, membuat sepasang remaja itu panik luar biasa.


"Mumpung gak ada guru, ngerokok ah... Sekalian solooo..."


"Buseett!!! Ajakin cewek lo napa, biar gak solo mulu!"


"Gak, ah! Gak tega gue. Dianya masih polos!"


"I-ituu... me-mereka mau ke-" belum sempat Kanza menyelesaikan ucapannya, Alex sudah mendorong gadis itu masuk kembali ke dalam bilik toilet, bersama dengan cowok itu sekali.


Kanza tentu saja kembali dibuat terkejut. Apalagi ketika beberapa siswa nakal yang tadinya masih mengobrol di luar toilet, kini mereka semua sudah memasuki toilet dan mulai kembali mengobrol dengan nada suara yang cukup keras.


Alex dan Kanza yang masih berada dalam satu bilik toilet yang sama saling bernapas lega. Keduanya mulai saling pandang dengan kikuk, karena perkenalan mereka harus diawali dengan cara seperti ini.


Sungguh memalukan!


Bisa-bisanya Kanza salah masuk toilet!? Bagaimana kalau tadi ada yang melihatnya berada di satu tempat yang sama dengan Alex? Dan, di toilet?! Sudah pasti, mereka akan dituduh melakukan sesuatu, apalagi oleh para siswa nakal itu yang pada saat ini tengah berpoya-poya di toilet.


Jika saja Alex tadi tidak segera membawanya masuk ke bilik toilet ini, entah apa yang akan terjadi. Mungkin, gosip yang tidak mengenakan akan segera meluncur, mengingat kalau sekolah barunya saat ini tidak jauh berbeda dengan sekolahnya dulu di SMA Melati.


"Lo gak pa-pa, kan?" Alex berbisik, setelah keduanya cukup lama terdiam.


"Eh? Gu-gue gak pa-pa!" Ucap Kanza. Suaranya terdengar cukup lantang, sehingga membuat anak-anak nakal yang sedang mengobrol di luar toilet langsung hening, tak ada yang bersuara. Sepertinya, mereka mendengar suara Kanza.


Demi apa pun, Kanza gugup tadi, sampai dirinya lupa kalau ia dan seseorang sedang mencoba bersembunyi di sini. Kenapa juga mulutnya ini tidak bisa dikontrol, hah? Emang dasarnya bar-bar, di waktu seperti ini pun, jiwa bar-barnya tetap tidak bisa dihilangkan.


"Eh! Lo semua barusan pada denger suara cewek, kan?" Kanza melotot, lalu mulai melirik pada Alex yang juga tengah meliriknya.


"Ho'oh. Tapi, masa ada cewek di sini? Ini kan, toilet cowok!"


"Jangan-jangan..."


"Cek toiletnya satu-satu! Takutnya ada yang nguping, terus dilaporin ke guru!"


Karena gugup, Alex yang tadinya belum sempat mengunci pintu toilet pun buru-buru menguncinya dari dalam. Otomatis anak-anak nakal itu langsung tertuju pada satu bilik pintu.


Alex mendesis seraya menjengut rambutnya menjadi acak-acakan. Sepertinya mereka ketahuan. Siallll!!!


"Periksa!"


Alex dan Kanza semakin kewalahan. Mereka harus melakukan apa dan bilang apa, jika keduanya ketahuan? Dan, apa yang akan mereka pikirkan soal dirinya dan seorang gadis berada di dalam satu toilet yang sama dengannya?


"Woi, buka woii!!! Gua tahu, lo ada di dalem sana! Buka!!!" Pintu toilet sudah diketok kasar dari luar. Alex dan Kanza semakin dibuat dag-dig-dug, bingung harus berbuat apa.


"Ki-kita harus gimana!!!" Kanza menarik ujung seragam Alex, sambil menggigiti salah satu jemarinya.


Sedangkan Alex, cowok itu terlihat sedang berpikir, namun raut wajahnya terlihat sama tegangnya dengan Kanza.


"Gua ada ide!" Pungkas Alex pada akhirnya. Raut wajah Kanza yang semula tegang, perlahan mulai sirna. "Apa? Ide apa?"


"WOIII!!! BUKA PINTUNYA, SEBELUM KITA DOBRAK!"

__ADS_1


Raut wajah Kanza kembali tegang. Teriakan ancaman dari luar sana membuatnya kembali dilanda rasa takut.


