(Bukan) Perebut

(Bukan) Perebut
Sedikit Kecewa


__ADS_3

Akhirnya setelah melakukan bujuk rayu yang melelahka, Danu dan juga Azalia memutuskan untuk pindah ke rumah baru mereka tanpa kehadiran seorang ibu. karena ternyata, membujuk Kintania adalah hal yang sangat melelahkan.


Karena wanita paruh baya itu, masih kekeh dengan pendiriannya. yang tidak ingin, meninggalkan tempat yang penuh dengan kenangan bersama dengan ayah Azalia itu.


Dan pada akhirnya, pasangan pengantin baru itu memutuskan untuk pindah rumah tanpa kehadiran seorang ibu.


"Ibu beneran kamu ikut?"tanya Azalia sekali lagi saat wanita itu berada di ambang pintu.


"Ibu yakin sayang, ibu akan merasa bahagia kalau kamu juga merasa bahagia."ucapnya Seraya memeluk tubuh Putri semata wayang itu dengan penuh kasih sayang dan suasana yang sangat haru.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Azalia. Karena untuk pertama kalinya, wanita cantik itu harus meninggalkan wanita paruh baya yang telah rela mempertaruhkan seluruh jiwa raganya untuk melahirkan dan merawatnya.


Walaupun Azalia merasa sangat berat saat ingin meninggalkan rumah itu, namun wanita itu harus tetap pergi. karena kemanapun suaminya melangkah, dirinya harus tetap mengikuti dari belakang. Karena itulah gunanya seorang Istri.


Suasana hati Azalia, seketika sedikit kecewa. lantaran ibunya itu, masih kekeh dengan pendiriannya.


"sudahlah sayang, jangan berwajah sedih seperti itu. nanti kalau ada waktu kita akan sering-sering menjenguk ibu."ucap Danu mencoba untuk menenangkan istrinya itu.


Azalia yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala."padahal, aku masih ingin membahagiakan ibu dengan ikut bersama kami."ucapnya kembali menunjukkan kepala.


Kintania yang mendengarnya, seketika mengulas senyum tipis. tangan wanita paruh baya itu, seketika mengusap kepala putrinya dengan sangat lembut.


"kebahagiaan Ibu bukan itu sayang,"ucapin Tania Seraya tersenyum tipis."kamu mau tahu apa kebahagiaan ibu, kan?"wanita paruh baya itu kembali bertanya.


Membuat Azalia yang mendengarnya, seketika menganggukkan kepala dengan cepat."iya ayo katakan ibu?"tanya Azalia dengan tidak sabarnya.


"kebahagiaan Ibu adalah, saat melihat kamu bahagia dengan suamimu. dan kalian membina rumah tangga, dengan damai dan penuh dengan kasih sayang."ucap Kintania Seraya tersenyum tulus.


Azalia yang awalnya bersemangat, seketika kembali berwajah sedikit sendu."tidak usah khawatir. Ibu di sini baik-baik saja kok."ucap Kintania Seraya mengusap punggung putrinya itu.


"ibu harus berjanji sama Azalia,"ucap wanita itu pada akhirnya menatap ke arah wanita paruh baya yang sangat ia cintai itu.

__ADS_1


"Ibu harus Bahagia dan tidak boleh bersedih lagi."lanjut Azalia.


Kintania yang mendengarnya, seketika terkekeh pelan."iya anakku sayang ibu akan janji sama kamu ibu akan bahagia."ucapnya tersenyum lebar.


"Ya sudah sana ikuti suamimu."ucap Kintania Seraya mendorong tubuh putrinya itu dengan pelan.


"Ibu ngusir aku?"tanya Azalia dengan raut wajah pura-pura merajuk.


Namun ternyata respon dari ibunya di luar dugaan gadis cantik itu. karena ternyata Kintania, malah menganggukkan kepala."iya Ibu usir kamu,"ucapnya Seraya menatap datar ke arah putrinya itu.


"iih Ibu!!"rengek Azalia seperti anak kecil. hal itu sukses membuat Danu dan juga Kintania yang mendengarnya, seketika tertawa lepas.


