
Beberapa saat kemudian, Danu telah sampai di rumah sakit. Dan tanpa basa-basi, laki-laki itu segera berlari menyusuri koridor rumah sakit segera menemui dan mengetahui bagaimana keadaan istrinya.
Matanya tampak memerah dengan dada yang naik turun. menandakan, bahwa laki-laki itu dalam keadaan murka.
"aku tidak akan pernah membiarkan mereka lolos. apapun yang mereka lakukan pada anak dan juga istriku, mereka akan mendapatkan ganjaran yang sangat setimpal."setelah mengatakan hal itu, akhirnya Danu sampai juga di ruang gawat darurat.
Di sana terlihat Kintania yang tengah menangis tersedu-sedu dan sesekali menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Azalia dengan baik.
"Bunda, bagaimana keadaan Azalia?"tanya Danu saat laki-laki itu telah tepat berada di depan Ibu mertuanya.
Kintania yang mendengar pertanyaan dari seseorang, seketika menoleh dan menatap ke arah menantunya itu dengan deraian air mata.
"maafkan Bunda Danu, Bunda memang tidak bisa menjadi Ibu yang baik. Bisa-bisanya, Bunda meninggalkan Azalia seorang diri."ucap wanita paruh baya itu dengan isakan tangis yang memilukan.
Tak lama berselang dari itu, Megan dan Bhaskara datang menghampiri mereka berdua. dan tanpa basa-basi, ibu mertua dari Azalia itu, langsung memeluk Kintania dengan sangat erat. tak lupa, wanita paruh baya yang sempat membenci Azalia itu, juga memberikan kata-kata semangat untuk besannya itu.
"di sini aku juga bersalah. seharusnya, aku tidak meninggalkan dia seorang diri. dia pasti sangat terguncang mental dan juga hatinya sehingga melakukan aksi seperti itu."ucap Megan Seraya mengusap punggung milik Kintania.
Mendengar ucapan dari ibunya itu, buat Danu seketika menoleh ke arah sumber suara. dan menatap wanita itu, dengan tatapan kebingungan.
"apa maksud ibu? apa Ibu berpikir kalau Azalia itu tengah melakukan percobaan bunuh diri?"tanya Danu dengan dada yang semakin sesak.
Megan yang mendengar pertanyaan dari putranya itu, sejenak terdiam. namun tak lama berselang, wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya dengan perlahan.
"itu tidak akan pernah terjadi Bu, Azalia itu adalah orang yang sangat kuat. tidak mungkin dirinya melakukan hal konyol seperti itu. Apalagi, keadaan Kenzo itu semakin lama semakin membaik. untuk apa dia melakukan hal itu?"tanya laki-laki itu Soraya menatap lurus ke depan.
__ADS_1
Sontak saja, ucapan dari Danu itu, membuat semua orang terdiam. karena apa yang dikatakan oleh laki-laki itu, memang ada benarnya juga.
"kamu mau ke mana?"tanya Megan saat melihat putranya bangkit dari tempat duduk dan melangkahkan kakinya untuk menjauh.
"ke ruang keamanan. aku harus melihat semuanya."ucap laki-laki itu Seraya melangkahkan kakinya lebih jauh tanpa menoleh ke arah orang tua dan juga mertuanya.
"semoga, semuanya akan baik-baik saja."setelah mengatakan hal itu, mereka semua kembali larut dalam pikiran masing-masing.
****
Sementara itu di dalam ruangan gawat darurat itu, dokter tengah melakukan percobaan untuk menangani kondisi dari Azalia. walaupun mereka sempat merasa kewalahan. karena beberapa kali, jantung wanita itu melemah.
"jantung pasien semakin lama kembali melemah."seru salah seorang perawat.
Membuat dokter itu, dengan sigap mencoba untuk menangani dan membuat kondisi dari Azalia stabil."bawakan alat pemacu jantung."setelah mengatakan hal itu, sang perawat segera mengambil apa yang dibutuhkan oleh dokter.
"syukurlah semuanya baik-baik saja. sekarang, kita tinggal menunggu pasien melewati masa kritisnya."setelah mengatakan hal itu, kedua dokter dan beberapa perawat itu segera keluar dari ruangan gawat darurat.
"bagaimana keadaan menantu saya?"tanya Megan yang langsung berdiri. saat wanita paruh baya itu, melihat kedatangan tim dokter dan perawat yang keluar dari dalam ruangan menantunya.
"tempat terjadi sesuatu pada tubuh pasien. tapi kalian semua tenang saja. karena semuanya telah baik-baik saja."ucap salah seorang dokter Seraya menyunggingkan senyuman tipis.
"syukurlah kalau begitu."ucap mereka semua Seraya menghela nafas panjang. dan setelah mengatakan hal itu, para dokter dan perawat segera kembali ke ruangan masing-masing.
****
__ADS_1
Sementara itu di ruang keamanan, terlihat Danu tengah mengecek semua rekaman CCTV yang ada di rumah sakit itu.
"coba perlihatkan rekaman CCTV yang terjadi pagi tadi di halaman rumah sakit. Tepatnya, jalan raya yang menghubungkan dengan warung di seberang sana." Titah laki-laki itu pada sang penjaga keamanan.
"baik Tuan, sebentar." petugas keamanan itu menganggukkan kepala Seraya mengarahkan kursor kepada tempatnya.
"shiitt."umpat laki-laki itu dengan wajah murka. saat matanya melihat dengan sangat jelas bahwa ada sebuah motor yang memang telah mengintai pergerakan dari sang istri.
Bahkan beberapa kali, para bedebah itu menggunakan teropong yang ada di tangan mereka untuk mengintai pergerakan dari Azalia.
"memang ini sudah direncanakan. kemanapun kalian berada, kalian akan aku cari sampai ke liang lahat."ucap Danu dengan mengepalkan tangannya erat-erat.
Setelah mengatakan hal itu, Danu berjalan dengan cepat menghampiri kedua orang tua dan juga Ibu mertuanya.
"bagaimana keadaan Azalia?"tanya Danu saat laki-laki itu telah sampai di depan orang tua dan juga mertuanya.
"kondisinya sudah stabil. kita tinggal menunggu istri kamu melewati masa kritisnya."jawab Megan Seraya tersenyum simpul.
"kalau begitu aku pergi dulu."tanpa menunggu lama, laki-laki tampan itu segera pergi meninggalkan ibu mertua dan juga kedua orang tuanya. Danu sama sekali tidak mengindahkan panggilan dan seruan dari mereka semua.
***
Sementara itu di tempat lain terlihat dua orang laki-laki paruh baya tengah tertawa terbahak-bahak. mereka semua baru saja mendapatkan sebuah kabar yang menyenangkan.
"aku yakin laki-laki itu pasti akan murka."ucapnya yang masih dengan tawa yang berderai.
__ADS_1
"kita harus bersiap. karena dia, pasti akan langsung mencari keberadaan semua orang yang menjadi musuhnya."timpal yang lain.
"kau tenang saja. semua pasti akan sesuai dengan rencana kita."sahut laki-laki itu dengan senyuman iblisnya.