"Tapi janji, lo harus mau!" Ujar Alex.


"I-iya, apa?" Tuntut Kanza, kemudian Alex membisikan sesuatu ke telinga gadis itu.


"Ap-" Kanza hendak kembali memekik, namun dengan segera Alex membekap mulut gadis itu.


"Suttt... jangan kenceng-kenceng!" Kanza sebisa mungkin melepaskan tangan Alex dari wajahnya.


"Ish! Lo gila?"


"Lo cuman bersuara, gak lebih! Gue jamin, mereka bakal berhenti lalu pergi dari sini!" Ujar Alex.


Suara teriakan serta dobrakan pintu di luar sana semakin menjadi. Kanza bingung, juga malu! Masa iya, dirinya harus...?


"Ta-tapi, Ah!"


Suara teriakan serta dobrakan di luar sana mendadak hening. Perlahan, terdengar suara tawaan mereka dan juga seruan heboh anak-anak nakal tadi. Beberapa dari yang lain pun memutuskan untuk keluar dari toilet.


"KIRAIN SIAPA! BILANG KEK BOS, KALO LAGI ***-***! KAN, GAK AKAN KITA GANGGUIN JUGA! YE, KAN?"


"Yo'iii!!!"


"Kuylah, cabut. Kesian jan diganggu. Lagi klimaks!"


"Anjaaay..."


Dan setelah suara keributan terakhir itu, keadaan di luar bilik toilet benar-benar sunyi, hanya karena Kanza refleks bersuara, gara-gara Alex yang mencubit tangannya cukup keras.


Sakit, sih. Tapi sepadan lah, sama anak-anak nakal tadi yang tidak jadi memergoki keduanya.


Alex dan Kanza pun memutuskan keluar dari bilik toilet. Sebelum benar-benar meninggalkan toilet, keduanya memerhatikan sekeliling terlebih dahulu untuk berjaga-jaga.


Merasa aman, keduanya pun keluar dari sana dengan napas lega.


...****...


Bel pulang sekolah berbunyi, bertepatan dengan Kanza dan Alex yang memasuki ruang kelas.


Beberapa murid yang melihat kedatangan keduanya tentu saja sedikit kesal. Ada yang kesal karena Kanza dan juga Alex tidak mengikuti pelajaran hampir setengah jam di detik-detik terakhir, ada juga yang kesal karena sepertinya start mereka untuk mendekati Kanza sudah direbut duluan oleh Alex. Begitupun sebaliknya.


"Mereka abis dari mana? Kok masuk kelasnya bareng?" Seorang siswi dari bangku paling belakang berbisik pada teman sebangkunya.


"Mana gue tahu. Lo kira gue cenayang?" Sarkasnya, lalu perbisikan antar teman sebangku berhenti sampai di sana.


"Ya sudah, karena jam Bapak memang sudah habis, Bapak mau pulang dan kalian semua juga boleh pulang." Ujar Pak Ilham, kemudian melenggang keluar kelas tanpa memedulikan beberapa muridnya yang hendak menghampiri untuk memberinya salam.


...****...


Tapi ya, tetap saja mukanya kek orang mau ngajak ribut. Emang ya, si Kenzo ini gak mau banget sama yang namanya berhubungan lebih sama Kanza. Padahal kan, mereka saudaraan. Segitu gengsinya, hm.


Sebenarnya, Kanza juga males sih, kalau harus satu mobil bersama cowok tengil itu. Tapi, yah, mau gimana lagi? Dari pada nungguin supir pribadi Kanza yang gak pasti datangnya kapan, mendingan sama si Kenzo aja.


"Zo!" Kanza memanggil kembarannya yang tampak masih cemberut ketika menyetir mobil.


Oke. Sepertinya dia masih tidak terima kalau Kanza satu mobil dengannya.


"Kenzo, iiihhh!" Kanza kembali memanggil nama cowok itu.


Namun, bukannya mendapat jawaban, Kenzo malah berdecak, seraya melirik sekilas pada kembarannya.


"Berisik banget sih, lo! Diem aja, napa."


Kanza spontan mengerucutkan bibirnya, lalu membuang mukanya ke arah kaca mobil. Bibirnya berkomat-kamit menyumpah serapah Kenzo.


