
Beberapa waktu pun berlalu. dan keadaan Azalia, masih tetap sama yaitu masih menghindar dan bersembunyi dari laki-laki yang sebenarnya masih berstatus sebagai suaminya itu.
Tentu saja hal itu membuat Kenzo, merasa kebingungan. karena sudah beberapa hari ini, Mamanya tidak pernah keluar dari dalam kamar.
"Oma, kenapa Mama tidak pernah keluar dari kamarnya?"Tanya bocah kecil itu dengan raut wajah polosnya.
Tentu saja hal itu membuat Kintania yang mendengarnya, merasa sangat kebingungan. karena memang, wanita paruh baya itu tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. karena pastinya, cucunya itu tidak akan pernah mengerti apa yang ia maksud.
"emm Mama itu sedang puasa Sayang."ucap Kintania Seraya mengelus kepala cucunya itu dengan penuh kasih sayang.
"puasa? tidak makan dan tidak minum? tapi kenapa juga tidak keluar dari dalam kamar?"tanyakin susu semakin bingung.
Tentu saja itu membuat Cinta Nia yang mendengarnya, semakin gelagapan dibuatnya. hingga sebuah ide, ketika muncul secara tiba-tiba di dalam kepalanya.
"emm Mama sedang puasa untuk tidak berbicara dan tidak menemui orang lain."ucap Kintania semakin ngawur.
Namun di luar dugaannya. karena bocah kecil berusia 5 tahun itu, mengangguk-anggukkan kepala seakan mengerti apa yang dimaksud dengan Omanya. tentu saja hal itu membuat Kintania merasa terkejut.
" apa bocah ini mengerti apa yang aku maksud?"tanya Kintania pada dirinya sendiri.
"apa kamu mengerti apa yang Oma maksud sayang?"tanya Kintania dengan suara yang sangat lembut menatap ke arah bocah laki-laki itu.
Kenzo hanya menganggukkan kepala. membuat Kintania semakin merasa kebingungan dengan bocah itu.
"coba jelaskan apa yang Oma maksud?"pancing Kintania.
"Mami sedang tidak ingin berbicara dengan siapa-siapa kan Oma,"bocah kecil itu menatap wanita paruh baya itu dengan ekspresi wajah serius.
__ADS_1
Kintania hanya mengangguk-anggukkan kepala. kemudian segera mengajak cucunya itu untuk berjalan-jalan. karena wanita paruh baya itu tidak ingin, Kenzo semakin merasa kebingungan dengan apa yang terjadi saat ini.
" Kenzo mau beli es krim atau tidak?"tanya wanita paruh baya itu dengan mengusap kepala bocah kecil itu dengan lembut.
Seketika itu pula, bocah berusia 4 tahun itu, mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Omanya itu dengan senyuman mengembang.
"memangnya Mami mengizinkan?"Tanya bocah kecil itu dengan nada suara berhati-hati.
"kalau hanya sekali tidak masalah. yang tidak boleh itu, setiap hari atau setiap waktu."ucapin Tania Seraya tersenyum tipis. tentu saja hal itu membuat Kenzo, merasa sangat bahagia. mereka berdua memutuskan untuk segera membeli apa yang diinginkan.
***
Sementara itu di dalam kamar, Azalia masih memikirkan cara untuk bisa menghindari dari laki-laki itu.
"bagaimana caranya aku bisa menghindar dari dia? apalagi saat ini, usahaku di kota ini baru saja dimulai. dan aku masih membutuhkan banyak uang untuk membiayai pendidikan Kenzo dan yang lainnya."gumam wanita cantik itu penuh dengan kebingungan.
Memang beberapa hari ini, Azalia terlihat menyendiri di dalam kamar. namun ternyata wanita itu tidak bersedih ataupun apa yang dipikirkan oleh Kintania. Melainkan, tengah mencari cara untuk bisa menghindar dari laki-laki itu.
"ah, lebih baik aku menemui anak dan juga ibuku. sudah lama aku tidak memperhatikan mereka."setelah mengatakan hal itu, Azalia segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamarnya
" loh, ke mana mereka?"tanya Azalia dengan raut wajah kebingungan saat tidak mendapati, siapa-siapa di dalam rumahnya.
Dengan perlahan-lahan, Azalia melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah sederhana itu. "kenapa juga tidak ada di sini?"tanya wanita itu mulai panik dan juga kebingungan.
Dengan cepat dan tergesa-gesa, Azalia melangkahkan kakinya untuk melangkah jauh ke depan sana. wanita itu menoleh saat mendengar suara seseorang yang berada tepat di belakangnya.
degh
__ADS_1
Jantung Azalia seakan ingin lepas dari tempatnya saat mendapati seseorang menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.
"halo perempuan gatal, kita bertemu lagi di sini."ucap wanita itu Seraya melangkahkan kakinya lebih maju dan menghampirinya.
membuat Azalia yang mendengar itu, seketika melangkahkan kakinya mundur beberapa langkah.
"ma..mau apa kamu?"tanya Azalia dengan tergagap.
"tentu saja ingin membelikan pelajaran kepadamu. wanita yang telah menjadi Perebut dalam kehidupan Rumah tanggaku!"ucap Keyla dengan sorot mata tajam.
"aku bukan perebut! Mas Danu lebih dulu menikah denganku! dan kita menikah atas dasar saling suka! bukan sepertimu, yang melakukannya atas dasar paksaan dan juga kekuasaan!"teriak Azalia.
plak
Seketika itu pula, wajahnya tertoleh ke arah samping dengan sangat kuat. Saat mendapatkan, satu tamparan keras dari wanita itu.
"ingat ini baik-baik! jangan pernah dekati suamiku lagi! atau kamu, akan menyesal nantinya!"setelah memberikan pelajaran terhadap wanita itu, Keyla segera meninggalkan tempat itu.
brughh
Tentu saja hal itu membuat Azalia, seketika merosot dan ambruk di atas tanah. wanita itu menangis tersedu-sedu. Untung saja, jalanan yang menuju ke rumahnya itu sangat sepi. karena memang hanya beberapa, orang yang tinggal di sana.
Sebenarnya, bukan luka tamparan yang ia tangisi, melainkan perkataan dari wanita itu yang sangat menyakitkan. mana mungkin dirinya yang telah terlebih dahulu menikah dengan Danu, disebut sebagai perebut? ini konyol namanya.
****
Sementara itu di tempat lain, terlihat Danu tampak uring-uringan. setelah tidak berhasil menemui wanita yang sangat ia cintai itu, sikap Danu perlahan-lahan mulai berubah. laki-laki itu terasa lebih dingin dari biasanya. bukan hanya kepada Keyla. melainkan juga kepada putri mereka.
__ADS_1
"bagaimana keadaan dia? dia tidak bisa ditemui seperti ini?"tanya laki-laki itu pada dirinya sendiri. sungguh Danu merasa sangat kebingungan dengan sikap wanita itu.
"aaarrrgggh aku bisa gila Jika seperti ini terus!"ucap laki-laki itu Seraya menjambak rambutnya sendiri karena merasa frustasi dengan masalah yang ia alami saat ini.