
"B..bunda, Maaf"
" Maaf Zia baru jenguk Bunda"
" Zia tidak tahu Bunda ada disini, Zia bahkan baru tahu nama Bunda, dan Zia juga baru tahu rumah terakhir Bunda"..
" Bun, kata orang jika orang sudah meninggal bisa melihat apa yang terjadi di bumi dari atas?"
" Apa Bunda bisa ngeliat Zia? Bunda tahukan apa yang terjadi sama Zia?"
" Bun, Bukan Zia kan penyebab Bunda pergi? Bun kenapA Bunda gak ajak Zia pergi bersama Bunda? lebih baik Bunda mengajak Zia daripada Zia harus hidup seperti ini Bunda"
Zia terus menangis sembari memeluk erat batu nisan yang bertuliskan nama Bundanya itu.
Seakan-akan dia sedang memeluk Bundanya.
Zia yang dikenal sebagai gadis yang tegas, mandiri, independent, kuat namun kenyataannya dia adalah gadis yang rapuh. Gadis yang memiliki banyak luka pada batinnya, gadis yang setengah dalam dirinya telah mati..
" Bunda, apa kesalahan Zia? kenapa semuanya benci Zia Bun?"
" Sakit Bun sakit dada Zia sering sakit Bun"
" Bun, setelah kasus Bunda selesai dan orang yang sudah membunuh Bunda mendapat hukuman Zia boleh nyusul Bunda gak?"
*
*
*
__ADS_1
*
Setelah dari makam Bundanya, Zia langsung kembali kerumahnya.
sampai di rumahnya dia berpapasan dengan sang Ayah..
" Kenapa anak itu? kenapa matanya sembab, apa yang terjadi? apa dia habis menangis? tapi selama ini anak aku tidak pernah melihat anak itu menangis, apakah dia bisa menangis?" gumam Abraham ketika melihat mata putrinya yang sembab..
Untuk pertama kalinya dia melihat mata putrinya itu sembab..
Dari keduanya sama sekali tidak ada yang ingin menyapa terlebih dahulu, setelah berdiam dengan saling menatap satu sama lain keduanya beranjak berlawan arah seperti tidak saling mengenal..
Apakah itu bisa di sebut Ayah dan Anak? bertegur sapa hangat saja tidak pernah..
Zia buru-buru pergi ke kamarnya, dia mencari sesuatu di laci mejanya..
Zia memeluk erat foto Bundanya sembari menangis..
Akhirnya dia bisa melihat wajah ibunya, ibu yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan dirinya..
*
*
*
*
Zia bangun dari tidurnya, yah setelah lama menangis sambil memeluk foto ibunya Zia tertidur di kasurnya, akibat terlalu lelah karena menangis menyebabkan Zia tertidur tanpa ia sadari..
__ADS_1
Zia pun bangkit dari kasurnya menuju meja rias, dia berkaca dan melihat betapa sembab matanya itu..
Bagaimana caranya dia menyembunyikan matanya yang sembab? Zia mengambil ponselnya dan men searching cara menghilangkan mata sembab di mbah google..
Setelah mendapatkan informasi Zia keluar dari kamarnya dan turun kebawah menuju dapur..
sampainya di dapur Zia mengambil beberapa es batu yang ada di kulkas lalu ia bawa dari kamarnya tadi..
Lalu ia mengompres kedua matanya secara bergantian, dia berharap dengan cara ini bisa menyamarkan mata sembabnya. Dia tidak mau terlihat lemah dengan mata sembabnya terdapat sisinya yang lemah, namun dia benci jika dia lemah...
Hal itu semua tak luput dari penglihatan seseorang, seseorang yang juga tidak pernah menyayanginya, Ezra kakak laki-laki Zia, semenjak gadis itu turun tergesa-gesa membuat dia penasaran dan mengikuti Zia dan melihat adiknya mengompres matanya yang sembab..
" Tumben tuh anak matanya sembab? gak pernah gue liat matanya sembab begitu" gumam Ezra dalam hati..
" Ck, apa peduli gue, sejak kapan gue peduli. Ayolah Ezra lo biasanya bodo amat sama tuh bocah".. setelahnya Ezra beranjak dari situ dan berjalan ke kamarnya..
" Non Zia, eh itu mata non kenapa? tanya maid setelah melihat mata Zia yang sembab..
" Ga,, gapapa ko bi"
" si non tumben tumbenan matanya sembab, pertama kalinya liat non begini.. kasian pisan si non tidak pernah di perlakukan dengan baik" gumam bi surti salah satu maid di rumah Emmerson..
" Non sudah makan? mau bibi masakin makanan buat non?"
" Gak usah bi, Zia lagi gak nafsu makan, Zia mau susu hangat ajah ya bi, anterin ke kamar Zia gak papakan bi?" tanya Zia meski Zia anak yang dingin, datar, cuek dengan keadaan dan bodo amatan namun dia selalu menerapkan sopan santun terhadap orang yang lebih tua darinya jika memang pantas di beri sopan santun dan rasa hormat.
Terlihat dari cara Zia memperlakukan maid yang berada di rumahnya,, dia selalu bertanya bukan memerintah, dia sungkan untuk memerintah seseorang seperti babu sekali pun orang itu memang babu.
Para maid di rumah Emmerson sangat kagum kepada Zia karena memperlakukan mereka dengan sangat baik tidak jarang para maid dan pekerja lainnya berdoa agar kebahagiaan Zia segera datang mereka semua berharap keluarga Emmerson menyayangi Zia sebelum terlambat, mereka tidak tega melihat Zia yang selalu diabaikan dan selalu di sakiti..
__ADS_1