
"Ya kalau gak ingat berarti itu belum tentu Zia orangnya"sahut Mama Rosa.
"Iya sih, tapi Ma.."
Rosa memegang kedua bahu Putranya "Anak Mama yang ganteng jangan sedih - sedih kayak gini yah. Berdoa saja terus sama Allah supaya kamu bisa bertemu sama Alia lagi yah"support Mama Rosa pada anaknya.
"Iya Ma Zayn selalu mendoakan dia dimanapun dia berada"jawab Zayn.
"Nah gitu dong semangat, semangat yah kalau gak semangat minum susu coklat aja" setelah mengucapkan itu Mama Rosa meninggalkan Zayn sendirian.
Selang beberapa menit Zayn baru tersadar akan ucapan yang Mamanya ucapkan tadi "Kalau gak semangat minum susu coklat?"bingung Zayn lalu tersadar "Maaa hubungannya sama susu coklat apa?"teriak Zayn yang baru ngeh dengan perkataan Mamanya agar Mamanya mendengar suaranya..
°°°°°.
"Huhh aku sudah lelah dengan teror yang selalu datang, sungguh ini belum pernah terjadi kepada ku"ucap seseorang
"Dipikir anda saja yang di teror, saya juga mendapatkan teror itu"jawab yang satunya lagi
"Ini semua karena perbuatan anda, anda yang telah merencanakan ide pembunuhan itu dan itu semua untuk kepentingan pribadi anda sendiri. Lalu mana buktinya? tidak ada bukan, tidak ada untungnya bagi saya yang ada malah buntung" ucapnya kesal.
"Ya memang cocok sih jadi buaya buntung"gumam wanita paruh baya itu.
"Apa yang barusan anda katakan?"jawab pria paruh baya itu yang mendengar gumaman wanita itu.
"Tidak ada"jawabnya soo polos.
__ADS_1
"Jangan mentang - mentang anda wanita, anda pikir saya tidak bisa menyakiti anda sebagai wanita, jika kesabaran saya sudah habis maka anda juga bisa habis di tangan saya"ucap pria itu emosi.
"Tenang dong tenang, gak bisa liat situasi apa?".
"Bodo amat"jawabnya ketus.
"Sudah hentikan kalian ini seperti anak kecil yang sedang bertengkar saja, kakak lagi"ucap pria itu .
"Kok jadi kakak yang di bawa - bawa"ucap pria yang satunya.
"Ssutt, sudah sekarang kita harus cari tahu siapa dalang yang meneror kita, sudah kita selidiki bukan tuan Abraham atau pun putranya keluarga Adhitama mereka kan tidak tahu kejahatan kita yang membunuh istrinya tuan Abraham"
"Tuan Abraham kan punya seorang putri, bisa jadi dia kan yang meneror kita?"
"Yang benar saja Laras, kau bodoh apa gimana? Anak kecil apa lagi seorang anak perempuan tidak mungkin bisa melakukan teror besar seperti itu, bahkan kejadian itu ketika dia masih balita dia saja baru bisa berjalan bagaimana dia bisa mengingat kejadian pembunuhan ibunya".jawab si laki - laki itu.
"Hehh ngatain saya bodoh, kau juga bodoh bahkan hal seperti itu saja kau tidak bisa selidiki tidak bisa kau lacak. Lantas bagaimana kalian bisa jadi mafia"ejek Laras sewot karena di katain bodoh oleh rekannya sendiri.
"Atau bisa saja keluarga Emmerson yang menyewa jasa Nona Ze?"lanjut Laras.
"Wah bisa jadi tuh, secara dia mafia girls yang cuanggih banget, saya sangat ngefans sama dia semenjak ketangkap sama Nona Ze"sahut Rio bangga.
"Dasar angry bert Rio, kemaren bilang benci sekarang lain lagi. Dasar labil".
"Dari pada saya harus menyukai nenek lampir seperti anda, saya sudah sangat sadar saat ini"jawab Rio menekan kata kalimat yang di ucapkannya.
__ADS_1
"Kampret lu"ucap Laras yang menoyor kepala Rio dengan tangannya.
"Stop, kita harus saling berpikir siapa yang tahu kasus ini selain kita bertiga?"ucap Deri yang menengahi perdebatan Rio dan Laras .
Di tempat lain
Seseorang dari balik layar laptop mendengarkan percakapan mereka bertiga yang di salurkan dari kamera pengintai yang di pasang untuk memantau mereka.
"Kena kalian, bukti sudah banyak terkumpul, tinggal eksekusinya yang belum di laksanakan"ucap gadis itu yang mengeluarkan smirknya siapa lagi kalau bukan Zia.
"Nonton apa sih dek serius amat"ucap Abang Ezra tiba - tiba datang dan entah sejak kapan laki - laki itu sudah duduk tampan di samping Zia.
"Astagfirullah Abaang dah kaya jin ajah tiba - tiba muncul"ucap Zia yang mengelus dadanya.
"Hehehe, eh itu yang cewe, itu mak lampir yang pernah ke rumah? Itu kan yang mengaku jadi calon istrinya Papa, modelan kayak begitu cocoknya jadi tukang ngamen".
"Tukang ngamen, abang ini ada - ada aja hahah"ucap Zia tertawa "Ini bang, mereka bertiga berkomplotan dan mereka juga yang udah ngebunuh Bunda" lanjut Zia.
"Wihhihi keren dah keciduk ae lah, dah sampai mana buktinya dek?"tanya Ezra.
"Udah komplit bang tinggal nunggu eksekusinya aja tapi.."ucap Zia yang tidak meneruskan perkataannya.
"Tapi apa dek?"
....
__ADS_1