
Malam itu ayumi menuruni tangga rumahnya dengan gaun panjang berwarna putih tulang tanpa lengan, rambutnya yang panjang ia biarkan terurai dengan jepitan bunga ester putih terjepit disana menambah kesan anggunnya.
Fiko yang sudah berdiri didepan pintu rumah bersama dengan bibi yang bekerja disana, ia hanya melongo melihat kecantikan yang terpacar dari wajah ayumi.
"Waw kau cantik sekali ayumi" menjulurkan tangannya
"Thankyou dan kau ah tunggu dasimu sedikit mereng" membenarkan dasi fiko lalu menerima tangan pria itu lalu mereka berjalan kearah mobil.
"Silahkan" membukakan pintu depan untuk ayumi
"Kemana supirmu" menganggakat alis
"Aku memang tidak punya supir karna aku suka sendiri haha" mulai memutar stang mobilnya
"Mmm begitu, ehem sudah berapa banyak wanita yang duduk disini haha"menggoda fiko
"Aku lupa mungkin lebih dari 20 wanita buhaha" terawa
"Haaah begitu kah" menunjukan wajah tidak senang
"Kau kenapa,kau cemburu" meraih dagu ayumi
"Ahhaha tidak, aku hanya berpikir bagaimana wanita wanita itu setelah putus denganmu" menggeleng kecil
"Hey kami tidak menjalin hubungan yang melibatkan perasaan seperti kau pikirkan" sambil fokus menyetir
"Lalu apa, teman rasa pacar haha" mengejek fiko
"Bukan haaah,nanti kalau sudah saatnya akan ku jelaskan, sekarang tunjukan dimana alamat rumah orangtua mu" menatap ayumi
"Jalan kemang,komplek golden brown, No 156 fiko" mengencangkan sabuk pengamannya
"Hey pakaikan punyaku juga, dan apa yang akan ku bicarakan nanti pada keluargamu" melirik ayumi
"Mmm mungkin kenalan saja dan akan ku beri tahu beberapa hal" menarik sabuk pengaman fiko
"Apa itu kita punya waktu 20 menit sebelum sampai" melirik jam tangannya
Wangi sekali rambut gadis ini, inginku makan saja tapi tunggu fiko dia lebih rumit dari gadis biasa kau temui.
"Aku punya kakak wanita namanya nadin dia menikah dengan seorang pria yang dulu nya sempat dijodohkan denganku tapi karna aku berpacaran dengan julian aku menolak dan kebetulan kak nadin menyukainya akhirnya mereka menikah, dan papa sangat menyukai pria itu pria yang sempurna dimata papa hingga papa selalu membanggakannya" menunduk sedih
"Haah ada ada saja keluargamu, lalu nanti apa papamu akan membandingkanku dengan pria itu" mengerutkan dahi
"Mungkin, papa pasti membandingkanmu dengan jemy" menganggakat bahu
__ADS_1
"Hahaha biasa saja akan ku kalahkan pria itu buahaha" cekikikan tertawa
"Kau ini jangan macam2 ya kita hanya pura2 kau paham" melotot
"Ya baiklah hahaa" tertawa
***
Akhirnya mobil mereka sudah sampai disebuah rumah mewah di kawasan itu, sudah terlihat banyak mobil terpakir disana tandanya tamu tamu sudah datang.
seorang pelayan wanita menyambut kedatangan ayumi dan fiko disana.
"Nona ayumi" memeluk ayumi
"Hay bi mumu, aku rindu" membalas pelukan wanita lumayan tua itu
"Saya juga nona,mari masuk dulu nona,tuan" mengangguk pelan
"Kau akrab sekali dengan pelayanmu" bisik fiko
"Dia pengasuhku dari bayi" menengok fiko lalu melanjutkan berjalan kearah kolam renang rumah itu, terlihat lampu berkelap kelip disana dengan alunan musik tempo dulu beberapa orang paruh baya asik berdansa dengan gerakan pelan disana.
Ayumi berjalan pelan diikuti fiko kearah meja yang diduduki oleh orang tuanya dan beberapa keluarganya disana.
