
Beberapa hari kemudian, tingkah Azalia semakin lama semakin menjadi. hal itu tentu saja membuat Danu semakin merasa pusing. hingga membuat laki-laki tampan itu, akhirnya memutuskan untuk menjemput Ibu mertuanya.
Karena Danu sendiri sudah merasa tidak kuat dengan tingkah aneh dan absurd istrinya itu semenjak hamil.
"sumpah Bun, aku sudah tidak kuat dalam menghadapi tingkah laku Azalia."keluh laki-laki itu.
Sementara Kintania yang mendengar itu, hanya terkekeh pelan. kemudian dengan segera, masuk ke dalam mobil yang memang telah terparkir di depan rumahnya.
Karena wanita paruh baya itu memang rencananya ingin berkunjung ke rumah anak dan menantunya. karena memang kintani yang merasa sangat khawatir terhadap kondisi Putri semata wayangnya itu. namun memang, wanita paruh baya itu berniat ingin datang ke sana saat mendekati kelahiran sang cucu.
Akan tetapi, rencana tinggal rencana. karena ternyata, kondisi Azalia semakin lama semakin parah. hingga kunjungan wanita paruh baya itu dipercepat. karena Kintania tidak ingin, membuat pekerjaan menantunya menjadi terbengkalai hanya karena ngidam istrinya yang tidak jelas itu.
"Ya udah ayo cepetan ke sana. jangan sampai istri kamu mencak-mencak nantinya."ucap wanita paruh baya itu Seraya mengulum senyum.
Membuat Danu yang mendengarnya, seketika menghembuskan nafasnya secara perlahan. dengan segera, melajukan kendaraan yaitu untuk segera sampai di rumah.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil yang ditemani oleh mereka berdua telah sampai di depan rumah mewah itu.
"assalamualaikum Sayang."ucap Danu Seraya mengucapkan salam masuk ke dalam rumah.
"waalaikumsalam."ucap Azalia dengan raut wajah datar.
Wanita itu entah sejak kapan bersikap dingin dan juga datar seperti itu. bahkan Danu sudah beberapa hari tidak mendapatkan jatah malam hanya karena mual melihat wajah suaminya itu.
"Sayang kenapa wajahnya seperti itu?"tanya Kintania yang menyembul dari balik tubuh Sang menantu.
__ADS_1
Tentu saja, hal itu membuat Azalia yang mendengarnya seketika merubah ekspresi wajahnya. wanita yang tengah berbadan dua itu, seketika berlari kecil dan langsung memeluk tubuh wanita yang sangat ia rindukan itu.
"katanya setelah aku lahiran?"tanya wanita itu Seraya mengendurkan pelukannya dan menatap ibunya dengan tatapan yang sangat lekat.
Kintania yang mendengar itu, seketika tersenyum kecil. kemudian membelai rambut putrinya itu dengan penuh kasih sayang. kemudian, menarik tangan putrinya menuntunnya untuk duduk di kursi ruang tamu.
"Bunda cuma mau menengok anak dan calon cucu Bunda. kalian baik-baik saja, kan?"tanya Kintania Seraya mengusap perut putrinya yang masih terlihat sangat rata.
Azalia yang mendengar itu, hanya mengagukan kepala. Seraya kembali memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat.
"ada apa?"tanya Azalia saat melihat raut wajah ibunya yang terlihat berubah dari sebelumnya.
"Bunda mau memberikan nasihat. kamu jangan tersinggung ya,"ucap wanita paruh baya itu Seraya mengusap wajah putrinya dengan lembut.
Azalia yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala."hubunganmu dengan Danu apa kabar?"tanya wanita paruh baya itu mencoba mengawali perbincangan mereka.
"kami baik-baik saja Bun, memangnya kenapa?"tanya Azalia yang tampak kikuk menjawab pertanyaan dari ibunya itu.