"Lo tuh aneh!" Ucapan yang terdengar dari mulut Kenzo, spontan membuat Kanza menoleh bingung.


"Lo sendiri yang bilang harus jaga rahasia tentang status hubungan kita. Terus, kenapa lo maksa mau pulang bareng gue? Gimana kalo sampe ada yang lihat tadi!?" Seperti biasa, Kenzo selalu berucap merentet ketika sedang kesal. Bawel memang. Sama seperti papinya, Kenan.


"Iyaaa, tapi kan tadi di parkiran lagi sepiiii," Kenzo spontan melirik Kanza serta menaikkan salah satu alisnya. "Kayaknya bukan itu deh, yang mau lo omongin. Coba, mending lo jujur aja! Ngapain lo maksa-maksa mau pulang bareng gue?"


Kanza mengerucutkan bibirnya lagi, ketika Kenzo mulai menuntutnya dengan pertanyaan lain. Dan mau tidak mau, Kanza harus jujur. Jika tidak ingin terus mendengar kebawelan Kenzo yang tiada ujungnya.


Kanza membuang napasnya kasar. "Sopir yang harusnya jemput gue, lagi gak bisa jemput. Katanya sih, salah satu ban mobilnya ada yang bocor." Ujar Kanza, memulai penjelasan.


"Itu doang? Gue yakin seratus persen, pasti alesannya bukan cuma itu aja!" Kata Kenzo, membuat Kanza meringis.


"Fine! Mobilnya mogok! Makanya gue minta lo buat pulang bareng, puas lo!" Kanza pasrah pada akhirnya. Sementara, Kenzo hanya berdecih sebal, seraya terus mengemudikan mobilnya sampai pada akhirnya, mobil yang dikendarai Kenzo telah tiba di depan gerbang besar yang perlahan mulai terbuka seakan menyambut kedatangannya.


"Thank you, My Brother!" Ucap Kanza. Setelah mobil milik Kenzo telah berhenti sepenuhnya di halaman luas rumah mereka.


"Tunggu!" Kenzo menghentikan pergerakan Kanza yang hendak membuka pintu mobil di sebelahnya.


Gadis itu lantas mengalihkan fokusnya pada Kenzo yang terlihat sedang membuka seatbelt, lalu membuka pintu mobil. Namun, cowok itu belum juga keluar dari mobil.


"Apaan si?" Kanza yang gemas, karena sedari dia menunggu Kenzo, cowok itu tidak menjawab, dan malah menatapnya dengan tatapan sok serius.

__ADS_1


Kan jadi merinding.


"Enggak. Gue cuman bilang 'tunggu', ngapain lo nurut." Kenzo tersenyum miring seraya keluar dari mobil dengan santainya.


Sementara Kanza, gadis itu dibuat menganga tidak percaya. Dasar Kenzo nyebeliiinnn!


Dengan penuh kekesalan, Kanza pun keluar dari mobil seraya menghentak-hentakkan kakinya, sebagai perwujudan kekesalannya yang teramat pada seorang Kenzo Jiran Bagaskara.


...****...


"Eh, Den Kenzo udah pulang?" Suara Bi Asih yang sedang menyapu lantai di ruang tengah, seakan menyambut kedatangan Kenzo.


"Mami mana, Bi?" Tanya Kenzo, ketika dirinya menduduki salah satu sofa panjang di ruang tersebut.


"Oh, kalau enggak salah mah, Nyonya lagi pergi sama temennya." Kata Bi Asih. Kenzo hanya mengangguk paham.


"Eh, Non Kanza juga udah pulang?" Perhatian Bi Asih beralih pada Kanza yang hendak menaiki tangga.


"Udah, Bi. Pulangnya barengan sama tuh makhluk," balas Kanza yang diakhiri menyindir Kenzo.


Kenzo berusaha untuk tidak membalas kali ini dan membiarkan Kanza. Namun, dilain hari, dia akan membalas dendam.


Enak aja orang seganteng Kenzo dikatain makhluk!


Emang sih, dia juga makhluk. Cuman yah, makhluk yang Kanza maksud adalah makhluk halus. Kan ngeselin.


"Apa lo liat-liat?!" Kanza menatap horor pada Kenzo yang sedang menatapnya penuh aura kebencian.


