(Bukan) Perebut

(Bukan) Perebut
Membujuk


__ADS_3

Sampai hari sudah mulai gelap, Azalia belum menampakkan diri keluar dari dalam kamar. tentu saja hal itu membuat Kintania, merasa sangat khawatir. wanita paruh baya itu bahkan berniat ingin membuka secara paksa ruang kamar itu.


Walaupun nantinya, dirinya akan dianggap tidak sopan karena telah masuk ke ruang pribadi seseorang tanpa izin. Karena ada yang bilang, masuk ke ruangan anak tanpa izin itu termasuk juga pelanggaran. apalagi jika anak tersebut, sudah memiliki keluarga sendiri.


Namun sepertinya Kintania benar-benar merasa sangat frustasi untuk saat ini. karena wanita paruh baya itu, lebih merasa ketakutan dengan kondisi putrinya dibandingkan memikirkan hal yang lain. biarlah itu menjadi urusannya dengan Azalia. jika nantinya, wanita cantik itu tidak terima karena kamarnya dibuka secara paksa.


"Natalie,"panggil Kintania pada asisten rumah tangganya itu. tak berselang lama, seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.


"Ada apa Bu?"tanya Natalie dengan raut wajah kebingungan.


"kamu tahu kunci cadangan untuk kamar ini?"tanya wanita paruh baya itu kepada asisten rumah tangga putrinya.


"punya sebentar saya ambilkan."setelah mengatakan hal itu, Natalie segera bergegas pergi dari sana. dan tak lama berselang, wanita paruh baya itu datang menghampiri Kintania.


"ini nyonya."ucap Natalie Seraya menyerahkan kunci itu pada Kintania.


ceklek


Wanita paruh baya itu segera berlari menghampiri ranjang putrinya. saat kedua matanya, menangkap kondisi memprihatinkan dari wanita yang tengah berbadan dua itu.


"astaghfirullahaladzim!"seru Kintania dengan berlari sangat kencang menghampiri putrinya yang telah tergeletak tak sadarkan diri itu.


"ya Allah Azalia, apa yang terjadi padamu?!"tanya wanita paruh baya itu dengan suara yang sangat histeris.


Sementara Natalie, wanita itu segera berlari keluar dari dalam rumah untuk meminta pertolongan. tak berselang lama, wanita itu datang menghampiri Kintania yang masih menangis Seraya memeluk tubuh putrinya dengan erat.


"segera kita bawa ke rumah sakit."setelah mengatakan hal itu, salah seorang dari mereka segera menggendong tubuh lemah Azalia. dan membawanya masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"tolong dipercepat!"seru Kintania dengan raut wajah yang terlihat sangat panik. di sepanjang perjalanan, wanita paruh baya itu tak henti-hentinya menatap ke arah putrinya dengan tatapan iba. dan dengan sesekali menggenggam tangannya.


"kamu ini sebenarnya kenapa?"tanya Kintania dengan air mata berlinang. Sungguh, wanita paruh baya itu tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya.


Karena memang Azalia tidak pernah bercerita setelah pulang dari berpergian itu. sementara ponsel milik Danu, juga masih susah untuk dihubungi. tentu saja hal itu membuat Kintania merasa sangat frustasi.


drrrttt drrttt


Tiba-tiba saja terdengar suara deringan ponsel. yang bersumber dari ponsel yang ia pegang. yang tak lain adalah milik Azalia.


"halo Danu, kamu di mana kenapa kamu tidak pernah mengangkat telepon dari bunda?"tanya wanita itu bertubi-tubi dengan suara sedikit keras. bakan wanita paruh baya itu, melupakan ucapan salamnya terhadap menantunya itu.


"Maaf bunda, saat ini aku sedang sibuk sekali. jadi aku tidak bisa mengangkat ponsel Bunda ataupun ponsel Azalia."bohong Danu.


