
Beberapa bulan setelahnya, Danu masih tetap mencari keberadaan sang istri. seakan-akan laki-laki itu tidak akan pernah merasa lelah untuk menemukan di mana keberadaan wanita tercintanya. sampai sekarang pun, Danu masih belum menemukan titik terang dari semua masalah itu.
"kamu sebenarnya kemana sayang? aku sungguh merindukanmu."setelah mengatakan hal itu, tak terasa air mata dari laki-laki itu Seketika mengalir dengan sangat deras tanpa bisa dibendung.
Kini, ruang hati Danu, terasa begitu hampa setelah kepergian dari wanita yang sangat ia cintai. Mungkin ini yang disebut istri adalah belahan hati. karena itu yang dirasakan oleh Danu untuk saat ini.
"rasa-rasanya aku ingin mengakhiri hidupku jika tidak menemukan kamu."ucap laki-laki itu mulai ngelantur kemana-mana.
Mungkin ini yang dinamakan Hidup tapi mati. karena laki-laki itu memang saat ini. namun jiwanya terasa mati seiring kepergian dari Wanita yang sangat ia cintai.
"aku harus mencari keberadaan wanitaku. aku tidak peduli dengan semua ini."setelah mengatakan hal itu, laki-laki tampan itu segera pergi dari tempat saat ini dirinya berada.
Di sepanjang perjalanan, laki-laki itu tak henti-hentinya menatap ke arah sekeliling. enggak tiba-tiba saja,...
brughh
Danu tersentak kaget. saat kendaraan pribadinya itu, tidak sengaja menyenggol kendaraan yang ada di hadapannya saat tentu saja hal itu membuat laki-laki tampan itu, merasa sangat frustasi. dengan tergesa-gesa, Danu turun dari dalam mobilnya. dan dengan segera menghampiri pengendara motor yang yang telah tergeletak di atas aspal.
"maafkan saya mas saya tidak sengaja."ucap laki-laki itu mencoba untuk membangunkan si pengendara motor. namun betapa kagetnya laki-laki tampan itu saat melihat, siapa pemotor yang ditabrak.
"Angga?" tanya Danu dengan raut wajah yang masih menunjukkan keterkejutan. karena laki-laki itu masih tidak menyangka bertemu dengan sahabatnya di tempat seperti ini.
laki-laki yang bernama Angga itu, seketika mendongakkan kepala. dan ekspresi wajahnya pun, juga menunjukkan keterkejutan yang luar biasa.
"Danu ngapain loe di sini?"tanya laki-laki yang bernama Angga itu dengan mata membulat sempurna.
__ADS_1
Seketika itu pula, Danu teringat akan tujuan awalnya saat datang kemari."maaf aku harus pergi."setelah mengatakan hal itu, laki-laki itu segera masuk ke dalam kendaraan pribadinya kembali. namun sebelum itu, Danu memberikan beberapa uang kepada laki-laki itu.
"ini buat loe semua. aku harus pergi sekarang. nanti kapan-kapan kalau ada waktu, Gue akan datang ke sana."setelahnya dan benar-benar meninggalkan Angga seorang diri.
Tentu saja, hal itu membuat Angga yang masih berada di jalanan itu, merasa sangat kesal."huh dasar."Angga segera kembali melajukan kendaraannya. dirinya tidak peduli dengan tatapan beberapa orang yang menatapnya dengan tatapan bingung.
****
Sementara itu di tempat lain, terlihat seseorang yang tengah duduk di ruang tamu dengan perut yang sudah menonjol keluar.
"nggak terasa ya, sebentar lagi kamu akan keluar dan menemani hari mama."ucap wanita itu Seraya mengusap perut buncitnya itu.
Tak lama berselang, seseorang wanita paruh baya, yang datang menghampiri wanita muda itu."bagaimana apa Ada yang sakit?"tanya wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Kintania.
Azalia yang mendengarnya, seketika menggelengkan kepala."aku tidak apa-apa Bunda. tapi aku masih bingung gimana cara mencari pekerjaan dengan kondisi aku yang seperti ini?"tanya wanita itu pada diri sendiri.
"kamu tidak usah khawatir. bukankah kita bisa membuat lumpia? kenapa tidak memanfaatkan keahlian itu saja?"tanya wanita paruh baya itu pada Sang Putri.
Seketika itu pula, kedua mata Azalia berbinar. kenapa dia tidak berpikir seperti itu sejak awal, kenapa harus diingatkan oleh sang Bunda, Jika saja dirinya mengingatkan hal itu lebih awal, mungkin saat ini sudah memiliki beberapa tabungan untuk mempersiapkan proses kelahiran Sang bayi.
"iya kenapa aku tidak kepikiran ya."ucap wanita itu Seraya menepuk keningnya sendiri. yang membuat Kintania yang melihatnya, seketika terkekeh pelan.
Akhirnya sudah diputuskan, mereka berdua akan membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya.
"apakah semua sudah siap?"tanya wanita paruh baya itu menatap ke arah Putri kesayangannya.
__ADS_1
"semuanya sudah beres Bunda."ucap Azalia dengan ekspresi wajah girang. Baru beberapa saat dibuka dan dipindahkan keluar, ada beberapa orang yang menghampiri pasangan ibu dan anak itu. mereka adalah tetangga Azalia dan juga Kintania.
" ini apa Bu?"tanya salah satu di antara mereka Seraya menyentuh kotak itu.
"itu lumpia buatan kamu. Monggo kalau mau dicoba."ucap Kintania Seraya membuka salah satu kota itu dan menyodorkannya pada beberapa ibu-ibu yang ada di sana.
"emmm ini enak sekali."mereka hampir bersamaan dengan mata berbinar-binar.
Kintania dan juga Azalia yang mendengarnya, seketika saling pandang. dan tak berselang lama, melempar senyum satu sama lain.
"syukurlah kalau kalian menyukainya. nanti kalau kalian ada acara, bolehlah saya di kontak untuk membuatkan makanan ringan,"ucap Kintania dengan nada bercanda.
Para ibu-ibu itu hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis. dan mereka akhirnya membubarkan diri setelah memberi beberapa lumpia itu. tentu saja hal itu membuat Kintania dan juga Azalia yang melihatnya, merasa sangat bahagia.
Azalia merasa sangat bersyukur karena dipertemukan dengan tetangga yang sangat baik. karena memang Kintania dan juga Azalia sejak pertama kali mereka datang ke sana, pasangan ibu dan anak itu sudah mengatakan semuanya tanpa ada yang ditutupi.
Tentu saja hal itu membuat para tetangga yang mendengarnya, merasa sedikit iba. bahkan beberapa diantara mereka, ada yang berniat ingin memberikan makanan ataupun pakaian kepada pasangan ibu dan anak itu.
Namun hal itu segera ditolak oleh Kintania maupun Azalia. karena mereka berdua bukanlah pengemis. diterima di lingkungan itu saja mereka sudah merasa sangat bahagia walau harus mengandung tanpa sosok pendamping di tempat asing seperti itu. namun Azalia tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
"Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar. Bunda masih tidak menyangka, bahwa kita bisa mendapatkan uang yang lumayan."ucap wanita paruh baya itu Seraya mengangkat kedua tangannya yang terdapat beberapa lembar uang kertas berwarna hijau.
"iya bunda ini menurut Azalia, sudah lebih dari cukup."ucap wanita itu Seraya tersenyum tipis.
"Ya sudah kalau begitu kita masuk ke dalam."ajak Kintania Seraya menarik tangan Sang Putri. Azalia yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
"apa kamu mau istirahat?"tanya wanita paruh baya itu seraya membawa minuman hangat untuk putrinya