"kamu baik-baik ya di sana."ucap Kintania Seraya menangkup kedua pipi putrinya itu.


Tiba-tiba saja Danu menghampiri mereka. dan dengan segera, menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang kepada wanita paruh baya itu.


"apa ini?"tanya Kintania menatap ke arah menantunya itu dengan raut wajah penasaran.


Seketika itu pula, kintan yang menggilingkan kepalanya."tidak perlu repot-repot. Ibu bisa meminjam milik tetangga jika merindukan Azalia."ucapnya Seraya berusaha mengembalikan benda itu kepada Danu.


Azalia yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala."tidak usah begitu Bu, kita tidak bisa bergantung kepada orang lain."ucapnya Seraya kembali menyerahkan kotak itu kepada sang ibu.


"tapi,..."ucapan Kintania terhenti, saat mendengar ucapan dari Danu dan juga Azalia.


"tidak usah tapi-tapian Bu. kami tidak merasa direpotkan. lebih baik Ibu merepotkan kami, daripada harus merepotkan orang lain yang belum tentu mempunyai hati yang tulus kepada ibu."ucap Azalia lagi.


Akhirnya Kintania menganggukkan kepala."terima kasih ya, terima kasih karena kalian begitu baik dengan ibu."ucap wanita paruh baya itu Seraya menitikan air mata.


"Ibu ini bicara apa sih?"tanya Azalia merasa tidak suka dengan ibunya yang berkata seperti itu.


Menurut wanita cantik itu, apa yang dilakukan oleh Kintania, tidak sebanding dengan apa yang ia berikan saat ini. bahkan jika nyawanya harus diberikan, itu masih kurang untuk membalas jasa-jasa wanita paruh baya itu yang telah merawatnya dengan sepenuh hati dan juga penuh kasih sayang.

__ADS_1


"aku tidak mau, ada penolakan. ibu terima ya,"ucap Azalia dengan tersenyum tipis.


Akhirnya mau tidak mau, Kintania menerima kotak itu. dan dengan segera langsung memeluk tubuh putrinya itu dengan sangat erat.


"kalian hati-hati ya di sana, jangan pernah bertengkar hanya karena masalah kecil. dan kalian harus saling memahami satu sama lain."pesan Kintania pada putrinya.


Danu dan juga Azalia yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. dan dengan segera, masuk ke dalam mobil yang memang telah terparkir sejak tadi pagi.


Ada perasaan sedikit kecewa saat melihat ibunya tidak ingin ikut dengan mereka. Azalia seketika menoleh, saat merasakan tangannya digenggam oleh sang suami.


"jangan bersedih. kamu bisa memantau kegiatan ibu dua puluh empat jam dari ponsel itu."ucap Danu Seraya tersenyum manis.


Azalia yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. dan tak berselang lama, mereka segera pergi meninggalkan tempat itu dengan sedikit rasa sesak di dada.


Air mata Azalia, tidak bisa terbendung lagi. beberapa kali wanita cantik itu, mengusap air matanya dengan kasar.


"jangan bersedih sayang. aku janji, setelah kita punya usaha yang mapan nantinya, kita akan sering-sering datang kemari."ucap Danu mencoba untuk menenangkan istrinya itu.


*****


Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang wanita paruh baya tengah menahan emosi. karena sejak tadi, orang yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang.


"kurang ajar! berani anak itu membuat menantuku Menjadi kecewa seperti ini?!"tanya wanita itu yang tak lain adalah Megan Ibu dari Danu.


"aku pulang dulu ya kalau gitu,"ucap Kayla dengan raut wajah sedih dan juga kecewa. karena ternyata, pujaan hatinya itu tidak menepati janji.


"eh kamu mau pulang?"tanya Megan dengan raut wajah kesalnya.


Keyla yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala lemah."aku rasa Kak Danu nggak akan datang ke sini."ucapnya Seraya menundukkan kepala.


Megan dengan cepat langsung memeluk tubuh menantu kesayangannya itu dan menenangkannya.

__ADS_1


"kamu tenang saja. nanti ibu akan tegur Danu."ucap wanita paruh baya itu Seraya mengusap punggung Keyla


__ADS_2