Tentu saja laki-laki itu tidak akan pernah mengatakan hal yang sebenarnya kepada Ibu mertuanya itu. karena jika sampai dirinya mengatakan sesuatu pada wanita paruh baya itu, sudah dapat dipastikan bahwa mereka pasti tidak akan pernah bertemu lagi.


"dasar tidak bertanggung jawab."omel Kintania pada ponselnya yang telah mati.


Wanita paruh baya itu kembali duduk di kursi yang memang disediakan oleh rumah sakit untuk menunggu pasien yang masih ditangani.


Tiba tiba saja, perasaan menyesal itu menyeruak masuk di dalam hati Kintania."kalau saja aku tidak membiarkan putriku menikah dengan laki-laki itu, mungkin semuanya tidak akan pernah terjadi seperti ini."ucap wanita paruh baya itu Seraya mend*sah pelan.


"astagfirullah aku ini mikir apa?"tanya wanita paruh baya itu Seraya menggelengkan kepalanya. dirinya tidak boleh larut dalam rasa tidak suka terhadap orang lain. Karena rasa itu, akan semakin membuatnya tidak tenang.


****


"apa yang terjadi pada Azalia? kenapa dia berada di rumah sakit sekarang?"saat ini, Danu masih berkutat dengan keluarganya dan juga keluarga istri barunya itu.

__ADS_1


Bukannya Danu tidak ingin berusaha untuk keluarga di tempat itu, tapi laki-laki tampan itu sudah berusaha beberapa kali untuk keluar dari belenggu itu. namun, sama sekali tidak berhasil.


"kenapa kamu gelisah seperti itu?"tanya Nadia yang melihat raut wajah menantunya itu seperti orang yang tengah terbebani.


Danu yang mendengar itu, segera menatap ke arah wanita yang saat ini telah menjadi Ibu mertuanya itu dengan tatapan intens.


"emm apakah aku boleh pergi?"tanya laki-laki tampan itu menatap ke arah semua orang yang ada di sana.


"tidak boleh!"tiba-tiba saja Keyla langsung merangkul lengan laki-laki itu dengan posesif. membuat Megan dan yang lainnya, seketika saling pandang dan menahan senyum.


"tuh dengerin, istri kamu tidak memperbolehkan kamu untuk keluar. emangnya kamu itu mau ke mana sih?"tanya Megan dengan nada sedikit kesal.


"Bu, aku harus pergi sebentar untuk membeli barang yang diperlukan untuk urusan kantor."ucap laki-laki itu berusaha untuk membujuk. berharap agar mereka semua mendengarkan dan mengizinkannya untuk pergi dari sana.


Semua orang kompak menggelengkan kepala. tentu saja hal itu membuat Danu, menghela nafas panjang.


"biarkan dia pergi."tiba-tiba saja, entah angin dari mana, Bhaskara berkata seperti itu. membuat Danu, menatapnya dengan tatapan tak percaya.


Begitupun dengan yang lain. mereka sama-sama menatap laki-laki itu dengan tatapan tak percaya. akhirnya setelah melalui drama yang cukup panjang, Danu dapat keluar dari tempat itu.


****


"ayolah sayang makan dulu. kasihan anak kamu jika tidak diberi asupan."saat ini Kintania tengah berusaha untuk membujuk k Putri semata wayangnya itu untuk makan.


"tapi aku merasa lapar bunda. bolehkah kalau aku tidak makan?"tiba-tiba saja pertanyaan konyol itu, keluar dari mulut Azalia. tentu saja hal itu membuat Kintania yang mendengarnya, seketika menggelengkan kepala.


"kamu ini nanyain apa? di dalam rahim kamu saat ini, telah tumbuh makhluk kecil yang akan menjadi bakal manusia nantinya. nama kamu bertanya seperti itu? seolah-olah kamu menjadi manusia yang egois?"tanya Kintania dengan raut wajah tak percaya.

__ADS_1


Azalia yang mendengar itu, seketika menundukkan kepala. dan dengan segera, menganggukkan kepala. dan menerima piring itu.


__ADS_2