"Gue liat, karena gue punya mata!" Balas Kenzo. Dan setelahnya, Kanza mencebikkan bibirnya dan memilih melanjutkan langkah kakinya menaiki tangga.


Bodo amat si Kenzo!


...****...


Sore hari yang terbilang sangat cerah dan mendukung bagi sebagian orang untuk berjalan-jalan, Kenzo dengan santainya tidur dengan posisi tengkurap sembari memeluk guling kesayangannya.


Cowok itu sudah tertidur dari pukul setengah 4 sore. Dan masih terlelap hingga saat ini, pukul 5 sore.


Kenzo menggeliat seraya mengerang, ketika suara dering ponselnya terdengar memekakkan telinga.


Sebelah tangannya meraba-raba salah satu nakas untuk mencari ponselnya, dengan kedua matanya yang masih sangat terpejam.


Setelah ponselnya berada di genggaman, perlahan Kenzo mulai membuka sebelah matanya. Nama Haykal Kang Mabok, tertera di layar teratas ponselnya.


"Ganggu aja lo," gumam Kenzo, sebelum dirinya mengangkat telepon tersebut yang berhasil mengganggu jiwa ketenangannya.


"Hm, apaan." Kenzo menyahut malas pada Haykal yang berada di seberang telepon.


"Eh, Bro! Apa kabar?" Suara lantang Haykal, membuat Kenzo spontan menjauhkan ponselnya.


"Berisik banget sih, lo! Gue lagi tidur, woiiii!" Pekik Kenzo, seraya mendusel-duselkan kepala dan kedua kakinya dengan kesal.


"Hah?! Lo lagi tidur, apa bangun tidur?"


"Ck. Dua-duanya." Terdengar suara kekehan geli dari seberang sana.


"Gue sama yang laen ke rumah lo nih!" Ujar Haykal, membuat Kenzo langsung membulatkan kedua matanya seraya mengubah posisi menjadi terduduk sila.


"What!? Ngapain?" Teriak Kenzo, jelas dia panik.


"Lha? Kok ngapain? Kan kita udah sepakat tadi waktu di kelas. Gimana sih,"


Kenzo menggaruk belakang kepalanya seraya berdesis pelan. Sial. Batinnya. Kenapa gue lupa? Tambahnya.


"Eh, sebenarnya kita udah sampe kok, dari lima menit lalu. Cuman yah, sengaja aja diem dulu di depan gerbang rumah lo." Kenzo kembali membulatkan kedua matanya, ketika mendengar penuturan lain dari Haykal.


Sial. Sudah sampai katanya?


"What!? Lo se-semua u-udah sampe?" Saking paniknya, Kenzo berucap tergagap. Dan jawaban dari seberang sana, mampu membuat tubuh seorang Kenzo langsung lemas.


"Iyalah. Buruan keluar. Sambut kita kek. Ye gak, Bro!"


Kenzo sempat termenung beberapa detik. Namun, detik berikutnya dia mulai sadar akan sesuatu.


"O-oke! Tungguin bentar. Gue keluar sekarang!" Ujar Kenzo, lalu menutup teleponnya.


Kenzo langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari dengan tergesa menuju ruang kamar Kanza. Dirinya benar-benar dilanda panik saat ini.


Sesampainya Kenzo di depan pintu kamar Kanza, dia menyempatkan diri untuk menarik napasnya dalam-dalam, lalu setelahnya cowok itu mulai menggedor-gedor tidak jelas pintu kamar kembarannya. Namun, tidak ada tanda-tanda akan adanya penghuni di dalam sana.


"Ck, KANZA!" teriak Kenzo. Dan yang datang bukannya Kanza, malah Bi Asih yang terlihat tergesa-gesa menghampiri cowok itu.


"Non Kanza-nya lagi keluar, Den!" Perkataan cempreng dari Bi Asih, membuat rasa panik dalam diri Kenzo sedikit menghilang.


"Pergi ke mana?" Tanya Kenzo.


"Katanya sih, keluar jalan-jalan. Gak tahu tujuannya ke mana?!" Ujar Bi Asih. Raut wajah Kenzo langsung berubah sedikit lebih tenang.

__ADS_1


"Oke, Bi. Makasih." Ucap Kenzo, lalu berlari kembali memasuki kamarnya sembari mencoba menelpon Kanza.


^^^To be continue...^^^


__ADS_2