Kintania yang mendengar itu, hanya tersenyum tipis. kemudian, menggelengkan kepala."tidak apa-apa. Bunda hanya mengingatkan, sebagai seorang istri sudah sewajarnya kita selalu memuliakan suami. apalagi, suami yang baik dan juga pengertian. itu adalah hal wajib untuk kita hormati. jangan pernah meninggikan ego. lagi sampai melukai hati dan perasaan pasangan kita. karena semua yang kita lakukan sekarang, akan mendapatkan balasan di kemudian hari."ucapnya dengan lembut dan disertai dengan senyuman tipis.
Azalia seketika membulatkan kedua matanya. saat wanita cantik itu menyadari, jika ibunya saat ini tengah menyindir dirinya.
"Bunda bicara apa?"tanya Azalia pura-pura tidak mengerti dengan apa yang ia dengar itu.
"jangan berpura-pura sayang, kamu sendiri kan yang bilang, jika hal yang paling kamu benci adalah kebohongan? begitu juga dengan Bunda. Bunda tidak suka, jika kamu menjadi pembohong seperti ini."ucap wanita paruh baya itu tersenyum kecil.
__ADS_1
Azalia seketika menundukkan kepala. tak berani lagi menatap wajah damai ibunya."mengerti Bu kenapa aku bisa sangat membenci Mas Danu. setiap saat, saat berpapasan dengan wajah Mas Danu, perutku merasa mual. maafkan aku karena aku tidak bisa menjadi istri yang baik."ucapan itu dengan suara terisak.
Kintania yang mendengar itu, merasa prihatin. dirinya baru menyadari sesuatu. Bahwa keinginan itu murni dari dalam perutnya. dengan artian, yang menginginkan semua ini bukanlah dirinya. melainkan, calon anak mereka.
"memangnya benar-benar mual jika melihat wajah suami kamu?"tanya Kintania pada putrinya itu. dan hal itu langsung dijawab anggukan oleh Azalia.
"bahkan mencium baunya saja, aku sudah tidak tahan Bun. pernah suatu waktu, Mas Danu memikat mendekati aku dan memelukku dengan erat. namun hal itu berujung aku tak sadarkan diri."ucap Azalia lirih.
Kedua mata Kintania seketika membelalak. tidak menyangka, jika rasa yang bergejolak di dalam tubuh putrinya itu sangat hebat.
"Ya sudah kalau begitu, tidak masalah. jangan dipaksakan."ucap kintania menenangkan putrinya itu. "emm, bolehkah Bunda meminta sesuatu?"tanya wanita paruh baya itu tersenyum kecil.
"Bunda mau minta apa?"tanya Azalia dengan wajah berbinar. jika kalian berpikir Azalia akan merasa keberatan saat dimintai tolong oleh ibunya, kalian salah besar. karena wanita yang tengah berbadan dua itu, justru malah semakin merasa bersemangat. saat mendengar permintaan dari ibunya.
" Bunda tiba-tiba saja ingin makan ayam goreng crispy buatanmu. apakah kamu bisa membuatkan untuk bunda?"tanya Kintania dengan nada suara berhati-hati.
Sebenarnya wanita paruh baya itu tidak menginginkan makanan itu. dirinya harus melakukan hal itu untuk membuat putrinya menjauh dari sana. karena ada sebuah nasehat yang harus ia berikan pada menantunya itu.
"tentu saja Bun."ucap wanita berbadan dua itu Seraya bangkit dari duduknya. dan dengan segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan belakang.
"ada apa bunda memanggilku?"tanya Danu. saat laki-laki itu melihat, lambeyan tangan dari ibu mertuanya.
"lebih baik kita bicara di luar."ucap wanita paruh baya itu Seraya menarik tangan menantunya.
"Bunda mau bicara apa?"tanya laki-laki itu Seraya duduk di sebelah sang ibu mertua.
__ADS_1
"Bunda cuma mau bilang, kau harus bersabar menghadapi tingkah istrimu itu. asal kamu tahu, dulu waktu Bunda hamil Azalia, Bunda juga mengalami hal yang sama. dan alhasil, wajah Azalia sangat mirip dengan mendiang ayahnya."ucap Kintania Seraya tersenyum haru. ingatannya menerawang jauh beberapa gelas tahun yang lalu.