"Papa, ma happy anniversary ya" memeluk bergantian
"Duduk dulu nak, ah siapa ini" mengelus pundak ayumi
"Oh ya kenalkan pa,ma ini fiko teman dekat ayumi" memperkenalkan
"Fiko" bersalaman dengan kedua orang tua itu
"Salam kenal ya, oh iya ini adik saya sukma dan suaminya damar" memperkenalkan dua orang yang ikut duduk disana.
Fiko hanya mengangguk san tersenyum tipis, lalu mengambil posisi duduk.
"Ah itu nadin dan jemy" melambai tangan
"Hai ma maaf ya kita telat, karna jemy sibuk di kantor" memeluk mamanya lalu memeluk papa
"Gak papa sayang mari kita makan dulu" memenggil pelayan menyiapkan makanan
"Pa selamat hari pernikahan ya" memeluk papa
"Terumakasih nak" menepuk pundak jemy
__ADS_1
Pelayan pun datang dan menyajikan makan malam untuk mereka, acara makan malam bersama ditengah tamu yang ramai pun dimulai.
"Wah ini siapa yumi" nadin membuka pembicaraan
"Ah ya kak ini fiko teman dekat yumi" sambil menyuap nasinya
"Kau bekerja dimana nak" ucap papa yumi spontan
"Saya usaha coffe shop dan" terpotong
"Ooh hanya pemilik kedai kopi ya, kau harus bekerja keras lagi anak muda agar bisa seperti menantuku itu, bukan begitu jemy" menengok jemy
"Ah ya mungkin begitu pa hehe" tertawa kecil dan melirik fiko yang masih menikmati makanannya.
Astaga papa untung kau tidak tau pria didepanmu itu tuan muda kedua dari pemilik perusahan kusuma, kau pasti akan memujinya melabihi aku saat kau tau, untung saja papa salah mengira dia hanya pemilik kedai kopi aku aman, dan aku harus memperkuat posisiku.
"Mmmm jadi tuan fiko bagaimana dengan kopimu apa laris atau kau bisa berikan aku brosurmu sapa tahu kami berminat pesan kopi disana saat rapat" tatapan mengejek
"Hey dia tidak perlu kau bantu karna coffe shopnya sudah ramai" ayumi melotot kesal
"Ayumi kau jangan begitu jangan meninggikan suaramu pada kaka iparmu" bentak papa
"Sudahlah pa kita makan saja ya" mama mencoba menenangkan suasana
Makan malam kembali tenang lagi dan tiba tiba nadin membuka suara.
"Bagaimana yumi kau suka tema pestanya" menatap yumi yang lagi minum
"Suka atau tidak suka harus suka kan" menjawab sinis
"Kau ini seperti tidak berpendidikan saja kasar sekali" papa kembali marah
"Pa wajar kan aku marah, tahun ini adalah giliranku menyiapkan pesta anniversary kalian bukan nya kak nadin dan jemy" kesal
"Hey aku hanya takut pestanya kacau kalau kau menyiapakan, karna papa tau kau belum pengalaman menyiapkan pesta" nada keras
"Kenapa aku tidak punya pengalaman, itu karena papa tidak memberikan kesempatan untukku tahun lalu kan sudah sepakat aku yang akan menyiapkan pesta tapi saat persiapan ku hampir 75% papa menelponku dan membatalkannya" menahan airmata
"Hey papa hanya mau yang terbaik untuk pesta ini dan jemy berpengalaman" menunjuk jemy
"Jemy jemy dan kalau tidak jemy kak nadin yang papa banggakan, sebesar apapun usahaku dan pencapaianku tidak pernah ada artinya dimata papa, lanjutkan pesta kalian aku permisi" berdiri lalu pergi
"Untukmu pak kau seharusnya menghargai setiap kerja keras putrimu, bukan membandingkannya suatu saat kau akan menyesal karna sikapmu, selamat hari jadi pernikahan tante saya permisi" menatap papa ayumi lalu menepuk bahu mama ayumi yang sedang menangis disana.
Fiko berlari masuk mobil dan mengejar ayumi yang sudah berlari jauh meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
Bersambung....